Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 46.Senandung Cinta.


Sebelum baca...Please like, komen dan Vote nya yah... πŸ™πŸ₯° Author akan sangat berterima kasih dan tambah semangat melanjutkan bab barunya...


Happy Reading All... πŸ˜˜πŸ€—


* * * * *


Mahavir terus mensejajarkan langkahnya dengan Rachel. Perempuan keras kepala itu masih saja terus berjalan walau nampak tertatih-tatih menyeret kakinya.


"Rachel..." memanggil dengan lembut. "Benaran gak mau pakai sepatuku?"


"Gak makasih!" Menjawab dengan ketus dan terus berjalan.


"Ini aku nawarnya ikhlas, tidak pakai syarat apapun."


Rachel menoleh menatap Mahavir, "Gak Makasih!"


Mahavir menghela nafas kemudian menggenggam tangan Rachel. Rachel melirik tajam dan mencoba menarik tangannya.


"Jangan dilepas, takut nanti kamu kesasar." Mahavir semakin mengeratkan genggamannya.


"Aku bukan anak kecil."


"Kalau ada yang nyulik gimana? Aku gak mau jadi duda muda." Mahavir sedikit terkekeh.


Rachel kembali menoleh dan menatap kesal.


"Kamu kenapa dari tadi badmood terus? Senyum dong sayang." Menekan lembut pipi Rachel.


Rachel menarik sedikit ujung bibirnya hingga memperlihatkan sedikit senyum yang tipis selama sepersekian detik, kemudian raut wajahnya kembali datar.


Selama beberapa menit mereka saling terdiam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Dengan saling berpegangan tangan mereka berjalan santai menyusuri jalan-jalan setapak yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua nan bersejarah. Suasana tampak tidak begitu ramai, hanya beberapa orang yang terlihat berjalan kaki berlalu lalang melewati mereka. Justru suara langkah kaki mereka yang menginjak daun-daun kering yang terkulai di atas tanah menjadi pemecah diantara keheningan mereka.


Rachel melirik Mahavir yang sepertinya sangat mengenal daerah itu dengan baik. "Vir kamu lulusan sini juga?"


"Hmm" Mengangguk dengan pandangan fokus melihat bangunan yang tampak menyerupai kastil.


"Yang sana itu bangunan kampusku, jurusan bisnis dan manajemen." Menunjukkan dengan jari telunjuk yang terarah ke bangunan itu.


"Sampai S2?"


"Iyya, kok tahu?"


"Aku lihat title mu pada plakat namamu yang ada diruang kerjamu di hotel Calister. Master Manajemen kan?"


Mahavir mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari bangunan itu.


Rachel ikut mengamati bangunan yang di tunjukkan oleh Mahavir. "Bangunannya keren-keren yah, seperti dalam dunia dongeng."


"Belum pernah kesini?"


Rachel menggeleng pelan.


"Ngapain aja bertahun-tahun di London tapi belum pernah kesini?"


Rachel melirik kesal, "Memangnya aku mau ngapain ke sini?"


"Yah, jalan-jalan lah...disini kan sering dipakai lokasi syuting film."


"Iya, aku tahu. Film Harry Potter kan? Karena itu Bryan kepengen kuliah disini. Dia itu fans fanatik Harry Potter, bahkan setiap seri novel-novelnya dia punya dan tersusun rapi di rak buku di kamarnya."


"Iya, aku sempat lihat di kamarnya. Adik kamu itu orang yang pandai, pikirannya jauh lebih ke depan. Heran juga terkadang....." Mahavir menggantung perkataannya, menunggu reaksi Rachel.


"Heran kenapa?"


"Adiknya sangat berpikiran dewasa tapi punya kakak yang......" Mahavir kembali menggantung perkataannya, mencoba memancing amarah Rachel. Entah mengapa Mahavir merasa puas tiap kali berhasil menjahili istrinya itu.


Rachel mulai mendelik tak suka, ditariknya tangannya yang berada dalam genggaman Mahavir dengan kasar. "Kakak yang apa?"


"Yang apa ya....." Senyum-senyum penuh makna.


"Iya, yang apa?" Mencubit-cubit kecil pinggang Mahavir.


"Awww, sakit sayang...." Berusaha menepis tangan Rachel tapi masih saja menggoda. "Mau tahu atau mau tahu banget?"


"Bodo'..."


"Hei aku tidak bodoh, buktinya aku bisa sampai lulus S2..." Masih tersenyum-senyum jahil.


"Iya kamu pintar, saking pintarnya suka bikin kesal..." Menghentakkan satu kakinya lalu kembali mempercepat langkahnya.


