
Selama beberapa saat dua pasang mata dengan sorot keegoisan masing-masing saling bersitatap.
Rachel menatap tajam pada laki-laki yang masih keras pada pendiriannya, berharap laki-laki dihadapannya itu mau mengakui semua kesalahannya saat ini juga. Berkali-kali sudah ia memberikan kesempatan agar laki-laki itu bisa jujur padanya, namun setiap kali ia berusaha memancing kejujurannya, laki-laki itu selalu membuat kebohongan yang baru. Setiap kali ia menanyakan masa lalunya, laki-laki itu malah membuat cerita palsu yang membuatnya seperti orang bodoh yang mempercayainya begitu saja. Seandainya saja laki-laki itu jujur saat pertama kali kecurigaannya muncul, maka hatinya takkan sesakit ini. Hatinya takkan kecewa seperti ini.
Haruskah aku yang mengingatkannya, baru engkau mau mengakuinya?
Sebegitu pengecutnyakah engkau?
Rachel mengerjapkan matanya, membuat bulir bening di sudut matanya terjatuh.
"Aku tanya sekali lagi, kamu mau jujur atau tidak?" Tanyanya. Berharap untuk terakhir kalinya, laki-laki yang juga menatapnya saat ini bisa jujur tanpa harus ia yang mengingatkannya. Tapi harapannya sepertinya sia-sia karena laki-laki itu masih bergeming di tempatnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sementara Mahavir yang terdiam dan terlihat bergeming di posisinya itu terus mencoba menyelami sorot mata wanita di hadapannya. Mencari tahu keinginan hatinya. Mencari jawaban atas pertanyaan yang wanita itu inginkan. Tapi yang terlihat hanya amarah, benci, kecewa dan sakit yang tentunya bercampur menjadi satu dari tatapan itu.
Apa dia sudah tahu semuanya?
Apa dia sudah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya?
Tidak, tidak...
Jangan sekarang, belum saatnya....
Mahavir menelan ludahnya dengan susah payah, berharap apa yang dipikirkannya salah, tapi apa yang di tangkapnya dari kedua mata istrinya itu membuat perasaannya semakin yakin bahwa perkiraannya tidak meleset sama sekali. Ia memejamkan mata sejenak, menelan ludahnya sekali lagi dan menghembuskan nafas perlahan, kemudian akhirnya memberanikan diri berbicara,
"Apa kamu sudah ta...."
PLAK.....' Satu tamparan mendarat ke pipi Mahavir bahkan sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya.
"Ya, aku sudah tahu semuanya, brengsek!"
Mahavir menggeleng lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya." Bujuknya berusaha memeluk Rachel, tapi Rachel semakin mundur dan menjauhinya.
"Apa kamu sudah puas menipu dan mempermainkanku....., Dirman???"
Kedua mata Mahavir seketika membulat, ia kembali menggeleng dengan separuh nyawa yang seakan terbang entah kemana. Kedua lututnya menjadi lemas hingga tak sanggup menopang tubuhnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke bawah, bersimpuh dengan kedua lututnya di atas permukaan lantai marmer yang terasa dingin sedingin tatapan wanita yang menatapnya dihadapannya saat ini. Kepalanya menunduk, begitu merasakan airmatanya yang lolos terjatuh dari pelupuk matanya
"Tidak..., itu tak benar...." Lirihnya masih tertunduk dengan pandangannya mengarah ke lantai di mana airmatanya jatuh satu persatu membasahi lantai itu. "Aku tak pernah berniat mempermainkanmu, semua yang kulakukan dan kuucapkan itu tulus....aku mencintaimu dengan segenap hatiku...."
"BULLSHIT!!"
Kepala Mahavir refleks mendongak dan memandangi istrinya, "Aku tidak omong kosong, semua aku lakukan semata-mata karena menyayangimu..."
"Sayang kamu bilang?" Tanyanya, tubuhnya mulai bergetar, amarah dan rasa sakit begitu mengguncangnya. "Apa cinta yang dibangun diatas kebohongan itu bisa aku percaya?"
"Aku harus berkata seperti apa lagi agar kamu percaya?"
"Sayangnya aku tak akan percaya apapun lagi saat ini." Ucap Rachel dengan suara tercekat lagi lemah.
