Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 109.Me too...


"So, will you marry me?"


Raya terkesiap. Bola matanya membesar dan tak berkedip sedikitpun selama beberapa detik. Diikuti kedua alis yang terangkat sempurna.


"Gila kamu!" Pekiknya sembari menarik tangannya dari genggaman Rey, lalu menepis jauh-jauh tangan Rey itu. "Sudah malam, aku harus pulang."


Raya berbalik, kembali ingin keluar dari mobil. Tapi lagi-lagi Rey menahannya. Menarik lengannya dan mengunci pergerakan gadis yang kini menatapnya tajam.


Rey menaikkan sebelah alisnya dengan menahan senyumnya. "Aku tak tahu kalau ternyata kamu tak mengerti bahasa Inggris."


"Hah?" kedua mata Raya seketika melotot. "Apa maksudmu?"


"Baiklah mungkin kamu tidak mengerti English language, aku ulang agar lebih jelas. Tolong dengar baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali dan tak akan pernah mengulanginya lagi."


Rey mengurai senyumnya, melepaskan cekalan tangannya. Mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius dengan sorot mata yang seakan ingin menembus sepasang mata yang masih menatapnya dengan tatapan tak percaya. Bunga mawar masih di arahkannya ke depan Raya.


Rey menarik nafas dalam-dalam, berdehem sekali lalu membuka mulut dan berucap,


"Diraya Sabilah, gadis cantik yang telah mencuri hatiku sejak aku baru mencari tahu apa arti cinta. Gadis yang menyiramku dengan air minumnya saat pertama kali mengutarakan cinta padanya. Gadis yang selalu menghindariku, bersikap dingin dan ketus padaku sejak dulu. Gadis yang pernah menjadikanku kekasihnya selama tiga hari kemudian menghilang selama bertahun-tahun. Gadis yang selalu sukses mempermainkan perasaanku. Gadis yang tak tahu dirinya selalu menempati semua ruang hati dan pikiranku. Gadis yang membuatku menjadi laki-laki bodoh yang hanya menunggunya selama sepuluh tahun."


"Diraya Sabilah, bersediakah engkau menerima semua cinta dan kasih sayangku? Melengkapi sebagian diriku yang kosong? Menjadi pelengkap hidupku menjalani hari-hari ke depan? Menjadikanku laki-laki yang sempurna? Menjadi ladang untuk benih-benih yang akan ku semai dalam dirimu? Membentuk keluarga kecil bersama? Dan menua hingga akhir hayatmu bersamaku?"


"Diraya Sabilah.... Bersediakah engkau menikah denganku yang masih banyak kekurangan ini?"


Bersamaan kalimat akhirnya, Rey semakin menyodorkan mawar merahnya dan kembali meraih tangan Raya yang kini malah tertegun tak mampu berkata-kata.


Kedua mata Raya nampak berkaca-kaca, terharu akan perkataan Rey serta lamaran yang tiba-tiba padanya. Tenggorokannya lagi-lagi tercekat. Jantungnya yang kini berdebar gila-gilaan membuatnya tak tahu harus merespon seperti apa.


Di majukannya tubuh Rey hingga wajahnya lebih dekat dengan wajah wanita didepannya itu. Dilepaskannya bunga mawar yang sedari tadi dipegangnya hingga terjatuh begitu saja, kemudian tangannya itu terangkat mengusap pipi halus Raya dan perlahan menyusup ke tengkuk Raya. Menarik kepala wanita itu mendekat ke padanya.


"Kalau kamu sulit untuk menjawabnya, maka izinkan aku untuk mencari tahu sendiri jawabannya." Ucap Rey setengah berbisik tepat di depan bibir Raya.


Di akhir kalimatnya, Rey langsung mendaratkan kembali kecupannya. Membasahi bibir ranum itu dan menyesapinya dengan perlahan. Menggigit-gigit kecil menunggu respon dari Raya. Ketika akhirnya Raya membalas ciuman itu, Rey membuat ciumannya semakin dalam dan panas. Melesatkan ujung lidahnya mengekspor keseluruhan mulut Raya hingga nafas keduanya tersengal-sengal.


Raya segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya begitu pagutannya terlepas. Wajahnya begitu memerah dan merona malu.


Rey tersenyum puas. Mengecup lembut kening Raya lalu kembali ke posisinya dan meraih ponselnya, menghubungi kembali nomor yang tadi di telfonnya beberapa menit yang lalu.


"Bagaimana kak?"


"...."


"Di hotel mana?"


"...."


"Tolong tahan dulu, aku akan kesana secepatnya."


