
Keesokan harinya...
Rachel, Mahavir dan Bryan berkunjung ke rumah Nenek Rachel dan Bryan. Wanita sepuh yang dipanggil Granny itu menyambut mereka dengan hangat dan suka cita bersama dengan dua perempuan cantik yang merupakan sepupu dari Rachel dan Bryan. Gadis yang pertama bernama Anna, dia dua tahun lebih tua dari Rachel dan gadis satunya bernama lily yang lima tahun lebih tua dari Bryan. Mereka adalah anak-anak dari kakak Pak Wijaya yang sekarang tinggal di daerah Cambridge. Mereka sejak lahir telah tinggal bersama Granny, sehingga ketika orang tuanya berpindah karena tuntutan pekerjaan, mereka lebih memilih untuk tetap bersama Granny.
Tadinya Mahavir merasa was-was untuk bertemu dengan keluarga Rachel lainnya, terutama wanita sepuh itu. Karena diantara keluarga terdekat Rachel hanya Granny yang tidak menyukainya. Mahavir bahkan pernah merasakan panasnya tongkat wanita tua itu yang memukulinya dengan membabi buta saat tahu kalau dirinyalah yang bernama Dirman. Tapi melihat Granny yang saat ini bersikap hangat membuat Mahavir sedikit bisa bernafas lega. Walaupun masih dengan kepala tertunduk, menghindari tatapannya. Yang saat ini mereka tengah bercengkrama menikmati teh hijau dan beberapa macaroon berwarna-warni pada ruang selasar rumah itu.
"Maafkan Granny yah sayang tidak hadir di pernikahan kalian." Ucap Granny sambil mengusap-usap punggung tangan Rachel yang duduk di sebelahnya.
"Iyya Maafkan kami juga..." Kompak Anna dan Lily menimpali.
Rachel tersenyum lembut, "Tidak apa Granny, Rachel tahu kalau Granny sudah tidak kuat dengan perjalanan jauh." Menjeda sejenak, lalu menoleh ke arah Anna dan Lily. "Dont worry sister, Aku mengerti. Kaliankan menjaga granny disini. Yang penting doa kalian selalu ada buatku."
"Of Course, doa terbaik ku selalu untuk kak Rachel." Lily berucap dengan memeluk leher Rachel dari samping. Kemudian berpindah duduk di sofa yang sama dengan Bryan.
"Doa Granny juga akan selalu bersama kalian." mengedarkan pandangannya menatap cucu-cucunya dan berhenti pada Mahavir. Menatap Mahavir sejenak dengan pandangan yang sulit di mengerti kemudian kembali memandangi Rachel.
"So, kapan kami akan mendengar berita kehadiran calon keponakan kami?" Ujar Anna tersenyum-senyum pada Rachel dan Mahavir.
"Kak Anna, kami kan baru saja menikah." Jawab Rachel santai.
"Kami masih berusaha. Doakan saja." Mahavir akhirnya bersuara, setelah dari tadi hanya menyimak saja. Tapi kemudian kembali menunduk saat Granny menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi. Dari tatapannya itu bisa diketahui kalau Rachel mewarisi sifat dingin dari neneknya.
Sementara Rachel hanya tersipu malu mendengar perkataan Mahavir barusan. ia langsung mengingat kejadian semalam yang usahanya gagal total.
Anna berdehem-dehem dan melanjutkan menggoda Rachel dengan pembicaraan yang agak dewasa. Hingga membuat Lily dan Bryan merasa tidak nyaman dengan pembicaraan mereka.
"Bryan ayo kita pergi saja, sepertinya pembicaraan mereka tidak cocok untuk kita." Lily bangkit dari duduknya dan menarik Bryan. "Bryan nya aku culik dulu." Lanjutnya dengan terkekeh.
"Mau kemana?" Tanya Anna
"Mau jalan-jalan ke Trafalgar Square." Berbalik menatap Bryan. "Mau ikutkan?"
Bryan mengangkat kedua alisnya. "Iya, kebetulan aku juga mau ke toko buku Waterstones."
"Kami boleh keluar kan Granny?" lily meminta izin.
Rachel memandangi Bryan dan lily. "Tidak tunggu makan siang dulu?"
"Kami makan di luar saja kak Rachel" lily mengeratkan rangkulan tangannya di lengan Bryan. Takut kalau-kalau Bryan berubah pikiran.
"Iya kalian boleh pergi. Tapi Bryan pulangnya sebentar kesini lagi yah. Nginep di rumah Granny." Ucap Granny pada satu-satunya cucu laki-lakinya.
Bryan mengiyakan kemudian beranjak dari tempat itu bersama lily kakak sepupunya. Sebenarnya ini yang membuat Bryan kurang nyaman. Setiap ke rumah Granny, dia akan setiap saat diajak oleh lily dan dibawa berkeliling, dipamerkan ke semua teman-temannya seakan Bryan itu barang limited edition. Entah itu dari keluarga daddy nya atau pun keluarga mommy nya, Bryan selalu menjadi bahan rebutan oleh kakak-kakak sepupu yang lebih dominan perempuan. Dan mungkin karena kebiasaan itu, membuat Bryan tidak canggung berpacaran dengan perempuan yang lebih tua darinya.
Sepeninggal Bryan dan lily, Granny mengajak Mahavir berbicara berdua. Sementara Anna mengajak Rachel masuk ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Mahavir menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah Granny yang terus memandanginya tanpa berkedip sedikitpun.
"Hmmm..." Berdehem lalu bangkit dengan tubuh setengah menopang pada tongkatnya. "Granny mau jalan-jalan ke taman depan."
Mahavir yang langsung menangkap maksud dari Granny dengan cepat berdiri dan membantu Granny berjalan hingga sampai di taman depan rumah. Di bawah pohon Maple, pada sebuah kursi taman berbahan besi berwarna putih, mereka duduk bersampingan.
Ada keheningan diantara mereka selama beberapa menit. Hingga kemudian Granny kembali berdehem.
Granny menarik tangan kanan Mahavir dan menepuk-nepuknya pelan. "Jangan takut padaku, aku tidak akan memakanmu..."
Mahavir menoleh, menatap wajah Granny. Wajah yang sudah dipenuhi dengan banyak guratan dan kerutan serta beberapa bintik-bintik hitam di sekitar hidung dan bawah mata, tapi masih bisa terlihat sisa kecantikan dari masa mudanya dulu. Ujung bibirnya sedikit tertarik, memperlihatkan senyum tipis yang membuat Mahavir ikut menyunggingkan senyumnya.
"Granny tahu, kalau dari dulu kamu menyukai Rachel. Granny sempat tidak menyukaimu karena kamu pernah membuat Rachel menderita. Tapi daddy-nya sudah menceritakan semuanya pada Granny." Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengamati ekspresi wajah Mahavir, kemudian kembali berucap. "Ternyata kamu sudah menjaga dan membantunya selama ini, walaupun.....kamu sendiri menderita dengan memendam perasaanmu."
"Itu saya lakukan dengan ikhlas Granny, tanpa mengharapkan apapun. Saya hanya ingin melihat Rachel bisa meraih apa yang dia inginkan."
"Granny tahu, dan mungkin sekarang sudah waktunya kamu berbahagia dengannya. Untuk itu Granny minta, lupakanlah identitas mu yang dulu. Biarkanlah Rachel mengenal dirimu seperti sekarang ini. Jangan pernah membuka identitasmu. Kami semua akan menyimpan rahasiamu rapat-rapat. Selain kami keluarganya tidak ada lagi kan yang tahu identitas aslimu?
"Maaf Granny....Ada dua orang lagi yang mengetahuinya...., Dia adalah sahabatku dan sahabat Rachel."
"Kalau mereka adalah sahabat kalian, mereka pasti tidak akan membeberkannya. Mereka pasti ingin kalian bahagia."
"Tapi Granny....saya tidak mampu berbohong terus menerus, saya selalu merasa bersalah tiap kali bersamanya, tiap melihat senyumnya, dan tiap kali menyentuhnya."
"Granny mengerti. Tapi Granny takut Rachel tak sanggup menghadapinya jika mengetahui bahwa kamu adalah Dirman. Dia itu terlihat kuat, tapi sebenarnya sangat rapuh. Saat ini dia tahunya Dirman sudah tiada. Jadi biarkan saja seperti itu."
Mahavir menghela nafas, pandangannya lurus kedepan melihat daun-daun kering yang berjatuhan dari beberapa pohon maple yang berjejeran di sepanjang jalan. Ia mengingat kejadian sewaktu Rachel berusaha menenggelamkan dirinya di Laut. Dimana istrinya itu betul-betul sangat rapuh.
Mahavir memejamkan kedua matanya, senyum Rachel menari-nari dalam pikirannya. Sejak dia berumur 13 tahun hingga saat ini, senyum itulah yang selalu menjadi penyemangatnya. Tak bisa dia bayangkan kalau senyum indah itu akan hilang dari pandangannya.
"Kamu maukan mendengarkan permintaan Granny? Bahagiakanlah dia sebagai Mahavir."
Mahavir terdiam sejenak, kedua tangannya terangkat mengusap sudut matanya yang sedikit lagi akan menjatuhkan buliran bening. Dengan berat bibirnya terbuka dan berucap, "Saya akan mendengarkan permintaan Granny...."
Granny tersenyum dengan setetes air mata yang jatuh mengalir di pipinya yang terlihat sudah menyusut dikarenakan faktor usia. Tangannya terulur menarik tubuh Mahavir dan memeluknya.
"Terima kasih nak, tolong jangan pernah tinggalkan Rachel. Bagaimanapun dia memperlakukanmu, tetaplah disisinya. Tak akan ada orang yang bisa memahaminya selain kamu." Mengusap-usap punggung cucu mantunya dengan sepenuh hati.
"Iyya Granny.....Saya berjanji akan selalu mendampinginya, membahagiakannya, dan menjaganya."
"Granny pegang janjimu." Melepaskan pelukannya dan menghentakkan tongkatnya ke atas rumput yang menjalar melapisi tanah di bawah kaki mereka. "Yah sudah, sekarang kita masuk. Sepertinya dia sudah mencari kita." Menunjuk dengan tongkatnya ke arah Rachel yang berdiri di depan pintu yang terlihat celingak celinguk mencari mereka.
* * *
Selepas makan siang di rumah Granny, Rachel dan Mahavir berpamitan dengan alasan ingin kembali ke kantor.
Dari rumah Granny mereka pun meneruskan perjalanannya menuju pusat perbelanjaan di Oxford Street dimana Butik dan kantor Mode Rachel berada. Sebuah kantor dengan desain modern futuristik yang diberi nama Rachel Langdon sesuai dengan nama label hasil rancangannya.
Di kantornya itu Rachel mendapat surprise dari seluruh tim yang bekerja bersamanya. Para model yang sering bekerjasama dengannya pun tampak hadir semua, berlomba-lomba mengucapkan selamat atas pernikahan Rachel dan Mahavir.
Tak lupa pula Rachel memperkenalkan Mahavir pada mereka yang sudah lama penasaran akan sosok suami dari atasannya. Beberapa dari mereka yang sempat melihat wajah Mahavir saat Video Zoom beberapa waktu lalu pun kini terlihat menginterogasi Rachel dengan berbagai pertanyaan.
"Vir... Duduk sebentar yah, aku hanya akan memeriksa hasil kerja mereka." Menarik tangan Mahavir dan mempersilahkannya duduk pada kursi kerjanya.
"It's okay, aku akan sabar menunggu sayang. Tapi kenapa aku yang duduk disini? Kamu saja yang duduk, biar aku duduk di......." Mengedarkan pandangannya melihat sofa yang dipenuhi beberapa lipatan bahan dan kain.
Rachel tertawa kecil. "Maaf, agak berantakan. Aku sengaja melarang mereka membereskannya. Takutnya nanti tercampur dengan bahan lainnya. Kamu duduk disitu saja." Mendorong dada bidang Mahavir agar duduk kembali. Kemudian berjalan menuju deretan manekin dan memeriksa semua gaun-gaun yang terpasang pada manekin itu.
Mahavir tampak menopang dagu di atas meja kerja Rachel yang dipenuhi dengan kertas gambar dan beberapa pensil warna dengan warna-warna yang komplit. Kedua matanya tak berkedip memandangi Rachel yang nampak serius menelisik tiap gaun yang dipegangnya.
"Apa gaun-gaun itu yang akan kamu tampilkan saat event nanti?"
"Sepertinya begitu. Jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan banyak sih. Cuma masih mau aku periksa ulang lagi."
"Wah, lincah juga desainer satu ini......"
"Makasih....." Menyengir ke arah Mahavir lalu kembali fokus pada apa yang ada di hadapannya.
"Aku cuma tidak mau tiba masa tiba akal. Kalau tidak begitu mungkin saat ini aku akan kelimpungan, Kamu tahukan hampir tiga minggu aku menghilang karena pernikahan dadakan kita." Mendelikkan mata dan mendengus kesal ke arah Mahavir.
"Tapi kamu senangkan dengan pernikahan dadakannya?" Terkekeh pelan menggoda Rachel.
"Cih...senang apanya...." Berguman kecil sambil membalik ulang gaun ditangannya.
"Gaun-gaun itu sudah perfect, apanya lagi yang diperiksa?" Penasaran melihat Rachel yang berulang kali membolak-balik gaun yang sama.
"Yah semuanya, kerapian potongannya, cara jahitannya. Tahu tidak, kalau satu benang saja yang mencuat di jahitannya akan menjadi bahan pergunjingan sesama desainer, dan bahkan mungkin saja akan sampai ke media fashion dunia. Kalau sudah seperti itu akan jadi aib buat fashion desainernya."
"Ohh.. Begitu..." Manggut-manggut tanda mengerti. Padahal dia sama sekali tidak menyimak, pandangannya hanya terfokus pada wajah Rachel. Sementara tangannya tanpa sadar meraih pensil dan mencoret-coret pada kertas yang ada, menggambar Rachel yang tampak serius itu.
Hampir dua jam lamanya Rachel berkutat dengan pekerjaannya, begitu selesai Rachel pun sedikit merapikan ruangannya.
Rachel menghela nafas saat ruangan nya sudah tampak lebih baik, ia kemudian merenggangkan otot-otot bahunya dan berbalik melihat Mahavir yang tak banyak bicara sedari tadi. Saat berbalik, ia terkejut mendapati Mahavir yang sudah tertidur duduk dengan bersandar pada kursi kerjanya.
Pelan-pelan Rachel menghampiri ingin mengagetkan suaminya itu, tapi akhirnya urung dia lakukan saat ekor matanya melihat secarik kertas yang ada di atas meja kerjanya. Senyumnya terkembang melihat gambar dirinya dengan catatan kecil dibawahnya bertuliskan 'Semangat Sayangku....' dengan tambahan emoticon love.
"Ternyata kamu pandai gambar juga, ada satu lagi kelebihanmu yang kutahu...." Lirih Rachel mengusap pelan gambar dirinya, lalu gambar itupun Rachel masukkan ke dalam map file nya dengan sangat hati-hati. Setelah menyimpan map file nya ke dalam laci di meja kerjanya, Rachel pun membangunkan Mahavir.
"Virr....." Rachel menepuk-nepuk pelan bahu Mahavir, tapi Mahavir hanya menggeliat pelan.
"Virr...." panggilnya lagi.
"Virr sayangkuuuuu......" Berbisik pelan ke telinga Mahavir dan suara lembutnya sukses membawa Mahavir ke alam sadarnya.
Dengan cepatnya Mahavir menarik Rachel hingga terduduk ke pangkuannya.
"Hei aku berat, nanti kakimu sakit lagi." mencoba untuk bangkit.
Mahavir kembali menariknya, tangannya langsung melingkar erat pada pinggang Rachel. "Kakiku sudah baik-baik saja. Coba panggil seperti tadi lagi...."
"Ini kantor, nanti ada yang lihat bagaimana?" menepuk tangan Mahavir meminta dilepaskan.
"Panggil dulu seperti tadi....."
"Tidak ada siaran ulang..."
"Kamu mau aku melakukannya disini?" menggoda dengan mengecup-ngecup bahu Rachel.
Rachel mengernyit kemudian langsung membelalak mengingat kejadian semalam, dengan cepatnya Rachel melepas tangan Mahavir di pinggangnya dan langsung bangkit dari pangkuannya. "Jangan macam-macam disini."
Mahavir terkekeh pelan. "Bercanda, mana bisa melakukanya disini. Aku tak mau dilihat sama mereka-mereka." Menunjuk pada jejeran manekin yang menghadap ke arahnya. Sedikit bergidik ngeri melihat wajah-wajah manekin yang menurutnya menyeramkan. "Kamu tidak takut yah kalau sendirian di ruangan ini?"
Rachel tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya. "Yah sudah ayo kita pulang. Nanti kamu kebawa mimpi kalau terus-terusan melihatnya."
"Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah." Menarik tangan Mahavir untuk berdiri. Tapi Mahavir tak bergerak sedikitpun. "Kamu masih mau tinggal disini? Mau nge-date sama mereka-mereka?" Tertawa kecil menunjuk manekin nya.
"Panggil kayak tadi dulu. Sayaanggg...." Ucapnya dengan manja.
Rachel menggeleng-geleng melihat kemanjaan Mahavir. "Aku baru tahu kalau kamu semanja ini..."
"Aku masih menunggu......." masih dengan nada manja.
Rachel menghela nafas, kemudian mengecup pipi Mahavir dengan cepat. "Ayo sayaanggkuuu.... sudah sore..." Menekankan nada suaranya pada kata sayang agar Mahavir puas. Dan terbukti Mahavir pun tersenyum puas.
"Baik sayangku...." Bangkit dari duduknya, lalu menggenggam tangan Rachel.
* * *
Happy Reading All..🥰
Mohon dukungannya berupa like, komen dan Votenya...
Terima kasih....
Thankyou...
Kamsahamnida...
Arigatōgozaima...
xie.. xie..
Peluk cium dari Author.. 🤗😘