Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 72.Dirman??


Rachel mengulum senyum, mencoba menahan tawanya. Astaga... Pantas saja kalau aku ke kafenya dulu dia sering salah tingkah. Aku pesan apa, dia berikan apa...Gumam batin Rachel sembari menggeleng-geleng geli mengingat kelakuan pemuda berwajah oriental itu yang kala itu sering memberikannya minuman gratis bila ia dan Kimmy serta beberapa temannya dulu berkumpul di kafenya itu. Ia sama sekali tak mengira kalau pemuda imut itu ternyata naksir padanya. Tadinya ia mengira pemuda imut itu hanya bersikap ramah kepada beberapa gadis-gadis muda.


Masih dengan senyum yang mengulum ia pun kembali melihat foto selanjutnya.


Di foto-foto selanjutnya masih menampilkan pemuda berkulit hitam yang ada di foto pertama, serta pemuda berwajah oriental tadi tapi dengan penampilan yang berbeda-beda, sepertinya foto itu diambil di hari yang berbeda.


Rachel tampak mengamati tiap foto dengan seksama dan penuh rasa penasaran, tapi bukan pemuda berwajah oriental ataupun pemuda berkulit hitam itu yang menjadi fokusnya. Dari beberapa foto mereka, tidak jauh di belakang pemuda itu tampak sosok yang tidak asing baginya.


Rasa penasarannya yang tinggi membuat jempolnya terus bergerak mengusap layar ponsel. Kedua pupilnya tampak bergerak-gerak, menelisik satu persatu tiap potret.


Namun, semakin ia mengamati tiap gambar semakin berubah ekspresi wajahnya. Hingga kemudian ketika sampai di foto terakhir dan melihat sekilas pemuda yang ada dalam potret itu, Rachel langsung terkesiap. Syok lebih tepatnya.


Inikan......???


Wajah Rachel pias seketika diikuti tubuh yang menegang. Ponsel yang tadinya ada dalam genggamannya tiba-tiba langsung lolos begitu saja dari jemarinya, terjatuh ke bawah dan terhempas di lantai marmer.


Batin Rachel menduga-duga. Saat pikirannya saling sinkron dengan alam sadarnya, spontan kedua tangannya terangkat membekap mulutnya. Ia sama sekali tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Aliran darahnya tiba-tiba terasa panas, mengalir cepat dan berpusat di wajahnya yang tiba-tiba terasa kaku. Rachel dapat merasakan jantungnya berdentam dengan kuat dan tak dapat mengendalikannya.


Tidak... Tidak mungkin....


Ini tidak mungkin....


Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya, masih dengan telapak tangan yang membekap mulutnya. Serpihan ingatan yang sudah dibuangnya jauh kini kembali memenuhi pikirannya.


I..itu...itu. Dirman kan?


Aku tak salah lihat kan?


Apa benar itu dia...?


Tapi bagaimana bisa.....?


Dia... Dia...di London.....???


Dia mengikutiku sampai ke sini....??


Batin Rachel terus meracau sambil menggigiti ujung kuku jarinya yang gemetaran tanpa sadar. Bermonolog sendiri dengan perasaannya. Ia pun menyusutkan tubuhnya turun terduduk di lantai marmer dan meraih ponselnya yang kini teronggok di lantai.


Rachel menghela nafas panjang beberapa saat untuk menguatkan hatinya, kemudian kembali menengok foto yang masih sepintas dilihatnya tadi.


Terlihat sosok pemuda yang mirip Dirman berdiri sambil menatap dengan serius ke depan, menggunakan jaket kaos tebal berwarna abu-abu gelap dengan syal yang terlilit di lehernya dan menutupi dagu hingga sebagian mulutnya. Kedua matanya terbingkai oleh kacamata. Sementara tubuhnya sudah sedikit berisi dengan kulit yang terlihat sudah putih bersih. Namun rambut geritingnya masih sama seperti saat terakhir dilihatnya dulu, dan karena model rambutnya itu yang membuat Rachel yakin bahwa itu adalah Dirman. Rachel memperbesar tampilan gambar untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat.


Bersamaan dengan itu Mahavir muncul di ambang pintu. "Sayang, apa tadi yang jatuh?"


Rachel yang terduduk di lantai sambil memegangi ponselnya mendongak dan menatap Mahavir. "Ah, ta..tadi...tadi aku hanya terpeleset dan terjatuh..." Ucapnya berbohong dengan gelagapan dan suara yang masih tercekat.


