
Happy Reading🤗
* * *
"Kenapa kamu jadi seperti ini Vir?" Kedua matanya menatap Mahavir lekat-lekat.
"Haruskah aku menjawab, aku seperti ini karena siapa?" Tanyanya balik dengan intonasi yang begitu lembut sembari mengusap kedua pipi Rachel yang basah.
Rachel menggigit bibir bawahnya, ia sudah tak tahu harus berkata apa lagi. Rachel tak habis pikir, mengapa laki-laki itu bisa tampak sekacau itu padahal semua yang terjadi justru karena ulahnya sendiri.
Jadi ini semua salahku? Begitu maksudmu?
Kamu menginginkan diriku kembali seperti dulu?
Setelah apa yang kamu lakukan sampai detik ini?
Aku sungguh tak tahu apa aku harus tertawa atau menangis menanggapinya...
Seakan mengerti pikiran yang ada di benak Rachel, Mahavir menggeleng pelan. Lalu sedikit menarik kedua sudut bibirnya, hingga memperlihatkan senyumnya. Walaupun senyuman itu sendiri tampak begitu getir. Tangannya lalu terangkat menyentuh tangan Rachel yang saat ini masih menempel di pipinya.
"Karena aku membutuhkanmu...." Ucapnya dengan memandangi wajah istrinya. Memberikan wanita itu tatapan teduh yang penuh cinta tapi seakan mental terhadap Rachel.
"Tak bisakah kamu melepaskanku Vir...?" Tanyanya. Pertanyaan yang membuat sudut mata Mahavir kembali meneteskan beberapa bulir bening.
Mahavir kembali menggeleng, lalu bangkit berdiri dan merengkuh tubuh istrinya itu kedalam pelukannya. "Maafkan bila aku egois, tapi diriku akan semakin kacau lagi tanpamu sayang..." Lirihnya dengan semakin merapatkan pelukannya dengan begitu eratnya.
Rachel bahkan merasa sesak dan sulit menghirup oksigen saking rapatnya pelukan Mahavir itu. Namun Rachel sama sekali tak menepis ataupun memberikan perlawanan, semakin Mahavir posesif terhadap tubuhnya, semakin pasrah dia menghadapinya.
Menyadari hal itu, Mahavir akhirnya mengurai pelukannya dan kembali memandangi Rachel. Pelan-pelan wajah Mahavir bergerak mendekat ke wajah Rachel lalu mendaratkan kecupan ringan pada keningnya....
kedua matanya....
hingga turun ke bibirnya...
Sementara Rachel hanya diam mematung dengan kedua mata yang sudah terpejam dan sesekali meneteskan airmatanya. Tak ada respon apapun darinya, bahkan penolakan sekalipun. Tetapi, walaupun begitu Mahavir terus saja menciumi bibir merekah itu, bahkan menggigit-gigit kecil disana agar wanita itu memberikan akses pada Mahavir untuk memperdalam ciumannya. Hasrat Mahavir yang sudah lama tertahan kini sudah tak terbendung lagi, membuatnya langsung mengangkat tubuh Rachel dengan kedua lengannya dan membawanya naik ke kamar mereka tanpa melepaskan sama sekali pagutan bibirnya.
Dibaringkannya tubuh ringkih Rachel dengan perlahan di ranjangnya diikuti dengan dirinya yang ikut menindih tubuh istrinya itu. Sejenak, dipandanginya wajah Rachel yang saat ini masih saja memejamkan kedua matanya, dengan jari-jarinya yang mengusap lembut pipi mulus istrinya itu.
Suara detak jantung keduanya pun begitu terdengar berdentum dengan cepatnya.
"Aku merindukanmu sayang.... Sangat- sangat merindukan dirimu...." Bisiknya ke telinga Rachel, lalu kembali mengecup bibir Rachel. Menyesapi dan mel*mat kedua bibir itu secara bergantian dan semakin dalam dengan penuh kerinduan.
Mahavir baru melepaskan pagutaan bibirnya saat merasakan nafas Rachel yang sudah tersengal-sengal. Namun bukan berarti ciumannya berhenti sampai disitu, karena kini bibirnya malah menyusuri leher jenjang Rachel hingga turun ke dadanya dan meninggalkan beberapa kissmark disana.
"Sayang...Aku sangat menginginkanmu saat ini, aku sangat ingin merasakan kembali kehangatanmu..." Bisiknya kembali di telinga Rachel dengan suara yang sudah serak diiringi kecupan-kecupan kecil di ceruk leher Rachel.
