
Pagi ini matahari tidak terlalu nampak, hanya sepercik cahaya yang menyingkap dibalik awan. Udara pun masih dibawa suhu normalnya. Namun dipagi ini Mahavir sudah nampak rapi dengan kemeja berwarna light brown dipadukan celana bahan berwarna hitam.
Hari ini ia akan mengantar adik ipar kesayangannya ke universitas di Oxford untuk mengambil seragam ceremony dan mengurus keperluan lainnya sebelum masuk asrama esok. Sebenarnya Mahavir bisa saja meminta Stuart untuk kembali mengurusnya, namun Bryan menolak dan tak lagi ingin mendapat perlakuan khusus. Apalagi setelah Bryan mengetahui latar belakang Stuart dulu, membuatnya semakin sungkan merepotkan lelaki berdarah Skotlandia itu.
Mahavir kembali mematut penampilannya di dalam cermin, namun ekor matanya sesekali melirik sosok cantik yang masih bergelung dibawah selimut. Kedua bibirnya melengkung membentuk senyuman lalu melangkah menghampiri tempat tidur dan duduk di pinggirannya.
"Sayang...." Panggilnya dengan lembut. "Aku berangkat dulu yah...." Pamitnya lalu mengecup pipi dan kening Rachel.
Rachel menggeliat dan membuka matanya perlahan. "Eh, Vir...." Ucapnya sambil mengamati penampilan rapi suaminya itu. "Sudah mau jalan?" Lanjutnya sembari mengangkat tubuhnya hingga terduduk dan bersandar pada headboard tempat tidur.
"Iya sayang..." Mengelus pipi Rachel dan mengecupnya lagi. "Siang nanti Stuart yang akan mengantarmu dan Risya ke Bandara. Aku akan usahakan pulang tepat waktu, kita bertemu disana yah." Ujarnya lalu bangkit berdiri dan meraih Longcoat berbahan wol berwarna cokelat gelap dari dalam lemari walk in closet.
Rachel ikut bangkit berdiri, membantu Mahavir memakai Longcoat nya lalu beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Sementara di ruang lainnya, Bryan yang terduduk di pinggir tempat tidur tampak mengamati wajah polos Risya yang masih terlelap. Jarinya bergerak mengelus lembut pipi gadis itu.
"Ris...." Panggilnya, berusaha membangunkan gadis itu untuk berpamitan. Namun Risya hanya mengernyit sesaat namun kembali terlelap. Pengaruh alkohol semalam membuat matanya masih berat untuk terbuka.
Bryan menghela nafas panjang, lalu mengulum senyumnya. "Sampai jumpa... Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu..." Bisiknya lalu mendaratkan bibirnya di kening Risya dengan lembut. Setelahnya ia beranjak keluar dan menutup pintu dengan pelan.
"Sudah selesai?" Tanya Mahavir, mengagetkan Bryan yang baru keluar dari kamar Risya. Bryan mengangguk lalu meraih trench coat berwarna dark grey yang tersampir di sandaran sofa. Kemudian keduanya beranjak turun untuk sarapan. Setelah sarapan singkat keduanya pun langsung berangkat dengan mengendarai mobil sport milik Mahavir.
* * *
Siang hari Rachel membantu Risya berkemas dan bersiap-siap. Tak lupa pula Rachel memberikan Risya dress yang sudah dijanjikannya.
"Ris, nih buat mu. Kenang-kenangan dari kak Rachel dan kak Vir." Rachel berucap sembari menyerahkan paperbag dengan label Rachel_Langdon.
Risya menerimanya dengan sumringah dan langsung mengeluarkan isinya. Sebuah dress selutut yang cantik berwarna broken white berbahan lace pada bagian dada dan bahan heavy silk pada bagian roknya, dengan aksen draperi yang lembut. "Wah...cantik sekali kak...." Pujinya sambil menempelkan dress tersebut di tubuhnya. "Risya coba sekarang ya kak."
"Silahkan cantik." Ucapnya lalu membantu Risya memakai dress elegan itu.
"Ini sih gaun pengantin versi mini kak." Risya berucap sambil berputar-putar hingga rok bagian bawahnya mengembang.
"Kamu suka?"
"Banget kak, Risya akan pakai saat ultah Risya nanti. Makasih kak Rachel." Melompat memeluk serta mencium pipi kanan dan kiri Rachel.
"Oh iya Ris, semalam kamu minta harta karun kak Vir, saputangan gitu kalau kak Rachel tak salah dengar. Saputangan apa?"
Risya menaikkan kedua alisnya. "Harta karun? Kapan Risya ngomong gitu kak?"
"Semalam kamu sedikit hangover, jadi sedikit meracau." Rachel berucap sembari menahan senyumnya, takut Risya malu dengan kelakuannya.
"Masa sih kak?" Mengerjap-ngerjapkan kedua matanya mencoba mengingat-ingat. Sambil tangannya berusaha membuka resleting belakang dressnya.
"Tak usah mengingatnya, kamu hanya tertidur." Ujarnya seraya membantu Risya membuka dressnya dan memakai kembali baju yang sebelumnya. "Lalu saputangan yang kamu maksud itu apa Ris?"
"Oh itu.....itu loh kak saputangan motif princess yang ada di dalam kotak besi berwarna gold yang ada di ruangan kak Vir. Kata kak Bry itu dulunya milik kak Rachel. Tapi kata kak Bry, kak Rachel tidak boooOO...UUUUuupppssss." Refleks Risya mengatupkan kedua bibirnya saat tersadar sudah keceplosan.
Saputangan Princess? Dulunya milikku??
Rachel mencoba mengingat-ingat, namun kejadian 15 tahun lalu yang sudah sangat begitu lama belum membuatnya mengingat apapun. Beberapa potong ingatannya juga banyak yang hilang setelah menjalani terapi dan trauma healing setelah kejadian yang menimpanya dulu.
Rachel pun mengangkat kedua alisnya meminta penjelasan Risya. Dia masih belum mengerti maksud perkataan gadis itu. "Kak Rachel tidak bo...apa Ris?" Tanyanya.
"Ah, tidak kak. Mmmm.. Itu... Itu..." Menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil otaknya mencari alasan.
"Kak Rachel tak boleh tahu yah?" Tanyanya menyelidik. "Katanya itu milik kak Rachel, kok kak Rachel tidak boleh tahu sih?" Pancingnya.
"Mmmm.. Mmmm.. Kata kak Bry itu kejutan buat kak Rachel nanti." Bohongnya sambil tersenyum canggung.
"Oh, yah?" Rachel berucap dengan tersenyum. "Risya tak bohong kan?"
"Risya... Risya....." Risya menggigit-gigiti bibir bawahnya, ia tak biasa berbohong, tapi tak tahu juga akan berkata apa lagi.
"Ris...."
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu kamar mengagetkan Risya sekaligus membuatnya bernafas lega. Daun pintu terbuka dan bik Inah muncul di baliknya.
"Maaf Ny.Muda, Tuan Stuart sudah datang dan menunggu di ruang kerja." Ucap bik Inah lalu membantu Risya membawa koper dan barang-barang hasil shoping-nya bersama Bryan tempo hari.
Tepat pukul dua siang, Mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Stuart pun meninggalkan pelataran private park gedung penthouse. Setelah perjalanan kurang lebih sejam, akhirnya mereka sampai di Bandara Heathrow.
Rachel merangkul Risya berjalan di Koridor bandara, sementara Stuart berjalan di belakang sambil menarik koper Risya di tangan kanannya dan menenteng Travelbag di tangan kirinya yang berisi barang hasil belanjaan Risya.
Di depan pintu masuk keberangkatan sudah berkumpul kawan-kawan Risya beserta dua guru pembimbing.
"Sepertinya Kak Vir dan Bryan telat kesini." Ujar Rachel sambil menengok jam di tangan kirinya.
"Tak apa kak." Risya berucap sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar lalu kembali memandangi Rachel. Tersenyum lebar lalu memeluknya. "Makasih kak Rachel. Risya senang mengenal kak Rachel, Risya senang tinggal di rumah kakak. Maafkan Risya yah kak, kalau Risya ada salah selama tinggal di rumah kakak. Baik yang sengaja atau tidak sengaja Risya lakukan. Salam buat kak Vir dan kak Bry. Sampaikan Terima kasih Risya buat mereka." Ujarnya sedikit terisak di pelukan Rachel.
"Iya cantik, kak Rachel juga senang dengan kedatangan Risya. Risya membuat rumah kakak jadi ramai. Kalau nanti Risya liburan, datang lagi yah...nanti biar kak Rachel yang belikan tiketnya."
Risya mengangguk dan mendongakkan kepalanya memandangi wajah Rachel. "Makasih kak Rachel." Ucapnya tulus, kemudian melepaskan pelukannya lalu mengambil alih barang-barangnya dari tangan Stuart.
Risya melangkah sambil melambai-lambaikan tangannya pada Rachel kemudian berlari kecil menuju pintu masuk dimana kawan-kawannya menunggu. Semuanya ikut melambai ke arah Rachel lalu masuk dan menghilang dibalik kerumunan.
Saat Rachel dan Stuart berbalik hendak beranjak dari tempat itu, Bryan muncul dari kejauhan sambil berlari.
"Risya nya mana kak?" Tanyanya dengan terengah-engah saat sudah di hadapan Rachel.
"Barusan masuk. Kamu telat."
Bryan menghela nafas kasar. Raut wajahnya terlihat kecewa. Ia pun berjongkok menormalkan pernafasannya.
"Vir mana?" Tanya Rachel, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Aku tinggal di parkiran. Kak Rachel duluan saja bersama kak Vir. Biar aku pulangnya sama Mr. Stuart."
"Tunggu nafasku normal dulu, aku masih lelah sudah berlari dari parkiran tadi."
"Ya sudah. Aku duluan yah." Menepuk pundak Bryan yang masih berjongkok, lalu berbalik ke arah Stuart. "Mr. Stuart pulangnya bersama Bryan yah."
"Baik Mrs. Alister." Ucapnya dengan menunduk sopan. Setelahnya ia berjalan menuju mesin minuman dan membeli sebotol minuman untuk Bryan.
"Tuan muda Bryan ini minum dulu."
Bryan bangkit berdiri dan menerima botol minuman dari Stuart. Saat sedang meneguk minuman itu, derap langkah kaki berlari dan suara nyaring yang memanggilnya membuatnya tersedak. "Uhhukkk.. Uhukkk."
"KAK..." Teriak Risya sambil berlari menghampiri Bryan dan Stuart.
"Ada kelupaan yah nona?" Tanya Stuart begitu Risya sudah di hadapannya.
"Itu...Sepatu kesayangan Risya sepertinya tertinggal satu yang sebelah kanannya. Tadi Risya lihat waktu masuk pemeriksaan cuma ada satu." Ucapnya sambil terengah-engah.
Bryan mengusap bekas minuman yang tertumpah di dagunya, lalu tersenyum sambil mengacak rambut Risya. "Dasar ceroboh. Periksa baik-baik, mungkin saja terselip diantara barang lainnya." Ucapnya.
"Oh iya juga yah. Okey kak, Risya masuk dulu. Sudah mau check-in."
"Ris..." Bryan langsung menarik tangan Risya. "Boleh peluk?" Tanyanya.
Risya tersenyum lalu langsung memeluk Bryan. "Makasih kak Bry selama seminggu ini sudah bawa Risya jalan-jalan. Maafkan Risya kalau ada salah sama kak Bry yah."
"Iya Ris...! Sorry juga kalau aku ada salah. Liburan nanti datang lagi yah."
"Mmmm... Gak janji deh, kan Risya gak boleh naik pesawat sendiri."
"Kalau begitu sering-sering beri kabar yah."
"Okey kak." Ucapnya lalu melepaskan pelukannya.
"Take Care yah Ris..." Ucapnya mengusap pucuk kepala Risya.
"Thanks kak Bry." Tersenyum dengan manisnya lalu sedikit membungkuk di depan Stuart. "Mari Mr. Stuart." Ucapnya lalu berjalan mundur sambil melambaikan tangan kemudian berbalik dan berlari kembali menuju pintu masuk.
Saat memandangi punggung Risya yang menjauh, ponselnya berbunyi. Bryan mengecek ponselnya dan terlihat nama 'My Sweetheart' pada tampilan layarnya.
Sejenak Bryan memandangi layar ponselnya dan punggung Risya secara bergantian. Hingga akhirnya Bryan memejamkan matanya dan berbalik. Ia pun mengusap simbol warna hijau pada layar ponselnya sambil melangkah menuju parkiran diikuti oleh Stuart disampingnya.
"Halo ian..." Sapanya diujung sana. "Gimana tadi di kampus?"
"Semuanya lancar berkat kak Vir. Lagi ngapain?" Tanyanya sambil melirik jam di ponselnya. "Dinas malamnya sudah selesai?" Lanjutnya.
"Iya sudah selesai, ini sudah dirumah kok. Oh, iya besok kamu masuk asrama kan?"
"Iya, tapi kuliahnya baru aktif minggu depannya."
"Mmmmmm... Ian...."
"Yah, kenapa Aya?"
"Itu... Soal hubungan kita. Mama dan papaku sudah tahu. Mommy mu yang memberitahukan mereka. Dan mereka ingin kita bertunangan."
Kedua mata Bryan langsung melebar. Ia menelan ludahnya susah payah.
"Ian....?"
"Ah, iya kenapa Aya?"
"Yah itu, aku mau menanyakan pendapatmu."
"Aya maunya bagaimana?"
"Mmmm... Ian... Sebenarnya aku...." Terdiam selama beberapa saat, lalu terdengar suara helaan nafas.
"Tak apa, jujur saja...."
"Sebenarnya... Aku masih belum yakin dengan hubungan kita, kita kan masih baru menjalin hubungan. Itupun dengan jarak jauh. Kalau langsung tunangan ataupun menikah, sepertinya...." Kembali terdiam.
"Aku mengerti. Oh iya, mungkin kedepannya kalau aku sudah fokus belajar, aku akan jarang menelfon."
"Tak apa. Tapi Kamu tidak marahkan?"
"Tidak, aku tak marah. Nanti aku telfon mommy dan menjelaskannya."
"Makasih Ian...Take care disana yah...salam sama Rachel."
"Iya nanti aku sampaikan. Thanks dear..." Bryan menarik nafas panjang lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku coat-nya.
Stuart yang berjalan di sampingnya tersenyum lalu menepuk pundaknya. "Berada di antara dua hati itu sangat menyesakkan. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari." Ucapnya lalu membukakan pintu mobil buat Bryan.
"Ah aku di depan saja bersama Mr. Stuart." Membuka pintu depan samping kanan lalu masuk duduk di sana sambil tertegun memikirkan perkataan Stuart. Terus terdiam hingga sampai di Penthouse.
Bryan terus melangkah masuk ke Penthouse dan tanpa sadar kakinya malah membawanya ke kamar yang sebelumnya di tempati oleh Risya. Ia menyunggingkan senyumnya lalu duduk di tepi tempat tidur. Namun ia segera beranjak karena merasa menduduki sesuatu. Bryan pun menyibak selimut dan mendapati sepatu Risya yang di carinya tadi. Sneakers berwarna putih dengan motif minnie mouse di bagian samping luarnya.
Astaga ternyata Cinderella ku melupakan satu sepatunya....
Bryan tertawa lalu menghempas tubuhnya ke belakang, berbaring di atas kasur sambil terus mengamati sneakers yang di pegangnya. Aroma tubuh Risya yang masih membekas pada bantal dan selimut yang biasa digunakan gadis itu menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Bryan menarik bantal dan menutupi wajahnya dengan bantal itu sambil menertawakan dirinya yang sudah merindukan gadis kecil itu.
* * *
Keesokan harinya, Mahavir kembali mengantarkan Bryan ke Oxford. Kali ini Bryan sudah membawa koper berisi pakaian, buku-buku dan keperluan lainnya untuk beberapa bulan kedepan. Karena di musim dingin nanti di bulan Desember ia akan libur selama beberapa minggu dan kembali ke mansion. Jadi barang-barang yang di bawa pun tidak terlalu banyak.
Kali ini Rachel tak ikut mengantar karena tiba-tiba Merry menghubunginya dan mengatakan bahwa pihak dari Production House yang akan di sponsori-nya memajukan jadwal dua bulan lebih cepat dari rencana awalnya.
Rachel pun kembali berkutat di balik meja kerjanya. Berfokus membuat beberapa desain sesuai permintaan kliennya. Bahkan saat Mahavir kembali dari Oxford, Rachel masih tenggelam dalam tumpukan desain dan bahan-bahan.
* * *