
Mahavir mendekap erat tubuh Rachel yang masih gemeteran dalam pangkuannya. Bibir pria itu tak henti-hentinya mengecup pucuk kepala istrinya.
"Maafkan aku....!!"
"Maafkan aku... !!"
"Maafkan aku... !!"
Kata-kata maaf terus terlontar dari bibir Mahavir.
Membuat Rey yang mendengarnya ikut merasa bersalah.
Sementara Rachel terkulai lemas dan tak berdaya dalam dalam pangkuannya. Dia menyembunyikan wajahnya ke dalam dada Mahavir mencoba mencari kehangatan disana.
Reynold melihat keadaan mereka dari pantulan cermin di kaca depan, kedua orang itu basah kuyup dan tampak sangat berantakan.
"Apa kata orang melihat mu seperti itu boss!!" Guman Rey dalam hatinya, setelah itu dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Kosongkan akses menuju lift khusus dengan segera." Perintah Rey pada orang dalam sambungan telepon itu.
Kendaraan mereka pun semakin bergerak dengan cepatnya dan saling berkejaran dengan kendaraan yang ada dibelakangnya.
Beberapa puluh menit kemudian mereka memasuki halaman hotel Calister, mobil mereka langsung memasuki basement dan melewati jalur khusus hingga berhenti tepat di depan sebuah lift khusus. Porsche putih yang dikendarai oleh Raya menyusul dari belakang berbarengan dengan motor yang dikendarai oleh Bryan.
Reynold turun lebih dahulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Tuannya. Mahavir turun sambil mengangkat tubuh Rachel berjalan menuju lift. Rey berlari kecil mendahului ke depan Mahavir lalu menekan tombol lift. Sesaat setelah pintu lift terbuka mereka bertiga langsung naik ke lantai paling atas tempat ruangan khusus CEO Alister Corp berada.
"Panggilkan dokter secepatnya." Perintah Mahavir saat berada dalam lift.
"Pastikan dokter nya seorang wanita!" Perintah Mahavir sekali lagi.
"Baik Pak!" Jawab Rey, dengan sigap menjalankan perintah atasannya. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi seorang dokter. "Dok mohon kedatangannya secepat mungkin ke hotel Calister." Perintah Rey pada sambungan teleponnya.
"Dokter Ratih akan datang 15 menit lagi pak." Ujar Rey sesaat setelah mematikan ponselnya.
Setelah lift sampai pada lantai teratas gedung hotel itu dan pintu nya terbuka, Mahavir bergegas melangkahkan kakinya menuju ke kamar khususnya.
Di kamar President Suite itu, Mahavir membaringkan tubuh Rachel yang masih basah kuyup. Entah wanita itu sedang pingsan atau tertidur, yang pastinya kondisi nya sangat lemah.
"Saya akan menunggu kedatangan dokter Ratih diluar." Ujar Reynold kemudian berjalan keluar kamar dan menutup pintu.
Mahavir menyelimuti rapat-rapat tubuh Rachel.
"Maafkan aku sayang... Ini semua salahku..."
"Ini akibat dari keegoisan ku..."
"Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya..!"
Lirih Mahavir sambil memegang tangan Rachel dengan eratnya. Berkali-kali pria itu mengutuk dan mengecam dirinya sendiri. Dia bahkan tidak menyadari kalau tubuhnya sendiri masih dalam keadaan basah dan gemeteran karena paniknya.
Sementara itu, Bryan dan Raya menyusul di lift berikutnya. Saat berada dalam lift itu Bryan memperhatikan Raya yang tertegun dan terlihat syok.
"Kak Raya tidak apa-apa?" Tanya Bryan cemas.
Raya tertunduk menyembunyikan wajahnya, tapi Bryan dapat melihat beberapa tetes air mata yang jatuh dari kedua matanya. Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak tahu akan berbuat apa.
"Kak... Raya?" Bryan menunduk, mencoba melihat wajah Raya.
Raya mendongak dan melihat wajah Bryan yang sedang memperhatikannya, seketika tangisnya pecah "Huwaaa.... Ini semua salahku!!" Teriak Raya diiringi isakan tangis.
"Rachel seperti ini gara-gara aku." Guman Raya dalam tangisannya.
