
Hujan masih saja berjatuhan dengan derasnya, hembusan angin dingin semakin menusuk. Membuat Rachel dan Mahavir akhirnya masuk ke kabin kapal.
Rachel membuka longcoat yang membalut tubuhnya lalu berjalan mendekat ke arah jendela kabin yang berbentuk bulat dan mengamati curahan hujan dari balik kaca jendela itu. "Sepertinya hujannya akan awet."
"Iya, sepertinya begitu..." Ucap Mahavir sambil membuka jasnya lalu menarik dan melipat lengan kemejanya hingga ke siku. "Kamu tidak basah?"
Rachel menoleh ke arah Mahavir sambil menyugar rambutnya dengan jari-jarinya.
"Hanya rambutku yang sedikit basah."
"Mau mandi?"
"Tidak perlu, tak ada baju ganti disini." Rachel tersenyum lalu kembali menghadap ke jendela.
Dengan segera Mahavir mengambil handuk dari dalam rak susun yang ada di dalam toilet lalu kembali menghampiri Rachel.
Rachel yang tengah serius menatap hujan dari balik jendela tersentak saat tiba-tiba Mahavir mengeringkan rambutnya dari belakang.
"Ah, Vir... Kemarin handuknya, aku bisa mengeringkan rambut ku sendiri."
"Tak apa, biar aku saja..." Menggosok pelan anak-anak rambut Rachel. "Seperti inikan?"
"Hmmm..." Mengangguk pelan. "Kamu sudah bisa kerja di salon kalau kayak gini Vir...." Imbuhnya dengan tertawa kecil.
"Asal langganannya cuma kamu..... CUP." Mahavir mengecup pipi Rachel sekilas, membuat jantung Rachel berdebar tak karuan. Mahavir lalu kembali fokus mengeringkan Rambut Rachel dengan santainya. "Katakan kalau kamu butuh sesuatu." Ucapnya lagi.
"Mmm....se..sepertinya Red Wine tadi sangat cocok untuk menghangatkan kita dari udara dingin ini." Rachel mensedekapkan kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
"Tapi aku juga bisa menghangatkanmu..." Bisiknya sembari meniup-niup di leher Rachel.
Rachel melirik Mahavir dengan tatapan sedikit tajam dan menggeleng pelan, membuat Mahavir mengulum senyumnya.
"Mau aku ambilkan lagi?"
"Tak usah. Sebenarnya aku tidak terlalu terbiasa, hanya saja Red Wine yang tadi rasanya sangat enak, manis..." Rachel berucap kemudian menggerakkan lehernya sedikit menoleh ke arah Mahavir. "Sayang sekali kamu tidak sempat mencobanya. Seandainya tadi kamu mencicipinya sedikit saja, kamu pasti ketagihan."
Mahavir tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke bahu Rachel hingga hanya ada jarak tipis diantara wajah mereka. Jantung Rachel kembali berdegup lebih cepat. Kemudian dengan setengah berbisik Mahavir berucap di telinga Rachel. "Tapi sepertinya aku masih bisa mencicipinya sedikit."
Belum sempat Rachel bereaksi atas perkataan Mahavir, Mahavir langsung membalikkan tubuh Rachel menghadap padanya dan menyambar mengecup kedua bibir Rachel. Mencecap dan menikmati manisnya Red Wine yang masih tersisa pada permukaan bibir lembut dan hangat itu, berlama-lama disana mereguk manisnya.
"Ternyata kamu benar, rasanya sangat manis. Dan membuatku langsung ketagihan...." Bisik Mahavir di sela-sela ciumannya.
Rachel kehabisan kata-kata dan hanya bisa terdiam menikmati serangan yang dilakukan Mahavir pada bibirnya. Hanya deru nafasnya yang terdengar memburu, seiring detak jantung yang saling berkejaran bersama detak jantung Mahavir. Ciuman pun berlangsung semakin dalam dan liar. Membuat gelegar aneh yang terasa diantara mereka.
Pagutan mereka pun terhenti disaat nafas keduanya sudah terasa berat. Keduanya saling menarik nafas panjang dengan detak jantung yang masih berdendang dengan hebatnya. Terdengar begitu menggelora menandingi suara gemericik hujan yang turun.
Pelan-pelan Rachel kembali membalikkan badannya menghadap ke jendela dengan canggung, mencoba menyembunyikan rona-rona merah yang masih menghiasi wajahnya. Kehangatan yang terjadi diantara mereka membuat tampilan jendela kaca yang berbentuk bulat itu menjadi mengembun sehingga memperlihatkan pemandangan luar yang terlihat samar bagi mereka.
Masih dengan jantung yang tak terkendali, Mahavir mendekap Rachel dari belakang dan menenggelamkan tubuh langsing itu kedalam pelukannya sambil mendaratkan kecupan-kecupan kecil di leher istrinya itu.
Rachel terkesiap, namun masih terdiam. Ia belum mampu melawan getaran aneh yang ada pada dirinya. Hanya saja tangannya terangkat pelan mengusap kaca jendela dihadapannya yang masih berembun. Mengusap kaca itu hingga pandangannya keluar tak lagi samar.
"Rachel......" Bisiknya dengan nada penuh kelembutan.
"Hmmmm...." Rachel menjawab dengan kedua bibir yang saling mengatup.
"Sayang lihatlah curahan hujan itu, aku mencintaimu sebanyak tetesan hujan yang jatuh membasahi bumi, sebanyak air yang ada di sepanjang sungai Thames ini yang tak pernah kering. Sebanyak apapun yang tidak bisa kamu ukur seorang diri. Rachel sayangku..., walaupun kamu sudah berkali-kali mengatakan bahwa kamu mencintaiku, tapi aku sadar bahwa kata cinta itu belum tulus keluar dari hatimu. Sayang...aku harap perasaanmu padaku tidak seperti awan gelap yang hanya datang sesaat sebelum hujan, yang akan langsung menghilang begitu cerah kembali menyapa."
Mahavir melepaskan pelukannya lalu kembali membalikkan tubuh Rachel hingga mereka kembali saling berhadapan. Tangan Mahavir terangkat memegang dagu Rachel dan membuat wajah cantik itu terangkat memandanginya. Membuat kedua mata mereka saling bertemu. Menembus manik mata Rachel untuk kesekian kalinya.
"Apa kita bisa melanjutkan yang kemarin-kemarin sempat tertunda?" Tanyanya setengah berbisik.
Rachel mematung. Dentuman jantungnya yang begitu kuat membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Hingga kembali Mahavir mengecup bibirnya. Dapat Rachel rasakan hasrat yang begitu meluap-luap dari sorot mata laki-laki yang menciuminya dengan begitu lembutnya.
"Aku ingin ke tahap yang lebih jauh denganmu. Aku ingin mencumbumu dengan bebasnya, menikmati kehangatan bersamamu. Melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya. Tapi.....aku tak ingin menyentuhmu tanpa memastikan rasa yang ada pada hatimu. Untuk itu bisakah kamu jujur padaku atas apa yang hatimu rasa saat ini? Rasa yang sebenarnya tanpa ada paksaan dariku. Apakah rasa itu benar sudah ada untukku atau tidak?" Cecarnya.
"Aku... aku....."
"Tapi, kalau rasa itu memang belum ada, aku tak apa. Jangan merasa terbebani dan merasa bersalah padaku. Jujurlah kepada perasaanmu sendiri." Mengecup kening Rachel dengan lembut dan sedikit lama.
"Vir......" Ucap Rachel seraya memegangi tangan Mahavir yang kini menangkup kedua pipinya.
"Aku tak apa. Aku akan selalu menunggu." Mahavir berucap bersamaan dengan kedua tangannya yang terlepas dari pipi Rachel. Terlihat jelas guratan kecewa pada raut wajahnya, tapi masih berusaha keras menghadirkan senyum pada wajahnya. "Istirahatlah, aku akan keluar dulu sebentar." Berbalik dan hendak melangkah. Namun dari belakang Rachel langsung memeluknya.
"Aku mencintaimu Vir..." Lirihnya dengan intonasi yang begitu rendah. "Tetaplah disini, jangan kemana-mana, temani aku. Lakukanlah, aku sudah siap...." Racaunya tanpa sadar.
Kedua mata Mahavir membulat sempurna, kedua alisnya terangkat. Ia kemudian berbalik. Seulas senyum hadir di wajahnya. "Apa aku tidak salah dengar?" Menatap wajah Rachel dengan intens.
Rachel terperangah sesaat. pelan-pelan mengangguk kemudian menunduk malu, wajahnya kembali merona menerima tatapan teduh nan menuntut dari Mahavir.
"Lihat aku, aku tak akan percaya kalau kamu tidak mau melihat wajahku."
Dengan malu-malu Rachel mengangkat wajahnya, menatap Mahavir dan memperlihatkan senyumnya. "Jangan menatap ku seperti itu...." Ucapnya sambil berusaha menghalangi pandangan Mahavir dengan menaikkan tangannya dan menutupi wajahnya.
"Tak usah malu, aku bahkan sudah beberapa kali melihat keseluruhan tubuhmu. Hanya saja belum....." Menghentikan ucapannya dan hanya menatap kedua mata Rachel. Sorot matanya terlihat sudah sangat berkabut penuh hasrat.
Menyadari hal itu, Rachel menarik tangan Mahavir dan menempelkannya ke pipinya. "Kamu boleh melakukannya..."
Mahavir menggeleng, tangannya bergerak mengelus pipi itu lalu mengecupnya dengan lembut. "Jangan terburu-buru, aku tak mau kamu menerimaku hanya karena terbawa suasana. Yang kuingin hatimu, bukan kehangatanmu di atas ranjang."
"Tapi... Tapi aku menginginkannya saat ini juga..." Ucapnya lalu memeluk tubuh Mahavir dengan eratnya. "Lakukanlah, aku menginginkanmu tulus keinginan dari hatiku..."
Selama beberapa detik hanya ada keheningan diantara mereka yang saling berpelukan, hanya ada suara detak jantung dan samar-samar suara gemerisik air hujan yang menjadi pemecah keheningan itu.
Lama menunggu, Rachel melepaskan pelukannya lalu menengadahkan kepalanya menatap wajah Mahavir. "Kamu belum mempercayaiku?"
Senyum lembut terulas dari bibir Mahavir, ia menggeleng pelan lalu mengecup kening Rachel.
"Aku mempercaimu. Hanya saja......"
"Hanya saja....??"
"Hanya saja... Saat ini aku berusaha untuk mencoba menahan diri......" Mahavir berucap lirih dan kembali memeluk Rachel dengan eratnya dan mengecup pucuk kepala wanita itu berulang kali.
"Aku...aku takut langsung mencabik-cabik dirimu, aku takut menyakitimu. Sekarang hasratku sedang berada diatas puncaknya." Lanjutnya dengan suara serak penuh nafsu.
Detak jantung Mahavir kini semakin terdengar begitu jelasnya menyapa gendang telinga Rachel. Perlahan Rachel melepaskan pelukan itu, kedua tangannya lalu terangkat ke atas dan melingkar di leher Mahavir. Dengan sedikit berjinjit, Rachel mendaratkan ciumannya di bibir Mahavir. "Lakukanlah, sekarang aku mempercayaimu. Kamu tidak akan menyakitiku sedikitpun."
