Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 76.Rencana Granny.


Sementara di kediaman Granny,


"HAHHAHHHAHH..." Suara tawa Granny yang terpingkal-pingkal karena mendengar Risya berceloteh terdengar menggema ke seluruh sudut ruangan.


Seluruh penghuni dari bangunan berdesain gaya Tutor Revival itu tampak sedikit keheranan. Jangankan tertawa, bahkan tersenyum pun sangat jarang di jumpai di wajah sesepuh yang sudah dipenuhi kerutan-kerutan itu. Malah selama ini kesan dirinya yang ada dalam pikiran cucu-cucunya adalah seorang nenek yang tegas dan dingin. Seorang Mahavir pun sangat takut berhadapan dengannya. Tapi hari ini, seorang gadis belia berhasil membuatnya terpingkal-pingkal.


"Sudah, sudah, perut Granny sudah terasa kram karena kebanyakan tertawa." Ucap Granny, meraih tongkatnya dan bangkit dari duduknya. "Kalian nginap disinikan? Granny udah ngantuk, mau tidur duluan. Pokoknya besok pagi granny bangun mau liat kalian berdua. Jadi tidak ada kata kabur-kabur." Perintah Granny.


Bryan mengangguk pelan sambil mengusap tengkuknya. Sementara Risya hanya menatap Bryan dan Granny yang sudah berjalan menjauh dipapah oleh Anna dengan wajah kebingungan.


"Kak Bry, kita nginap disini?" Bisiknya yang langsung diangguki oleh Bryan.


Bryan berdecak kesal sambil menghubungi ponsel Mahavir dan Rachel bergantian. "Kak Vir mana sih. Tau begini, siang tadi aku langsung kesini saja." Gerutunya. "Pasti lagi berdua-duan lagi nih." Lanjutnya lagi lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Tak usah menggerutu begitu. Tau kan Granny orangnya memang suka maksa begitu. Lagian kamu juga baru muncul begitu mau masuk asrama. Datang-datang bawa cewek lagi." Ujar Lily sembari menarik tangan Risya. "Ayo Ris, ke kamar kak Lily." Ajaknya.


Risya mengikuti Langkah Lily masuk ke kamarnya, lima menit kemudian Bryan ikut masuk dan duduk di samping Risya di atas karpet.


"Ngapain ikut kesini?" Tanya Lily. Matanya terus mengamati kelakuan Bryan yang tak mau pisah dari Risya.


"Lalu aku kemana?"


"Di atas sana, biasa juga kamu mengeram di atas sepanjang waktu kalau kesini."


Bryan menggerutu lalu menarik Risya untuk ikut dengannya.


"Eh, mau dibawa kemana Risya nya?" Lily langsung mencegat tangan Bryan.


"Mau kubawa ke kamarku di atas."


"Mau ngapain?" Mengernyit sesaat lalu sedetik kemudian mengerling nakal dan menaik turunkan kedua alisnya.


"Apa? Itu pikiran jangan kotor." Bryan menjentikkan jarinya ke kening Lily.


"Sakit tahu!" Membalas dengan menepuk kepala belakang Bryan. "Lalu mau ngapain berduaan di atas?"


"Aku cuma mau perlihatkan koleksi miniatur figure Harry Potter dan Sherlock Holmes ku." Ucapnya sambil mengusap kepalanya yang ditepuk oleh Lily.


"Kak Bry punya miniatur figurenya?" Tanya Risya menyela.


"Iya banyak. Mau lihatkan?"


Risya mengangguk, tersenyum girang sambil melompat-lompat kecil.


"Kak Lily ikut naik juga kalau curiga." Ujar Bryan lalu menarik Risya menaiki tangga menuju loteng paling atas. Sebuah ruang kamar di bawah atap dengan desain khas kamar anak laki-laki bernuansa biru gelap dengan langit-langit berbentuk miring bertempelkan stiker tata surya dan jendela kecil yang menjorok keluar di samping tempat tidur.


"Ini kamar kak Bry?" Tanyanya sambil ikut duduk di samping Bryan dan mengedarkan pandangan mengamati desain kamar yang serupa seperti yang biasa dilihat nya di film-film barat.


Bryan mengangguk sembari menarik box besar yang terbuat dari anyaman kulit. Membukanya dan mengeluarkan isinya. "Lihat, aku punya banyak kan."


"Wah, banyak amat. Ini ori ya kak?" Menatap penuh takjub miniatur figure di dalam box. "Boleh ku foto?" Tanyanya lagi sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya.


"Boleh, kalau kamu mau ambil saja yang mana yang kamu suka."


"Figure Princess ada gak kak?" Tanyanya sambil menghambur miniatur Bryan keluar dari box itu dan memotretnya.


"Hah? Princess? Memangnya aku cewek." Dengusnya.


