
Risya pun terdiam dengan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Bryan kembali menyalakan kompor dan melanjutkan aksi masak memasaknya
Beberapa menit berlalu, dua porsi mie instan goreng lengkap dengan telur ceplok kini sudah ada di hadapan Bryan dan Risya. Mereka berdua duduk berdampingan pada kursi mini bar.
"Hmmm... Makasih kak Bry......Saranghae Oppa." Risya membentuk jarinya membentuk cinta khas negeri gingseng.
Bryan tersenyum geli dan mengacak gemas pucuk kepala Risya. "Sudah, makan cepat..."
"Mari makan...." Ucap Risya lalu menyendokkan mie ke dalam mulutnya. "Hemmm... Enak. Masakan kak Bry juara." ucapnya dengan mengacungkan jempolnya.
"Bocah, bocah... Dimana-mana itu mie instan rasanya sama kali..."
"Tapi ini beda loh...apalagi ditemani makan sama kak Bry, rasanya jadi enak berkali lipat."
"Astaga, gak usah sok memuji hanya karena dimasakin mie instan. Lain kali kamu belajar dong, masa masak mie instan aja gak bisa."
"Aku takut sama api kak. Lagipula kan ada kak Bry yang masakin."
"Sekarang ada aku, tapi besok-besok? Kamu kan gak bisa ketergantungan sama orang-orang."
Risya menggerak-gerakkan jari telunjuknya. Mulutnya meracau tidak jelas karena sudah dipenuhi oleh mie instan.
"Apa? Makan saja dulu baru ngomong."
Buru-buru Risya meneguk air putih dari gelas yang ada di hadapannya. "Karena aku sudah tahu kelebihan kak Bry, Risya gak akan melepaskan kak Bry."
"Maksudnya?"
"Kak Bry harus jadi suami masa depan Risya."
"Hahah... Bocah, bocah...." Kembali mengacak rambut Risya dengan gemas.
"Jangan panggil aku bocah kak..!! Ingat umur kita cuma selisih 4 tahunan."
"Empat tahun itu juga cukup jauh tahu!"
"Memangnya kak Bry dengan pacarnya beda berapa tahun?"
"Tiga tahun? dua tahun? setahun? atau seumuran?"
Bryan terdiam, pertanyaan dari Risya sedikit sensitif baginya. Ia pun menunduk, lalu memakan mie instannya dengan tenang.
"Berapa tahun kak?" Risya yang penasaran mendekat dan memiringkan wajahnya tepat di depan wajah Bryan. Mencoba merayu dengan bersikap manja sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
Bryan yang terkejut karena wajah Risya yang tiba-tiba mendekat, refleks mendorongnya. Hingga membuat Risya terjungkal ke belakang.
"AAAHHHHH" teriak Risya yang tidak bisa menjaga keseimbangannya.
Beruntung Bryan dengan lincahnya langsung menangkap tubuh Risya menggunakan kedua tangannya, hingga hanya kursinya saja yang terjatuh dan terhempas ke atas lantai marmer. Menciptakan bunyi yang cukup nyaring dan menggema di ruangan itu. Risya yang terkejut refleks melingkarkan kedua tangannya ke leher Bryan.
Kini wajah keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat tipis. Selama beberapa saat mereka saling pandang hingga kemudian Risya melompat turun dari gendongan Bryan. Bryan yang sempat salah tingkah langsung mengangkat dan memperbaiki posisi kursi yang terjatuh tadi.
"Ayo lanjut makan." Kembali duduk ke kursinya tanpa berbalik melihat Risya. Risya pun demikian, kembali duduk di kursi dan melahap makanannya.
"Kak Bry...?"
"Makan cepat! Jangan tanya-tanya lagi."
"Cantikan mana pacar kakak sama Risya?"
Bryan terdiam, enggan mengomentari pertanyaan dari Risya.
"Pasti cantikan Risya kan?"
Bryan menghela nafas kasar. "Cantikan pacarkulah."
