Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 67. Kerepotan Bryan.


"Kak...."


"Hmmm?"


"Kenapa kita keluar lagi? Memangnya di rumah tadi ada apa?"


Bryan menoleh memandangi wajah Risya yang terlihat samar-samar oleh remangnya cahaya lampu dan mengulas senyumnya. "Ada sesuatu yang belum kamu mengerti."


"Memangnya apaan?" Mengangkat kedua alisnya meminta penjelasan. "Lalu kita disini sampai kapan?" Lanjutnya, sembari mengedarkan pandangan melihat pemandangan kota di malam hari.


"Yah, kita jalan-jalan saja dulu..." Ucapnya sambil melangkahkan kaki dengan santai diikuti Risya di sampingnya.


Saat ini mereka berdua berada di Southwark bridge, berjalan menyusuri jembatan yang berbentuk melengkung dengan latar belakang bangunan serta gedung-gedung tinggi khas London.


Pandangan keduanya fokus pada genangan air yang mengalir sepanjang sungai Thames yang mengalir tepat dibawah jembatan dimana kaki mereka berpijak.


"Kamu kedinginan?"


Risya mengangguk, kedua tangannya mensedekap bahunya untuk menahan rasa dingin.


Bryan mengacak pucuk kepala Risya dengan gemasnya lalu melepaskan satu jaket tebalnya dan hanya menyisakan sweater hoodie pada tubuhnya. Jaket itu kemudian dia sampirkan di punggung Risya. "Pakai ini."


"Makasih kak." Segera memakai jaket Bryan dan meniup-niup telapak tangannya untuk memberi kehangatan.


Melihat itu Bryan menarik tangan Risya lalu menggosok-gosokkan tangannya ke telapak tangan Risya selama beberapa saat. Lalu menggenggam tangan Risya dengan erat dan memasukkan tangan mereka berdua ke saku hoodienya.


"Ayo...." Menarik tangan itu agar mengikutinya berjalan. Risya mengikut dengan diam, rasa dingin membuatnya tak berkutik. Mereka kembali berjalan menyusuri jalur khusus pejalan kaki yang ada di sepanjang sungai Thames, kemudian menyeberang jalan dan sampai pada sebuah kafe yang dipenuhi oleh remaja yang tampak sebaya dengan mereka.


"Mau minum apa?" Tanya Bryan, saat mereka sudah berada di depan tempat pemesanan.


Risya mengedarkan pandangannya melihat minuman remaja yang duduk tak jauh dari mereka. "Yang mereka minum itu apa kak?" Menarik lengan Bryan dan menunjuk dengan dagunya.


"Mau yang itu?"


"Iya, sepertinya enak."


"Mau makan juga?"


Risya menggeleng, "Minuman hangat saja."


Bryan tersenyum lalu memesan dua signature dark chocolate. Keduanya kembali keluar dari kafe dan kembali berjalan ke taman di pinggir sungai Thames dan duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati chocolate panas mereka. Risya menggenggam erat gelas cup yang masih panas untuk memberikan kehangatan pada kedua tangannya.


"Maaf yah, kamu ikut terbawa seperti ini."


Risya hanya mengangguk, bibirnya sibuk menyesapi coklat hangatnya.


"Ris, kakakmu itu sangat menyukai Raya yah?"


"Raya?" Mengangkat kedua alisnya, ujung lidahnya bermain menyesapi sisa coklat dibibirnya.


"Cewek yang kakakmu suka."


"Kak Bry mengenalnya?"


Bryan mengangguk pelan, kepalanya mendongak melihat langit malam yang berbintang sambil sesekali meneguk cokelat panasnya.


"Dia pacarku sekarang...." Bryan berucap lirih, namun suaranya masih terdengar ke telinga Risya.


"Uhhuk... Uhuukkkk..." Risya tersedak oleh minumannya, cup cokelatnya langsung diletakkannya di sampingnya. Kedua matanya membelalak memandang tak percaya pada Bryan. "Tadi kak Bry bilang apa?"


