Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 102. Cheesecake.


Dua mata bulat dengan bulu mata lentiknya terlihat fokus pada etalase kaca yang di dalamnya berjejeran beragam jenis cake. Tubuhnya kecilnya setengah membungkuk dengan kedua kaki yang bergerak melangkah menggeser tubuhnya kesamping guna melihat satu persatu dari tiap jenis cake yang ada. Sementara mulutnya tak berhenti bertanya jenis dan rasa dari tiap jenis yang dilihatnya.


"Yang ini rasa apa kak?" Tanyanya tuk kesekian kalinya. Menunjuk salah satu cake berlayer krim putih dan coklat dengan bubuk berwarna hitam kecoklatan yang bertabur di permukaannya.


"Itu Tiramisu cake dek. Ada aroma kopinya."


"Rasa kopinya kuat tidak kak?"


"Tergantung dek. Bagi penikmat kopi pasti akan menyukainya."


Gadis itu mengernyit sesaat seperti tengah memikirkan sesuatu. Lalu kemudian kembali menggeser tubuhnya kesamping. Memandang lurus cake yang di sebelahnya. Sekotak cake berlumur krim berwarna kekuningan dengan irisan potongan buah diatasnya.


"Yang kuning ini, lemon cake ya kak?"


"Itu mixfruit cake, rasa mangga." Jawab pelayanan toko itu berusaha tersenyum ramah.


"Asem gak kak?"


Pelayan toko itu menghela nafas. "Hanya aroma nya saja yang kuat dek, tapi rasanya manis karena ada krim caramelnya."


"Caramel? Berarti kalorinya tinggi dong. Pasti wanita diet anti makan kue ini." Gadis itu menggeleng, seolah bicara dengan batinnya sendiri. Netranya lalu melirik kue yang di sebelahnya lagi.


"Yang itu BlackForest." Ucap pelayan itu sebelum gadis itu bertanya.


"Ah, kalau yang ini aku tahu kak. Kakak Risya suka buatin Risya cake begini di rumah."


"Jadi mau yang ini dek?"


"Ah, tidak. Risya sudah biasa makan ini. Terlalu biasa." Ucapnya terkekeh membuat raut pelayan itu menjadi masam.


Kembali gadis itu menggeser tubuhnya lebih ke samping lagi.


"Itu rainbow cake dek." Ucap pelayan itu lagi mendahului.


"Iyya tau... Kan warnanya jelas rainbow gitu." Ucap gadis itu lalu melirik deretan cake yang ada di baris bawahnya. "Nah, kalau yang ini red velvet kan? Enak gak kak?"


"Enak. Semua yang ada disini enak kok dek."


"Pakai takaran gula berapa banyak?"


"???" Pelayan toko itu menganga dan menatap bingung gadis itu.


"Bercanda mbak, jangan horor gitu mukanya." Ucap gadis itu cekikikan.


Pelayan itu mengurut dadanya pelan, mencoba bersabar. "Jadi mau yang red velvet saja?"


Gadis belia itu menggeleng, kembali menyorot cake yang berada di baris ke tiga.


"Yang ini?" Menunjuk cake berbalut Pondan berwarna pink.


"Itu madeline rose."


"Rasa apa tuh? Apa rasa bunga mawar?" Gumannya terkekeh lalu melangkah melewatinya dan menunjuk kembali cake berwarna pink disebelahnya.


"Yang ini?"


"Itu Pink Lemonade. Mau yang ini?"


Gadis itu kembali menggeleng tuk kesekian kalinya.


Pelayan toko itu menghela nafas kasar. Terlihat jelas raut wajah kesal dari sang pelayan toko itu dalam melayaninya, pasalnya sudah hampir 30 menit lamanya gadis kecil itu berdiri dihadapannya dan menanyakan hampir dari keseluruhan cake yang ada di etalase. Mulut pelayan itu rasa-rasanya sudah berbusa karena overdosis bicara dengan gadis aneh itu.


Karena gadis itu masih belum menentukan pilihan, pelayan toko itu beralih melayani seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke toko cake itu.


Wanita paruh baya yang terlihat masih sangat segar dan cantik itu berdiri tepat di samping gadis belia tadi, dan langsung menunjuk cheesecake dihadapannya.


"Mm...Tante biasa beli cake disini?" Tanya gadis yang tadi tanpa basa basi. "Cheesecake nya enak?" Imbuhnya.


Wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum. "Enak. Anak-anak tante suka makan kue ini."


"Umur anak tante berapa? Mm.. Kalau mau memberikan cake pada perempuan cantik dan langsing yang sedang sakit bagusnya cake yang mana?"


"Dia sukanya apa?"


Gadis itu menggaruk pelipisnya dengan kening yang saling menaut. "Gak tahu, tante."