Masih dengan degupan jantung yang saling berkejaran, Mahavir langsung menyambar bibir Rachel. Menciuminya dengan begitu rakusnya. Mencumbu dan meneguk manisnya. Hingga kemudian Rachel merasakan tubuhnya sudah melayang dalam gendongan Mahavir.
Dengan perlahan Mahavir membaringkan tubuh wanita yang begitu sangat dicintainya ke atas ranjang tanpa melepas pagutan bibirnya sedikitpun. Tangannya mulai bergerak melepas satu-persatu benda yang melekat pada tubuh istrinya itu dan pada tubuhnya sendiri. Sejenak Mahavir terdiam sambil mengamati tiap inchi tubuh polos istrinya dengan tatapan memuja, sebelum pada akhirnya mengeksplor seluruh permukaan kulit tubuh yang mulus itu dengan kedua bibirnya.
"Vir,...." Lirih Rachel saat menyadari Mahavir sudah berada dalam posisinya.
"Mungkin akan sedikit sakit, tapi aku akan melakukannya dengan lembut dan perlahan..." Ucapnya lalu mengecup kening Rachel dengan hangat dan memulai penyatuannya.
Suara tetesan hujan yang semakin deras menjadi lantunan syair yang syahdu menemani kegiatan dua insan yang saling memadu kasih. Malam ini menjadi malam panjang bagi mereka berdua. Rachel menyerahkan segalanya kepada Mahavir, dan Mahavir-pun memperlakukan Rachel dengan begitu sangat hati-hati. Begitu lembut dan penuh cinta. Gejolak hasrat yang begitu tinggi kini sudah menenggelamkan keduanya dalam pusara kenikmatan dunia yang mereka ciptakan. Tanpa mereka sadari akan apa yang akan terjadi pada mereka kedepannya.
Sementara di tempat berbeda,
Risya yang baru keluar dari dalam kamarnya langsung menghampiri Bryan yang duduk di ruang santai sambil memainkan ponselnya.
"Kak Bry, kak Rachel belum pulang? Ini sudah tengah malam."
"Sepertinya malam ini kak Rachel tidak akan pulang."
"Memangnya kak Rachel kemana?"
"Pagi tadi Mr. Stuart bilang kalau Kak Vir akan pulang. Mungkin saat ini kak Rachel sedang bersama kak Vir."
"Kak Bry sudah memastikan? Coba telfon dulu."
"Tidak usah, nanti malah mengganggu mereka." Ucap Bryan dengan cueknya dan pandangan serius kepada layar ponselnya.
"Serius amat sih kak. Main apaaan?" Merapatkan tubuhnya ke samping Bryan, hingga tak ada lagi jarak diantara mereka.
"Astaga Risya, ngapain dekat-dekat begitu." Melompat dan menjauh dari Risya.
"Aku kan penasaran mau liat." Ucapnya dengan menggembungkan kedua pipinya sambil memonyongkan kedua bibirnya.
"Hahah.. Kalau wajah mu begitu persis seperti balon tiup." Bryan tertawa lalu menjulurkan telunjuknya menekan pipi yang menggembung itu hingga mengempes. "Cusss....balonnya meletusssss...." Ledeknya dengan tertawa lepas
"Ihh, gak lucu..."
"Tapi wajahmu lucu...."
"Tau ah...." Risya bangkit dan kembali masuk ke kamar dengan membanting pintu.
"Yahhh... Awas.... Rumah ini berhantu loh....." Teriak Bryan di depan kamar Risya.
"GAK TAKUT." teriak Risya dari dalam sana.
Bryan yang entah mengapa merasa senang mengerjai Risya kini menggaruk-garuk pelan daun pintu kamar Risya dan mengeluarkan bunyi-bunyi aneh dari mulutnya.
Lima menit berlalu, tapi tak ada balasan Risya dari dalam sana. Bryan pun berhenti dan mengetuk kamar itu. "Kamu sudah tidur? Kamu tidak apa-apa kan?"
