Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 22.Damai.


Matahari pagi mengintip dari peraduan nya, sepercik cahaya menembus Kaca-kaca jendela ruangan kerja pemilik gedung hotel setinggi 52 lantai itu.


Semburat cahaya itu kian menerobos memaksa seseorang yang masih tengah tertidur diatas sofa ruang tamu untuk kembali ke alam sadarnya.


Pria itu masih mengerjap-ngerjap kan kedua matanya, masih setengah tersadar. Tangannya bergerak memijit pelipis nya. Samar-samar matanya menangkap tampilan langit-langit ruangan itu, hingga akhirnya kedua matanya terbuka sempurna dan melihat keadaan sekeliling yang sudah terang benderang.


Mahavir bangkit dari tidurnya, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia gerakkan tangan kirinya menuju ke depan dadanya lalu menengok angka-angka yang menghiasi isi arloji nya.


"Astaga sudah jam 7 pagi!! Kenapa tidak ada yang membangunkanku!!" Ujar Mahavir bersungut-sungut. Kakinya meraih sendal hotel yang ada di lantai, lalu bangkit berjalan masuk ke toilet dan menyegarkan wajahnya dengan air yang keluar dari kran wastafel.


Langkah-langkah kakinya yang panjang memperdekat jarak antara ruangan kerjanya dan kamar president suite yang memang bersebelahan. Didepan pintu kamar itu dia berhenti sejenak,


"Tok... Tok... Tok..."


Mahavir mengetok daun pintu dihadapan nya. Sebenarnya dia bisa saja langsung masuk kedalam tanpa mengetuk pintu, tapi dia tersadar kalau Raya juga berada di dalam.


Tidak menunggu lama, sosok dokter mungil nan cantik terlihat membuka daun pintu itu.


"Oh, tuan Mahavir." Sapa Raya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Mahavir masih berdiri di depan pintu.


"Rachel sudah bangun dari tadi, dia juga sudah sarapan bubur Abalone yang katanya dibuat khusus oleh cheff hotel ini." Ujar Raya menjelaskan.


Mahavir melangkah kan kakinya masuk lebih dalam ke kamar itu. Dilihatnya Rachel yang tertunduk menyembunyikan wajahnya.


"Terima kasih telah menjaga Rachel semalaman. Maaf sudah merepotkan mu." Ujar Mahavir kepada Raya sambil melangkah menuju samping tempat tidur ukuran king size dimana Rachel berada.


"Itu bukan apa-apa, saya senang bisa menemani sahabat saya."


"Kamu pasti lelah, dan belum sarapan kan? Didepan ada Rey yang menunggu, dia akan mengantarmu ke kamar, sarapanmu juga akan diantarkan ke kamarmu." Mahavir mencoba mengusir halus, mencoba meminta waktu berduaan dengan Rachel.


"Ah, Terima kasih. Kalau begitu saya kebawah dulu." Ujar Raya, mengerti maksud dari Mahavir. lalu memberi hormat mengikuti gerakan dokter Ratih yang dilihatnya semalam.


"Dadah...Rachel!!" Ujar Raya sambil berdadah ria ke arah Rachel dan memberikan kode-kode tangan yang hanya di mengerti oleh kedua wanita itu. Rachel hanya membalas dengan anggukan dan senyum tipis.


Selepas Raya keluar dari kamar dan menutup pintu dengan Rapat. Mahavir menghampiri Rachel lalu duduk disamping nya dengan posisi berhadapan.


Rachel memalingkan wajahnya ke samping, takut dan malu menerima tatapan dari pria yang telah menjadi suaminya.


Mahavir menggerakkan tangan kanannya meraih dagu wanita itu, kemudian memposisikan wajah cantik istrinya itu berhadapan dengannya. Dia menyibakkan anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajah wanita itu lalu menyematkan nya ke belakang telinganya.