"Jatuh?" Buru-buru Mahavir menghampiri Rachel dan ikut duduk setengah berjongkok di depan Rachel sambil mengamati keadaan istrinya itu. "Kenapa bisa sayang? Ada yang sakit?" Tanyanya penuh perhatian, namun Rachel menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Mahavir terus menanyakan keadaan Rachel, tapi Rachel seakan menganggap suara Mahavir seperti angin lalu dan tertegun dalam lamunannya.


Dengan penuh kekhawatiran, Mahavir langsung membopong tubuh Rachel lalu mendudukkannya ke pinggir tempat tidur. Ia bisa merasakan tubuh gemetar Rachel dalam dekapannya, Mahavir pun kemudian berlutut di hadapan Rachel sembari mengamati air muka Rachel yang menegang. "Kamu betulan tidak apa-apa? Wajahmu sedikit pucat?" Tanyanya sembari menyibak anak-anak rambut Rachel dan menyematkannya ke belakang telinga istrinya itu.


Melihat kekhawatiran Mahavir, dengan cepat Rachel membuyarkan pikirannya dan berusaha meredam perasaan yang bergejolak dalam dirinya. Ia tak ingin lagi membuat suaminya itu kepikiran dengan dirinya. Cukup sekali kebodohannya sewaktu kejadian di Laut itu, ia tak ingin lagi memperlihatkan kerapuhannya pada laki-laki dihadapannya saat ini yang begitu sangat tulus mencintainya.


Rachel menganggukkan kepalanya pelan dan berusaha mengulas senyumnya. "Aku tak apa-apa." Ucapnya sembari memasukkan ponselnya kedalam saku coatnya.


"Sepertinya kamu masih kelelahan sayang." Mengelus pipi Rachel, mengecup keningnya lalu memeluknya. "Maafkan aku kalau terlalu bergairah saat bersamamu dan membuatmu jadi kelelahan seperti ini...." Lanjutnya sambil mengecupi kepala Rachel berulang kali.


"Vir... Aku tak apa-apa, tadi hanya tak sengaja terjatuh." Ungkapnya, mencoba menenangkan Mahavir.


"Sebaiknya kamu istirahat lagi, kita tak usah keluar dulu." Imbuhnya lagi, dengan mimik muka yang menunjukkan kekhawatirannya.


"Aku... Aku tak apa-apa. Lihat, aku tak apa-apa kan?" Mendorong pelan dada Mahavir dan menjauhkan tubuhnya agar Mahavir bisa melihat keseluruhan dirinya. "Aku hanya butuh menghirup udara luar...." Sambungnya.


"Kamu yakin?" Mahavir bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.


Rachel mengangguk cepat, masih dengan senyuman yang dipaksakannya.


"Baiklah. Tapi kalau kamu merasa lelah kamu bilang yah?" Mengusap lembut kepala Rachel, lalu bangkit berdiri dan berjalan ke walking closet. Mengambil longcoat-nya yang berwarna senada dengan coat yang dikenakan Rachel dari dalam gantungan lemari dan memakainya dengan cepat, kemudian kembali menghampiri Rachel. "Ayo...." Ucapnya sembari menarik lembut tangan istrinya agar berdiri dari duduknya dan mengikutinya.


Langkah kaki jenjang Rachel terus mengikuti kemana langkah kaki Mahavir berpijak. Sementara kedua matanya fokus melihat tangannya yang tergenggam erat dalam tangan Mahavir yang selalu terasa hangat.


Mobil sport yang dikemudikan oleh Mahavir kini sudah melaju di tengah jalan pusat kota London. Saling beradu dengan kendaraan lain, serta beberapa bus bertingkat berwarna merah dengan beberapa tujuan yang berbeda-beda. Daun-daun kering berwarna oranye terlihat semakin banyak menutupi ruas-ruas jalan.


Mahavir mengendarai mobilnya dengan begitu tenang dengan satu tangan menyetir dan tangan satunya masih setia menggenggam tangan Rachel. Menautkan ke lima jari-jarinya ke sela-sela jari tangan istrinya dengan eratnya. Sesekali ia bahkan mengecup punggung tangan yang mulus itu. Tapi sang pemilik tangan tak merespon, dan justru tertegun selama perjalanan. Seakan jiwanya terbang entah kemana, meninggalkan raganya terduduk di samping Mahavir.


