
Sepeninggal daddy-nya tadi, Rachel masih meringkuk di pembaringannya dan tersedu-sedu dalam tangisnya. Mengingat setiap detilnya saat ia menyakiti hati Mahavir. Bagaimana ia mencaci maki dan merendahkan laki-laki itu.
Sungguh hatinya semakin terhimpit oleh rasa sesak. Nafasnya begitu terengah-engah, begitu sulit baginya untuk menghirup udara. Seolah pasokan oksigen di dunia ini telah habis.
Selama ini Rachel sudah berkali-kali mendengar perkataan Mahavir kalau dirinya adalah udara yang selalu ada dalam tiap nafasnya. Bahwa ia adalah hidup dari laki-laki itu. Dan setiap kali mendengar itu Rachel hanya memandang sebelah mata, selalu mencemooh-nya dan hanya menganggap itu bualan semata. Namun saat ini barulah Rachel menyadari maksud dari itu semua. Bagaimana sakitnya saat separuh dari hidup kita sudah berada jauh dari pandangan dan menyisakan penyesalan yang teramat besar padanya.
Setiap harinya, dan di setiap waktunya Mahavir selalu merongrong dirinya dan memaksakan kehendaknya. Menjadi sosok yang posesif dan terobsesi akan dirinya.
Pelan-pelan laki-laki itu mengukir satu-persatu inisial namanya dihati Rachel. Mengukirnya dengan begitu dalam walau dalam proses tiap pahatannya itu meninggalkan rasa yang begitu perih. Hingga kini saat inisial namanya sudah tak bisa lagi terhapus oleh apapun, laki-laki itu sudah berada jauh dari jangkauannya. Rasa benci yang teramat besar akhirnya berubah menjadi cinta yang begitu luar biasanya disaat laki-laki itu sudah benar-benar tak ada di sisinya. Membuatnya menjadi terbiasa hingga bergantung padanya.
Lalu kalau sudah seperti ini, mampukah ia menjalani semuanya seorang diri? Mampukah ia bertahan mengisi waktu di tiap harinya tanpa kehadirannya? Dengan berbagai kenangan manis dan pedih sekaligus?
Tidak, untuk membayangkannya saja Rachel tak mampu. Pelukan hangat dan sentuhan lembut laki-laki itu bahkan masih terasa dalam ingatannya. Dia merindukannya, ingin melihat senyumnya, ingin mendengar suaranya, ingin disentuh olehnya. Rachel benar-benar merasa begitu rapuh tanpanya. Airmatanya bahkan belum berhenti mengalir sejak tadi.
Kembali Rachel memutar ulang perkataan daddy-nya dalam ingatannya, 'Bukan daddy yang membawanya dalam kehidupanmu, dalam kehidupan kita. Tapi kamu sendiri nak. Tanpa sadar kamu yang membawanya kepada daddy, kamu yang membawanya masuk ke dalam keluarga kita. Kamu sendiri yang membuatnya masuk dalam kehidupanmu.'
Yah, Seandainya saja daddy-nya tak mengingatkannya mungkin ia akan terus melupakannya. Karena jauh di dalam lubuk hatinya Rachel akui perkataan daddy-nya itu memang ada benarnya.
Pada awalnya memang bukanlah Mahavir yang muncul dalam kehidupannya, tapi ia yang menarik laki-laki itu masuk kedalam kehidupannya.
Di pejamkannya kedua matanya yang basah, mencoba mengingat-ingat lebih jauh beberapa tahun ke belakang.
Flashback...
Seorang gadis belia bermata bulat, kulit putih seputih susu, rambut panjang berwarna kecokelatan dengan bola mata yang begitu jernih. Menggunakan dress selutut berwarna baby pink Dengan hiasan sayap kecil pada punggungnya. Dengan senyum yang mengembang dan gelak tawa cerianya sedang asyik membagi-bagikan bingkisan snack pada beberapa anak-anak yang lebih muda di hadapannya.
Saat itu ia sedang membantu sang Mommy membagikan bingkisan ulang tahun dari adik kecilnya yang kebetulan merayakannya di panti asuhan tempat daddy-nya rutin memberikan donasi.
Semua anak dengan mata berbinar-binar menerima dengan riang bingkisan pemberiannya, kecuali satu orang anak yang tampak seumuran dengannya malah diam mematung dan hanya memandanginya dengan tatapan terkagum-kagum.
"Hay... Area you okay?" Tegur gadis blasteran yang biasa dipanggil Rachel itu. Mengernyit bingung pada anak laki-laki berambut keriting dan berkulit gelap yang sama sekali tak merespon pemberiannya.
