
Sebelum baca, please beri like, komen dan vote nya 🙏🥰🤗 Happy Reading All...
* * *
Rachel mendorong pelan wajah Mahavir menjauh, kemudian menatapnya sambil menggeleng pelan. "Tak ada siaran ulang..." Ucapnya dengan menahan senyum.
"Baiklah... Akan kubuat kamu mengucapkannya berulang kali sepanjang malam ini...." Dengan senyum jahil yang terkembang, Mahavir langsung mencengkram kedua bahu Rachel dan menghempaskannya ke atas kasur diikuti dengan tubuhnya yang dengan cepatnya kini sudah menyergap Rachel di bawah kungkungannya.
"AWWW...." Teriak Rachel yang terkejut dicengkram kuat oleh Mahavir. "SAKIT TAHU!" Teriaknya lagi, membuat Mahavir melepaskan cengkramannya.
Rachel berusaha bangun, namun kembali di dorong oleh Mahavir. Handuk yang melilit menutupi sebagian kepala Rachel terlepas dan memperlihatkan rambut hitam kecoklatannya yang masih sedikit basah dan menguarkan aroma wangi shampoo yang menggelitik indra penciuman Mahavir.
"Katakan...." Pinta Mahavir menatap dengan intens perempuan yang terbaring dibawah tubuhnya.
"Kalau aku tak mau mengatakannya..?"
"Akan aku....." Mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel, memandangi keseluruhan tubuh istrinya dan berhenti pada bibir ranum yang sedang tersenyum sinis itu.
"Akan apa?" Menantang dengan menaikkan satu alisnya. Dia tahu kalau Mahavir akan menjahilinya lagi, terlihat dari senyum khasnya yang ada pada wajahnya saat ini.
"Kamu kira aku tak berani?"
"Dan kamu kira aku takut??" Kembali menantang. Kedua matanya tajam menembus manik mata Mahavir. Aku tak mau dijahili lagi seperti kemarin. Batin Rachel mengguman, diikuti oleh gerakan jarinya yang kini menggelitik perut Mahavir.
Mahavir menggeliat geli dan langsung terjatuh ke sisi kanan Rachel, "AWW..AWW...AMPUN SAYANG... AMPUN..." Mencoba menahan rasa gelinya tapi tawanya lolos terdengar menggema di ruangan kamar dan mungkin menembus ke kamar Bryan.
"Tak ada ampun, ampun, aku sudah tidak mau kamu jahili lagi terus menerus." Penuh semangat terus menggelitik Mahavir dan tertawa dengan puasnya.
Tawa mereka terdengar sangat menggema dan membahana di lantai dua Penthouse mewah itu, hingga membuat sang pengisi kamar di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkannya.
Mahavir yang sudah tak bisa menahan geli langsung bangkit dan memegangi kedua tangan Rachel dengan kuat. "Sekarang giliranku." Tertawa kecil disusul dengan satu tangannya membalas menggelitik perut Rachel.
"AWW..GELI VIRR...GELI.." Teriaknya, Suara tawa Rachel terdengar melengking-lengking memenuhi ruangan itu. diiringi tubuhnya yang menggeliat geli di atas kasur. "Sudah, sudah...aku nyerah...sudah...peace..."
"Kalau mau aku berhenti, katakan dulu yang kamu ucapkan tadi..." Masih menggelitik sepenuh hati.
"Iya, tapi lepas dulu..." Pinta Rachel yang sudah kehabisan nafas karena tertawa kegelian.
"Janji?" Berhenti menggelitik dan menarik tangannya. Kini ia setengah terduduk dengan posisi meyamping di samping Rachel dan memandanginya.
"Iya..." berbaring terlentang menormalkan pernafasannya. Dadanya terlihat naik turun seiring dengan hembusan nafasnya. Gaun tidurnya tersingkap ke atas memperlihatkan paha putihnya yang mulus. Membuat Mahavir menelan Saliva nya kuat-kuat.
Setelah nafasnya normal Rachel bangkit dan ikut duduk di samping Mahavir. Kedua tangannya terangkat, meraih dan memegang pipi Mahavir. Menatap lekat-lekat iris mata berwarna hazel di hadapannya.
"Sepertinya.....aku sudah mulai jatuh hati padamu...." Suara lembut dan pelan terdengar diiringi kecupan hangat ke bibir Mahavir.
Mahavir terkesiap, di raihnya kedua tangan Rachel dan di genggamnya. "Katakan sekali lagi......."
"Sepertinya aku jatuh hati padamu..."
"Ulangi...." Merasa tidak puas dengan kosakata Rachel.
Rachel menghela nafas pelan. "Sepertinya aku menyukaimu..."
"Katakan kalau kamu mencintaiku..."
DEG....Rachel terdiam, tertunduk dengan menggigit bibir bawahnya.