"Coba beri cheesecake saja. Gimana? Rasanya tidak terlalu manis."


Gadis itu mengangguk. "Iya deh. Kak cheesecake-nya saja satu deh. Dibungkus yang rapi yah. Plastiknya jangan yang kusut, soalnya yang mau dikasih orangnya cantik." Ucapnya membuat pelayan toko itu antara ingin marah dan tertawa. Hampir seluruh cake ditanyakan rasa dan komposisinya, tapi akhirnya pilihannya jatuh pada cheesecake yang sama sekali tidak diliriknya sedari tadi. Bisakah pelayan itu mengumpat dan memaki-maki gadis itu?


Pelayan itu hanya bisa menghela nafas lega melihat gadis itu berlalu dari hadapannya dan menghampiri meja kasir bersama wanita paruh baya tadi.


"Kue nya buat siapa kalau boleh tante tahu?"


"Buat kakak yang paling cantik sedunia setelah Risya." Jawabnya yang membuat wanita paruh baya itu menahan diri untuk tidak tertawa. Keduanya kini telah berada di depan meja kasir.


Gadis itu melepas tas panjang berisi biola dari bahunya, meletakkannya ke lantai kemudian meraih tas punggungnya ke depan dan mencari keberadaan dompetnya. Namun tak ditemukannya dompetnya didalam sana.


"Tante duluan deh." Menggeser tubuhnya kesamping dan mempersilahkan wanita paruh baya itu membayar lebih dulu.


Lama menggeledah isi tas punggungnya, gadis belia itu lalu berlari kecil memeriksa lantai dimana tadi ia lama berputar-putar disana.


Wanita paruh baya itu tersenyum lebar melihat tingkah lucu gadis itu. Ia lalu mengeluarkan kartu dan memberikannya pada kasir. "Sekalian sama yang itu juga." Menunjuk bungkusan cake milik gadis itu.


Gadis belia itu kembali ke meja kasir dengan raut wajah penuh penyesalan. "Maaf, sepertinya dompet Risya ketinggalan. Kalau gak jadi beli gak papa kan?"


"Nih..!" Wanita paruh baya itu menyerahkan sekotak cake yang telah dibungkus rapi.


"Tante yang bayarin?"


"Sekalian sama punya tante tadi."


"Duh, jadi ngerepotin nih... Malu banget."


"Gak papa. Jadi dari sini mau kemana?" Tanya wanita paruh baya itu sambil berjalan beriringan bersama gadis itu keluar dari toko cake.


"Rencana mau ke rumah sakit Central Medika. Tapi sepertinya Risya nunggu jemputan kakak Risya dulu. Risya gak punya ongkos ke rumah sakit."


"Wah kebetulan tante juga mau kesana. Ikut tante saja."


"Doble ngerepotin nih tante. Risya jadi gak enak."


"Gak papa. Ayo. Itu mobil tante." Menarik lengan gadis itu ikut bersamanya.


Wanita paruh baya itu masuk duluan ke dalam mobil pada kursi penumpang belakang, Kemudian disusul oleh Risya, namun biola yang tergantung di punggungnya tertahan di bingkai pintu mobil, menahannya untuk masuk ke mobil.


"AWW.. Siapa sih nahan-nahan Risya?" Ketusnya berbalik ingin menghardik orang yang menurutnya menahan tubuhnya. Namun sedetik kemudian ia menyengir malu. Gadis itu lantas membuka tas biolanya lalu masuk terduduk disamping wanita paruh baya yang kini cekikikan melihat tingkah absurd gadis itu.


Mobil itu pun melaju diantara padatnya kendaraan di jalan raya di pagi hari minggu cerah itu.


"Kamu bisa main biola?" Tanya wanita paruh baya itu memandangi tas biola gadis itu.


"Baru belajar sih tante. Ini juga baru pulang dari les biola. Sebelumnya Risya cuma bisa main piano sama Harpa."


"Piano dan Harpa? Wah, hebat."


"Makasih tante." Balasnya tersenyum dengan terduduk memangku cheesecake-nya. Sementara tas dan biolanya di letakkannya di bawah kakinya.


Kedua wanita lintas generasi itu akhirnya terlibat obrolan seru hingga tak sadar telah sampai di pelataran rumah sakit. Keduanya kemudian turun melalui pintu disampingnya masing-masing. Wanita paruh baya itu membantu gadis belia itu membawakan cheesecake nya selagi gadis itu memakai dua tas yang di bawanya.


"Di mana kamar orang yang mau kamu besuk?"


"Risya juga belum tahu tante. Ini baru mau chat kakak Risya. Mungkin dia sudah ada di dalam. Eh, tante duluan saja."


"Gak papa tante tinggal?"


"Gak papa tante. Gak ada yang bakal nyulik Risya juga disini." Ucapnya disertai kekehan.


Wanita paruh baya itu tersenyum, mengusap sekilas punggung Risya lalu melangkah menuju lift. Sementara Risya memilih duduk di sofa yang ada di loby rumah sakit sembari menunggu balasan chat dari Rey. Lama menunggu, Risya mencoba-coba menghubungi nomor Bryan. Dan ternyata langsung tersambung pada dering ke dua.


"Risya???" Ucapnya diujung sana.


"Halo, Kak Bry....di Indo?"


"Iya. kamu dimana?"


"Risya ada di loby rumah sakit, pengen jengukin kak Rachel. Tapi Risya gak tahu kamarnya. Kak Bry ada di rumah sakit tidak?"


"Kamu di loby depan apa belakang?"


"Hmmm..." Menengok ke samping kiri kanan guna mencari tahu. "Gak tahu juga ini depan atau belakang, tadi dari pelataran parkir langsung masuk kesini. Di samping loby tempat Risya ada mini cafe."


"Cihhh, beri tahu nomor kamarnya saja apa susahnya sih." Ketusnya dengan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai secara bergantian.


Kurang lima menit menunggu akhirnya dari kejauhan sosok pemuda tinggi berkulit putih mengenakan kaos oblong berwarna putih dipadukan jeans berwarna navy tengah berlari mendekat ke arahnya. Risya bangkit berdiri begitu Bryan berjarak satu meter darinya.


"Hay kak Bry... Makin cakep ajah.." Sapanya dengan senyuman yang memperlihatkan gigi gingsulnya.


Bryan tertegun di posisinya selama beberapa detik sembari menatap senyum Risya lekat-lekat. Namun dengan cepat menguasai dirinya.


"Tapi kamu kok kamu tambah jelek?" Ejeknya menggoda gadis itu.


"Biarin. Kalau jelek gak usah dilihat." Balasnya dengan memanyunkan bibirnya. Tapi justru terlihat menggemaskan di mata Bryan.


Tanpa sadar tangan Bryan terangkat mencubit pipi Risya. "Ihh, ngambek. Bercanda. Cantik kok. Makhluk paling cantik di dunia kan?" Ucapnya, membuat Risya mengulum senyumnya dengan wajah merona.


Sesaat Bryan kembali terpana dengan senyuman itu. Namun ucapan Risya selanjutnya langsung menarik kesadarannya.


"Kak Bry, bawa sepatu Risya yang tertinggal?"


Kedua alis Bryan terangkat. Menatap heran pada gadis itu.


Astaga Risya, bisa-bisanya kamu menanyakan hal itu pertama kali. Bukan bertanya kabar, malah bertanya tentang sepatu. Sepatu?


Ayolah Ris... Lebih penting sepatu itu yah?


Kamu gak rindu apa denganku?


"Kak Bry??"


"Gak sempat Ris. Mana sempat aku mengingat sepatumu dalam keadaan panik. Memangnya beli dimana sepatu itu, nanti biar aku belikan yang baru."


"Tapi Risya maunya sepatu yang itu." Ketusnya.


"Kalau begitu kamu ambil sendiri ke London sana. Lagian juga pake ditinggal segala. Memangnya Cinderella?" Balasnya dengan lebih ketus.


Risya mengerucutkan bibirnya lalu berbalik meraih segala barang bawaannya dari atas sofa.


"Tau dari kak Rey yah kalau kak Rachel ada disini?"


"Iya, kak Rey nelfon Risya."


"Trus dengan siapa kesini?"


"Sendiri. Ah, tadi numpang sama ibu-ibu yang baik hati."


"Sini biar aku yang bawain." Tawarnya, melihat Risya yang kerepotan dengan dua tas dan bungkusan paperbag berbentuk kotak yang di tentengnya.


"Tak apa kak Bry. Risya bisa kok."


"Eh, jangan asal-asal numpang sembarang orang Ris, bisa saja orang itu berniat jahat."


"Tapi ibu tadi orang nya baik kok." Ucapnya mensejajarkan langkahnya dengan Bryan, berjalan kemudian masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai tiga.


"Habis darimana?"


"Dari latihan."


"Latihan apa?"


"Kak Bry gak liat, Risya bawa apaan nih?"


"Bawa tas, bawa tas panjang, sama bawa bungkusan kotak."


"Ihh, kak Bry nyebelin."


Bryan cekikikan di samping Risya. Sudah lama ia merindukan menggoda gadis kecil itu. "Nyebelin tapi rindu kan?"


"Ihh... Najis!" Bryan semakin tertawa lepas.


"Gimana..."


"Gimana..."


Ucap keduanya serempak. Keduanya saling beradu pandang, kemudian sama-sama terdiam.


"Mau tanya apa, Ris?"