Tak ada sahutan dari dalam kamar. Bryan kembali ingin mengetuk, namun daun pintu itu akhirnya terbuka.
"Kak Bry lapar gak?"
"Hah?" Bryan menautkan kedua alisnya.
"Aku punya mie instan Ind*mie goreng yang Risya bawa dari Indonesia." Ucapnya sambil memamerkan dua bungkus mie instan dengan bungkus plastik berwarna putih.
"Wah, asyik nih... Kebetulan. Bagi satu yah."
"Tapi kak Bry yang masakin yah? Risya gak biasa masak."
"Minta bantu sama Bik Inah saja."
"Kak Bry gak tahu? Bik inah kan gak nginap di sini. Bik inah hanya datang di pagi hari dan pulang saat selesai membuat makan malam."
"Pantas saja aku jarang melihat Bik Inah saat malam hari."
"Itulah, kak Bry hanya tenggelam dalam kehidupan kak Bry sendiri. Sampai tidak memperhatikan kehidupan sosial sekelilingnya."
"Sok tahu kamu!"
"Emang benar gitu kan?" Ucap Risya dengan mencibir, lalu kemudian kembali bertanya. "Kak Bry juga gak tahu masak mie instan?"
"Tau lah..."
"Mana buktinya?"
"Ayo." Menarik tangan Risya menuruni anak tangga hingga ke pantry. "Kamu duduk dan lihat saja. Biar aku yang masak." Bryan pun langsung memakai apron yang tersampir di pintu kitchen set lalu menyalakan kompor listrik. Dengan cekatan tangan pemuda itu bekerja dengan lincahnya.
"Bisa pakai telur ceplok gak kak?"
"Kamu yah, dikasih hati minta jantung."
"Kalau sekalian minta cinta boleh?" Canda Risya yang langsung mendapat tepukan di keningnya dari tangan Bryan.
"Masih bocah sudah cinta-cintaan."
"Kan bercanda kak, ihh... Kak Bry gak seru." Ucapnya sambil mengusap keningnya bekas tepukan Bryan.
"Ya sudah, mau berapa telurnya?"
"Satu saja cukup kak."
"Ok, nona manis..." Ucap Bryan keceplosan. "Upss, nona manja maksudku..." Ralatnya.
Risya menggerak-gerakkan jari telunjuknya. "No.. No... No... Ucapan pertama yang berlaku."
"Iya, iyya... Kamu menang." Bryan menggeleng dan tertawa kecil, kemudian fokus memecahkan telur di atas teflon.
"Kak telurnya setengah matang yah. Kuningnya jangan terlalu masak, tapi jangan terlalu mentah juga. Yah.. Diantaranya begitu." Ucapnya sambil menengok telur yang ada dalam penggorengan.
"Iya bawel...."
"Gorengnya pakai minyak atau butter kak?"
"Mie nya jangan terlalu masak ya kak."
"Ada kecap gak kak? Kalau ada tambahin dikit dong di mie punya Risya.
"Kecapnya jangan kebanyakan yah kak."
"Oh iya...Kalau ada, kasih cabe rawit nya tiga biji yah kak!"
"Astaga Risya!! Diam aja bisa gak? menghela nafas kasar, mematikan kompor lalu meletakkan spatula di atas meja pantry berbahan marmer.
"Nih, kamu bikin sendiri saja!"
"Sorry.. Sorry kak... Heheh..." Kembali memberikan spatula ke tangan Bryan. "Risya bakal diam, oke?" Membentuk jari telunjuknya dengan jari jempolnya menjadi huruf O.
Risya pun terdiam dengan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Bryan kembali menyalakan kompor dan melanjutkan aksi masak memasaknya. Beberapa menit berlalu, dua porsi mie instan goreng lengkap dengan telur ceplok kini sudah ada di hadapan keduanya.
* * *
Happy Reading... 🥰
peluk cium dari Author 🤗😘