
Seminggu berlalu dengan sangat cepat. Setelah drama panjang antara Bryan dan Risya yang cukup menguras emosi orang tua serta melibatkan dua keluarga, akhirnya dua remaja itu saling bertunangan dengan resmi yang acaranya di rangkaikan langsung bersama pesta pernikahan Reynold dan Diraya. Sebuah pesta megah yang diadakan di Hotel Calister.
Tadinya Pak Wijaya bahkan berkeras menikahkan mereka saat kedua matanya melihat jejak perbuatan putra satu-satunya itu yang tercetak jelas di leher gadis polos itu. Tak menyangka kalau putra kebanggaannya bisa melakukan hal seperti itu.
Kedua Remaja itu disidang habis-habisan. Bryan menjadi bulan-bulanan Ny Amitha, Rachel dan Lily, bahkan Rey pun ingin menghabisi Bryan kalau saja ia tak mengingat siapa Bryan itu.
Walaupun Pak Wijaya tidak menggunakan kekerasan fisik dalam menghukum Bryan, tapi kekecewaan yang begitu nampak pada wajah lelaki paruh baya itu sanggup membuat Bryan merasa tertampar dan pasrah akan semua keputusan dari daddy-nya itu.
Setelah menimbang baik-baik, Pak Wijaya akhirnya memutuskan kalau Bryan dan Risya bertunangan dulu sebelum akhirnya Bryan harus menikahi gadis itu bila sudah cukup umur nantinya.
Sungguh takdir begitu hebat mengubah keadaan dan membolak-balikan hati seseorang. Dua orang yang tadinya saling menjalin kasih, terpisahkan dengan cara yang tak terduga.
Pada akhirnya di waktu dan tempat yang sama pula dua orang itu meresmikan hubungan mereka masing-masing dengan orang yang berbeda. Hubungan yang tadinya Bryan harapkan untuk membuat keluarga kecil bersama Raya, pada kenyataannya takdir mengubahnya. Membuatnya kini menjalin hubungan kekeluargaan dengannya.
Yah, hubungan antar saudara ipar. Dimana sukses mengundang senyum keheranan bagi orang yang mengetahui kisah mereka.
Sebuah pertunangan resmi bersama seorang gadis belia di hadapan dua keluarga yang sama sekali tak pernah dibayangkan dalam pikiran Bryan. Gadis manis yang sialnya saat ini malah sangat membencinya akibat perbuatannya malam itu.
Sejak kejadian malam itu, gadis belia itu sama sekali tak ingin bertemu dengannya. Bahkan saat acara pertunangan mereka pun berlangsung keduanya tak saling bicara hingga acara berakhir.
Acara pertunangan itupun menjadi penutup dari liburan Bryan, karena esok harinya ia harus kembali ke London dikarenakan liburan musim dinginnya yang telah usai. Karena itulah, Bryan akhirnya memberanikan diri datang ke kediaman Risya untuk bertemu sekalian berpamitan dengan tunangan kecilnya itu.
Dan disinilah Bryan saat ini, berdiri mematung menatap nanar pintu kamar bercat putih berhiaskan pernak-pernik gambar sekumpulan princess Disney dengan deretan huruf berwarna-warni yang bertuliskan 'Pretty girls Room'. Sudah dua jam lamanya dia berdiri mematung di depan pintu itu, berkali-kali pula ia mengetuk daun pintu itu hingga jari-jarinya memerah, tapi tak ada sama sekali respon dari si pemilik kamar itu.
Bryan membuang nafasnya kasar, sebelum akhirnya bersuara.
"Ris...." Panggilnya lembut dengan menatap sendu pintu didepannya itu.
"Aku sadar kalau aku sangat keterlaluan, aku juga paham kalau kamu tak mau bertemu denganku saat ini." Bryan menjeda sejenak dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu kembali berucap. "But please, Ris...forgive me. Don't hate me...." Pintanya memelas.
"Aku sangat-sangat menyesal melakukannya. Tapi aku juga bahagia karena dengan kejadian itu kita akhirnya bisa bertunangan. Kamu tahu Ris, aku sangat bahagia karena gadis itu adalah kamu. Gadis cerewet yang tidak bisa diam."
"Ris...."
"Besok aku akan kembali ke London. Penerbangan ku pukul satu siang, aku harap kamu bisa mengantarku." Imbuhnya penuh
harap, namun masih belum ada respon apapun dari dalam sana.
