
Jarum jam terasa begitu lama bergulir. Detik demi detik begitu terasa berat buat Rachel. Entah mengapa begitu Mahavir tidak ada dia merasakan waktu yang seakan berjalan ditempat, Padahal sebelum mengenalnya waktu begitu sangat cepat berlalu. Sisa tiga hari, tapi tiga hari itu bagaikan menunggu hingga 3 tahun lamanya.
Ya..tiga hari lagi Resepsi pernikahan Rachel dan Mahavir akan digelar, dan dalam jangka waktu yang sama pula pria itu baru akan datang kembali.
Hal ini membuat hati Rachel semakin dongkol setengah mati. Rasa nelangsa yang sangat menyiksanya, Bagaikan di lambungkan naik ke atas awan kemudian dijatuhkan hingga ke dasar bumi yang terdalam.
Siapa yang tidak jengkel coba, disaat malamnya pria itu memberikan kebahagiaan yang tak terhingga, tapi esok hari nya malah memberikan kekecewaan yang mendalam. Bagaikan kumbang yang tak diundang yang datang dengan tiba-tiba menghisap madu dari sekuntum bunga yang segar kemudian pergi sesukanya.
Tak tanggung-tanggung kaburnya ke London, Inggris. Tau sendiri kan jarak antara Indonesia dan London itu sejauh apa?? Bagaimana kalau sampai hari H dia tidak muncul? Mau ditaruh dimana mukanya nanti?
"Lihat saja kalau kamu kembali, jangan panggil nama ku Rachel bila tak kubuat kamu bertekuk lutut di kakiku." Geram Rachel.
Tak mau terlalu lama larut dalam kegundahan hati, siang itu Rachel berencana menghabiskan sisa waktu hari itu untuk berkeliling, kembali merasakan kebebasan tanpa ada pengawalan.
"Mau kemana kak?" tanya Bryan ketika melihat penampilan kakaknya yang rapi berjalan menyusuri anak-anak tangga.
"Mau Shoping, menghilang kan Badmood." Rachel menjawab seenaknya.
Pak Wijaya yang tengah membaca buku menatap lekat putrinya. "Wanita yang sudah bersuami sebaiknya tidak keluyuran sendirian"
"Iyya, apalagi saat ini suamimu tidak ada sayang." Ujar Nya Amitha menimpali perkataan Pak Wijaya.
"Terus Rachel harus mengeram di rumah terus sampai dia pulang? Jenuh mom...!!!" Rachel mendengus kesal. "Dia sendiri pergi begitu saja tanpa pamit padaku."
"Bagaimana kalau aku yang temani kakak saja?" Tawar Bryan.
Rachel menatap geram adiknya, niatnya kan ingin berjalan bebas seorang diri. Kalau adiknya ikut sama saja kalau dia dalam pengawasan lagi!!
"Boleh juga! Bryan temani kakak mu. Jangan sampai lengah dan membiarkan nya kabur meninggalkan mu." Perintah Pak Wijaya.
Rachel kembali mendengus,
"Yah, apa boleh buat! Daripada harus bengong di rumah seharian." Batin Rachel.
"Yuk kak, berangkat sekarang?" Bryan bangkit dari duduk nya.
"Gak ganti baju dulu?" Rachel mengamati penampilan Bryan yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana jeans santai.
"Gini aja, gak ke kondangan juga!" Seru Bryan santai.
"Cih!!" Rachel mencibir
"Aku gak bakal malu-maluin kakak. Semua tergantung dari wajah kak, penampilan nomor dua. Percaya pada adik mu yang tampan ini." Ujar Bryan dengan pedenya.
Rachel hanya merengut, kemudian menyeret kakinya keluar mansion itu dengan malas, Bryan mengikuti dari belakang.
"Kita pakai mobil kak Mahavir." Ucap Bryan lalu mengeluarkan kunci dari saku celananya kemudian menyalakan alarm kunci mobil.
"Kuncinya ada padamu?"
"Bukan cuma kunci mobil kak." Ujar Bryan kemudian memperlihatkan kartu platinum tanpa limit milik Mahavir. "Dompet nya kak Vir juga disimpan buat kakak."
Rachel tersenyum sinis, "Percaya banget orang itu sama kamu?"
"Jangan salah, mobil inipun kalau aku minta pasti kak Vir berikan."
"Pede amat kamu!"
"Kan aku adik kesayangan kak Rachel."
"ihhh... apa hubungannya denganku!!"
"Semua karena cinta kak!!" Bryan terkekeh-kekeh.
Rachel tersipu malu,
"Ok, mari kita habiskan uangnya hari ini." Rachel berjalan mendekati mobil jenis Porsche Boxter yang sedang terparkir.
"Kakak yang nyetir deh!" Bryan melemparkan kunci mobil ke arah Rachel. "Daddy belum ngizinin aku bawa mobil." Lanjutnya lagi.
"Kamu kan punya SIM?"
"Iyya, tapi belum boleh kata daddy. Nanti kalau sudah kuliah baru boleh."
"Good boy." Puji Rachel atas kepatuhan adiknya itu.
Rachel masuk ke dalam mobil dan memposisikan tubuhnya terduduk di kursi kemudi, sejenak dia menatap kunci mobil itu,
"Oh inikan kunci yang tempo hari Rey berikan ke Mahavir, ternyata kunci mobil ini. Kenapa tiba-tiba dia ganti mobil ya...??"
"Ahh... Bukan urusanku!!!"
Rachel lalu menyalakan mesin mobil dan Porsche Boxter putih itu pun melaju memecah jalan menuju keramaian pusat ibu kota.
"Kak ponsel nya aku pinjam bentar yah." Bryan langsung mengambil ponsel Rachel yang tergeletak di Dashboard mobil.
"Eh, mau ngapain dengan ponsel ku?" Rachel berusaha merebut ponsel nya kembali.
"Pinjam bentar kok." Bryan menghalau tangan Rachel.
"Jangan macam-macam dengan ponsel ku."
"Nggaklah!!! Kakak fokus nyetir saja! " Ujar Bryan sambil berusaha membuka password ponsel Rachel.
Password ponsel Rachel dapat dengan mudah dibuka oleh Bryan adiknya, karena dari dulu kakak nya itu hanya memakai tanggal lahir sang Mommy sebagai password.
"Pantas saja semalaman kak Vir terus menggangguku, kakak memblokir nomor nya sih." Bryan kemudian membuka blokir nomor kontak Mahavir pada ponsel Rachel kemudian kembali meletakkan nya ke dashboard mobil.
"Katanya dia menghubungi nomor kakak tapi tidak masuk-masuk, makanya pelarian nya ke aku, soalnya sudah tengah malam."
"Dia bilang apa?" Selidik Rachel penasaran.
"Awalnya sih kak Virr cuma mengabari kalau dia telah sampai di London."
"Terus??"
"Tapi tidak berapa lama setelah itu kak Vir kembali menelpon katanya ingin mendengar suara kakak."
"Terus??"
"Yah aku bilang kakak sudah tidur."
"Terus??"
"Terus... Terus..!!! Belok kak, belok!! di depan belok ke kanan." Kesal Bryan.
Rachel cekikikan, "lanjut... Lanjut..."
"Ya..akhirnya kak Vir ngobrol denganku, katanya suara ku itu sudah mewakili kakak. Aneh kan?"
"Kok gitu?"
"Nah kakak sendiri bingung, apalagi aku kak!! Yang istri nya itu kakak bukan aku, tapi malah aku yang semalaman harus meladeni keluhannya karena merindukan kakak."
Rachel tertawa puas, setidaknya pria itu juga menderita disana.
Bryan geleng-geleng melihat Rachel tertawa.
"Andai kakak tahu pengorbanan kak Mahavir selama ini....."
"Oh iya Kapan Vir ngasih kamu kunci mobil ini?" tanya Rachel.
"Dini hari waktu kak Vir mau berangkat. Dia masuk kamarku dan membangunkanku lalu memberikan kunci mobilnya dan kartu kreditnya, katanya buat Jaga-jaga kalau-kalau kakak bosan dirumah dan pengen shoping."
"Hmmm....pengertian juga dia...." Batin Rachel.
"Kak Vir memang hebat, bisa menebak dan berpikiran seperti itu. Sepertinya kak Vir dan kakak memang sehati." Bryan terkekeh-kekeh.
"Sehati??" Rachel bergidik geli mendengar perkataan adiknya. "Kenapa dia tidak memberikannya langsung padaku?"
"Entahlah, mungkin tidak tega membangunkan kakak." Bryan menaikkan kedua bahunya. "Padahal aku sempat lihat kak Vir masuk ke kamar kakak, Lama kok dia di kamar kakak! Jadi aku pikir kak Vir sudah pamitan sm kakak, tapi ternyata tidak ya..."
Rachel menyimak perkataan Bryan.
"Jadi kak Vir ngapain aja di kamar kakak yah?"
Rachel terdiam,
"Sudah pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan!!" Batin Rachel.
"Kamu disogok apa sama dia?"
"Sogok? Apa sih maksud kakak?"
"Jangan pura-pura bego, kakak tahu kamu pasti disogok sesuatu sampai mau mengawal kakak seperti ini. Selama ini kamu kan paling malas ngekor mommy shoping."
"Aku dengan senang hati kok mengawal kakakku yang cantik."
"Cih..." Rachel kembali mencibir.
Sejurus kemudian Porsche putih itu memasuki kawasan Mall terbesar di ibu kota. Bryan turun dengan semangat nya diikuti Rachel yang mengekor dibelakang.
Mereka berdua berhamburan memasuki gerai-gerai yang berjejerang di dalam mall itu.
Rachel dan Bryan juga masuk ke arena bermain, mereka memainkan berbagai macam permainan. Mereka berlomba memainkan Street basketball, beberapa game Arcade, dan Pump it Up (PIU) Dance games yang membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua.
Kalau ditanya mata pengunjung itu kebanyakan melihat siapa? jawaban pastinya adalah Bryan. Ketampanan wajah Bryan, adik semata wayang Rachel itu memang patut di acungi jempoli. Di Usianya yang masih 18 tahun tinggi badannya sudah menyaingi tinggi dari kakak iparnya Mahavir, Dengan wajahnya yang katanya perpaduan antara ke bule-bulean dan ke oppa-oppaan, entahlah tapi yang pastinya tampangnya itu menyedot semua perhatian para ABG-ABG yang saat ini memenuhi arena permainan, apalagi di saat liburan sekolah begini.
"Ihhh cakep bangett." Terdengar bisik-bisik para ABG cewek di sekitar mereka.
Bahkan ada beberapa yang caper sampai nekat mendekati Bryan berpura-pura terjatuh atau menabraknya.
Sedari tadi Rachel sudah menyadari kalau ada beberapa cewek-cewek ABG yang terus mengikuti langkah mereka, tapi Rachel masih membiarkan. Tapi semakin lama rasanya semakin risih dan membuat nya dongkol. Bagaimana tidak, orang yang menjadi pusat perhatian malah tidak peka dan berjalan dengan santai nya di depan membuat dirinya jauh tertinggal dibelakang.
Tidak mau adiknya jadi incaran mata cewek-cewek muda, Rachel pun menyusul Bryan dan merangkulnya dari belakang. Membuat beberapa pasang mata yang mengikuti nya menjadi iri dan kesal.
"Bryan kita nonton yuk."
"Nonton apa?"
"Terserah, nonton apa saja!" Rachel semakin mempererat rangkulannya pada Bryan lalu berbalik dan menatap dengan tajam para kerumanan bunga-bunga yang masih belum mekar dengan sempurna itu.
Kalau begini.. sebenarnya siapa yang dikawal dan siapa yang mengawal ??
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *