Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 87. Meminta waktu untuk sendiri


Sudah beberapa jam lamanya Rachel menatap kosong patung manekin yang berjejer rapi di ruangan kerjanya. Selama itu pula ia terus menguapkan kekesalan dan kesedihannya dalam tangisan yang begitu terdengar pilu hingga ke luar ruangannya. Saat ini ia betul-betul menyamakan keadaan dirinya dengan manekin itu. Seseorang yang sudah tak berdaya dan tak punya kebebasan lagi.


Karyawan-karyawan yang berada di luar ruang kerjanya dan mendengar suara tangisannya hanya saling melempar pandang dengan sorot mata penuh tanya kepada Merry sang ketua tim. Merry yang tak tahu menahu hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


Tidak lama berselang, seorang laki-laki bertubuh tegap dan tinggi namun dengan raut muka yang sangat kacau masuk ke ruangan itu. Secara serempak mereka semua bangkit berdiri dan menunduk memberi hormat. Tanpa menyapa dan berbicara sedikitpun, laki-laki itu langsung masuk ke ruang kerja pimpinan mereka.


Ceklek...


Suara pintu ruangan terbuka dengan kasar. Rachel yang sedang menelungkupkan kepalanya dalam lipatan tangannya di atas meja kerjanya, langsung mengangkat kepalanya dengan berat.


"Merry, I told you I didn't want to be disturbed..."


(Merry, sudah kubilang aku tidak ingin diganggu..) Ucapnya dengan lemah dan suara parau lagi serak, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah dingin begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya.


"Untuk apa kesini? Apa kamu juga ingin mengatur apa yang kukerjakan disini?"


"Rachel.... Kumohon...jangan seperti ini...."


Mahavir melangkah semakin mendekat pada Rachel. Tapi wanita itu bangkit berdiri dan mengacungkan kelima jarinya tepat di depan dada Mahavir. Meminta Mahavir berhenti di tempatnya.


"Vir...harusnya aku yang memohon seperti itu padamu....haruskah kamu terus mengikutiku kemanapun? Terus mengawasiku seperti ini? Tak bisakah kamu memberikan sedikit waktu buatku sendiri untuk saat ini?"


"Sayang, aku...aku tak bisa." Kembali mendekat dan berusaha memeluk Rachel. "Aku tak bisa jauh darimu. Kamu sudah seperti nafasku. Aku serasa susah bernafas tanpa melihatmu sedikitpun." Lanjutnya.


"Lalu kamu akan terus memperlakukanku seperti ini? Terus mengawasi semua pergerakanku?"


"Maaf sayang...tapi kalau hal itu membuatmu tetap berada di sisiku. Maka terpaksa akan aku lakukan."


Rachel bergidik ngeri mendengar perkataan Mahavir. Laki-laki itu betul-betul mencintai dirinya seperti orang gila yang terobsesi.


"VIRR...!!!" Teriaknya, mendorong keras tubuh Mahavir.


"Sayang...." Kembali meraih kedua tangan Rachel dan menggenggamnya.


"Vir...kalau kamu betul-betul menyayangiku, kumohon... Biarkan aku sendiri untuk sementara waktu. Biarkan hatiku tenang dulu saat ini." Ucapnya dengan memelas.


Mahavir menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu melepaskan pegangannya pada tangan Rachel. "Baiklah...aku akan menunggumu diluar."


"Vir...." Rachel menggeleng frustasi, menatap nanar pada laki-laki yang bersikeras di depannya. Dia hanya mau sendiri untuk sementara waktu, tak bisakah laki-laki itu mengerti perasaannya sedikitpun?


"Aku akan menunggu diluar." Ulangnya lagi dengan tegas lalu berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tanpa berbalik sedikitpun.


Rachel menghempaskan tubuhnya kembali terduduk di kursi kerjanya. Kedua tangannya terangkat memegang kepalanya. Hati dan jiwanya begitu lelah. Begitu pelik masalah yang mendera batinnya.


Selama beberapa saat, Rachel menata hati dan memenangkan pikirannya. Kemudian berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja dan membuat desain pada tabletnya. Sengaja berlama-lama di tempat itu agar Mahavir bosan menunggunya diluar sana.


Jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul 18.30. Rachel menghentikan aktivitasnya, bangkit berdiri dan mengintip dari balik kaca jendela melihat keadaan di luar sana. Di bawah sana masih terlihat mobil sport milik suaminya terparkir dengan rapinya di bahu jalan tepat di depan kantornya. Rachel memijit pelipisnya dengan kasar, menghela nafas berkali-kali lalu akhirnya meraih tas tangannya dan beranjak keluar dari ruangannya. Melewati beberapa pasang mata yang diam-diam meliriknya, namun ia sama sekali tak menggubris tatapan mata yang penuh rasa penasaran dari para karyawannya itu.


Langkahnya terhenti tepat di samping mobil sport Mahavir. Kedua matanya menerawang menembus kaca mobil itu yang sedikit gelap. Tak ada pergerakan dari dalam sana karena sang pemilik tampaknya tertidur di kursi pengemudinya, mungkin karena kelelahan menunggunya.


Rachel memandangi pintu mobil itu selama beberapa detik hingga akhirnya memutuskan untuk tak membukanya dan memilih berjalan menjauh ke arah pemberhentian bus. Kedua matanya seakan berpencar mencari keberadaan para pengawal yang biasa mengikutinya. Dan benar saja, beberapa orang tampak sudah mengamatinya dari kejauhan. Dengan lincah Rachel menaiki bus yang baru saja akan berjalan hingga tak ada kesempatan buat pengawal itu ikut naik bersamanya. Dari kejauhan ia bisa melihat orang-orang itu berlarian dengan panik mengejarnya. Namun bus sudah berjalan menjauh.


Setelah beberapa meter, Rachel turun dari bus itu bersama segerombolan gadis-gadis muda dan langsung masuk ke sebuah toko untuk bersembunyi. Di dalam sana ia menghubungi Kimmy, Satu-satunya teman yang bisa dipercayainya saat ini. Untungnya Kimmy sudah kembali ke London, jadi ia bisa meminta tolong pada temannya itu.


Lima belas menunggu, akhirnya sebuah van putih singgah tepat didepan toko. Rachel berbalik kekiri dan kanan melihat keadaan lalu berlari masuk ke dalam Van itu.


"Thanks Kim...." Ucapnya. Tubuhnya gemetaran, wajahnya terlihat pucat dengan kedua mata yang sembab.


Kimmy memicing memandangi keadaan Rachel dengan berjuta pertanyaan dibenaknya. Sadar akan tatapan Kimmy, Rachel menepuk bahu Kimmy pelan.


"Aku akan menjelaskan padamu tapi tidak disini."


Kimmy mengangguk dan langsung menancapkan gas, melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh menuju rumahnya. Sebuah rumah tunggal dengan halaman yang luas, yang letaknya sedikit jauh dari pusat kota London.


"Kamu mandi dulu, kamu bisa memakai bajuku." Ucap Kimmy mendorong Rachel masuk ke kamarnya. Lalu ia segera ke pantry dan membuatkan makan malam untuk Rachel.


Rachel menghampiri Kimmy dengan tampang yang sudah lebih baik dan menggunakan setelan kaos santai bermotif floral milik Kimmy.


"Makan dulu!" Ucap kimmy tapi terdengar seperti sebuah perintah.


Rachel tersenyum tipis lalu duduk dan memakan makanan yang telah disiapkan oleh Kimmy.


"Sam mana?" Tanyanya disela-sela kunyahannya.


"Dia sedang ada pemotretan di Dunster, Somerset." Jawabnya dengan terus memandangi Rachel memakan makanannya. Begitu memastikan makanan di atas piring sudah tandas, Kimmy pun menagih penjelasan. "So, can you tell me now?"


Rachel menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian ia menceritakan semuanya kepada Kimmy. Kimmy terperangah mendengar semua penuturan sahabatnya itu.


"Jadi, suamimu itu....?"


Rachel mengangguk bahkan sebelum Kimmy meneruskan kalimatnya. Bulir bening kembali terjatuh dari pelupuk matanya.


"... and now you are pregnant??"


Lagi-lagi Rachel mengangguk pelan dan airmatanya semakin berurai. Cepat-cepat Kimmy bangkit dari duduknya, menghampiri Rachel dan memeluknya erat.


"So, apa yang akan kamu lakukan?"


Rachel menggeleng pelan. "Aku tak tahu...Kim, aku tak tahu harus bagaimana...."


Kimmy menarik wajah Rachel hingga berhadapan dengannya dan mengunci pandangannya. "...do you love him...?" Tanyanya. Menatap netra Rachel dalam-dalam agar tak ada kebohongan dari mata itu.


Rachel hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Tapi... aku belum bisa melihatnya dengan bayang-bayang sosoknya yang dulu."


"Apa kamu ilfeel mengingat penampilannya yang dulu?"


Rachel menggeleng cepat. "Bukan... bukan itu, hanya saja.... "


"Tak bisakah kamu memaafkan dan berusaha menerimanya saja?" Tanya Kimmy ragu-ragu.