Bryan mematung, bingung harus bagaimana. Dia sendiri juga masih sedikit syok atas kelakuan dari kakaknya. Perlahan tangannya bergerak merangkul Teman kakaknya itu.
Tanpa disadari Raya memeluk tubuh Bryan dan menangis dalam dada bidang pemuda itu.
Bryan setengah terkejut, lalu perlahan tangannya bergerak menepuk-nepuk pelan punggung Raya.
Saat lift telah sampai pada tujuannya dan pintu terbuka, barulah Raya tersadar dan dengan malunya segera melepaskan pelukannya dan berlari kecil keluar lift meninggalkan Bryan.
"BRAKK" Raya bertubrukan dengan tubuh Rey yang akan masuk ke dalam lift hingga tas tangan dan high heels Rachel yang dipegang nya terjatuh.
Rey mendapatkan sikap dan gelagat aneh dari dua orang itu.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Rey memegangi kedua lengan Raya.
Saat itu juga Bryan lewat, dia menunduk lalu mengambil barang-barang Rachel yang terjatuh tadi.
"Aku tidak apa-apa!" Raya berusaha melepaskan kedua tangan Rey.
"Dimana kak Rachel?" Tanya Bryan.
Rey berbalik dan menunjuk ke pintu kamar president suite yang berada di samping ruang kerja Mahavir yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Bryan melangkah hendak berjalan menuju kamar itu tapi tangannya tiba-tiba ditarik oleh Raya,
"Tunggu" Pinta Raya, lalu melangkah tanpa melepaskan pegangannya pada Bryan.
Tapi Rey kembali menarik tangan Raya yang sebelahnya. "Raya, aku ingin bicara sesuatu padamu." Ujar Rey.
Bryan berbalik memandangi Raya dan Rey, mendapat tatapan dari Bryan akhirnya Raya melepaskan pegangannya pada Bryan. Pemuda itupun kembali berjalan kedepan meninggalkan Raya dan Rey.
"Ada apa?" Tanya Raya sembari menghempas tangan Rey yang memegang nya.
"Apa hubunganmu dengan bocah itu?" Tanya Rey penasaran, karena sedari turun dari motor saat di pantai tadi dia sempat cemburu melihat kedekatan dari Raya dan Bryan. Apalagi Raya menggunakan jaket dari bocah itu.
"Apa sekarang waktunya menanyakan itu?" Raya melotot kepada Rey kemudian kembali melangkahkan kaki nya menuju kamar president suite yang cuma satu-satunya di lantai itu.
Raya mengetuk pintu, kemudian membukanya dan masuk dengan perlahan. Didalam tampak Mahavir yang terduduk disamping tempat tidur memegangi tangan Rachel, sementara Bryan terduduk di ujung kaki tempat tidur sambil menggosok telapak kaki kakaknya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Raya sedikit berbisik.
Mahavir dan Bryan hanya terdiam. Raya melihat Rachel yang terbaring masih menggunakan pakaian yang basah, kemudian pandangannya berpaling memandang Mahavir dan Bryan yang pakaiannya juga terlihat masih basah.
"Sebaiknya pakaian Rachel diganti dulu." Ujar Raya. "Apa tidak ada pakaian ganti atau bathrobe hotel?"
"Ada, Tunggu sebentar." Jawab Mahavir kemudian berdiri mengambilkan bathrobe dari walking closet. Lalu menyerahkannya kepada Raya.
Raya menerimanya dengan heran, "Bukankah kamu yang harus menggantikannya? Kamu kan suaminya!" Ujar Raya.
"Aku minta tolong padamu, bisakan?" Tanya Mahavir yang dibalas anggukan oleh Raya.
Kemudian Mahavir berjalan kembali ke arah walking closet, mengambil handuk dan dua pasang pakaian.
"Bryan, ikut aku! Kita ganti pakaian di ruang sebelah."
Bryan bangkit mengikuti Mahavir keluar dari ruang kamar itu. Dengan segera Raya menanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuh Rachel, kemudian membersihkan bekas-bekas pasir yang masih menempel dengan handuk basah, lalu menggeser sedikit tubuh sahabat nya itu ke sisi kasur yang masih kering dan memakaikannya bathrobe berwarna putih bersih. Setelah itu dia kembali menyelimuti Rachel dengan selimut baru yang diambil nya dari lemari di walking closet.