"Say that you love me.........." Pintanya sekali lagi.
"Aku......" Semakin menggigit-gigit bibir bawahnya, merasa terjebak dengan perkataannya sendiri.
Mahavir menarik dagu Rachel lalu mengecup bibirnya. Menatap kedua matanya dalam-dalam, berusaha meruntuhkan dinding hatinya. "Say that you love me.........."
"Aku.... Aku...men..cintai...mu..." Ucapnya dengan rona malu di kedua pipinya.
"Kurang jelas..."
"Aku men.....Cintaimu....."
"Sekali lagi...."
"Aku mencintaimu."
"Lagi..." Pintanya dengan suara serak penuh hasrat.
"Aku mencin.......mmmppp...." Ucapan Rachel terhenti karena mulut Mahavir langsung membungkam mulutnya. Tanpa menjeda, Mahavir langsung membaringkan tubuh Rachel dengan perlahan. Ujung lidah Mahavir kini mendesak masuk menulusuri dan menjelajah rongga mulutnya dengan penuh kelembutan. Berlama-lama disana merengkuh rasa manisnya.
Dengan nafas terengah Rachel meremas erat kemeja Mahavir yang belum sempat di bukanya tadi. Tak ada perlawanan darinya, karena sejatinya dia juga menikmati kegiatan itu.
Mendengar nafas memburu Rachel, Mahavir menghentikan ciumannya sejenak. Memberikan kesempatan istrinya itu untuk beristirahat dan menghirup oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya. Kedua mata mereka bertemu dan saling pandang untuk beberapa saat. Hingga kemudian Mahavir mengangkat tubuhnya, membuka kancing kemejanya satu persatu tanpa melepaskan pandangan matanya pada Rachel. Mahavir pun melepaskan kemejanya dan melemparkannya ke sembarang arah lalu kembali menghujani Rachel dengan ciuman yang menuntut.
Tanpa sadar kedua tangan Rachel terulur dan melingkar ke leher Mahavir. Membuat Mahavir semakin memperdalam ciumannya. Dari bibir berpindah menelusuri leher, bahu dan dadanya. Membuat beberapa tanda berwarna merah kebiruan di sana. Rachel yang sempat terbuai dalam permainan Mahavir langsung tersadar begitu tangan Mahavir sudah menurunkan gaun tidurnya dan merambat kemana-mana.
"Vir...." Dengan suara sedikit melenguh menahan desahannya.
"Rileks sayang..." Ucap Mahavir yang sudah tak bisa menahan hasratnya. Tangannya sudah bergerak menyusup masuk di balik gaun tidur Rachel.
"Aku... Aku takut." Lirih Rachel pelan tapi bisa didengar jelas oleh Mahavir. Tubuhnya begitu bergetar karena gemetaran. Butiran-butiran keringat dingin kini sudah memenuhi kening dan pelipisnya. Wajahnya sudah pias dan tak ada darah terlihat di bibirnya. Trauma masa lalunya seketika muncul dan menampilkan wajah Dirman.
Melihat itu, Mahavir segera memeluknya erat. "Jangan takut sayang. Aku tak akan menyakitimu."
"Aku... aku belum siap..."
"Please... Aku sudah tidak bisa menahannya lagi...." Menenggelamkan wajahnya pada dada Rachel, membuat Rachel menggeliat hebat.
"Tapi....Virrr......"
Kembali Mahavir mendaratkan ciumannya, membungkam mulut Rachel yang hendak berbicara kembali dan membuatnya terbuai hingga melupakan rasa takutnya. Rachel pun akhirnya pasrah, dia memejamkan kedua matanya mencoba menerima dan menikmati segala kehangatan yang diberikan suaminya. Dirasakannya udara dingin yang sudah menyapu seluruh permukaan kulitnya. Menandakan tubuhnya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun. Bibir Mahavir masih saja mengeksplor keseluruhan tubuhnya yang kini sudah menggelinjang dan bergetar hebat.
Hingga beberapa detik kemudian Rachel merasakan tak ada pergerakan lagi dari Mahavir. Pelan-pelan Rachel membuka matanya dan terkejut melihat Mahavir terduduk dengan ekspresi seperti menahan rasa sakit. Dengan cepat Rachel menyambar selimut dan menutupi tubuh polosnya.
"Virr... Kamu kenapa?"
"Sepertinya kakiku kram..." Meringis menahan sakit.
Rachel memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya dengan cepat, lalu menghampiri Mahavir dengan berjongkok di samping tempat tidur dan memegangi kedua kaki Mahavir. "Sakit sekali?"
Mahavir mengangguk pelan.
"Kenapa tiba-tiba sakit?" Mengernyit heran.
"Mungkin karena bersepeda seharian tadi membuat otot kakiku kram...." Kembali meringis.