Anak laki-laki itu menunduk malu, mungkin juga tak mengerti dengan bahasa yang gadis itu ucapkan. Tangannya disembunyikannya di belakang tubuhnya, dan satu kakinya menggosok kaki lainnya yang berdiri menopang tubuhnya.
"Kamu tak mau bingkisannya?" Suara lembut dari Rachel membuat anak laki-laki itu semakin menunduk dalam. Tangan Rachel masih diam diudara sambil menenteng bingkisan berisi beberapa cemilan kesenangan anak-anak.
Rachel sedikit membungkuk dan menengok wajah yang bersembunyi malu. Ditariknya lembut tangan anak itu dan menyerahkan bingkisannya. "Mukaku jelek yah sampai kamu tak mau melihatku?" Tanyanya yang sukses membuat anak laki-laki itu mengangkat wajahnya.
Anak laki-laki itu tersenyum kikuk dan menggeleng. "Cantik, sangat cantik seperti malaikat." Lirihnya.
Rachel tertawa geli. Sementara anak laki-laki itu bergeming tanpa berkedip sedikitpun.
"Kamu lucu. Aku menyukaimu. Namamu siapa? Mau jadi temanku?" Tanya Rachel dengan suara lembutnya.
"Namaku Dir...."
"RACHEL....!!" Teriakan dari sang Mommy yang sedang menggendong anak laki-laki yang baru saja berusia tiga tahun itu membuat Rachel berbalik.
"Yes, Mommy. Waitt..." Sahutnya lalu langsung berbalik hendak beranjak.
"Tunggu.... Kalau kita berteman, kapan kita bertemu lagi?" Tanyanya.
Rachel tersenyum, menepuk pelan pundak anak laki-laki itu. "Setiap hari aku akan lewat jalan di depan sana. Kalau kamu mau, kita bisa bertemu di perempatan depan setiap pagi. Mobilku akan melambat untuk menunggu lampu merah. Jam tujuh tepat. Ingat..!!" Ucapnya kemudian berlari kecil meninggalkan anak laki-laki itu yang masih mematung.
Saat mobil yang membawa Rachel sudah meninggalkan halaman panti asuhan itu, anak laki-laki tadi terus berlari dan menyusulnya hingga di perempatan lampu merah. Ekor mata Rachel ternyata melihat anak itu dari balik kaca jendela. Rachel tersenyum dan melambaikan tangannya pada anak itu hingga mobil itu benar-benar menjauh dan sosok anak itu sudah tak terlihat lagi.
Dan hari-hari selanjutnya, Rachel selalu melihat anak laki-laki itu menunggunya di depan gerbang panti asuhan dan berlari menyusulnya hingga ke perempatan jalan. Saat mobil yang di tumpangi Rachel berhenti karena lampu merah, maka anak laki-laki itu akan menghampirinya. Kadang anak itu menjajakan koran, kadang bernyanyi sambil memukul2 kaleng bekas yang dipegangnya. Kadang membawa kemoceng untuk membersihkan debu yang menempel pada mobil. Kadang pula menawarkan bermacam-macam permen beraneka rasa. Rachel akan dengan senang hati memberikan selembar uang dengan jumlah yang besar dan anak laki-laki itu tersenyum dengan lebarnya.
Bukan uang itu yang membuat anak laki-laki itu teramat gembira, melainkan senyuman manis dari si pemberi.
Suatu hari karena terlalu bersemangat berlari mengejar mobil Rachel, anak laki-laki itu terserempet mobil lain. Rachel dengan paniknya turun dan langsung memapahnya ke bahu jalan. Mendudukkan anak itu pembatas trotoar dan ia sendiri berjongkok di depannya. Beruntung karena hanya terkena luka lecet pada kedua lututnya. Rachel mengambil plester obat dari dalam saku tas sekolahnya dan membalutkannya pada kedua lutut itu. Netra Rachel kemudian turun dan melihat telapak kaki anak itu yang terlihat mengelupas dan penuh luka karena tak mengenakan alas kaki. Refleks tangannya bergerak mengusap lembut kulit yang mengelupas itu tanpa memperlihatkan rasa risih dan jijik, namun dengan cepat pula anak laki-laki itu menarik kakinya. Enggan di sentuh oleh Rachel. Mungkin karena merasa kalau kakinya begitu kotor dan tak pantas di sentuh oleh tangan putih nan halus itu.
"Sakit?" Tanya Rachel dengan wajah meringis.
Bukannya mengeluh atau meringis kesakitan, anak laki-laki itu justru tersenyum-senyum mengamati gadis manis itu yang begitu perhatian padanya.
"Kenapa harus lari-lari tadi?" Tanyanya tapi anak laki-laki itu hanya tersenyum.
