
Sembari menunggu Rachel yang sedang menghapus riasan make-up nya di Toilet, Mahavir memainkan ponsel nya sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur di kamar President Suite miliknya, awalnya dia hanya mencoba meluruskan punggungnya tapi pada akhirnya dia tertidur saking lelahnya.
Sejujurnya Mahavir sangat kelelahan karena belum beristirahat dengan baik setelah melakukan perjalanan ke makam ibu nya kemarin, apalagi tidurnya hanya beberapa jam karena semalaman menjaga Rachel yang sakit.
Rachel yang telah selesai memperbaiki riasannya mendapati Mahavir yang sedang tertidur dengan pulasnya. Dia dekati pria itu dengan perlahan, dan terdengar suara dengkuran halus nya.
"Katanya tidak lelah, tapi pada akhirnya tepar juga." lirih Rachel.
Rachel menggeleng-gelengkan kepala nya, kemudian mengecek jam di ponselnya. Sudah jam 5 sore. Rachel merasa tidak tega membangunkan suaminya itu, akhirnya wanita itu keluar kamar menuju lift khusus,dan membawa nya turun hingga ke lantai tiga tempat sebuah resto dan cafe berada. Dia mencoba berjalan-jalan sendiri menikmati sedikit kebebasan dari penjagaan Mahavir.
Yah, sejak Mahavir hadir dalam kehidupannya lima hari yang lalu, pria itu tidak pernah jauh dari nya bahkan menempel padanya sepanjang hari.
Rachel memesan segelas cocktail kemudian mengambil posisi duduk di balkon hotel sambil menikmati pemandangan langit sore hari. Langit kebiruan yang sedikit lagi berubah warna.
"Bu Rachel??" Seorang pria tiba-tiba menyapa
"Oh.. Kamu??" Rachel mencoba mengingat nama pria itu.
"Saya Rey... Reynold."
"Oh, iyya.. Maaf saya lupa."
"Tidak apa-apa bu, oh iya Pak Mahavir kemana? Kenapa ibu sendiri?"
"Jangan panggil saya ibu, panggil Rachel saja. kita seumur kan?" Ujar Rachel. "Mahavir sedang tidur, dia sedikit kelelahan setelah photoshoot tadi."
"Oh, begitu."
"Duduklah, aku ingin mengobrol sedikit denganmu." Rachel menawarkan.
"Maaf, bu Rachel.. Tapi sepertinya akan tidak sopan bila saya duduk bersama ibu, apalagi kalau dilihat oleh Pak Mahavir."
"Dia tidak akan marah, dia kan tahu kamu itu teman sekolah ku dulu. Duduklah!" Rachel menawarkan sekali lagi hingga Rey akhirnya duduk dengan pasrah."
"Benar dulu kita sekelas?"
"Iyya bu Rachel."
"Katamu tadi, kamu teman dekat dengan Dirman?" Rachel langsung bertanya ke intinya.
Rey sedikit terkejut, tidak menyangka Rachel akan membahas 'Dirman'.
"Iyya, saya dulu sebangku dengannya."
"Kalian sedekat apa?"
"Bisa dibilang mungkin cuma saya satu-satunya temannya dulu, bu Rachel tau sendiri kalau tidak ada yang mau berteman dengannya."
Rachel menatap sinis.
"Dirman itu orang yang sangat baik hati,dan sangat pandai, hanya karena penampilannya yang tidak sesuai standar teman-teman serta latar belakangnya yang tidak mampu dia dijauhi bahkan beberapa kali dibully." Ujar Rey bercerita.
"Karena kelakuannya yang tidak tahu diri makanya dia diperlakukan seperti itu."
"Maaf Bu Rachel, tapi ibu tahu sendiri Dirman itu orang yang tidak mampu. Ketidakmampuan nya dalam bersosialisasi membuatnya sulit berbaur dengan teman-teman yang berbeda level dengannya, sehingga kadang menimbulkan kesalahpahaman pada teman-teman termasuk ibu Rachel."
"Sudah aku bilang, jangan panggil aku ibu, Rachel saja!" Pinta Rachel dengan ekspresi dinginnya.
Rey terpaksa mengangguk, sorot mata Rachel terlihat mengintimidasi nya.
"Ternyata wanita ini tidak berubah sama sekali, tetap dingin dan ketus bukan main. Bagaimana Mahavir bisa bertahan dengan nya?"
Batin Rey.
"Apa kalian masih berhubungan hingga sekarang?" tanya Rachel.
Rey terdiam, otaknya berfikir mencari jawaban yang tidak menyudutkannya.
"Kami hanya sesekali pernah bertemu."
"Dimana dia sekarang?"
Rey kembali terdiam.
"Dia ada di dekatmu, dia adalah suamimu!"
Apakah aku harus menjawabnya begitu??
Tidakkan!!!
Mahavir pasti akan membunuhku kalau sampai ketahuan."
"Mati aku!!!! Aku harus jawab apa???"
"Kenapa terdiam? Kamu pasti tahu kan?"
"Maaf Bu... Eh Rachel, saya betul-betul tidak tahu sekarang dia ada dimana." Rey gelagapan.
"Aku tahu kamu berbohong, sebagai teman dekatnya kamu pasti membelanya kan?"
"Kalau boleh tahu, kenapa anda mencarinya?"
"Kamu masih bisa bertanya seperti itu??" Terlihat guratan emosi di wajah Rachel. "Kamu pasti tahu kan apa yang sudah dia perbuat padaku?"
Rachel teringat akan sosok pria itu...
"Sosok pria yang menjijikkan, yang wajah nya setiap saat muncul menghantui pikiranku, semua yang kumiliki ingin dirampasnya, bahkan masa mudaku kuhabiskan untuk terapi ke psikolog....
hanya untuk bisa melupakan trauma psikis yang telah dia tinggalkan...
'Dirman' satu nama yang selamanya akan kubenci seumur hidupku..."
Batin Rachel.
"Itu semua salah paham, Dirman bukan orang seperti itu, justru dia...." Ucapan Rey terputus.
"Temanmu itu betul-betul br*ngsek, pria br*ngsek yang tahunya hanya kabur tanpa jejak setelah perbuatan kejinya." Rachel mencaci-maki tak bisa menahan emosinya, dari sudut matanya terlihat bulir bening yang telah siap jatuh membasahi pipinya. Semua pengunjung yang ada berbalik ke arah mereka.
Glek...Rey menelan ludahnya, tak sanggup berbicara lagi.
"Bodoh nya Aku!!! Harus nya tadi aku tidak menyebut nama Dirman."
"Tuhan selamat kan aku....!!!" Batin Rey.
Sementara dibawah meja tangannya memegang ponsel,tak henti-hentinya menghubungi nomor Mahavir.
Rachel memalingkan wajahnya, mencoba menghalau airmata nya yang hendak jatuh. Dia menatap dalam langit yang akan berubah warna, ditatanya hati dan pikirannya hingga amarahnya
berangsur-angsur memudar..."
"Maaf, aku terbawa emosi."
"Tidak apa-apa bu, eh.. Rachel." Rey menundukkan kepalanya menatap ponselnya yang bergetar, "Maaf sepertinya saya harus kembali bekerja."
Rachel mengangguk pelan,
"Oh,iya... Maaf telah menyita waktu kerjamu."
Secepat kilat Rey kabur dari hadapan Rachel, setelah dirasanya jarak antara dirinya dan wanita itu telah jauh diangkat nya ponselnya dengan cepat.
"Virr, kamu tidur atau apa??" Rey menggerutu.
"Aku ketiduran, dan terbangun karena suara dering telepon darimu." Ujar Mahavir diujung sana masih setengah sadar. "Ada apa?"
"Wanita mu!! Dia baru saja menginterogasi ku!"
"Wanita ku???" Mahavir tersadar, dengan segera dia bangkit dari tempat tidur dan melihat ke toilet, istrinya sudah tidak ada. Dia melihat arlojinya, sudah jam 6 lewat. Ternyata dia sudah ketiduran selama sejam lebih. "Dimana dia sekarang?"
"Dia di lounge cafe, cepatlah turun sebelum aku diinterogasi ulang olehnya." Rey kemudian beranjak menuju depan lift.
Bergegas Mahavir mengambil blazer milik Rachel yang tertinggal, dia mengingat kalau Rachel memakai busana minim, dan dia tidak mau kalau ada pria hidung belang yang memperhatikan istrinya.
Dengan cepatnya Mahavir keluar dari lift, dan didapatinya Rey yang sedang menunggunya.
"Apa yang dia katakan?" tanya Mahavir panik.
"Dia mencarimu?"
"Mencari ku? Kan dia tahu aku sedang tidur!"
Rey menepuk jidatnya.
"Bukan kamu yang sekarang, tapi kamu yang dulu!"
"Lalu kamu bilang apa?"
"Aku bilang tidak tahu."
"Jadi aku harus bilang apa? bilang kalau kamu ada didekat nya? Kamu suaminya! begitu??" Giliran Rey yang emosi.
"Kamu berani memarahi atasanmu??" Tegur Mahavir.
"Bagaimana suasana hatinya?" tanya Mahavir lagi.
"Dia begitu marah hingga nyaris menangis didepanku!!" Rey mendengus.
Mahavir menatap kesal Rey, kemudian terlintas sesuatu di benaknya.
Mahavir mendekati Rey dan membisikkan sesuatu, terdengar ide gila yang membuat Rey
Kelimpungan."
"Bukan malam ini kan?" tanya Rey heran.
"Malam ini"
"kau sedang tidak bercanda kan?" tanya Rey masih tidak percaya.
"Bagian mana kata-kata ku yang seperti bercanda?"
"kamu seriussss????" Rey memperjelas.
Mahavir hanya mengangguk.
"Aku tidak apa-apa kamu suruh macam-macam, tapi kalau tiba-tiba begini aku juga bukan robot!!"
Rey bersungut-sungut kesal.
"Bunga juga??" tanya Rey.
"Iya, bunga apa saja kecuali Bunga Anyelir. Rachel tidak suka."
Rey masih tidak bergeming.
Mahavir menatap tajam Rey,
"Ok Boss!!" Ucap Rey datar tanpa gairah membuat Mahavir tidak puas dengan jawabannya. "Sudahlah, cepat temui dia sana!! Kecantikan istrimu itu membuat semua mata pria membelalak melihatnya." Usir Rey mengeluarkan jurus pamungkas nya agar Mahavir segera pergi dari hadapan nya.
Mendengar ucapan Rey, Mahavir langsung bergegas mencari istrinya.
Rey hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap sahabat sekaligus bos nya itu.
"Begitu rumit kisah cintamu Bro....."
Rachel memandangi keindahan langit, sang mentari perlahan-lahan turun ke peraduan nya, menyisakan warna jingga yang terpampang indah menyambut senja.
Mahavir menemukan Rachel yang sedang termenung di pagar Balkon hotel, pria itu menghampiri nya kemudian membalut punggung wanita itu dari belakang dengan blazer yang dibawanya .
"Udaranya dingin." Mahavir memberi alasan. Sementara matanya memelototi pria yang memandangi istrinya.
Rachel berbalik, "Kamu membuat ku terkejut."
"Sedang apa? Kenapa tidak membangunkan ku?"
"Kamu terlihat sangat lelah, aku hanya mencoba jalan-jalan sebentar."
"Aku kira kamu ke Aula untuk mengecek persiapan Resepsi pernikahan kita."
"Aku percaya kamu sudah mempersiapkan nya dengan baik."
"Kamu terlihat lesu, kenapa?"
"Aku hanya Badmood !!" Rachel menyandarkan tubuhnya kesamping, bersandar pada bahu pria tinggi disamping nya.
"Sebaiknya kita makan malam dulu disini baru pulang ke rumah, bagaimana?" Ajak Mahavir.
"Up to you..." Rachel membalas singkat
Pukul 19.00. Pasangan pengantin baru itu memasuki Restoran Calister Hotel. Disana telah tersedia meja khusus untuk mereka, yang telah ditata ala candylight dinner.
Rachel menyadari Restoran yang sepi itu tanpa seorang pun pengunjung. "Kok sepi? Jangan-jangan........" Batin Rachel mengira-ngira.
"Jangan bilang kamu sengaja mengosongkan restoran ini?" Tanya Rachel yang hanya dibalas senyuman oleh Mahavir.
Tiba-tiba lampu Restoran itu mati dan menyisakan cahaya dari lilin di meja mereka.
Mahavir beranjak dari duduknya, berjalan ke balik minibar restoran itu dan muncul dengan buket bunga yang besar. Pria itu melangkah kearah Rachel kemudian berlutut tepat di samping kursi wanita itu.
"Virr... Ini apa-apaan?"
"Mungkin kita telah menikah, tapi aku tidak sempat melamar mu dengan baik, maka izinkan aku untuk melamar mu sekali lagi." Menjeda sejenak dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Will you marry me Rachel Sasmita Wijaya?" bersungguh-sungguh kemudian menyerahkan buket bunga besar ke hadapan Rachel.
"Hiduplah bersamaku, Habiskan sisa hidupmu bersamaku....Aku mencintaimu" seru Mahavir.
Selama beberapa detik Rachel terdiam dan tertegun. ia menerima buket bunga itu dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Bingung, terkejut, senang dan berbunga-bunga bercampur menjadi satu. Wajah merah meronanya tidak terlalu nampak karena remang nya cahaya lilin. Senyum manis terkembang di wajah cantik nya tatkala Mahavir meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. Mulutnya masih terkatup rapat, tidak mengiyakan tapi tidak menolak.
Tidak berapa lama hidangan makan malam datang beserta beberapa orang pria yang masuk dengan membawa alat musik, kemudian memainkannya dengan irama yang lembut.
Mahavir dan Rachel menikmati Romantic dinner dengan perasaan berbunga-bunga.
Setelah Mahavir mendapat pesan singkat dari Rey, Mahavir kemudian menutup mata Rachel dengan pita, kemudian menuntun istrinya itu masuk ke dalam lift.
"Kejutan masih berlanjut sayang....." Mahavir berbisik ke telinga Rachel membuat telinga wanita itu memerah seketika karena geli. Lift menyisir tiap lantai hingga naik di puncak teratas gedung hotel itu.
"Jangan mengintip..." Pinta Mahavir.
"Kita mau kemana??" tanya Rachel masih dengan mata tertutup.
Pelan-pelan Mahavir menuntun Rachel berjalan kedepan. Rachel merasakan semilir angin yang langsung menerpa tubuhnya dan membuat rambutnya beterbangan.
"Sudah siap?" tanya Mahavir yang dibalas anggukan oleh Rachel. Mahavir membuka ikatan pita yang menutup mata Rachel. "Pelan-pelan buka matamu."
Sesuai instruksi dari Mahavir, Pelan-pelan Rachel membuka matanya... Dan....
Dia sedang berada di atas Rooftop Calister Hotel.
Dengan berbagai macam jenis bunga cantik yang terangkai berbentuk hati, serta hamparan bunga yang memenuhi lantainya dengan lampion-lampion kecil di sisi kiri kanannya. Mahavir lalu menuntun Rachel berjalan diantara hamparan bunga itu menuju tembok pembatas.
Ketika mereka telah berada tepat di tembok pembatas satu persatu lampu di gedung seberang mati kemudian berkedip-kedip membentuk inisial nama mereka dengan lambang hati ditengahnya. ( M ❤ R)
Tidak hanya sampai disitu, beberapa kembang api pun meluncur naik terkembang membentuk kilauan cahaya gegap gempita yang menghiasi langit malam itu.
Rachel begitu terkesima dengan kejutan yang Mahavir berikan. Pelan-pelan Mahavir melingkarkan kedua tangannya dari belakang ke pinggang ramping istrinya, hingga tubuh wanita itu tenggelam dalam dekapannya.
Rachel hanyut dalam buaian Mahavir. Jantungnya berdetak tak terkendali begitu pun dengan apa yang saat ini Mahavir rasakan.
Dagu Mahavir berlabuh ke bahu Rachel, kemudian setengah berbisik ditelinga wanita itu,
"Hiduplah bersamaku selamanya, aku ingin menua bersamamu, aku akan selalu berusaha membahagiakanmu."
Kejutan Mahavir ini sukses membuat Rachel mematung, ia tertegun, mulutnya kembali terkatup rapat. Tak tahu harus bagaimana menanggapinya.
Pelan-pelan Mahavir membalikkan tubuh Rachel, ditatapnya dalam-dalam mata wanita itu, mencoba memberikannya rasa kasih dan sayangnya yang tak terhingga.
Mahavir kembali menangkup kan kedua tangannya membingkai wajah cantik istrinya.
Mata pria itu seolah-olah meminta persetujuan kepada istrinya. Seakan mengerti isi hati pria itu, Rachel menutup matanya memberi tanda bahwa dia mengizinkannya.
Tanpa menunggu lama, Mahavir mengecup pelan bibir Rachel kemudian mencecapnya dengan lembut. Dilihat nya Rachel yang masih memejamkan matanya, di usap bibir basah itu dengan jarinya, kemudian kembali mengulumnya secara bergantian. Mahavir mencoba masuk lebih dalam tapi Rachel masih memasang pertahanannya, mulut nya masih tertutup rapat enggan untuk membukanya. Seakan memberikan batas untuk Mahavir untuk tidak berbuat lebih dari itu.
Mahavir menyadari nya dan tak ingin gegabah untuk memaksa istrinya itu. Dilepaskan nya kedua tangannya dari wajah Rachel kemudian mendekap erat kembali tubuh wanita yang amat sangat dia sayangi.
"Hmm... Virr... Virr.. a..aku susah bernafas." Rachel mencoba melepaskan diri dari pelukan erat suaminya.
"Ohh... Maaf." Mahavir merenggangkan pelukan nya kemudian mengecup kening istrinya.
"Sudah malam, ayo kita pulang." Ajak Mahavir, kemudian menggenggam jemari Rachel berjalan menuju lift.
Malam itu menjadi malam romantis yang tidak terlupakan bagi Rachel dan Mahavir.
Tapi jadi malam yang teramat sial buat seseorang di gedung seberang sana yang harus membereskan semuanya dan menyaksikan keromantisan dari sahabatnya.
"Bro'... Kau berbahagia diatas penderitaan orang lain..." Gerutu Rey
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