
Jam 7 pagi Rachel dan Mahavir mulai meninggalkan wisma. Pagi-pagi tadi mereka terbangun dengan kecanggungan satu sama lain.
Cuaca kembali cerah dengan kilauan cahaya lembut dari sang surya yang baru saja menampakkan dirinya dari peraduannya.
Jalanan masih basah akibat hujan yang mengguyur semalaman, kendaraan yang lewat masih bisa dihitung jari. Mungkin karena daerah itu jauh dari perkotaan, hingga hanya ada beberapa orang yang terlihat berkendara.
Sepanjang jalan tadi Rachel terlihat tersenyum-senyum dengan manisnya.
Rachel masih mengingat setiap menit dari kejadian semalam. Dia sakit, dan Mahavir merawat nya dengan sabar. Teringat di memori Rachel sesekali Mahavir terbangun hanya untuk mengecek suhu tubuhnya ataupun memperbaiki selimutnya, walaupun samar-samar.
Tak ada rasa lelah maupun keluhan yang ditampakkan oleh pria itu.
Seulas senyum muncul di bibir indah Rachel, hatinya terasa di awan-awan. Baru kali ini dia merasakan perhatian tulus dari seorang pria.
Mahavir melirik ke arah Rachel dan langsung merekam ekspresi ceria yang muncul dari wajah istrinya itu.
Semakin Mahavir memandangi istrinya itu, semakin dia menjadi salah tingkah. Sesuatu berkecamuk dalam pikiran nya...
"Ada apa dengan dirinya?? Apakah semalam aku salah memberikan obat?? Apakah obat itu berpengaruh ke saraf nya?"
Batin Mahavir bertanya-tanya dengan perubahan sikap istri nya yang tiba-tiba itu. Dia telah cukup terbiasa dengan tatapan tajam wanita itu, sehingga ketika mata cantik itu memperlihatkan kelembutan nya dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Mahavir penasaran.
"I'm fine.... Very, very fine" Jawab Rachel dengan senyum yang termanis yang tidak pernah Mahavir temui selama 15 tahun mengenalnya.
"Tidak ada sesuatu yang aneh?" Mahavir masih penasaran.
"Maksudnya?"
"Dari tadi kamu tersenyum-senyum sendiri, apa ada yang lucu?"
Mendengar itu Rachel tersenyum masam.
"Jadi aku harusnya bagaimana? Cemberut dan marah lagi?" Ucap Rachel dengan wajah merengut membuat Mahavir semakin serba salah.
"Tidak, bukannya begitu...." Mahavir terdiam takut salah bicara. Tapi pengamatan nya tidak pernah lepas dari istrinya itu.
"Apa lagi yang wanita ini rencana kan?... "
Rachel melirik Mahavir yang fokus itu, ada perasaan gemas yang muncul dihatinya.
"Kenapa aku baru sadar kalau pria ini begitu polos dan manis....Sepertinya akan seru bila aku mengerjainya sedikit"
Pelan-pelan Rachel mendekatkan tubuh nya ke Mahavir dan...
"CUP"
Kecupan lembut Rachel hadiah kan di pipi suaminya itu. Dan...
"NGIIIIKKK..... "
Saking terkejutnya Mahavir mengerem mendadak, untung nya jalanan masih sepi sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Mahavir memegang pipinya bekas kecupan istrinya, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia rasakan.
Dia berbalik melihat Rachel, wanita itu hanya tersenyum dengan pipi yang merona.
"Apa dia masih demam???" Batin Mahavir
Kemudian Mahavir menggerakkan tangannya menyentuh kening Rachel.
"Tidak hangat.... " Batin Mahavir.
Rachel menurunkan tangan Mahavir yang menyentuh keningnya, kemudian di tautkan nya jari-jemari nya ke tangan Mahavir.
Kelakuan Rachel itu sontak membuat Mahavir syok untuk kedua kalinya.
"Ya Tuhan...kenapa dengan istri ku??
Apa mungkin ada setan perawan yang merasukinya???" Batin Mahavir bertanya-tanya heran.
Tangan Mahavir masih kaku, dia tidak tahu harus berbuat apa, dia takut kalau wanita itu cuma mengetes dirinya.
Semalam Rachel sendiri yang minta diberi waktu, memintanya untuk bisa bersabar dengan dirinya. Tapi kenapa tiba-tiba pagi ini wanita itu mendadak agresif??
Mahavir merasa tidak nyaman dan takut itu hanya rencana Rachel untuk mengetes dirinya, akhirnya dia melepaskan tangan Rachel dengan alasan harus fokus menyetir.