Di dalam pikiran Rachel dipenuhi dengan berjuta pertanyaan yang tak mampu di jawabnya. Beberapa pemikiran-pemikiran aneh kini malah berseliweran dalam benaknya. Namun ia menghalau segala kemungkinan yang ada di dalam benaknya itu. Ia tak mau menduga-duga terlalu jauh. Bisa saja itu hanyalah orang yang mirip. Tidak mungkin kan orang seperti Dirman bisa menginjakkan kakinya ke London? Untuk apa? Yah, itu pasti bukan dia... Batin Rachel terus berkecamuk dan tak menyadari Mahavir yang sedari tadi memanggilnya.


"Sayang...."


"Rachel....."


"Rachel sayang....?"


"Hhmmm yah?" Menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"


Mahavir mengurai senyumnya, tangan yang tadi mengenggam erat tangan Rachel terangkat dan mengelus lembut pipi Rachel. "Melamunkan apa dari tadi?" Tanyanya sembari memajukan tubuhnya mendekat dan membukakan seatbelt Rachel.


Kedua alis Rachel terangkat, masih tidak fokus.


"Kita sudah sampai sayang...." Ucapnya lalu mengecup bibir merekah Rachel dengan sekilas.


Rachel terkesiap, ia mengedarkan pandangannya melihat ke luar kaca depan mobil. Saking tenggelamnya dalam lamunannya, ia tidak menyadari kalau sudah sampai di tempat tujuan. Rachel menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, berusaha menghalau kembali sesuatu yang berkecamuk dalam pikirannya untuk kesekian kalinya dan berusaha fokus pada sekelilingnya.


"Sayang tunggu sebentar..." Mahavir melepaskan rangkulannya lalu menarik sebuah troly belanjaan dan mendorongnya. "Kita ke bagian mana dulu sayang?"


"Ah, ke....." Menengok ke kanan dan kiri. "Ke sana saja dulu." Rachel menunjuk ke area kebutuhan dapur.


"Okey sayang...." Memutar troly ke kanan dan mendorongnya. "Kamu yang masukkan barang-barang yang kita butuhkan yah..."


Rachel mengangguk dan tersenyum tipis. Ia berjalan mengikut di samping Mahavir sambil memasukkan beberapa barang ke dalam troly yang didorong oleh Mahavir. Tapi pikiran Rachel kembali teralihkan saat sepintas melihat pemuda berambut geriting di jalur rak sebelahnya. Bayangan sosok Dirman kembali memenuhi kepalanya dan membuatnya tidak fokus dengan kegiatannya saat ini.


Mahavir terheran-heran melihat kelakuan Rachel. Ia hanya menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal serta menahan senyumnya melihat Rachel yang memasukkan 10 kotak cereal, 10 kotak susu serta 10 kotak makanan pendamping ASI.


Astaga.. Apa aku terlalu berlebihan mencumbunya sampai-sampai ia jadi seperti itu....


Kenapa istriku jadi kacau begini...??


"Sayang....."


"Rachel sayang...." Mahavir memanggil sekali lagi, tapi Rachel seakan berada di bawah alam sadarnya. Mahavir mendorong cepat troly-nya kedepan, lalu tangannya menyambar pinggul Rachel, menariknya ke dalam dekapannya dan,


'CUP.....


Satu kecupan mendarat di pipi Rachel, dan membuatnya langsung tersadar.


"Astaga Vir, malu dilihat orang..."


"Apa aku harus menciumimu dulu baru akan tersadar." Ujarnya sembari menunjuk barang-barang yang ada dalam troly dengan sorot matanya.


Rachel membulatkan matanya terkejut melihat isi troly-nya. "Vir, ini mau di apakan semua?"


"Memangnya yang masukin ke situ siapa?" Tanyanya dengan tersenyum-senyum, membuat Rachel merona malu dan bergegas mengembalikan apa yang telah diambilnya ke tempat semula.


"Secepat itukah kamu ingin punya anak hingga membeli makanan bayi begitu banyak?" Godanya. "Aku sih tak masalah sayang... supaya kita lebih berusaha lagi membua..AADUHHH!!"


"Bicara lagi aku cubit lagi." Ancam Rachel sembari melepaskan cubitannya di pinggang Mahavir.


"Sakit sayang...." Mengusap-usap pinggangnya sembari mendorong Troly-nya. "Dari tadi kamu kenapa?"


