Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 121. Kembali dijauhkan.


Sepulang dari Paris pada penerbangan pertama di pagi harinya, Rachel langsung pulang ke Penthouse. Tanpa beristirahat terlebih dahulu, ia langsung mengobrak-abrik ruang kerja Mahavir. Mencari berkas-berkas atau apapun itu yang berhubungan dengan Amerika. Percakapannya bersama Kimmy semalam membuka pikirannya untuk mencari keberadaan hotel-hotel milik suaminya itu di Amerika. Setidaknya ia bisa mencari tahu lewat itu.


Beberapa map-map yang tadinya tersusun rapi diruangan itu kini sebagiannya sudah berserakan dilantai. Rachel terus mencari seperti orang kesetanan yang berkejaran dengan waktu. Tangan jenjangnya terus bergerak membuka lembaran demi lembaran file-file dari laci meja kerja. Membuka semua buklet-buklet hotel yang berada di bawah naungan Group Alister.


"Toronto-Kanada. Zurich-Swiss. Paris-Prancis. Singapore. Macau-Hongkong." Rachel terus membaca satu persatu dengan seksama. Mengobrak-abrik dari laci satu ke laci lainnya. Sampai pada dua laci terbawah yang terkunci.


Pandangannya langsung mengedar, menelisik mencari keberadaan kunci laci tersebut. Hingga pandangannya terjatuh pada kunci kecil yang terletak di atas mangkuk kristal kecil di atas meja. Ia ingat melihat kunci tersebut saat memecahkan Vas dulu, saat dirinya mencari tahu identitas Mahavir.


Tanpa pikir panjang, tangannya meraih kunci tersebut lalu membuka dua laci terakhir dalam pencariannya.


Laci pertama yang dibukanya hanya ada box kecil berbahan besi berwarna gold dengan guratan mewah di sisinya. Rachel mengabaikan box tersebut dan meletakkannya ke atas meja lalu lanjut membuka laci satunya.


"Nah, ini dia." Tukasnya begitu mendapat buklet dengan logo kecil bendera Amerika di sampulnya. Berisikan informasi mengenai hotel-hotel yang berada di kota-kota yang ada di Amerika. Dengan cepat Rachel melemparkannya buklet lainnya ke lantai lalu membuka buklet yang cukup tebal itu di atas meja.


"New York, Los Angeles, Washington DC, Philadelphia, San Francisco,..." Kedua tangannya terangkat menekan-nekan pelipisnya. "Ya ampun Vir, kenapa hotel ayahmu banyak sekali?" Keluhnya namun tetap mengamati tanpa melewatkan informasi yang ada sedikitpun.


"Ya Tuhan, berilah aku petunjuk." Mendesah pelan sembari terus membuka lembaran demi lembaran yang seperti tak ada habisnya.


"Vir, diantara kota ini, kamu berada dimana? Kamu dirawat di rumah sakit mana?" Keluhnya lagi sambil mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya. Sama sekali tak menemukan petunjuk apapun. Otaknya seperti sudah lelah untuk berfikir lebih jauh lagi.


Diamatinya box besi di depannya sebentar, sebelum akhirnya membukanya perlahan. Alisnya refleks mengerut begitu melihat secarik kain berwarna pink. Jari lentiknya langsung gemetaran begitu mengangkat kain tipis persegi itu dari tempatnya.


"Astaga Vir,....." Umpatnya miris dan sedikit kesal namun matanya mulai berkaca-kaca.


"Ternyata kamu masih menyimpan ini...." Senyum getirnya terbit beriringan dengan setetes bulir bening yang terjatuh di sudut matanya.


Diusapnya lembut kain pink bermotif karakter princess tersebut lalu membawanya menempel ke dadanya. Memeluknya sambil terisak menggumankan nama lelaki itu.


"Kenapa? Kenapa aku baru melihat ini?"