Mahavir memejamkan matanya, airmatanya berjatuhan begitu saja dengan bebasnya. Keduanya terdiam cukup lama. Hingga kemudian bibir Mahavir kembali terbuka,
"Pertama kali aku melihatmu saat itu di Panti Asuhan tempat tinggalku di sore hari yang cerah... Aku begitu terpukau denganmu, seorang gadis belia yang teramat cantik dan begitu bersinar dihadapanku. Untuk pertama kalinya aku seakan melihat malaikat, bidadari dan keajaiban sekaligus. Pandanganku langsung terpusat padamu sejak saat itu, dan sejak saat itu pula aku selalu berusaha mendekatimu. Yah, awalnya aku hanya ingin mengenalmu... Hanya ingin berteman denganmu... Tapi kian lama tanpa ada alasan, dirimu selalu hadir dipikiranku. Tanpa aku sadari bayangmu merasuk hingga ke hatiku. Lama-lama hatiku serakah... Aku ingin mendekatimu... Aku ingin bersamamu... Dan akhirnya ingin memiliki mu..."
Mahavir menjeda ucapannya sejenak dengan menghela nafas lalu menelan ludahnya berkali-kali hingga jakunnya terlihat ikut naik turun.
"Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk mendekatimu. Aku hanya bisa melihatmu di kejauhan, seperti yang aku seringkali ucapkan padamu. Kamu terlalu bersinar di mataku. Aku tak berbohong dengan kata-kataku itu. Hingga insiden yang terjadi di hotel beberapa bulan yang lalu itu seakan menjadi kesempatan buatku untuk mendekatimu. Bahkan aku sama sekali tak menyangka bisa langsung menikahimu. Berada begitu dekat denganmu, menyentuhmu hingga menyatukan diriku denganmu. Aku begitu bersyukur bisa bersamamu sayang..."
Rachel memejamkan kedua matanya, mengingat saat laki-laki itu mencumbunya dan mengucapkan kata-kata cinta yang bahkan ia tak yakin itu tulus atau tidak. "Sekarang kamu pasti sudah puas karena sudah bisa menjamah tubuhku dengan bebaskan?"
"RACHEL..!!!" Teriaknya. Mahavir menggeleng, menatap penuh kecewa pada istrinya karena dianggap serendah itu.
"Apa?" Menatap Mahavir dengan begitu tajamnya, "Itu benar kan, Dirman?" Lanjutnya.
"Aku laki-laki normal, aku tak bisa memungkiri bahwa aku memang mendamba untuk bisa mencumbu dan bercinta denganmu. Tapi kamu bisa melihat selama ini aku tak pernah memaksamu. Aku bahkan bersabar hingga kamu sendiri yang mau menerimaku."
"Itu karena kamu menjebakku. Kamu menipuku!"
Mahavir menggelengkan kepalanya lagi lalu bergerak maju memeluk kedua paha Rachel yang berdiri di hadapannya.
"Maaf, maafkan aku...." Ucapnya memelas dan semakin mengeratkan pelukannya di kaki Rachel. "Tapi seandainya aku jujur saat itu, apakah kamu mau disentuh olehku? Dan seandainya dari awal aku jujur padamu, apa kamu akan bersedia menikah denganku?" Mendongak dan memandangi wajah Rachel yang masih menatapnya dengan dingin. "Tentu tidakkan? Maka dari itu aku menyembunyikan identitasku, berharap kamu membuka hati dengan diriku yang baru dan bisa mencintai diriku sepenuhnya. Aku tahu telah menipumu terlalu dalam dan jauh hingga mungkin tak akan bisa termaafkan, tapi aku terlanjur jatuh ke dasar lembah yang gelap dan hanya dirimu yang menjadi cahaya dalam kegelapan itu. Aku tidak bermaksud menipumu sampai sejauh ini, hanya saja keadaan yang membuatku berbuat seperti ini."
"Keadaan yang seperti apa? Ini hanya akal-akalanmu, kamu bisa saja jujur saat aku bertanya kan?"
"Bagimu memang mudah berbicara seperti itu, tapi bagiku itu sangat sulit. Apalagi setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri saat kamu berusaha mengakhiri hidupmu dilaut. Bahkan saat malam setelah resepsi pernikahan kita aku sudah mau jujur padamu, tapi kamu langsung syok begitu mengingatku, mengingat Dirman. Begitupun sewaktu kejadian di Villa dimana kamu langsung tak sadarkan diri begitu kejadian masa lalu terungkit kembali. Setiap kali aku berusaha jujur, perasaan takut akan selalu menghampiri. Takut bila kamu akan kembali syok, takut kamu akan rapuh. Takut kamu tidak akan sanggup menerima semuanya. Lalu aku bisa apa?"
Rachel masih berdiri mematung dengan Mahavir yang juga masih memeluk erat kedua kakinya. isak tangisnya semakin pecah, kedua tangannya yang membekap mulutnya bahkan sudah tak bisa membendung tangisnya.
"Kamu egois... Kamu hanya memikirkan perasaanmu. Kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku yang kamu bohongi seperti ini. Bahkan selama ini tak ada penyesalan yang terlihat di wajahmu." ucapnya semakin terisak.
