Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 110.Jangan dilihat kak!


Beberapa jam sebelumnya di kediaman PAk Wijaya...


Bryan sedang asyik berkutat dengan MacBook di hadapannya. Terduduk di lantai beralaskan karpet, bersandar di pinggiran ranjang di dalam kamarnya. Sementara di sisi ujung ranjangnya bersandar seorang gadis belia yang sedari sore tadi menemaninya sembari bermain Playstation dengan mulut yang tak henti-hentinya mengoceh.


"Kak Bry, mereka pulangnya jam berapa sih?" Tanyanya untuk kesekian kalinya. Jari-jarinya masih aktif memainkan stick game yang dipegangnya, dan kedua matanya fokus pada layar TV LED berukuran 40 inchi.


Bryan hanya melirik sekilas, menggelengkan kepalanya kemudian kembali fokus pada layar MacBook-nya.


"Memangnya tempat yang mereka kunjungi jauh ya kak Bry?"


"Kak Bry, pernah ke sana belum?"


"Apa jangan-jangan mereka nginap di sana yah?


"Kak Bry gak mau coba nelfon mereka? Mungkin saja mobilnya mogok atau gimana gitu?"


"Kak Bry gak was-was yah? Disana kan ada kakak dan pacarnya kak Bry."


"Oh iya kak Bry kok tenang-tenang saja pacar kak Bry di bawa pergi sama rival kak Bry? Gak takut pacarnya di rebut cowok lain?"


"Kak Bry....!" Panggilnya karena Bryan tak menggubris semua perkataannya.


"Hemmm." Guman Bryan malas.


"Kak Bry kok tenang-tenang saja pacar kak Bry di bawa pergi sama rival kak Bry? Gak takut pacarnya di rebut cowok lain?"


Bryan menghela nafas kasar, berusaha sabar.


"Kak Bry, kalau seandainya pacar kak Bry di sana selingkuh gimana?"


"Kak Bry..."


"Kak..."


"Kak Bry, kalau seandainya mereka nginap dan pacar kak Bry......"


"HEI KASET RUSAK! BISA DIAM GAK??"


"Isshh... Rasya kan cuma ngomong apa adanya." Ucapnya dengan mendengus lalu meleletkan lidahnya ke arah Bryan. Bryan tidak ambil pusing, masih fokus mengerjakan beberapa tugasnya yang sudah hampir selesai.


"Kak... Kak Bry..." Panggilnya dengan nada manja.


"Kak Bryyyy...... Yuhhhuuuu...."


"Apa sih Ris?"


"Kalau mommy dan daddy, pulangnya jam berapa?"


Bryan memutar bola matanya jengah. "Kan sudah dibilangin, kalau mommy dan daddy ke kondangan di luar daerah. Pulangnya pasti tengah malam, atau paling tidak besok pagi."


"Ah bete. Sepi...!"


Kembali Bryan melirik gadis itu yang terlihat bosan sambil menahan senyumnya.


Gadis itu melempar stik yang di pegangnya lalu melirik jam weker yang ada di atas nakas di samping ranjang Bryan.


"Eh, jangan di lempar. Mau ganti kalau rusak?"


"Cih...gini doang." Bukannya meminta maaf, gadis itu malah menendang stick game itu menggunakan ujung kakinya lalu bangkit berdiri dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


"Kak... Kak Bry....." Panggilnya kembali dengan nada manja.


"Kak Bry gantengggggggg...."


"Yang cakepnya kebangetan di duniaaaaaaa"


"Kak....."


Karena tak mendapat respon, gadis itu menarik rambut panjangnya ke depan lalu mendekati Bryan yang duduk tenang bersandar di tepian ranjang. Lalu rambutnya di gunakannya mengelitik tengkuk Bryan.


"Ris... Jangan ganggu, ah!" Bryan menghalau tangan Risya dan sedikit menggeser duduknya.


Risya memanyunkan bibirnya. Tak habis akal, kembali gadis itu mengusili Bryan dengan menggelitik telinga pemuda yang serius belajar itu.


"Ris....dibilangin jangan ganggu!" Menoleh dan menatap tajam gadis yang berbaring tepat di belakang tubuhnya.


"Ishhh...Kak Bry gak asik. Kayak patung pancoran."


"Makanya pulang sana!" Usir Bryan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar MacBook-nya.


"Ya, udah Risya pulang saja deh, daripada temani Squidward yang sedang belajar."


"Ap.. Apa? Kamu bilang aku apa tadi?" Berbalik dan memandangi gadis yang kini menyengir padanya.


"Bilang apa tadi?"


