
Sore hari Mahavir, Rachel dan Bryan kembali terduduk di dalam ruang auditorium Queen Elizabeth Hall. Seperti kemarin, mereka menempati tempat dan posisi yang sama.
Kali ini Risya dan kawan-kawan nya tampil berbeda dari yang kemarin. Bila kemarin anak-anak belia itu menarikan tarian daerah yang enerjik, maka kali ini penampilan mereka lebih kalem dan elegan.
Dengan menggunakan gaun panjang berwarna broken white dengan rambut di cepol ke atas dan berhias bunga-bunga kecil. Risya teruduk dengan anggun di belakang sebuah alat musik petik berukuran besar yang terbuat dari kayu berwarna gold. Jari-jari halusnya bergerak memetik senar harpa dan memainkan simfony yang begitu merdu. Sementara dua kawannya yang lain memainkan biola dan lima anak lainnya menari balet di tengah panggung. Beberapa penonton dibuat terkesima dengan pertunjukan itu. Begitupun Mahavir, Rachel dan Bryan yang sama kagetnya.
"Loh Risya bisa bermain Harpa yah?" Mahavir berbalik ke arah Rachel dan Bryan dengan raut wajahnya meminta penjelasan, tapi Rachel dan Bryan juga berekspresi yang sama dengannya. "Wah gak nyangka yah, gadis manis itu multitalenta." Pujinya, berdecak kagum menyaksikan kepiawaian Risya memainkan alat musik itu.
Rachel mengangguk tanda setuju dengan perkataan Mahavir. "Iya, aku juga tak menyangka. Sudah cantik, manis, ramah, berbakat lagi." Ucapnya sambil menyenggol bahu Bryan yang masih terpana melihat penampilan Risya. "Kalau dibandingkan denganmu, kamu tak ada apa-apanya tuh..." Lanjut Rachel mengejek Bryan.
Bryan tak menanggapi ejekan kakaknya, ia masih fokus ke satu titik yang ada di atas panggung. Seakan tak mau ketinggalan satu momen apapun hingga akhir pertunjukan.
Beberapa jam sudah terlewat, hari sudah berganti malam. Beberapa pertunjukan dari anak-anak belia yang berasal dari negara lainnya juga sudah menampilkan aksi terbaik mereka. Acara pun ditutup dengan kelompok Risya yang menjadi juara ke dua.
Dari gedung seni itu mereka melanjutkannya ke salah satu restoran mewah yang ada di gedung The Shard, yakni gedung mewah yang menjulang dengan tingginya. Merupakan salah satu icon terkenal di kota London dan menjadi bangunan gedung tertinggi di benua Eropa.
Mereka berempat duduk di meja yang berada di sudut dan mengarah ke dinding kaca yang berlapis tiga. Menikmati makan malam sambil menikmati pemandangan kota yang terlihat kecil dibawah sana.
Setelah menikmati makan malam, keempatnya lalu naik ke lantai teratas dimana terdapat indoor maupun open air Skydeck untuk bisa melihat panorama dan hingar bingar keramaian malam kota London yang lebih luas secara langsung.
Baik Rachel, Risya maupun Bryan berdecak kagum dengan apa yang di lihatnya.
"Kak Vir, pasti bayarnya mahal yah masuk kesini?" Bisik Risya sambil mensedekapkan kedua tangannya karena udara dingin yang berembus.
Mahavir tersenyum dan mengangguk pelan. "Kenapa memangnya?" Tanyanya balik.
Risya menggeleng pelan, dia masih memandang takjub segala apa yang matanya tangkap. "Bisa foto-foto disini gak kak?" Tanyanya lagi sambil melirik ke kiri dan kanan melihat pengunjung lainnya yang tampak sangat berkelas.
"Hush, jangan bikin malu." Bisik Bryan. Membuat Risya melirik kesal padanya.
"Kak, kalau melihat lebih dekat ke sana boleh tidak?" Pinta Risya kemudian. Namun belum sempat Mahavir mengiyakan, Bryan sudah menariknya lebih dulu menjauh dari Mahavir dan Rachel.