Sudah 15 tahun dia mengenal wanita itu, sifat angkuh dan kerasnya tidak mungkin bisa berubah dalam semalam.
"Apa mungkin perubahan nya dikarenakan aku merawatnya disaat dirinya sakit?? Kalau memang seperti itu aku rela merawatnya seumur hidupku agar bisa terus melihat senyuman nya itu....
Ehh... Tidak!!! Tentunya aku tidak mau dia sakit lagi, lebih baik dia terus memasang wajah ketus nya padaku dari pada melihat nya terbaring tak berdaya....
Rachel....Rachel.....
kau membuat ku semakin gila !!!!"
Batin Mahavir menggerutu.
Sepanjang sisa perjalanan Mahavir hanya terdiam, pikiran nya berfokus pada perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba itu. Sementara Rachel tersenyum puas dengan kejahilan nya.
Kurang 15 menit jam sepuluh, Porsche hitam itu pun sampai di mansion Rachel.
Pak Wijaya sedang asyik membaca koran berita hari ini di pantry dapur sambil menunggui Ny Amitha yang terlihat sibuk membuat beberapa cake kesukaan keluarganya saat Rachel berhamburan masuk ke dalam mansion itu.
Rachel hanya menyapa sekilas daddy dan mommy nya yang terkejut melihat penampilannya, kemudian dia langsung beranjak naik ke tangga dan kabur ke kamarnya.
Saat berjalan di ruang penghubung antara kamar ke kamar Rachel juga sempat bertubrukan dengan Bryan yang baru saja keluar dari kamarnya membawa seat papan catur. Alhasil papan catur yang dibawa Bryan terjatuh berhamburan. Bryan terperangah, dia menelisik tajam penampilan kakak perempuan nya itu dari atas kepala hingga kebawah kaki. Tapi Rachel tidak memperdulikan reaksi adiknya dan langsung masuk kekamarnya masih dengan wajah sumringahnya.
"Mom....do you see what i see???" Ucap Bryan sambil berlari menuruni anak tangga, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Daddy dan mommy Rachel pun masih tertegun hingga Mahavir masuk dan berada diantara mereka.
"Kak Mahavir is the best" Ucap Bryan mengacungkan jempolnya ke arah Mahavir. Mahavir menatap heran.
"Virrr.... Apa yang kamu lakukan padanya??" tanya pak Wijaya masih terlihat heran.
Mendapat pertanyaan itu Mahavir menjadi panik
"Aku tidak melakukan apa-apa dad, sumpah aku belum melakukan apa-apa." Jawab Mahavir dengan wajah pucatnya.
Melihat itu kompak Pak Wijaya, Ny Amitha dan Bryan tertawa.
"Pasangan aneh!!!" Ucap Bryan tertawa terpingkal-pingkal.
"Yang daddy maksud itu, penampilan nya Rachel!!" Ujar Ny Amitha masih terlihat menahan tawa. "Apa yang kamu lakukan sampai dia bisa penampilan nya seperti itu?"
Yah...Wajar saja bila mereka terkaget heran, Keluarga Rachel sangat tahu betul dengan karakter wanita itu, dia tidak pernah mau terlihat berantakan sedikit pun dari ujung rambut hingga ujung kuku kakinya. Bahkan pakaian yang dia gunakan harus sesuai dengan standarnya, mana mau dia memakai pakaian yang tidak berlabel merk ternama. Tapi pagi ini dia seperti Rachel yang berbeda, dengan Rambut yang terlihat acak-acakan, menggunakan hoodie tebal dan shortpant laki-laki plus dengan wajah sumringahnya.
"Iyya, selama ini kakak selalu menjaga penampilan, makanya tadi semua kaget pulang-pulang penampilan kakak seperti itu!!
Magic apa yang kak Mahavir berikan padanya?" Bryan menaik turunkan alisnya meminta penjelasan dari kakak iparnya itu.
"Oohhh....itu..." Mahavir menarik napas lega. "Itu panjang cerita nya." Jawab Mahavir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Habis bulan madu tipis-tipis yah?" Goda Bryan lagi. Ny Amitha terlihat hanya tersenyum-senyum sambil menyelesaikan memberikan krim cheese pada tiap layer cake yang dibuatnya.
"Sudah..sudah....sepertinya nak Mahavir sangat lelah!" Ucap Pak Wijaya. "Pergilah beristirahat" Lanjut nya lagi.
Kemudian Mahavir beranjak naik ke lantai dua dan masuk ke kamar tamu. Tidak lama kemudian Mahavir kembali turun
"Mom, ii..i.itu... Pakaianku kemana, tidak ada dilemari" tanya Mahavir.