Sejujurnya Rachel tidak siap bertemu dengan Mahavir, dia mengingat dengan samar-samar kepanikan dari pria itu semalam. Bagaimana pria itu merangkul dirinya dalam pangkuannya, melihat guratan cemas dan kesedihan diwajahnya.


"Maaf kan aku......" Lirih Rachel dengan suara tertahan tapi mampu menembus pendengaran pria dihadapan nya.


Mahavir meraih kedua tangan Rachel dan menyatukan nya ke dalam genggaman nya.


"Tak apa. Jangan dipikirkan lagi." Ucap Mahavir memberikan tatapan teduhnya.


"Kamu tidak marah?"


"Kamu pasti punya alasan tersendiri melakukannya. Tapi ku harap kedepannya kamu tidak lagi berbuat nekat seperti itu. Pikirkan bagaimana perasaan orang-orang disekitar mu."


Rachel mengangguk pelan, bulir kristal bening terlihat jatuh kembali disudut matanya. Dengan cepat Mahavir mengusapnya sebelum bertambah banyak.


"Sudah... Sudah!! lupakan semua itu." Mahavir menarik tubuh Rachel dan memeluknya. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung wanita itu, mencoba untuk menenangkannya.


Sejenak Rachel merasakan kedamaian dalam dekapan dada bidang Mahavir, hingga akhirnya dia teringat akan kekesalannya pada pria itu yang telah pergi tanpa pamit padanya.


Perlahan Rachel melepaskan diri dari dekapan Mahavir, lalu menatap tajam pria itu.


"Untuk apa kamu datang kembali?" tanya Rachel dengan ekpresi marahnya.


"Aku kembali karena istri ku berada disini." Jawab Mahavir dengan santainya.


"Apa benar kamu menganggap ku sebagai istri mu?" Pekik Rachel.


"Kalau bukan istri memang mau dianggap apa lagi? hehhe...." Jawab Mahavir setengah terkekeh, menyulut sedikit emosi dari Rachel.


"Kenapa kamu tidak memberitahu ku kalau kamu kembali ke London?? Kenapa tidak pamit padaku?? Kenapa justru Bryan yang kamu beritahu?? Kenapa Bryan yang kamu titipi kunci dan kartu kredit mu?? Kamu kan bisa memberikan langsung padaku?? Kamu tahu nomorku kan?? Tapi kenapa kamu justru menelpon Bryan dan menanyakan kabar ku?? Kenapa kamu...... "


"Cup"


Mahavir menghentikan ocehan wanita itu dengan mengecup bibirnya. Rachel yang terkejut langsung mendorong wajah pria itu.


"Kamu!!!" Rachel mengusap bibir nya bekas kecupan suaminya.


Mahavir tersenyum lembut.


"Kenapa senyum-senyum?" Rachel melotot ke Mahavir.


Mahavir memajukan wajah nya, tangannya bergerak membelai pipi Rachel.


"Marahlah seperti itu, bersikap dinginlah seperti biasanya, luapkan semua emosimu padaku, tapi jangan pernah lagi menyakiti dirimu sendiri."


Rachel terdiam, sejenak dia terbawa emosi dan melupakan kesedihan nya.


"Pria ini selalu bisa menyulut emosiku, tapi entah mengapa aku bisa merasakan kedamaian didalamnya....." Batin Rachel.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Mahavir sembari mengusap pucuk kepala Rachel.


"I'm fine." Rachel menjawab pelan.


"Jangan terlalu memaksakan diri, kalau kamu merasa kurang enak badan kita bisa mengundur pesta pernikahan kita."


"Jangan!!! Aku baik-baik saja. Aku tidak mau mengecewakan daddy dan mommy. Hari ini pasti banyak Rekan-rekan dan kenalan daddy dari luar kota yang akan datang."


"Baiklah kalau kamu bersikeras." Ucap Mahavir sembari membaringkan kembali tubuh Rachel lalu ikut berbaring disamping nya. Mahavir tertidur menyamping menghadap ke tubuh Rachel sementara tangannya melingkar ke pinggang wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Pekik Rachel, mencoba melepaskan tangan Mahavir yang melingkar di pinggangnya.