"Mau kupanggilkan dokter?"
"Tidak perlu." Berusaha tersenyum. Tangannya membelai lembut pucuk kepala Rachel. "Maaf, nanti kita lanjut lagi ya....."
Rachel merona malu, wajahnya terasa panas. Saat ini dia tak tahu harus bersikap bagaimana, apakah harus merasa senang atau kecewa.
Dipandanginya suaminya yang masih meringis kesakitan itu, penampilannya terlihat kacau dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana bahannya. Raut wajahnya terlihat aneh, antara menahan rasa sakit dan menahan kekecewaan karena aksinya gagal. Yang entah mengapa membuat Rachel ingin tertawa.
Rachel menggeleng tersenyum menahan tawa.
"Itu kamu tertawa." Mendengus kesal. "jahat yah kamu...!"
Rachel kembali menggeleng tapi tangannya terangkat membekap mulutnya agar tawanya tidak pecah.
"Awas, kalau kakiku sudah tidak sakit, akan kubuat kamu tidak bisa berdiri."
Mata Rachel membulat, dan langsung memijat kaki Mahavir dengan kuat. "Masih mau mengancam?"
"AWW.. SAKIT..." Teriak Mahavir, kemudian kembali meringis kesakitan. Terlihat cairan bening di sudut matanya yang menandakan dia benar-benar kesakitan.
"Ah, maaf...maaf...." Rachel menggaruk pelipisnya, tak tahu harus bagaimana. "Panggil dokter saja yah?"
Mahavir menggeleng pelan.
"Terus bagaimana? Apa sebelumnya pernah seperti ini?"
Kembali Mahavir menggeleng pelan. Membuat Rachel semakin bingung.
"Tunggu aku panggil Bryan dulu..." Dengan cepat langsung menghambur keluar kamar menuju kamar Bryan tanpa mempedulikan Mahavir yang berteriak memanggilnya.
Tok... Tok... Tok...
Rachel mengetuk pintu kamar Bryan, setelah ketukan ketiga daun pintu pun terbuka.
Bryan membuka pintu dengan malas, tapi sepersekian detik kemudian membelalak dan langsung memalingkan wajahnya. "Ada apa?"
"Itu....Mahavir kesakitan, aku tak tahu harus bagaimana."
"Tunggu....!!" Berbalik dan masuk kembali mengambil sesuatu di dalam kamarnya, lalu kembali keluar dan melemparkan jaketnya pada Rachel tanpa memandang ke arah kakaknya itu. Kemudian langsung berjalan ke kamar Mahavir.
Rachel menangkap jaket Bryan dengan tatapan bingung dan menyusul dibelakangnya. "Ini jaketmu buat apa?"
Bryan berhenti melangkah dan menghela nafas. "Buat kakak pakai, apa belum sadar juga?" Tanyanya tanpa berbalik melihat Rachel, kemudian kembali melangkah.
Rachel mencerna perkataan Bryan kemudian tersadar dan melihat penampilannya. Astaga, dia lupa memakai Bra nya hingga dadanya terlihat jelas dibalik gaun tidurnya yang tipis, ditambah bekas kissmark di sekitar leher dan sekujur tubuhnya. Ahh.. Rasanya Rachel ingin teriak sekencang-kencangnya dan membenamkan dirinya kembali ke dalam lautan.
Dengan menahan rasa malunya, Rachel memakai jaket hoodie Bryan dan menyusul masuk ke kamarnya.
"Kak Vir kenapa?" duduk di tepi tempat tidur memandangi Mahavir. "Apanya yang sakit?"
"Katanya kakinya kram." Rachel mendahului Mahavir menjawab. "Tadi waktu di Oxford seharian kami naik sepeda."
"Oh itu kram otot. Tunggu sebentar kak..." Bryan bangkit dan berlari kecil keluar menuju kamarnya dan kembali membawa cream salep pereda nyeri dan beberapa lembar koyo.
Rachel mengernyit heran. "Bryan itu kamu dapat dari mana? Kamu punya kantong doraemon yah?"
"Waktu di Villa di kasih sama kak Raya." Kembali duduk di samping Mahavir lalu menggulung kaki celana Mahavir hingga di atas lutut.
Rachel membulatkan mulutnya menyebut O tanpa mengeluarkan suara.
Dengan telaten Bryan mengoleskan salep dan memijit pelan kaki Mahavir, kemudian menempelkan koyo ke bagian yang dirasakan sakit olehnya. Rachel hanya mematung, diam-diam mengamati adiknya membantu suaminya.
"Kalau ada yang lihat dikiranya kalian yang saudara kandung...." Cerocos Rachel membuat Mahavir dan Bryan kompak melihat ke arahnya. "Sebenarnya dari dulu aku penasaran. Memangnya sejak kapan kalian saling kenal? Bryan pernah bilang kalau kamu pernah mengajarkannya main basket. Kapan itu?"
