Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 33.Ketahuan.


Bryan berjalan keluar villa tanpa tujuan, tubuh tingginya mengikut kemana kakinya melangkah. Pikiran nya jauh berkelabat kemana-mana sambil terus mengacak-acak rambut hitam legamnya. Sesekali dia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar. Sudah dua kali dia mendapati Rachel dan Mahavir bermesraan. Dan itu memicu hormon Dopamin nya meningkat serta memacu adrenalin nya.


Sejujurnya dia amat sangat merasa senang dengan perkembangan hubungan Rachel dan Mahavir. Dia tahu betul bagaimana pengorbanan Mahavir selama ini dalam mendapatkan hati kakaknya. Hanya saja dia tidak menyangka kalau hubungan mereka sudah sampai sevulgar itu.


"Semoga saja kedepannya berjalan lancar untuk mereka,...." Lirih batin Bryan berdoa dan berharap agar hubungan kakaknya bisa berjalan mulus tanpa hambatan. Mengingat bagaimana dulu sikap angkuh Rachel kepada Mahavir yang sangat dingin.


Kebencian yang begitu besar yang ada pada hati Rachel, hanya akan luluh oleh orang yang menciptakan rasa benci itu sendiri. Setidaknya begitulah pemikiran keluarga Rachel.


Kalau boleh dibilang, Mahavir adalah sosok kakak yang sebenarnya yang hadir dalam kehidupan Bryan. Malahan Bryan merasa lebih akrab dengan Mahavir dibandingkan dengan Rachel yang merupakan kakak kandungnya sendiri.


Sedari kecil Mahavir sudah bersamanya, menemaninya bermain dan belajar. Mahavir lah yang pada awalnya mengajarkannya membaca dan menulis, membantunya mengerjakan PR, mengajarinya bersepeda, bermain sepak bola, bermain basket dan lain sebagainya.


Mahavir merupakan sosok yang selalu ada bersamanya sejak dulu. Di kala daddy nya selalu sibuk dengan pekerjaannya, mommy nya yang saat itu juga sibuk mengurus Yayasan dan sekolah yang didirikannya, serta Rachel yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sahabat-sahabatnya.


Masih teringat jelas di ingatan Bryan saat Mahavir terbaring koma akibat kejadian 10 tahun yang lalu. Dia yang kala itu masih berusia delapan tahun tak henti-hentinya menangis meraung-raung ingin bertemu dengan Mahavir. Apalagi saat orang yang sudah dianggap nya sebagai kakak laki-lakinya itu tiba-tiba dipindahkan ke London, dia pun menangis sejadi-jadinya selama beberapa hari.


Dan beberapa tahun kemudian, saat Bryan sudah duduk dibangku SMP dan akhirnya bisa kembali bertemu dengan Mahavir saat berkunjung ke London disitulah kebahagiaan kembali terpancar di hatinya.


Bryan tak bisa membayangkan kalau harus terpisahkan lagi dengan sosok Mahavir yang sangat disayanginya. Itulah mengapa apapun permintaan kakak iparnya itu akan selalu dituruti dan di dengarkan nya. Dan selalu berharap Rachel juga bisa membalas segala perasaan tulus dari Mahavir.


Memikirkan itu semua kadang membuat Bryan menjadi pribadi yang lebih dewasa dari umurnya.


Langkah kaki panjang Bryan kini semakin membawanya terus menjauh dari Villa utama, terus berjalan mendekat ke bibir pantai.


Setidaknya bila melihat suasana pantai bisa membuat pikiran nya kembali tenang...


Tapi begitu menginjakkan kaki diatas pasir, dengan sayup dia mendengar tangisan seorang wanita. Perlahan Bryan mencari sumber suara itu dalam minimnya penerangan.


"BRUKK"


Tiba-tiba dari arah depan seseorang menabrak pundaknya hingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke samping. Bryan mengedarkan pandangannya, hingga kemudian kedua matanya membulat tatkala melihat Raya terduduk sedang menangis.


Tanpa pikir panjang Bryan menarik tangan Rey yang baru akan melangkah meninggalkan mereka. "Apa yang kau lakukan pada kak Raya?"


Rey menepis tangan Bryan yang memegangnya. Mulut nya enggan untuk memberi jawaban atas pertanyaan Bryan. Membuat Bryan tersulut emosi, dan menarik kerah kaos yang digunakan oleh Rey. "Katakan! Mengapa kak Raya menangis seperti itu?" Tanya Bryan sekali lagi.


"Bukan Urusanmu!" Rey menjawab dengan ketus.


"Apa yang orang ini perbuat pada kak Raya?" Bryan kini semakin menarik kaos Rey dengan kedua tangannya. Raya yang masih terisak-isak mencoba menahan tangisnya. Demi apapun dia tidak ingin ada keributan karena dirinya.


