Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 51.Ke Paris


Sebelum baca, pleaseee..tekan tanda like ๐Ÿ‘


Kalau bisa tinggalkan komen dan Vote kalian yah... Author akan bertambah semangat buat Up nya


๐Ÿ™๐Ÿค—


Happy Reading All... ๐Ÿฅฐ


* * *


Pagi menyapa, Langit diluar masih kelabu. Tapi suara berisik Mahavir yang sedang berdiri di balkon kamar dan sedang berbicara di telefon berhasil menyusup ke telinga Rachel, membuatnya kembali ke alam sadar. Entah dia berbicara dengan siapa, tapi terdengar intonasi suaranya yang menahan kekesalan.


Rachel menggeliat pelan, keduanya matanya saling mengerjap-ngerjap mencoba terbangun. Tangan kanannya terulur meraba-raba nakas, meraih jam weker dan melihat jarum serta angka-angka yang ada disana, menunjukkan pukul 07.00 Pagi.


Baru saja Rachel hendak bangun, Mahavir terlihat mendekat.


Dengan mendengus kesal, Mahavir mematikan ponselnya lalu melemparnya dengan kasar ke atas sofa, kemudian ia sendiri menghempaskan tubuhnya ke atas kasur di samping Rachel dan memejamkan matanya.


"Telfon dari siapa?"


"Hmmm?" Gumamnya tanpa membuka mata, tangannya terulur meraih pinggang Rachel dan menariknya ke dalam pelukannya. "Maaf aku membangunkanmu, tidur lagi yah...."


BUKK'...


Tepukan Rachel pada bahu Mahavir membuatnya membuka mata. "Ada apa?"


"Siapa tadi yang telfon?"


"Presdir...."


"Presdir??"


"Ayahku...."


"Ohhh...."


Hening sejenak...


"Tidak bertanya kenapa?" Kini sudah setengah terbaring memandangi Rachel, dengan siku tertekuk menopang kepalanya.


"Memang kenapa?"


"Dia menyuruhku ke Paris"


"Paris? Kapan? Untuk apa?"


"Sebentar sore, Dia menyuruhku mewakilinya di hotel yang separuh sahamnya baru dia beli. Karena dia masih punya urusan di Amerika, jadi dia tidak bisa hadir dalam rapat pemegang saham itu."


"Lalu?"


"Kamu mau ikut? Sekalian kita honeymoon di sana..."


"Memangnya disana berapa hari?"


"Mungkin 3-4 hari."


"Sepertinya aku tidak bisa ikut, tiga hari lagi kan..."


"Iya aku tahu, makanya aku kesal. Orang tua itu suka bikin pusing." ucapnya langsung menyela perkataan Rachel.


"Hei, itu Ayahmu."


"Yah..karena itu aku tidak bisa mengelak. Tadinya aku mau kirim Stuart kesana, tapi ia langsung mewanti-wanti." Terang Mahavir dengan kesalnya sambil mengacak-acak kepalanya.


"Ya sudah, pergi saja..."


"Kamu tidak akan merindukanku?" Mengelus lembut pipi Rachel.


Menggeleng pelan, "Kan cuma tiga hari, bukan tiga tahun." Ujar Rachel cuek.


Mahavir mendesah pelan lalu menjatuhkan kepalanya ke bahu Rachel dengan manja. "Bagiku sehari saja sudah seperti setahun...."


"Sudah jangan manja...mulai sekarang kamu harus serius bekerja. Masa kamu terus menerus mengharapkan Ayahmu. Kamu tidak malu menggunakan semua fasilitas ini dari hasil keringat ayahmu?" Tanya Rachel sambil mengusap-usap rambut Mahavir.


Mahavir mengangkat kepalanya dan memandangi wajah Rachel. Senyum nakalnya terkembang, "Kalau begitu sebelum pergi aku mau nge-Charger dulu boleh?" Tanyanya yang tanpa menunggu jawaban Rachel langsung mendaratkan kecupannya, kembali menyesapi manisnya candunya. Kedua tangannya bergerilya tanpa menunggu aba-aba dari otaknya, menyusuri seluruh permukaan kulit Rachel. Hingga kemudian,


Drrrrttt... Drrrrttt.... Drrrrttt.....


Ponsel Mahavir berdering, terdengar cukup nyaring tapi Mahavir mengabaikannya.


Drrrrttt'... Drrrrttt'.. Drrrrttt'...


Kembali berdering dan lagi-lagi Mahavir mengabaikannya. Ia masih fokus dengan kegiatannya.


Drrrrttt'.... Drrrrttt'... Drrrrttt'... Berdering sekali lagi.


"Virr.." Rachel mendorong paksa. "Angkat dulu sana, mungkin saja penting."


Mahavir mengangkat tubuhnya dan mengacak rambutnya kesal. Berjalan ke sofa dan meraih ponselnya. Dilihatnya sekilas nama si penelepon pada layar ponselnya, kemudian kembali ia melemparnya kasar.


"Siapa?"


"Tidak penting... Ayo kita lanjut..." Kembali naik ke tempat tidur dan menarik Rachel, kemudian...


Drrrrttt'... Drrrrttt'... Drrrrttt'.....


Kini giliran ponsel Rachel yang berbunyi, membuat Mahavir tambah kesal. Rachel bangkit dan meraih ponselnya.


"Siapa yang menelfon pagi-pagi begini?"


Rachel mengangkat kedua bahunya. "Tak tahu, nomor asing."


"Tidak usah diangkat!"


Rachel melirik kesal ke pada Mahavir, "Mungkin saja penting." Dengan segera Rachel mengangkatnya. Dan terdengar suara yang tidak asing disana.


"Maaf Rachel, Pak Boss nya ada?" Tanya Rey di ujung sana.


"Oh, iyya ada. nih..." Menyerahkan ponselnya ke Mahavir?


"Siapa?" Mengernyitkan alisnya, dengan segera meraih ponsel di tangan Rachel. penasaran siapa yang menelfonnya melalui ponsel istrinya.


Begitu mendengar suara dari si penelfon, Mahavir langsung mematikannya dan berdecak kesal. Diraihnya kembali ponselnya yang dilemparkannya ke sofa, lalu keluar kamar dan menelfon balik Rey. Sepeninggal Mahavir, Rachel langsung masuk ke kamar mandi menyelamatkan diri dari Mahavir. Berlama-lama disana untuk membersihkan diri.


15 menit lamanya Mahavir berbicara dengan Rey. Saat akan kembali masuk ke kamar, terdengar suara bel dari lantai satu. Mahavir lagi-lagi menghela nafas kasar, ia mengepalkan tangannya dengan keras sebagai luapan emosinya. Lalu berjalan menuruni anak tangga menuju pintu.


Dibukanya pintu Penthouse nya dan tampaklah wajah Stuart yang menyengir tanpa dosa bersama seorang pelayan wanita.


"Kenapa menekan bel saat kamu tahu sandinya?" Tanya Mahavir sarkas pada Stuart.


Tanpa dipersilahkan, Stuart langsung melenggang masuk dengan kepala menengok ke kanan dan kiri. Mahavir menyusul di belakang. "Kan sekarang sudah ada Nyonya Alister jadi saya sudah tidak bisa langsung masuk begitu saja."


"Ada apa pagi-pagi kesini?"


"Oh, itu saya membawa pelayan dari rumah utama. Dia orang Indonesia juga." Menjeda sejenak dan berbalik. "Masuk dan langsung kerjakan tugasmu." Perintahnya dengan tegas yang langsung di jalankan oleh pelayan tadi.


Pelayan itu dengan cekatan langsung menuju pantry dan mengeluarkan semua bahan-bahan makanan yang dibawanya lalu mengolahnya menjadi sarapan pagi untuk majikannya.


Sementara Mahavir langsung membawa Stuart masuk ke dalam ruangannya.


