
Rumah tiga lantai dengan bangunan yang sangat megah berdesain American klasik milik seorang dokter bedah senior hari ini mendadak ramai. Bermacam-macam bunga tampak menghiasi di setiap sudut rumah lengkap dengan berbagai macam dekorasi khas pengantin.
Siapapun tak akan percaya kalau persiapan itu baru saja dikerjakan beberapa jam yang lalu saat fajar belum menyingsing. Seratus tenaga pekerja dengan keahlian di bidang masing-masing digerakkan Rey untuk membuat acara pernikahannya hari ini sempurna. Bersyukur berkat Mahavir yang selama ini selalu memintanya melakukan hal yang aneh-aneh dan serba mendadak, Rey jadi punya banyak pengalaman dan tidak sulit baginya untuk melakukan itu semua.
Hanya saja, di sisi lain Rey merasa sedih karena di hari bahagianya ini sahabatnya itu tidak ada mendampinginya.
Saat ini Rey beserta keluarga besarnya yang terdiri dari tujuh kakak laki-lakinya bersama istri masing-masing, adik perempuan semata wayangnya serta sepuluh keponakannya telah hadir dan duduk rapi beralaskan karpet tebal di ruang tengah kediaman dokter Manaf. Di sudut lain telah hadir pula keluarga dari Prof. Wijaya yang merupakan kawan dekat dari dokter Manaf serta anak mereka yang juga saling bersahabat. Selebihnya, orang-orang yang turut hadir adalah kerabat terdekat dari Raya yang sudah diberi kabar sejak semalam oleh dokter Manaf.
Sementara di salah satu ruangan bagian dari kediaman itu, Bibir Rachel tak henti-hentinya melengkung membentuk senyuman saat berada di hadapan sahabatnya yang kini telah begitu cantik dengan busana pengantinnya. Bersama Lily memberinya sedikit hiburan yang sedari tadi di landa kegugupan.
"Not dating... But Married? Oh my good... Rey is really a real man." Puji Lily tuk kesekian kalinya pada Raya. "Seandainya kamu menolaknya, kupastikan kalau aku yang akan melamar laki-laki itu." Imbuhnya dengan nada bercanda. Baik Raya dan Rachel terkekeh merespon perkataan Lily.
"Syukurlah, kamu bisa menyadari perasaanmu." Ujar Rachel tersenyum memandangi Raya.
"Chel.... Maaf yah...."
"Maaf kenapa?"
"Aku bahagia di saat kamu masih sedang bersedih...." Lirihnya dengan sedikit berkaca-kaca.
Rachel menggeleng dengan senyum yang tak pernah pudar. "Jangan berkata seperti itu. Aku juga bahagia melihatmu bahagia." Ucapnya kemudian memeluk Raya.
"Thanks chel..." Balasnya sembari melepas pelukan Rachel. "Oh iya, satu lagi. Maaf juga kalau sudah buat adikmu...."
"Hush.. Gak usah bahas itu lagi. Dia pasti mengerti kok." Rachel dengan cepat menyela ucapan Raya. "Sayangnya kita gak jadi iparan sih...." Lanjutnya dengan sedikit tertawa kecil.
"Tapi, kamu sudah memutuskan hubungan dengan Bryan kan?" Tanya Lily khawatir.
"Karena semuanya mendadak, jadinya aku hanya sempat berbicara via telfon semalam. Karena itu aku merasa sangat bersalah padanya. Aku tidak sempat bicara lebih dulu dengannya karena ulah Rey yang sudah kebelet nikah dan tidak memberi waktu sedikitpun."
"Jadi kamu putuskan adik ganteng ku itu via telfon? Wah, jahat amat?" Cerocos Lily tanpa sadar yang langsung dapat pelototan mata dari Rachel.
"Upps.. Sorry kelepasan."
"Tak apa, aku memang sudah kelewatan. Ly, bisa minta tolong panggilkan dia dulu? Aku ingin bicara sesuatu padanya sebelum acara dimulai."
Lily menautkan alisnya memandangi Raya kemudian Rachel, setelah mendapat anggukan dari Rachel, Lily pun mengiyakan dan segera turun mencari keberadaan adik sepupunya.
Kurang dari lima menit, Bryan sudah ada di ambang pintu diantar oleh Lily. Dengan canggung dan kikuk, Bryan melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu. Sebuah kamar bernuansa peach plum dengan berbagai dekorasi khas kamar pengantin. Dilihatnya Rachel sang kakak terduduk pada bangku meja rias berhadapan dengan mantan kekasihnya yang terduduk cantik dengan kebaya putih elegan di tepian ranjang. Ranjang yang sudah dipenuhi kelopak bunga yang mungkin malam nanti akan menjadi saksi bisu cinta diantara Raya dan Rey.
Bryan menelan ludahnya sebelum akhirnya menyapa Raya dengan raut bahagia.
"Wah, cantik banget kak Raya-nya. Kalau bukan kak Rey sih, aku bakal culik kak Raya sekarang." Kelakarnya dengan mengesampingkan rasa sedihnya.
Raya mendongak, menatap ke dalam mata pemuda itu. Yang walaupun tersenyum, Raya dapat mengetahui kesedihan dari sorot matanya.
Melihat itu Rachel segera bangkit dan menarik Lily ikut bersamanya. "Kalian bicara saja. Kami akan membantu mama mu dulu di bawah."
"Kak, tak apa kami hanya berdua?" Tanya Bryan takut-takut. "Nanti calon lakinya bisa marah loh..."
"Kalau Rey marah, nikahnya bakalan batal." Ucap Rachel sesaat sebelum menutup pintu ruangan itu.
Begitu pintu menutup, Bryan jadi semakin salah tingkah. Mengusap asal tengkuknya dan tersenyum pias sambil mendudukkan dirinya pada bangku yang sebelumnya ditempati oleh kakaknya.
"Finally, congratulations..."
Raya mengangguk perlahan. "Bryan... Maaf yah, aku...."
"Astaga, aku kan sudah bilang kalau tak usah pikirkan itu lagi. Aku mengerti kak..."
"Tapi aku...."
Bryan segera meraih kedua tangan Raya dan menggenggamnya. "Ra....I'm really happy with your wedding. I hope your happiness with him. May you be happy until the end..." Ucapnya menatap dalam manik mata Raya.
"So don't feel bad for me... Okay?" Lanjutnya dengan kembali tersenyum dan mengelus lembut pipi Raya.
Kembali Raya mengangguk. "Semoga kamu bisa mendapatkan gadis yang baik..."
Saat Bryan baru akan membuka mulut, pintu tiba-tiba diketuk dari luar. Kemudian dari balik pintu itu muncul sosok gadis manis yang dengan tergesa-gesa masuk menghampiri mereka.
"Hai calon kakak iparnya Risya...selamat bergabung dalam keluarga Risya" Sapanya dengan pekikan lantang penuh keceriaan. Sontak mencairkan suasana.
Bryan tertawa dalam hatinya. Sedikit merasa lega karena gadis itu tiba-tiba muncul di saat yang tepat. Dengan cepat Bryan menarik Risya mendekat padanya lalu merangkulkan lengannya ke leher gadis itu.
"Aku sudah mendapatkannya kak..." Ujar Bryan tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Raya.
"Dapat apa kak?" Tanya Risya polos dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya memandangi Raya dan Bryan bergantian.
Raya yang paham maksud Bryan membulatkan matanya menatap mantan kekasihnya itu. "Yang benar?" Tanyanya yang langsung mendapat anggukan dari Bryan.
"So, jangan mencemaskan aku lagi...Aku ada dia. Aku sudah bilangkan, kalau perlu aku akan membawa penggantimu. Nah, kak Raya percayakan?"