Bryan memandang Mahavir, meminta untuk Mahavir yang menjelaskannya pada Rachel.
"Waktu kamu lagi sibuk-sibuknya meniti karir. Aku pernah sekali ke rumah Granny kalian, disitu aku bertemu Bryan yang masih SMP." Mahavir menjelaskan singkat dan memandangi Bryan.
Memahami kode mata Mahavir, Bryan pun membenarkan perkataannya. "Iya kak, aku ketemu kak Vir waktu itu. Dan sejak saat itu aku akrab dengan kak Vir. Setiap ke London aku main ke tempat kak Vir. Kakak kan tahu dari dulu aku selalu mau punya kakak laki-laki. Dulu sempat ada kak Dirman sih tapi dia...." Menggantung ucapannya untuk menunggu reaksi Rachel. Sengaja menyebut nama Dirman agar kakaknya itu tidak bertanya lebih lanjut.
"Sudah jangan bahas itu lagi..." Menghela nafas, mencoba menghilangkan nama Dirman dari dalam pikirannya. "Bagaimana sekarang? Masih sakit?"
"Sudah lebih baik..." Mahavir mencoba tersenyum.
Bryan mendelik kesal. "Kalau mau kak Vir sembuh, malam ini kak Rachel tidur di kamar sebelah dulu. Yakin deh, kalau kak Rachel disini, kak Vir gak bakalan sembuh."
"Apa hubungannya?" Rachel mengerutkan keningnya sementara Mahavir hanya tersenyum salah tingkah mendengar perkataan Bryan.
"Sepertinya kram otot kak Vir bukan hanya karena bersepeda." Ucap Bryan, melirik penampilan Mahavir dan Rachel bergantian, lalu mengusap tengkuknya. "Kalian itu dari tadi berisik sekali, malam-malam gini teriak-teriak. Gak sadar apa kalau aku bisa dengar kalian disebelah. Gak malu kalau aku dengar?" Menggerutu dan mendesah pelan. "Bisa gila aku kalau lama-lama disini!" Ucapnya lalu bangkit dan kembali ke kamarnya.
Sepeninggal Bryan, Rachel pun berniat ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Bryan yang masih kosong.
"Mau kemana?" Tanya Mahavir.
"Mau tidur, disebelah...seperti yang Bryan katakan barusan."
Dengan cepat Mahavir turun dari tempat tidur dan memaksakan kakinya berjalan ke pintu lalu menguncinya. "Tidur saja disini." Ucapnya, Kembali naik ke tempat tidur.
Rachel hanya mendesah pelan lalu ikut naik ke tempat tidur di sisi sebelah Mahavir. Sementara Mahavir memandangi Rachel yang berbaring menggunakan jaket dan memunggunginya.
"Kenapa masih dipakai jaketnya? Aku kan sudah melihat semuanya."
Rachel tak menanggapi, dia berpura-pura langsung terlelap.
Perlahan Mahavir bergerak mendekati Rachel dan memeluknya dari belakang.
"Sayang...." Menciumi tengkuk Rachel.
Rachel bergeming.
"Sayang..." Menciumi rambut Rachel.
Rachel masih bergeming.
"Sayang... " Menghujani ciuman di punggungnya.
Rachel tetap bergeming di posisinya.
Mahavir tersenyum saat menemukan benda milik Rachel yang dilupakannya tadi tergeletak di bawah selimut. "Sayang....Aku cuma mau kasih ini, siapa tahu kamu mencarinya. Menggantung dan menggoyang-goyangkan Bra di hadapan Rachel.
Rachel mengintip dari balik ekor matanya, dan langsung membelalak melihat Bra nya di tangan Mahavir. Dengan cepat Rachel menarik benda itu. Tapi tangan Mahavir lebih lincah menariknya duluan. Membuat mereka tarik menarik hingga Rachel mau tidak mau berbalik dan berhadapan dengan Mahavir. Dengan Cepat Mahavir langsung menangkap dan memeluk tubuh istrinya itu.
Rachel menatap kesal pada Mahavir dan memukul dada bidangnya. "Jangan mengusiliku terus!"
Mahavir tersenyum dan mengecup kening Rachel. "Maaf untuk yang tadi....kamu tidak kecewa kan? besok-besok kita bisa mengulanginya lagi"
Dengan Rona malu Rachel pun menggeleng pelan, lalu memeluk Mahavir.
Mahavir pun membalas memeluk Rachel dengan erat dan berucap dengan sepenuh hati, "Aku mencintaimu...."
Rachel menengadahkan wajahnya memandangi Mahavir, meruntuhkan segala ego dan keangkuhannya dan membalas ucapan Mahavir.
"Aku juga mencintaimu...."
* * *