
"Untuk menjemputmu sayang...."
"Menjemputku?" tanyanya seraya tertawa sumbang.
"Setelah sekian lama? Setelah apa yang terjadi? Kamu bahkan tidak menanyakan kabarku?" lanjutnya dengan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Maaf, aku betul-betul tidak mengetahui apapun. Aku pikir kamu baik-baik saja. Stuart menyembunyikan semuanya dariku..."
"Apa itu masuk akal? Selama ini kamu selalu tahu apapun tentang diriku. Bahkan dipesawat tadi pun kamu tahu kalau aku tak makan apapun juga. Lalu mengapa kamu bisa tak tahu dengan kabar yang begitu penting?" cecarnya.
Tangan Mahavir terangkat mengusap kasar wajahnya, lalu ia mendudukkan tubuhnya di tepian tempat tidur. Kedua sikunya menumpu diatas pahanya dengan tangan yang meremas kuat kepalanya dengan frustasi.
"Aku betul-betul tidak bisa memahamimu Vir... Kamu melarangku meninggalkanmu, memaksaku untuk bertahan disisimu. Tapi kamu sendiri datang dan pergi sesuka hatimu. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar apapun. Aku ini kamu anggap apa?" Teriaknya. Nada suaranya naik satu oktaf.
Mahavir dapat melihat rasa benci, terluka, kecewa, marah dan rindu dari sorot mata itu. Ia bangkit dari duduknya, maju selangkah dan langsung menarik Rachel kedalam pelukannya. "Maafkan aku sayang, aku betul-betul menyesal baru bisa menemuimu sekarang."
"Kamu jahat, kamu jahat Vir...Kamu pergi meninggalkanku disaat aku betul-betul mengharapkan kehadiranmu. Kamu menyuruhku menjemputmu di hotel tapi...APA YANG KUDAPATKAN? APA??" Teriaknya sambil memukuli dada Mahavir. Airmata yang ditahan-tahannya sedari tadi akhirnya terjatuh.
Mahavir menelan ludahnya, tak kuasa menjawab pertanyaan Rachel. Ia membiarkan Rachel memukulinya dan melampiaskan amarahnya.
Rachel menghentikan pukulannya, menjatuhkan kepalanya kedalam dada Mahavir dan terisak disana. Kedua tangannya meremas kuat kemeja putih yang digunakan Mahavir. Hingga ingatan tentang perkataan Mahavir kembali terngiang di telinganya. Refleks ia mendorong Mahavir dan melangkah mundur.
"Anakmu sudah tak ada Vir, kamu sudah bebas. Kamu tak usah bertahan lagi denganku. Kita sudah selesai." Ucapnya sembari melangkah ke arah sofa, meraih kopernya dan menariknya ke lantai. Rachel berjongkok di depan kopernya, membukanya dan memilih pakaiannya.
Bola mata Mahavir bergerak-gerak mengikuti pergerakan Rachel. "Sayang, apa maksudmu?
"Apa kurang jelas perkataanku barusan?" Mendongak dan menatap manik mata Mahavir.
Cukup lama keduanya saling pandang, hingga Rachel memutus tatapan itu dengan membuang wajahnya kembali menghadap ke kopernya.
"Satu-satunya hal yang membuatmu bertahan hanya karena anak di dalam kandunganku kan? Sekarang dia sudah tak ada. Diantara kita sudah tak ada apapun lagi. Jadi kembalilah pada wanita itu. Menikahlah dengannya...." Lirihnya dengan begitu sendu, semakin menunduk menyembunyikan wajahnya dan dengan gerakan cepat mengusap airmatanya. Berusaha keras menyembunyikan perasaannya sembari menutup kopernya setelah mengambil satu pasang pakaiannya.
Mahavir yang terlihat gusar menghampirinya, mencengkram kuat lengannya dan menariknya hingga bangkit berdiri di hadapannya. "Tatap mataku Rachel, katakan tepat di depan wajahku...."
Rachel mengangkat wajahnya, matanya basah dan berkaca-kaca. "Anakmu sudah tak...." Belum sempat Rachel berucap mulutnya sudah dibungkam oleh Mahavir. Mahavir menahan tengkuk Rachel dengan kedua tangannya dan menciuminya dengan membabi buta. Lalu mendorongnya dengan keras hingga terhempas ke ranjang.