"Yah, kamu benar. Aku memang egois. Apalagi setelah melewati malam-malam panjang bersamamu, bersama-sama mereguk manisnya cinta kita, aku menjadi semakin egois. Egois karena menginginkanmu seutuhnya. Bohong bila aku mengatakan menyesal menikahimu, karena aku begitu bahagia bersamamu. Bila diulang kembali ke awalpun aku akan tetap melakukan hal yang sama. Kenapa? karena kamu adalah hidupku. Tapi asal kamu tahu, disetiap aku menyentuhmu rasa bersalah selalu datang. Setiap hari aku selalu gelisah dan bertanya dalam hatiku, apakah wanita yang kugenggam tangannya ini dan yang kupeluk dalam dekapanku ini adalah benar-benar milikku seutuhnya? Apakah benar hatinya sudah berhasil ku genggam dan kuraih? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap saat dipikiranku. Membuatku semakin takut kamu menjauh dariku. Aku juga tersiksa setiap harinya karena tak bisa jujur padamu."
Rachel menggeleng, seakan tak terima dengan semua penjelasan Mahavir. "Merasa bersalah katamu? Tapi kamu malah terus menerus mengulang menyentuhku. Kamu menikmatinya. Itu yang kamu bilang bersalah?"
"Kamu istriku sekarang, aku berhak menyentuhmu terlepas dari rasa bersalahku. Kamu tak bisa mengungkiri hal itu."
"Dasar laki-laki brengsek!" Umpatnya. "Lepaskan aku... Lepas..." Ucapnya meminta Mahavir melepaskan pelukannya di kakinya. Namun Mahavir hanya menggeleng.
"LEPASKAN AKU!!" Teriaknya, membuat Mahavir mau tidak mau melepaskan pelukan dikakinya. Rachel lalu melangkah mundur, semakin mundur hingga kakinya membentur tempat tidur dan ia jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur itu.
Mahavir kembali bergerak maju dan menarik kedua tangan Rachel dan menggenggamnya dengan begitu eratnya walaupun Rachel juga bersikeras menarik tangannya karena enggan disentuh olehnya.
"Maaf.. Maafkan aku.... Kumohon maafkan aku sayang..." Ucapnya diikuti tangisannya sambil menciumi kedua tangan Rachel berulang kali. "Mari kita lupakan semuanya dan memulainya dari awal...."
"Hah? Sebegitu mudahnyakah bagimu untuk melupakan semuanya?"
"Lalu mau mu bagaimana?"
"Kamu masih bisa bertanya mauku seperti apa? Vir, kamu waras atau tidak?"
Mahavir terdiam, airmatanya terus saja berjatuhan. Ia begitu terguncang dengan keadaan saat ini. Ingin marah dan meluapkan emosinya, tapi ia sadar bahwa semua masalah ini bersumber darinya. Ia tahu diri kalau ini adalah kesalahannya, tapi apakah perasaannya juga ikut disalahkan? Apakah cintanya tak berharga sama sekali? Perang batin terus saja berkecamuk dalam diri Mahavir.
Rachel menarik paksa kedua tangannya dari genggaman Mahavir, membuat Mahavir kembali fokus memandanginya.
"Aku ingin kejujuranmu saat ini, seandainya....," Menjeda ucapannya dengan memejamkan mata sesaat, menelan ludahnya sekali lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Seandainya aku tak mengetahuinya dengan sendirinya, apa kamu akan menyembunyikannya selamanya dariku? Apa kamu tak akan pernah jujur padaku?" Tanyanya, berusaha selembut mungkin sambil terus menatap ke dalam manik mata bening berwarna hazel di depannya.
Mahavir yang tak kuasa menjawab hanya bisa menunduk dengan tangisnya.
"Vir....." Panggilnya. "Apa selamanya kamu akan menutupinya?" Ulangnya.
Mahavir akhirnya mengangguk pelan, lalu berucap lirih. "Maaf....."
Kembali Rachel memejamkan matanya. Ia menghela nafas panjang kemudian bangkit berdiri. "Maka jawabanku sama dengan jawaban akhirmu."
Mahavir mendongakkan kepalanya, "Maksudmu?"
"Maaf, aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Aku tak bisa bersama dengan orang yang berniat menipu dan menjebakku seumur hidupnya. Apalagi dengan bayang-bayang Dirman dalam dirimu."
Mahavir terus saja menggeleng dengan tangisnya. Begitu tak terima dengan keputusan itu. "Sefatal itukah kesalahanku di masa lalu? Semenjijikkan itukah diriku bagimu?"
"Astaga Vir...., Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat mengira Dirman sudah tiada akibat menolongku? bagaimana besarnya rasa bersalahku padanya? sampai-sampai aku nekat untuk mengakhiri hidupku. Kamu tahu tidak betapa kacaunya hidupku karena seorang Dirman? Sementara tanpa ku ketahui laki-laki itu malah dengan santainya menikahiku, tertawa disisiku, memeluk dan menciumiku. KAMU PIKIR AKU INI MAINANMU?" Teriaknya dengan sisa-sisa suaranya yang sudah sangat serak.
"Ah, iya...Aku hampir lupa berterima kasih padamu. Pada Dirman yang sudah menyelamatkanku waktu itu. Terima kasih yang sebesar-besarnya tulus dari hatiku karena kamu sudah menyelamatkanku berkali-kali. Dan sekarang kuanggap kita sudah impas. Aku belum bisa menerima bahwa kamu menipuku sejauh ini, Jadi sepertinya aku sudah tak bisa lagi hidup bersamamu seperti sebelumnya." Lanjutnya dengan senyum sinis di wajahnya yang berlinang airmata.
Separuh jiwa Mahavir seakan lepas mendengar keputusan itu, Darahnya seakan berhenti mengalir dalam pembuluhnya. "Jangan, jangan berkata seperti itu. Aku akan mengikuti semua keinginanmu kecuali berpisah dariku. Aku tak ingin berpisah darimu. Percayalah, aku sangat mencintaimu, bahkan begitu sangat hingga membuatku gila dan tak bisa hidup tanpa memikirkanmu sedikitpun."
"Kamu sakit Vir, sakit...!! Ini bukan cinta, ini obsesi. Kamu terobsesi padaku."
"Terserah kamu mau bilang aku seperti aku. Aku tak akan menyangkalnya, karena aku tak akan pernah melepaskanmu.
"Kamu gila Vir!"
"Yah, aku gila karena dirimu." Bangkit berdiri lalu memaksa mencium Rachel dengan ciuman yang sangat menuntut.
"Mmmmpppp.... Mmmmppp...le..le..pass..." Rachel memberontak, berusaha melepaskan ciuman Mahavir. Namun sekuat apapun ia melawan kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Mahavir. Tubuhnya pun terjatuh ke atas kasur dengan Mahavir yang ikut menindihnya, terus menciuminya dengan ciuman liar yang begitu sangat menuntut, sangat berbeda dari ciuman-ciuman sebelumnya. Rachel kewalahan memberontak melawannya, hingga akhirnya pasrah dan hanya bisa terisak menerima perlakuan Mahavir.
Mahavir yang terbawa emosi dan perasaannya terus saja melampiaskannya dengan menciumi Rachel, mengeksplor keseluruhan isi mulut istrinya dengan begitu rakusnya. Satu tangannya digunakannya untuk menahan kedua tangan Rachel, sementara satu tangannya terus menjelajah dan meremas bagian sensitif tubuh istrinya. Hingga kemudian isakan tangis Rachel menyadarkannya.
"SHITT!!" Mahavir mengangkat tubuhnya lalu terduduk di pinggiran tempat tidur. Kedua tangannya terangkat memegang kepalanya, menyesali emosi sesaatnya. Ia berbalik menengok keadaan istrinya yang masih di posisi yang sama dalam keadaan menangis. Dengan cepat ia merengkuh Rachel kedalam pelukannya dan terus mengusap kepala hingga punggung wanita itu. "Maafkan aku sayang... Maafkan aku... Aku tak berniat kasar padamu." Ucapnya lalu mengecup kepala Rachel berkali-kali.
Rachel tak meresponnya, ia hanya menangis sejadi-jadinya.
"Sayang tenanglah, aku mohon. Aku sakit melihatmu seperti ini. Tapi aku juga tak bisa melepasmu. Ingat, kamu sudah pernah berjanji padaku untuk selalu berada di sisiku, tak akan pernah berpaling sedikitpun dariku dan tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi.
Rachel mendorong pelan tubuh Mahavir, melepaskan pelukan laki-laki itu dengan sisa-sisa tenaganya. "Baiklah, karena aku sudah terlanjur berjanji padamu. Aku tak akan meninggalkanmu. Tapi jangan harap lagi cinta dariku. Aku akan berada di sisimu sebagai bonekamu. Anggap saja ini balasanku karena kamu sudah menyelamatkanku waktu itu." Ucapnya dengan getir.
Mahavir kembali meneteskan airmatanya, hatinya begitu tersayat mendengar perkataan wanita yang begitu dicintainya. Sakit, sangat sakit baginya. Tapi Mahavir tak punya pilihan lain. Dengan berat hati Mahavir mengangguk pelan. "Tak apa, asalkan kamu tetap berada disisiku itu sudah cukup. Aku akan berusaha lagi dari awal untuk kembali membuat cinta itu hadir."
* * *