Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 53.Makhluk Cantik Sedunia.


Berkali-kali Bryan menghela nafasnya dengan kasar, hari ini merupakan hari tergila dalam hidupnya. Sudah hampir 15 menit lamanya ia berdiri sambil mengangkat kedua tangannya, memegangi selembar kertas karton berukuran A2 dengan penulisan huruf kapital tebal bertuliskan 'MAKHLUK CANTIK SEDUNIA'.


Entah apa yang membuatnya mau melakukan ini, dia sendiri tak habis pikir kenapa mau-mau saja diperintah seperti ini oleh Rey. Semalam karena sudah lelah berdebat dengan Rey yang sulit diajak berkomunikasi, akhirnya Bryan mengiyakan semua perkataannya. Dan jadilah dia di sini, berdiri dengan konyolnya.


Kedua matanya kini tampak berfokus pada pintu kedatangan, mengamati tiap gadis kecil yang keluar dari pintu itu.


Hingga tidak lama kemudian dari kejauhan tampak segerombolan gadis belia berjalan keluar sambil bercakap-cakap dengan riangnya, tanpa di perjelaspun mereka semuanya tampak seumuran.


Bryan memperluas pandangannya tapi tak ada satupun dari mereka memberikan tanda-tanda. Bryan mengacak-acak rambutnya kesal, ia sama sekali tidak mengetahui ciri-ciri orang yang di jemputnya. Ia berdiri di sana hanya bermodalkan kertas yang dipegangnya. Batinnya terus bertanya-tanya, bagaimana wajah bocah yang dijemputnya.


Huufftt....Penasaran....seperti apa rupanya gadis cilik itu hingga dia bisa narsis seperti ini...! Gerutunya dalam hati.


Beberapa orang pun terlihat berdatangan menjemput satu persatu dari rombongan gadis belia itu, menyisakan lima orang gadis yang masih menunggu. Dari kelima anak tersebut, salah seorang tampak menoleh ke kiri dan ke kanan. Hingga akhirnya matanya tertuju pada kertas yang dipegangi Bryan. Dengan senyum mengembang, tangan gadis itu melambai-lambai ke arah Bryan berdiri.


"I'M HERE....!! MAKHLUK CANTIK SEDUNIA DISINI.." Teriaknya dengan girang dan berlari kecil ke hadapan Bryan sambil menarik koper troly-nya.


Bryan menaikkan satu alisnya, kedua matanya tampak mengamati gadis belia itu dari atas kepala hingga ke bawah kakinya. Layaknya seorang juri yang akan memberi penilaian pada kontestannya. "Manis juga..." Guman batin Bryan dengan senyum tipis yang membingkai kedua bibirnya.


"Are you a friend of my brother Rey?" Suara nyaring nan ceria itu menyapa.


(Apa kamu teman kakakku Rey?)


"Apa kamu Risya?" Tanya Bryan memastikan.


"Yup, Yup... Saya si cantik Risya." Mengulurkan tangan kanannya dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi gingsulnya. Tangan kanannya memegangi tali tas ransel berwarna peach yang bergelantungan di punggungnya, sementara tangan kirinya memegangi pegangan koper troly-nya.


"Oh iya saya adiknya teman kakak kamu." Menjabat sekilas, menyerahkan kertas karton yang dipegangnya tadi pada Risya lalu mengambil alih koper troly yang dipegang gadis itu. "Ayo ikut." Melangkah kedepan sambil menarik koper itu.


Risya menerima kertas karton itu dengan wajah sumringah, mengusap-usap tulisan dari kertas itu kemudian menempelkannya ke pipinya. Layaknya orang yang baru menemukan harta karun yang bernilai. Dia sama sekali tak menyangka akan dijemput dengan semanis itu, bahkan yang menjemputnya seorang pangeran tampan yang penampilannya seperti member boyband kesukaannya.


Merasa tak ada yang mengikuti dibelakangnya, Bryan berbalik dan menatap kesal pada gadis yang masih berdiri ditempatnya. "Hei, mau menginap disini?"


Dengan cepat Risya menggulung kertas karton yang dipegangnya lalu berlari kecil menghampiri Bryan, mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Bryan. Kedua matanya tampak memandangi wajah Bryan lekat-lekat.


"Ada apa? Mau tanya sesuatu?"


"Ah, tidak.. Sepertinya aku familier dengan wajah kakak. Seperti pernah melihat kakak sebelumnya, tapi dimana yah....." Berfikir sejenak.