"Hehehe, bercanda kak." Ucapnya lalu mengambil sepasang miniatur dewi dan kesatria. "Kak Bry, aku minta yang ini yah."


"Loh kok yang itu, bukan Harry Potter atau sherlock Holmes?"


"Gak, ini aja. Ini membuat Risya mengingat kak Bry. Figure ksatria ini kak Bry dan dewi ini Risya." Ucapnya lalu tersenyum-senyum ke depan wajah Bryan. "Mirip dengan karakter kita di game kan?" Lanjutnya dengan mengedip-ngedipkan matanya, hingga bulu mata lentiknya bergerak naik turun.


Bryan langsung memalingkan wajahnya dan menyibukkan dirinya mengatur kotak-kotak action figure lainnya karena salah tingkah melihat senyum Risya yang menggemaskan. "Kamu bisa ambil yang lain lagi kalau ada yang kamu suka." Ucapnya tanpa melihat ke arah Risya.


"Boleh?"


"Hmmm..." Menganggukkan kepala.


"Makasih kak Bry." Ucapnya, langsung memeluk Bryan dan mendaratkan bibirnya di pipi Bryan sekilas. "Wah, mimpi apa Risya semalam dapat miniatur ory dan super mahal seperti ini." Gumamnya dengan mata berbinar-binar tanpa menghiraukan keadaan Bryan yang sudah mematung di tempatnya.


Tubuh Bryan bergetar, jantungnya terpompa kuat bahkan terasa akan melompat keluar dari tempatnya. Tangannya terangkat memegang pipinya bekas bibir Risya. Ya Tuhan... Jantungku mau copot...Mau pingsan rasanya....


"Kak Bry, figure yang ini boleh buat Risya?" Bryan mengangguk dengan tatapan kosong.


"Yang ini?" Bryan kembali mengangguk.


"Kalau yang ini?" Lagi-lagi Bryan mengangguk, persis seperti mainan yang biasa ada di dashboard mobil.


"Wah makasih kak Bry." Kembali Risya ingin memeluk Bryan, namun Bryan langsung menghindar.


Bryan terus menerus mengamati Risya, ia pun menyadari kalau gadis belia itu tidak nyaman dengan pakaiannya. Atau lebih tepatnya Bryan yang tidak nyaman melihat Risya yang menggunakan dress di atas lutut, duduk dengan serampangan dan berkali-kali memperlihatkan paha mulusnya. Bryan pun bangkit berdiri dan membuka lemari. Mengambil dua kaos dan satu celana training. "Ris, mau ganti kaos?" Tanyanya sambil menyodorkan kaos dan celana trainingnya.


"Kaos kak Bry?"


"Atau mau kaos kak Lily?"


"Itu aja kak, nanti merepotkan kak Lily." Menarik setelan kaos dari tangan Bryan. "Ganti dimana?"


"Ah, disitu. Dibelakang rak itu ada toilet." Tunjuknya.


Risya langsung ke toilet itu dan mengganti pakaiannya dengan cepat. "Kak Bry ini kaos waktu kak Bry masih kecil yah?" Tanyanya sambil melangkah ke arah Bryan yang bertelanjang dada dan baru saja akan memakai kaosnya. Risya malah melototi tubuh Bryan.


"Astaga Ris, balik sana." Ucapnya, buru-buru memakai kaosnya.


"Alah, tak usah malu sama Risya. Risya malah sudah biasa lihat kak Rey cuma pakai kolor kalau di rumah. Kakak Risya kan cowok semua." Ucapnya dengan santai lalu duduk di ranjang sambil memegangi dengan tatapan takjub beberapa miniatur yang sudah dipilihnya tadi tanpa merasa canggung. Justru malah Bryan yang berkeringat dingin saat ini.


"Ya, ngapain berdua?" Tanya Lily mengagetkan Bryan dan Risya yang muncul tiba-tiba dari ambang pintu sambil membawa nampan dengan beberapa cemilan dan dua gelas coklat hangat.


"Dasar otak dan pikiran kotor terus." Bryan mengetok kepala Lily.


Lily mendengus dan melotot tajam. Meletakkan nampan di atas rak buku lalu mengambil kotak permainan dari dalam laci rak. "Main monopoli yuk Ris."


"Ayukk..." Risya melompat turun ke lantai yang beralas karpet.


Lily, Bryan dan Risya pun bermain monopoli hingga tengah malam dan akhirnya ketiganya tertidur di atas karpet di kamar loteng itu. Tanpa mereka sadari, dari tadi dua pasang mata terlihat mengintip dari balik pintu, mengamati interaksi Bryan dan Risya yang terlihat sangat akrab.


Pagi harinya ketiganya baru bangun setelah dibangunkan oleh Anna. Setelah sarapan pagi yang sedikit berbeda dari biasanya karena kehadiran Risya, seluruh penghuni rumah yang sebagian besar bangunannya berornamen kayu yang kental itu berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati teh dan cake buatan Anna.