Bryan kembali menghela nafasnya dengan kecewa karena tak bisa membujuk gadis kecil itu. Bryan melangkah menempel pada daun pintu dan mengusap pelan pintu itu. "Aku pasti akan sangat merindukanmu. Tunggu aku yah...and see you again my little girl....." Lirihnya lalu berbalik dan betul-betul beranjak dari sana.
***
Rachel sedang merapikan beberapa pakaiannya ke dalam koper saat kemudian ia menemukan selembar kemeja putih milik Mahavir yang terselip diantara pakaiannya.
Dengan cepat tangannya meraih kemeja putih itu dan langsung membawanya ke dalam dekapannya bersamaan dengan menitiknya kristal bening dari sudut matanya.
Rachel masih mengingat betul penampilan Mahavir saat mengenakan kemeja itu. Penampilan rapi yang sedikit mencuri perhatiannya saat pertama kali bertemu dengannya.
Rasa rindu yang ditahannya selama beberapa waktu belakangan ini kembali menyeruak. Membuat hatinya kembali merasakan sesak yang teramat sangat.
Ia menarik nafas pelan. Memejamkan mata lalu menghirup dalam-dalam aroma pada kemeja itu. Berharap rasa rindunya bisa sedikit terobati. Tapi reaksi tubuhnya malah sebaliknya, aroma yang dirindukan dalam pikirannya malah membuatnya pening seketika hingga merasakan mual yang teramat luar biasa. Rachel segera melempar kemeja itu sembarang arah, berlari cepat ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya. Dengan langkah perlahan dan tertatih-tatih Rachel keluar dari kamar mandi dan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang, tapi begitu melihat kembali kemeja Mahavir yang dilemparnya tadi rasa mual itu kembali bergejolak. Ia kembali berlari dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan saja.
Keringat dingin kini membasahi wajahnya, tubuhnya bergetar dengan pandangan yang sedikit berputar. Dengan berat hati kemeja Mahavir di singkirkannya cepat ke dalam kopernya.
Rachel membaringkan tubuhnya perlahan. Dipejamkannya matanya sejenak untuk menenangkan dirinya. Hingga sekelebat ingatan muncul dalam pikirannya. Rachel merasa dejavu dengan kejadian ini, dimana ia akan mual bila mencium sedikit aroma dari Mahavir. Mungkinkah saat ini ia...?
Tak ingin menduga-duga dan berspekulasi sendiri, Rachel segera bangkit dari pembaringan. Meraih kunci mobil dari dalam laci nakas lalu bergegas keluar untuk mencari tahu.
"Kak Rachel mau kemana?" Tegur Lily saat melihat Rachel yang terburu-buru keluar dari kamarnya.
"Ada urusan sebentar di luar." Jawabnya tanpa menghentikan langkahnya. Lily hanya mengernyit heran memandangi kakak sepupunya itu berlalu di hadapannya.
Rachel yang begitu tergesa-gesa keluar dari pintu utama tak sengaja menubruk Bryan yang hendak masuk ke dalam rumah. Tubuhnya sedikit limbung ke samping, tapi Bryan sigap menahannya.
"Mau kemana kak?" Tanyanya melihat Rachel membawa kunci mobil di tangannya lalu merebut kunci itu dengan cepat.
"Bryan, balikin. Aku ada urusan di luar."
"Aku antar!" Bryan langsung berbalik, berjalan mendahului Rachel menuju garasi.
"Bryan, please. Aku mau pergi sendiri."
"Aku anterin kak Rachel atau kak Rachel tidak kemana-mana." Berbalik dan menatap tajam kakaknya itu.
"Astaga!!" Rachel menghela nafas dan akhirnya pasrah karena ia sendiri tidak yakin akan sanggup menyetir sendiri atau tidak.
"Memangnya kak Rachel mau kemana?" Tanya Bryan saat mobil Porsche boxster putih milik Mahavir itu sudah meluncur bebas di tengah jalan raya.
"Ke... Rumah sakit." Jawab Rachel ragu-ragu.
Bryan hanya menoleh sesaat memandangi kakaknya yang memang tampak pucat lalu kembali fokus menyetir dan membawa mobil itu ke kawasan rumah sakit tempat dulu kakaknya itu pernah di rawat tanpa banyak berfikir.