"Udah dipindahin semua ke kamar kakak beserta kopernya!!" Jawab Bryan mewakili Mommy nya.
Sekali lagi Mahavir menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Akhirnya Mahavir berjalan ke kamar Rachel berniat untuk mengambil pakaian ganti.
"Ceklek"
Mahavir membuka pintu kamar Rachel dan tanpa di sadari nya sebuah teriakan Rachel terdengar disusul dengan lemparan bantal ke arahnya.
Dilihat nya Rachel tengah berusaha menutupi tubuh polosnya dengan handuk.
"Kalau mau masuk ketok pintu dulu" Teriak Rachel melototi Mahavir dengan tajam.
Sejenak Mahavir terdiam.
"Ya Tuhan.....Akhirnya istri ku kembali normal..."
Guman batin Mahavir.
"Mau ambil baju! kata Bryan, mommy sudah pindahkan isi koperku ke kamar mu." Jawab Mahavir kemudian tanpa seizin Rachel,dia langsung berjalan ke arah walking closet
Rachel masih diam ditempat, tak bergerak sedikit pun.
"Tak usah takut, aku tidak akan memakan mu, aku sudah janji kan semalam." Ujar Mahavir sambil memilih pakaian nya yang cuma sedikit kemudian berjalan keluar dan kembali menutup pintu. Dengan cepat Rachel berlari dan menguncinya.
"Dasar dikasih hati dikit langsung main nyelonong masuk kamar tanpa permisi!!" Hardik Rachel kemudian segera masuk ke kamar mandi.
Kurang lebih 20 menit waktu yang dihabiskan Rachel untuk membersihkan diri. Setelah berpakaian dia pun keluar kamar menuju ruang keluarga.
"Kesambet apa kak waktu bulan madu kemarin?" Ejek Bryan sesaat setelah Rachel turun dari tangga.
Rachel hanya melototi Bryan yang asyik bermain catur bersama daddy nya di ruang santai dekat dapur yang mengarah ke kolam renang. Kemudian berjalan menghampiri mommy nya yang telah selesai membuat cake kesukaannya.
"Bryan gak sekolah mom?" tanya Rachel
"Kan adikmu dah lulus tahun ini, dia lagi nyiapin mau kuliah dimana."
"Memangnya mau kuliah dimana?"
"Katanya sih mau di Oxford, tapi belum dapat izin dari daddy mu."
"Kenapa?"
"Tau sendiri adikmu itu, disini saja suka keluyuran gak tau kemana, apalagi kalau di negeri orang. Dia hanya akan membuat Grandma mu pusing nanti kalau dibiarkan ke Inggris."
Rachel hanya manggut-manggut mendengar penjelasan mommy nya.
"Dari mana saja kemarin?" tanya Ny Amitha.
"Dari Nyekar makam ibunya Vir, cuma karena hujan badai jadi terpaksa nginap. Aku sedikit kesal dia tidak cerita kalau ternyata ibunya telah lama meninggal."
"Iyya, di hidup sebatang kara selama 18 tahun, Makanya kamu jangan judes terus padanya."
"Jadi mommy tau? Sebenarnya sejak kapan daddy dan mommy mengenal Mahavir?" tanya Rachel penasaran.
"Oh, iya Ngomong-ngomong kalian mau Honeymoon dimana?" tanya Ny Amitha mengubah topik pembicaraan.
"Belum kepikiran mom" Jawab Rachel, jarinya sibuk mencolek krim keju yang berada di atas cake buatan mommy nya itu.
"Daddy sudah mengurus Resepsi kalian bersama Ayah mertua mu, rencananya lima hari dari sekarang. Jadi setelah resepsi kalian bisa bulan madu." Ujar Pak Wijaya menjelaskan sambil bermain catur dengan Bryan.
Rachel hanya manggut-manggut mendengar daddy nya berbicara, mulut nya sudah dipenuhi oleh cheesecake.
"Hei malah asyik makan sendiri!" Ny Wijaya menepis tangan Rachel yang sedari tadi tak berhenti mencolek Cheesecake kesukaannya.
"Mana Mahavir? Kok belum turun?"
"Tau!!!... Lagi tidur mungkin." Jawab Rachel santai.
"Kok mungkin, emangnya tadi ga dikamar mu?"
Mommy Rachel menginterogasi.
"Buat apa dia di kamarku, dia di kamar tamu. Tadi katanya mau mandi, mungkin lagi istirahat."
Ny Amitha hanya geleng-geleng kepala kemudian memotong cheesecake buatannya dan menaikkan satu slice diatas piring kecil dan menaruhnya di atas nampan yang sebelum nya telah tersedia teh hangat.
"Nih antarkan ke suamimu" Ny Amitha menyerahkan nampan itu ke Rachel.
"Biar dia turun sendiri aja mom..."
"Bawa!!!" Perintah Ny Amitha
"Suruh Bik Santi atau Bik sumi aja."
"Mereka lagi ke pasar."
"Kalau gitu mommy aja."
"Kamu sayang!!!!" Perintah Ny Amitha lagi.
Dengan malas Rachel mengambil nampan tersebut kemudian berjalan menaiki tiap anak tangga lalu menuju kamar tamu. Rachel baru tersadar dan membuat hatinya kembali kesal, akibat perbuatan Mahavir dia jadi bahan tertawaan keluarga nya tadi.
Tanpa mengetok terlebih dahulu Rachel langsung membuka pintu, dan terlihat Mahavir yang sedang berpakaian.
"Upss... Sorry... " Ucap Rachel tapi tetap melenggang masuk tanpa permisi.
"Kamu melarang ku masuk tanpa ketok pintu tapi kamu sendiri masuk tanpa ketok pintu!!
"Kamar wanita sama kamar pria itu berbeda" Ucap Rachel seenaknya kemudian duduk di samping tempat tidur sambil memperhatikan suaminya berpakaian. Rachel merasa gemas sendiri dengan cara Mahavir memasang kancing kemeja nya dengan cuek, terlihat bekas lipatan-lipatan kecil diantara lubang kancing kemejanya itu hingga membuat kemeja nya tampak tidak rapi.
"Apa bedanya?" tanya Mahavir melanjutkan memasang kancing kemejanya.
"Kamu pikir sendiri deh... " Ucap Rachel malas menjelaskan. Kemudian tanpa disadari nya dia berdiri menghampiri Mahavir dan membantu mengancingkan kemeja pria itu.
DEG... DEG... Jantung Mahavir berdetak tak karuan.
Mahavir menunduk, dan terlihat pucuk kepala istrinya.
"Kamu tidak malu melihat pria sedang berpakaian?" Mahavir berusaha menutupi rasa berdebar nya.
"Aku sudah terbiasa tuh melihat tubuh manusia, kamu lupa aku ini desainer. Mau itu pria atau pun wanita, aku sering memakaikan model-model ku pakaian bila sedang ada fashion show."
"Tapi aku kan berbeda, aku suami mu"
Rachel memandangi tubuh Mahavir dari atas ke bawah kemudian menggelang. "Sama saja!!"
Mahavir mendengus kesal!!
"Oh iya daddy bilang katanya lima hari lagi resepsi pernikahan kita, dan dia tanya mau honeymoon dimana... " Ujar Rachel menjelaskan.
"Memang nya kamu mau pergi honeymoon??" tanya Mahavir heran.
"Kamu Memang nya tidak mau?" tanya Rachel balik.
Mahavir terdiam sejenak, "Kamu tahu honeymoon itu apa?"
"Bulan madu kan?" Jawab Rachel.
"Iyya, tapi apa yang dilakukan pasangan suami istri yang sedang berbulan madu?"
"Jalan-jalan!" Jawab Rachel berpura-pura tidak mengerti.
Mahavir kemudian semakin mendekatkan tubuh nya ke hadapan Rachel, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya kearah istrinya itu dan berbisik ke telinganya
"Kalau kamu mau bulan madu berarti kamu bersiap untuk melakukannya..." Bisik Mahavir.
Seketika pipi Rachel memerah dan mendorong Mahavir menjauh. Mahavir tertawa kecil.
"Bercanda...." Ucap Mahavir. "Kan sudah janji...."
Rachel masih tersenyum kecut.
"Kamu mau kemana Rapi begitu?" Rachel mengamati penampilan rapi suaminya.
"Mau ke Hotel Calister, ada sesuatu yang mau aku ambil, sekalian melihat persiapan resepsi pernikahan kita. Kamu mau ikut?"
"Malas....." Ucap Rachel kemudian menghempaskan dirinya terduduk di tepi tempat tidur.
"Sayang sekali, kalau kamu mau kita bisa sekalian foto praweding, aku bisa menyuruh orang disana untuk mempersiapkan nya."
Rachel terdiam sejenak.
"Memangnya kamu tidak lelah?"
Mahavir mengambil posisi duduk di samping Rachel kemudian memegang dagu istrinya itu
"Kalau itu menyangkut dirimu aku tidak akan pernah lelah."
Rachel tersipu malu menerima tatapan sayang dari Mahavir, dan kemudian bibirnya mengembang membentuk seulas senyuman.
"Ok, aku ikut."
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *