
Hai.... Hai... i'm back.
Maaf lama nunggunya.
author sibuk dengan novel di PF lainnya 🙏
Terima kasih buat yang masih betah menunggu.
Happy Reading All... 😘🥰
'DRITT...,'
Suara derit pintu yang terbuka perlahan terdengar samar di telinga Mahavir. Disusul derap langkah kaki yang kian mendekat dari arah belakangnya.
Mahavir memejamkan mata, membuang napas kasar sebelum akhirnya berucap. "Kenapa kau kembali? Apa kau masih belum cukup mengerti?" Tanyanya dengan nada dingin dan intonasi penuh penekanan.
Bukannya terhenti, derap langkah itu semakin terdengar tergesa menghampiri. Kemudian dua tangan mulus seorang wanita terjulur memeluk tubuhnya dari belakang.
Sontak Mahavir membuka mata. Seketika rasa panas dari dalam hatinya menjalar melalui bawah lapisan kulitnya, semakin naik merambat ke wajah dan membuat wajahnya memerah karena luapan emosi. "APA YANG KAU LAKUKAN? SUDAH KUKATAKAN JANGAN PERNAH MENYENTUHKU! DON'T TOUCH ME, HANNAH BARBARA!!!" Teriaknya membentak. Suara teriakannya menggelegar dan menggema mengisi keheningan kamar yang sangat dingin itu.
Napas Mahavir memburu. Rahangnya yang tirus merapat dengan urat yang terlihat berdenyut-denyut. Sebagian tubuhnya bergetar menahan luapan amarahnya yang sudah sangat menumpuk. Merasa tersiksa terkurung di tempat yang sangat jauh dan terduduk di atas kursi roda dengan tidak berdaya.
Pelukan itu bergeming. Malah semakin terasa erat membelenggu tubuhnya, diiringi suara isakan tangis yang terdengar lirih di belakang tengkuknya.
Kembali Mahavir memejamkan mata seraya menarik napas panjang.
"Maafkan aku Hannah, tapi apapun yang terjadi tak akan pernah merubah pendirianku. Kau jelas tahu bagaimana aku selama ini. Walaupun seluruh dunia mengecam cintaku, tapi aku tak akan bisa berpaling darinya. Walaupun mungkin dia yang kucintai sudah melupakanku, aku tak akan berhenti mencintainya. Kau bisa mengatakan aku gila, terobsesi atau apapun itu. Aku tak peduli. Tapi aku mohon berhenti mengharapkanku. Kau hanya akan terus tersiksa, karena sampai kapanpun hanya ada satu nama wanita di hatiku."
Suara isakan itu semakin menjadi. Ada desiran aneh yang menyentuh dinding hati Mahavir saat mendengarnya.
Alis Mahavir menekuk, mempertajam pendengarannya menangkap suara isakan tertahan di belakang tubuhnya itu. Dan begitu isakan itu semakin terdengar jelas, keningnya semakin mengkerut dalam.
"Ha-Hannah.... Kau kah itu?" Suaranya bergetar dengan degup jantung yang berdetak sangat kencang. Berusaha keras menolehkan kepalanya walau harus menahan rasa sakit akibat pergerakan tulang lehernya.
"Han....." Mahavir menjeda, menelan ludahnya susah payah. "Hannah...?"
"Tidak, tidak, kau bukan Hannah. Siapa kau?" Mahavir berucap cepat dengan napas yang memburu. Walau di lubuk hatinya ia sangat yakin dengan siapa pemilik suara itu, tapi Mahavir tak ingin terlalu cepat berasumsi sebelum memastikannya. Ia tak ingin jika pendengarannya hanya berhalusinasi semata.
Rachel tak kuasa berucap. Tangisannya pecah, airmatanya merembes turun tak terkendali. Mengeratkan pelukannya untuk melampiaskan kerinduannya.
Mahavir mengangkat tangan kirinya yang masih bebas bergerak. Dengan ragu menyentuh tangan lembut yang melingkari tubuhnya. Perlahan-lahan menggerakkan tangannya mengusap pergelangan tangan itu hingga turun ke pangkal jarinya. Memainkan jari jemari lentik itu selama beberapa detik sampai ketika perasaannya sudah sangat yakin, Mahavir langsung menautkan jari-jarinya yang bergetar ke dalam sela-sela jari jemari wanita itu dan menggenggamnya erat. Sangat erat hingga terlihat jari-jari jenjang mulus itu memerah karena aliran darah yang terhenti. Kemudian mengangkat genggaman tangannya itu ke depan bibirnya dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan tidak sabaran.
Kedua mata Mahavir terpejam dengan buliran bening yang menitik dari sudut matanya. Jakunnya bergerak naik turun dengan intens. Dan begitu hatinya sudah siap, mulutnya terbuka perlahan.
"Kenapa, kenapa kau baru datang sayang?"
Hati Rachel langsung terenyuh. Sebegitu besarnya cinta lelaki itu hingga bisa mengenalinya tanpa melihatnya sedikitpun. Terus mencintai dirinya tanpa henti.
Rachel menggigiti bibirnya dengan keras. Menelan ludahnya berkali-kali.
"Maafkan aku Vir.... Maafkan aku....! Sungguh maafkan aku sayang...."
Perlahan Rachel mengurai pelukannya. Menarik tubuhnya sedikit menjauh kemudian pelan memutar kursi roda lelaki itu menghadap kepadanya. Begitu pandangan mereka saling bertemu, Rachel sudah tak bisa lagi menahan diri untuk tak menubrukkan tubuhnya memeluk laki-laki itu. Melepaskan semua rasa sesak di hatinya.
"Virr....."
"Iya sayang..."
"Vir...."
"Iya sayang...."
"Vir.... Vir.... Vir.... Vir..." Rachel terus mengulang-ulang menyerukan nama lelaki itu. Seakan menebus semua waktu dimana ia tak bisa memanggil nama itu di depan sang pemilik nama.
Lama keduanya larut dalam pelukan hangat penuh kerinduan itu, sampai akhirnya Rachel melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Menarik kepalanya dari celah leher Mahavir dan menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Mahavir.
"I miss you, Vir... Really-really miss you...." Ucapnya dengan berderai airmata. Pandangannya bahkan mengabur karena airmata yang membayang melapisi bola matanya.
Tangan kiri Mahavir terangkat, lalu mengusap lembut airmata yang membasahi wajah yang dirindukannya. "I miss you to...." Balasnya.
Tangis Rachel kembali pecah dan langsung mendaratkan bibirnya menyentuh bibir Mahavir. Mengecupnya pelan tanpa mendesak. Menyesapnya dan menciumi dengan penuh perasaan suka cita. Begitu penuh kelegaan.
Mahavir memejamkan mata. Menerima ciuman istrinya yang untuk pertama kalinya terasa sangat tulus. Membalas pergerakan bibir Rachel dengan sama lembutnya. Akan tetapi ciuman itu terhenti saat Rachel menyadari bibir Mahavir yang mendadak terdiam.
Rachel segera menarik wajahnya menjauh untuk melihat wajah Mahavir.
"Vir....?"
Mahavir langsung membuang pandangannya ke sembarang arah, menghindari tatapan mata Rachel. Kedua bahunya terlihat terguncang dan bergetar.
Segera Rachel memegangi pipi Mahavir dengan kedua tangannya dan membuat mata sayu lelaki itu kembali memandangi dirinya.
"Ada apa?"
Mahavir tak menjawab, malah memejamkan matanya.
"Vir.... Lihat aku. Lihat wajahku Vir!" Tangan Rachel bergerak mengusap lembut rahang lelaki itu yang sudah penuh di tumbuhi rambut-rambut halus.
Mata Mahavir perlahan terbuka dan menatap ke dalam mata cokelat Rachel. Rachel bisa melihat sorot kesedihan di manik mata hazel lelaki itu.
"Ada apa Vir? Apa kau tak senang bertemu denganku?"
Airmata Mahavir terjatuh. Tangan kirinya bergerak menarik tengkuk Rachel dan membawa wajah wanita itu kembali menempel padanya. Menciumi bibir Rachel dengan penuh kerinduan. Kali ini sedikit dalam dengan lum*tan-lum*tan kecil.
Mahavir baru menyudahi ciuman itu begitu merasakan kehabisan oksigen. Melepaskan ciuman itu dengan sedikit tak rela untuk bisa menarik napas mengisi pasokan udara ke paru-paru.
"Vir....."
"Sayang.....sekarang aku sudah menjadi orang yang berbeda..." Lirih Mahavir berucap dengan rasa kepercayaan diri yang sangat rendah.
Kening Rachel mengernyit. "Berbeda? Berbeda seperti apa maksudmu?"
Mahavir menghela napas berat dengan mata yang menyorot kepada keadaan tubuhnya. Setelahnya membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Vir...." Rachel kembali menangkup kedua pipi lelaki itu. "Apa kau tak senang melihatku?"
"Mengapa kau bertanya seperti itu? Aku bahkan sudah hampir gila karena tak bisa melihatmu."
"Apa kau masih mencintaiku?"
"Sangat sayang. Aku sangat mencintaimu. Tak akan pernah rasa itu hilang dari hatiku."
"Lalu mengapa kau mengatakan kalau kau orang yang berbeda?"
"Apa kau tak melihat keadaanku sekarang?"
"Kenapa dengan keadaanmu? Aku tak melihat ada yang berbeda. Kau tetap Mahavir, kau tetap Vir-ku."
"Aku tak seperti dulu lagi. Aku laki-laki tak berdaya yang kini hanya bisa mengharap belas kasih orang lain. Aku bukan lagi lelaki sempurna yang bisa kau banggakan seperti dulu."
"Bagiku, kau tetap sama. Justru rasa bangga ku kepadamu semakin bertambah berkali-kali lipat. Kemanapun dan sejauh apapun aku mencari, aku tak akan menemukan laki-laki yang seperti dirimu. Selama ini aku yang bodoh. Selama ini aku yang buta. Sehingga tak bisa mengenalimu dengan baik. Terlambat menyadarinya. Tapi lebih baik terlambat bukan daripada tidak sama sekali?"
"Tapi....,"
"Vir!" Rachel menguatkan telapak tangannya menangkup pipi Mahavir. "Apa sekarang kau mau menyerah mencintaiku?"
"Tidak sayang, bukan begitu... Aku hanya..."
"Vir, apa jika aku yang berada di posisimu sekarang, apa kau akan menyerah?"
"Tentu saja tidak sayang. Aku malah bersyukur karena bukan kau yang berada di posisi seperti ini. Aku bahkan tak bisa membayangkannya."
Airmata kembali terjatuh dari sudut mata Mahavir. Cepat-cepat Rachel menyekanya.
"Kita kembali dari awal?"
"Tentu sayang. Tentu saja....! Kemari, peluk aku sayang. Peluk aku..."
Rachel membuka kedua tangannya lebar-lebar dan langsung meraup tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Mahavir yang sudah sangat di nanti-nantikannya.
"Tunggu, tunggu sebentar..." Ucap Mahavir yang baru menyadari sesuatu. Seperti ada gundukan diantara tubuhnya dan tubuh Rachel.
"Ada apa?" Kening Rachel mengerut dan melepaskan pelukannya.
"Itu... Itu...." Mata Mahavir menyorot ke arah perut Rachel yang terlipat karena wanita itu setengah berjongkok di depannya.
"Ada apa, Vir?"
"Bisa berdiri dulu?"
Alis Rachel saling menaut, tapi sepersekian detik berikutnya, Rachel langsung mengerti.
"Apa kau merasakannya?"
"Maksudmu?"
Rachel langsung bangkit berdiri, menarik tangan kiri Mahavir dan menempelkannya di perutnya.
"Aku datang tidak dengan tangan kosong. Aku membawakanmu hadiah, Vir."
Mata Mahavir langsung berbinar. Aura kegembiraan seketika memenuhi raut wajahnya.
"Apa maksudmu.... Sekarang kau...?"
Rachel menganggukkan kepalanya. "Kau berhasil menyimpan benihmu malam itu. Kau berhasil membuatku hamil anakmu lagi."
"Benarkah?" Tangan kiri Mahavir bergerak-gerak mengusap perut Rachel. "Berapa usianya?"
"Bukankah kau paham dengan perhitungannya?"
Mahavir terdiam seperti berfikir sejenak. "Sekitar 5 bulan?" Terkanya. "Benarkan?"
Kembali Rachel menganggukkan kepalanya. "Lebih tepatnya 23 minggu."
"Sudah cukup besar."
"Masih kecil, Vir."
"Tapi bagiku ini sudah besar. Perutmu sudah tak langsing lagi." Ucapnya dengan tertawa kecil.
"Apa kau mengejekku?"
"Tidak, justru kau terlihat sangat cantik. Pantas saja kulihat tubuhmu lebih berisi di televisi, ternyata ada anakku yang sedang bersembunyi di dalam sini."
"Halo, sayangnya daddy. Cintanya daddy. Maafkan daddy karena kita baru bertemu sekarang."
Rachel mengulas senyum. Membiarkan tangan Mahavir terus mengusap perutnya. Sementara tangannya terangkat mengusap-usap kepala Mahavir yang dilihatnya sedari tadi tak bisa bergerak sedikitpun. Rasa perih dan sesak kembali menggelayut manja di hatinya.
"Apa sudah terlihat jenis kelaminnya?"
Segera Rachel mengerjapkan matanya, memalingkan wajahnya untuk menyelamatkan air matanya sebelum akhirnya berucap. "Menurutmu? Mereka putra atau putri?"
Mahavir mengerutkan alisnya. "Mereka?"
Senyum Rachel terkembang. "Yah, mereka."
"Apa maksudmu mereka lebih dari satu?"
"Iya, Vir. Mereka ada dua. Dua sekaligus."
Binar mata Mahavir berkali-kali lipat bersinar. "Aku akan menjadi seorang ayah dari dua anak sekaligus?" Tanyanya dengan tangisan penuh haru.
"Iya, sayang. Iyya..."
"Ini hadiah yang luar biasa. Sangat luar biasa sayang."
Rachel hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan ikut menangis haru.
"Apa karena ini, orang tua itu mengalah?" Tanya Mahavir yang seketika teringat ayahnya.
Rachel meluruhkan tubuhnya hingga bersimpuh di depan Mahavir. "Ayahmu tidak bersalah dalam hal ini, dia hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Kesalahpahaman yang membuatnya seperti itu. Jangan membencinya. Jangan marah padanya."
"Jangan membahasnya, aku tak mau mendengar tentangnya untuk saat ini."
"Vir...."
"Please.... Aku belum bisa membahasnya untuk saat ini."
"Baiklah..."
"Sayang, aku masih ingin menyentuh anakku."
Segera Rachel bangkit berdiri kembali dan merapat ke kursi roda Mahavir. Mahavir kembali menempelkan telapak tangannya di sana. Menatap perut membuncit Rachel dengan mata basahnya.
"Ada apa?"
"Aku ingin mengecup mereka. Aku ingin memeluk perutmu. Tapi aku sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhku."
"Vir...." Rachel kembali mengusap-usap kepala Mahavir. "Aku dengar kamu menolak semua pengobatan yang akan dilakukan padamu. Kenapa, Vir?"
"Karena kau tak ada disisiku?"
"Hanya karena itu kau mau menyerah pada keadaanmu? Jadi, jika aku tak datang kemari kau juga tak akan datang padaku dan berusaha kembali mengejarku?"
Mahavir terdiam. Tangannya yang mengusap lembut perut Rachel langsung terhenti.
"Mana Mahavir yang arogan itu? Mana laki-laki yang tergila-gila padaku itu? Mengapa bisa jadi selemah ini?"
Mahavir terkekeh pelan, kembali tangannya bergerak mengusap perut Rachel. "Aku lemah tanpamu sayang. Duniaku hancur melihat kamu baik-baik saja tanpaku."
"Kamu hanya tidak mengetahui apa yang kualami tanpamu, Vir. Aku juga hancur tanpa kehadiranmu. Hanya saja aku cepat menyadari jika aku terus seperti itu, tak akan ada kemajuan. Jika aku hanya berdiam diri menunggu, mungkin saja aku tak akan pernah melihatmu lagi. Kau tahu, gambar diriku yang kau buat saat di kantorku dulu itu menjadi penyemangatku setiap harinya. Bila aku lelah, aku segera membuka dan melihatnya lagi. Membaca kata penyemangat yang kau tulis tangan dengan asal di kertas design ku."
"Oh, yah? Aku pikir kamu membuangnya."
Rachel kembali meluruhkan tubuhnya bersimpuh dan memeluk Mahavir. "Aku akan sangat menyesal bila membuangnya."
"Benarkah?"
Rachel melepaskan pelukannya dan mengecup singkat bibir Mahavir. "Vir, kamu mau kan berusaha sembuh untukku dan anak kita?"
"Tentu, tentu saja sayang. Apapun akan aku lakukan asal kau mendampingiku."
"Aku pasti mendampingimu, Vir. Tapi sebelum itu..." Rachel kembali bangkit berdiri. Memperbaiki selimut di tubuh Mahavir lalu melangkah ke arah jendela. "Jendelanya aku tutup, aku sudah hampir membeku sedari tadi."
"Sebenarnya aku juga sangat kedinginan." Ucap Mahavir setengah terkekeh.
Rachel memutar bola mata dan ikut tertawa. Melangkah kembali mendekati Mahavir dan membungkukkan badannya memeluk lelaki itu.
"Kau tak akan kubiarkan kedinginan lagi. Aku akan selalu ada untuk memelukmu." Ucapnya lalu kembali menciumi Mahavir.
***