
Dirman, Nama itu terus terngiang-ngiang hingga ke gendang telinga Rachel. Satu nama yang telah merubah dirinya menjadi sosok yang dingin.
Semalaman Rachel memikirkan kata-kata Raya dan Bryan. Dia tidak habis pikir mengapa dua orang terdekatnya itu justru membela orang yang telah berbuat kurang ajar padanya.
Sebegitu tidak peka kah orang-orang dengan apa yang dia rasa?
Pertanyaan Bryan semalam seakan menggema secara berulang-ulang di telinganya.
"Sebenarnya apa yang membuat kakak begitu membenci nya?"
Rachel sendiri tidak bisa menafsirkan rasa benci yang luar biasa yang dia rasakan pada Dirman.
Sekelebat ingatan demi ingatan datang di memorinya, memenuhi segala isi kepalanya.
Rachel memejamkan matanya, mencoba menyatukan serpihan ingatan yang telah lama dia buang. Serpihan-serpihan ingatan yang dulu sekuat tenaga berusaha dia lupakan. Tapi pada akhirnya kepingan serpihan itu hanya bisa terpendam dan berakar di dalam hatinya.
Rasa sakit hati yang teramat dalam dirasakan nya ketika bayangan wajah Dirman yang berusaha menyentuh nya muncul kembali di ingatan nya.
Masih teringat jelas bayangan tangan pria itu yang mencoba membuka gaunnya hingga tubuh bagian atasnya terbuka dan terekspos di hadapan nya. Sekuat tenaga dia berusaha melawan tapi akhirnya jatuh tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius yang diberikannya.
Saat tersadar di ruang kamar rumah sakit dirinya sempat histeris hingga berkali-kali harus diberikan suntikan obat penenang.
Pelan-pelan orang tuanya memberitahukan kalau tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, dan itu membuatnya sangat bersyukur. Berulang kali Daddy dan mommy nya menjelaskan kalau bukan Dirman pelakunya tapi dia tidak pernah mau mempercayai nya. Yang dia percayai adalah apa yang mata kepalanya lihat saat kejadian itu.
Rasa jijik dan benci luar biasa bercampur mendera batinnya ketika otaknya membayangkan pria itu berusaha melecehkan dirinya.
Setiap malam tidurnya selalu dibayangi mimpi-mimpi buruk hingga membuatnya harus menjalani Trauma Healing selama setahun penuh. Semenjak saat itu tak ada lagi yang berani membahas maupun menyebut nama Dirman di hadapan nya.
Mengingat itu semua membuat hatinya semakin Rapuh.....
Rachel menggigit keras bibir bawahnya berusaha menahan air mata yang telah memenuhi pelupuk matanya. Tapi rasa sakit dan benci dihati nya tidak bisa lagi membendung butiran bening yang mulai jatuh membasahi pipinya.
Dia akhirnya membuka trauma masa lalunya, bersamaan dengan dirinya yang mulai ingin mencari tahu kebenaran yang mungkin saja tidak diketahui nya.
Saat otaknya kembali bisa berfikir dengan jernih Rachel mengumpulkan segenap kekuatan dan menguatkan hatinya. Dengan cepat dia menghubungi nomor ponsel Raya yang telah di save nya semalam.
Tidak berapa lama menunggu, terdengar suara lembut nan ceria dari ujung sana.
"Halo, Rachel."
"Ra, kamu ada waktu? Bisa bertemu sekarang?"
"Sorry Rachel. Kalau Sekarang aku masih Praktek di Rumah sakit, tapi bentar lagi kelar kok."
"Kapan kamu bisa?"
"Mungkin sekitar jam 2 siang ini."
"Oke, aku jemput kamu. Di rumah sakit mana?"
"Kita janjian ketemu di luar saja, soalnya aku juga bawa mobil."
"Ok, kalau begitu aku chat kamu tempat nya yah?"
"Okey, sampai ketemu nanti Rachel sayang." Ucap Raya dengan nada imut.
Rachel menutup panggilannya lalu bergegas masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap, setelah itu Rachel keluar dari kamarnya menuju kamar Bryan.
Rachel mondar-mandir di depan pintu kamar Bryan, pelan-pelan dia membuka pintu dan mengintip kedalam.