Rachel dapat merasakan hembusan nafas Mahavir yang membuat seluruh tubuhnya meremang. Tapi ia berusaha kuat agar tidak terbuai dengan cumbuan suaminya itu. Hanya saja airmatanya terus menetes berjatuhan dari sudut matanya.
Buru-buru Mahavir mengusap airmatanya lalu mengecup lembut kedua mata itu.
"Please....sayang, jangan menangis lagi. Aku tak ingin melakukannya bila kamu memang tidak menginginkannya. Tapi untuk saat ini aku sudah tidak bisa menahannya lagi, bahkan aku sudah tak bisa mengontrol diriku sendiri. Maka dari itu, tolong beri penolakan selain menangis. Kamu bisa mendorongku dengan keras, berteriaklah, maki aku, kalau perlu tampar aku dengan kerasnya agar aku berhenti. Diam dan pasrahmu saat ini tak bisa membuatku berhenti untuk melanjutkannya..." Ucapnya dengan sorot mata yang sudah sangat berkabut penuh hasrat. Tangan Mahavir pun bergerak menyusup masuk ke balik pakaian Rachel dan meremas di sana sini.
Walau pikirannya berkata tidak, tapi tubuhnya berkata lain. Sejatinya, tubuhnya juga merindukan dan mendamba sentuhan suaminya. Bukannya memberikan penolakan, Rachel malah mengeluarkan suara-suara desahan yang semakin membuat hasrat serta gairah Mahavir bergejolak. Mahavir dengan segera membuka kain penutup tubuh istrinya dan dirinya. Meloloskan semua yang melekat hingga ia bisa melihat dengan jelas tubuh polos istrinya itu. Kemudian perlahan namun pasti Mahavir pun membenamkan dirinya kedalam kehangatan tubuh Rachel.
Malam yang dingin itu, Mahavir akhirnya bisa melepaskan kerinduannya dengan mencumbu istrinya setelah sekian lama menahan hasratnya. Yah, walaupun Rachel tidak membalas segala sentuhannya dan hanya pasrah menerima cumbuannya, Mahavir tetap saja meneruskannya. Melakukannya dengan perlahan dan begitu lembut karena menyadari keberadaan anaknya di rahim Rachel.
Entah berapa kali Mahavir menuntaskan hasratnya, hingga Rachel langsung tertidur begitu saja saking lelahnya.
Mahavir mendekap Rachel dan terus memandanginya, seolah sedang merekam semua garis-garis wajahnya tanpa terlewat sedikitpun.
"Terima kasih sayangku....." Mahavir berbisik pelan di telinga Rachel dan mengecup lembut keningnya yang saat ini tengah tertidur lelap akibat pergulatan panas mereka. Mahavir lalu bangkit dari sisi Rachel secara perlahan, menaikkan selimut hingga menutupi keseluruhan tubuh polos wanita itu. Memakai kembali pakaiannya, kemudian akhirnya melangkah menuju pintu kamar mereka. Di ambang pintu Mahavir menyempatkan kembali memandangi istrinya. Cukup lama, hingga akhirnya Mahavir menutup pintu itu.
* * * *
Fajar kembali menyingsing. Sang mentari perlahan memunculkan diri dari peraduannya di ufuk Timur. Rachel terbangun dengan merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya, kemudian mengangkat tubuhnya terduduk dan bersandar pada headboard tempat tidurnya.
Tadinya ia mengira laki-laki itu masih mendekapnya saat terbangun di pagi hari, tapi kenyataannya dia terbangun seorang diri diatas pembaringannya. Saat berbalik ke arah pintu, netranya menangkap sesuatu tergeletak dengan rapinya di atas nakas. Sebuah kalung bermata berlian ruby berwarna merah hati dengan secarik kertas dibawah kalung itu.
Rachel meraih kedua benda tersebut. Dipandanginya kalung mewah itu selama beberapa saat, kemudian beralih pada secarik kertas yang terdapat tulisan tangan Mahavir dan membacanya,
_______________________________________________
Dear sayangku...
Aku tahu kata 'Maaf' saja tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku...
Tapi biarpun begitu, aku akan terus mengucapkannya sampai kamu bisa memaafkanku....
'Maaf....
Sejujurnya, Aku sudah tidak sanggup melihat dirimu yang hidup tapi seakan tak bernyawa...
Tak ada lagi canda tawa serta omelanmu yang kurindukan...
'Maaf...
Walau rasanya begitu berat, aku akan mengabulkan keinginanmu untuk sendiri saat ini.
Bukan berpisah, bukan pula meninggalkanmu...
Hanya memberikan waktu padamu untuk bisa menerima semua ini.
