
..."Terkadang kecewa itu berasal dari diri kita sendiri, yang terlalu berekspektasi berlebihan."...
...~ Azqila Ziya Yildiz ~...
...•••...
Ting....
Bunyi suara dari handphone Azqila membuat Azqila mengambil handphonenya dari mejanya. Azqila tidak mengetahui ini siapa, karena Azqila tidak menyimpan nomor tersebut, ia pun membuka pesan tersebut dan membalasnya.
0822xxxxxxxx
[Besok pagi pergi sekolah bareng gue ya.]
^^^[Siapa?]^^^
[Pahlawannya Qilqil 🥰]
^^^[Jangan sok kenal deh. Gue tuh ga punya pahlawan.]^^^
[Pokoknya besok gue bakal jemput lu. Gue ga terima penolakan!]
^^^[Bodo amat.!]^^^
[Gdnight Qilqil☺️]
"Gila ya nih orang," gumam Azqila meletakkan handphonenya kembali ketempat semula. Ia tidak membalas pesan itu, ia ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda.
***
Tidak seperti biasanya Barra hari ini bangun lebih awal, ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Barra menggunakan seragam sekolahnya agar orang tuanya tidak mengetahui bahwa Barra di skors.
"Morning Ma," sapa Barra.
"Morning sayang,"
"Kok tumben udah rapi?" Tanya Dita.
"Iya, itu Ma. Barra ada tugas tambahan, jadi harus berangkat lebih awal." Bohong Barra.
"Benaran?" tanya Dita memastikan.
"Iya Mama. Barra berangkat dulu ya Ma."
"Ga sarapan dulu."
"Nanti Barra sarapan disekolah aja Ma."
***
Azqila baru saja bangun dari tidurnya, ia melihat jam sudah menunjukkan jam ke angka 7. Azqila pun bangkit dan melakukan ritual mandinya.
Setelah selesai mandi, Azqila mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Saat Azqila mengucir rambutnya, suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk," teriak Azqila.
"Lama banget si kamu," omel Puspa.
"Masih juga jam setengah delapan Ma."
"Iya masih jam setengah delapan, tapi teman kamu udah nungguin dari tadi tuh."
"Teman aku siapa Ma?"
"Itu yang kemarin ngantarin kamu pulang."
"Emang gila tuh orang. Yaudah deh Azqila berangkat dulu ya Ma."
"Ga sarapan dulu?" tanya Puspa.
"Ga usah Ma. Nanti aja di sekolah."
"Yaudah hati-hati ya."
Dalam perjalanan tidak ada obrolan antara keduanya, Azqila yang fokus ke kaca jendela, sedangkan Barra menyetir. Sesampainya di depan gerbang mobil berhenti.
"Kok berhenti disini?" tanya Azqila bingung.
"Gue ga masuk."
"Lu mau bolos ya?" Tuduh Azqila.
"Gue diskors."
Azqila tidak menjawab ucapan Barra, karena Azqila tau apa sebabnya Barra di skors.
"Oke makasih," ucap Azqila membuka pintu mobil.
"Semangat belajarnya Qilqil," ujar Barra yang hanya dibalas deheman oleh Azqila.
Barra pun kembali menjalankan mobilnya, tujuan utama Barra saat ini pergi ke tempat makan untuk sarapan. Setelah itu ia akan pergi ke rumah temannya yang satu sekolah dengannya waktu disekolah lamanya.
***
"Han, lu lama-lama benar benar kek orang gila tau," omel Azqila.
"Apaan sih lu, iri aja."
"Dih, buat apa gue iri sama Lo, yang pacaran sama orang yang belum tau gimana wujud aslinya."
"Yang penting punya pacar."
"Serah lu dah, siap-siap aja kalo nanti apa yang lu bayangin ga sesuai ekspektasi lu," ucap Azqila meninggalkan Jihan.
"Qil, mau kemana?" teriak Jihan.
"Kantin."
Saat Azqila masih ingin menyantap baksonya, tiba-tiba suara notifikasi pesan handphonenya berbunyi.
Orang gila
["Selamat makan siang Qilqil."]
Azqila tidak menjawab pesan Barra, hanya ia baca saja. Azqila melanjutkan makannya. Suara pesan berbunyi kembali.
Orang gila
["Nanti pulang aku jemput ya."
["Seperti biasa gue ga terima penolakan."]
["Gue nunggu dihalte dekat sekolah nanti."]
"Biasa apanya baru juga sekali," omel Azqila, namun tetap tidak menjawab pesan tersebut.
Azqila emang menyimpan nomor Barra dengan nama Orang Gila, emang Barra pantas dijuluki dengan orang gila, gimana tidak! baru saja kenal udah berani mengatur-atur Azqila. Ditambah lagi suka mencari masalah.
Bel tanda berakhirnya pelajaran sudah berbunyi, Azqila dan Jihan sudah selesai menyelesaikan tugas dan segera membereskan buku-buku pelajaran mereka.
"Han, lu pulang sama siapa?" tanya Azqila saat mereka keluar dari kelas.
"Biasa, dijemput supir."
"Gue nebeng dong."
"Yah, maaf Qil, gue ada janji sama Mama, ketemuan di mall. Jadi kita ga sejalan."
"Hemm, yaudah deh. Gapapa Han."
"Maaf ya, yaudah gue duluan ya." ujar Jihan saat melihat supirnya sudah menunggu didepan gerbang.
Azqila melihat jalan sebrang sana lebih tepatnya halte dekat sekolahnya. Ia sedang melihat apakah cowok gila itu sudah disana. Namun, Azqila tidak melihatnya.
"Qil, ngapain?" tanya seseorang saat Azqila melihat kanan dan kiri.
"Eh, nggak. Gue lagi nunggu taxi lewat."
"Bareng gue aja yuk," tawar Gilang.
Azqila berpikir apakah ia menerima tawaran Gilang atau menunggu Barra. Setelah berpikir panjang akhirnya Azqila menerima tawaran Gilang.
"Oke, gue mau lang."
Azqila memakai helm yang dibawak oleh Gilang. Azqila menaiki motor besar Gilang. Cukup susah naiknya karena badannya yang bisa dibilang kecil.
"Pegangan ya Qil."
Azqila bingung ia harus bagaimana, akhirnya ia memegang bahu Gilang cukup untuk keselamatannya dirinya.
"Qil, mau makan dulu nggak?" tanya Gilang ditengah perjalanan.
"Hah, apaan Lang," teriak Azqila.
"Mau makan nggak?" ulang Gilang
"Ga usah deh, gue masih kenyang."
Akhirnya sampai dirumah Azqila, Gilang langsung pamit pulang, itu membuat Azqila lebih tenang, karena Azqila malas jika harus berduaan lagi dengan Gilang.
Ting...
Suara handphone Azqila membuat ia membuka handphonenya terlebih dulu, sebelum masuk rumah.
Orang gila
["Kenapa ga nungguin gue lu?"]
["Maaf ya, tadi gue telat karena ada urusan sebentar."]
["Besok besok kalo gue telat, lu harus tetap nungguin gue, jangan pulang sama orang lain."]
Azqila tidak habis pikir dengan kelakuan Barra, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu. Azqila tidak mau ambil pusing, ia tidak membalas pesan dari Barra. Dia mulai memasuki rumahnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Mama," teriak Azqila memasuki rumahnya
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Mama masak apa?" tanya Azqila menghampiri Mamanya didapur yang sedang memasak.
"Masak makanan kesukaan kita semua dong."
"Mama tau aja yang kita suka, Oia Ma, kemarin Mama sama Papa kemana? Kok pas Azqila pulang sama Abang, Mama sama Papa ga ada dirumah?"
"Jalan-jalan dong. Kan kamu yang nyuruh Mama sama Papa buat pacaran lagi."
"Ih Mama ingat umur, udah tua tau. Kan Azqila cuma bercanda kemarin."
"Lah, emangnya yang boleh pacaran anak muda aja? Pacaran sama suami lebih enak tau. Pegangan tangan aja dapat pahala."
"Iya deh iya yang udah halal," celetuk Azqila pergi meninggalkan Mamanya.
Azqila menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya. Hari ini cukup lelah untuknya. Ditambah lagi Barra bisa seenaknya melakukan hal yang ia mau, serasa dia bertugas menjaga dan melindunginya.
Barra buat Azqila jadi bingung aja ya kan. Wkwkwk
Sebenarnya ada apa dengan Barra?
Pantangin terus cerita ini ya guys.
Maaf kalo ceritanya masih banyak typo atau masih berantakan ya guys. Kalian bisa kasih kritik dan sara buat aku.
See you next part guys.✨