Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Part 1 (Murid Baru)


...Terkadang aku berpikir, apakah aku masih pantas untuk bahagia? Apakah bahagia masih berpihak padaku? Jika ia izinkan aku untuk merasakan bahagia itu walau hanya sementara....


...... ~ Azqila Ziya Yildiz ~......


...•••...


"Jauhi gue! Sikap lu yang seperti ini tidak ada bedanya sama cewek murahan diluar sana."


Azqila masih ingat dengan kata kata itu, kata kata yang membuat dadanya kembali sesak. Betapa sakit hatinya mendengar kalimat tersebut, kalimat yang keluar dari lisan seseorang yang ia cintai.


Azqila mengusap air matanya, ia tidak ingin ada yang melihatnya sedang menangis. Azqila terkenal dengan sikapnya yang ceria dan ramah kesemua orang. Namun, sikapnya berubah 180 derajat setelah pernyataan itu.


Tring Tring Tring....


Suang bel masuk memecahkan lamunan Azqila, ia pun beranjak dari taman menuju kelasnya.


"Dari mana aja sih, Qil? Tanya Jihan teman sebangku Azqila sekaligus teman dekatnya.


"Taman belakang," jawab Azqila mengeluarkan buku pelajarannya.


Jihan merasa kasihan dengan Azqila, Jihan merindukan sosok Azqila yang selalu ceria, Azqila yang selalu menghiburnya. Namun, Jihan bingung harus melakukan apa agar sahabatnya ini bisa seperti dulu sebelum ia merasakan namanya kekecewaan, kesedihan, bahkan kehilangan.


"Pulang sekolah nanti kita main yuk!" Ajak Jihan.


"Gue ga bisa, Han."


"Yuk, lah, Qil. Kita udah lama ga main bareng." (Muka memohon)


"Mau ya, sekali ini aja deh," lanjut Jihan membujuk.


"Oke deh, kali ini aja," jawab Azqila.


"Gitu dong, kan jadi sayang," ujar Jihan memeluk Azqila.


Sebenarnya Azqila juga butuh refreshing, Azqila juga sudah la tidak bermain bareng dengan Jihan. Tidak ada salahnya menerima tawaran dari Jihan, ia juga ingin melupakan semua segala hal yang membuatnya sedih. Azqila juga ingin kembali ke Azqila yang dulu, tetapi keadaan yang membuat ia bersikap seperti ini.


"Selamat pagi anak-anak," sapa Bu Cika memasuki kelas.


"Pagi, Bu."


"Seperti yang sudah kalian lihat, pagi ini kita kedatangan murid baru," Silahkan kamu memperkenalkan diri, tutur Bu Cika mempersilahkan.


"Baik, Bu. Terimakasih."


"Hai, perkenalkan nama gue Barra Alman Pratama. Biasa dipanggil Barra."


"Hai, Barra," sapa para cewek kecuali Azqila dan Jihan.


"Sekarang kamu duduk disebelah sana." Tunjuk Bu Cika bangku yang kosong.


Barra berjalan menuju tempat duduknya, dimana tempat duduk Barra berada dibelakang Azqila. Barra melirik sekilas ke arah Azqila tanpa sepengetahuannya.


Barra merupakan siswa pindahan dari sekolah SMA Nusa Bangsa, Barra dipindahkan oleh orang tuanya karena hobi Barra sering berkelahi bahkan bolos jam pelajaran. Orang tuanya memindahkan Barra ke SMA Taruna dengan harapan Barra akan berubah. Namun, apakah Barra akan berubah? Kita liat part selanjutnya.


Bel istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, Azqila masih fokus pada buku bacaannya.


"Qil,gue lapar. Kantin yuk!" Ajak Jihan.


"Duluan aja, Han," ujar Azqila yang masih menatap bukunya.


"yaudah gue duluan, lu kalo mau nitip chat gue aja, oke. Dadah ila," ucap Jihan meninggalkan Azqila.


Azqila teringat dengan nama Ila, itu adalah panggilan dari seseorang orang yang telah meninggalkannya. Seseorang yang memberi banyak pelajaran untuknya. Lagi lagi Azqila teringat dengan seseorang itu tanpa sadar air matanya jatuh kepermukaan pipinya yang mungil itu.


Azqila merasa ada yang memperhatikannya dari belakang, ia segera menghapus air matanya. Azqila harus terlihat baik baik saja.