"Mereka sudah baikan yah?" Tanya Rachel sambil merapatkan longcoat-nya.
"Sepertinya begitu." Ucapnya sambil merangkul pinggang Rachel. "Dingin?" Tanyanya.
"Lumayan."
Mahavir langsung membuka lebar longcoat-nya lalu menarik tubuh Rachel ikut masuk dan mendekapnya. "Sekarang sudah hangatkan?" Bisiknya. Rachel mengangguk dan tersenyum. "Ayo kita ke sudut sana." Ucapnya lagi lalu mensejajarkan langkahnya dengan Rachel menuju ruang yang sedikit tertutup.
Mahavir memesan dua gelas Champagne dari seorang pelayan. Segelas dia sodorkan pada Rachel dan segelas lagi dia letakkan di atas dinding pembatas di samping mereka.
Rachel menatap lurus pemandangan kota yang berkerlap-kerlip sambil mencicipi Champagne nya, dan Mahavir mendekapnya dari belakang sambil ikut mencicipi Champagne dari gelas yang sama di tangan Rachel.
Rachel hanya tersenyum melihat Mahavir yang ikut minum dari gelasnya, lalu kembali pula ia ingin mencicipi Champagne-nya.
"Jangan minum terlalu banyak, kamu hanya boleh mencicipinya saja." Bisik Mahavir di telinga Rachel sambil meraih gelas di tangan istrinya itu dan meneguknya hingga tandas.
Rachel langsung berbalik dan merengut, "Yah kok dihabisin? Padahal aku baru sekali mencicipinya." Ngambeknya.
Mahavir tersenyum lalu langsung merapatkan bibirnya ke bibir Rachel, memaksa Rachel membuka mulutnya dan memasukkan Champagne yang masih tersisa di mulutnya ke mulut istrinya. "Bagaimana?" Tanyanya saat sudah melepaskan tautan bibirnya.
Rachel mengusap bibirnya sambil menormalkan nafasnya yang tersengal-sengal. Matanya memicing dan melirik kesal. "Jorok tahu..."
"Jorok?" Mahavir menaikkan kedua alisnya dan tersenyum. "Tapi suka kan?" Tanyanya lagi.
Rachel tak menjawab, ia mendengus lalu kembali berbalik memunggungi Mahavir dan mengamati pemandangan malam hari itu.
Mahavir kembali mendekapnya dari belakang dan menjatuhkan dagunya di bahu Rachel. "Sayang, lusa Bryan sudah masuk asrama. Kita honeymoon yah?"
"Katanya tak mau kemana-mana."
"Aku cuma bercanda waktu itu." Mengelus rambut Rachel dan mengecupnya. "Aku akan menyuruh Stuart mengurusnya. Kamu mau ke Praha kan?"
"Kemana saja asalkan bersamamu, aku tak masalah Vir..."
"Itukan kata-kataku." Mahavir terkekeh lalu mengecup pipi Rachel. Memeluk tubuh istrinya itu dengan gemasnya. "Semoga cinta kita segera ada hasilnya yah..." Bisiknya sambil mengelus lembut perut Rachel yang rata. Rachel tersenyum, satu tangannya terangkat membelai pipi Mahavir yang bertengger di bahunya, dan satu tangannya lagi memegang punggung tangan Mahavir yang mengusap perut ratanya.
Mahavir terus menerus mengungkapkan betapa besar rasa cintanya, membuat Rachel terbuai dan semakin terjatuh dalam perangkap cintanya.
Sementara di sudut lainnya, Bryan dan Risya berdiri berdampingan sambil melihat pemandangan kota malam hari itu.
Raut wajah Risya masih saja berbinar-binar takjub menatap jauh ke depan sana, namun ia semakin mensedekapkan kedua tangannya dengan rapatnya, saking dinginnya udara malam itu. Pelan-pelan ekor matanya melirik ke arah Bryan, biasanya di saat seperti ini Bryan akan memberikan jaketnya.