"Hei tunggu." Sedikit berlari menyusul Rachel lalu merangkul pinggangnya. "Kakak yang sangat aku cintai dan sayangi....." Bisik Mahavir pada telinga Rachel, seketika membuat wajah Rachel merah merona dan tersipu malu.


"Cie... Tersipu malu...." Kembali menggoda Rachel.


Kembali raut wajah Rachel cemberut dan mendorong Mahavir. "Sana, jauh-jauh sana..."


Mahavir tersenyum-senyum memandangi Rachel lalu mengeluarkan ponselnya, dengan cepat Mahavir memotret ekspresi wajah Rachel yang cemberut itu.


"MAHAVIR!!!!" Berteriak dengan keras. "Bisa tidak berhenti usil begitu?"


Mahavir tertawa kecil. "Ohh....Tidak bisa....."


Rachel mendengus kesal, emosinya seakan sudah naik ke ubun-ubun.


Kembali Mahavir tersenyum-senyum.


"Karena kamu orang yang kusayangi dan kucintai." Menarik tangan Rachel dan mengecup punggung tangan mulusnya. "Bagaimana denganmu Nyonya Mahavir? Apakah kamu merasakan hal yang sama?"


"Tidak tuh..." Menjawab cepat dengan wajah tertekuk dan tidak bersahabat.


Mahavir mempercepat langkahnya, menghadang jalan Rachel dengan berdiri tepat di hadapannya. "Kenapa jawabannya begitu?"


Rachel tidak menanggapi dan malah mendorong tubuh Mahavir yang menghalangi jalannya. Mahavir pun tidak bergeming, dan malah berjalan mundur dengan fokus memandangi wajah Rachel.


"Tak bosan memandangiku?" Memalingkan wajahnya ke samping.


Mahavir menggeleng lalu kembali menarik tangan Rachel untuk digenggamnya. "Aku tak akan pernah bosan memandangi wajah orang yang kusayangi...."


Pelan-pelan Rachel menarik kedua sudut bibirnya hingga memperlihatkan senyum malu-malunya yang sangat manis. Kedua manik matanya tampak teduh memandangi Mahavir. Pemandangan langka yang jarang-jarang dilihat oleh Mahavir.


Dengan konyol nya Mahavir langsung memegang dadanya, berekspresi seperti sedang kesakitan, berakting seolah-olah terkena tembakan yang menembus jantungnya.


Kedua mata Rachel tampak menyipit seiring dengan kedua bibirnya yang terkatup rapat menahan senyumnya.


Mahavir menyunggingkan senyumnya, kembali memegangi kedua tangan Rachel. Kemudian bersenandung riang menyanyikan lagu Panah Asmara milik Afgan...


Sudah katakan cinta sudah kubilang sayang


Namun kau hanya diam tersenyum kepadaku


Kau buat aku bimbang kau buat aku gelisah


Ku akan setia menunggu satu kata yang terucap


Dari isi hati sanubarimu yang membuatku bahagia


Sungguh aku telah tergoda saat kau dekat denganku....


Hanya kau yang membuatku begini


Melepas panah asmara.....


Rachel tersenyum geli melihat tingkah laku Mahavir, kini dia bisa melihat sisi lain dari laki-laki itu. Dengan sikap konyolnya itu mau tidak mau membuat Rachel merona malu dan menghamburkan pelukannya kepada Mahavir.


"Wah, belum satu album kamu sudah klepek-klepek begini...." Mahavir kembali menggoda.


"Sudah...!! malu dilihat orang... Nanti dikiranya kita lagi syuting film Bollywood." Rachel menarik tangan Mahavir untuk berbalik dan berjalan kedepan.


Mahavir mengikut, tangannya terulur merangkul pinggang Rachel.


"Say that you love me.........." Pinta Mahavir sedikit berbisik ke telinga Rachel. Rachel hanya tersenyum. Sehingga kembali Mahavir bersenandung sambil mensejajarkan langkahnya....


Sudah katakan cinta sudah kubilang sayang


Namun kau hanya diam tersenyum kepadaku


Kau buat aku bimbang kau buat aku gelisah


Rachel menepuk jidatnya lalu menyikut keras perut Mahavir, membuat suaminya itu terdiam dan meringis kesakitan. "KDRT lagi...." Keluhnya.


"Sudah, jangan banyak gaya."


"Hei, kita belum pernah melakukan gaya apapun." Mahavir mengerling nakal.


"MAHAVIR...!!!!!!" Teriak Rachel.


"Peace...." Mahavir mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf-V.


Rachel menghela nafas. "Sekarang kita mau kemana?" Menengok ke sekeliling.


"Kamu maunya kemana? Mau lihat bangunan bersejarah atau pemandangan alam?"