"Hah?" Menelan ludahnya dan menggeleng. "Aku tak apa-apa. Hanya kepikiran sesuatu..."


Mahavir menaikkan alisnya, seolah meminta penjelasan.


"Mmm..kerjaan, iya masalah kerjaan..." menjeda sejenak dengan menghela nafas kemudian kembali berucap. "Tapi tidak penting kok."


"Yakin?"


Rachel mengangguk cepat dan merangkul Mahavir dari belakang. Mahavir tak boleh tahu akan apa yang ada dalam pikirannya. Ia tak ingin membuat Mahavir cemburu dengan mengira kalau Dirman masih ada dalam pikirannya.


"Ya sudah." Melepaskan rangkulan Rachel dan berganti dengan ia yang mendekapnya dari belakang. "Habis ini kita makan malam yah, aku sudah reservasi tempat yang bagus tadi. Sekalian ajak Bryan dan Risya juga kesana."


"Dimana?"


"Ada, kamu pasti suka." Ujarnya, lalu kembali membawa Rachel menyelesaikan belanjaannya.


Setelah beberapa jam berkeliling dan membeli berbagai kebutuhannya, Mahavir pun membawa Rachel menuju salah satu restoran unik yang ada di jalan Lower Thames Street London 3 Three Quays Walk.


Salah seorang pelayan menjemput mereka dan membawanya ke salah satu iglo yang sudah di reservasi Mahavir. Sebuah iglo yang posisinya pas disisi sungai Thames dengan latar belakang Tower Bridge dan The Shard yang menjulang tinggi dengan cahaya lampu yang gemerlapan.



"Tahu darimana kalau ada tempat seperti ini" Rachel bertanya sambil mengedarkan pandangannya mengamati desain iglo yang dibuat seromantis mungkin. Berhias lampu-lampu yang berbeda bentuk di langit-langit iglo serta beberapa sudut di pintu masuk iglo.


"Baguskan?"


"Iya..." Ucap Rachel masih dengan mengedarkan pandangannya melihat sekitar. Betul-betul suasana makan malam yang romantis dibawah sinar rembulan dan kerlap kerlip bintang di langit serta gemericik suara air dari sungai Thames.


"Mau pesan duluan?" Mahavir bertanya sambil membuka-buka buku menu.


"Pesan minum saja dulu, kita tunggu Bryan dan Risya datang baru pesan makan."


"Sepertinya mereka akan ikut dengan apa yang kita pesan. Kamu mau makan apa?"


Rachel menoleh, "Disini apa yang recommended?" Tanyanya balik.


"Hmmm..." Mahavir mengangkat buku menunya untuk melihat lebih jelas. Sehingga menutupi sebagian mulut kebawah dan hanya memperlihatkan sebagian wajah atasnya.


DEG.....


Jantung Rachel seketika berdentam kuat melihat Mahavir. Seakan ada kilat yang menyambar tdan membuat gelegar aneh di tubuhnya. Tangannya refleks bergerak mengambil ponsel dari balik saku coat-nya dan membuka foto Dirman dengan jari-jarinya yang bahkan mulai bergetar.


"Sepertinya disini menyajikan makanan eropa. Hidangan utamanya makanan yang dipanggang." Urai Mahavir. "Kamu mau makan yang seperti apa sayang?" Lanjutnya bertanya.


Rachel tak menjawab, netra-nya malah sibuk mengamati tampilan ponselnya dan wajah Mahavir saling bergantian. Jantungnya semakin berpacu kuat saat kedua matanya menangkap kesamaan dari wajah Mahavir dan Dirman. Dua alis yang sama persis, serta hidung yang tercetak tinggi. Bola mata Dirman tidak terlalu jelas terlihat karena terbingkai oleh kacamata. Selebihnya hanya bentuk rahang yang sedikit berbeda, tapi itu bisa saja karena faktor usia kan? Mengingat potret itu berasal dari bertahun-tahun yang lalu.


Mahavir mengernyit lalu mengalihkan pandangannya dari buku menu ke wajah Rachel karena tak jua ada jawaban dari istrinya itu.


"Sayang... Kamu mau makan apa?" Tanyanya ulang.


Rachel masih tak menjawab. Bola matanya terasa panas, dadanya bergemuruh seiring tubuhnya yang ikut bergetar. Satu tangannya yang ada di bawah meja meremas kuat terusan dress-nya.


Dirman...????


* * *