"Kenapa? Dingin?" Tanya Bryan saat lirikan matanya bertemu dengan lirikan mata Risya.
Risya mengangguk pelan dengan dagu yang mulai gemetar.
"Kalau begitu kita masuk saja."
"Tapi Risya masih mau disini. Kapan lagi Risya bisa kesini."
"Tapi kamu kedinginan kan?"
"Biasanya juga kak Bry minjamin Risya jaket." Lirihnya sambil melirik jaket tebal Bryan yang bersusun-susun.
"Aku juga kedinginan, kalau aku meminjamkannya padamu, lalu aku bagaimana?" Ucapnya sinis namun melebarkan jaketnya. "Kalau kamu mau, merapat kesini." Modusnya.
"Ogah."
"Ya, sudah kalau tak mau."
"Issshhhh..!!" Risya berdecak kesal sambil meniup-niup kedua tangannya. Dagunya semakin bergetar.
"Dasar bocah!" Bryan menarik lengan Risya dan mendekap punggung Risya agar tubuh gadis itu ikut masuk ke dalam jaket tebalnya. "Nah, kalau begini kan kita sama-sama hangat."
"Ih, bilang saja kalau kak Bry modus mau peluk-peluk Risya."
"Ck, ya sudah sana...! Jauh sana." Mendorong-dorong tubuh Risya.
"Iihhh, kak Bry gak ikhlas nolongnya." Pekiknya, tanpa sadar tangannya masuk dan melingkar pada pinggang Bryan di balik jaketnya.
"Makanya diam, bawel." Ucapnya namun diam-diam kedua bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
"Ishh..!" Risya melotot tajam ke Bryan, Bryan juga ikut melototkan matanya. Mereka saling bersitatap selama beberapa detik, hingga akhirnya Risya memalingkan wajahnya.
"Kak Bry...."
"Hmm.. Apa?"
"Yang Granny ucapkan pagi tadi..."
"Tak usah memikirkannya."
"Tapi Granny tidak serius kan?"
"Granny itu tidak pernah bercanda."
"Jadi dia serius?" Berbalik dan menatap Bryan dengan ekspresi terkejut.
Bryan mengangguk. "Sepertinya..."
"Iisshh... Tadi kata kak Bry tidak usah memikirkannya."
"Kan belum kejadian juga." Ucap Bryan santai.
"Kok kak Bry santai begitu?"
"Memangnya harus bagaimana lagi?"
"Kita ini mau dijodohkan loh? Kak Bry kan punya pacar?"
"Kan katamu kak Raya buat kak Rey saja."
"Tapi kalian kan masih pacaran? Ih, kak Bry gimana sih? Jadi cowok yang gentle dong."
"Terus mau mu bagaimana? Aku bertahan dengan kak Raya?"
"Kan kamu yang maksa aku buat berikan kak Raya pada kakakmu."
"Ih, dasar cowok plinplan."
Bryan menghela nafas kasar lalu menarik lengan Risya agar semakin merapat dengan tubuhnya. "Sekarang aku tanya nih ya, seandainya kita betulan dijodohkan bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Kamunya bagaimana?"
"Iya, apanya yang bagaimana?"
"Astaga, susah memang kalau ngomong sama bocah."
"Issshhhh..." Menghentakkan kakinya menginjak kaki Bryan. "Makanya bertanya yang jelas."
"Ah, sudahlah. Jangan dibahas lagi. Di perjelas pun kamu pasti bakalan gak ngerti." Ucapnya dengan mendengus kesal. Sejenak terdiam lalu kembali berucap. "Trus, besok penerbangannya jam berapa?"
"Jam 4 sore."
"Sepertinya besok aku tidak sempat mengantarmu ke bandara, soalnya aku mau ke Oxford. Tapi aku akan usahakan pulang cepat."
"Gak apa-apa kak Bry."
"Kamu tidak sedih?"
"Sedih? Buat apa?"
"Ah, sudahlah. Kamu punya nomor ponselku kan?"
"Ada."
"Kalau sempat kirim-kirim kabar yah." Ucapnya sambil menatap Risya dengan tatapan penuh arti.
"Siip kak...kalau kak Bry nanti minta bantuan senjata, nanti dewi Aphrodite akan bantu. Jadi jangan sungkan-sungkan."
Bryan tersenyum lebar sambil mengacak-acak rambut Risya. Dasar bocah, sempat-sempatnya bahas game saat seperti ini. Kamu tak tahu saja kalau saat ini aku ingin sekali menculikmu agar tak bisa pulang besok.
"Oh iya, kak Bry masih punya satu permintaan. Ayo cepat katakan sebelum Risya pulang."
Bryan menggeleng, "Nanti aku katakan kalau kita bertemu kembali dan kamu sudah lebih dewasa."
"Memangnya permintaan kak Bry apa?"
"Rahasia" Bisiknya di telinga Risya.
"Ihh.. Geli kak." Pekiknya sambil mendorong kepala Bryan menjauh. Mereka pun tertawa bersama, lalu mengobrol ringan membahas game online mereka dan kegemaran masing-masing.
Malam semakin larut, Udara semakin turun ke suhu terendah. Bryan dan Risya kembali menghampiri Mahavir dan Rachel.
"Sudah puas lihat-lihatnya?" Tanya Mahavir ketika Bryan dan Risya sudah berada di hadapannya. "Foto-fotonya sudah?" Tanyanya lagi.
"Kak Bry gak mau fotoin Risya, malu katanya." Kesalnya, suaranya sedikit serak karena tenggorokannya kering setelah mengobrol panjang dengan Bryan. Ketika matanya menangkap gelas dengan cairan bening di dalamnya, buru-buru ia mendekat dan meraih gelas itu. "Punya siapa kak?" Tanyanya.
"Oh itu punya Kak Vir tapi tak jadi diminum." Jawab Rachel sembari merapikan rambutnya.
"Kebetulan, Risya lagi haus. Risya minta ya kak?" Tanyanya lalu langsung meneguknya hingga tandas tanpa menunggu jawaban.
"Ehh, Ris... Itu....." Mahavir langsung menepuk keningnya.
Risya bersendawa lalu memangap-mangapkan kedua bibirnya. "Minuman apa ini kak? Kok sparkling-sparkling gitu rasanya?" Tanyanya dengan heran, masih dengan mengecap-ngecap rasa yang masih tersisa di mulutnya.
"Makanya di tanya dulu itu apa. Jangan main sambar saja." Ketus Bryan. Menarik dan merangkul bahu Risya yang mulai sempoyongan.
Keempatnya pun meninggalkan ruang indoor dan open air Skydeck gedung itu dan langsung memasuki lift yang membawanya ke lantai dasar. Setelah menerima kunci mobil dari petugas valet, Mahavir dan Bryan pun langsung mengemudikan kendaraannya meninggalkan kawasan gedung tinggi itu menuju penthouse mereka yang penuh cinta.
Begitu sampai Bryan langsung mengangkat Risya yang sudah tak sadarkan diri. Wajahnya sudah memerah seperti tomat dan terus meracau tidak jelas, mungkin pengaruh dari Champagne sudah membuatnya hangover berat.
Buru-buru Bryan membaringkan tubuh Risya ke atas tempat tidur. Baik Mahavir, Bryan dan Rachel semua tampak panik.
"Kak, ini anak orang gimana?" Tanya Bryan panik, sambil berusaha menyelimuti Risya yang terus menggeliat-geliat dan menghentak-hentakkan kedua kakinya hingga memperlihatkan pakaian dalamnya karena dress nya tersingkap ke atas.
"Kamu tahan dulu, aku akan membuatkan air limun untuknya." Ujar Rachel hendak beranjak, namun Mahavir menahannya.
"Biar aku saja, kamu ganti pakaiannya dulu." Ucap Mahavir lalu beranjak menuju pantry.
"Kalau begitu aku juga keluar." Ucap Bryan yang tidak berhasil menyelimuti Risya.
"Eh, jangan pergi. Bantu aku pegang kakinya. Aku akan mengganti pakaiannya."