"Tok... Tok... Tok.."
Seseorang mengetuk pintu kamar itu, Raya bangkit dan membukakan pintu yang sempat di kuncinya tadi. Rey muncul dengan seorang wanita berpenampilan seperti seorang dokter.
"Dokter Ratih?" Raya mengenali wanita yang berdiri di depan pintu yang ternyata adalah tantenya. Keluarga Raya memang sebagian besar berprofesi sebagai dokter.
"Nak Raya, Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya dokter wanita itu.
"Tuan Mahavir mana?" Tanya Rey, masih berdiri dihadapan pintu.
Raya mengernyitkan dahinya,
"Suami Rachel!" Rey memperjelas.
"Oh, dia ganti pakaian di ruang sebelah bersama adik Rachel." Jawab Raya. Kemudian menutup pintu kembali setelah Rey beranjak ke ruangan sebelah.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya dokter Ratih sembari memeriksa Rachel.
"Tadi dia sempat tenggelam di laut tan."
"Astaga....!!" Seru dokter Ratih.
"Syukurlah dia tidak kenapa-kenapa. Sepertinya dia cuma sedikit syok, saat ini dia cuma tertidur karena lelah. Sepertinya juga lemas karena belum makan. Oh iya, mana keluarga nya?"
"Suaminya lagi ganti pakaian di ruang sebelah." Ujar Raya.
Tidak lama kemudian Mahavir masuk ke kamar itu, penampilan nya sudah tampak lebih rapi dari sebelumnya. Dokter Ratih yang melihat Mahavir langsung berdiri dan membungkuk memberi hormat.
"Malam Mr.Alister" Sapa dokter Ratih mengenali Mahavir sebagai pemimpin dari Alister corporation.
Membuat Raya terheran dengan sikap tantenya yang memberi hormat kepada suami sahabatnya. "Gila, sehebat apa suami sahabatku ini??" Guman batin Raya.
"Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Mahavir
"Dia cuma sedikit syok, sepertinya dia juga lemas karena belum makan. Aku akan meresepkan beberapa obat dan multivitamin. Kalau dia sudah bangun berikan makanan hangat dan mudah dicerna oleh lambungnya." Ujar dokter Ratih.
Mahavir hanya mengangguk dan kembali terduduk disamping tubuh Rachel.
"Baiklah kalau sudah tidak ada lagi, saya undur diri dulu Mr. Alister." Dokter Ratih kembali memberi hormat kemudian berjalan ke arah pintu disusul Raya. "Raya, jaga sahabat mu baik-baik. Kamu juga seorang dokter kan?"
"Baik tant...!! Aku antar kebawah yah."
"Tidak usah, aku bisa turun sendiri." Ujar dokter Ratih lalu meninggalkan ruangan itu. Raya menutup pintu kembali dengan rasa canggung berada di antara pasangan suami istri itu.
"Hemm... Nama mu Raya kan?" Tanya Mahavir
"I.. Iyya...!" Jawab Raya terbata-bata.
"Kamu menginap saja disini, temani Rachel untuk sementara waktu. Bisa? "
"Bisa" Ucap Raya dengan tertunduk.
"Santai saja, jangan kaku begitu! anggap aku juga sebagai temanmu."
"I.iyya..." Jawab Raya masih dengan gugupnya tapi matanya tak berkedip memandangi wajah Mahavir dengan dalam.
"Aku ke ruang kerja di sebelah dulu melihat Bryan. Kamu tolong jaga Rachel sebentar."
"Baik Pak, eh...tuan, eh..." Raya mengatupkan kedua bibirnya takut salah panggil."
"Mahavir. Nama ku Mahavir." Ucap Mahavir meninggalkan Raya yang masih terlihat speechless.
"Kenapa yah... Wajahnya kayak tidak asing!! Sepertinya aku pernah melihatnya dimana ya??"
Guman Raya mencoba mengingat-ingat. Karena selama ini dia punya ingatan yang kuat dalam mengenali wajah seseorang.
* * *
Mahavir masuk ke ruang kerjanya, disana telah ada Bryan dan Rey yang duduk saling berhadapan. Rey terlihat menatap Bryan dengan tajam, sementara Bryan masih terlihat memikirkan keadaan kakaknya.