"...."


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Rey menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian melajukannya dengan cepat.


Raya lagi-lagi di buat terkejut. "Ki.. Kita mau kemana? Sudah malam, aku mau pulang."


Rey menoleh. Meraih tangan Raya, menggenggam dan mengecup punggung tangannya.


"Rey, kita mau kemana?" Ulangnya.


"Melamarmu."


"Are you crazy?"


"Ya, saat ini aku betul-betul gila, Ra. Kamu membuatku gila. Aku tak bisa menunggu lagi terlalu lama."


"Tapi aku kan belum menjawabmu. Kenapa kamu begitu yakin kalau aku mau menikah denganmu?"


"Ciuman. Ciumanmu telah menjawabnya."


Raya tersentak malu. Menunduk dan terdiam beberapa detik.


"Ta... Tapi... Tapi kan tidak harus buru-buru seperti ini juga. Malam ini juga. Pernikahan bukan main-main."


"Karena itulah, aku juga tak mau bermain-main."


"Rey!!"


"Aku bukan laki-laki seperti di luar sana, Ra. Aku sudah menciummu dengan panas, tanpa izin dari orang tuamu. Aku harus mempertanggung jawabkannya di depan Ayahmu."


"Astaga Rey. Gila kamu!"


"Aku harus mengikatmu saat ini juga. Di depan orang yang bertanggung jawab penuh atas dirimu. Aku betul-betul tak mau kamu berubah pikiran lagi, tak mau kamu menghilang lagi seperti dulu."


"Aku janji, aku tak akan berubah pikiran. Aku tak akan menghilang lagi. Jadi hentikan kegilaanmu ini."


"Tenanglah. Aku hanya akan melamarmu. Bukan menikahimu malam ini juga."


"Tapi kalau sikapmu seperti ini, papa ku akan curiga. Dia bisa menuduh kita macam-macam. Bisa-bisa kita langsung di nikahkan."


"Ya, malah bagus dong." Ucap Rey santai dan semakin mempercepat laju kendaraannya.


Raya menghela nafas frustasi, menghempaskan punggungnya bersandar pada jok mobil dan terdiam hingga mobil sampai di pelataran hotel Calister.


Rey bergegas turun, dengan langkah panjangnya ia ke sisi sebelah, membukakan pintu buat Raya dan mengulurkan tangannya. Raya kembali terkesiap, baru kali ini ada laki-laki yang bersikap seperti itu padanya.


Begitu Raya turun dari mobil, Rey langsung melempar kunci mobilnya pada petugas Valet yang sejak tadi menunduk memberi hormat padanya.


Di genggamnya tangan Raya erat-erat dan membawanya langsung ke lounge hotel Calister.


Rey menarik nafas dalam-dalam guna meminimalisir kegugupannya saat netranya menangkap sosok dokter paruh baya berwajah Arab yang nampak masih gagah dengan tubuh tegap dan proporsional, sedang bercakap-cakap dengan kakaknya yang bertubuh sedikit tambun.


"Maaf membuat Anda menunggu, Paman." Ucap Rey sedikit menunduk dan menjabat tangan calon mertuanya.


Dokter Manaf tersenyum tipis, menerima jabatan tangan Rey. "Tak apa, kebetulan saya juga sedang berbincang-bincang dengan dokter Reinhard." Ucapnya, namun sorot matanya mengarah pada genggaman tangan pemuda itu yang saling terpaut erat dengan tangan putrinya.


Begitupun dengan pandangan dokter Reinhard yang masih tak percaya pada apa yang matanya lihat. Karena setahunya, gadis itu sangat membenci adiknya. Hingga membuat adiknya bertepuk sebelah tangan selama bertahun-tahun.


Raya hanya menyengir canggung, bersembunyi di balik punggung Rey. Tak tahu harus bersikap bagaimana dengan dua pasang mata yang memandanginya dengan intens.


"Bisa ikut ke ruangan saya paman? Saya ingin berbicara serius dengan paman."


Dokter Manaf spontan mengangguk. "Bisa, bisa."


Rey kembali menunduk hormat lalu menuntun mereka memasuki lift guna menuju ruangannya. Sepanjang menyusuri koridor hotel, Raya tak henti-hentinya berusaha melepaskan genggaman tangan Rey, namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga laki-laki itu.


Seorang staff segera membukakan pintu ruangan General Manager begitu melihat sosok Rey. Rey mempersilahkan calon mertua beserta kakak tertuanya duduk di sofa tamu, dan ia pun ikut duduk bersama Raya di sofa lainnya. Masih dengan menggenggam erat tangan Raya.


