
..."Modusmu adalah dramamu."...
...~ Azqila Ziya Yildiz ~...
...•••...
Azqila termenung duduk di bangku yang surah disediakan di taman belakang sekolah. Azqila sangat menyukai tempat itu, tempat untuk ia memenangkan pikirannya dan menumpahkan segala yang ada didalam benaknya lewat tulisannya.
Azqila harus terlihat baik-baik saja. Ia harus bisa balik ke Azqila yang dulu, pelan-pelan ia akan terbiasa.
Jihan hari ini tidak masuk sekolah dikarenakan Papanya sedang berada di rumah sakit. Azqila berencana akan menjenguk Papanya Jihan setelah sepulang sekolah. Azqila menutup bukunya. Suara berkelahi terdengar ditelinga Azqila, ia melihat sudah banyak murid yang berkumpul dan menyaksikan dua orang lelaki yang sedang berkelahi. Azqila beranjak dari tempat duduknya ia melihat siapa yang sedang berkelahi itu.
Banyak para murid yang menyaksikan perkelahian tersebut, namun tidak ada satu pun yang memisahkan mereka berdua. Dengan cepat Azqila menuju kantor guru untuk melaporkannya, karena sudah tidak ada pilihan lain untuk memisahkan keduanya.
"STOP!" Teriak Pak Agus.
Semua murid yang awalnya berisik menjadi diam dikarenakan kedatangan Pak Agus.
"Kalian berdua keruangan saya." Setelah itu Pak Agus meninggalkan mereka.
Setelah melaporkan Barra dan Dimas, Azqila tidak balik ke tempat itu. Ia pergi ke toilet dan ke perpustakaan untuk mencari buku pelajarannya.
"Mau jadi jagoan kalian?" Tanya pak Agus.
"Nggak Pak."
"Kenapa kalian berantam?"
Tidak ada jawaban dari Barra dan Dimas, mereka malah saling lirik mengartikan kebencian.
"Jawab!" Bentak pak Agus.
"Baik, karena kalian tidak mau menjawab. Kalian berdua bapak skors selama 4 hari. Silahkan keluar!"
Baru sehari Barra sekolah di SMA Taruna yang masih anak baru, tetapi ia sudah membuat masalah. Tetapi bagi Barra ini bukan masalah besar, ia bahkan menganggap ini hanya sebagai perkenalannya dengan sekolah barunya.
Bruk.....
"Lu bisa ga sih jalan pake mata!" geram Barra.
"Dimana-mana jalan tuh pake kaki," ujar Azqila meninggalkan Barra.
"Eh, tunggu."
"Apaan, gue sibuk."
"Lu kan yang udah ngelaporin gue ke pak Agus?" Tanya Barra memastikan.
"Kalo emang iya kenapa?"
"Ikut gue sekarang!" Barra menarik Azqila namun Azqila menahannya.
"Ga mau!" Barra tidak memperdulikan ucapan Azqila, ia terus menarik tangan Azqila sampai di depan UKS.
"Masuk!" Azqila tidak bisa membantah ucapan Barra, ekspresi Barra cukup menakutkan, Mada bicaranya yang dingin tapi penuh penekanan.
"Obati luka gue," ujar Barra yang sudah duduk di brangkas.
"Ogah!" Tolak Azqila.
"Obatin! Kalo ga lu bakal gue cium."
"Apa-apaan sih lu ngatur-ngatur gue. Awalnya aja lu sok baik sama gue," celetuk Azqila sambil membersihkan luka Barra."
"Aw, bisa pelan dikit ga sih!" ringis Barra.
"Nggak!"
"Lu tuh ga tau berterimakasih ya."
"Maksud lu apa?"
"Masih untung gue mau nolongin elu yang kedinginan di halte kemarin."
"Ga ada yang minta lu nolongin gue."
"Tapi lu berharap ada yang nolongin lu kan?"
"Kalo lu nolongin gue ga ikhlas bilang!"
"Emang." jawab Barra.
"Mau lu apa sih?" tanya Azqila dengan menekankan lebam di daerah bibir Barra.
