
Mahavir terduduk di sofa dalam ruang kerja Rachel dengan wajah yang tertekuk-tekuk dan cemberut. Pasalnya, sejak pulang dari mengantar Bryan sore tadi, Rachel hanya sekedar menyapanya namun kembali sibuk dengan pekerjaannya. Hingga berjam-jam waktu telah terlewat dan hari sudah berganti menjadi malam, tapi istrinya itu masih betah duduk di kursi kerjanya tanpa menghiraukannya. Wanita itu hanya berdiri sesekali membawa desainnya ke bagian produksi dan kembali lagi duduk di kursi kerjanya. Seakan kehadiran Mahavir di ruangannya itu seperti patung manekin yang berjejeran di samping sofa.
Mahavir melirik Rachel sekali lagi, lalu beralih menengok jam yang ada di dinding sisi sebelah kanan ruangan itu. Menunjukkan jam 7.30 malam, dan mereka berdua belum makan malam.
"Sayang, apa kita tak akan makan malam?" Tanyanya dengan lembut walaupun dalam hatinya begitu kesal.
Rachel mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya dari layar tab ke arah Mahavir lalu tersenyum. "Ah, Maaf. Kamu lihat sendiri, aku sedang sibuk. Lagipula aku kan sudah memintamu untuk pulang saja dari tadi."
Mahavir menghela nafas kasar dan memasang tampang cemberut. "Pulang ke rumah pun, tak ada siapa-siapa disana sayang. Apa kamu tega membiarkanku sendirian di sana dan makan malam juga seorang diri?" Tanyanya sambil melipat dan menyilangkan tangan di depan dada. "Lagipula, apa kamu akan membiarkan para karyawanmu semua itu mengikuti jam kerjamu dan melewatkan makan malam mereka?" Lanjutnya seraya menunjuk dengan sorot matanya ke arah jendela dimana para tim kerja Rachel masih berkutat di balik kubikelnya.
Rachel mengikuti arah sorot mata Mahavir dan baru tersadar setelah melihat wajah kusut orang-orang yang ada di luar ruang kerjanya. Bergegas Rachel merapikan meja kerjanya lalu meraih tas tangannya dan bangkit berdiri sambil menenteng tas tangannya itu.
"Baiklah, kali ini kamu menang. Jadi mau makan malam dimana?" Berjalan menghampiri Mahavir dan berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
Mahavir menarik tangan Rachel hingga istrinya itu terduduk di pangkuannya. "Sebenarnya aku ingin makan masakanmu, tapi sepertinya kamu sudah sangat kelelahan." Mengusap-usap rambut Rachel dengan lembut dan mengecup pipinya sekilas. "Jadi kita makan diluar saja, kamu maunya makan apa?"
Rachel tersenyum, melingkarkan kedua tangannya ke leher Mahavir lalu berbisik, "Aku mau kamu saja." Gombalnya membuat hasrat Mahavir seketika bangkit. Tanpa pikir panjang Mahavir langsung menyambar bibir Rachel, namun sebelum ciumannya menjadi lebih dalam, Rachel menghentikannya.
"Kenapa? Takut dilihat oleh yang lainnya?"
Rachel tersenyum lalu menggeleng, "Kalau kita lanjutkan, kapan kita pulangnya? Terus mereka kapan makan malamnya?" Tanyanya sembari bangkit berdiri dari pangkuan Mahavir.
Mahavir tertawa kecil mendengar alasan Rachel, karena alasan itu bersumber dari perkataannya tadi agar wanita itu mau berhenti dari aktivitasnya. Mahavir pun ikut bangkit berdiri, merangkul pinggang Rachel dan bersama-sama berjalan keluar dari ruang kerja.
Setelah menginstruksikan pada Merry untuk menyudahi pekerjaan hari ini, Rachel dan Mahavir pun meninggalkan kawasan Oxford Street menuju pusat kuliner di kawasan Chinatown. Memasuki salah satu restoran Asia dan memesan menu makanan yang sedikit bersantan. Mahavir terkesiap sekaligus bahagia melihat Rachel yang menyantap makannya dengan lahap dan tak lagi memilih-milih makanan. Padahal wanita itu biasanya sangat susah untuk diajak makan apalagi makan berat di jam segini.
Setelahnya, mereka berdua berjalan-jalan sebentar ke Trafalgar Square. Mahavir sekali lagi tersenyum lepas karena Rachel begitu manja padanya. Sambil berjalan santai, Rachel semakin merapatkan tubuhnya serta menjatuhkan kepalanya ke bahu Mahavir. Senyum wanita itupun semakin lepas diikuti tawa renyahnya. Hati Mahavir menghangat, bunga-bunga kembali bermekaran di hatinya.
Setelah jam menunjukkan pukul 10 malam, mereka berduapun meneruskan kembali perjalanan kembali ke Penthouse tercinta mereka.
Sepanjang jalan Mahavir begitu terlihat bersukacita, binar matanya seakan penuh cinta. Bahkan ia ikut bersenandung mengikuti lagu yang di bawakan oleh Pink Sweet berjudul At my works, yang terdengar dari celah audio radio tape di mobil.
Can I call you baby?
Can you be my friend?
Can you be my lover up until the very end?
Let me show you love, oh, I don't pretend
Stick by my side even when the world is givin' in, yeah
Oh, oh, oh, don't
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
Mahavir menatap kedua mata Rachel dengan penuh cinta, meraih tangan Rachel dan menautkan jari-jarinya ke dalam sela-sela jari jemari jenjang Rachel dengan eratnya, lalu kembali fokus melihat ke depan sembari melanjutkan nyanyiannya.
I need somebody who can love me at my worst
No, I'm not perfect, but I hope you see my worth
'Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, girl, I swear I'll do the worst
Kembali menoleh ke arah Rachel, mengerling dengan nakalnya lalu mengecup punggung tangan yang di genggamnya. Sang pemilik tangan nan mulus itu hanya tersenyum-senyum geli melihat kelakuan suaminya.
"Ikut nyanyi dong sayang..." Pintanya, namun Rachel menggeleng sambil menahan senyumnya. Sebagai gantinya, ia mengecup bibir Mahavir dengan sekilas. Mahavir tersenyum dan kembali bernyanyi dengan sesekali memandangi Rachel dan jalan di depannya secara bergantian.
If you stay forever, let me hold your hand
I can fill those places in your heart no else can
Let me show you love, oh, I don't pretend, yeah
I'll be right here, baby, you know I'll sink or swim
Oh, oh, oh, don't
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
I need somebody who can love me at my worst
No, I'm not perfect,β¦..........
Mahavir terus bernyanyi walaupun lagu sudah berganti ke lagu berikutnya, sepanjang jalan hingga sampai ke Penthouse.
Malam ini seakan malam penuh cinta yang tercipta untuk mereka berdua.
* * * *
Tak terasa seminggu telah berlalu. Selama itu pula Rachel masih kembali berkutat dengan pekerjaannya. Gara-gara jadwal PH yang dipercepat dari rencana awalnya dan meminta untuk disegerakan, kantor Rachel semakin sibuk. Saling bekerja sama dan bekerja keras mengejar deadline. Bahkan sejak lima hari yang lalu para tim di bawah label Rachel_Langdon bekerja hingga larut malam. Alhasil Rachel kelimpungan dan membatalkan rencana honeymoon-nya.
"Lelah?" Tanya Mahavir begitu Rachel keluar dari bangunan kantornya. Mengecup pipinya sekilas lalu membukakan pintu. "Apa harus sampai larut malam begini selesainya?" Tanyanya lanjut, sembari melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Bahkan kalau bisa aku ingin menginap saja di kantor agar tidak ribet pulang balik." Rachel menjawab sembari menyandarkan punggungnya ke jok mobil dan memejamkan matanya.
"Kalau seperti ini, apa sebaiknya aku melarangmu bekerja saja?" Tanyanya lagi sembari melajukan kendaraan ke jalan raya.
Rachel membuka mata lalu menoleh ke arah Mahavir. "Vir, ini impianku. Bukan sekedar hanya bekerja dan mencari penghasilan." Jawabnya. Seminggu ini memang merupakan hari yang melelahkan baginya, tapi ia merasa enjoy dan tidak merasa terbebani melakukannya. Bahkan ia bangga akan pencapaiannya saat ini.
Mahavir tersenyum, mengusap pucuk kepala Rachel lalu membelai pipinya. "Aku tahu sayang, tapi kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Jangan terlalu memforsir tenaga. Kalau kamu bekerja seperti orang gila begini bagaimana Mahavir junior ataupun Rachel junior akan ada?"
"Kan tidak selamanya aku bekerja seperti ini. Mungkin dua atau tiga hari lagi akan beres. Setelahnya aku kembali bebas. Jangan khawatir."
"Baiklah, aku memang tak bisa menang berdebat melawanmu." Ucapnya dengan gemas diikuti gerakan tangan yang mencubit pelan pipi Rachel. "Kalau mengantuk tidurlah. Aku akan membangunkanmu bila sampai, kalau perlu aku gendong."
Rachel tersenyum dan menggeleng. "Kamu sudah makan malam kan?"
Selama seminggu ini, karena Rachel yang tiap harinya selalu sibuk dan selalu tak ada waktu, Mahavir akhirnya kembali ke Alister hotel. Kembali bekerja dari balik meja kerjanya dan menyibukkan diri disana untuk mengisi waktu kosongnya. Dan tiap harinya, Mahavir baru akan meninggalkan hotel di larut malam dan menjemput Rachel di kantornya seperti malam ini.
* * *
Hari berganti hari hingga seminggu kemudian tak terasa sudah terlewatkan lagi.
Keseharian Mahavir dan Rachel selalu berulang selama seminggu belakangan ini, mereka akan bangun di pagi hari, sarapan bersama dan kembali berutinitas di kantor masing-masing, dan baru akan bertemu saat larut malam dengan keadaan lelah pada tubuh keduanya.
Mahavir yang tadinya ke hotel hanya untuk sekedar mengisi waktu luangnya, kini merasa terjebak sendiri. Pasalnya, seminggu yang lalu pun Presdir Alister corporation yakni ayah Mahavir tiba-tiba sudah kembali ke London. Membuat Mahavir dengan terpaksa dan setengah hati bekerja di depan layar laptop dengan bertumpuk-tumpuk berkas laporan dari beberapa jaringan Hotel di Eropa dan Asia milik Mr. James Alister. Dengan penjagaan ketat dari Ayahnya di ruanganya setiap hari, Mahavir jadi tak berkutik. Akhirnya Mahavir mengerjakan semua pekerjaan yang sebelumnya di tangani oleh Stuart
Stuart hanya tersenyum-senyum melihat Tuan mudanya yang merasa enggan untuk kembali beraktivitas di kantor. Namun ia juga merasa lega, karena dengan begitu Tuan Muda-nya baru akan mau kembali serius mengerjakan tugasnya, belajar dan bersiap menjadi penerus dari seorang pebisnis yang sukses
Dan kini Stuart sudah setia menunggu di depan kantor Star Productions sejak 30 menit yang lalu. Menunggu nyonya Muda-nya yang sedang membawa sampel pakaian untuk aktris yang berada dibawah naungan Productions house tersebut. Karena sejak kedatangan Presdir, Stuart ditugaskan oleh Mahavir untuk mengantar jemput Rachel kemana-mana. Dikarenakan Mahavir yang dilarang oleh Presdir untuk keluar kantor sebelum pekerjaannya selesai.
Saat ini persiapan di kantor Rachel memang sudah masuk 90% berkat kelincahan tim produksi dan vendor-vendor yang mengirim bahan tepat waktu. Untuk itulah siang ini Rachel sudah berada di kantor Star Production House, membawa beberapa sample busana yang sudah jadi agar di fitting oleh aktris utama dan aktris pendamping dari PH tersebut.
"Thank you Mrs.Rachel. Nice to work with you and your team. All your work is very satisfying and amazing" (*Terima kasih nyonya Rachel. senang bekerja dengan Anda dan tim Anda. semua pekerjaanmu sangat memuaskan dan luar biasa) Ucap pimpinan Star Productions, seraya menjabat tangan Rachel.
"You're welcome sir, it's also nice to work with you. If anything is missing or something is needed, please contact us." (*Sama-sama Pak, senang juga bekerja sama dengan Anda. Jika ada yang kurang atau diperlukan, silakan hubungi kami.)
Ucap Rachel menutup pembicaraannya, lalu beranjak keluar dari ruangan pimpinan PH tersebut.
Saat berjalan di Koridor kantor PH itu, Tiba-tiba dari arah samping seorang pria bule jangkung menyapanya.
"Rachel..." Sapa laki-laki itu.
Rachel menengok dan mengernyit sesaat, kemudian tersenyum. "Sam? what are you doing here?" (*Sam? Apa yang kamu lakukan disini?)
"I'm a freelancer here..." (*Aku pekerja lepas disini) Jawabnya sambil mengusap tengkuknya karena malu.
"Well, you must be confused because I was studying fashion design and ended up doing odd jobs like this." (*yah, kamu pasti bingung karena aku kuliah desain fashion dan malah kerja serabutan seperti ini.) imbuhnya.
Rachel tersenyum dan menepuk bahu Sam.
"It's okay, Kimmy already told me."
(*Tak apa, Kimmy sudah menceritakannya padaku.)
"Kimmy told me you would like to see some of my photo collections"
(*Kimmy memberi tahuku bahwa kamu ingin melihat beberapa koleksi fotoku.)
"Yes, I want to confirm something. But it didn't. Sorry to trouble you"
(*Ya, aku ingin memastikan sesuatu. Tapi tidak jadi. Maaf sudah merepotkan kalian)
"Don't hesitate to be like that. Like I'm not your friend." (*Jangan sungkan seperti itu. Seperti aku bukan temanmu saja.) Ucap Sam terkekeh
Rachel ikut tertawa kecil kemudian berucap,
"I don't want to find out anymore." (*Saya tidak ingin tahu lagi.)
"Surely this has to do with your husband right?" (*Pasti ini ada hubungannya dengan suamimu kan?) tanya Sam lebih lanjut.
Rachel mengernyit, raut wajahnya tiba-tiba serius. "How do you know?" (*Bagaimana kamu tahu?")
"I've finished your photo case, and I know that's why you ended up getting married. and now you definitely want to find out about your husband right?" (*Aku yang telah menyelesaikan kasus fotomu, dan aku tahu itu sebabnya kamu akhirnya menikah. dan sekarang kamu pasti ingin mencari tahu tentang suamimu bukan?) Tebaknya, membuat Rachel tertegun.
"Don't worry, nobody knows. Even Kimmy doesn't know." (* Jangan khawatir, tak ada yang mengetahuinya, kimmy pun tak mengetahuinya.) Ucapnya, menepuk bahu Rachel.
"Follow me." Sam berucap sambil melangkah menuju ruangan kerjanya. Rachel tanpa sadar mengikuti langkah kaki Sam karena penasaran. Sam lalu berjalan ke kubikelnya dan mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya, kemudian menyerahkan benda itu ke Rachel. "coincidentally, I've copied the photos for you." (*Kebetulan, aku telah menyalin foto-foto itu untukmu.)
Rachel menerima Flashdisk dari tangan Sam dan tersenyum tipis. "Thanks Sam."
"Yes, you are welcome. I hope what I think is not like the reality." (*Iya, Sama-sama. Semoga apa yang ku pikirkan tidak seperti kenyataannya.) Ucap Sam, kembali menepuk Rachel seolah memberi kekuatan pada Rachel untuk bersiap-siap menerima kenyataan.
Rachel menautkan kedua alisnya, tak mengerti dengan maksud perkataan Sam.
"You will know when you have seen the contents of the Flashdisk."
(*Kamu akan tahu bila kamu telah melihat isi dari Flashdisk tersebut.)
Rachel semakin menautkan alisnya,matanya memicing menatap Sam dengan penasaran.
Sam menghela nafas, kemudian memberikan satu petunjuk pada Rachel. "That Scottish man is your husband's assistant, right? Looks like he also has a relationship with the curly-haired lad you are looking for."
(*Pria Skotlandia itu asisten suamimu, kan? Sepertinya dia juga punya hubungan dengan pemuda berambut keriting yang kamu cari.)
Rachel tersentak, terkejut dengan pemikiran Sam. "How do you......" (*Bagaimana kamu......)
"Sorry, I accidentally found out about your past when I saw you in the therapy session first. Your psychologist therapist is my sister." (* Maaf, Aku tidak sengaja mengetahui masa lalumu ketika melihatmu di sesi terapi pertama. Terapis psikolog-mu adalah saudara perempuanku.)
Rachel kembali terkejut, saat ini wajahnya sudah memucat sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha tetap tenang di depan Sam.
"I'm afraid I'm wrong. You better make sure."
(*Aku khawatir aku salah. Sebaiknya kamu yang memastikannya)
* * * *
Happy Reading π₯°
Sorry Up nya telatππ€
Mungkin untuk besok-besok othor gak bisa Up tiap hari karena fokus edisi Ramadhan dan mengerjakan novel baruπ
Terima kasih buat yang masih setia disini, tanpa kalian karya othor bukanlah apa-apa... ππ₯°
salam sayang dari Kk Author.... π€π