Rey kembali menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka pembicaraan.


"Maaf, bila saya terkesan terburu-buru seperti ini, dan pada malam yang sudah larut ini." Rey menjeda ucapannya dengan menelan ludahnya sekali, kemudian lanjut berucap. "Mungkin kakak saya, dokter Reinhard telah menyampaikannya pada anda sebelumnya. Dan untuk itulah saya berhadapan dengan anda saat ini."


Dokter Manaf manggut-manggut. "Yah, secara garis besarnya dokter Reinhard sudah menyampaikannya pada saya." Ucapnya memandangi Rey dan putrinya secara bergantian.


"Maaf paman kalau saya sedikit lancang."


"Tak apa, saya suka dengan laki-laki gentle sepertimu."


"Terima kasih, paman." Rey kembali menunduk hormat. "Karena itu, saya dengan segala kekurangan saya berniat mempersunting putri anda. Mohon kiranya paman merestui kami dan mengizinkan saya untuk menjadikannya halal buat saya."


Dokter Manaf berdehem sebelum akhirnya kembali bersuara. "Jujur saya sangat terkejut. Sama sekali tidak menyangka. Tapi dibalik itu saya juga senang kalau ternyata orang yang akan menjadi menantu saya berasal dari keluarga yang begitu sangat saya kenal. Saya sih sudah curiga waktu bertemu kalian di rumah sakit tempo hari." Ucapnya sedikit terkekeh.


"Kalau dari saya tidak ada masalah, begitupun dengan mama Raya. Terserah dari Raya saja. Dia yang akan menjalani ke depannya." Ungkapnya sembari melempar pandang pada putrinya. "Bagaimana, Ra? Apa Kamu menerimanya?"


Raya yang sedari tadi hanya menunduk entah sedang memikirkan apa, tersentak. Lalu perlahan mengangkat wajahnya. Memandangi papa-nya, lalu dokter Reinhard, Kemudian Rey yang duduk di sampingnya.


Rey tersenyum, mengangguk pelan sebagai isyarat pada Raya dan menyatukan tangannya ke atas tangan Raya yang berada dalam genggaman tangan satunya. Mengusap pelan tangan yang begitu terasa dingin.


"Ra?" Panggil Rey dengan lirih, karena Raya hanya membisu.


Dengan pelan Raya akhirnya mengangguk. "I.. Iya Pa. Raya menerimanya." Ucapnya malu-malu.


"Apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu? Yakin dengan pilihanmu?"


Raya menoleh, menatap Rey yang tengah memandanginya sambil tersenyum manis. Tatapan teduh Rey lagi-lagi membuatnya berdebar-debar. Raya akhirnya mengulas senyum tulusnya dan mengangguk mantap. "Iya, pa. Raya yakin." Ucapnya yang membuat hati Rey seakan ditumbuhi ratusan bunga-bunga. Saking gembiranya tanpa sadar Rey menarik Raya ke dalam pelukannya.


"Terima kasih, Ra. Terima kasih sayang."


"Eh.. Eh... Kalian belum sah." Ucap dokter Manaf menegur keduanya. Membuat Raya dan Rey refleks melepaskan pelukan masing-masing.


"Waduh. Kalau begini harus cepat-cepat nih, Dok. Takutnya mereka kelepasan." Ujar dokter Reinhard geleng-geleng kepala dengan satu tangan yang menepuk keningnya.


"Ma.. Maaf paman. Saya.. Saya terlampau senang." Rey menyengir malu dan mengusap asal tengkuknya.


"Lalu, kapan rencana kalian?" Tanya dokter Manaf kemudian, kembali serius. "Kapan kamu ingin menikahi putri saya."


"Secepatnya paman. Kalau bisa sekarang, sekarang pun saya siap."


Kedua alis dokter Manaf terangkat sempurna. "Wah.. Wah.. Adik anda ini ternyata sudah kebelet nikah ternyata." Ucapnya menepuk pelan paha dokter Reinhard.


"Entahlah, dok. Saya juga tak tahu dia bisa segila ini. Sepertinya saya harus memeriksa DNA nya. Mungkin dia tertukar saat baru lahir dulu." Kelakar dokter Reinhard.


"Ma.. Maaf." Ucap Rey dengan kikuk. Lalu bangkit berdiri, melangkah menuju meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci. Membawa benda berbentuk kotak persegi berbalut kain beludru berwarna biru beserta sebuah map bersamanya, kemudian duduk kembali ketempat semula.