"Tapi kak..."
"Cepat pegang kakinya dan tutup matamu rapat-rapat." Perintah Rachel lalu langsung menarik dress Risya keatas.
Refleks Bryan memejamkan mata begitu melihat
Rachel menarik dress yang dikenakan gadis itu.
"Tunggu sebentar, tetap tahan kakinya. Aku mau ambil handuk basah dulu untuk menyeka tubuhnya." Rachel lalu beranjak ke toilet, mengambil handuk kecil dari dalam rak dan membasahinya dengan air hangat.
Sepeninggal Rachel ke kamar mandi, Risya terbangun dan muntah ke lantai, membuat Bryan mau tidak mau membuka matanya dan melihat Risya yang setengah bugil.
Astaga... Mimpi apa aku semalam...!
Bryan menghalau pikiran kotornya dan dengan cepat ia mendekati Risya dan menepuk pundak polosnya. "Kak, Risya nya muntah." Teriaknya.
Rachel berlari kecil keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk kecil yang basah.
"Kamu keluar saja, biar aku yang bersihkan." Ucap Rachel, mengambil alih tubuh Risya dan menyeka wajah dan tubuhnya.
"Biar aku bersihkan dulu muntahnya." Bryan berucap sembari menjaga pandangannya agar tetap menunduk. Ia dengan lincah membersihkan muntah Risya dilantai dengan tisu lalu mengepelnya.
Mahavir datang dengan secangkir air limun hangat lalu meletakkannya di atas nakas. Kemudian ia dan Bryan keluar kamar dengan menghela nafas berkali-kali.
Risya sudah nampak lebih baik setelah muntah dan meminum air limun hangat. Ia tersenyum-senyum dengan kedua pipi merona merah sambil memandangi Rachel yang memakaikan piyama di tubuhnya.
"Halllooo kakak cantiiikkkkkk.." Sapa Risya yang suduh membuka matanya. "Kok ada princess disini sihhhhhh?" Ucapnya lagi. Rachel hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum geli.
"Eh.. Eh.. Baju apa ini? Risya gak mau pakai baju jelek ini." Membuka kembali piyama-nya. "Princess kan harus pakai gaun, bukan baju jelek gini...."
"Iya sayang. Princess-nya kan mau tidur, nanti gaunnya kusut kalau dipakai tidur. Gaunnya dipakai besok yah?" Bujuk Rachel, kembali memakaikan piyama pada tubuh gadis itu.
Risya mengangguk-angguk lalu menghempas tubuhnya ke belakang dan tertidur. Beberapa menit kemudian ia membuka matanya dan menarik tangan Rachel. "Kakak cantik, harta karun kakak Vir yang cantik itu buat Risya yah?"
Rachel menautkan kedua alisnya. "Harta karun? Harta karun apa?"
"Itu....." Terdiam sejenak sambil mengedip-ngedipkan matanya menatap Rachel. "Kotak harta karun yang ada di ruang kerja kakak Vir." Ucapnya lalu kembali memejamkan kedua matanya. "Yang isinya saputa... ngan....
..ncess...waa...na...pink..." Racaunya tidak terlalu jelas. Namun tertangkap di telinga Rachel.
"Saputangan? Saputangan apa maksudnya?" Rachel mengangkat kedua bahunya dan tidak terlalu menanggapi racauan Risya.
Setelah Risya benar-benar tertidur, Rachel pun keluar kamar dan mendapati Bryan yang berbaring di sofa dan berselimut sambil memainkan ponselnya.
"Risya nya bagaimana kak?" Tanyanya sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Dia sudah tidur. Kamu masuk tidur sana. Pagi-pagi kamu kan mau ke Oxford."
"Aku akan tidur disini saja, takut-takut kalau Risya bagun dan butuh sesuatu."
"Baiklah, kamu jaga dia yah. Aku mau mandi dulu." Ucapnya lalu melangkah menuju kamarnya.
Bryan pun kembali merapatkan selimutnya dan akhirnya tertidur di sofa itu.
* * * *