"Kalo lu mau nangis, nangis aja. Ga usah ditahan kayak gitu," ucap seseorang yang berada dibelakang Azqila. Siapa lagi kalo bukan Barra. Namun, Azqila tidak menanggapi ucapan Barra, ia kembali fokus pada buku bacaannya.


"Gue boleh duduk disini?" Tanya Barra yang sudah berdiri di samping Azqila.


"Terserah"


"Nama gue, Barra." Ujar Barra mengulurkan tangannya.


"Udah tau."


"Tau dari mana?" Pertanyaan Barra berhasil membuat Azqila berpaling dari bukunya dan menatap Barra.


"Tukang bakso depan sekolah."


"Nah, gitu dong. Kalo bicara tuh dilihat lawan bicaranya." Azqila hanya memutar malas matanya.


"Azqila Ziya Yildiz."


"Panjang benar, gimana gue panggilnya qilqil aja." Tawar Barra.


"Terserah." Jawab Azqila meninggalkan Barra. Ia sudah muak dengan basa basi Barra.


***


"Kita kemana dulu nih, Qil?" Tanya Jihan saat mereka sudah berada disalah satu mall daerah Bandung.


"Makan aja deh, gue lapar."


Azqila dan Jihan pergi kesalah satu tempat makan di restoran yang berada di mall. Mereka memesan makanan dan minuman dan memakannya hingga habis.


Setelah selesai memanjakan perutnya, mereka pergi ke wahana permainan. Sebenarnya Azqila sudah menolah dan memilih untuk pulang. Namun, Jihan tetap memaksanya untuk bermain, akhirnya Azqila menyetujuinya.


Mereka bermain bermacam wahana permainan dari ngambil boneka, basket, motoran bahkan kuda-kuda an itu semua atas ide Jihan. Sesekali mereka berfoto untuk mengabdikan moment itu. Jihan merasa bahagia tidak salah ia mengajak Azqila untuk bermain, akhirnya ia bisa melihat senyum tawa Azqila kembali.


Sudah cukup lama mereka bermain, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah gelap dan seperti akan turun hujan.


"Qil, makasih ya," ucap Jihan


"Makasih untuk?"


"Makasih, lu u-dah mau main sama gu-e lagi, ujar Jihan menahan tangis.


"Harusnya gue yang makasih. Makasih udah buat gue happy banget hari ini. Makasih lu juga udah mengembalikan senyum gue," ujar Azqila memeluk Jihan.


DretDretDret......


Suara handphone Jihan membuat mereka melepaskan pelukannya.


"Bentar ya, Qil," ujar Jihan dibalas anggukkan oleh Azqila.


"Hallo, Ma"


"Hallo nak, kamu dimana?"


"Jihan di mall, Ma."


"Kerumah sakit sekarang"


"Iya, Ma. Jihan kesana."


"Ada apa, Han?" Tanya Azqila.


"Papa masuk rumah sakit lagi, Qil. Serangan jantung Papa kumat lagi. Sekarang gue mau ke rumah sakit."


"Gue antar ya, Han?"


"Ga usah Qil, udah sore mau hujan juga. Gue bisa sendiri kok, maaf ya gue ga bisa antar lu pulang."


"Gapapa, Han. Gue bisa nanti naik taxi kok."


"Yaudah gue duluan ya," pamit Jihan.


"Hati-hati Han."


***


Hari sudah mulai malam, langit sudah gelap. Namun belum ada taxi lewat, Azqila bisa aja memesan taxi online tetapi handphone nya mati. Akhirnya ia menunggu dihalte. Tidak lama hujan mulai turun membasahi jalanan. Azqila sudah mulai kedinginan kerana hujan yang semakin deras. Ia terus menggosokkan telapak tangannya dan memeluk dirinya agar merasa hangat.


"Itu bukannya si Azqila," tanya seseorang disebrang sana.


Seseorang itu terus memperhatikan Azqila dari kejauhan, merasa kasihan dengan Azqila yang sudah kedinginan, akhirnya ia menghampiri Azqila ke halte.


Mobil berhenti didepan Azqila, ia tampak bingung dan takut. Apakah ada yang ingin menculiknya atau bahkan menyakitinya. Azqila ingin kabur namun tidak bisa, karena badannya sudah menggigil. Namun, orang tersebut membuka jendela mobilnya dan memperlihatkan wajahnya. Betapa terkejutnya Azqila saat melihat orang tersebut.


"Azqila ayuk naik!" ucap seorang yang berada didalam mobil tersebut.


Hay Hay Hay......


Gimana part satunya?


Maaf kalo masih ada kesalahan guys.✨


Tunggu part selanjutnya, ya! ❤️