Rachel merutuki dirinya yang baru melihat benda tersebut. Seandainya saja ia bisa melihat benda itu lebih awal, mungkin saja hatinya yang penuh ego dulu bisa melunak. Benda itu mampu mengingatkan dirinya akan masa indah dulu. Benda itu adalah satu-satunya saksi dimana ia pernah begitu peduli pada lelaki itu. Dimana ia dulunya pernah menyukai sosok Mahavir yang masih polos. Rachel semakin terisak pilu, menyesali segala sesuatunya yang muncul terlambat.


Ia kemudian ingat akan perkataan Risya dulu mengenai saputangan yang dilihatnya di ruangan Mahavir. Betapa bodohnya ia yang tidak peka dan mengabaikan itu semua. Tapi Rachel juga sadar seberapa besar pun ia merutuki dan menyesalinya saat ini, semua tak akan kembali seperti semula. Inilah kesalahannya. Inilah hukuman untuk dirinya. Penyesalan memang selalu datang di belakangan.


Dihempaskannya punggungnya bersandar pada sandaran kursi kerja. Memejamkan matanya dengan satu tangan yang jari-jarinya bergerak-gerak mengetuk-ngetuk permukaan meja, sementara satu tangan lainnya masih mengenggam saputangan tadi. Lama ia terdiam sampai akhirnya terlintas sesuatu di pikirannya.


"****!!!!" Umpatnya menepuk keningnya ketika baru saja menyadari kebodohannya. "Astaga kenapa aku tidak berfikir kesana? kenapa aku baru menyadarinya sekarang?"


Buru-buru Rachel meraih ponselnya dari dalam tasnya kemudian menghubungi nomor Rey. Mencoba menanyakan di rumah sakit mana ayah Mahavir pernah dirawat. Tapi nomor yang dihubunginya malah tersambung ke operator. Saat akan mengulangi panggilannya, netranya teralihkan pada nomor dengan kode wilayah asing yang mencoba menghubunginya berkali-kali sesaat sebelum ke Paris semalam.


Jarinya pun refleks menghubungi balik nomor tersebut. Suara wanita dengan bahasa Inggris yang sangat fasih mengangkatnya di ujung sana. Pupil mata Rachel seketika membesar atas keterkejutannya saat wanita itu menyebutkan nama lokasi tempatnya. Wanita itu hanya mengatakan kalau mungkin ada seorang pasien yang menggunakan telepon itu. Dengan binar bahagia, Rachel meraih asal kertas di hadapannya dan mencatat alamat lengkap yang diucapkan oleh perawat diujung sambungan itu. Rachel bisa menerka kalau mungkin Mahavir-lah yang sudah berusaha menghubunginya lewat nomor itu.


"535 East 70th Street, Manhattan. New York-Amerika." Ucapnya mengulang alamat rumah sakit itu begitu sambungan teleponnya terputus.


Vir, tunggu kami.....' gumannya antusias sembari mengelus lembut perutnya yang mulai membuncit.


****


Tuan James menghela napas berat mengamati hasil foto rontgen tulang belakang milik putranya. Akibat kecerobohan lelaki muda itu membuat kondisi cedera tulang belakangnya semakin memburuk. Luka pada saraf yang terletak di saluran (kanal) tulang belakangnya menyebabkan gangguan pada beberapa fungsi tubuhnya, hilangnya sensor motorik dan kendali gerak. Mengakibatkan kelumpuhan yang mungkin dapat terjadi pada kedua tungkai dan salah satu lengannya.


Ditekannya pelipisnya kuat-kuat seraya memandangi seksama hasil pemeriksaan dari dokter bedah ortopedi, gurat kecemasan tercetak jelas pada raut wajahnya. Dan semakin terlihat gusar saat kemudian Mr. Forrer menghampirinya dan berbisik sesuatu ditelinganya.