"Apa presdir sudah menghubungi anda?"


Melirik Stuart dengan kesal, "Pasti ini kerjaan mu kan?"


Stuart menaikkan satu alisnya dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya, "Maaf, tapi ini murni perintah dari Presdir. Sepertinya saham hotel di Paris itu Presdir beli untuk anda. Saya melihat dokumennya semua atas nama anda. Mungkin Presdir berharap anda sudah bisa fokus untuk menjalankan bisnisnya karena sekarang anda sudah memiliki tanggung jawab. Anda sudah tidak bisa bersantai-santai seperti sebelumnya."


"Hah, kamu sama saja dengan pak tua itu." Mendengus kesal menatap Stuart. "Tapi kenapa harus yang di Paris, kenapa bukan yang disini saja."


"Alister Hotel kan memang sudah menjadi milik anda, hanya saja Presdir ingin agar anda tidak hanya berkutat disini saja. Anda harus bisa belajar melebarkan sayap dan tidak bergantung pada satu tempat."


"Aku belum mampu, aku tidak sehebat dia..." Desah Mahavir tidak percaya dengan kemampuannya.


Stuart berdecak kesal menatap Mahavir, laki-laki yang telah dia didik dan dampingi selama sembilan tahun. Mahavir orang yang sangat pandai, Stuart tahu itu. Hanya saja anak dari atasannya itu sedikit susah diatur. Apalagi bila menyangkut seorang wanita bernama Rachel.


Sepertinya sudah saatnya saya membuka mata dan cara berfikir anda tuan muda...Guman batin Stuart. Ia menghela nafas kemudian lanjut berucap,


"Presdir sangat berharap anda mau meneruskan apa yang selama ini dia bangun, hanya anda satu-satunya tumpuannya untuk masa tuanya. Bila anda menolak, semua usaha yang dibangunnya sejak lama mungkin saja akan diambil alih oleh keluarganya. Anda tahu kan Presdir membangun ini semua tanpa bantuan keluarganya. Presdir sudah memutuskan hubungan dengan keluarganya setelah dulu keluarganya tidak menerima ibu anda, hingga membuat ibu anda melarikan diri ke kampung halamannya disaat dia sedang mengandung anda. Sejak saat itu Presdir berjuang merintis bisnisnya sendiri dan berusaha mencari keberadaan Nyonya besar. Bersyukur Presdir bisa menemukan anda secara kebetulan."


Mahavir tertegun selama beberapa detik, lalu menghela nafas perlahan. "Iya, aku tahu.. Tapi beri aku waktu sedikit lagi. Setidaknya begitu hubungan ku dengan Rachel sudah berjalan dengan lancar."


"Iya, nanti aku bicara dengannya."


"Memang harus seperti itu." Tersenyum puas, membuat Mahavir semakin cemberut kesal padanya. "Selama anda pergi, apa ada yang harus saya lakukan?"


"Oh, iya. Selama aku pergi kamu harus 24 jam menjaga istriku. Antar dia kemanapun dia pergi. Beri dia dan Bryan juga pengawal bayangan. Tapi jangan sampai mereka tahu dan menyadarinya. Mereka berdua sekarang adalah keluargaku. Aku tak mau sesuatu terjadi pada mereka."


"Baik itu sudah pasti akan saya laksanakan tanpa anda meminta. Apa ada yang lainnya lagi?"


"Bagaimana dengan vendor-vendor yang bekerja sama dengan Label Rachel?"


"Semuanya sudah beres, anda tak perlu khawatir. Mereka akan selalu memasok bahan-bahan berkualitas untuk kantor Nyonya."


"Baik"


"Oh, iya satu lagi."


Stuart mendesah pelan. "Apalagi?"


"Kamu masih kenal dengan Reynold kan? Temanku yang pernah kamu bimbing bersama ku juga, yang sekarang jadi General Manager hotel cabang di Indonesia?"


"Iya, saya belum tua, ingatan saya masih jernih. Ada apa dengannya?"