"Bisa lihat fotonya?"
"Tak usah. Nanti kamu insecure. Apalagi dia seorang dokter."
"Dokter? Berarti dia lebih tua dari kak Bry yah?"
"Hmmm....!"
"Wah..kak Bry doyan yang dewasa yah?"
Bryan menoleh dan menatap kesal pada Risya. "Soalnya kalau bocah bakal merepotkan."
"Ihh, sudah Risya bilang, jangan panggil Risya bocah!"
"Ihh, kegeeran. Memangnya aku menyebut dirimu? Aku kan hanya bilang kalau pacaran sama bocah bakal merepotkan."
"Oh iya yah... Heheh..." Risya menyengir malu. Kembali terdiam dan menikmati makanannya yang tak kunjung habis.
"Aku sudah selesai makannya. Kamu yang bersihin yah...sekalian cuci semua peralatan masak yang tadi." Bryan bangkit dari duduknya, namun belum sempat melangkah Risya menarik lengannya.
"Masa Risya di tinggal. Temani Risya dong kak. Risya takut sendiri."
"Ya udah, makanya makan yang cepat." Kembali duduk ke tempatnya semula.
"Kak Bry...."
"Makan! Gak usah tanya-tanya lagi."
Risya mendelik kesal, namun menurut. Dengan segera ia menghabiskan makanannya. Lalu membersihkan meja mini bar dan membawa peralatan makannya ke wastafel untuk dibersihkan.
"Kak Bry...." Memasang tampan memelas di depan wastafel.
"Apalagi? Gak tahu cuci piring juga?"
"Bisa kok....! Tapi bisa dibantu sedikit gak?"
Kembali Bryan menghela nafas kasar tuk kesekian kalinya, ia menggelengkan kepalanya namun tetap menghampiri Risya.
"Sini, aku yang sabunin, kamu yang bilas." Bryan kemudian memakai sarung tangan cuci yang terbuat dari karet.
"Okey...." Risya tersenyum puas lalu mengambil posisi di samping Bryan.
"Kak...."
"Hmm, ada apa lagi?"
"Kalau begini kita seperti pasutri yah..." Ucapnya dengan tertawa geli.
Bryan pun ikut tertawa geli lalu menempelkan busa sabun ke wajah Risya. "Ada-ada aja isi pikiran mu itu."
"Ihh... Jorok kak." Risya mengusap busa yang ada pada wajahnya. "Kak sabunin yang benar dong, masih amis nih."
"Sekalian sama wajahmu mau? Gratis kok, daripada bayar mahal-mahal di salon." Bryan mengangkat tangannya yang penuh busa.
Risya pun mundur dengan cepat ke belakang menghindari Bryan. "Ihh jorok kak...."
Bryan semakin maju mendekati Risya yang juga semakin melangkah mundur. "Coba dulu, ini facial gratis kok..."
"Ogah...! Kak Bry aja yang coba." Menepis sekuat tenaga tangan Bryan. "Tuh, kan... Lihat lantainya jadi basah. Kak Bry yang ngepel yah."
"Tapi cobain dulu facial ini."
"IIIIHHHH... KAK BRY!! MENDEKAT LAGI RISYA CIUM LOH!!" teriak Risya.
"Astaga, ancaman apa itu?"
"Ya udah, kalau gak mau Risya cium, sana lanjutkan cucian piring kakak."
"Iya, iya... Sini kamu bilas cepat. Tuh airnya jalan terus."
"Janji gak sabunin wajah Risya?"
"Iyyah, cepat sini. Ini sudah tengah malam loh."
Risya pun mendekat dan kembali membilas peralatan yang sudah disabuni oleh Bryan.
Setelah selesai di dapur, mereka berdua kembali ke lantai atas di ruang santai sebelumnya. Bryan kembali meraih ponselnya dan melanjutkan memainkan game online nya tadi. Sementara Risya masuk ke dalam kamarnya. Namun beberapa menit kemudian ia kembali keluar sambil membawa bantal dan selimutnya lalu ikut duduk di samping Bryan pada sofa panjang di ruangan itu.