"Diraya Sabilah itu pacarku."


"Ja.. Jadi... Yang menelpon pagi tadi itu..?"


"Menelpon?"


"Iya, pagi tadi pacar kak Bry nelfon. Maaf Risya gak sengaja mengangkatnya dan lupa memberitahukan ke kakak. Tapi itu betulan pacar kak Bry? Umur kalian kan....?"


"Iya kami beda 10 tahun."


"Hah??" Risya kembali membelalak dan membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Jadi kakak Rey ku itu dikalahkan dengan bocah seperti kak Bry? Kak Rey tahu?"


"Iya, tahulah... Justru kakakmu sudah mendukung kami."


"Astaga, betapa hancur berkeping-keping hati kak Rey...apalagi dikalahkan oleh..." Risya menggantung ucapannya, kedua matanya menelisik Bryan dari atas kepala hingga ke bawah kaki. "Ganteng sih, kak Bry perfect di mata cewek-cewek, tapi kakak Rey ku itu juga tak kalah cakep kok, masa kak Diraya lebih tertarik pacaran dengan remaja sih?"


"Hati kan tak bisa dipaksakan Ris..."


"Tapi tetap saja! Tidak boleh. Kak Bry harus putus. Kembalikan kak Diraya pada kak Rey."


"Hei, Raya itu bukan barang yang bisa main dikembalikan seperti itu. Dia punya perasaan."


"Pokoknya Risya tidak setuju." bangkit berdiri sambil menghentakkan kakinya. "Kak Bry harus putus dengannya. Jangan ambil milik kakak Rey ku."


"Hei bocah! atas dasar apa kamu berhak memutuskannya?" Bryan langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Risya.


"Kak...." Risya berlari kecil mengejar Bryan, namun beberapa langkah ia kembali ke bangku taman tadi dan meneguk sisa minuman cokelat nya yang sudah mendingin hingga tandas. Kemudian kembali berlari mengejar Bryan.


"KAK BRY, TUNGGUIN RISYA. RISYA GAK MAU JADI ANAK HILANG LAGI." teriaknya.


Bryan hanya menoleh sekilas, namun kembali melangkah sambil menahan amarahnya. Dia juga tak tahu suasana hatinya sekarang seperti apa. Disatu sisi dia merasa sangat bersalah kepada Rey karena menikungnya dengan tajam, disatu sisi dia juga tidak mungkin bisa langsung memutuskan hubungan sepihak dengan Raya. Walaupun perasaannya tidak sedalam perasaan Rey, tapi apakah itu bisa dijadikan alasan? Bagaimana dengan Raya? Bagaimana dengan janjinya untuk menikahinya saat lulus nanti? Semua itu kini berkecamuk dalam pikirannya


"Kak Bry, jangan ngambek dong..." Godanya saat sudah berada tepat dibelakang Bryan. Namun Bryan tak terpengaruh.


"Kak Bryyyyy....." Panggilnya dengan nada di buat semanja mungkin.


"Kakakkk Bryaaaaannnnn....."


"Kakakkkkkk gantenggggg....."


"Oppaaaa........"


Risya terus memanggil dengan panggilan-panggilan anehnya. Tapi Bryan tetap tidak menanggapi. Hingga tiba-tiba rasa nyeri mendera di perutnya.


"Kak Bry....." Panggilnya sambil memegangi perutnya yang terasa aneh.


"Kak.....!" Panggilnya sekali lagi karena Bryan tidak berbalik sedikitpun. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Tubuh Risya meringsut turun dan berjongkok, dengan kedua tangan yang menekan perutnya kuat-kuat. "Kak....." Panggilnya lagi.


Bryan berhenti melangkah, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Saat sudah dapat mengontrol emosinya, Bryan berbalik hendak menegur Risya. Namun Risya yang sudah jauh dibelakang sana terlihat berjongkok dan menangis.


"Risya?" Bryan langsung berlari dan menghampiri.