"Adiknya akan tampil mewakili Indonesia di Queen Elizabeth Hall. Tapi sepertinya acaranya akan ditunda hingga pergelaran London fashion week berakhir. Sekarang dia sudah ada di pesawat bersama rombongannya dan akan sampai besok. Rey meminta tolong padaku untuk menjaga adiknya. Sementara aku sebentar sore akan berangkat ke Paris. Jadi tidak bisa menjemputnya. Kalau kamu sempat tolong jemput dia, kamu bisa memanggil Bryan untuk menemanimu. Takutnya anak itu nanti takut padamu."


Stuart mengernyitkan keningnya, "Takut? Aku yang tampan begini bisa membuat orang takut?"


Mahavir mendongak menatap Stuart. "Kamu tampan? Tidak salah? Kalau tampan kenapa belum laku-laku juga?" Ejeknya.


"Saya bukannya tidak laku, hanya saja belum menemukan jodoh yang tepat." Menyunggingkan senyum percaya diri.


Mahavir menggeleng-geleng dengan terkekeh. "Terserah kamulah...."


"Oh iya, Bagaimana saya mengenali adik Rey itu? bagaimana ciri-cirinya? Apa ada fotonya?"


"Ah, aku lupa meminta fotonya. Nanti aku kirim ke Bryan saja."


"Kenapa tidak dikirim padaku saja? Apa anda takut saya akan menggodanya?"


"Kamu mau jadi pedofil?"


"Hah? Memang berapa umur adiknya?"


"Akhir tahun ini dia baru 14 tahun."


Stuart tertawa kecil sambil menggaruk pelipisnya. "Pantas, anda bilang dia akan takut denganku!" Serunya dengan menyunggingkan senyumnya. "Sekarang sudah tak ada lagi kan?"


"Iya, kamu boleh pergi."


"Tidak diajak sarapan sekalian?"


Mahavir menatap tajam Stuart.


"Bercanda...!" Seru Stuart lalu sedikit membungkuk memberi hormat dan beranjak dari ruang kerja itu. Saat ia baru saja keluar dari ruang kerja, Rachel menyapanya.


"Sudah sarapan?"


"Maaf, Belum Nyonya."


"Kalau begitu bergabung dengan kami saja. Sepertinya Bik Inah memasak banyak." Ujar Rachel, yang sepertinya sudah berkenalan dengan pelayan mereka.


"Dengan senang hati Nyonya Alister." Ucap Stuart dengan tersenyum lebar dan langsung menempati salah satu kursi di meja makan.


* * *


Setelah sarapan, Mahavir masih menyempatkan diri mengantar Rachel ke kantornya dan menungguinya bekerja. Walaupun Rachel sempat menolak, tapi Mahavir bersikeras.


Namun, disana Rachel tidak bisa fokus bekerja karena sepanjang waktu Mahavir terus saja mengganggunya.


"Aku kira semuanya sudah beres?" Tanya Mahavir yang melihat Rachel tak bisa diam ditempatnya. Ia sendiri sedang duduk di kursi kerja Rachel.


"Iya, tapi aku masih harus memastikan semua proses lainnya." Memilih-milih beberapa lembar kertas berisikan sketsa desain baju yang ada di atas meja lalu berjalan keluar ruangan dan memberikan gambar itu pada anggota timnya. Mahavir hanya bisa melihat Rachel dari balik tirai jendela kantornya yang tampak menjelaskan secara rinci kepada salah seorang wanita muda yang duduk di balik kubikelnya.


Setelah beberapa menit, Rachel kembali memasuki ruangannya dan hendak mengambil sesuatu lagi dari dalam lemari kerjanya. Ia hanya menoleh sebentar ke arah Mahavir, dan tersenyum tipis melihat wajah cemberut suaminya.


"Tak bisakah di urus oleh asistenmu saja?" Protes Mahavir yang sedari tadi keberadaannya tidak dihiraukan oleh Rachel.