"Yang dekat-dekat saja dari sini, takut kalau-kalau Bryan mencari kita. Lagipula aku tidak kuat berjalan jauh." Kembali menengok kebawah melihat heels nya yang setinggi 9cm.


Tanpa banyak berfikir Mahavir langsung membuka sneakers berwarna birunya dan menyodorkannya pada Rachel.


Sejenak Rachel memandangi sneakers biru seri dari Air Jordan itu, yang dapat Rachel kenali bahwa sepatu sneakers itu merupakan sneakers langka karena hasil kolaborasi antara Nike dan Eminem yang diproduksi hanya 23 pasang untuk publik.


Melihat Rachel hanya terdiam, Mahavir pun berjongkok dan membuka heels Rachel.


Rachel menahan kakinya, "Tidak usah..."


Mahavir mendongak melihat Rachel. "Tenang saja, aku tidak minta cium." Kembali membuka heels di kaki sebelah kiri Rachel dan menggantikannya dengan sneakersnya.


"Ayo!" Bangkit berdiri dengan menenteng heels Rachel.


"Kamu..." Melihat ke arah kaki Mahavir yang berdiri tanpa alas kaki.


"Bukan pertama kalinya kan aku seperti ini." Kembali tersenyum. Sepertinya hari ini stok senyum Mahavir sangat banyak.


"Kita mau kemana? Jangan jauh-jauh."


"Semuanya dekat kok, kota ini bukan kota besar, jalannya juga tidak terlalu padat dan ramai, kebanyakan orang berlalu lalang hanya dengan naik sepeda." Mahavir menunjuk ke beberapa orang yang naik sepeda. Melihat orang-orang bersepeda itu membuat Mahavir teringat sesuatu di masa lalu. Sesuatu yang harus dibalasnya pada istrinya itu.


"Bagaimana kalau kita naik sepeda saja berkeliling di daerah sekitar sini? Coba aku tanya ke sana, siapa tahu kita bisa sewa sepeda."


"Bryan gimana?"


"Tunggu." Mahavir mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Bryan.


Belum selesai?


Tidak menunggu lama pesan balasan dari Bryan masuk,


Sepertinya masih lama, aku bertemu dengan anak-anak yang juga ambil jurusan yang sama. Kak Vir dan kak Rachel makan siang berdua saja, Sepertinya aku akan makan siang bersama mereka. Sore nanti baru kita ketemu di depan pusat kota. Selamat bersenang-senang kak Vir!!


Mahavir memasukkan kembali ponselnya kedalam saku longcoat nya yang berwarna navy.


"Apa kata Bryan?"


"Dia bilang selamat bersenang-senang..."


"Hah??"


"Sudah, ayo ikut." Mahavir menarik tangan Rachel tanpa menunggu pendapatnya, menghampiri salah seorang pria bule yang baru saja turun dari sepedanya hendak masuk ke sebuah gerai buah.


Setelah berbicara selama beberapa menit, Mahavir memberikan beberapa lembar uang dengan mata uang poundsterling pada pria bule itu.


Rachel menatap heran. "Vir, ini sepedanya kamu beli?"


"Gak, sewa saja. Kalau sudah selesai kita kembalikan."


"Tapi uang yang kamu kasih itu bisa buat beli dua sepeda baru!"


"Tak apa, sekalian bagi-bagi rejeki. Ayo cepat naik." Mahavir meletakkan heels Rachel yang ditentengnya ke dalam keranjang yang tergantung di depan sepeda itu.


"Serius kita naik sepeda?"


"Kenapa? Tidak mau?"


Rachel mengerutkan keningnya dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Ah, kamu kebanyakan mikir. Ayo..." Menarik tangan Rachel dan memaksanya duduk pada boncengan sepeda itu.


"Duduknya gimana?"


"Gak pernah naik sepeda yah? Kamu duduk menyamping saja, kan kamu pakai dress."


Dengan muka cemberut, Rachel terpaksa memposisikan dirinya duduk di atas boncengan sepeda bermodel klasik itu. Setelah memastikan Rachel sudah duduk dengan nyaman, Mahavir pun mulai mengayuh sepeda itu dengan bertelanjang kaki tanpa mengeluh dengan udara yang cukup sejuk.


Di depan Mahavir tak henti-hentinya tersenyum. Akhirnya ia bisa memenuhi janjinya dulu untuk memboncengi Rachel berkeliling. Bahkan sesuai keinginan Rachel, mereka berkeliling di Inggris.


Hembusan angin pagi menjelang siang itu terasa sejuk, Beberapa dedaunan pohon maple beterbangan tertiup angin. Jalanan dan tanah yang mereka lewati mulai ditutupi oleh daun-daun tua yang berguguran. Beberapa bangunan klasik nan bersejarah tampak gagah berderet-deret menjadi pemandangan yang menabjukkan.