"Kenapa? Mau tidur disini? Masuk kamar sana." Usir Bryan.
"Gara-gara kakak tadi nakut-nakutin Risya, Risya jadi takut sendirian nih. Apalagi hujan deras gini, dan kita hanya berdua di rumah sebesar ini." Menaruh bantalnya pada sofa dan menyelimuti sebagian tubuhnya.
Bryan hanya mendengus dan tidak lagi berucap. Ia hanya fokus melihat layar ponselnya. Risya pun demikian, ia juga tengah asyik bermain game di ponselnya.
"Yah, payah. Udah di kasih senjata malah kalah." Racau Risya pada game yang di mainkan.
Mendengar racauan Risya membuat Bryan teralihkan dan penasaran dengan apa yang Risya mainkan. "Main game apaan?" Bryan mencoba menengok ponsel Risya. Namun Risya dengan cepat menyembunyikan ponselnya.
"Gak usah lihat-lihat. Aku lagi mabar nih."
"Aku juga lagi mabar. Memangnya game apaan? Aku game ini." Bryan memperlihatkan game online yang dimainkannya pada Risya.
"Loh itukan game aku juga. Apa nama username kakak?"
"Ksatria pelindung. Kalau kamu?"
"Aku Dewi Aphrodite."
"Berarti?" pekik Risya dan Bryan bersamaan dan saling tunjuk. Kemudian akhirnya tertawa bersama.
"Sini lihat ponselmu. Aku gak percaya Dewi Aphrodite ternyata hanya anak SMP." Menarik ponsel Risya dan memeriksanya.
"Jangan salah kak, justru kebanyakan yang level tinggi itu anak SMP loh." Menarik kembali ponselnya dari tangan Bryan. "Aku masih War nih kak. Aku kasih senjata yah, kak Bry lawan benteng pertahanan si Hercules itu." Menunjuk salah satu karakter pada game itu.
"Tapi ini gimana cara lawannya?" Menggeser posisi duduknya hingga berdempetan dengan Risya. "Bagi selimutnya dong." Menarik sebagian selimut Risya dan menyelimuti sebagian tubuhnya.
"Ah, sini Risya ajarin." Risya pun semakin mendekat ke Bryan, hingga tak ada lagi jarak diantara mereka. Tanpa mereka sadari mereka berbagi selimut yang sama.
Malam semakin larut, hujan di luar sana sudah mulai reda. Saking serunya bermain, mereka berdua turun dari atas sofa dan berbaring di atas karpet berbulu. Saling berbagi dengan satu bantal dan satu selimut berdua.
"Ris, bagi peledak lagi dong." Pinta Bryan, namun beberapa detik menunggu tak ada sahutan dari Risya. "Ris..." Kembali Bryan memanggil.
"Ris....." Bryan berbalik hendak menengok Risya, namun saat berbalik Risya sudah ketiduran dengan posisi menyamping menghadap padanya. Wajah Risya yang tepat berada di samping kepalanya, membuat bibirnya tanpa sengaja menyentuh bibir Risya.
Bryan terkesiap dan mematung di tempat. Nafas Risya yang teratur begitu terasa di permukaan kulitnya. Tanpa sadar tangan Bryan terangkat menyibak anak-anak rambut yang menutupi wajah Risya. Entah apa yang Bryan pikirkan, ia malah semakin merapatkan bibirnya pada bibir Risya. Malah kini ujung lidahnya sudah bermain pada permukaan bibir Risya. Berlama-lama di sana, menyesapi kedua bibir gadis beliau itu secara bergantian sambil menggigit-gigit kecil kedua bibir mungil itu.
Hingga saat Risya menggeliat pelan, Bryan akhirnya tersadar dan segera berbalik membelakangi Risya.
Astaga...
Apa yang kulakukan pada bocah itu?
Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku seperti ini?
Kenapa aku jadi laki-laki kurang ajar begini?
Kenapa gejolak di hatiku rasanya sangat berbeda saat bersama dengan kak Raya?
Astaga... Maafkan aku kak Raya...
Aku sudah menghianati kepercayaanmu....
Saat Bryan tengah meracau dalam hatinya, Risya yang tak sadar pun kini memeluk Bryan dari belakang, menaikkan satu kakinya ke atas tubuh Bryan, seakan Bryan sebuah guling bagi Risya. Lagi-lagi membuat Bryan terkesiap dengan jantung yang semakin berdetak tak terkendali.
Ya Tuhan... Cobaan apalagi ini?
Bagaimana ini?
Aku harus bagaimana?
Kenapa jantungku semakin tak karuan seperti ini?
Tidak mungkin kan aku.....? Dengan bocah itu? Astaga bisa gila aku kalau begini terus...
Bryan membatu, tubuhnya tak bisa ia gerakkan sama sekali. Ia hanya mampu terus meracau dan mensugesti dirinya sendiri dalam hati.
Tenang Bryan, tenang....
Disini kamu hanya guling, iya hanya guling...
Ya... aku guling, aku guling, aku guling, aku guling..
aku guling, aku guling, aku guling, aku guling...
Gumannya hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan meracau tidak jelas.
* * * *
Di kawasan sungai Thames, tepatnya di sebuah kapal pesiar kecil nan mewah. Seorang lelaki dewasa nampak masih terjaga. Kedua matanya tak dapat terpejam sedikitpun.
Netranya terus menerus menatap tanpa henti seorang wanita yang kini tengah berada dalam pelukannya. Wanita itu masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Hanya sebuah selimut berwarna soft Blue yang kini menutupinya. Tangan Mahavir pun tak henti-hentinya mengusap dan membelai rambut panjang wanita itu.
Sampai saat ini Mahavir masih tak percaya kalau ia sudah memiliki seutuhnya wanita yang sudah lama bersemayam dalam hatinya.
Tuhan... Kalau ini mimpi,
Tolong jangan buat aku terbangun dari mimpi panjang ini.....
Airmata kebahagiaan terlihat menetes dari sudut mata Mahavir. Bertahun-tahun ia menunggu keajaiban, dan akhirnya keajaiban itu benar-benar terjadi. Wanita yang tadinya tak pernah mau melihat dirinya sedikitpun, bahkan sangat jijik pada dirinya kini dia bisa menjamahnya. Menyentuhnya, memeluknya, menciuminya, dan bahkan sudah bisa menyatukan tubuhnya. Rasa senang, gembira, haru, bangga, bercampur menjadi satu dan meluap-luap di hatinya.
Tak ada lagi kebahagiaan lain yang Mahavir harapkan, Satu-satunya harapannya saat ini adalah agar perasaan wanita itu tak akan pernah berubah sedikitpun. Kalau memang jati dirinya tak bisa diungkapkan, dia akan membawa rahasia itu sampai akhir hidupnya. Demi bisa membuat hubungan saat ini tetap terjaga dan harmonis hingga nanti.
Lamunan Mahavir terhenti kala Rachel menggeliat pelan dalam pelukannya. Kedua mata wanita itu perlahan terbuka dan menatap kedua matanya.
"Ah, maaf... Kamu terbangun gara-gara aku."
"Vir?" Rachel mengerjap-ngerjapkan kedua matanya mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan keremangan cahaya lampu pendar yang ada pada cabin itu. "Belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur. Aku takut ini hanya sebuah mimpi. Aku takut kalau aku tertidur, besoknya disaat aku terbangun, sikapmu kembali dingin padaku."
"Astaga Vir...." Rachel merapatkan tubuhnya pada Mahavir dan menyusupkan wajahnya kedalam ceruk leher Mahavir. "Kamu masih meragukanku di saat aku sudah terbuka seperti ini?"