Rachel mengulum senyum, "Bisa saja, tapi aku tidak bakalan tenang kalau bukan aku yang turun tangan. Memangnya kenapa?" Menghampiri Mahavir dan mengusap kepalanya.


Mahavir menarik Rachel dan membuatnya duduk di pangkuannya. "Tak bisakah kamu ikut saja denganku?" Merangkul erat Rachel dan membujuknya. "Ikut ya... Please.... "


"Tak bisa sayang, masih banyak yang perlu aku kerjakan."


Mahavir mendesah pelan dan menjatuhkan kepalanya ke punggung Rachel. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rachel.


"Virr, Sebaiknya kamu pulang saja. Sedikit lagi sudah sore, kamu kan harus bersiap-siap."


"Stuart pasti sudah menyiapkan semuanya. Aku hanya perlu menyiapkan batinku." Ucapnya dengan mengecup-ngecup ringan tengkuk Rachel, membuat Rachel panas dingin.


"Virr, jangan begitu disini."


"Kalau begitu ayo kita pulang, masih ada waktu."


Rachel menepuk punggung tangan Mahavir, "Kenapa kamu jadi tidak sabaran begini? Kemarin-kemarin kamu santai-santai saja."


Mahavir terdiam, Hatinya begitu berat untuk meninggalkan Rachel sedetikpun.


Rachel memahami perasaan Mahavir. Ia pun mengalunkan tangannya ke leher Mahavir dan mendaratkan kecupan ke pipinya.


"Tidak mempan kalau cuma disitu." Menarik tengkuk Rachel dan menyatukan bibirnya. Tapi dengan cepat Rachel mendorong Mahavir.


"Kenapa?"


"Nanti dilihat karyawanku."


Mahavir kembali cemberut, bibirnya mengerucut. Rachel hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkah Mahavir.


"Aku janji, kalau event kali ini berakhir aku akan meluangkan seluruh waktuku untukmu. Kamu mau menempel seperti lem pun aku tak akan menolak." Terang Rachel, membuat kedua mata di hadapannya yang tadinya terlihat meredup kini menjadi berbinar-binar penuh harap.


"Baiklah, aku akan menantikan hari itu." Tersenyum dan mengecup kening Rachel dengan lembut.


"Sudah, nanti kamu telat!" Seru Rachel melepaskan pelukan Mahavir dan bangkit dari pangkuannya. "Yakin aku tak perlu mengantarmu?"


"Iya, sudah ada Stuart yang mengantarku. Lagipula kalau aku melihatmu nanti, aku pasti bakalan tidak jadi berangkat."


Rachel mengangguk tanda mengerti. "Langsung berangkat? Tidak pulang ganti pakaian dulu?"


"Kamu mau pulang bersamaku? Atau mungkin membantuku menggantikan pakaianku?"


PLAK'...Rachel menepuk bahu Mahavir.


"Jangan mulai lagi."


"Bercanda" Terkekeh pelan dan bangkit dari duduknya. "Aku langsung berangkat, Aku akan berganti pakaian di pesawat nanti. Kamu baik-baik yah selama aku tak ada disini. Tunggu Stuart yang mengantarmu pulang. Biarkan dia yang mengantarmu kemana-mana."


Kembali Rachel menganggukkan kepala. "Iya, kamu juga semangat bekerjanya."


"Pasti sayangku..." Mengelus rambut Rachel dan kembali mengecup keningnya. "Sepertinya Stuart sudah menunggu dari tadi di luar. Aku pergi yah..."


"Ku antar keluar?"


"Tidak perlu." Kembali mengecup kening Rachel dan beranjak dari ruangan itu. Rachel hanya tersenyum dan melihat punggung Mahavir yang mulai menjauh dari balik tirai jendela ruangannya.


* * *


Terima kasih masih setia disini...


Thankyou...


Kamsahamnida...


Arigatลgozaima...


xie.. xie..


Peluk cium dari Author.. ๐Ÿค—๐Ÿ˜˜