Bryan tidak menanggapi, ia terus melangkah menarik koper Risya. Risya yang tadinya mencoba mengingat langsung teralihkan saat melihat keadaan di sekelilingnya. Dalam diam pandangannya berkeliling mengamati detail-detail bangunan bandar udara itu hingga sampai ke parkiran.


Saat Bryan menghampiri mobil sport mewah berwarna merah, Risya tiba-tiba memekik girang.


Dengan mata membulat Risya mendekat dan mengintip masuk ke jendela mobil.


"Mobil kakak?" Tanyanya tanpa berbalik sementara tangan kanannya bergerak meraih ponsel dari balik saku jaketnya yang berbahan jeans.


"Mobil kakakku." Jawab Bryan lalu membuka kunci mobilnya, memasukkan koper ke dalam bagasi belakang lalu memutar dan masuk ke balik pintu depan sebelah kiri. Memposisikan dirinya dibelakang kemudi. Tidak mempedulikan Risya yang sedari tadi berselfie ria disamping mobil.


"Kakak bisa turun sebentar?" Pinta Risya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya, membuat bulu mata lentiknya terlihat naik turun, ditambah dengan senyum yang dibuat-buat.


"Ada apa?" Mengangkat kedua alisnya. Bingung.


"Turun saja dulu." Menarik lengan Bryan hingga beranjak dari balik kemudi. Dan dengan lincahnya Risya langsung memposisikan dirinya terduduk di kursi pengemudi. "Kakak ganteng yang baik hati minta tolong dong fotoin...." Pintanya dengan senyum semanis mungkin sambil menyerahkan ponselnya. "Buat stok ig aku kak." Ucapnya lagi lalu berpose seperti sedang menyetir.


Bryan menghela nafasnya, mau tidak mau mengikuti keinginan bocah itu. Setelah mengambil beberapa potret, Bryan pun menyerahkan ponsel Risya kembali.


"Makasih kakak gantengggg...." Ucapnya dengan nada dibuat manja sambil memeriksa hasil bidikan Bryan.


"Sudah sana pindah kesebelah."


"Ok, siap kak." Memberi hormat lalu langsung melompat dari kursi pengemudi ke kursi penumpang disamping dengan lincahnya, sukses membuat iris mata Bryan membulat sempurna.


Bryan hanya geleng-geleng kepala sambil menepuk-nepuk bantalan jok mobil yang sempat kotor oleh sepatu Risya. Ternyata apa yang dibilang oleh kakaknya memang benar. Bocah ini agak 'Unik'.


Guman batin Bryan.


"Pakai seatbelt-nya!" Perintah Bryan.


"Kak ini atapnya bisa dibuka?" Mendongak dan menyentuh langit-langit mobil, menghiraukan perintah Bryan.


"Bisa" Menjawab dengan singkat, kembali duduk di balik kemudi lalu mendekat ke arah Risya.


"Kakak mau apa?" Terkejut melihat Bryan yang mendekat padanya.


"Memangnya aku mau apa dengan bocah ingusan sepertimu?" Mendengus kesal lalu menarik tubuhnya menjauh. "Makanya pasang seatbelt-nya."


"Oh, iya. Maaf...Lupa." Terkekeh dan memasang seatbelt-nya sendiri.


Segera setelah Bryan memakai seatbelt-nya lalu menyalakan mesin mobil. Mobil sport mewah itupun mulai melaju, melesat dengan kecepatan sedang meninggalkan area bandara. Menyusuri jalan-jalan dekat longford, di borough Hillingdon yang merupakan borough paling barat di London Raya.


Sesekali Bryan melirik gadis kecil disampingnya itu yang sedari tadi tak bisa diam sedetikpun. Sepanjang perjalanan sibuk mengamati dan menyentuh tiap panel dan detail-detail interior mobil, terus mengoceh dan bertanya.


"Kak ini buat apa?"


"Yang ini untuk apa?"


"Kalau yang ini gunanya apa?"


"Nah yang bulat ini buat apa?"


"Kalau buat buka atapnya tekan yang mana?"


Walaupun semua pertanyaannya tak di gubris Risya terus mengoceh tanpa henti, membuat Bryan berkali-kali menghela nafas dan mengusap dadanya. Andaikan bukan gadis kecil, pasti sudah dari tadi Bryan menurunkannya di tengah jalan.


"Kak..."


"Hmmm.."


"Kakak gantenggg..."


"Ada apa?"


"Kak buka atapnya dong...." Kini sudah setengah berjongkok di jok mobil dengan tangan menekan-nekan langit-langit mobil. "Please..." Rengek nya kemudian.


"Dingin, nanti kamu masuk angin."


"Sebentar saja."


"Kalau kamu sakit, kakakmu marah padaku."


"Tidak akan, aku janji. Please yah kak...."


"Kak.. "


"Kak..."


"Sebentaaarrrr saja...."


Bryan melirik kesal, "Bisa diam tidak? Itu mulut tidak lelah dari tadi mengoceh terus?"


Mendapat bentakan dari Bryan membuat Risya langsung terdiam, dengan cepat ia memperbaiki posisi duduknya. Kedua matanya mulai nampak berkaca-kaca dengan bibir yang mengerucut.


"Tak pernah naik mobil mewah yah?" Kembali membentak tanpa menoleh ke arah Risya. Kekesalannya sudah benar-benar sampai di ubun-ubun. Kakak dan adik sama-sama mengesalkan...! Guman batin Bryan.


Karena tak ada lagi pergerakan dari Risya, membuat Bryan penasaran dan kembali meliriknya.


"Kamu nangis?" Memiringkan wajahnya untuk melihat wajah Risya lebih jelas. Risya hanya melirik dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Astaga, maaf.. Aku tidak bermaksud..." Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia langsung menepi dan menghentikan kendaraannya ke bahu jalan. "Maaf... Maaf...sekarang diam yah. Jangan nangis lagi."


"Kakak jahat, tak ada yang pernah bentak-bentak Risya seperti itu." Terisak-isak manja.


"Iyya, maaf yah." Kembali menggaruk-garuk kepalanya.


"Kakak ganteng tapi jahat." Terus terisak.


Melirik kesal, "Aku bukan bocah!" Teriak Risya tidak terima.


Kembali Bryan menggaruk kepalanya, hingga kemudian ia dikagetkan oleh seorang laki-laki asing yang berdiri disamping mobil, dan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobilnya. Laki-laki asing itu menggunakan topi berwarna hitam, kemeja putih, dasi dan rompi yang senada dengan warna topi. Di sisi kiri rompinya terdapat tulisan berwarna putih dengan tambahan Walkie Talkie yang terkait pada ujung sakunya.


Bryan langsung menelan ludah dengan susah payah sesaat setelah membaca tulisan 'Police' pada rompi yang dikenakan orang itu. Dengan segera ia membuka kaca jendela mobil.


"Good afternoon, sorry..you are not allowed to park along this road." Menunjuk beberapa rambu-rambu di pinggir jalan.


(Selamat Sore, anda tidak diizinkan untuk parkir di sepanjang jalan ini.)


"Oh sorry sir, I just came from Indonesia and don't know the rules here." Bryan menunduk dalam-dalam.


(maaf pak, saya baru datang dari indonesia dan belum mengetahui aturan disini.)


Police itu mengamati Bryan, lalu berpindah melihat Risya yang kedua matanya terlihat sembab. Mengamati keduanya secara bergantian selama beberapa saat. "Can I see your driving license and id?" Pintanya dengan tatapan penuh curiga.


(Bisakah saya melihat SIM dan Identitas anda?)


Dengan segera Bryan memberikan SIM dan kartu Tanda pengenalnya.


"Who is that little girl?" Tanya police itu menatap curiga dan meminta tanda pengenalnya.


(Siapa gadis kecil itu)


Risya pun mengambil paspor dan kartu pelajarnya dari dalam ranselnya lalu memberikannya pada Bryan.


"Oh she's my little sister, I just picked her up at Heathrow airport" Ujar Bryan, sedikit berbohong sambil menyerahkan paspor dan kartu pelajar Risya.


(oh dia adik perempuan saya, saya baru menjemputnya di bandara Heathrow)


Police itu hanya diam, ia mengamati kartu-kartu di tangannya dengan seksama lalu mengedarkan pandangan memeriksa keadaan mobil, namun tiba-tiba ia sedikit terkejut melihat sebuah simbol kecil yang tertempel pada kaca mobil. Ia tahu logo itu, logo yang merupakan simbol keluarga salah satu bangsawan yang ternama di negeri itu. Dengan cepat ia menunduk dan mengembalikan kartu-kartu yang dipegangnya.


"Next time don't park anywhere, there are several unmarked spots where you can park your car."


(Lain kali jangan parkir sembarang tempat, ada beberapa tempat yang tersedia di mana anda bisa memarkirkan mobil)


"Yes sir, next time I will pay attention" Menundukkan kepala memberi hormat.


(iya pak, lain kali saya akan memperhatikan)


"Please continue your journey, and drive carefully." Ucapnya lalu kembali menunduk dan meninggalkan mobil Bryan.


(silahkan lanjutkan perjalanan anda,dan berhati-hati berkendara)


Sepeninggal police itu, Bryan langsung bernafas lega. Dengan cepat ia melajukan kembali kendaraannya dalam diam. Bryan sudah tidak lagi menggubris keberadaan Risya di sampingnya.


Risya sedikit merasa bersalah, diam-diam dia melirik melihat Bryan yang terlihat serius.


"Kak...." Ragu-ragu memanggil.


Tak ada respon dari Bryan.


"Kakak ganteng...." Kembali memanggil dengan nada manja.


Bryan tetap tidak menanggapi.


Risya menghela nafas, terdiam sejenak lalu tersenyum dan berucap manja, "Oppa...."


"Uhuk.. Uhuk.." Bryan tersedak oleh ludahnya sendiri. Terkejut mendengar panggilan Risya.


"Kamu panggil apa tadi?"


"Oppa, kenapa?" Menyengir tanpa merasa bersalah.


Bryan hanya geleng-geleng dan tersenyum geli.


Melihat Bryan sudah mulai tersenyum, dengan cepat Risya bertanya kembali. "Kak..., by the way nama kakak siapa?"


Bryan mengernyit, "Memangnya aku belum sebut namaku?"


"Iyya.. Tadi kakak cuma bilang adiknya teman kakakku."


"Oh, nama ku Bryan."


"Oh.. Kak Bryan. Kak Bry sudah punya pacar?"


Bryan menoleh dan melotot, "Jangan banyak tanya. Kamu pertama kali ke London kan? Diamlah dan nikmati saja perjalanan."


Risya mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya ke jendela.


"Boleh buka jendelanya?" Tanyanya lagi yang tanpa menunggu jawaban Bryan langsung membuka kaca jendela. Ia menjatuhkan dagunya tepat di atas bingkai jendela, membiarkan wajahnya tersapu oleh sejuknya semilir angin yang bersuhu di bawah 8 derajat celcius.


"Auuww...iiiiwww... Uuwww...eewww.. Oowwww..." Risya menggerak-gerakkan bibirnya yang diterpa angin, mengeja A I U E O.


Bryan menahan tawa melihat tingkah gadis itu.


Baiklah aku mau lihat apa yang akan kamu lakukan selanjutnya..... Gumannya sambil membuka atap mobil sport itu.


"Woww... Keren kak Bry...." Menengadahkan kepalanya ke atas melihat langit-langit mobil yang terbuka perlahan. "Coba dari tadi...." Lanjutnya, lalu mengangkat kedua tangannya, merasakan angin sejuk yang berhembus. Beberapa daun-daun kering dari pohon yang dilewatinya pun berjatuhan di atas kepalanya. Membuatnya terkekeh-kekeh mencoba menangkap dedaunan yang beterbangan itu.


Suatu pemandangan langka yang dilihat oleh Bryan.


Astaga... Oke aku ralat, dia bukan hanya sekedar


'agak unik', tapi 'sangat unik'...Guman batin Bryan


yang diam-diam melirik Risya sambil tersenyum-senyum geli.


Hampir 10 menit lamanya Risya memainkan tangannya di udara hingga akhirnya ia menyerah sendiri dan menyuruh Bryan menutup kembali atap mobil.


"Kenapa?"


"Dingin kak." Merapatkan jaketnya dan mensedekapkan kedua tangannya ke bahunya, diiringi dengan gerakan bibir yang mulai membiru dan sedikit bergetar karena kedinginan.


"Baru sadar?" Membuka jaketnya perlahan sambil mengemudi dengan satu tangan.


"Nih, pakai..." Melemparkan jaketnya pada Risya.


Risya pun langsung memakai jaket Bryan dan melempar senyum manisnya pada Bryan. Bryan hanya tersenyum tipis lalu pandangannya kembali fokus kedepan.


Mobil sport Aston Martin berwarna merah produksi Britania Raya itupun kini melesat dengan cepatnya melewati simpang jalan menuju pusat kota London.


Hari sudah beranjak gelap. Setelah satu setengah jam berkendara, mobil merah itu pun memasuki ruang private car park yang tersedia di basement Penthouse.


Karena masih merasa kedinginan, Risya tak banyak bicara hingga sampai ke dalam kamar yang telah disediakan untuknya. Sementara Bryan kembali ke kamarnya dan mencoba menelepon Raya, dia betul-betul lupa menghubungi pacarnya seharian ini.


* * *


Sorry agak telat Up-nya 🙏


Terima kasih masih setia disini....


jangan lupa like, komen dan Vote nya... 😚


peluk cium dari Author 🤗😘


Happy Reading... 🥰🙏😍


Untuk Visualnya Risya kira-kira seperti ini yah...