"Ayo, berdiri." Panggilnya saat sudah dihadapan Risya. Tapi Risya tak bergeming.


"Ris,....!" Panggilnya lagi. Lalu menghela nafas panjang. "Maafkan aku....." Lirihnya, mengira Risya ngambek padanya.


"Kak...." Risya memanggil dengan suara bergetar. Tangannya terulur ke atas meminta pertolongan.


Bryan meraih tangan Risya dan hendak menariknya untuk berdiri, tapi telapak tangan Risya yang terasa dingin membuat Bryan tersentak. "Ris, tanganmu dingin sekali. Kamu gak papa?"


"Sa.... Sakit kak... Sakit sekali."


"Apa? Apanya yang sakit?" Ikut berjongkok dan memeriksa keadaan Risya.


"Pe.. Perutku kak....perutku sakit." Ucapnya dengan suara yang sedikit tercekat. Keringat dingin semakin membanjiri keningnya.


"Kamu bisa berjalan?"


"Sakit kak....sakit..."


Bryan langsung berbalik dan memasang punggungnya. Lalu tangannya kebelakang menarik tangan Risya. "Ayo naik ke punggungku." Ucapnya lalu melingkarkan tangan Risya ke lehernya dan menggendongnya.


"Apa perlu ke rumah sakit?" Tanya Bryan sambil menarik kaki Risya dan melingkarkan kaki itu di pinggangnya.


"Tak usah, Risya tidak apa-apa."


"Tapi kamu kesakitan begini."


"Mungkin hanya kram perut. Kita pulang saja yah..."


"Kamu biasa seperti ini?"


"Belum pernah, hanya saja dua hari ini Risya sering merasa nyeri perut."


"Ya sudah kita pulang sekarang." Ia menggendong Risya berjalan kembali menyusuri sisi sungai Thames menuju jembatan Southwarks yang tadi mereka lewati.


"Kak Bry masih marah dengan Risya?"


"Sudah jangan dibahas lagi."


"Maafkan Risya juga yah kak, Risya juga egois."


"Iya, kita sama-sama egois. Sudah jangan dibahas lagi. Masih sakit?"


"Tapi apa?" Bryan mengernyit, hingga tiba-tiba merasakan ada yang basah dan lengket di punggungnya. "Eh, apa ini...?"


"Apa kak?" Tanya Risya takut-takut.


"Kamu ngompol Ris?"


Risya yang ditanya, terdiam. Wajahnya mendadak pias. Tak tahu ingin menjawab apa, karena ia sendiri tak tahu apa yang keluar dari tubuhnya.


"Ris, kamu ngompol?" tanyanya lagi.


"E... Enggak kak... Masa Risya ngompol."


"Perutmu masih sakit?"


"Masih nyeri, tapi sudah agak mendingan."


Buru-buru Bryan berjalan dengan melangkah panjang menuju parkiran khusus dimana mobil sport merah Aston Martin yang dikendarainya tadi diparkirkan.


Setelah membuka pintu mobil, Bryan langsung menurunkan Risya di kursi penumpang. Namun matanya membulat sempurna saat melihat keadaan Risya, saking membulatnya seakan bola matanya ingin melompat keluar.


"Ris, i...itu....itumu berdarah." Tangan Bryan bergetar sambil menunjuk pangkal celana Risya yang penuh darah. Lalu buru-buru mengecek kaos hoodie bagian belakangnya.


Risya menunduk dan melihat celananya, wajahnya semakin pias. "Darah apa ini kak?" Tanyanya pada Bryan.


"Kamu ada penyakit?"


Risya menggeleng cepat. "Tidak ada kak. Tapi kenapa punya Risya berdarah?"


Bryan mencoba berfikir jernih, sambil menggaruk-garuk pelipisnya. "Apa kamu sedang datang bulan?"


"Datang bulan?" Risya mengerutkan keningnya dan berfikir sejenak. "Menstruasi maksud kak Bry?"


"Iya, itu...! Kamu kan perempuan, masa tidak tahu yang begitu."


