
Hari telah berganti malam. Sepanjang perjalanan pulang, Raya masih terus memikirkan hubungan yang baru terjalin antara dia dan Bryan. Tidak disangka candaannya saat baru berjumpa Bryan malah jadi kenyataan. Seandainya dia sedikit lebih muda pasti saat ini dia sudah berjingkrak-jingkrak saking senangnya karena punya kekasih yang tampan. Tapi di usianya yang sekarang, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Otaknya terus bekerja keras, menghitung pertambahan usianya untuk empat tahun ke depan. Saat ini usianya 28 tahun, ditambah empat tahun berarti genap 32 tahun. Sementara Bryan saat ini 18 tahun, empat tahun kedepan dia baru 22 tahun. Ditambah lagi harus siap untuk LDR selama itu. Wow...otak Raya langsung panas memikirkannya.
Kalau berlanjut, berarti dia menikah di usia berapa?
Raya mendesah pelan. Semakin memikirkannya semakin membuatnya pusing tujuh keliling. Setidaknya di coba saja dulu. Toh kalau memang nanti tidak berjodoh ya mau diapa?
Motor sport Bryan kini kian melaju, menyapu jalan-jalan yang panjang. Temaram lampu jalan berwarna kekuningan terlihat menjemput di sepanjang jalan yang mereka lewati. Dalam diam Raya menelisik punggung Bryan, pemuda nan tampan yang baru saja berubah status menjadi kekasihnya. Punggungnya begitu lebar dan kuat, terlihat sangat kokoh digunakan sebagai sandaran.
Dengan Ragu Raya menyandarkan wajahnya ke punggung itu diiringi dengan kedua tangannya yang semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Bryan.
Bryan tersenyum gembira atas tindakan Raya itu dan mengusap lembut punggung tangan mulus yang memeluknya.
"Aya, bisa tidak kita tidak langsung pulang dulu?" Pinta Bryan setengah berteriak dengan menyebut panggilan sayangnya. Dia masih enggan untuk berpisah secepat itu dengan Raya.
Raya mengangkat kepalanya dan menempelkan dagunya diantara bahu dan leher Bryan. Niatnya agar suaranya bisa didengar oleh Bryan tanpa harus berteriak, tapi malah membuatnya semakin dekat dengan Bryan. "Memang mau kemana?"
"Terserah, setidaknya kita masih bersama."
Raya terdiam, dia benar-benar tidak punya pengalaman jalan bersama seorang kekasih.
Bryan hanya tersenyum lalu mengusap-usap dengkul Raya yang menggunakan jeans berwarna hitam. Dia sama saja dengan Raya, tak ada pengalaman berpacaran. Selama ini dia hanyalah pemuda yang kurang senang bergaul, selain belajar dan berolahraga, waktunya banyak dihabiskan dengan bermain game.
Karena tak ada tujuan, mereka akhirnya hanya berkeliling-keliling saja mengitari tiap-tiap sudut kota. Bryan mengendarai motor sport nya dengan kecepatan dibawah rata-rata, berharap waktu bisa berjalan dengan lambat. Tapi tak terasa waktu berjalan dengan cepatnya, Dengan berat hati Bryan pun akhirnya mengantar Raya kembali pulang ke Mansion nya.
"Makasih ya...." Ucap Raya sesaat setelah turun dari motor tepat di depan Mansion nya.
Bryan menautkan alisnya, "Terima kasih untuk apa?" Tanyanya sambil membantu Raya melepaskan helmnya.
"Mmm.." Raya terdiam beberapa saat, dia juga bingung berterima kasih untuk apa. Lalu tersadar dengan jaket Bryan yang digunakannya, buru-buru Raya melepaskan nya tapi di tahan oleh Bryan.
"Simpan saja, kalau rindu denganku Aya bisa memakainya. Anggap saja kalau aku yang memeluk Aya saat memakai jaket itu."
"Hmm..." Raya mengangguk pelan, kepalanya menunduk. Masih canggung dengan hubungan baru itu.
"Aku tidak di panggil masuk?" Bryan bertanya sambil melepaskan helmnya, lalu mengibaskan dengan kasar rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang tapi mampu membuat jantung Raya kembali bertalu-talu.
"Su.. Sudah malam, se..sebaiknya kamu langsung pulang, besokkan kamu mau berangkat..." Raya berucap dengan terbata-bata, ketampanan Bryan selalu bisa menghipnotisnya dan membuatnya kehabisan kata-kata.
Bryan menarik tangan Raya dan menggenggamnya. "Aya besok antar ke bandara kan?"
Raya kembali mengangguk pelan.
"Ya, sudah kak Raya masuk sana." Usir Bryan walaupun dengan nada tidak rela.
Lagi-lagi Raya hanya mengangguk, tapi setelah beberapa saat belum juga beranjak.
"Kenapa belum masuk?"
"Itu..." Raya menunjuk dengan sorot matanya ke arah tangannya yang masih di genggam erat oleh Bryan.
"Oh.. Maaf." Bryan refleks melepaskan genggamannya lalu mengusap tengkuknya.
"Ka..kalau gitu aku masuk dulu yah..." Lirih Raya dengan suara sedikit tercekat. Lalu berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan Bryan yang masih berdiri di samping motornya, menatap punggung dokter cantik itu yang mulai menjauh.
Dalam langkahnya, pikiran Raya terus bertentangan dengan hatinya.
Lakukan tidak? Lakukan tidak?
Tapi masa aku yang duluan?
Ah, lupakan rasa malu...
Sekarang atau tidak sama sekali...
Batin Raya mengguman. Lalu dengan buru-buru dia berbalik dan berlari kembali ke hadapan Bryan. Menarik kerah kaos Bryan dan sedikit berjinjit, lalu...
CUP
Raya mengecup Bryan tepat di bibirnya. Rona merah kembali hadir pada wajah keduanya.
"Kabari aku kalau sudah sampai." Ucap Raya lalu berlari hendak meninggalkan Bryan. Tapi dengan lincah Bryan menarik tangan Raya.
"Kalau mau cium jangan setengah-setengah." Ucap Bryan lalu menarik pinggang Raya hingga membuat jarak diantara mereka terkikis. Sementara tangan satunya terangkat memegang tengkuk Raya. Raya yang sudah mengetahui tujuan dari Bryan langsung memejamkan kedua matanya dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Bryan, dengan cepat Bryan mendaratkan kecupannya di bibir Raya. Mengecupnya dengan pelan, dan mengulumnya secara bergantian dengan lembut. Pelan-pelan Raya pun membalasnya dan membuat ciuman itu semakin dalam. Walaupun ini pengalaman pertamanya bagi mereka entah mengapa mereka bisa melakukannya dengan baik.
Nafas keduanya terdengar memburu akibat aktivitas jantung yang berdetak dengan cepatnya. Bryan melepaskan tautan bibirnya dan mengusap lembut bibir basah Raya dengan jempolnya.
"Tunggu aku..., setelah aku lulus nanti aku akan datang dan melamarmu...." Ucap Bryan lalu kembali mengecup bibir Raya dan memeluknya hingga beberapa saat.
"Janji...?" Lirih Raya pelan
Bryan melepaskan pelukannya dan menarik dagu Raya ke atas. "Aku berjanji hanya Aya yang ada di hatiku. Aku akan bersungguh-sungguh agar cepat selesai dan segera menikah dengan Aya. Untuk itu mohon tunggu aku. Aya bersedia kan?"
Raya mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rona malunya dalam keremangan cahaya. Keduanya tampak mengulas senyum, hingga akhirnya Bryan memegang kedua bahu Raya, memutar tubuh Raya hingga posisinya membelakangi dirinya.
"Masuklah, kalau begini terus.. Aku tidak mau pulang." Perintahnya yang langsung diikuti oleh Raya dengan melangkahkan kakinya satu persatu ke depan.
"Jangan berbalik" Pintanya lagi saat melihat Raya hendak mencoba berbalik.
Setelah melihat Raya yang menghilang di balik pintu, bergegas Bryan menaiki motor sport nya dan melajukannya dengan kecepatan normal kembali ke mansion tempat tinggalnya. Raya yang berada di balik pintu langsung menyusutkan tubuhnya terduduk di lantai marmer yang dingin sambil memegangi jantungnya yang masih berdetak dengan cepatnya.
* * *
Keesokan harinya,
Keluarga Rachel dan satu-satunya sahabat Mahavir yakni Rey, kini berkumpul di bandara pada terminal keberangkatan. Mereka semua mengantar kepergian Mahavir, Rachel dan Bryan.
Pak Wijaya dan Ny Amitha memeluk mereka bertiga secara bergantian.
"Jaga kesehatan yah..." Ucap Pak Wijaya kepada ketiganya.
"Nak Vir Mommy titip yah, Jaga mereka berdua." Ujar Ny Amitha menimpali perkataan Pak Wijaya.
"Ih, mommy.. Kayak baru kali ini saja aku pergi London." Ujar Rachel sumringah.
"Iyya, iyya...kan basa basi doang." Ujar Ny Amitha tertawa kecil. "Mommy harap dalam waktu dekat kamu bisa memberi kabar gembira buat daddy dan mommy."
Rachel menautkan alisnya, "Kabar gembira apa?"
Ny Amitha tidak menjawab, dia hanya melempar senyum ke arah Mahavir dan dibalas anggukan oleh Mahavir.
"Sip, mommy mohon doakan yah..." Ucap Mahavir dengan menaikkan jempolnya.
"Apa sih..!!" Rachel menatap mommynya, tapi Ny Amitha malah berbalik dan menghampiri Bryan yang masih celingak celinguk tidak jelas.
"Ampun mom, malu diliatin banyak orang...!" Seru Bryan melepaskan tangan mommynya dari telinganya. Pak Wijaya hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan istri dan anak laki-lakinya.
"Raya gak datang yah?" Tanya Rachel pada Bryan, dia tahu apa yang sedang adiknya tunggu.
Bryan menggeleng dan menunduk kecewa.
"Sudah di telepon?" Rachel dan Mahavir kompak bertanya.
"Gak diangkat!"
"Ya sudah, nanti kan bisa video call kalau sudah sampai. Ayo, kita harus check-in." Panggil Mahavir yang sudah berjalan ke depan lebih dulu bersama Rey.
"Mom, dad.. Rachel pergi dulu yah!" Pamit Rachel memeluk kembali orang tuanya secara bergantian. "Kalau daddy sudah punya waktu luang, kunjungi kami yah.."
"Iyya, iyya... Baik-baik kamu sama suamimu yah."
"Iyya..." Rachel mengangguk dan memperlihatkan senyum simpulnya.
"Ayo Bryan." Lanjut Rachel memanggil Bryan yang masih melihat ke belakang.
Mahavir, Rey dan Rachel sudah berjalan jauh ke depan tapi Bryan masih diam di tempat, menunggu seseorang.
Satu menit...
Dua menit...
Lima menit...
Hingga saat Bryan memutuskan untuk melangkah ke depan, derap Langkah kaki yang sedang berlari mendekatinya terdengar dan membuatnya kembali berbalik.
"Raya....." Senyum terkembang di bibir Bryan, tapi pada detik selanjutnya bibirnya merengut kala Raya berlari melewatinya dan malah menghampiri Rachel.
"Rachel...." Teriak Raya lalu memeluk sahabatnya dan menangis tersedu-sedu. "Jangan lupain aku lagi yah..."
"Pastinya Ra, baik-baik yah kamu. Sering-sering beri kabar!" Rachel membalas pelukan Raya. Mereka berpelukan selama beberapa saat, hingga Rachel melihat wajah cemberut sang adik yang berjalan mendekatinya.
"Ra, sepertinya kamu salah peluk deh..." Rachel berucap sembari melepaskan pelukan Raya, lalu menunjuk ke arah Bryan dengan menggunakan dagunya.
Dengan cepat Raya mengusap pipinya bekas airmatanya, dan berusaha menahan air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya. Dia berbalik perlahan dan memasang senyum manis di depan Bryan.
"Hati-hati di jalan yah ian..." Lirih Raya masih memasang senyum palsunya.
Bryan memandangi Raya sejenak, dia bisa melihat betapa berusahanya gadis itu menahan airmata yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Tanpa mempedulikan sekitar, Bryan langsung menarik Raya dan memeluknya dengan erat. Sontak membuat Pak Wijaya dan Ny Amitha yang masih berada tak jauh dari mereka terkejut dan saling pandang satu sama lain. Tak terkecuali dengan Rey, walaupun dia sudah menduganya, tapi melihat dengan mata kepalanya sendiri membuatnya syok berkali lipat.
"Bodoh, jangan memasang senyum seperti itu. Jangan menahannya kalau memang mau menangis." Ucap Bryan sedikit membungkukkan badannya sambil mengusap pipi Raya. Airmata Raya pun akhirnya tumpah kembali.
Bryan kembali memeluknya untuk memenangkannya, hingga sebuah pengumuman keberangkatan ke London menggema di seluruh area sudut-sudut ruang itu.
"Aku harus berangkat." Bryan melepaskan pelukannya, kembali menunduk dan memegang kedua bahu Raya. "Selalu angkat telepon dariku yah?"
Raya mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum. "Aku menyayangi ian..." Lirihnya dengan pelan lalu mengecup sekilas bibir Bryan.
Melihat itu Rey langsung memalingkan wajahnya dan berjalan meninggalkan mereka. Membuat dirinya sibuk mengurus proses boarding mereka.
Bryan mengusap pucuk kepala Raya lalu mengecup keningnya. "Aku juga sangat menyayangi Aya, jaga diri baik-baik yah..." Ucapnya lalu melepaskan Raya. Menarik koper trolley nya dan melanjutkan langkahnya ke depan mengikuti Rachel dan Mahavir.
Rachel berjalan sambil melambaikan tangannya ke pada Raya dan kedua orang tuanya yang berada dibelakang tak jauh dari Raya berdiri. Hingga bayangan mereka pun tak terlihat lagi.
Rachel menepuk bahu adiknya, "Jangan bersedih. Belajar saja dulu yang Rajin, buat Raya bangga padamu." Ujarnya lalu kembali melangkah ke depan dengan anggunnya menyusul Mahavir yang sudah jauh di depan bersama Rey.
Mahavir yang sudah jauh di depan mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Rey. Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang patah hati.
"Boss kenapa tidak pakai jet pribadi saja sih? Aneh, ada fasilitas lebih bagus tidak digunakan. Harusnya kalau ada yang mudah kenapa cari yang susah. Kalau pakai jet pribadi kan sampai nya lebih cepat." Keluh Rey menumpahkan kekesalannya yang menyiksa dalam hatinya.
"Malas, Aku hanya pakai kalau keadaan mendesak." Jawab Mahavir santai.
Rey pun mencibir di samping Mahavir. Dan tetap meracau tidak jelas.
Mahavir menoleh dan memandangi Rey lalu menepuk bahunya. "Aku tahu perasaanmu. Yang sabar bro...Yakinlah, kalau kalian memang berjodoh kalian akan dipersatukan di waktu dan cara yang tepat"
Rey memalingkan wajahnya dan mengusapnya kasar. "Hahh.. Tak bisakah kamu pura-pura tidak mengetahui isi hatiku?" Ujarnya lalu mempercepat langkahnya menuju counter maskapai penerbangan untuk check-in.
Sementara di luar sana, Raya baru menyadari kalau kelakuannya tadi disaksikan oleh orang tua Rachel dan Bryan. Dengan menahan rasa malu, Raya menyapa mereka.
"Tante, om..."
Ny Amitha tersenyum-senyum lalu merangkul Raya berjalan meninggalkan suaminya jauh dibelakang.
"Sudah lama?"
Raya mengernyit, sudah lama apa maksudnya??
"Raya baru juga sampai kok tant..."
"Bukan, bukan itu... Maksud tante, kamu udah lama dengan Bryan."
"Ta.. Tante..."
"Gak usah malu, kalau kamu serius tante akan bicara dengan orang tuamu. Tante yakin 100% kalau mama mu akan bahagia mendengar kabar ini."
"Ta.. Tante...jangan bicara ke mama dulu." Raya menunduk malu. Wajahnya sudah sangat merah merona.
"Kenapa? Kamu tidak serius dengan Bryan?"
"Bu.. Bukan begitu.."
"Mom... Sudah jangan mencampuri urusan anak muda!" Pak Wijaya tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. "Maaf nak Raya, tante ini memang suka kepo."
"Eh, iya tidak apa-apa kok om, kalau begitu saya pamit duluan mau ke rumah sakit dulu."
"Bawa mobil sendiri? Kalau tidak ikut kami saja baliknya."
"Terima kasih tan, saya bawa mobil sendiri."
"Oh baiklah... Silahkan kalau begitu nak."
"Permisi...." Raya sedikit menunduk lalu berlari kecil menuju parkiran mobil yang disediakan oleh pihak bandara.
* * *
Happy Reading 🤗🥰😘