"Mau apa?" Tegur Bryan disela pintu membuat Rachel terkejut.
"Kakak mau apa? Dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan." Bryan memandangi Rachel yang terlihat rapi. "Mau keluar?"
"Iyya, aku mau menemui Raya."
"Tunggu, aku antarin kakak."
"Tidak perlu, biar aku pergi sendiri saja, mana kunci mobilnya Vir?" Pinta Rachel.
"Kak Vir gak bolehin kakak keluar sendiri! Aku antar, kakak tunggu sebentar, aku mandi dulu." Bryan beranjak masuk ke kamar mandi.
Rachel melangkah masuk ke kamar Bryan dengan mata menelisik mencari sesuatu.
Begitu terdengar bunyi air dari kamar mandi, Rachel perlahan mengendap-endap mencari kunci mobil. Dilemari, di meja belajar, di rak buku hingga tempat tidur, tapi tak juga dia temukan kunci itu. Rachel hampir pasrah menunggu Bryan, seketika matanya melihat celana jeans yang dipakai Bryan semalam tergantung di belakang pintu. Rachel menggeledah saku celana itu dan akhirnya menemukan apa yang dicari nya.
Dengan cepat Rachel bergegas meninggalkan mansion itu. Melajukan kendaraan menuju cafe tempatnya janjian dengan Raya.
Sepanjang jalan berkali-kali Bryan menelepon ponsel Rachel, tapi tak dihiraukan nya. Rachel tetap fokus mengendarai kendaraan hingga sampai di tujuannya.
* * *
Jam 2 siang, di kafe yang tidak jauh dari pusat Ibukota. Rachel dan Raya telah duduk berhadapan, di depan mereka masing-masing telah tersedia 2 gelas minuman dingin.
"Ra, tolong ceritakan apa saja yang kamu ketahui tentang Dirman!" Rachel meminta penjelasan dengan raut wajah nya begitu serius hingga membuat Raya sedikit takut dan serba salah.
"Tapi Rachel...." Raya masih sedikit ragu
"Aku tak apa-apa, aku siap mendengar nya. Ceritakan semua yang kamu ketahui."
"Ehm, aku tidak tau mau mulai darimana, tapi yang pastinya aku yakin kalau bukan Dirman yang melakukan nya."
"Maka dari itu Ra, tolong jelaskan...apa alasannya sehingga kamu bisa seyakin itu?"
Raya menatap lekat wajah sahabat nya, takut akan membuatnya terguncang.
"Malam itu, saat Promnight sekolah kita akan berakhir kamu tiba-tiba menghilang. Aku, Reta dan Sheza mencarimu kemana-mana tapi kamu tidak ketemu, kami pikir waktu itu kamu sudah pulang. Sesaat setelah acara promnight selesai, aku masih berada di lounge hotel menunggu jemputan. Aku melihat Dirman dengan tergesa-gesa berlarian masuk ke aula hotel seperti mencari seseorang, wajah nya terlihat begitu panik. Kemudian kulihat dia meminjam telepon di resepsionis dan menghubungi seseorang. Aku baru akan mendekati nya tapi dia langsung berlari masuk ke dalam lift dan menuju naik ke lantai atas. Aku mengabaikan nya karena sama sekali tidak terpikirkan olehku sesuatu telah terjadi. Sekitar sejam kemudian jemputan ku baru datang, ketika aku baru akan masuk ke mobil, tiba-tiba ambulance datang dan parkir di depan pintu masuk hotel. Saat mobilku melewati ambulance itu aku melihat seseorang bersimbah darah diangkat naik ke ambulance itu. Aku tidak bisa melihat wajah nya dengan jelas. Tapi aku takutkan kalau dia....." Ucapan Raya terhenti, takut salah bicara.
Rachel masih menyimak, tapi wajahnya terlihat tidak bersahabat seakan tak percaya dengan apa yang didengar nya.
"Besoknya ada rumor beredar bahwa Dirman berusaha melecehkan mu di hotel. Mendengar itu aku baru menyadari kemungkinan kalau malam itu sebenarnya Dirman sedang mencari mu. Dia yang berlarian dengan tergesa-gesa mencoba menyelamatkan mu dari seseorang. Karena itu aku yakin bukan dia yang melakukan nya. Aku datang ke rumahmu mencarimu setiap hari untuk menceritakan apa yang kulihat, tapi rumahmu kosong tak berpenghuni. Hingga tiba-tiba ada kabar bahwa kamu telah ke London."
Rachel hanya terdiam, bibirnya tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun. Raya menarik tangan Rachel dan menggenggam nya.
"Rachel......" Ucap Raya, ikut bersedih.
"Raya....aku sama sekali tidak tahu yang mana yang benar. Otakku menerima penjelasan mu, tapi hatiku sama sekali tidak bisa mengerti dan memahaminya."
"Rachel... Itu karena rasa bencimu kepada Dirman yang begitu besar hingga membuat hatimu beku."
"Aku belum mampu Ra... Jauh sebelum insiden inipun aku sudah sangat membencinya. Jadi susah bagiku untuk bisa menerima penjelasan mu."
"Itu terserah kamu Rachel, mau menerima nya atau tidak, yang pasti nya aku menceritakan sesuai dengan apa yang aku lihat." Ujar Raya sambil menepuk-nepuk punggung tangan Rachel.
"Sepertinya aku masih perlu memastikan semuanya dulu. Walaupun mungkin aku tidak siap melihat nya, tapi akan lebih jelas kalau aku bisa berhadapan langsung dengannya dan meminta penjelasan."
"Berhadapan dengan siapa?" Tanya Raya Heran.
"Dengan Dirman."
"Tapi....." Raya sedikit Ragu
"Kenapa?"
"Sama halnya denganmu, semenjak kejadian itu Dirman juga menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada satupun orang yang pernah melihatnya. Menurut ku...." Raya mengatupkan bibir nya tak mampu melanjutkan perkataan nya.
"Mu.. Mungkin saja Dirman meninggal malam itu. Mungkin saja orang yang kulihat bersimbah darah malam itu adalah dia." Raya terbata-bata.
"Itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Karena sahabatnya sering bertemu dengannya, dia pasti tahu keberadaan temannya itu."
"Sahabatnya?" Raya menatap heran.
"Ok, Ra... Aku jalan dulu, aku mau memastikan nya dengan satu orang lagi." Rachel bangkit dari duduk nya dan beranjak pergi.
"Ehh... Tu...tunggu Rachel...!!" Panggil Raya.
"A.. Aku ikutt.. " Lanjut Raya, kemudian menyusul Rachel yang sudah lebih dulu keluar.
Mobil Porsche putih yang dikendarai Rachel itu melaju dengan cepatnya disusul Mini Cooper merah milik Raya dibelakang. Selang beberapa menit mereka sampai di Hotel Calister.
"Kita mencari siapa disini Rachel?" Tanya Raya yang baru saja menyusul masuk ke dalam lobi Hotel.
"Sahabat nya Dirman." Jawab Rachel kemudian melangkah menuju Resepsionis.
"Dilantai berapa ruangan Pak Reynold?" Tanya Rachel kepada resepsionis yang berjaga.
"Maaf sudah buat janji sebelumnya?" Tanya sang Resepsionis.
"Belum."
"Maaf Bu, tapi anda tidak bisa langsung ke ruang Pak Reynold kalau belum buat janji sebelum nya."
"Kalau begitu tolong panggil kan saja."
"Maaf Kalau boleh tahu ada keperluan apa?" Tanya sang Resepsionis.
"Katakan kalau istri Mr. Mahavir Alister mencari nya." Rachel menekankan nada suaranya pada nama Alister.
Mendengar itu sontak membuat resepsionis itu terkejut dan membungkuk meminta maaf.
"Maaf Bu, mereka tidak mengenali ibu. Mari saya antar ke ruang Pak Reynold." Salah seorang staff hotel maju dan mempersilahkan Rachel dengan hormat.
Mereka bertiga memasuki lift yang membawanya naik ke lantai atas, hingga berhenti tepat satu lantai dibawah ruang kantor Mahavir.
Dilantai itu terdapat beberapa ruangan kantor, dan ruangan besar untuk tempat meeting.
Belum sempat staff itu mempersilahkan masuk, Rachel langsung melenggang masuk dengan santainya disusul Raya dibelakang. Rey yang sedang berbicara ditelepon jadi terkejut dibuatnya.
"Bu Rachel..." Sapa Rey tanpa memutuskan sambungan telepon nya. Mendengar nama Rachel seseorang di dalam sambungan telepon itu juga ikut terkejut.
"Kamu??" Raya terkejut melihat Rey.
"Si.. Silahkan duduk Bu Rachel" Rey mempersilahkan. "Nanti kita lanjut lagi." Bisik Rey pada sambungan telepon nya, tapi orang yang berada didalam sambungan telepon di ujung sana memerintahkan untuk tidak mematikan sambungan telepon itu.
Rey jadi gelagapan menghadapi teman-temannya itu.
Rachel dan Raya duduk di sofa tamu ruangan itu, mereka berdua menatap tajam Rey, Rey semakin salah tingkah dengan dua wanita yang ada dihadapan nya.
"Ada perlu apa bu Rachel menemuiku?" Rey berbasa-basi. Ponsel nya dia letakkan di atas meja dengan posisi terbalik.
"Aku menemui mu sebagai teman, bukan sebagai istri atasan mu."
Rey mengkerutkan dahinya,
"Pasti soal Dirman lagi...!!!" Tebak Rey dalam hati.
"Aku ingin tahu dimana Dirman sekarang?" Tanya Rachel langsung pada intinya.
"Untuk apa anda mencarinya, bukankah anda sangat membencinya hingga melihatnya pun anda tak mau?" Rey balik bertanya.
"Rachel hanya ingin bertanya langsung pada orang yang bersangkutan." Raya membantu menjelaskan.
"Raya bilang kalau dia melihat Dirman malam itu berlari dengan tergesa-gesa ke dalam hotel. Aku hanya ingin mengetahui apa betul kalau ternyata justru dia yang telah menyelamatkan ku." Ucap Rachel.
"Baguslah kalau anda sudah tahu, cukup anda tahu itu saja, tak perlu mengganggu nya lagi. Kalian kan begitu ilfeel melihatnya, kalian selalu merasa tidak selevel berdekatan dengannya. Jadi jangan mencarinya lagi." Rey sedikit kesal mengingat bagaimana mereka memperlakukan Dirman dulu.
"Rey!!!" Raya meneriaki Rey. "Katakan saja dimana Dirman sekarang?" Lanjutnya.
Rey terdiam, tak tahu akan menjawab apa. Dua pasang mata masih menatapnya tajam.
"Kenapa diam?"
Rey tertunduk, memutar otak mencari jawaban.
"Dia sudah tak ada disini."
"Dia kemana?" Tanya Raya memelototi Rey.
"Sampai kapanpun kalian mencari Dirman kalian tidak akan lagi berjumpa dengannya."
"Benar kan sosok Dirman itu memang sudah tidak ada!!" Batin Rey.
Rachel dan Raya tertekun mendengar perkataan Rey.
"Maksudmu Dirman.... Sudah...??" Raya mencoba menebak. "Jadi betulkan Dirman meninggal malam itu??"
Rey terkejut sendiri dengan pemikiran Raya. Sebenarnya bukan itu yang dia maksudkan.
Raya bangkit mendekati Rey, dan mengguncang bahu Rey meminta penjelasan.
"Betul??" Tanya Raya.
Rey merasa tersudut dan serba salah. Pandangan nya tertuju pada ponselnya. Tanpa sadar kepalanya mengangguk dan membuat Rachel dan Raya mengira itu adalah jawabannya.
Rachel dan Raya terlihat syok bersamaan, sementara Rey masih belum menyadari kecerobohannya, matanya masih terus menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Boss... Aku harus bilang apa lagi??" Batin Rey.
Sejenak mereka bertiga terdiam. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya. Hingga Rachel akhirnya berucap kembali.
"Baiklah, Terima kasih informasi nya Rey, maaf sudah menyita waktu mu."
Rey hanya mematung, masih tidak menyadari.
"Iyya, Sama-sama." Ucap Rey masih terlihat bingung.
Rachel dan Raya beranjak keluar dari ruangan itu. Rey mengantar mereka hingga ke lobi. Mata Rey menatap tajam mengikuti sosok wanita di samping Rachel, Raya... Cinta nya yang bertepuk sebelah tangan.
Lama Rey memandangi Raya, hingga dia teringat telepon dari Mahavir yang masih tersambung. Dengan cepat dia bergegas menuju ruangannya
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *