Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 90. Kabar buruk.


Rachel melangkah ke depan pintu. Ia kembali menarik nafas panjang berkali-kali sebelum membuka pintu di hadapannya. Namun, tangannya tiba-tiba terhenti di udara saat akan membuka pintu di hadapannya. Suara percakapan dua orang di dalam sana membuatnya urung untuk masuk.


Dari suara laki-laki itu Rachel dapat mengenalinya sebagai Mahavir dan suara wanita itu sedikit familiar ditelinganya. Karena penasaran Rachel mendekat dan sedikit mengintip lewat celah pintu. Kedua pupilnya melebar sempurna begitu melihat suaminya berpelukan dengan seorang wanita cantik berpakaian minim yang dikenalinya sebagai model ternama, Hannah Barbara. Rachel mematung di tempatnya dan berusaha menyimak pembicaraan mereka.


"....aku ingin menyerah saja dengan semuanya, andai saja aku tidak mengingat anakku yang saat ini ada di kandungannya. Setidaknya saat ini aku bisa bertahan dengan harapan itu."


"Bagaimana dengan 'Cinta' mu..?"


Mahavir terdengar tertawa kecil. "Aku sudah muak, aku sudah lelah, aku membencinya, aku ingin melepaskannya saja, aku ingin pergi sejauh-jauhnya menjauhinya, aku ingin mengubur cinta ini. Aku tak ingin mengenalnya lagi. Harusnya aku tidak menikahinya. Harusnya aku tidak terus menerus mengejarnya seperti orang kesetanan. Harusnya aku menikahimu saja waktu kita dijodohkan. Mungkin bila menikahimu aku tidak akan seperti ini. Harusnya....."


Kedua bola mata Rachel memanas. Nafasnya terdengar memburu. Ia menepuk pelan dadanya karena rasa sesak yang tiba-tiba menderanya. Niatnya datang ke tempat itu bukan untuk melihat dan mendengar perkataan Mahavir barusan. Kakinya refleks melangkah mundur dengan perlahan. Ia membuka kalungnya dan melemparnya begitu saja, kemudian berbalik dan berlari dengan menahan tangisnya menuju lift yang langsung membawanya turun ke lantai dasar.


Begitu pintu lift terbuka, Rachel langsung menghambur keluar dengan berlari tanpa memperhatikan sekitarnya. Hingga tanpa sengaja menabrak seorang bellboy yang sedang mendorong luggage trolley yang mengangkut koper tamu hotel.


Rachel terjungkal kebelakang dan terhempas dengan kerasnya terduduk di lantai marmer.


"Sorry madam, i didn't see you.." Bellboy itu menunduk meminta maaf lalu segera membantu Rachel untuk berdiri. Namun saat Rachel berusaha bangkit, mendadak ia merasakan nyeri yang amat sangat pada daerah perut bawahnya.


"Madam? Are you okey?"


Rachel merasakan sesuatu yang basah dan hangat mengalir melewati pahanya. Refleks pandangannya turun ke arah bawah dan membuat jantungnya seakan berhenti berdetak melihat darah segar terlihat mengalir turun di kakinya.


Raut wajah Rachel memucat, kedua tangannya dingin dan basah, tubuhnya bergetar hebat dengan pandangan yang mulai mengabur. Orang-orang mulai datang mengelilinginya dan berusaha membantunya. Dari sela tubuh orang-orang itu, ia masih sempat melihat dari kejauhan Mahavir yang berjalan tergesa-gesa keluar dari hotel bersama Hannah dan diikuti oleh Stuart dibelakang mereka.


"Vir....... Anak kita....anak kita Vir......" Lirihnya memandangi punggung Mahavir yang semakin menghilang dari pandangannya, sebelum akhirnya kesadarannya ikut menghilang dan jatuh pingsan dalam rangkulan bellboy yang membantunya berdiri.


* * *


Beberapa jam sebelumnya...


Hannah yang baru saja keluar dari restoran hotel Alister berpapasan dengan Stuart di depan Lift.


"Mr.Stuart, kebetulan kita bertemu. Bagaimana kontrakku waktu itu?"


"Semuanya sudah selesai sejak waktu itu Nona Hannah. Hanya saja anda tak pernah datang lagi kemari."


"Ah, sejak Runway berakhir aku langsung ke Milan."


"Anda mau menandatanganinya sekarang?"


"Boleh, kalau tidak merepotkan dan anda tidak sedang sibuk tentunya."


Stuart tersenyum tipis dan menunduk hormat. "Kebetulan saya akan ke ruang kerja untuk mengerjakan sesuatu. Anda bisa ikut bila mau." Stuart langsung melangkahkan kakinya memasuki lift yang sudah terbuka dihadapannya.


"Dengan senang hati..." Hannah menyusul Stuart masuk ke dalam lift.


"Bagaimana kabar tuan Muda mu?"


Stuart menghela nafas. "So bad..."


Hanna mengernyit. "He's sick?"


Stuart menggeleng dan mengangguk. "Dia sehat. Tapi di bagian sini yang sakit." Menunjuk ke dadanya, tepat dibagian hatinya. Stuart kembali menghela nafas berat. "Sudah seminggu ini dia tinggal di hotel ini."


"Apa dia dan Rachel...?"


Stuart hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Enggan berkomentar lebih jauh.


Keduanya pun terdiam hingga pintu lift terbuka dan Stuart melangkah keluar.


"Nona Hannah?" Tegurnya karena Hannah masih tertegun di tempatnya.


"Ah, lain kali saja. Aku ingin bertemu dengan tuan Muda-mu dulu." Hannah langsung menekan tombol lantai teratas dimana ruangan Mahavir berada sebelum Stuart sempat berbicara padanya.


Hannah mempercepat langkahnya menuju ruangan Mahavir dan langsung masuk begitu saja setelah menyapa dua resepsionis yang berjaga. Ia sempat terkejut melihat penampilan laki-laki yang selama ini selalu terlihat rapi dan bersikap ketus padanya kini malah terlihat kacau dan menyedihkan. Berbaring di atas sofa dengan pandangan kosong ke arah jendela ruangannya.


"Ck,ck,...Tuan Muda satu ini..." Tegurnya sembari melenggang masuk begitu saja.


"Astaga, kamu mengagetkanku. Tak tahu ketuk pintu yah?" Mahavir mengangkat tubuhnya dari posisi berbaring menjadi duduk.


"Maaf, tangan mulus ku terlalu berharga untuk mengetuk pintu yang keras itu."


Mahavir tak menghiraukannya, ia lebih memilih kembali memandang jauh ke luar dari balik kaca jendela.


Hanna menggeleng dan berdecak lalu ikut duduk di sofa panjang yang sama dengan Mahavir.


"Apa yang kamu lakukan disini? Kudengar dari paman katanya si Rachel itu sedang mengandung. Bukannya harusnya saat ini kamu memanjakan istri tersayangmu itu di rumah?"


Mahavir melirik sepintas ke arah Hannah, tersenyum getir dan kembali memandangi hingar bingar kota London yang berada jauh dibawah sana. "Keluar sana, aku sedang tak mood untuk menanggapi ocehanmu." Ucapnya pelan dan tak bertenaga.


"Kamu kenapa lagi? Baru kali ini kulihat tak bersemangat seperti itu. Bertengkar dengan istrimu?"


"Berarti ayahku tidak menceritakan semuanya padamu yah...?"


"Kamu pikir paman orang yang bisa mengumbar masalah anaknya? Astaga, sampai kapan kalian akan seperti ini? Tidak lelah yah?"


Mahavir menghela nafas berat. "Lelah, sangat lelah..." Ucapnya.


"Apa masalahnya begitu berat?" Tanyanya yang langsung dibalas anggukan oleh Mahavir.


"Disaat dia sedang mengandung?" Tanyanya lagi yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Mahavir, bahkan laki-laki itu kini terlihat berkaca-kaca.


"Ya, Ampun... Ada masalah apa?" Hanna mendekat dan mengusap punggung Mahavir.


Mahavir memijit pangkal hidungnya, berusaha menahan airmatanya. "Dia sudah tahu siapa aku yang sebenarnya."


"Dia akhirnya membenciku dan menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Sama sekali tak ada cinta yang tersisa untukku. Bahkan dia membuat dirinya sendiri terlihat menyedihkan bersamaku. Aku gagal, aku gagal membuatnya mencintaiku..." Lirihnya yang kini sudah diikuti isakan tertahan.


"Astaga...." Hanna refleks memeluk Mahavir untuk memenangkannya. "Sabarlah, mungkin saja dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan semuanya."


"Kurang sabar apalagi aku selama ini? Tadinya aku ingin menyerah saja dengan semuanya, andai saja aku tidak mengingat anakku yang saat ini ada di kandungannya. Setidaknya saat ini aku bisa bertahan dengan harapan itu."


"Bagaimana dengan 'Cinta' mu..?"


Mahavir tertawa kecil "Aku sudah muak, aku sudah lelah, aku membencinya, aku ingin melepaskannya saja, aku ingin pergi sejauh-jauhnya menjauhinya, aku ingin mengubur cinta ini. Aku tak ingin mengenalnya lagi. Harusnya aku tidak menikahinya. Harusnya aku tidak terus menerus mengejarnya seperti orang kesetanan. Harusnya aku menikahimu saja waktu kita dijodohkan. Mungkin bila menikahimu aku tidak akan seperti ini. Harusnya....." Ucapannya terhenti, tenggorokannya sudah tercekat akibat menahan luapan tangisnya. Sesak, begitu sesak yang dirasakannya. Kata-kata frustasi yang di ucapkannya barusan justru membuatnya semakin terlihat menyedihkan.


Hannah semakin mengeratkan pelukannya pada Mahavir. Ia sangat tahu kalau perkataan sahabatnya itu tidak sungguh-sungguh, itu hanya luapan emosinya saja. Ia tahu betul bagaimana perasaan laki-laki itu. Sampai matipun laki-laki yang berada di pelukannya ini tak akan mampu membenci wanita itu. Di matanya hanya ada satu wanita. Wanita angkuh bernama Rachel.


"Aku sudah pasrah dan sudah tidak ingin berharap banyak lagi. Kadang aku berharap bisa membencinya walau sedikit, setidaknya hatiku tidak semerana ini. Aku sendiri tidak habis pikir, kenapa hatiku bisa begitu tergila-gila dengan wanita egois dan angkuh sepertinya. Semakin aku mencari jawabannya, aku semakin tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Hanya dia, hanya dia seorang yang selalu ada di dalam pikiranku."


"Yah, itulah cinta." Hanna melepaskan pelukannya dan mendorong pelan tubuh Mahavir. "Sudah, berhenti melow begini. Jadilah pria yang kuat. Mana Mahavir yang penuh semangat dan pantang menyerah?"


Mahavir mengusap wajahnya dan mengulas senyumnya. "Thanks Han..."


"Aku tak butuh terima kasih, aku hanya butuh Honor ku dinaikkan." Ucapnya diikuti kekehan. Mahavir pun ikut terkekeh pelan.


"Jadi, kamu serius menyesal tidak jadi menikah denganku?" Tanyanya dengan nada mengejek.


"Aku menyesal mengenalmu yang mata duitan."


"Ck, kamu satu-satunya laki-laki yang berani menolakku dengan tegas." Hanna mencibir dan memutar bola matanya jengah.


"Sudah, pulang sana."


"Vir, wanita itu selalu ingin dimengerti. Lain di bibir, tapi lain dihatinya. Kalau dia berkata membencimu, berarti dia begitu mencintaimu. Bila ia menyuruhmu untuk pergi maka jangan pernah meninggalkannya. Bila ia berkata terserah, maka matilah kamu." Ucapnya lalu bangkit berdiri.


"Tapi hal itu tidak berarti untuk Rachel."


"Jauh dilubuk hatinya seperti itu kok. Coba pahami lebih dalam. Pulanglah, dia pasti membutuhkanmu saat ini. " Ucap Hanna dengan mengedipkan satu matanya. "Baiklah aku pulang dulu." Lanjutnya dengan menyengir dan beranjak keluar. Namun saat di depan pintu langkahnya terhenti karena menginjak sesuatu. Hanna membungkuk dan memungut benda berkilauan itu.


"Vir, ini milik siapa? Sepertinya ini barang yang mahal dan tidak sembarang orang bisa memilikinya." Ucap Hanna dengan melangkah kembali masuk ke dalam ruangan Mahavir.


Mahavir mengangkat kedua alisnya. "Barang apa?"


"Nih..." Hanna melempar kalung itu ke pangkuan Mahavir.


Mahavir yang baru sekilas melihat kalung itu langsung mengenalinya. "Kamu temukan dimana?" Bangkit berdiri dan langsung berlari ke luar ruangannya dengan mengedarkan pandangannya.


"Ada apa? Milik siapa? Jangan bilang itu milik istrimu?" Hanna ikut menyusul dibelakang Mahavir.


"Ini memang miliknya." Ucapnya sembari memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya dan berlari menuju meja resepsionis di depan koridor ruangannya.


"Did my wife come here?" (*apa istriku datang kesini?) Tanyanya pada salah satu resepsionis yang berjaga.


"Yes sir, she just came down a few minutes ago." (*Iya pak, dia baru saja turun beberapa menit yang lalu)


Dengan langkah panjangnya, Mahavir sudah berada di depan lift. Ia menekan tombol lift dengan begitu tidak sabaran. "Shitt!!" Makinya masih terus menerus menekan tombol lift.


"Sabar Vir..." Hanna menarik tangan Mahavir dari tombol lift.


"Pasti kali ini dia salah paham lagi dan meninggalkan kalungnya begitu saja." Ucapnya dengan mengusap kasar wajahnya.


'TINGG...


Pintu lift terbuka dan Stuart muncul dari dalam sana dengan raut wajah yang sangat pucat. "Tuan Muda ada berita buruk..." Ucapnya dengan tergesa-gesa.


"Nanti saja, ada yang lebih penting." Mahavir bergegas masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan Stuart. Hanna memandang heran pada Mahavir dan Stuart bergantian lalu menyusul Mahavir ke dalam lift. Stuart akhirnya ikut masuk sebelum pintu lift tertutup.


"Tuan Muda...." Stuart menepuk bahu Mahavir dengan kepala tertunduk. "Presdir..."


"Kenapa dengan paman?" Tanya Hannah.


"Presdir terkena serangan jantung. Kita harus kesana secepatnya. Pesawat sudah menunggu kita."


"Sekarang?" Stuart mengangguk pelan. "Tapi aku harus bertemu istriku lebih dulu. Sebentar saja, aku harus meluruskan sesuatu padanya."


"Tuan Muda, Presdir sekarat. Jangan sampai anda menyesal kalau terjadi apa-apa dengannya."


Mahavir seketika merasa kedua lututnya lemas, ia terhuyung hingga menghempas punggungnya bersandar pada dinding lift. Otaknya memutar kembali saat-saat terakhir bersama Ayahnya. Saat dimana ia berkata kasar serta memaki ayahnya itu dan mendapatkan satu tamparan keras darinya.


"Apa yang terjadi? Mengapa Ayahku bisa sampai terkena serangan jantung?"


"Saham Hotel-hotel yang ada di Amerika merosot turun. Semua pemegang saham menjual sahamnya dengan harga rendah. Sepertinya ada yang berusaha menggulingkan Presdir disana."


Mahavir mengepalkan tangannya diikuti rahangnya yang mengeras. "Cari tahu secepatnya perusahaan mana yang berusaha bermain dengan kita. Biar aku yang menghadapi mereka." Dengan langkah panjangnya Mahavir langsung berjalan keluar dari lift menuju pelataran hotel dimana sudah ada mobil yang menunggu mereka.


"Mr. Stuart sepertinya ada sesuatu yang terjadi." Ucap Hanna saat ekor matanya menangkap keramaian dibelakang sana. Stuart hanya berbalik sekilas namun tetap melanjutkan langkahnya. "Anda ingin ikut juga melihat Presdir?" Tanyanya, menghiraukan keramaian di belakang sana.


"Iya, aku ikut. Aku akan mengabari ayahku saat sampai disana." Jawab Hanna, mengikuti langkah Mahavir.


Ketiganya langsung masuk ke dalam mobil yang secepat kilat membawanya ke Bandara. Dalam perjalanan Stuart mendapat pesan dari karyawan Hotel. Stuart terperanjat kaget membaca kabar buruk yang ada dalam pesan itu. Wajahnya berkali lipat lebih pucat dari sebelumnya. Ia yang terduduk di kursi penumpang depan menengok ke belakang menatap nanar Tuan Mudanya yang duduk berdampingan dengan Hanna. Menimbang-nimbang akan memberitahukan Mahavir kabar itu atau tidak.


"Ada apa? Apa ada kabar terbaru dari Presdir?" Tanya Mahavir menyadari tatapan Stuart.


Stuart menggeleng, sedikit menunduk lalu kembali berbalik ke depan.


Maafkan saya Tuan Muda, sepertinya saya tidak bisa memberitahukan kabar buruk dari istri anda saat ini. Keberadaan anda sangat dibutuhkan oleh Presdir dan perusahaan. Banyak nasib para karyawan bergantung pada anda.


* * *