"Aku sangat lelah, aku hanya ingin tidur sambil memelukmu. Anggap ini hukuman karena sudah membuatku panik dari kemarin!!" Seru Mahavir kemudian menarik tubuh Rachel dan mempererat pelukannya.


Tidak begitu lama suara dengkuran halus dari Mahavir terdengar. Rachel berusaha mengangkat tangan yang melingkar di pinggangnya, tapi tenaga nya yang masih lemah belum mampu mengangkat lengan yang berat itu.


Rachel perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Mahavir, posisi nya yang sangat rapat pada pria itu membuat nya bisa merasakan aroma tubuh pria itu. dia mendongakkan kepalanya memandangi dalam-dalam wajah pria itu.


"Maafkan aku....


Sejenak aku melupakan kehadiran mu dalam hidupku..."


"Kesedihan ku yang berlarut membuat diriku lupa bahwa aku telah memiliki mu...."


Lirih Rachel, bibirnya mengembang membentuk seulas senyum yang cantik.


* * *


Bryan kini tengah asyik melahap sarapan yang tersedia diatas meja berbentuk persegi empat di dalam Resto hotel itu. Menu makanan yang tersaji membuatnya tak berlama-lama untuk tidak menyentuhnya, apalagi dari semalam dia memang tidak makan dengan baik karena sibuk mencari keberadaan kakaknya. Berbeda dengan dua orang yang berada di sisi kiri dan kanannya saat ini yang saling berhadapan. Sedari duduk di kursi makan itu Rey dan Raya hanya saling tatap menatap.


Sesekali mata Rey melirik memandangi Bryan yang dengan cueknya tidak memahami situasi.


"Dasar Bocah!!! Apa dia sengaja duduk disitu??"


Raya melototi Rey yang sedari tadi memandangi nya terus menerus, membuatnya merasa tidak nyaman.


"Apa sih orang ini!! Katanya mau bicara tapi dari tadi hanya diam saja!!!"


Bryan yang sedang asyik mengunyah makanan nya diam-diam memperhatikan gerak gerik orang yang ada disamping kiri dan kanannya.


"Dua orang ini kenapa sih? Memangnya ini perlombaan tatap menatap??"


Tak ada pembicaraan diantara mereka bertiga, mereka hanya larut dengan pikiran nya masing-masing.


Tadi setelah Raya meninggalkan kamar President suite milik Mahavir, dia bertemu Rey yang kemudian mengantarkannya ke kamar yang telah disiapkan untuknya. Saat telah berada di pintu kamarnya dan hendak masuk Rey memintanya untuk berbicara dengannya, karena tidak mungkin Raya mengizinkan Rey ikut masuk kedalam kamar, akhirnya diapun menawarkan bicara di Resto saja sambil sarapan. Beruntung dia bertemu dengan Bryan disana, sehingga dia tidak harus berdua saja dengan si Rey itu.


Entah ada masalah apa yang telah terjadi diantara mereka berdua sebelum nya, hingga membuat dokter cantik itu sangat tidak nyaman berada di dekat Rey.


"Kukira tadi kamu bilang mau bicara?" tanya Raya, akhirnya membuka suara.


"Kamu tidak bekerja hari ini?" Tanya Rey.


"Hari sabtu aku tidak praktek!" Jawab Raya dengan ketus.


"Oowwhh...." Rey mengatupkan kedua bibirnya.


"Sepertinya bukan itu yang ingin kamu tanyakan!!"


Rey terdiam, tatapannya tajam melirik Bryan seakan-akan berkata, hei...bocah enyahlah dari sini!! Begitu kira-kira.


Bryan bersikap cuek sembari tetap mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Dia tidak mau pusing dengan permasalahan orang di depannya. Dia sudah cukup pusing dengan kisah rumit dari kakak dan kakak iparnya.


"Soal waktu itu....." Rey sedikit ragu melanjutkan.


Raya meletakkan sendok logam yang dari tadi hanya digunakan untuk mengaduk-aduk makanan nya dengan kasar ke atas piring hingga menimbulkan bunyi dentingan yang agak nyaring. Kemudian kedua matanya menatap Rey dengan tajam.


"Aku sudah melupakannya, jadi jangan membahasnya lagi. Lagi pula aku sudah punya pacar sekarang."


"Raya, aku tahu kamu bohong!" Rey tidak terima.


"Ya sudah kalau tidak percaya."


"Aku hanya ingin mencoba berdamai denganmu."


"Aku tidak menganggap mu musuh kok!"


"Kalau begitu berikan satu kesempatan lagi padaku." Rey mencoba membujuk, dia sudah tidak menganggap keberadaan Bryan yang sedang menguping pembicaraan mereka.


"Aku kan sudah bilang kalau aku sudah punya pacar!"


"Kalau memang ada, coba buktikan! Aku ingin lihat laki-laki seperti apa yang menjadi pacar mu."


Raya terlihat semakin dongkol terhadap sikap Rey yang tidak mau mengerti.


"Kamu tidak usah jauh-jauh mencarinya."


"Karena memang tidak ada kan??"


"Ada!!"


"kalau begitu siapa dia?"


Raya seperti kehilangan ide, akhirnya dia mengingat kalau semalam Rey sempat menanyakan hubungan nya dengan dengan Bryan.


"Dia ada disini kok!"


"Maksud kamu??? Siapa orang itu??"


Merasa tersudut, Tanpa pikir panjang tangan Raya bergerak menarik lengan Bryan dan menjatuhkan kepalanya ke bahu anak muda itu.


"Dia pacarku saat ini!" Seru Raya, membuat dua pria itu terkejut. Bahkan Bryan sampai tersedak dibuat nya.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang..???" Akting Raya sambil meraih gelas berisi air putih dan mendekatkannya ke bibir Bryan, sementara tangannya yang satu mengusap punggung anak muda itu.


Bukannya berhenti, Bryan malah tambah tersedak dengan air putih itu. Sementara Rey melongok tak percaya.


"Bocah ini?? Jangan gila kamu!!"


"Semalam kan kamu bertanya apa hubungan ku dengannya! ya, sekarang aku jawab."


"Kamu pikir aku akan percaya semudah itu?"


"Ya sudah kalau tidak percaya." Raya mengusap-usap pipi Bryan yang belepotan oleh makanan mencoba memanas-manasi Rey.


Bryan hanya bisa terdiam saking terkejutnya.


"Ya... Ampun jangan libatkan aku dalam masalah kalian!!!" gerutu batin Bryan.


Rey tersulut api cemburu hingga menarik tangan Raya yang menyentuh pipi anak muda itu.


"Lepaskan!" Ujar Raya menepis tangan Rey.


"Jangan kira aku akan percaya dengan kegilaan mu itu."


Raya yang tidak mau kalah dari Rey, dengan kuatnya menarik lengan Bryan mendekat dengannya dan...


"Cup"


Kecupan ringan Raya daratkan dipipi anak muda itu. Membuat Rey tersulut emosi dan meninggalkan mereka berdua. Raya tersenyum puas melihat amarah Rey saat meninggalkan mereka.


"Sorry ya Bryan... Kak Raya jadi melibatkan mu, aku sudah tidak tahu bagaimana cara membuat nya menjauh." Celoteh Raya tanpa menyadari Bryan yang terdiam mematung dengan wajah yang bersemu merah. Ini pertama kalinya seorang gadis mengecupnya.


* * *


Terima kasih masih setia membaca kisah mereka, ๐Ÿค— Mohon maaf bila masih ada kekurangan. Author akan sangat berterima kasih bila kalian berkenan meninggalkan jejak berupa komentar, memberikan like dan vote, apalagi koin ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜


salam sayang dari Author๐Ÿ™๐Ÿค—