Tadinya Bryan berfikir kakaknya itu hanya ingin check-up kesehatan di sana, tapi begitu Rachel berbelok ke bagian obgyn, sukses membuat Bryan mengernyit heran.
"Kak??"
"Hanya ingin mengecek sesuatu." Ujarnya menjawab pertanyaan yang muncul di wajah adiknya itu. Bryan pun kembali terdiam duduk berdampingan Rachel di kursi tunggu.
"Kamu tunggu di sini saja." Ucap Rachel saat sudah dipersilahkan masuk oleh seorang perawat.
"Aku ikut masuk." Bangkit berdiri menyusul kakaknya bak anak ayam mengikuti induknya.
"Bryan!!" Menoleh dan melirik kesal adiknya.
"Aku ingin tahu."
"Nanti aku beri tahu hasilnya."
"Aku tak percaya!"
"Astaga bocah ini....!!" Rachel menepuk keningnya melihat adiknya yang bersikeras ikut masuk bersamanya. "
"Ingat kak, orang yang kakak sebut bocah ini hampir saja menghamili anak gadis orang." Terang Bryan yang merasa kesal selalu dianggap anak kecil oleh Rachel.
Rachel memutar bola matanya jengah. "Terserah kamulah...!" Ucapnya lalu segera masuk ke ruang periksa poli obgyn tersebut, dan Bryan benar-benar ikut masuk dibelakangnya.
Seorang dokter wanita paruh baya menyambut mereka. Setelah sedikit berbasa-basi, dokter itupun menuntun Rachel naik ke bed pemeriksaan lalu memeriksa Rachel dengan seksama. Rachel memejamkan matanya merasakan alat USG yang bergerak-gerak di permukaan kulit perutnya. Jantungnya berdetak begitu cepat, dengan keringat dingin yang kembali membasahi pelipis dan telapak tangannya yang terasa dingin, namun sentuhan hangat yang tiba-tiba menggenggam tangannya membuat kelopak matanya refleks terbuka.
Dilihatnya Bryan, sang adiknya itu telah menggenggam tangannya erat dan tersenyum padanya sembari sesekali memandangi layar monitor. Airmata yang menggenang di pelupuk matanya kembali menitik membayangkan Mahavir yang duduk disana sambil memegangi tangannya.
"Maaf dok, kakak saya terlalu gembira." Bryan mencoba menjelaskan melihat dokter itu yang keheranan melihat pasiennya.
Rachel sudah tak lagi bisa fokus pada dokter wanita itu. Pikirannya sudah berlarian entah kemana. Hanya Bryan yang serius mendengarkan semua penuturan dokter itu sampai akhir.
Bryan menghela nafasnya berat, memandangi kakaknya yang saat ini sudah duduk mematung pada kursi penumpang di sampingnya.
"Kak..." Panggilnya berusaha memecah lamunan Rachel. "Kak, apa kakak tidak bahagia dengan kabar ini?"
Rachel menoleh dan menggeleng pelan. "Aku bahagia, sangat bahagia sampai ingin melompat-lompat saking bahagianya. Hanya saja...." Kembali airmatanya terjatuh. Cepat-cepat Bryan menarik kakaknya itu ke dalam pelukannya.
"Aku tahu ini pasti berat buat kak Rachel. Tapi aku tahu kak Rachel pasti kuat melewatinya. Yakinlah kalau kak Vir pasti akan kembali."
Rachel mengangguk dalam dekapan Bryan dan terisak dalam diam disana. Bryan dengan sabar menenangkan Rachel dan mengusap pelan rambut panjangnya.
"Kak Rachel masih tetap akan ikut ke London besok?"
Rachel kembali mengangguk pelan. "Aku tak bisa tinggal diam dan hanya menunggu saja. Aku harus mencari tahu kabarnya. Kalau ia tak bisa, maka aku yang harus mencarinya."
"Tapi kak, kak Rachel juga harus ingat kalau saat ini kak Rachel sudah tak sendiri lagi."
Dilepaskan pelukan adiknya itu lalu mengusap kedua pipinya yang basah. "Aku tahu. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku sudah tak ingin kehilangan lagi. Aku tak akan berbuat bodoh lagi."
Bryan tersenyum dan menepuk pelan pundak Rachel. "Thats my sister." Ucapnya lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Rachel memalingkan wajahnya ke samping. Memandangi jalan yang bergerak kebelakang dengan cepat lewat kaca jendela mobil. Kedua tangannya bergerak mengusap lembut perut ratanya.