Mahavir mengayuh sepeda itu dengan santai dan sesekali menyapa orang-orang asing yang berpapasan dengannya. Rachel tersenyum melihat kelakuan dari Mahavir, tak menyangka kalau suaminya itu orang yang humble. Satu sisi lain dari Mahavir yang baru dilihatnya.


Setelah beberapa saat Rachel pun mulai menikmati, dengan perlahan Rachel membuka kedua tangannya dan mengulurkannya kesamping kiri dan kanan. merasakan semilir angin yang menyentuh kulitnya dan terpaan dari daun-daun kering yang berjatuhan dari atas pohon.


Mahavir membawa Rachel ke Covered Market, pasar yang di dalamnya terdapat berbagai macam toko Aksesoris dan kios-kios kecil yang menjual bermacam cookies yang lucu-lucu. Tadinya dia ingin mengajak istrinya itu mengunjungi beberapa tempat bersejarah, tapi Mahavir menyadari kalau Rachel tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berbau sejarah. Jadilah dia membawa istrinya itu ke tempat yang sebenarnya kurang nyaman baginya.


Rachel tampak berbinar-binar setiap kali melihat benda-benda lucu dan menarik, dan hal itu cukup menggantikan rasa tidak nyaman Mahavir untuk berada di tempat itu.


"Suka? Mau?" Mahavir menawarkan saat melihat Rachel tak berkedip memandangi beberapa cookies yang berbentuk karakter tokoh-tokoh princess dari Disney.


"Cantik tapi gak bisa dimakan."


"Kenapa gak bisa dimakan?"


"Terlalu sayang."


"Terima kasih, saya juga sayang kamu."


Rachel melirik kesal. "Maksudku cookies nya, terlalu cantik, jadi sayang kalau di makan."


"Memang dibuat untuk di makan kan?"


"Ah sudahlah, Laki-laki mana mengerti." Berjalan meninggalkan Mahavir.


Mahavir menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, lalu mengikuti kemanapun Rachel melangkah tanpa mempedulikan kakinya.


Tiba di depan sebuah kios aksesoris, Mahavir tiba-tiba menarik Rachel. "Sayang coba ini." Mengambil sepasang flat shoes yang terbuat dari kulit berwarna tortilla bermotif anyaman.


Rachel mengernyit tanda tak suka. "Warnanya sih oke, tapi modelnya ketuaan."


"Masa kamu tega melihat aku berjalan seperti ini?" Melihat ke bawah. Kedua kakinya saling bergesekan membersihkan kotoran yang menempel.


Rachel sedikit tidak tega melihatnya. "okey, pay for this one." Membuka sneakers Mahavir dari kakinya dan langsung memakai flat shoes berwarna tortilla yang sangat serasi dengan kulit kakinya.


"Not Bad." ucap Rachel.


Mahavir bernafas lega. Setelah membayar sepatu itu Mahavir membeli sebotol air mineral dan membersihkan kedua kakinya dengan ekspresi sedikit menggelitik. Mungkin kakinya sedikit kedinginan.


Melihat itu Rachel langsung mengeluarkan tisu dari dalam sling bag nya dan langsung berjongkok membersihkan kedua kaki Mahavir secara bergantian.


Mahavir sempat terkejut dengan perbuatan istrinya itu. Tidak menyangka perempuan cantik yang perfeksionis itu akan mau menyentuh dan membersihkan kakinya. Hatinya langsung terasa hangat, berjuta bunga seakan mekar di dalam hatinya.


Dengan perasaan yang berbunga-bunga Mahavir lanjut membawa Rachel mengunjungi Giant Market yang merupakan pasar terbuka, berlokasi di dekat terminal bus kota Oxford. Disana mereka mencicipi beberapa macam keju yang berasal dari berbagai tempat yang berbeda.


Dari pasar terbuka itu, Mahavir mengajak Rachel makan siang di salah satu cafe di Little Clarendon Street. Memesan Sepaket smoked salmon and cream cheese sandwich dan segelas teh hijau hangat. Mereka menyantap makanan itu dengan saling berbincang santai, sesekali Mahavir masih menjahili Rachel, tapi Rachel sudah tidak mau terpancing. Dia lebih memilih menikmati suasana yang terasa fantastis di musim gugur itu.


* * *


Maaf yah.. Up nya sedikit telat. Soalnya Author harus mempelajari peta Kota Oxford terlebih dulu 🀭😁 jadi mohon maklum kalau ada nama tempat atau nama jalan yang salahπŸ™ mohon di koreksi di kolom komen yah....


Peluk Cium dari Author... πŸ€—πŸ˜˜