"Apa kata dokter kak vir?" Tanya Bryan masih terlihat cemas.
"Syukurlah dia tidak apa-apa, dia hanya syok dan lemas karena belum makan." Jawab Mahavir kemudian ikut duduk di sofa yang sama dengan Bryan.
"Kamu sudah mengabari daddy dan mommy?" Tanya Mahavir.
"Sudah, aku bilang kalau kita menginap disini untuk mempersiapkan acara besok."
"Bagus, jangan sampai daddy dan mommy kepikiran dengan keadaan Rachel. Besok aku yang akan menjelaskannya kepada mereka."
"Aku lengah dalam menjaganya kak!! Aku betul-betul tidak menyangka kak Rachel berbuat nekat seperti itu." Ujar Bryan.
"Itu bukan salahmu, bukan salah kalian. ini semua kesalahan ku!!" Ucap Mahavir dengan frustasi.
Mahavir memijit pelipisnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku akan berterus terang." Ucap Mahavir membuat Bryan dan Rey memandanginya bersamaan.
"Berterus terang apa maksud anda?" Tanya Rey
"Aku akan mengatakan pada Rachel siapa diriku yang sebenarnya."
"KAK VIRR!!" Teriak Bryan tidak setuju.
"Bryan... Aku sudah tidak sanggup melanjutkan ini, aku tidak mau lagi menipu Rachel."
"Mahavir!! Pikirkan baik-baik keputusan mu itu!!" Ujar Rey menasehati sahabat nya.
"Aku tidak sanggup melihatnya terluka seperti itu." Mahavir menarik nafas panjang lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kak Vir, daddy tidak akan setuju dengan keputusan kakak ini, kak vir sudah sampai sejauh ini. Jangan menyerah kak!! Kak Rachel juga masih syok, dia akan lebih terguncang kalau kak Vir tiba-tiba mengatakan kalau kak Vir adalah Dirman." Bryan ikut menasehati.
"Besok malam adalah pesta pernikahan kalian, begitu banyak tamu undangan yang akan hadir. Apa kamu mau menghancurkan nya?? Bagaimana dengan nama besar keluarga Rachel? Nama besar keluarga Prof. Wijaya Langdon? Kamu mau mempermalukan mereka??" Rey mencoba membuka pikiran Mahavir.
Mahavir menghempaskan punggungnya bersandar pada sofa, matanya terpejam mencoba menahan sesuatu yang ada di pelupuk matanya. Dia dilema, tidak tahu harus berbuat apa.
"Iya kak Vir, tolong jangan bertindak gegabah. Kak Rachel sudah mulai menyukai kak Vir, kakak harus ingat itu. Pelan-pelan nanti kak Vir bisa menjelaskan nya dengan baik ke kak Rachel."
"Betul apa yang dikatakan oleh adik Rachel ini, sekarang bukan waktu yang tepat. Kamu hanya akan memperumit masalah!!" Seru Rey.
Mahavir menarik nafasnya dengan kasar masih dengan mata terpejam.
"Baiklah, ini sudah hampir dini hari! Kalian butuh istirahat. Rey tolong antar Bryan ke kamar untuk istirahat."
"Aku akan tetap disini menemani kak Vir."
"Bryan... aku butuh sendiri dulu, aku ingin menenangkan pikiran ku dulu!! Rey antar Bryan!!
"Baik pak!! Bryan ayo ikut bersamaku." Rey bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu. Dengan terpaksa Bryan meninggalkan Mahavir seorang diri dalam ruang kerjanya itu.
Sepeninggal Rey dan Bryan, Mahavir langsung menghempas kan tubuhnya berbaring disofa itu. Lengan kanannya dia naikkan ke atas keningnya menutupi hampir setengah matanya, menyembunyikan airmatanya yang jatuh dari sudut matanya.
* * *
Terima kasih kepada Readers yang masih setia membaca karya pertamaku ini dan mengikuti kisah mereka 🙏🥰 Mohon maaf bila masih saja ada kekurangan. Author akan sangat menghargai dan berterima kasih bila kiranya kalian mau meninggalkan jejak berupa Like, komen, Vote ataupun koin untuk Author🥰😍😘 Salam sayang dari Author untuk kalian🤗🙏
* * *