"Entahlah Kim....." Rachel kembali terisak. Cukup lama. Hingga kembali berucap lirih. "Aku hanya butuh sedikit waktu untuk berusaha menerima semua ini. Tapi dia bahkan tak memberikan ruang sedikitpun padaku. Aku merasa sangat tertekan. Bahkan bernafas pun terasa sangat sulit bila bersamanya."


Kembali Kimmy menghela nafas. Satu tangannya mengelus lembut punggung Rachel, sementara satu tangannya memijit pelan pelipisnya.


"Mungkin saja dia betul-betul menyayangimu dengan tulus. Hanya saja caranya yang sedikit ekstrim. Aku tak bisa ikut campur terlalu jauh. Tapi aku harap kamu mengambil keputusan yang tepat. Apalagi mengingat saat ini ada anaknya di dalam rahimmu. Anak kalian. Sesuatu yang sangat berharga yang tidak semua orang bisa memilikinya. Termasuk aku yang sampai sekarang belum diberikan kesempatan untuk mengandung anak dari Sam." Ucap Kimmy sembari mengusap airmata di pipi Rachel.


"Aku menerimamu disini dengan tangan terbuka, selama apapun kamu mau. Tapi mau sampai kapan?..don't run from your problems..." Ucap Kimmy mengingatkan.


"Sekarang coba kamu lihat dari sisi dirinya. Aku yakin diapun sama susahnya dengan dirimu saat ini. Apalagi saat ini dia tak tahu kamu ada dimana. Pasti dia panik mencarimu kemana-mana." Lanjutnya lagi.


Rachel memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya dengan keras dan menelan ludahnya berkali-kali. Hati kecilnya membenarkan perkataan Kimmy.


"So, kamu mau menginap dulu... Atau mau aku mengantarmu kembali padanya?"


* * * *


Tok... Tok.. Tok..


Suara ketukan pada kaca jendela mobil membuat Mahavir terbangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya sejenak ke sekitar, dan terkejut melihat hari yang sudah berganti malam. Cepat-cepat ia menurunkan kaca jendela mobilnya dan memandangi Merry yang berdiri di samping pintu mobilnya.


"Mr.Alister, are you still waiting? Didn't Miss Rachel leave an hour ago.." (*Tuan Alister, apakah kamu masih menunggu? Bukankah Nona Rachel sudah pergi satu jam yang lalu)


"... an hour ago??" Tanyanya ulang sambil menengok jam di pergelangan tangan kirinya. Setelahnya ia meraih ponsel dan menghubungi nomor telepon penthouse-nya. Bik Inah yang menjawab di seberang sana mengatakan kalau Nyonya muda-nya belum kembali. Mahavir lalu menghubungi pengawal yang bertugas menjaga istrinya. Cukup lama hingga sambungan teleponnya akhirnya tersambung. Entah apa yang orang dalam sambungan telepon itu katakan, hingga membuat rahang Mahavir mengeras dan mengumpat berkali-kali sambil memukul stir mobil dengan keras.


Kembali Mahavir menghubungi seseorang dengan gusarnya.


"Ya Tuan Muda?" Jawabnya diujung sana.


"Stuart, lacak keberadaan istriku saat ini juga."


"Nyonya Rachel?"


"Memangnya istriku ada berapa?"


"Apa dia menghilang lagi? Kemana orang-orang yang menjaganya?"


"Shittt!! Aku tak ada waktu menjelaskan. Lacak dia sekarang juga. Aku beri waktu lima menit untuk melacaknya." Ucapnya lalu mematikan ponselnya. Mengusap wajahnya dengan kasar lalu berbalik memandangi Merry yang masih setia berdiri di samping pintu mobil dengan tatapan keheranan.


"Where do you think she is?" (*menurutmu dimana dia?)


"I don't know sir." (* aku tak tahu tuan.) jawab Merry dengan menunduk.


Mahavir memijit-mijit pelipisnya dengan kasar. Saat ini pikirannya sangat kacau dan begitu takut bila Rachel pergi meninggalkannya. Belum sampai lima menit ponselnya berbunyi dan menampilkan notifikasi sebuah pesan masuk. Mahavir segera membuka chat dari Stuart tersebut.


"Do you know where this is? and whose house?" (*apakah kamu tahu dimana ini? dan rumah siapa?) Tanya Mahavir seraya memperlihatkan alamat yang tertera di ponselnya kepada Merry.


"Looks like it's Miss Kimmy's house. I've been there once with Miss Rachel." (*Sepertinya itu rumah Nona Kimmy. Aku pernah ke sana bersama Miss Rachel.) ujar Kimmy. Lalu menjelaskan alamat itu pada Mahavir.


Dengan secepat kilat, Mahavir melajukan kendaraannya menuju rumah Kimmy. Menerobos semua lampu merah yang ada. Bahkan ada dua kendaraan yang saling bertabrakan akibat menghindari laju mobilnya.


Segera ia memarkirkan mobil sport-nya disamping sebuah Van putih di halaman luas dengan beberapa pohon Mapple disekitarnya. Langkah panjangnya membawanya langsung ke depan pintu dan menekan bel dengan tidak sabaran.


Begitu pintu kayu Mahoni bercat putih dihadapannya terbuka, Mahavir langsung menerobos masuk tanpa dipersilahkan. Kimmy terperanjat dan membulatkan kedua matanya menatap tamu yang tak diundang itu.


"Where is she?" Tanya Mahavir dengan mengedarkan pandangannya ke dalam rumah Kimmy.


"Dia.. Dia sudah tidur." Jawab Kimmy dengan gugup dan terbata-bata.


"Dimana kamarnya?" Tanyanya melangkah lebih masuk.


"Tuan.. Tuan Alister..." Kimmy menahan Mahavir dengan menarik lengannya.


"Aku tanya dimana kamarnya?" Tanya Mahavir dengan tatapan mengintimidasi Kimmy.


"Di...di atas, sebelah kanan."


Mahavir bergegas menapaki anak tangga menuju lantai atas.


"Dia sudah tidur. Sebaiknya anda menjemputnya besok pagi saja." pinta Kimmy sembari mengikuti Mahavir dari belakang.


Mahavir tak menghiraukan Kimmy sama sekali, ia terus melangkah hingga akhirnya sampai didepan sebuah kamar yang disebut Kimmy. Saat hendak menyentuh handle pintu, kembali Kimmy menahannya.


"Tuan... Tak bisakah anda memberinya sedikit waktu untuk sendiri. Dia tak akan kemana-mana. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Bila anda bersikap seperti ini, dia akan semakin tertekan."


Mahavir tertegun di depan pintu selama beberapa detik. Menghela nafas berkali-kali dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia baik-baik saja. Aku sudah memberikannya obat agar ia bisa tenang dan beristirahat."


"Obat?"


"Ah, maaf. O.. Obatnya aman untuk ibu hamil."


Mahavir menghela nafas sekali lagi lalu membuka pintu di hadapannya. Kimmy kembali menahannya sekali lagi.


"Aku hanya ingin melihatnya." Ucap Mahavir begitu tangannya di cekal oleh Kimmy.


Kimmy akhirnya mengangguk dan menarik tangannya dari atas tangan Mahavir. Mahavir pun masuk ke dalam dengan begitu pelannya. Sejenak Mahavir terdiam membisu memandangi wajah cantik yang sedang terlelap di depannya. Nafasnya terlihat teratur dan tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadirannya.


"Apa obat itu mengandung obat tidur?" Tanyanya dan lagi-lagi Kimmy hanya mengangguk.


"Kalau begitu aku akan menemaninya. Aku akan pergi sebelum dia terbangun."


"Tapi..."


"Kalau tak bisa, aku akan membawanya sekarang juga."


Kimmy menggaruk pelipisnya hingga akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi anda harus pergi sebelum dia terbangun...." Ucapnya mengulang. Lalu beranjak keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan perlahan.


Mahavir melepaskan longcoatnya lalu ikut masuk kedalam selimut dan berbaring di samping istrinya. Pelan-pelan ia menarik kepala Rachel, meletakkannya di atas lengannya dan memeluknya dengan erat.


Hanya dentingan jarum jam yang terdengar mengisi keheningan diantara mereka. Sementara netranya terus-menerus memandangi wajah istrinya tanpa berkedip sedikitpun dengan jari-jarinya yang bergerak mengelus lembut pipi mulus nan putih itu.


Jangan salahkan aku bila akhirnya aku posesif padamu. Aku seperti ini karena dirimu...


Sampai kapanpun, aku tak akan pernah melepaskanmu... Tak akan pernah sayang...


Mahavir lalu mengecup lembut bibir Rachel. Menyesapinya dengan perlahan secara bergantian. Namun hasratnya yang bergejolak menginginkan lebih. Lama kelamaan kecupan lembutnya berubah menjadi liar. Ia pun melahap kedua bibir istrinya dengan begitu rakusnya. Satu tangannya bergerak menggerayangi lekuk tubuh Rachel. Bahkan menyingkap kaosnya ke atas dan membuka kaitan Bra-nya. Ciumannya semakin turun ke leher jenjang istrinya hingga akhirnya berpindah ke dada. Namun saat akan meraup dada istrinya, ia akhirnya tersadar. Cepat-cepat ia memperbaiki pakaian Rachel. Lalu turun dari ranjang dengan frustasi. Mahavir kembali mengecup kening istrinya dan akhirnya memilih keluar dari kamar itu.


* * * *