"Apa...apa yang kamu lakukan Vir?"
"Aku akan membuatmu hamil anakku berkali-kali sampai kamu tak punya alasan apapun lagi untuk meninggalkanku." Ucapnya seraya membuka kemejanya lalu naik ke atas ranjang dan mengungkung istrinya. Kedua lututnya bertumpu pada ranjang dengan tubuh Rachel diantaranya dan sebelah tangannya mencengkram tangan Rachel yang memberontak melawannya, menyatukan kedua tangan istrinya itu lalu menekuknya di atas kepalanya. Sementara satu tangannya yang lain membuka paksa bathrobe yang digunakan wanita itu.
"VIRR....!" Teriaknya seraya mencoba melepaskan diri dari kungkungan Mahavir.
"Panggil namaku sayang, teriakkan namaku..." Bisiknya dengan suara serak dipenuhi nafsu sembari menciumi sepanjang leher Rachel dengan liar.
Saat ini Mahavir betul-betul gelap mata. Tubuh polos yang berada tepat di bawahnya begitu menggoda, membuat nafsu mendominasi dirinya dan mengalahkan akal sehatnya. Dengan gerakan tidak sabaran dan sedikit kasar, Mahavir menyusuri keseluruhan lekuk tubuh istrinya, menghujaninya ciuman, hisapan serta gigitan-gigitan kecil di sekujur tubuhnya. Meninggalkan jejak merah kebiruan di sana sini.
Sekujur tubuh Rachel bergetar hebat, airmatanya meleleh membasahi sprei di bawahnya. Nafasnya begitu sesak karena kehabisan tenaga melawan kekuatan Mahavir. Suaranya pun sudah serak karena berteriak meronta-ronta meminta di lepaskan. Namun sedikitpun Mahavir tak menghiraukan perlawanannya. Laki-laki itu terus saja mencumbunya. Melesatkan dirinya memasuki inti tubuhnya. Tak sanggup lagi melawan, Rachel akhirnya pasrah di bawah gerakan aktif suaminya itu.
Setelah beberapa kali pelepasan, Mahavir akhirnya menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Rachel. Rachel dengan segera menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Berbaring meringkuk memunggungi Mahavir dan terisak dalam diam.
Mahavir menghela nafas. Menormalkan pernafasannya yang masih memburu karena percintaan panas yang dilakukannya. Satu tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya sementara satu tangannya yang lain berada di atas kepalanya. Sejenak menyesali tindakan biadabnya barusan.
Setelah beberapa jam berlalu, Mahavir akhirnya berbalik memandangi punggung Rachel yang masih terlihat bergetar karena menahan tangisnya. Ia pun meringsuk di balik selimut dan mendekat ke istrinya.
"Sayang...maaf.... Aku sudah diluar batas...." Lirihnya sembari mengusap-usap lembut punggung polos Rachel dan mendaratkan Kecupan-kecupan kecil di sana.
Tangis Rachel akhirnya pecah dengan sentuhan lembut Mahavir.
"Sampai kapan kamu akan meminta maaf seperti itu Vir?" Tanyanya dengan sesunggukan. "Sampai kapan kita seperti ini?"
Mahavir mengikis jarak diantara ia dan Rachel dengan semakin merapatkan tubuhnya. Memeluk erat istrinya itu dari belakang.
"Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu padamu sayang? Sampai kapan kamu bersikeras seperti ini?"
"Bukankannya kamu bilang kalau kamu sudah lelah bersamaku? Kamu menyesal menikah denganku, kamu membenciku, kamu ingin pergi menjauh dari kehidupanku. Kamu bertahan denganku semata-mata karena anakmu. Bukankah itu yang kamu katakan?"
Mahavir menautkan kedua alisnya tak mengerti maksud ucapan istrinya. "Aku tak pernah berkata seperti itu sayang... Dengan atau tanpa anak pun aku akan tetap bertahan denganmu. Aku tak mungkin ada disini dan memaksamu jika aku betul-betul berniat meninggalkanmu."
"Tak usah mengelak Vir....Aku mendengarnya, aku mendengar semua yang kamu katakan saat itu Vir...."
Mahavir termenung sejenak, mengingat-ingat kapan dia pernah mengatakannya. "Sayang mungkin kamu salah paham..."
"Salah paham? Lalu mengapa selama dua bulan ini kamu tak pernah menghubungiku? Kenapa Vir? Bukankah kamu memang sengaja menghindariku? Menjauhiku?" Tanyanya dengan intonasi rendah lagi lemah.
Mahavir terdiam, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tak tahu harus menjelaskan darimana. Hingga akhirnya ia menarik Rachel dan membuatnya berbalik menghadapnya. "Aku sama sekali tidak pernah berniat seperti itu sayang. Kumohon percayalah padaku, kenapa kamu selalu meragukanku?"
"Lalu apa yang kudapatkan dengan mempercayaimu?" Lirihnya sembari menatap kedua manik mata Mahavir lekat-lekat.
Mahavir kembali menarik Rachel kedalam pelukannya. Mengecup puncak kepala Rachel berulang kali. "Aku tak bisa menjanjikan apapun lagi bila kamu tak bisa mempercayaiku. Saat ini aku hanya bisa mengatakan kalau aku merindukanmu....aku merindukanmu sayang, sangat... Sangat merindukanmu....sampai mau mati rasanya..."
Rachel menggeleng dan memukuli dada Mahavir. "Aku membencimu Vir, aku sangat membencimu, aku ingin pergi jauh, jauh sejauh-jauhnya darimu......" Teriaknya sambil terus menghujani Mahavir pukulannya.
Tangan Mahavir bergerak menahan tangan Rachel, lalu mengecup tangan yang terkepal itu.
"Bencilah aku sepuasmu sayang, tapi jangan pernah meninggalkanku..."
Rachel menarik tangannya kemudian langsung memeluk erat Mahavir. Menenggelamkan kepalanya diantara leher Mahavir dan menghirup aroma tubuh laki-laki itu dengan dalam.
"Yah....aku membencimu, aku membencimu pada awalnya. Dan berharap akan terus membencimu....Namun kenyataannya aku tak bisa Vir.... Sebesar apapun kebencianku, cintamu telah berhasil menghapusnya. Semakin...."
Kedua pupil mata Mahavir melebar diikuti senyum yang mengembang. Dengan cepat Mahavir melepaskan pelukannya dan memandangi wajah istrinya "Sayang...berarti sekarang?"
"Jangan menyelaku Vir, dengarkan dulu sampai selesai....."
Mahavir mengangguk menahan senyumnya. Binar bahagia kini terpancar di wajahnya.
"Semakin kuat rasa sakit yang kurasakan semakin kuat cintamu membelengguku. Sejujurnya....aku merasa hampa tanpamu Vir..... Maafkan aku yang selama ini tidak bisa melihat cintamu. Maafkan aku yang dulu tak menghargai cintamu. Aku menyesal memperlakukanmu sejahat itu. Aku menyesal Vir....! Aku merindukanmu, aku juga merindukanmu..." Ucapnya dengan wajah sembabnya yang memerah menahan malu dan egonya.
Mahavir terdiam menyimak dan menunggu selama beberapa detik, membuat Rachel kembali menatapnya tajam.
"Kenapa tidak meresponku?"
"Sudah selesai semua yang ingin kamu katakan?"
Rachel mengalihkan pandangannya lalu mengangguk pelan.
Kedua tangan Mahavir terangkat dan menangkup kedua pipi Rachel. "Jadi apa sekarang kamu sudah bisa menerimaku? Apa kita masih bisa bersama?" Tanyanya dengan penuh harap.
"Aku hanya ingin dicintai dengan cara yang normal Vir.... Jangan memperlakukanku seperti orang yang terobsesi."
"Baik sayang... baik,... aku tidak akan pernah lagi bersikap seperti itu. Jadi apa sekarang kita betul-betul bisa bersama kembali?" tanyanya memastikan sekali lagi.
Rachel mengangguk dan tersenyum dalam tangisnya. "I Love you Vir...it's not too late, right?" (Aku mencintaimu Vir, Belum terlambatkan?) Tanyanya.
"It's never too late for you dear..." (Tak pernah ada kata terlambat untukmu sayang.) Jawabnya kemudian langsung mengecup bibir Rachel. Menyesapinya dan mel*matnya. Rachel pun tak tinggal diam, ia menarik leher Mahavir dan memperdalam ciumannya. Semakin lama, semakin dalam dan liar.