"Saya sunguh-sungguh serius dengan ucapan saya tadi. Saya siap kapanpun itu. Bahkan detik inipun saya sudah siap. Sudah sepuluh tahun saya menyukai putri anda. Sudah lama saya menantikan saat-saat ini. Jadi begitu mengetahui kalau Raya juga menyukai saya, saya tak lagi ingin membuang-buang waktu. Saya ingin menjalin hubungan serius bersamanya."


Rey kemudian membuka kotak yang dibawanya. Nampak dua buah cincin silver gradasi gold. Satu cincin dengan model polos dan satunya lagi dengan sebuah berlian di tengahnya.


"Saya sudah lama menyiapkan cincin ini. Sejak saat kami masih kuliah dulu. Dimana Raya saat itu akhirnya mau menjadi pacar saya. Tapi sehari setelah saya membeli cincin ini, Raya tiba-tiba menghilang dan pindah kampus."


Mendengar itu Raya terkejut bukan main. Tanpa disadarinya, airmatanya menitik membasahi pipinya. Merasa bersalah dan menyesal atas sikapnya dulu.


Rey menoleh. Tersenyum dan menyeka airmata Raya. "Tak apa. Itu sudah lewat." Ucapnya menenangkan Raya. Seakan mengerti akan isi hati wanita itu.


Kembali pandangan Rey menghadap ke depan. Berfokus pada sebuah map kulit berwarna Marun. Sebuah map yang terlihat begitu penting. Rey membuka lembaran map itu dan meletakkan di atas meja tepat dihadapan dokter Manaf.


"Ini adalah saham saya di hotel ini. Tapi saya sudah menggantinya atas nama Raya. Yang Ini adalah sertifikat rumah yang sudah lama saya beli untuk masa depan saya. Ini akan menjadi Mahar saya buatnya." Jelasnya sembari membuka isi map itu.


"Dan ini..." Rey meraih empat buah buku rekening yang terselip di sampul map kulit tersebut, lalu membukanya. "Ini semua adalah hasil kerja saya selama ini. Selain bekerja disini, saya juga punya beberapa saham pada hotel-hotel milik sahabat saya, Mahavir. Bukannya ingin menyombongkan diri, tapi saya siap menanggung semua persiapan pernikahan semewah apapun yang Raya inginkan. Saya tak mau sesumbar dan berjanji yang macam-macam. Tapi, terlepas dari apa yang saya perlihatkan ini, ke depannya saya akan berusaha membahagiakan putri anda. Jadi bila di izinkan, saya ingin segera menikahinya secepat mungkin."


Baik dokter Manaf maupun dokter Reinhard diam tak berkutik. Keduanya begitu takjub akan semua hal yang sudah disiapkan oleh laki-laki berusia 28 tahun di depan mereka itu. Raya sendiri bahkan terlihat syok dengan wajahnya yang mendadak pias.


Dokter Reinhard bahkan terperangah mengetahui nominal jumlah tabungan adiknya itu. Jumlah fantastis yang bahkan sanggup membangun hotel mewah di tengah kota. Pantas saja selama ini adiknya itu ngotot untuk menanggung semua biaya adik perempuan bungsunya sendiri, dan meminta agar kakak-kakak laki-laki lainnya untuk fokus saja pada keluarga masing-masing.


"Gila, Rey...!! Betul-betul gila kamu. Ternyata kekayaanmu sebanyak ini? Gila!!" Dokter Reinhard terus berdecak dan menggelengkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Rey tersenyum bangga. Semua gajinya, pendapatan dari saham-saham yang dimilikinya serta bonus-bonus yang Mahavir berikan padanya selama bertahun-tahun ia tabung dengan baik. Memilih hidup sederhana dengan sedikit mengemis pada sahabat kaya raya-nya yang merupakan pewaris kerajaan bisnis keluarga Alister. Yah, di akhir kalimatnya ini Rey sedikit menyengir malu. Namun walau begitu, di lubuk hatinya yang terdalam ia sangat berterima kasih pada Mahavir. Tanpa sahabatnya itu, dia bukanlah siapa-siapa.


"Rey...." Lirih Raya memanggilnya. Membuyarkan lamunan sesaat Rey.


Rey menoleh dan langsung mendapat pelukan hangat dari Raya.


Melihat itu dokter Manaf menggaruk pelipisnya. Entah mengapa justru dia yang salah tingkah disini. Calon menantunya ternyata begitu menyayangi putrinya hingga mempersiapkan semua ini jauh-jauh hari. Bahkan ketika putrinya belum memberi hati padanya. Kalau sudah seperti ini, dia mau berkata apa lagi?