Rey yang emosinya juga belum meredam, akhirnya mendorong tubuh Bryan dengan keras hingga membuat Bryan terjungkal ke belakang dan terjatuh ke atas pasir.


"BRYAN!!" Teriak Raya yang langsung bangkit dari duduknya dan membantu Bryan untuk berdiri.


"Aku tidak ada waktu meladeni bocah seperti mu!" Ucap Rey, memperbaiki kaosnya lalu berbalik dan melangkah menjauh dari Bryan. Tapi baru dua langkah berjalan, Rey tiba-tiba tertarik kebelakang dan langsung mendapat pukulan panas yang mendarat di pipinya.


Rey mengusap pipinya yang terkena pukulan lalu menyunggingkan senyum sinisnya. "Apa kau menyukai Raya?" Rey bertanya dengan melirik tajam ke arah Raya yang kini telah berdiri diantara mereka. Rey sengaja mengajukan pertanyaan yang memprovokasi.


"Kalau iya kenapa?" Tantang Bryan membuat Rey langsung melayangkan pukulan balasan kepadanya dan akhirnya terjadi perkelahian diantara mereka.


"STOP!! STOPP!! Teriak Raya mencoba melerai, Wajahnya panik dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya. Dia berusaha mencoba melerai tapi tubuhnya terlalu mungil untuk bisa menahan dua tubuh tegap yang saling baku hantam tersebut.


* * *


" Tok.. Tok... Tok... "


Rachel mengetuk pintu kamar Mahavir. Pada ketukan ketiga daun pintu terbuka.


"Secepat itu kau sudah merindukan ku lagi?" Tanya Mahavir dengan mengukir senyum diwajahnya. "Mau tidur bersamaku?"


"Helloo? Jangan mimpi deh!" Seru Rachel membuat Mahavir memasang wajah kecewa nya.


"Ada apa?"


"Temani aku turun mencari Raya. Dia belum balik-balik dari tadi."


"Sudah di telepon?"


"Ponselnya tertinggal di kamar."


"Paling dia lagi dibawah ngobrol bersama Rey atau Bryan."


"Tapi firasat ku tidak enak. Ayo kita cari saja." Bujuk Rachel.


Mahavir menengok jam dinding yang tergantung di dinding kamar, lalu berpaling melihat Rachel yang hanya menggunakan piyama tipis. "Sudah jam 12 malam, Biar aku saja yang mencarinya."


"Aku ikut."


"Kamu tunggu disini saja! Sudah tengah malam. Angin laut semakin dingin." Mahavir menarik tangan Rachel dan mendorong nya masuk ke kamarnya.


Mahavir mengambil dua kunci yang bergelantungan dibawah handle pintu kemudian memisahkannya. Satu kunci dia masukkan kedalam sakunya dan satu lagi dia berikan ke Rachel.


Kali ini Rachel menurut. Mahavir pun meninggalkan kamar setelah memastikan pintu terkunci dengan baik. Di lantai bawah, Mahavir mengedarkan pandangan nya mencari Bryan, tapi tidak ketemu. Mahavir pun berjalan keluar menjauh dari halaman villa, menyisir sampai ke bibir pantai hingga indra pendengaran nya menangkap suara teriakan Raya. Dengan cepat Mahavir berlari ke arah sumber suara.


"Apa yang kalian lakukan!" Teriak Mahavir tatkala kedua matanya mendapati dua laki-laki yang dikenalnya dengan baik sedang baku hantam.


Mendengar suara Mahavir, Bryan dan Rey langsung mematung. Mahavir menghampiri keduanya, dan langsung menjewer telinga keduanya.


"Auw sakit kak!!"


"Auw sakit Bos!!"


Pekik keduanya bersamaan. Raya yang tadinya terlihat panik kini bernafas lega.


Ternyata Pawang mereka adalah Mahavir..... Batin Raya yang masih terlihat sedikit syok.


"Coba jelaskan, kenapa kalian berkelahi?" Tanya Mahavir dengan masih menjewer telinga mereka.


"Si bocah ini yang duluan memukulku!" Jawab Rey menatap tajam kepada Bryan.


"Jangan sebut aku bocah brengsek!" Ujar Bryan berusaha menendang kaki Rey, tapi dengan cepat Mahavir semakin menarik telinga Bryan. "Awww, Aww, sakit... Ampun kak, ampun!!"


Mahavir menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan lalu melepaskan kedua tangannya dari telinga Bryan dan Rey. Bryan dan Rey pun bersamaan langsung menjatuhkan bokongnya duduk di atas pasir. Nafas keduanya masih terengah-engah.


"Bryan, kenapa kamu memukul Rey? Sudah jagoan kamu sekarang yah? Apa kakak pernah mengajarimu berkelahi?" Hardik Mahavir.


"Bu... Bukan begitu kak...!" Jawab Bryan tertunduk, takut melihat wajah Mahavir.


"Rey, apa kesalahanmu sampai Bryan memukulmu? Tak mungkin ada asap kalau tak ada api kan?"


Rey mendesah, matanya melirik kesal ke arah Raya. "Tanya perempuan itu saja!" Jari Rey menunjuk ke arah Raya berdiri. Kenapa perempuan itu begitu cengeng, setahunya dia hanya berbicara sesuai fakta tapi tangisannya seakan orang yang sudah dilecehkan. Membuat Bryan salah paham hingga terlibat perkelahian dengannya.


Raya yang merasa ditunjuk, langsung memucat, tenggorokannya terasa tercekat.


"Tadi aku mendapati kak Raya menangis. Aku tanya kenapa, kak Raya tambah menangis. Jadi kupikir teman kakak ini sudah berbuat kurang ajar pada kak Raya." Ujar Bryan akhirnya menjelaskan karena melihat Raya yang tersudut.


"Betul begitu Rey?"


Rey terdiam, dia masih berusaha mengatur pernafasan nya.


"Apa kamu memaksa Raya Hahh?? Apa kamu memaksa menciumnya?" Tuduh Mahavir.


Rey menggeleng dengan cepat. "Gila! Mana mungkin aku senekat itu. Aku memang menyukainya tapi aku tidak akan berani menyentuhnya tanpa seizinnya!"


"Lalu kenapa dia mengangis!"


Rey mendesah pelan, "Dia saja yang terlalu cengeng!!"


"BUKK.."


Raya melempari wajah Rey dengan jaketnya yang tadi dia berikan ke Raya. "Brengsek kamu Rey!!" Maki Raya dengan kesalnya. Mereka pun saling menatap tajam satu sama lain.


Mahavir menekan pelipisnya. "Raya kamu diapain sama Rey?"


"Di..dia membentakku, dia mengata-ngataiku,.." Jawab Raya mulai terisak kembali.


"Mulai lagi deh....." Sindir Rey yang melihat Raya kembali melow.


"Rey, apa masalah mu? Kalau sudah lelah mengejarnya, jangan bersikap kasar padanya. Sejak kapan kamu membentak perempuan?" Tegas Mahavir.


"Vir!! Kalau saja dia menghinaku, aku tidak masalah. Tapi dia sudah kelewat batas. Mulut manisnya itu mencaci maki dirimu habis-habisan. Aku hanya tidak terima kalau kamu di jelek-jelekan. Dari dulu kamu selalu dihina, dibully, dan di salahkan. Aku tahu betul bagaimana dirimu dari dulu. Mau sampai kapan mereka berhenti mengutukmu" Cerosos Rey tanpa sadar, menjeda ucapanya dengan menarik nafas. "Dia bahkan bersyukur atas apa yang menimpamu! Kejam sekali bukan??" Lanjutnya. Ia tak mau disalahkan atas apa yang dirasanya benar.


Mahavir dan Bryan tertunduk mendengar alasan Rey. Tanpa disadarinya ada Raya yang ikut mendengar. Raya mengerutkan kedua alisnya, mencoba menelaah perkataan Rey barusan. Dia tidak bodoh, dia bisa menangkap apa yang Rey maksud. Saat menyadarinya, kedua tangannya langsung membekap mulutnya sendiri. Kedua matanya melebar dengan pupil mata yang terlihat bergetar. Pandangan nya langsung tertuju pada Mahavir. "Ja...ja Jadi.. Ka.. Kamu.....??"


Di waktu yang bersamaan ketiga lelaki itu pun juga baru tersadar dan secara serentak melihat ke arah Raya.


Bryan menepuk jidatnya. Mahavir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Rey mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dalam hati merutuki dirinya terus-menerus.


* * *


Dears, para pembaca...


Mohon maaf bila kadang Up nya terasa lama, padahal jujur kk Author tidak pernah lewat dari dua hari. Paling telat sehari karena ada urusan dalam kehidupan nyata yang lebih diprioritaskan terlebih dulu. Tapi kk Author akan selalu berusaha untuk cepat Up nya kok.... 🤗


kk Author kadang sedih... persentase View nya meningkat, tapi gak ada yang like 😥


untuk itu, bolehkan kalau Author nya meminta sedikit bantuannya... tolong beri like, komen dan Vote nya biar kk Author nya juga tambah semangat Up nya..🥰


Peluk cium dari kk Author... 🤗😘


Happy Reading ❤