"Ah, gak jadi. Kak Bry aja..."


"Tadi mau nanya apa?" Ulangnya.


"Risya bilang gak jadi."


"Mau nanya kabarku? Aku baik-baik saja."


"Ihh, geer. Orang Risya-nya mau nanya gimana keadaan kak Rachel sekarang." Kilahnya.


"Bo'ong. Jujur saja deh. Mau nanyain kabarku kan? Nih, kalau mau peluk, peluk aja sini."


Ting...'


pintu lift terbuka bersamaan dengan Bryan yang membuka kedua tangannya lebar-lebar untuk menggoda Risya.


"Peluk tembok sana." Ucap gadis itu lalu segera melangkah keluar dari lift dan berjalan kedepan mendahului Bryan. Bryan menyusul dengan menahan tawa dibelakangnya.


"Eh, bukan kesana arahnya."


Risya menghentikan langkahnya. Menatap kesal Bryan lalu melangkah ke arah koridor kanan. Lima langkah kemudian Bryan kembali berteriak.


"Bukan kesitu juga."


Risya berbalik dengan kesal lalu berjalan ke arah koridor kiri. Namun kembali Bryan memanggilnya begitu ia sudah cukup jauh berjalan.


"Bukan kesitu. Kesini." Bryan berjalan dengan santainya kedepan. Tersenyum puas karena berhasil menjahili gadis itu.


"Iihhh... Kak Bry ngeselin." Makinya dengan berlari kecil mengejar Bryan hendak memukulinya. Keduanya berlarian seperti anak kecil hingga sampai di depan sebuah kamar perawatan super VVIP.


Bryan membuka pintu kamar rawat Rachel dengan wajah meringis dan tangan kiri yang mengusap-usap pinggangnya akibat di sikut oleh Risya, sementara Risya langsung melenggang masuk tanpa memperdulikan Bryan.


"Kak Rachel...." Risya meletakkan cake nya di atas sofa di samping pintu lalu berlari dan menghambur memeluk Rachel yang setengah terduduk di brankarnya, tanpa memperhatikan seorang wanita paruh baya yang berdiri memunggunginya, tengah sibuk memotong cake yang baru saja dibelinya.


"Ada tamu yah..." Ny Amitha berbalik dan menegur sosok yang masuk itu. Dan begitu terkejut mendapati sosok manis di hadapannya. Begitupun dengan Risya yang langsung mematung di tempatnya dengan mulut menganga. "Jadi kakak yang mau kamu jenguk ini yah? Kakak apa tadi..." Menjeda dengan mengingat-ingat sebentar. "Ah, kakak tercantik di dunia setelah kamu itu kan?"


Risya menyengir dan menggaruk-garuk pelipisnya salah tingkah.


"Mommy kenal Risya?" Tanya Rachel dan Bryan kompakan. Bryan kini menjatuhkan tubuhnya terduduk ke atas sofa.


"Tadi mommy ketemu dengannya di toko kue dan bareng-bareng kesini." Ucap Ny Amitha.


"Oh, jadi mommy ku ini yang kamu maksud ibu Baik hati itu Ris?" Tanya Bryan.


"I.. Iyahh..... " Jawabnya masih menyengir malu.


"Eh, ini yang kamu bawa apa Ris?" Bryan meraih kotak yang ada di sampingnya lalu hendak membukanya. "Buat kak Rachel yah?"


Secepat kilat Risya berlari merebut kotak itu lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Rachel dan Bryan menatap bingung Risya, sementara Ny Amitha yang mengerti keadaan itu hanya mampu menahan tawanya.


"Loh bukannya itu buat kak Rachel?"


"I.. Iya. Tadinya sih begitu. Ta...tapi..tapi kan tidak mungkin Risya berikan cake yang di beli sama ibu kak Rachel sendiri." Lirihnya dengan menahan malu.


Bryan sontak tertawa lepas. "Astaga, jadi itu mommy yang belikan? Kok bisa kebetulan begitu?"


"Sudah, sudah." Ny Amitha menghampiri Bryan dan menepuk pundaknya, kemudian menghampiri Risya dan merangkulnya. "Gak papa. Tante orangnya santai kok. Jangan dipikirkan."


"Jadi cake ini gimana tante?"


"Kamu mau kasih ke kak Rachel-nya kan?"


"Buat kak Rachel ya?" Tanya Rachel menyela.


Risya mengangguk pelan. "Tapi itu..." Menunjuk pada cake yang sudah terpotong-potong di atas buffet.


"Yang itu biar tante berikan pada perawat yang berjaga."


Risya kembali mengangguk. Memandangi Bryan, Rachel dan Ny Amitha bergantian. Perasaannya kini nano-nano, tak jelas. Ingin rasanya berlari keluar dan menyembunyikan wajahnya.


* * *