Setelah menimbang-nimbang dan memikirkannya masak-masak, dokter Manaf menarik nafas dalam-dalam dan kembali berucap.


"Baiklah dokter Reinhard, besok bawalah keluarga besar anda ke rumah saya. Kita adakan pernikahan mereka."


"Be.. Besok?" Raya spontan melepaskan pelukannya pada Rey, dan melihat heran pada papanya.


"Kenapa? Mau malam ini juga? Kalau malam ini sepertinya tidak mungkin. Mama-mu saja mungkin sudah tidur di rumah."


"Ihh... Papa! Bukan itu maksud Raya."


"Sesuatu yang baik, tidak baik di tunda-tunda. Sudahlah. Toh kalian memang ingin menikah kan? Daripada kelepasan berbuat dosa? Di depan papamu saja kamu sudah berani berpelukan. Bagaimana kalau kami tidak ada?"


"Tapi persiapannya? Bukankah banyak persiapan yang harus dilakukan, Pa?"


"Saya akan menyiapkan semua persiapannya, malam ini juga saya akan meminta orang-orang saya menyiapkannya." Ujar Rey bersemangat. "Pernikahan Rachel dan Mahavir dulu pun saya yang membantu mempersiapkannya secepat kilat. Apalagi kalau pernikahan saya sendiri."


"Bagus, saya suka laki-laki sepertimu." Ucap dokter Manaf tertawa renyah.


"Ta...tapi, apa kata orang-orang nanti? Dipikirnya Raya lagi ada apa-apanya nanti."


"Sejak kapan kamu pikirkan perkataan orang-orang? Memangnya menunda pernikahan membuat mereka bahagia? Yang ada kamu yang dapat dosanya. Sudahlah, calon sudah ada, cincin sudah ada, mahar sudah ada. Saksi juga sudah siap. Apalagi? Hanya itukan yang dibutuhkan untuk menikah? Kalau masalah resepsinya minggu depan saja, biar papa sama mama yang siapkan."


"Tapi paman..."


"Papa, panggil papa." Ucap dokter Manaf meralat panggilan Rey. "Biarpun nak Rey sudah bersiap menanggungnya, tapi kami sebagai orang tua Raya tidak mungkin lepas tangan seperti itu. Jadi biarkan kami yang melakukannya. Dan simpan saja tabunganmu itu untuk masa depan kalian."


"Baiklah, semuanya sudah clear kan? karena sudah larut malam, sepertinya saya harus pulang. Kasian mama Raya sendirian di rumah." Ucapnya lalu bangkit berdiri. "Ra, kamu ikut pulang kan?"


"I.. iya pa." ujar Raya ikut bangkit berdiri. Tapi tangannya masih digenggam oleh Rey.


"Hei, kalian belum sah jadi belum bisa berduaan, apalagi menginap di hotel. Sabarlah anak muda, besok kalian akan halal." ujar dokter Manaf melihat Rey yang tak ikhlas melepaskan putrinya.


"Dasar anak ini, bikin malu saja." Dokter Reinhard memisahkan tangan Rey lalu ikut bangkit berdiri. "Saya juga harus pulang."


Rey akhirnya ikut berdiri, menyusul mereka dan membukakan pintu.


Dokter Manaf menoleh, mengamati raut wajah calon menantunya yang sepertinya masih ingin bicara sesuatu pada putrinya.


"Ra, Papa tunggu di parkiran." ucap dokter Manaf lalu mengajak dokter Reinhard meninggalkan mereka berdua.


Dengan cepat Rey menarik Raya masuk kedalam ruangannya kembali lalu menutup pintu rapat-rapat.


"Puas kamu sekarang?"


Rey tersenyum, mengangguk dan langsung menciumi Raya. Menciuminya dengan begitu dalam. Setelah bersabar selama sepuluh tahun ia akhirnya dapat memiliki pujaan hatinya itu.


"I love you Raya, Really-really love you..." ucapnya begitu pagutannya terlepas.


Raya tersenyum malu. Semburat merah menghiasi wajahnya.


"Me too..." balasnya, lalu melepaskan diri dari Rey dan langsung berlari keluar menyusul papa-nya. Meninggalkan Rey yang hampir meledak saking bahagianya.


***


Finally yah?... 🤭


Mungkin Up-nya selalu lama, tapi sekali Up othor kasih banyak. ini 2600 kata yah. jadi bisa dibilang dua bab yang di satukan.


Terima kasih masih setia disini😉


salam sayang selalu... 🤗🥰