"Ta.. Tapi...." Risya terdiam, dia cukup malu membicarakan ini pada Bryan yang notabene adalah seorang laki-laki.


Bryan berdecak kesal. "Masa kamu tidak sadar kalau sedang datang bulan?"


"Se.. Sebelumnya Risya belum pernah datang bulan kak, Risya belum pernah mengalami....." Menghentikan ucapannya, lalu menunduk, mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan memejamkan matanya saking malunya.


"Jadi ini yang pertama kali?"


Risya mengangguk pelan.


Lagi-lagi Bryan menghela nafas kasar untuk kesekian kalinya. Ia lalu menunduk, mendekat ke arah Risya dengan kedua tangan yang memegangi bingkai pintu mobil. "Baiklah, apa yang kamu butuhkan sekarang?"


Risya mendongak menatap Bryan, ia sendiri bingung apa yang dibutuhkannya.


Mendapat tatapan bingung Risya, Bryan akhirnya berusaha memberikan penjelasan. "Mungkin kamu butuh pembalut, pakaian dalam, obat atau semacamnya? Kita masih jauh dari rumah. Tidak mungkin kamu seperti itu sampai ke rumah. Bisa-bisa bocor dan mengotori jok mobil."


Risya terdiam, ia sama sekali bingung dan tak tahu harus bagaimana.


Bryan lalu menaikkan kaki Risya yang masih terjulur di luar pintu lalu menutup pintu mobil. Berjalan memutari mobil dan masuk duduk di kursi pengemudi, kemudian menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan cepat.


Di depan sebuah minimarket, Mobil terhenti. Bryan segera turun dan masuk ke minimarket itu. Mengambil beberapa pembalut yang sama seperti yang biasa dia lihat di kamar kakaknya dulu. Tak lupa pula ia mengambil kaos ganti untuk dirinya, lalu berpindah ke bagian wanita.


Bryan celingak-celinguk di bagian pakaian dalam, ia sama sekali tidak tahu ukuran Risya. Tanpa malu, Bryan langsung ke kasir dan bertanya pada salah satu kasir perempuan yang ada di depan.


"Do you know the size of underwear for girls aged 14 years?"


(*Apa kamu tahu ukuran underwear untuk anak perempuan usia 14 tahun?)


Kasir perempuan itu sedikit mengernyitkan keningnya mengamati Bryan sedikit curiga.


"For my younger sister, she was menstruating and waiting in the car" Ucap Bryan karena merasa dicurigai.


(*untuk adik perempuan saya, dia sedang menstruasi dan menunggu di dalam mobil)


Kasir itu tersenyum lalu membimbing Bryan ke bagian pakaian wanita lalu membantu memilihkan underwear dan short pant perempuan. "what else do you need?" Tanyanya lagi.


(*apa lagi yang kamu butuhkan?)


"She says her stomach hurts."


(*Dia bilang perutnya sakit)


Kasir itu tersenyum lalu membawa Bryan ke bagian obat-obatan, lalu memberikan beberapa botol minuman serta obat khusus pereda nyeri datang bulan. Lalu kembali ke depan mesin kasirnya. Bryan pun membayar belanjaannya.


"where is the toilet?" Tanya Bryan lagi.


(*Dimana toiletnya)


Kasir itu menunjuk ke samping gedung minimarket , dimana ada papan tergantung dengan tanda panah dan tulisan toilet yang terlihat dibalik kaca jendela minimarket.


"Really lucky your little sister has a brother like you." Ucap kasir perempuan itu setelah Bryan membayar belanjaannya.


(*sangat beruntung adik perempuanmu memiliki saudara laki-laki sepertimu.)


"Thank you..." Ucap Bryan sambil tersenyum, membuat kasir perempuan itu tersipu malu


Buru-buru Bryan keluar dan membawa Risya masuk kedalam toilet. Hoodie yang dipakainya tadi digunakannya menutupi celana Risya.


Bryan mengambil kaos yang dibelinya dari dalam paperbag, lalu selebihnya dia berikan kepada Risya. Bryan pun lansung ke toilet sebelahnya dan mengganti kaosnya dengan cepat, kemudian kembali ke depan pintu toilet dimana Risya berada.


"Ris? Sudah selesai?" Tanyanya, karena Risya tak kunjung keluar.


Dengan malu-malu, kepala Risya muncul dibalik pintu. "Kak Bry...."


"Belum selesai?"


Risya mengeluarkan kedua tangannya, dimana tangan satu memegang satu buah pembalut, dan tangan satunya memegang underwear.


"Ini cara pasangnya gimana kak?" Tanya Risya dengan polosnya, membuat Bryan kembali membulatkan matanya.


"ASTAGA RIS!!!!" teriak Bryan frustasi. Ia berjongkok sambil mengacak-acak dan menarik-narik rambutnya saking kesalnya.


"Kak Bry?" Risya masih menunggu dengan polosnya.


"Risya sayangkuuuu... Aku ini laki-laki. Kamu tahu kan laki-laki tidak pakai begituan." Kembali menarik-narik rambutnya. Bryan sangat-sangat bersabar untuk tidak memaki dan mengabsen semua nama binatang yang ada.


"Mana aku tahu Ris, cara pakainya gimana!" Ucapnya sekali lagi karena Risya menatapnya dengan tatapan polosnya.


"Jadi, Risya disini terus?"


Bryan bangkit berdiri. "Tunggu." Ucapnya lalu kembali masuk ke minimarket. Tidak lama ia datang kembali dengan membawa kasir perempuan tadi.


Kasir perempuan itupun membantu Risya sambil menahan tawanya melihat keadaan Bryan yang tampak kacau dengan rambut acak-acakan.


Setelah kekacauan itu Bryan dan Risya akhirnya meninggalkan minimarket yang meninggalkan kenangan lucu buat mereka di masa depan.


Bryan mengendarai kembali kendaraan menuju penthouse. Saat sampai di penthouse, Bryan kembali dibuat susah dengan harus menggendong Risya yang ketiduran di mobil.


"Bryan? baru pulang?" Tanya Mahavir yang tertidur di sofa dan dikejutkan oleh Bryan. "Dia tertidur?" Lanjutnya melihat Bryan mengangkat Risya yang tertidur.


"Iya kak. Kenapa tidur di luar? Marahan?"


"Ah, tidak. Aku hanya ketiduran. Masuklah, tidurkan dia cepat." Menepuk pelan bahu Bryan lalu melangkah masuk ke kamarnya.


Bryan lalu masuk ke kamar Risya dan membaringkannya dengan perlahan. Bryan duduk di pinggir tempat tidur dan mengamati Risya yang tertidur dengan wajah polosnya.


Bryan menggeleng dan tersenyum geli mengingat pengalaman malam ini bersama Risya. Tanpa sadar ia menunduk, membelai pipi Risya dengan lembut, mengecup kening Risya, hingga akhirnya dia kembali mencuri ciuman Risya di bibirnya.


Ternyata yang kemarin itu aku menciumi seorang bocah...dan malam ini aku menciumi seorang gadis.....lirihnya dengan pelan. Lalu pelan-pelan beranjak dan melangkah ke pintu.


Have a nice dream Risya.... Ucapnya kemudian menutup pintu dengan pelan. Ia masuk ke kamarnya dan langsung menghempas tubuhnya ke atas kasur. Tangannya bergerak memegangi jantungnya yang berdetak kencang setelah mencuri ciuman seorang gadis kecil.


Raya.... Risya..... Ya Tuhan.... Aku harus bagaimana????


* * *


Happy Reading....🥰


Sorry, malam ini kembali part Bryan dan Risya lagi...


Kk Author kasih yang manis-manis dulu,


soalnya tidak lama lagi kita akan masuk ke part yang sedikit bikin nyesek......


so, stay tune yah... 😉😚


Salam sayang dari kk Author...