Risya yang tadinya tak mengerti arah pembicaraan itu akhirnya langsung paham. Dan kini berniat untuk ikut membantu Bryan berakting di depan calon kakak iparnya. Demi kelancaran hubungan kakaknya dengan calon istrinya, dan demi Bryan agar tidak terlihat menyedihkan di hadapan mantan kekasihnya.
Tanpa disangka-sangka, Risya langsung mengecup pipi Bryan. "Kalau begini pasti sudah percaya..." Ucapnya yang justru membuat surprise pada Bryan.
"Astaga... Jadi kalian? Sejak kapan?"
"Hmmm, Risya minta maaf yah kak Raya. Soalnya Risya udah kesemsem sama pacar kak Raya sejak di London. Risya pernah bilangkan kalau kak Bry itu calon suami masa depan Risya." Terangnya mengingatkan kalau sempat berkata seperti itu saat mengangkat telepon Raya dulu di London, Raya mengangguk mengiyakan.
Risya pun melepaskan rangkulan tangan Bryan yang kini mematung karena aksi spontannya tadi. Lalu mendekati Raya dan berbisik padanya. "Sebenarnya kak Bry itu tidak setia-setia amat pada kak Raya, karena dia berkali-kali meminta Risya jadi pacarnya. Tapi Risya menolak karena tak mau jadi pepacor."
"Pepacor?" Raya mengernyitkan keningnya bingung dengan kosa kata gadis itu.
"Gak tahu?" Tanya Risya memandangi Raya. Kemudian kembali berbisik. "Perebut pacar orang kak." Terangnya yang membuat Raya terkekeh pelan. "Tau gak kak. Kata kak Bry dia akan membuat kak Raya memutuskannya. Jadi Risya diminta menunggu. Itu berarti dia gak cinta-cinta amat kan sama kak Raya?" Ucapnya lagi yang membuat Raya menatap sinis ke arah Bryan.
Risya hanya menyengir tanpa merasa bersalah lalu kembali mendekat ke Bryan. Merangkul leher Bryan dari belakang.
"Pokoknya kak Raya tak usah memikirkan kak Bry lagi yah? Karena Kak Raya akan jadi miliknya kakak Rey. Dan biarkan kak Bry jadi miliknya Risya. Okey?" Ucapnya sok mengatur membuat Raya akhirnya tertawa renyah.
"Baiklah kalau begitu. Kalau begini aku tak merasa bersalah lagi." Ujar Raya. Terdengar kelegaan dalam nada bicaranya.
"Jadi, Risya sudah bisa membawa pacar Risya keluar kan kak? Risya gak mau pacar Risya dekat-dekat sama mantannya." Ujar gadis itu menarik Bryan berdiri. Lagi-lagi membuat Raya tertawa melihat aksinya.
"Iya, iya, kakak juga sudah siap mau turun. Panggilin Rachel dan Lily yah."
Risya mengangguk ceria. "Okey, kakak ipar baruku. Sebelum turun siapkan jantung kak Raya dulu yah. Soalnya kakak Rey sangat-sangat super duper cakep hari ini khusus buat kak Raya. Jangan sampai kak Raya pingsan!" Ujarnya lalu menarik Bryan keluar bersamanya. Meninggalkan Raya yang tersenyum-senyum geli sendiri.
Setelah beberapa saat Raya akhirnya dibawa turun bersama mama-nya, Rachel, dan Lily. Melihat sang pujaan hati yang begitu cantik dengan pakaian pengantinnya berjalan menghampirinya membuat Rey menahan nafas selama beberapa detik dengan mata yang tak berkedip sedikitpun. Bahkan ketika papa Raya sudah menjabat tangannya Rey masih belum fokus dan membuat beberapa kali kesalahan yang mengundang tawa semua orang yang menyaksikan.
Risya yang melihat kelakuan kakaknya dari barisan belakang bersama Bryan berkali-kali menepuk keningnya. "Astaga bikin malu amat kak!"
"Fokus sah-nya dulu nak, baru pikir yang sebentar malam." Celetuk Pak Wijaya yang bertugas sebagai saksi bersama dokter Reinhard, menepuk pelan lengan Rey yang terlihat begitu gugup agar sedikit lebih rileks.
Perkataan Pak Wijaya itu kembali mengundang tawa. Termasuk papa Raya yang sudah berulang kali mengulang proses itu.
"Coba tarik nafas panjang dulu nak." Ujar Dokter Manaf, papa Raya yang langsung diikuti oleh Rey. "Sudah? Siap lanjutkan lagi?"
Rey memandangi Raya sekali lagi lalu akhirnya mengangguk dan kembali mengulang dengan lebih serius.
Saat proses yang penuh khidmat berjalan di depan sana Risya malah sibuk mengamati raut wajah Bryan di sampingnya.
"Kak... Kak Bry..." Panggilnya setengah berbisik.
"Hmm?" Bryan berbalik dan mengangkat kedua alisnya. "Kenapa Ris?" Tanyanya dengan suara yang dipelankan.
"Memang yah sesusah itu melakukan proses menikah?" Tanyanya penasaran, sekaligus mengalihkan perhatian Bryan dari depan sana.
"Tergantung orangnya sih..."
"Kalau kak Bry nanti bakalan begitu juga?"
Kembali Bryan mengangkat kedua alisnya. "Pertanyaan apa tuh?"
"Yah pertanyaan untuk dijawablah...!"
"Ssttt... Jangan ribut!" Bryan memperingati Risya lalu kembali menghadap ke depan. Tapi Risya lagi-lagi memanggilnya.
"Kak..."
"Kak Bry..."
"Sssttt... Apa lagi sih?"
"Kak Bry, kabur yuk. Risya bete nih..."
"Mau kemana?"
"Kemana saja. Bawa Risya keliling naik motor lagi."
"Terus acaranya? Kamu gak mau nunggu sampai selesai?"
"Kak Bry mau liat sampai selesai?" Tanyanya balik.
Bryan menghela nafas lalu akhirnya menggeleng. Sejujurnya sejak tadi dia sudah ingin kabur dari sana. Sampai detik ini dadanya masih saja merasa sesak melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Bagaimana kak Bry? Mumpung semua sedang serius."
"Nanti dicariin gimana?"
"Jangan munafik deh kak Bry. Risya tahu kok kalau dari tadi kak Bry sudah pengen kabur." Ucapnya yang membuat Bryan mengernyit. "Dari tadi kak Bry duduknya gelisah kayak orang yang lagi bisulan." Lanjutnya.
"Astaga, kamu benar-benar yah..." Bryan terkekeh pelan sambil mengeleng-geleng.
"Ayo kak." Ajaknya sambil perlahan-lahan mundur dari tempat itu, kemudian berlari cepat keluar dari bangunan itu di susul oleh Bryan dibelakangnya.
"Astaga nekat juga kamu yah." Bryan mengacak asal puncak kepala Risya.
"Kak Bry bawa motor kan?"
"Ada, tuh sana." Menunjuk ke arah motornya terparkir. "Tapi baju kamu?" Melihat Risya dari atas kebawah yang menggunakan dress putih yang dulunya dibuatkan oleh Rachel.
"Tak masalah. Ayo kak cepat, sebelum mereka melihat kita." Langsung menarik tangan Bryan menuju motornya.
"Tapi kita mau kemana?"
"Banyak tempat diluar sana yang menyambut kita. Hari ini Risya bakal jadi peri kak Bryan yang akan setia menemani dan menghibur kak Bryan."
Bryan lagi-lagi terkekeh. Sosok gadis di dekatnya itu selalu sukses membuatnya gagal bersedih.
"Ok my fairy, let's Go find happiness...."
Setelah memakaikan helm di kepala Risya dan memakai helmnya sendiri. Dengan cepat Bryan melajukan motornya meninggalkan kediaman mantan pacarnya yang mungkin suatu hari nanti menjadi kakak iparnya.
Yah... Mungkin.... Suatu hari nanti...
***
Happy Reading....🤗