Para pengawal yang berjaga dan mengawalmu selama ini sudah kutarik semua. CCTV yang ada di penthouse pun sudah aku matikan semua. Aku tak akan memantau pergerakanmu lagi.
Mulai saat ini kamu sudah bebas. Lakukan semua hal yang kamu inginkan, kecuali meninggalkan penthouse kita. Aku menaruh kepercayaan penuh padamu untuk tidak pergi meninggalkanku. Dan aku yakin kamu akan menepati janjimu.
Untuk saat ini dan kedepannya aku akan tinggal di hotel Alister. Bila hatimu sudah tenang dan sudah siap menerimaku, tolong jemput aku disana dengan mengenakan kalung pemberianku.
Jaga dirimu dan calon anak kita dengan baik....
Dan, Terima kasih karena tidak menolakku semalam... Maaf bila aku sedikit memaksamu.
Sekali lagi... 'Maaf'... Atas keegoisanku...
'I will love you always....'
_______________________________________________
Kedua mata Rachel menatap nanar secarik kertas itu begitu ia selesai membacanya. Raut wajahnya begitu datar dan kaku, tak menampakkan respon apapun. Ia melipat kertas itu dan meletakkannya kembali ke atas nakas bersama kalung yang tadi.
Rachel pun akhirnya bangkit dari atas ranjangnya. Melangkah dengan tertatih-tatih dan sedikit meringis kesakitan menuju kamar mandi. Ia menghela nafas kasar begitu melihat tampilan keseluruhan tubuh polosnya melalui pantulan cermin yang ada di dalam kamar mandi. Jejak yang ditinggalkan Mahavir begitu tercetak jelas di sekujur tubuhnya. Saat inipun ia masih merasakan perih di inti tubuhnya. Semalam, laki-laki itu betul-betul melampiaskan hasratnya dengan bertubi-tubi padanya.
Kamu hebat Vir... Ternyata ada alasan dibalik pelampiasanmu semalam...
Tangannya lalu terjulur memutar tuas kran shower, dan sedetik kemudian pancuran air dari lubang-lubang kecil shower diatasnya jatuh membasahi tubuhnya bersamaan dengan tetesan airmatanya yang ikut berderai dan mengalir bersama tetesan air shower tersebut.
Akhirnya tangis yang ditahannya saat membaca surat yang ditinggalkan Mahavir tadi pun pecah.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Isaknya sambil memukuli dadanya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya hatinya inginkan. Airmatanya bahkan terus keluar tanpa dikomandokan oleh pikirannya. Bukannya merasa senang setelah mengetahui bahwa ia akan terbebas dari kekangan laki-laki itu, justru hatinya kini berdenyut sakit.
Kamu jahat Vir....
Mengapa kamu selalu sukses membuat hatiku begitu sakit?
Semakin lama isakan tangisnya semakin pecah. Tubuhnyapun sudah sangat memerah karena tangannya yang menggosok dengan begitu kerasnya semua jejak yang Mahavir tinggalkan di tubuh mulusnya. Ia akhirnya merosot turun dan menjatuhkan tubuhnya terduduk pada dinginnya lantai marmer kamar mandi dibawah pancuran air yang terus berjatuhan membasahinya. Ia memeluk erat kedua lututnya dan semakin sesunggukan dengan tangisnya.
Berjam-jam lamanya Rachel terduduk di bawah pancuran air, kulitnya bahkan sudah mengkerut dengan tubuh yang bergetar kedinginan. Tapi belum ada tanda-tanda bahwa ia akan beranjak dari sana.
Dari arah luar kamar terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat memasuki kamarnya, hingga sosok seseorang kini sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang tidak tertutup.
"Astaga, Nyonya Muda... Apa yang anda lakukan." Bik Inah segera berlari mematikan kran shower, mengambil handuk, lalu membungkus tubuh Rachel. Ia menarik Rachel agar bangkit berdiri dan memapahnya berjalan hingga ke tempat tidur. Buru-buru ia menyalakan mesin penghangat ruangan karena tubuh majikannya begitu dingin dan gemetaran.
"Apa yang terjadi Nyonya?" Tanya Bik Inah sambil mengeringkan rambut Rachel menggunakan hairdryer. Bukannya menjawab, Rachel malah kembali terisak.
Bik Inah akhirnya memilih diam dan tak bersuara lagi. Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat baginya untuk sekedar memberikan nasehat.
* * *
Sudah hampir seminggu lamanya sejak Mahavir meninggalkan penthouse-nya. Dan sejak hari itu pula Rachel lebih banyak menghabiskan waktunya dengan termenung seorang diri di kamarnya.
Tok... Tok... Tok...
Bik Inah mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk ke kamar membawakan makan siang untuk Nyonya Muda-nya.
"Bagaimana perasaan anda Nyonya? Apa sudah enakan?" Tanyanya sembari menyentuh kening Rachel untuk memastikan suhu tubuhnya. Yah, hampir seminggu ini Rachel deman dan tidak enak badan hingga harus bedrest total. Mungkin efek karena kelamaan berdiam diri dibawah pancuran air dingin. Tapi walaupun begitu sampai saat ini tak ada kabar apapun dari Mahavir.
"Aku baik-baik saja Bik..." Ucapnya dengan berusaha mengulas senyum.
Bik Inah menghela nafas berat lalu duduk di tepi tempat tidur. "Maaf Nyonya, apa saya boleh berbicara sebentar?" Tanyanya yang langsung dibalas dengan anggukan pelan oleh Rachel.
"Maaf bila saya sedikit lancang, tapi apa anda tidak merindukan Tuan Muda?"
Raut wajah Rachel tiba-tiba berubah sendu. Matanya mendadak berkaca-kaca. Dan Bik Inah dengan peka-nya bisa menangkap itu. Bik Inah meraih tangan Nyonya Muda-nya dan mengusap lembut punggung tangannya.
"Nyonya, saya tak tahu apa yang anda alami dengan Tuan Muda. Tapi kalau bisa jangan membiarkannya semakin berlarut-larut. Benci dan cinta itu begitu tipis antaranya. Kita tak akan merasakan sakit bila memang kita tidak memiliki perasaan apapun. Dan airmata nyonya selama ini cukup menjadi bukti bahwa anda juga mencintai Tuan Muda. Anda tak mungkin akan sesedih ini bila saat ini anda betul-betul membencinya. Saya berkata seperti ini bukan karena dia adalah Tuan Muda saya, tapi saya hanya mencoba mencari jalan tengah untuk kalian berdua."
Bik Inah menggerakkan satu tangannya ke punggung Rachel dan mengusap lembut disana.
"Nyonya...Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari. Tuan Muda sudah mengalah seperti ini pada anda. Kini giliran anda yang harus mengalah. Kesampingkan ego anda. Mau sampai kapan anda seperti ini? Anda juga merasa hampa kan tanpa dirinya? Bagaimana dengan Tuan Muda saat ini? Tidakkah hati anda tergerak untuk sekedar mengetahui kabarnya? Bisa saja disana dia lebih menderita daripada anda saat ini."
Rachel terdiam, memandang lurus kedepan dengan tatapan kosongnya. Sementara didalam benaknya bermonolog sendiri.
Benarkah aku yang salah selama ini?
Mengapa setiap orang selalu berpihak padanya?
* * *
Rachel melangkahkan kakinya memasuki lobi hotel Alister dengan begitu anggunnya. Mengenakan dress selutut berwarna beige dengan longcoat senada serta kalung yang menjuntai dengan indahnya di leher jenjangnya.
Kakinya berhenti sejenak di depan resepsionis dan meminta salah satu staff mengantarkannya ke ruangan Mahavir.
Akhirnya setelah memikirkan perkataan Bik Inah seharian kemarin, ia pun memutuskan untuk mengesampingkan egonya.
Di dalam lift yang membawanya naik ke lantai atas, tak henti-hentinya Rachel menarik nafas dalam-dalam guna meminimalisir kegugupannya. Semakin jauh lift bergerak naik, jantungnya pun semakin berdetak kencang. Entah mengapa ia begitu gugup untuk bertemu laki-laki itu.
"Please, This way Mrs. Alister." Staff hotel yang mengantarkannya mempersilahkan Rachel berjalan mengikutinya begitu pintu lift terbuka.
"Let me enter it myself. Thank you.." Ucap Rachel begitu ia sudah berada dekat dengan pintu ruangan Mahavir. Staff itu membungkuk hormat lalu beranjak meninggalkannya.
Rachel melangkah ke depan pintu. Ia kembali menarik nafas panjang berkali-kali sebelum membuka pintu di hadapannya. Namun, tangannya tiba-tiba terhenti di udara saat akan membuka pintu di hadapannya. Suara percakapan dua orang di dalam sana membuatnya urung untuk masuk.
* * *
Minal Aidin Wal Faidzin 🙏
Maafkan kk author bila ada salah dan khilaf selama ini...
Sorry yah... Up nya kelamaan.
Insha Allah besok-besok bisa Up dengan cepat...
Salam sayang selalu...🤗🥰