Meraup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya dan menghembuskannya perlahan guna menguapkan rasa sesaknya, sambil mengguman dalam batinnya.
Vir....
Bagaimana kabarmu?
Apa kamu masih betah dengan tidur panjangmu di sana?
Tidakkah kamu lelah terlelap dan bermimpi saja?
Vir...
Kamu tahu?
Aku punya kabar gembira untukmu...
Kabar yang begitu kamu nanti-nantikan...
Vir...
Kamu bilang kamu akan membuatku hamil berkali-kali agar tak lagi meninggalkanmu...
Sekarang kamu telah berhasil membuatku hamil sekali lagi...
Tapi...
kenapa justru malah kamu yang meninggalkanku?
Vir....
Tidakkah ada ikatan batin antara kamu dan anakmu saat ini?
Tidakkah kamu merasakan kehadiran anakmu di rahimku saat ini?
Vir....
Kumohon segeralah pulih...
Aku dan anakmu sangat kesepian...
Tidakkah kamu merindukan kami?
Vir....
Aku menunggumu....
***
Manhattan, New York. Amerika Serikat.
Seorang lelaki dewasa tampak masih bergeming pada ranjang perawatannya, berbagai alat medis masih terpasang di beberapa anggota tubuhnya. Suara alat pendeteksi detak jantung terdengar nyaring memenuhi kesunyian ruangan steril bernuansa putih itu.
Semenjak di rawat di tempat itu belum ada tanda-tanda berarti yang diperlihatkan walau sudah mendapatkan perawatan yang sangat maksimal dari dokter-dokter terbaik dunia.
Namun tiba-tiba terlihat pergerakan pada jari-jari besarnya setelah sekian lama. Perlahan-lahan jari-jari itu semakin intens bergerak seiring bulir bening yang terjatuh di kedua sudut matanya, memaksakan diri untuk tersadar.
Beberapa orang berstelan jas rapi berwarna hitam yang berjaga di luar sana tidak mengamati keadaan yang terjadi di dalam sana. Hingga akhirnya suara nyaring dari alat monitor hemodinamik berbunyi nyaring dengan nada panjang serta menampilkan grafis horizontal yang terus memanjang pada layar pemantau membuat mereka semua panik.
Lelaki yang terbaring koma itu tiba-tiba mengalami Sudden Cardiac Arrest, yakni jantung yang tiba-tiba berhenti memompa hingga napas berhenti memasok oksigen ke paru-paru.
Sekumpulan dokter bermata biru dan berambut pirang serta beberapa perawat berlari cepat ke ruangan tersebut. Salah seorang dari mereka langsung menarik semua elektroda yang menempel pada tubuh yang terbaring tak sadarkan diri itu. Lalu dokter yang lainnya segera meraih alat pacu jantung dan menempelkannya ke bagian dada lelaki itu. Membuat tubuh liat itu ikut terangkat dan bergetar karena kuatnya kejutan listrik yang dikeluarkan alat AED (automated external defibrillator).
Dokter itu mengulang memberikan kejutan listrik pada tubuh pucat itu untuk merangsang agar detak jantung dan otot jantungnya kembali berfungsi.
Para dokter mulai terlihat panik karena tubuh yang semakin memucat itu tak merespon apapun. Tapi dokter itu tetap berusaha semampu mungkin untuk menyelamatkan pasiennya itu.
Hingga pada kejutan listrik yang ke tiga kalinya jantungnya baru merespon. Grafis kinerja jantung yang tampil pada layar monitor pun mulai menatar naik turun seirama dengan bunyi bip bip yang terputus-putus. Para dokter langsung bernafas lega bersamaan melihat alat saturasi oksigen kembali bekerja dengan normal.
Kembali kabel-kabel elektroda dipasang pada tubuh itu, namun belum sempat terpasang sempurna, kelopak mata sang pasien tampak bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka secara perlahan-lahan.
Salah satu dokter langsung mengarahkan penlight nya pada bola mata lelaki itu dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Memeriksa reaksi pada pupil matanya. Pupil mata itu merespon sesaat lalu mengerjap beberapa kali.
"You can hear me?" Tanya dokter paruh baya itu sembari memeriksa tanda-tanda vital lainnya.
Lelaki itu hanya mengangguk lemah dan kembali memejamkan matanya. Namun lirih terdengar dari bibirnya menyerukan nama seseorang.
"Rachel..........."
***