Risya terduduk di lantai beralaskan karpet sambil memijit-mijit pelan kaki Granny yang terduduk di kursi goyangnya. Sementara Bryan duduk di sofa panjang bersama Anna, dan Lily duduk di atas karpet di samping Risya.


Risya masih saja terus berceloteh. Bryan hanya melirik sesekali diikuti senyum gelinya. Dia sama sekali tak menyangka kalau kehadiran Risya di rumah Granny nya ini bisa membuat suasana menjadi hangat dan semuanya terhibur.


"Bryan, nemu dimana anak lucu begini? Kenapa baru dibawa kesini sih?" Tanya Kak Anna setengah berbisik pada Bryan.


"Kemarin-kemarin gak sempat kak."


"Pacarmu?" Bisik Anna lagi.


Bryan mengangkat kepalanya yang tertunduk membaca lalu memandangi Anna. "Bukan, dia adik sahabat kak Mahavir. Besok juga sudah balik ke Indonesia." Ucapnya, melirik lagi sekilas ke arah Risya, tersenyum dan kembali menunduk membaca buku.


Bryan mendengus, menutup bukunya lalu berbisik ke telinga Anna. "Tapi aku sudah ditolak olehnya."


"Masa?" Bryan mengangguk. "Betulan?" Tanyanya lagi. Bryan kembali mengangguk. "Seorang Bryan ditolak?" Tanyanya lagi memperjelas.


"Iyya..., soalnya aku sudah punya pacar." Ujar Bryan setengah terkekeh, membuat Granny dan Risya menengok ke arah Bryan dan Anna.


"Bisik-bisik apa? Mengumpat Granny yah?" Tanya Granny, kembali ke mode dinginnya.


"Bukan kok Granny." Kilah Bryan.


"Itu Granny, Bryan bilang naksir sama Risya." Ujar Anna mengerjai Bryan. Granny, Risya maupun Lily mengangkat kedua alisnya.


"Kak Anna ngomong apaan? Gak kok Granny, kak Anna bohong." Bryan menggeleng sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Siapa juga yang naksir sama bocah ingusan yang pecicilan macam dia."


"Ih, siapa juga yang mau sama cowok petakilan macam kak Bry? Ogah! Najis.." Risya membalas ucapan Bryan sambil melotot dan mencibirkan bibirnya.


"Eh, baru kali ini ada yang mencela cucu ganteng Granny." Ucap Granny sambil menahan tawa.


"Sepertinya kalian berjodoh." Sela Lily, memandangi interaksi antara Bryan dan Risya.


"Setuju Ly...!" Anna mengangkat jempolnya.


"Aku sudah punya pacar tahu."


"Siapa?" Tanya Granny


"Hah?"


"Pacarmu itu siapa?" Tanya Granny menyelidik.


Bryan mengatupkan kedua bibirnya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Katanya dia dokter gigi Granny." Celetuk Lily.


"Dokter? Berapa umurnya?"Granny bertanya lagi.


Bryan menelan ludahnya dan mengedarkan pandangannya ke arah Anna dan Lily seakan meminta tolong pada mereka.


"Pacarnya udah Tuwir Granny. Kak Bry selisih 10 tahun dengan Kak Diraya." Celetuk Risya, membuat Anna dan Granny membulatkan mata. Lily yang sudah tahu hanya tersenyum simpul melihat Risya.


"Granny tak setuju kamu dengan yang lebih tua. Apalagi dengan selisih sejauh itu. Kamu itu laki-laki, penerus darah Langdon. Mending sama anak ini." Granny menunjuk Risya. Risya cepat-cepat menggeleng. "Kenapa menggeleng? Tak mau?"


Risya menyengir, tak tahu mau berkata apa.


"Risya, bisa Granny minta nomor walimu?" Tanya Granny lagi yang sudah mengetahui bahwa orang tua Risya sudah tak ada.


"Buat apa Granny?" Tanya Anna.


"Granny mau tahu dan mengenal keluarga Risya."


"Buat apa?" Kali ini Bryan yang bertanya.


"Granny mau meminta anak ini buatmu." Ucap Granny sejelas mungkin. Membuat semuanya terperanjat kaget. "Kenapa kaget begitu?"


"Granny jangan bercanda ah..!" Ucap Bryan sambil tertawa kecil.


"Siapa yang bercanda? Granny serius. Selagi Granny masih sehat, Granny mau mencarikan jodoh buat satu-satunya cucu laki-laki Granny."


"Tapi Granny...." Bryan menelan ludahnya sambil mengacak-acak kepalanya.


"Bryan bagaimana menurutmu anak ini?" Tanya Granny sambil menunjuk kepala Risya yang masih menyengir kebingungan dengan pembicaraan sesepuh itu.