"Aw, sakit. Lu ga ada lembut-lembutnya ya jadi cewek. Pinjam handphone lu."
"Buat apa?"
"Nah, cepatan ga pake lama." Azqila memberi handphonenya ke Barra. Barra mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu di handphone Azqila. Namun, terdengar suara dering handphone dari saku celana Barra.
"Ooohh, disini ternyata." ujar Barra pura-pura tidak tau.
"Dasar, bilang aja lu moduskan mau minta nomor handphone gue." ucap Azqila merampas handphonenya dari genggaman Barra.
"Makasih ya." ujar Barra yang tidak ditanggapi oleh Azqila, ia pergi meninggalkan Barra.
"Tuh cewek jutek amat, awalnya aja sok kalem, pendiam, irit ngomong. Eh ternyata aslinya." gerutu Barra.
***
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Azqila yang sudah berada didepan ruangan dengan pakaian putih dan bauk obat.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, eh Azqila. Sini masuk," jawab orang yang berada didalam ruangan tersebut.
Azqila memasuki ruangan tersebut, dan meletakkan buah buahan diatas meja. Dan menyalami Papa dan Mama Jihan.
"Gimana keadaannya om?" tanya Azqila.
"Alhamdulillah, udah mendingan. Besok juga udah bisa pulang kata dokter."
"Alhamdulillah, kalo gitu om. Oia, Jihan mana Tan?"
"Jihan ke kantin, katanya tadi lapar."
"Oh gitu ya Tan, Azqila susulin Jihan ya Tan."
"Iya sayang."
"Om, Azqila sekalian mau pamit pulang ya. Semoga om cepat sembuh."
"Aamiin. Makasih ya Qil."
"Iya om sama-sama. Azqila pamit ya Tante." Azqila menyalami kembali kedua orang tua Jihan.
"Iya sayang, hati-hati ya."
"Iya Tan, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Tan Om."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Qil."
Azqila keluar dari ruangan tersebut, ia ingin menemui Jihan yang sedang berada di kantin. Saat Azqila menemui Jihan, ia tampak bingung karena Jihan yang dari tadi sedang fokus dengan handphonenya sambil tersenyum-senyum.
Azqila memiliki ide, ia pelan pelan jalan menuju tempat duduk Jihan. Dengan hati-hati Azqila sudah berada dibelakang Jihan.
"Cie cie love love-an," teriak Azqila tertawa.
"Ihh, Azqila apaan sih."
"Siapa itu mas exs?" tanya Azqila yang sudah duduk di hadapan Jihan.
"Kepo lu!"
"Ooohhh, sekarang gitu udah main rahasia rahasian."
"Ih ga gitu Qil, gue sebenernya sudah lama mau cerita ke elu, tapi belum ada waktu yang tepat aja sama keadaan lu kemarin."
"Hehehehe, maaf ya. Yaudah sekarang cerita."
***
"Kamu tadi pulang sekolah kemana Qil. Kok ga langsung pulang? Tanya Puspa.
"Azqila jenguk Papanya Jihan, Ma."
"Jadi gimana keadaan om Panji sekarang?" tanya Yildiz.
"Udah baikkan kok Pa. Besok juga udah boleh pulang kata dokter."
Acara makan malam hanya dihadiri oleh Puspa, Yildiz, dan Azqila. Ryan belum pulang, dikarenakan masih ada jam tugas kampusnya.
"Ma, Azqila ke kamar ya. Ada tugas yang mau Azqila kerjain."
"Iya sayang."
Saat Azqila sudah berada di kamar ia mulai mengeluarkan buku pelajarannya dan buku yang ia pinjam di perpustakaan tadi. Azqila tiba-tiba teringat dengan cerita Jihan tadi. Dia tidak bisa abis pikir dengan Jihan bagaimana Jihan bisa menyukai seseorang yang belum tau asal usulnya. Azqila geleng-geleng kepala memikirkannya. Ia pun mulai mengerjakan tugasnya.
Hay Hay Hay....
Gimana part ini?
Tunggu part selanjutnya ya.🥰