
Malam semakin larut. Udara semakin dingin menusuk persendian. Waktu pun kian bergulir dan sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Kedua mata Rachel bahkan masih terbuka lebar, sangat sulit untuk terpejam.
Sudah beberapa jam lamanya ia memandangi punggung yang membelakanginya. Entah mengapa terselip rasa kecewa saat Mahavir tidak meneruskan niatnya tadi. Sejujurnya dia juga merindukan kecupan hangat dari Mahavir, tapi hanya sebatas itu. Dia sendiri takut mengharapkannya karena untuk ke tahap yang lebih lanjut dia juga belum siap.
Jangan mengenaliku melalui apa yang kamu lihat, tapi kenali aku melalui apa yang kamu rasakan...
Perkataan Mahavir itu selalu saja terngiang-ngiang saat dirinya berusaha memejamkan mata. Bimbang, itulah yang dia rasakan sekarang. Dia sadar dengan keegoisan sikapnya itu mungkin saja melukai perasaan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
Rachel menghela nafas pelan, kemudian perlahan mendekat dan akhirnya menempel pada punggung Mahavir. Aroma tubuh Mahavir yang disukainya kini mulai menggelitik rongga hidungnya, aroma yang selalu sukses membuatnya tenang. Membuat perasaannya yang tadi sedikit tercekat seketika menjadi damai.
Pelan-pelan kedua tangannya terangkat dan menyusup masuk ke dalam kaos Mahavir. Merasakan kehangatan dari punggung suaminya. Tak sampai disitu, Jari jemarinya pun kini menari-nari di permukaan kulit punggung itu, meraba, membelai dan menekan-nekannya seakan baru mendapatkan mainan yang baru.
"Sudah puas bermain dengan punggungku?"
Perkataan Mahavir sukses membuat Rachel terkejut, refleks dia menarik tangannya dan dengan cepat berbalik membelakangi Mahavir dan pura-pura tertidur.
Mahavir tersenyum menahan tawa dengan kelakuan istrinya. Ide jahil tiba-tiba terlintas di benaknya. Diapun ikut berbalik, mendekat dan menempel pada punggung Rachel mengikuti seperti apa yang dilakukannya tadi. Tangannya juga berusaha menyusup masuk ke dalam piyama tidur Rachel dan berhasil membuat perempuan itu menggelinjang kaget.
"APA YANG KAMU LAKUKAN??" Teriak Rachel
"Sstt, kamu mau membangunkan Bryan?" Bisik Mahavir ke telinga Rachel yang semakin membuat Rachel bergidik geli. Tangannya masih berusaha menyusup masuk di balik piyama Rachel.
"Apa yang kamu lakukan?" Rachel menarik piyamanya kuat-kuat agar tangan Mahavir tidak lolos masuk ke punggungnya. Hembusan nafas Mahavir yang terasa di ceruk lehernya semakin membuat jantungnya kelimpungan.
"Aku hanya mengikuti apa yang kamu lakukan tadi." Mahavir berucap dengan nada sensual dan sedikit meniup-niup telinga Rachel.
"LEPAS....!"
Mahavir tidak menghiraukan, dia malah semakin memasukkan tangannya hingga berhasil menyentuh kulit punggung Rachel. Bahkan jari-jarinya kini dengan lancang menarik-narik karet Bra istrinya itu.
"Ja..jangan macam-macam kamu!" semakin memberontak berusaha menjauh, tapi kaki Mahavir malah melingkar ke tubuhnya, membuat tubuhnya seakan sebuah guling bagi Mahavir.
"Jangan banyak bergerak, nanti benda ini rusak." Masih dengan jari yang bermain pada tali Bra istrinya.
Rachel semakin menggelinjang. Seluruh permukaan kulitnya memanas.
"Boleh ku buka?" Lanjutnya berusaha membuka kaitan Bra itu.
"JANGAN!! TIDAK BOLEH!!"
"Sstt, jangan teriak nanti kedengaran Bryan." Masih berusaha membuka kaitannya. "Kenapa susah sekali, waktu pertama kali sangat mudah terbuka."
"Hah? Pertama kali? Bra siapa yang kamu buka dulu? Ada berapa banyak perempuan yang kamu buka Bra nya?" Rachel merasa geram, apa suaminya ini seorang Casanova?
"Hei, perempuan yang mana lagi, ya kamu sendirilah. Aku ini pria baik-baik. Hanya kamu seorang yang membuatku membuka benda semacam ini."
"Pembohong!! Cepat lepaskan tanganmu!!"
"Aku tidak bohong. Kamu lupa waktu sakit di wisma? aku berhasil membuka kaitannya dan menggosok punggungmu. Jadi ini bukan yang pertama kalinya aku menyentuh punggungmu. Rileks saja sayang dan nikmati seperti aku tadi yang menikmati pijatan mu." Mahavir mencoba menahan tawanya.
"KAMU!! LEPASKAN TIDAK?" Memberontak sekuat tenaga.
"Tanggung, sedikit lagi terlepas."
"HAH? APANYA YANG TERLEPAS?"
"Kaitannya, sisa satu kaitan lagi."
"Hah??" Rachel semakin memberontak mencoba melepaskan diri tapi cekalan kaki Mahavir semakin kuat menindih tubuhnya. "Please... Virrr... Kumohon.....jangan sekarang....." Dengan nada mengiba hampir menangis.
Kini Mahavir sudah tidak dapat menahan tawanya, dan akhirnya gelak tawanya terdengar membahana memantul ke setiap dinding ruang kamar itu. Tangannya sudah ditariknya dari dalam piyama Rachel, Kakinya yang tadi melingkar menahan tubuh Rachel pun sudah berpindah, seiring tubuhnya yang berubah posisi menjadi terlentang.
Rachel Bangkit dari tidurnya dan terduduk menatap geram pada Mahavir. "Kamu menjahiliku?"
"Baru sadar? Siapa suruh menganggu tidur orang."
"Is not funny!!" Memukul-mukul Mahavir dengan membabi buta.
"Hahhaahhahh...." Terus tertawa tanpa merasa terusik dengan pukulan Rachel. Membuat istrinya itu semakin berang dan tanpa sadar naik ke atas tubuhnya. Memukulinya dengan sekuat tenaga.
"Aww.. Aww.. Sakit sayang..."
Rachel tidak bergeming, masih terus memukuli Mahavir. Menumpahkan kekesalannya.
"Awww, ampun..ampun...." Menarik tangan Rachel hingga membuat istrinya itu terjatuh menindihnya.
Dengan cepat Mahavir berguling hingga merubah posisi mereka. Membuat Rachel berada tepat dibawah kungkungannya.
Rachel mendengus kesal, nafas nya masih terengah-engah akibat mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyalurkan kekesalannya. Alisnya tertekuk dengan mata yang melotot tajam. Tapi tidak dengan Mahavir, seulas senyum malah terbentuk indah di bibirnya.
Tangan Mahavir terangkat, menyentuh pertengahan alis Rachel yang tertekuk dengan jari telunjuknya. Menekan-nekan bagian itu hingga raut wajah itu tidak lagi cemberut.
"Mau apa lagi? Belum puas menjahiliku?" Menepis tangan Mahavir lalu mendorongnya menjauh.
Mahavir tertawa kecil lalu menjatuhkan tubuhnya ke samping, sementara tangannya menopang kepalanya dengan siku yang menumpu di atas kasur. "Kenapa belum tidur?"
"Kamu sendiri?" Rachel bertanya balik. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Mahavir dan menatap kedua matanya.
"Karena kamu belum tidur." Jawab Mahavir asal. Tangannya bergerak menyibak rambut Rachel dan membelainya. "Lalu kamu kenapa belum tidur?"
"Tadi......"
"Tadi apa?"
"Tadi kamu hendak men...ciumku kan? Kenapa tidak jadi?"
"Astaga, jadi kamu menunggu?"
"TIDAK! TENTU TIDAK!!" Rachel gelagapan, bisa besar kepala laki-laki itu bila tahu kalau dia merindukan kecupannya.
"Sstt" Mahavir menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rachel. "Sekali lagi kamu berteriak akan kucium."
Rachel menggeleng-geleng dan mengangguk-anggukkan kepala.
Mahavir mengangkat kedua alisnya,bingung. "Maksudnya apa? Menggeleng dan mengangguk? Iya atau tidak?"
"Tidak akan...teriak...lagi.... tapi...pe....ngen..di..ci......um.." Lirih Rachel meracau tidak jelas.
Tapi bukan Mahavir namanya kalau dia tidak menangkap maksud dari ucapan Rachel. Senyumnya terulas sejuta makna, lalu kembali membaringkan kepalanya ke atas bantal.
"Tidurlah, aku juga sudah ngantuk." Mengecup kening Rachel sekilas kemudian Berbalik membelakangi Rachel dengan sekuat tenaga menahan tawanya.
"Sudah? Begitu saja?" Menatap punggung Mahavir dengan tatapan kosong. Sangat jelas terlihat kekecewaan di raut wajahnya.
"Have a nice dream Rachel sayang." Ucap Mahavir berpura-pura bersikap acuh. Tapi batinnya tertawa puas.
Dasar perempuan ini... Malu tapi mau ternyata...
Sepertinya tarik ulur adalah cara yang tepat untuk menarik perhatiannya...
Guman Batin Mahavir.
Rachel mendengus kesal, berbalik membelakangi Mahavir dan memaksakan matanya untuk terpejam.
Dan mereka pun akhirnya tertidur dengan saling membelakangi.
* * *
Keesokan hari...
Pagi hari di bulan September, merupakan awal musim gugur di kota London. Suhu rata-rata menurun dari 15° ke 5°C. Dedaunan berwarna oranye terlihat mulai berjatuhan menutupi beberapa jalan.
Pagi ini Rachel dan Mahavir mengantar Bryan ke Oxford untuk melihat-lihat keadaan disana. Tadinya Mahavir berniat mengantar dengan mengendarai mobil, tapi karena keinginan yang kuat dari Bryan untuk mempelajari rute-rute transportasi umum, mereka akhirnya memilih menaiki kereta bawah tanah.
Dan saat ini mereka sudah berada di stasiun Pattinson menunggu kedatangan underground yang akan membawanya ke Oxford.
"Kartunya di isi saldo ya kak?"
"Tidak, itu langsung terpotong otomatis dari rekeningku."
"Wah.. berarti ini tidak boleh hilang. Aku banyak-banyak berhutang dengan kak Vir nih..."
"Kamu cukup membayarnya dengan menjadi orang yang sukses."
"Kak Vir memang the best."
"Aku gak di kasih?" Rachel menyela.
"Kamu? buat apa?" Mahavir menautkan kedua alisnya.
"Mungkin saja nanti aku mau jalan-jalan naik kereta."
"Tidak perlu, nanti aku antar kemanapun kamu mau."
Rachel mendengus kesal, satu kakinya menendang-nendang kosong ke depan.
"Memangnya kalau naik kereta berapa lama sampainya?" Tanya Rachel sembari menengok kiri dan kanan.
"Kurang lebih sejam. Jaraknya cukup dekat, hanya 60 mil. Seandainya tadi naik mobil juga hanya sekitar 1 jam setengah kalau jalanan cukup lenggang atau kurang lebih dua jam-an kalau agak padat." Ujar Mahavir menjelaskan.
"Tahu begitu kan lebih bagus naik mobil saja." Keluh Rachel.
"Kalau naik mobilkan aku tidak bakalan tau rute-rutenya kak, aku hanya mau belajar mandiri. Lagipula siapa yang suruh kakak ikut sih?"
"Hei, harusnya kamu bersyukur aku mau ikut?"
"Syukur? Buat apa? Kakak pasti bakalan merepotkan sepanjang jalan."
"Dasar, bocah ini"
"Hei.. Hei..sudah! sudah bertengkarnya. Tidak malu di lihat orang-orang?" Mahavir menengahi kakak dan adik itu.
Rachel terdiam, sementara Bryan kembali fokus membaca dan menghafal rute-rute perjalanan yang tertempel pada salah satu dinding stasiun itu.
Setelah 15 menit menunggu kereta pun datang, mereka bertiga masuk ke salah satu gerbong dan menempati kursi yang tersedia. Untungnya pagi itu masih kurang orang yang naik kereta, hingga beberapa kursi penumpang banyak yang masih kosong.
Bryan memilih duduk menyendiri di sudut dekat pintu, sementara Mahavir dan Rachel duduk di seberangnya.
"Bryan, kamu sudah mengabari Raya?" Tanya Rachel memandangi adiknya yang hanya fokus melihat ke arah jendela.
Bryan mengangguk, "Dini hari tadi aku telepon, kebetulan dia dinas pagi." Ucapnya dengan kedua mata menelisik tajam ke arah Mahavir dan Rachel bergantian.
"Apa lihat-lihat?" Rachel melotot tidak Terima dipandangi penuh selidik oleh adiknya.
"Hei, kamu PMS ya? Dari tadi emosi terus." Tanya Mahavir tapi tak di hiraukan oleh Rachel. Sepertinya emosinya tidak terkontrol karena kejadian semalam.
Bryan mendengus kesal mengingat kelakuan dari kakak-kakaknya itu. "Kalian berdua bisa tidak jangan terlalu berisik kalau berduaan? Kalian sudah dua kali mencemari mataku, semalam kalian bahkan melakukan polusi udara." Keluh Bryan yang mendengar keributan Mahavir dan Rachel semalam saat menelepon Raya.
Mahavir menahan senyumnya, "Kubilang juga apa sayang, jangan teriak, Bryan bisa dengar!" Ujarnya, yang langsung mendapat cubitan pada pinggangnya. "Aww...Kamu ini kenapa suka sekali KDRT sih?"
"Bodo'..!" Rachel memalingkan wajahnya memandang ke jendela dan Mahavir masih saja terus menjahilinya.
Bryan hanya geleng-geleng melihat kelakuan pasangan yang ada di hadapannya dan kembali fokus memperhatikan tube Underground.
Perjalanan mereka itu memakan waktu sekitar satu jam, melewati pemandangan outer city sampai village di wilayah London hingga sampai ke stasiun Oxford.
Dari stasiun kereta api itu mereka langsung menuju ke depan kota, dan berjalan kaki selama lima belas menit menuju Oxford University. Rachel yang sudah merasa kelelahan terus meracau sepanjang jalan.
"Kak Vir, aku masuk sendiri saja. Kalian berdua berkeliling saja sana."
"Tak apa kamu sendirian?"
"Iya tak apa. Kak Vir urus saja istri kakak yang merepotkan itu." Bryan menunjuk dengan sorot matanya ke arah Rachel yang duduk di bangku taman Universitas. "Nanti kalau sudah selesai aku telepon kak Vir"
"Baiklah, kamu langsung saja masuk ke student service, disana kamu akan diarahkan. Kalau sempat kamu jalan-jalan lihat asramanya, kalau kamu suka kamu langsung daftar, nanti biar Stuar yang urus proses selanjutnya."
"Iya kak beres." Mengangkat dua jempolnya lalu berjalan memasuki koridor kampus itu.
Sementara Mahavir kembali menghampiri Rachel yang sedang menepuk-nepuk betisnya.
"Sudah tahu kita bakal naik kereta, kenapa kamu masih pakai heels?" Berjongkok dan menarik kaki Rachel.
"Mau apa?"
"Mau aku patahkan kaki ini." Ketus Mahavir, membuka heels Rachel dan memijat-mijat lembut kaki mulus itu.
Rachel memandangi Mahavir dan tertawa kecil.
Mahavir melirik kesal, "It's not funny..."
Rachel menahan senyumnya, "Tidak...Aku tidak menertawakanmu, kaki ku geli dengan pijatanmu"
"Ini baru kaki... Gimana kalau aku pijat bagian yang lain...." Mahavir mengerling nakal dan mengelus lembut betis Rachel hingga naik ke paha.
Rachel bergidik geli dengan sentuhan itu dan langsung menarik kakinya. "Dasar mesum!"
Kembali Mahavir mengulum senyumnya lalu bangkit dan menarik tangan Rachel. "Sudah bisa jalan kembali?"
Rachel mengangguk. "Kita mau kemana?"
"Jalan-jalan ke sekitar sini. Kita bisa mengelilingi kesuluruhan daerah sini hanya dengan berjalan kaki. Pemandangannya bagus-bagus."
"Tapi....." Menengok ke bawah, melihat heels nya.
"Nanti aku gendong kalau kamu lelah."
Rachel menggeleng.
"Lalu?"
"Tukaran alas kaki kayak dulu." Menyengir dan memasang senyum tanpa dosa.
Mahavir mengusap wajahnya kasar. "Ternyata yang Bryan katakan itu benar. Kamu ikut cuma bikin repot saja."
"Katanya apapun akan kamu lakukan untukku?" Rachel berucap dengan nada merayu.
"Kalau begitu cium dulu..." Memajukan wajahnya mendekat ke wajah Rachel. "Cium di bibir yah..."
"Hmmm...Sepertinya kakiku sudah kuat berjalan lagi. Ayo...kita ke arah mana? Ke sana atau ke sana?" Langsung berjalan ke depan meninggalkan Mahavir.
Mahavir menyunggingkan senyumnya dan berjalan menyusul Rachel. "Tunggu sayang, jadi ini ciumnya gimana? Katanya mau tukaran sepatu, nih..aku ikhlas tukaran."
Rachel menutup kedua telinganya dan terus mempercepat langkahnya.
"BABY I'M WAITING FOR YOUR KISS.... " teriak Mahavir.
"SHUT UP.....!!"
"MY LOVELY... MY SWEETY... KISS ME.... "
"SHUT UP....!!" menutup kedua telinganya dan berlari kecil, malu dilihat oleh orang-orang yang mendengar ucapan Mahavir.
* * *
Please like, komen dan Vote nya...🙏🥰
peluk cium dari Author 🤗😘
Happy Reading....