"Aku tidak meragukanmu sayang.... Hanya saja aku takut."
Rachel menengadahkan wajahnya melihat wajah Mahavir. "Takut apa lagi?"
"Rachel... Apapun yang terjadi kedepannya, jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak tahu akan jadi apa kehidupan ku bila kamu tak ada disisi ku. Berjanjilah, apapun dan bagaimanapun keadaan nantinya, tetaplah disisiku..."
"Vir, kamu bicara apa sih?"
"Berjanji saja padaku sayang...."
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Hah?" Alis Mahavir mengkerut sesaat. "Tidak, tidak ada sayang. Hanya saja berjanjilah padaku...."
"Iyya, iyya.... Aku berjanji padamu. Aku akan selalu berada di sisimu. Aku tak akan berpaling sedikitpun. Dan tak akan pernah meninggalkanmu."
"Dan jangan pernah berubah..."
"Iya, aku tak akan pernah berubah, akan selalu dan selalu mencintaimu. Sudah puas Tuan Mahavir Alister?"
Mahavir tertawa kecil kemudian mengecup kening Rachel lalu berpindah pada bibir merekahnya. "Aku puas. Ingat kamu sudah berjanji."
"Iya, sekarang kamu tidur."
"Tapi...."
"Tapi apa lagi?"
"Ada sesuatu yang bangun dibawah sana...."
"Apa?" Rachel menautkan kedua alisnya. Tidak mengerti arah perkataan Mahavir.
Mahavir tersenyum dan merapatkan tubuh bagian bawahnya, hingga Rachel dapat merasakan sesuatu yang menonjol dibawah sana.
"Lagi?" Rachel menaikkan kedua alisnya dan memasang wajah kelelahan.
"Sekali lagi boleh?"
"Tadi kan sudah berkali-kali. Aku sudah lelah Vir...." Mendorong tubuh Mahavir lalu berbalik memunggunginya. "Lagipula masih terasa perih."
"Ayolah, sekali lagi ya sayang....." Memeluk tubuh Rachel dari belakang dan menghujani kecupan bertubi-tubi di punggungnya. "Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan. Hmmm...." lanjutnya dengan nada memelas.
"Vir... Aku harus istirahat, besok adalah hari yang sibuk buatku."
Mahavir menghela nafas panjang dan melepas pelukannya. "Baiklah, kamu istirahat saja." Mengecup pundak mulus Rachel lalu mencoba memejamkan matanya.
Mendengar nada suara kecewa Mahavir, Rachel berbalik dan menarik Mahavir. "Kamu marah?"
"Tidak sayang, aku kan sudah bilang berkali-kali, kalau aku tak akan pernah marah padamu."
Rachel terdiam sesaat memandangi wajah Mahavir. "Baiklah, kita lakukan sekali lagi. Ingat hanya sekali yah...." Pintanya, menjeda ucapannya dengan menggigit bibir bawahnya lalu kembali berucap dengan lirih. "... dan... lakukan dengan pelan...."
Kedua mata Mahavir membulat diiringi senyum yang mengembang dengan lebarnya. Tanpa berbasa-basi Mahavir langsung menarik Rachel ke dalam pelukannya. Mengecup berkali-kali tiap inci dari wajah istrinya itu hingga turun ke leher jenjangnya.
"Vir......, jangan buat tanda di leherku, besok aku memakai dress dengan leher terbuka."
"Iya sayang, tenang saja aku akan membuat tanda di bagian yang tersembunyi." Ucapnya dengan mengerling nakal. Dengan cepat Mahavir memposisikan tubuhnya dan mereka pun kembali memadu kasih.
* * *
Happy Reading.... 🥰
Terima kasih buat yang masih setia disini😍🙏
peluk cium dari kk Author 🤗😘
Thankyou
Kansahamnida
xie xie
Arigatōgozaimashita
khop khun
Merci
Gracias
❤❤❤