"Apa kamu tidak lelah?" Bisiknya di sela ciumannya dan Rachel menjawabnya dengan mengangguk malu. Dengan senyum ceria yang terkembang Mahavir memposisikan dirinya kembali, lalu bersama-sama mereguk manisnya cinta mereka tanpa ada lagi beban pada keduanya.
****
"Jadi bagaimana keadaan ayahmu saat ini?" Tanya Rachel sembari mengancingkan kemeja Mahavir. Keduanya baru saja selesai mandi bersama.
"Dia sudah sehat, hanya saja masih disuruh tinggal di rumah sakit untuk pemulihan. Dia bahkan sudah kembali arogan seperti semula, memerintah semua bawahannya tanpa ampun."
"Hanya sisa beberapa. Sekretaris presdir dan Stuart bisa menanganinya. Tapi aku masih harus kembali kesana..."
"Oh..." Ucap Rachel singkat dan menunduk kecewa. "Sekarang juga?"
"Hmm..." Jawabnya diiringi anggukan kepala.
"Berapa lama?"
Mahavir menahan senyumnya lalu meraih pinggang Rachel dan menariknya hingga merapat dengannya. Sedikit menunduk, Mahavir berbisik. "Selama yang kuinginkan..." Ucapnya menggoda.
Rachel refleks mendorong Mahavir menjauh darinya. Wajahnya cemberut dengan bibir yang merengut. "Ya sudah..." Lirihnya lalu berbalik hendak merapikan kopernya. Namun tiba-tiba tangan besar Mahavir kembali memeluknya dari belakang.
"Aku kesini kan untuk menjemputmu. Kita bersama-sama akan kesana." Bisiknya lalu memutar tubuh Rachel menghadapnya. "Sekalian...... " Menjeda ucapannya lalu mengerling nakal pada Rachel.
"Sekalian apa?"
Mahavir meraih anak-anak rambut Rachel dan menyampirkannya kebelakang telinganya. Sedikit menunduk dan mendekat ke telinga itu. "Sekalian kita honeymoon disana...." Bisiknya lalu mengecup singkat bibir Rachel.
"Tapi.... Sepertinya aku tak bisa kesana Vir..."
"Kenapa?"
"Aku... Aku malu dan takut bertemu Presdir. Aku tak berani bertemu dengannya."
"Sayang...dia tahu kalau aku kesini menjemputmu. Kalau aku pulang tanpamu, apa yang akan dikatakannya? Kamu mau kalau dia menyembunyikan anaknya ini?" Tanyanya yang langsung mendapat tonjokan di lengannya.
"Memangnya kamu anak kecil yang bisa disembunyikan?"
"Loh, bukannya kamu yang pernah memintanya untuk membawaku sejauh-jauhnya darimu."
Rachel terperanjat kaget. "Jadi dia memberitahukannya padamu?"
Mahavir mengangguk pelan, menatap serius istrinya. "Aku sangat terluka saat mendengarnya. Tidak menyangka kamu meminta hal itu padanya."
"Maaf... Saat itu kan aku...." Lirihnya dengan menunduk.
Mahavir tersenyum lembut, kembali menarik pinggang Rachel hingga merapat padanya. "Iya, aku mengerti sayang.... Jadi sekarang kamu mau ikutkan bersamaku?"
Rachel mengangguk pelan dengan semburat merah di wajahnya yang tampak masih sembab. "Sekarang juga?"
"Iya, jet pribadi presdir sudah menunggu, siap membawa kita."
"Tapi aku belum bertemu Daddy dan Mommy."
"Kamu mau ke sana dulu?"
"Iya, mumpung kita masih disini."
"Tapi ini masih dini hari. Mereka pasti terkejut."
"Namanya juga kejutan. Mau yah? Aku sangat merindukan mereka."
Mahavir menengok jam di pergelangan tangan kirinya. "Baiklah kita masih punya waktu kurang lebih tiga jam."
Rachel tersenyum dan memeluk erat Mahavir. Menenggelamkan wajahnya pada dada laki-laki itu dengan manja.
"Kalau kamu begini kita bisa kembali kesana...." Ucapnya menggoda sambil menunjuk dengan lirikan mata ke arah ranjang yang sudah rapi.
"Issh...Dasar mesum!" Umpatnya lalu mencubit pelan pinggang Mahavir.
"Bar-bar nya kembali lagi." Ucapnya dengan terkekeh sembari mengusap pinggangnya.
"Sudah, ayo cepat. Katamu kita hanya punya waktu tiga jam kan."
"Iya, ayo. Kita menemui Rey dulu. Pinjam mobilnya. Mobilku kan ada di rumahmu."
"Loh mobil yang tadi membawa kita?"
"Ribet kalau ada supirnya. Aku mau menyetir sendiri dan berduaan denganmu." menarik tangan Rachel dan hendak menggenggamnya. Namun Rachel tertegun melihat punggung tangan Mahavir yang terluka.
"Kenapa sayang?"
"Tanganmu kenapa Vir?" tanyanya sembari mengangkat tangan Mahavir dan mengusapnya pelan.
"Ah, bukan apa-apa. Hanya bentuk pelampiasan kekesalan saja. Tak usah membahasnya. Ayo..." Ujarnya lalu menggenggam tangan Rachel dan menariknya keluar kamar. Rachel pun mengikut patuh tanpa bertanya lagi.
Keduanya langsung masuk ke dalam lift dan turun ke lantai di mana kantor Rey berada. Tapi sesampainya disana, Rey tak ada. Mahavir akhirnya meraih kunci mobil Rey dari tempat biasa lalu keluar dari sana.
"Tidak minta izin orangnya dulu?" Tanya Rachel.
"Tak usah. Mobil ini juga aku yang belikan. Mau aku ambil kembali juga tak masalah." Ucapnya dengan terkekeh. Rachel hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.
Keduanya kembali masuk kedalam lift dan turun ke basement tempat mobil Rey terparkir. Sejurus kemudian mobil sport hitam itu melaju membelah jalan Ibukota dengan kecepatan penuh karena jalanan yang tampak lengang pada dini hari.
Satu tangan Mahavir menggenggam erat tangan Rachel dan satu tangannya memegang penuh kendali stir mobil.
"Sayang.... Jangan pernah melepaskan tanganku lagi yah?"
Rachel mengangguk lalu menjatuhkan kepalanya di atas bahu Mahavir. "From today on I will never let go of your hand. Whatever will be...." (Mulai hari ini aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Apapun yang terjadi....)
"Promise...?" (Janji?)
"I promise.... I will love you always..." (Aku berjanji, aku akan selalu mencintaimu)
Mahavir tersenyum lalu mengecup bibir Rachel dengan lembut.
"Fokus ke depan sayang....ini bukan London." Ujar Rachel mendorong wajah Mahavir ke depan.
"Iya sayang..." Mahavir tersenyum dan kembali fokus menyetir.
Hingga pada tikungan di depan sebuah truk besar dengan laju yang cukup kencang terlihat oleng ke sisi yang berlawanan arah.
"VIRR...AWASSS......" teriak Rachel memperingati Mahavir. Dengan cepat Mahavir membanting stir ke kanan dan berhasil menghindari truk itu. Namun saat menginjak pedal rem, rem-nya tidak berfungsi dan membuat mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan.
Mahavir dengan cepat melepas seatbelt-nya lalu melompat memeluk erat tubuh Rachel di kursinya. Mobil sport itu terlempar beberapa meter lalu berguling-guling dan terhenti dengan posisi terbalik.
Darah keduanya berceceran dimana-mana, luka terkoyak tampak pada tubuh keduanya.
Rachel mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba meraih kesadarannya. Tubuhnya terduduk dalam posisi terbalik dan tertahan oleh tali seatbelt. Dilihatnya Mahavir yang berada tak jauh dari posisinya dengan keadaan mengenaskan masih menggenggam erat tangannya. Berusaha kuat mempertahankan kesadarannya. Dari gerak bibir Mahavir Rachel bisa mengetahui maksudnya.
"I will love you always...." Balasnya sebelum akhirnya kesadarannya menghilang.
****
Sorry yah agak lebay-lebay gitu....
Sad Ending???
🤔Mmm... tunggu aja kelanjutannya...