"A.. Ap... Apanya yang bagaimana Granny?"


"Iya, bagaimana menurutmu."


"Dia.. Dia..." Bryan menekukkan alisnya. Bingung.


"Ah, lama!" Ucap Granny lalu mengalihkan pandangannya pada Risya. "Ris, Bryan Tampan atau tidak?"


"Yah tampanlah Granny, kak Bry kayak oppa-oppa Korea." Jawab Risya dengan polosnya.


"Bagus." Mengusap pelan kepala Risya yang masih memijit-mijit kedua kakinya secara bergantian. "Risya mau yah kalau Granny lamar Risya?" Tanyanya dengan lembut. Namun membuat Bryan membulatkan mata dan menganga. Anna dan Lily hanya tersenyum-senyum dengan rencana gila Granny-nya.


"Lamar apa Granny?" Tanya Risya yang masih tak mengerti arah pembicaraan.


"Yah jadi pengantin Bryan." Jawab Granny dengan santai lalu menyesapi teh hijaunya.


Risya tersentak, terdiam sejenak menelaah maksud perkataan Granny.


"Pe.. Pe.. Pengantin?" Risya menaikkan kedua alisnya, matanya berpencar memandangi Bryan, Anna, Lily lalu kembali ke Granny. "Ta.. Tapi... Risya kan masih SMP Granny? Ris..Risya masih kecil, Risya masih mau sekolah." Ucapnya terbata-bata. Pembicaraan itu membuatnya shock.


Granny tertawa kecil lalu meletakkan cangkir tehnya ke meja bulat yang ada di samping kursi goyangnya. "Nikahnya tidak sekarang sayang. Granny hanya melamar kamu untuk nanti. Jadi kamu tunangan saja dulu kan bisa."


"HAH???" Pekik Risya dan Bryan serempak dan saling pandang.


* * *


Setelah percakapan tadi bersama Granny, Bryan dan Risya akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke penthouse, karena Risya akan tampil kembali sore nanti.


Dengan lincahnya Bryan sudah duduk dibalik kemudi dan melajukan mobil sport-nya ke tengah jalan, walaupun sebenarnya pikirannya sudah terbang kemana-mana. Bryan melirik sekilas ke sisi kanannya, dimana Risya terduduk sambil menatap kosong kedepan. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis belia itu, namun sangat jelas terlihat bahwa ia syok dengan rencana Granny.


Jari-jari Bryan kini bergerak mengusap layar music player mobil untuk menghilangkan kecanggungan. Sebuah lantunan musik langsung terdengar menjadi pemecah kesunyian diantara Bryan dan Risya. Keduanya sama-sama terdiam sepanjang jalan hingga sampai ke penthouse.


Begitu masuk ke penthouse, Risya menyapa Mahavir dan Rachel sekilas kemudian buru-buru masuk ke kamarnya.


"Bryan, nginap di rumah Granny yah?" Tanya Rachel pada Bryan yang berjalan sambil melamun, entah memikirkan apa. "Bryan?" Panggilnya lagi.


Bryan tak menjawab, ia hanya menoleh sebentar menatap Mahavir dan Rachel bergantian dengan kesalnya lalu masuk ke kamarnya.


"Mereka kenapa?" Tanya Rachel sambil melangkah menghampiri Mahavir yang duduk di sofa panjang di ruang santai dan ikut duduk disamping suaminya itu.


Mahavir menaikkan kedua bahunya. "Tak tahu. Mungkin marahan seperti kita kemarin." Ucap Mahavir menyindir Rachel.


Rachel melirik tajam dan merengut, membuat Mahavir menarik hidungnya dengan gemas hingga memerah.


"Begitulah perempuan, suka membuat para lelaki jadi kelimpungan." Mengelus pipi Rachel dan mengecupnya. "Jangan seperti itu lagi yah?" Bisiknya.


"Sudah, jangan dibahas lagi." Ucap Rachel dengan semburat merah di kedua pipinya. Perasaan yang bergejolak dihatinya sudah menguap dan hilang entah kemana. Semalam ia berkali-kali memancing Mahavir hingga membuat laki-laki itu bercerita. Rachel pun sudah mendengar kisah hidup serta masa lalu Mahavir, dan ia memilih percaya dengan apa yang Mahavir ucapkan padanya.


"Sayang.....memikirkan apa lagi?" Tanya Mahavir begitu melihat Rachel termenung dengan pipi yang merona. "Mau mengulang yang semalam?" Bisiknya.


"Iishhh...." Rachel mendelikkkan kedua matanya dan mendorong dada Mahavir pelan. "Kamu mau anterin ke kantor kan?"


"Iya sayang, dengan senang hati. Aku bakal nungguin kamu sampai selesai. Sore nanti kan kita masih harus ke pertunjukan Risya."


* * *