Tuan James mengusap kasar wajahnya setelah mendengar kabar bahwa Rachel sedang berada di pesawat menuju ke New York dan kemungkinan pesawat nya akan tiba sebentar lagi. Ia sama sekali tak menduga kalau menantunya itu bisa nekat menyusulnya.


"Ternyata kamu sudah mengetahui keberadaannya...!" Serunya seraya tersenyum sinis lalu menggerutukkan giginya. "Tapi takkan lagi kubiarkan kamu mendekati putraku sedikitpun! Akan kubuktikan perkataanku padamu, sampai menangis darah pun kamu tak akan melihat anakku lagi." Kecamnya seraya mencengkram kuat pangkal tongkatnya.


"Prepare a flight to canada!!!" Perintahnya tegas tak terbantahkan. Mr Forrer menatap atasannya itu sepersekian detik lamanya, tidak menyangka akan berbuat sekejam itu. Namun pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk dan menunduk hormat lalu segera menyiapkan apa yang diperintahkan.


***


Mahavir yang baru saja tersadar menatap geram orang-orang di sekelilingnya, kini ia kembali terikat di brankarnya dan tak bisa berbuat apapun. Penyanggah leher yang membebat lehernya juga membuat pergerakannya semakin sulit. Meronta pun ia sudah tak mampu karena merasakan nyeri yang teramat sangat menusuk di sepanjang tulang belakangnya.


Mahavir mendesah kesakitan seraya melirikkan matanya ke Hannah. "Apa yang terjadi denganku?" Tanyanya saat merasakan sebagian tubuhnya seakan mati rasa.


"Hannah, katakan ada apa denganku?" Ulangnya dengan suara yang serak, berusaha mengontrol emosinya.


"Ka-kamu baik-baik saja. Tenanglah, kamu akan baik-baik saja."


"Tidak! Aku tak baik-baik saja. Kenapa sebagian tubuhku tak bisa ku gerakkan?" Mahavir terpekik panik, mencoba sekuat tenaga menggerakkan anggota tubuhnya.


"Vir, tenanglah. Jangan memaksakan diri. Kamu hanya akan semakin memperburuk keadaanmu jika terus seperti ini." Bujuk Hannah mencoba menenangkannya.


"Tidak, aku tak boleh seperti ini. Aku harus menemuinya. Dia pasti sedang menungguku."


"Siapa yang menunggumu?" Sela Tuan James yang tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu. Dengan bantuan sebuah tongkat, ia melangkah tertatih-tatih masuk ke dalam ruangan itu.


Bola mata Mahavir bergerak-gerak melirik kedatangan ayahnya itu.


"Apa sampai sekarang kamu masih memikirkan wanita itu? Apa kamu belum sadar-sadar juga?"


Mahavir melototkan matanya tak terima dengan napas yang memburu. "Aku baru akan percaya kalau mendengar langsung dari mulutnya."


"Apa karena itu kamu mencoba kabur untuk menghubunginya? Lantas bagaimana hasilnya? Apa kamu berhasil bicara dengannya? Tidak bukan? Mungkin saja ia sudah mengganti nomornya, karena ia memang tak lagi mengharapkan dirimu."


Mahavir hanya memejamkan matanya, terlihat jelas kalau ia berusaha menulikan telinganya atas apa yang didengarnya.


Selang satu hembusan napas, Tuan James mengeluarkan ponselnya. "Baiklah kalau kamu memang mau mencari tahu sendiri. Kamu bisa menghubunginya saat ini. Tapi dengan syarat, kalau terbukti wanita itu tak lagi menghiraukanmu, kamu harus melupakannya dan mengikuti keinginanku."


Mahavir membuka matanya dan menatap tajam ayahnya. "Dia bukan wanita seperti itu. Dia pasti sedang menungguku."


"Baiklah, mari kita buktikan." Tuan James meletakkan ponselnya ke atas dada Mahavir. "Hannah, bantu laki-laki keras kepala ini menghubunginya."


Hannah refleks mengangkat kedua alisnya namun akhirnya meraih ponsel tersebut. "Berapa nomornya?" Tanyanya pada Mahavir. Setelah Mahavir mengeja sederetan angka yang dihafalnya diluar kepala, Hannah langsung menekan tombol panggil. Namun berkali-kali pun mencoba, panggilan tersebut hanya tersambung ke operator.


Diam-diam Tuan James menyunggingkan senyum tipis. "Bagaimana?"


"Mungkin saja ia sedang sibuk atau ada halangan lainnya." Ucap Mahavir skeptis. Ia sendiri sudah mulai merasa ragu.


"Baiklah, coba langsung hubungi kantornya. Ataupun orang terdekatnya."


Mahavir melirik Hannah lalu menyebutkan nomor kantor istrinya. Sambungan itu terhubung namun kekecewaan langsung menyergap hati Mahavir. Orang diujung sana mengatakan kalau Rachel sedang berada di Paris. Dan sialnya, karyawan Rachel itu yang memang tak tahu menahu tujuan Rachel ke Paris hanya menjawab asal kalau pimpinannya itu mengurus Fashion week disana. Tak ada seorang pun karyawan Rachel yang mengetahui kalau Rachel sudah kembali dari Paris dan dalam perjalanan ke Amerika.


"Dengar sendiri bukan?" Tanya Tuan James dengan tatapan mencemooh. "Dia lebih sibuk mengurusi karirnya dibanding memikirkan dirimu."


Mahavir kembali memejamkan matanya. Rasa panas menjalar di kedua matanya itu.


"Apalagi yang kamu harapkan? Apa kamu pikir wanita seperti dirinya akan mau mengurusi laki-laki sakit sepertimu?" Tanyanya lantang. "Jangan membodohi dirimu sendiri nak, kamu jelas tahu bagaimana watak istrimu itu!"


Mahavir tak merespon, ia terus membisu dengan mata terpejam. Hanya saja airmatanya terus terjatuh membasahi telinganya.


"Lupakan wanita itu nak dan lanjutkan kehidupanmu tanpanya!" Titah lelaki paruh baya itu dengan tegas. Ia kemudian menoleh dan memberikan isyarat pada sekretarisnya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu. Selang beberapa detik beberapa dokter masuk ke ruangan itu.


Mahavir menatap heran dokter-dokter itu yang langsung mengemasi semua peralatan medis di sekitarnya lalu mendorong brankarnya.


"Mau kemana? Ak-aku mau dibawa kemana?"


"Kita akan ke Kanada. Kata dokter yang menanganimu, rumah sakit ortopedi terbaik di dunia ada di kanada. Kamu akan menjalani perawatan terbaik di sana." Jelas lelaki paruh baya itu sembari ikut melangkah disisi brankar yang sudah didorong keluar kamar. Dalam diam Hannah mengikuti di sisi lainnya.


"Tidak, aku tak mau kemanapun!" Seru Mahavir mencoba berteriak namun suaranya seperti teredam. "Aku bilang aku tak mau kemanapun!!" Ulangnya.


Ayahnya menghembuskan napas kesal mendengarnya dan terus mengabaikannya. Namun teriakan Mahavir semakin menjadi-jadi, membuat Tuan James akhirnya meminta dokter untuk memberikan suntikan obat tidur padanya.


Tepat saat masuk ke dalam lift khusus, Mahavir seperti melihat bayangan Rachel yang baru keluar dari lift di seberangnya. Mahavir mencoba meneriakkan nama Rachel namun suaranya semakin tenggelam bersama kesadarannya yang mulai menipis. Dilihatnya wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa dan semakin menjauh dari pandangannya. Mata sendu Mahavir mengerjap berkali-kali mencoba mempertahankan kesadaran. Tapi akhirnya jatuh terlelap bersamaan dengan menutupnya lift tersebut yang membawanya naik ke lantai teratas tempat helipad berada.


***