Risya menggeleng dengan menahan tawanya. Dua jarinya terangkat ke depan wajah Bryan.


"Ayo bilang apa tadi? Kalau tidak ku gelitik?" Bryan mengangkat tubuhnya lalu duduk di tepian ranjang, kedua tangannya terjulur bersiap menggelitik pinggang kecil Risya.


"Squ... Squ...." Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, jari-jari Bryan sudah mendarat di perutnya dan menggelitik disana.


"Ampun.. Ampun kak... Oke.. Oke, bukan Squidward, tapi Plankton. Kak Bry persis Plankton deh, punya istri komputer. MacBook itu bisa jadi istri kak Bryyyyy... Ahhhahhhhhhahhh, ampun.. Ampun kak, geli..."


"Ampun, ampun tapi terus mengejek." Bryan semakin menggelitik pinggang gadis itu dengan sepenuh hati. Membuat gadis itu menggelinjang ke sana kemari di atas ranjang.


"Peace kak.. Peace. Ok, kak Bry bukan Plankton tapi Jimmy neutron. Nah, baguskan. Jambulnya persis rambut kak Bry. Dia tokoh yang jenius loh kak... Kaaakk.. Hahhahh, geli kak, sudah.. Sudah.. Ampun kakkkkk..."


"Siapa lagi itu hah?" Bryan masih tak memberi ampun, saking semangatnya dia sudah tak sadar kalau sudah naik ke atas ranjang dan memerangkap gadis itu di bawah tubuhnya.


"Kak Bry gak tahu Jimmy neutron? Wahh...parahh. Waktu kecil kemana saja? Kalau Rudy Tabuti, tau gak?Atau tontonan kak Bry dulu cuma shinchan yahhh...hahhahh...ampun kak, ampun..." Ucapnya tak jera, masih meledek pemuda di atasnya.


"Sorry yah, aku nontonnya yang berkelas."


"Hosh..hosh...Peace kak, peace. Ampunn..Risya capeekkkkk." Ucapnya sedikit tersengal-sengal. Dadanya naik turun karena nafasnya yang tak beraturan.


Wajah Risya yang memerah dengan nafas yang memburu di bawah tubuhnya membuat Bryan akhirnya menghentikan aksinya, dengan cepat mengangkat tubuhnya dan kembali mendudukkan dirinya di tempat semula. Sedikit salah tingkah karena posisinya tadi yang tanpa di sadarinya sedikit begitu intim. Aliran darahnya tiba-tiba terasa panas dengan keringat dingin yang mulai memenuhi keningnya. Padahal pendingin ruangan bekerja dengan baik.


Bryan menelan ludahnya susah payah lalu berusaha kembali memfokuskan dirinya pada tugas-tugasnya. Bisa bahaya kalau jiwa mudanya memberontak saat ini. Umurnya dan Risya merupakan usia yang sangat rentan berbuat kesalahan. Apalagi saat ini mereka berdua sedang di kamar dengan keadaan rumah yang sepi.


Risya bangkit duduk, memperbaiki pernafasannya. "Kak... Kak Bry..."


"Aku antar kamu pulang saja deh." Ucapnya lalu bangkit berdiri. Meraih jaket dan kunci motornya.


"Gak nungguin kak Rachel dan lainnya dulu?"


Bryan berbalik memandangi Risya dengan tatapan yang membuat Risya mengangkat kedua alisnya keheranan.


"Pulang sekarang, atau kamu habis sekarang. Pilih mana?"


Risya semakin menatap Bryan heran. Masih terduduk cantik di tengah ranjang dengan nafas yang terengah-engah. Membuat otak Bryan traveling kemana-mana.


Bryan menggelengkan kepalanya, mengenyahkan semua pikiran kotornya lalu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kemudian menarik tangan gadis itu untuk ikut berjalan bersamanya.


"Kak Bry, tunggu.. tunggu..." Melepaskan tangan Bryan lalu mengambil backpack serta jaket jeans serta sneakersnya.


"Cepat, aku tunggu dibawah."


"Ish, tungguin dong... Kak.. Kak Bry..." Panggilnya. Memakai jaketnya, lalu menenteng sneakersnya berlari mengejar Bryan yang sudah beranjak turun menuruni anak tangga.


"Dasar orang aneh!" Makinya berlari sambil memakai sneakersnya dengan susah payah.


"Gak nungguin kak Rachel dulu?" Tanyanya lagi begitu berhasil menyusul Bryan ke garasi yang terletak di samping bangunan rumah utama Pak Wijaya itu.


Bryan tak menjawab, ia terus melangkah ke dalam garasi lalu menarik motor sport nya keluar dari garasi itu.


"Wah, naik motor?" wajah Riska seketika sumringah, berlari kecil menghampiri motor Bryan dan menatapnya takjub.


"Kenapa? Tak pernah liat motor keren?"


Gadis itu menggeleng, tersenyum. Dan masih memandang takjub.


"Liatnya biasa aja kali."


"Ish.. Mata-mata Risyaa juga!" Pekiknya dengan mendelikkan matanya ke Bryan.


Bryan hanya mendengus sembari melempar helm ke Risya. Bryan baru saja hendak menaiki motornya ketika bunyi mesin mobil terdengar memasuki pekarangan rumahnya.


"Suka banget yah lempar-lempar? Mau ku lempar ke sungai juga?" Hardik Bryan, sembari mengusap-usap sayang helmnya. "Ini mahal tahu! Kalau tadi sempat jatuh, ku gantung kepalamu itu."


"Wekk, gak takut!" Serunya dengan meleletkan lidahnya.


"So, gak jadi pulang?"


Risya tak menjawab malah langsung berlari menuju pekarangan depan. Namun langkahnya tertahan ketika mendapati kakaknya yang kini sedang berduaan dengan Raya di dalam mobil.


Gelapnya malam memang membuat keadaan sedikit gelap, namun lampu taman yang ada di dekat mobil itu cukup memancarkan cahaya yang menembus kaca mobil, membuat keadaan didalam mobil menjadi remang-remang. Sehingga masih cukup terlihat jelas bagi orang yang melihat dari luar.


Detik berikutnya, tubuh gadis itu menegang syok begitu melihat apa yang dua orang di dalam mobil itu tengah lakukan. Refleks kedua tangannya terangkat membekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara sedikitpun. Perlahan-lahan kakinya melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak sesuatu di belakangnya. Gadis itu berbalik dan semakin terkejut melihat Bryan kini berdiri dengan kedua mata yang menatap lurus ke arah mobil.


Dengan cepat Risya menarik Bryan menunduk lalu menutup kedua mata pemuda itu rapat-rapat menggunakan kedua tangannya.


"Jangan dilihat kak...!"


Bryan bergeming di posisinya. Walau sekilas, tapi ia masih sempat melihat apa yang pacarnya lakukan di dalam sana bersama Rey.


"Kak Bry..... Tidak melihat apa-apa kan?" Tanyanya khawatir.


Bryan dengan segera menguasai dirinya lalu mencoba menepis tangan Risya.


"Jangan! Jangan lepas tangan Risya kak. Jangan dilihat." Ucap gadis itu dengan sedikit menoleh ke arah mobil, dimana dua orang itu masih saling berciuman dengan panas.


Bryan hanya mengangguk pelan. Lalu dengan tenangnya mengikuti instruksi gadis belia itu yang menuntunnya kembali ke garasi. Risya baru melepas tangannya begitu mereka betul-betul berada jauh dari mobil kakaknya.


"Kak....." Panggilnya ragu-ragu. "Kak Bry tak apa-apakan?"


Bryan tak menjawab. Ia berjalan ke sudut ruangan garasi rumahnya. Menjatuhkan tubuhnya terduduk diatas ban serep mobil daddynya lalu menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.


Risya berdiri mematung memandangi Bryan selama beberapa saat, lalu dengan ragu-ragu menghampiri Bryan dan ikut duduk pada sisi lain pada lingkaran ban tersebut. Tangannya perlahan-lahan terangkat ingin mengusap punggung pemuda itu namun urung di lakukannya. Gadis itu akhirnya hanya duduk terdiam membisu di sisi Bryan.


Keduanya sama-sama terdiam cukup lama hingga kemudian kembali terdengar suara mesin mobil meninggalkan pekarangan rumah. Risya bangkit cepat dan bergegas menengok keadaan diluar. Dilihatnya mobil kakaknya sudah tak ada, tapi mobil Raya masih ada di pekarangan tersebut. Itu berarti pacar Bryan ikut bersama kakaknya.


"Ish, kakak Rey bawa pacar orang kemana malam-malam begini?" Gumamnya lalu berlari kembali ke garasi. Dilihatnya Bryan yang sudah menaiki motornya.


"Kak Bry mau kemana?"


"Masuk ke kak Rachel sana. Cuci kaki lalu tidur."


"Iishhh....Risya tanya, Kak Bry mau kemana."


"Minggir sana."


Risya menggeleng. Memposisikan tubuhnya di depan motor Bryan dengan kedua tangan yang direntangkan.


"Jawab dulu, mau kemana."


"Bukan urusanmu. Minggir sana." Ucapnya dengan menyalakan mesin motornya. "Mau kutabrak?"


"Tabrak saja, Risya gak takut."


Bryan menghela nafas kasar. "Minggir!"


"Kalau tak mau menjawab, Risya ikut...!"


"Anak kecil mau kemana malam-malam begini?"


"Orang patah hati juga mau kemana malam-malam begini?"


"Ris, minggir tidak?" Bryan sengaja men-gas-gas motornya. Membuat Risya memejamkan matanya takut, namun enggan menggeser posisi berdirinya sedikitpun.


"Ris....!!"


"Risya ikut."


"Pake helm dulu sana kalau mau ikut."


"Kuncinya." Menjulurkan tangannya menengadah ke depan.


"Kunci apa?"


"Kunci motornyalah." Ucapnya dengan menggoyangkan jari-jarinya sebagi gestur meminta sesuatu. "Kak Bry pikir Risya bodoh, bisa ditipu. Begitu Risya pindah tempat, kak Bry pasti langsung pergi."


"Gak, aku tunggu kok."


"Gak percaya. Sini kuncinya."


"Aku gak jadi pergi kalau begitu."


"Ya, udah. Turun dari motor sekarang juga!"


Bryan menatap kesal Risya. Amarah begitu terlihat dari sorot matanya. Namun gadis belia itu tak takut sedikitpun, malah balas melotot. Kembali Bryan menghela nafas kasar. Mematikan mesin motornya, lalu memberikan kunci motornya pada gadis itu.


"Puas?" Hardiknya begitu kesal.


Tanpa berucap, Risya langsung berlari mengambil helm yang tadi dilemparnya. Lalu memakainya dengan asal sambil berlari kembali ke tempat Bryan.


"Pakai yang benar, kancingin pengaitnya"


"Caranya?" Dengan polosnya Risya ke samping Bryan dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya. "Risya gak pernah pake helm sebelumnya." Imbuhnya.


Bryan berdecak kesal lalu menarik kepala Risya mendekat dan mengancingkan pengaitnya.


"Sudah. Naik cepat!"


"Cara naiknya gimana? Motor kak Bry ketinggian."


Lagi-lagi Bryan menghela nafas kasar untuk kesekian kalinya. Kaki kirinya bergerak mengeluarkan pijakan kaki motornya untuk Risya, diikuti dengan kaki kanannya.


"Injak itu lalu naik." Perintahnya sambil sedikit memiringkan motornya ke samping kiri agar memudahkan gadis itu untuk naik.


"Sudah?"


"Iya. Tapi kok Risya deg-degan yah, kak Bry..."


"Kalau takut lebih baik turun sekarang juga."


"Gak!" Dengan cepatnya gadis itu melingkarkan kedua tangannya ke perut Bryan. "Jalan kak!"


Bryan menyunggingkan senyumnya begitu melihat tangan kecil itu memeluk perutnya.


"Jangan nangis yah!" Ucapnya memperingatkan sambil menyalakan mesin motornya. Sedetik kemudian motor sport itu meluncur dengan cepat ke jalan raya.


Awalnya Risya memejamkan matanya dengan tubuh yang sedikit gemetar sambil memeluk erat tubuh Bryan.


"Rileks, dan nikmati pergerakan angin." Ucap Bryan setengah berteriak.


Pelan-pelan Risya membuka matanya. Dirasakannya hembusan angin begitu kencang menerbangkan rambutnya. Seakan membawanya ikut terbang. Perlahan-lahan pelukannya mengendur lalu kedua tangannya direntangkannya ke samping. Senyumnya ikut mengembang tatkala merasakan keasyikan tersendiri.


"Kak Bry, I'm Fly....." Teriaknya.


Bryan sedikit menengok lalu dengan cepat menarik tangan Risya ke depan.


"Tangannya jangan gitu, Ris. Bahaya!"


"Memangnya kenapa?"


"Kalau ada kendaraan lewat, bisa-bisa tanganmu tersambar kendaraan lain."


"Oh, begitu." Risya bergidik ngeri lalu menyembunyikan tangannya. "Kalau begitu tambah kecepatannya kak!"


"Yakin? Gak takut?"


"Enggak!!"


"Kalau begitu pegangan yang kencang!"


Kembali Risya melingkarkan tangannya memeluk Bryan dengan erat. Kemudian Motor sport itupun semakin melaju dengan kecepatan maksimal. Membawa keduanya mengitari ibukota pada malam hari yang sudah larut.


Untuk sesaat, Bryan melupakan apa yang dilihatnya beberapa jam yang lalu.