"Kamu kuat berlari jauh yah, tidak capek?" Anak laki-laki itu hanya menggeleng.
"Mm.. Kamu bisa naik sepeda?" Anak laki-laki itu mengangguk pelan.
"I have two bikes at home." Ucap Rachel dan anak laki-laki itu mengernyit bingung sambil menggaruk kepalanya. Menyadari itu Rachel tertawa geli. "Oh, i'm sorry... Maksudnya aku punya dua sepeda di rumah. Kalau aku memberikannya padamu, kamu mau pakai? Yah, supaya tidak lari-lari lagi."
Anak laki-laki itu menatap bingung Rachel, tak mengiyakan dan tak menolak juga. Rachel hanya mengedip-ngedipkan matanya menunggu sambil mengamati keseluruhan penampilan anak itu, namun anak itu tak berucap apapun.
"Kamu tak sekolah?" Tanya Rachel yang dijawab gelengan kepala oleh anak itu. "Umurmu berapa?" Tanyanya lagi.
Anak itu nampak berfikir dan menggaruk-garuk kepalanya. Lalu menyengir sambil memperlihatkan gigi-gigi besarnya.
"Ditanya kok malah cengengesan?" Rachel bangkit berdiri dari depan anak itu. Menepuk rok seragamnya yang kotor terkena debu. "Mau sekolah di sekolahku?" Tawarnya.
Anak laki-laki itu mendongak dan mengernyit. "Sekolahmu dimana?"
Akhirnya bicara juga...guman Rachel.
"Langdon internasional school, yang gedungnya tinggi dan berwarna abu-abu. Sekolahnya bagus, banyak teman-teman disana. Kamu pasti suka."
Mendengar nama sekolah itu yang terasa asing ditelinganya, anak laki-laki itu menunduk dan menggeleng pelan.
Rachel melirik jam di pergelangan tangannya. "Mmm...Aku sudah telat ke sekolah. Kamu baik-baik saja kan? Besok bawa permen strawberry yang banyak yah...." Ucapnya lalu berlari kecil ke mobilnya. Namun tidak lama kembali lagi dengan membawa sepasang sendal. Diletakkannya sendal itu di samping kiri kanan kaki anak itu, lalu mengangkat kaki anak itu bergantian ke atas sendal. "Ini sendal ku, Kamu pakai yah."
Tanpa menunggu respon anak laki-laki itu, Rachel kembali berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Melambaikan tangannya dari balik kaca jendela hingga mobil itu benar-benar menjauh dari pandangan anak laki-laki itu.
"Pak Maman, sepeda Rachel yang ada di gudang tolong dibawa ke panti sepulang dari sekolah nanti yah..."
"Baik non, untuk siapa sepedanya?"
"Anak yang tadi."
"Namanya?"
"Siap non. Beres itu."
Rachel mengangguk senang. Mengambil satu buah permen pemberian anak itu dari dalam tas nya dan langsung memasukkan ke mulutnya. "Manis, semanis yang memberi..." Gumannya tersenyum-senyum.
Kembali di keesokan harinya, anak laki-laki itu menunggu dengan banyak permen yang di taruhnya pada kaosnya. Kaosnya yang tertarik menampung permen-permen itu membuat perut hingga pusarnya terlihat.
Rachel tertawa geli melihatnya. Sejak mengenal anak laki-laki itu Rachel seakan mendapat hiburan di tiap paginya.
"Thankyou so much.... I'm really like you...." Ucap Rachel dengan senyum yang begitu terkembang, menerima permen-permen yang begitu banyaknya. Anak itu hanya menggaruk kepalanya sambil mengangguk-angguk karena tidak mengerti ucapan Rachel.
"Sekarang sudah gak lari-lari lagi kan?" Tanyanya begitu melihat sepeda pemberiannya terparkir di samping trotoar.
"Terima kasih malaikatku...." Guman anak itu dengan rona malu pada wajahnya lalu melangkah mundur karena lampu sudah berubah hijau. Dari kaca belakang Rachel masih melihat anak itu membungkuk memberi hormat padanya lalu melambai-lambaikan tangannya.
Esok hari kemudian, berbekal sepeda pemberian Rachel, anak laki-laki itu nekat mengikuti mobil Rachel hingga ke sekolah. Ia bahkan nekat memanjat pagar dan diam-diam mengamati Rachel dari balik tembok. Namun posisinya bersembunyi tidak membuatnya bisa melihat kegiatan Rachel di dalam kelasnya yang berada di lantai dua. Anak itu terus mencari cara, hingga akhirnya memanjati pohon beringin tinggi yang ada di samping bangunan sekolah itu dan beruntungnya, posisi pohon itu langsung berdampingan dengan kelas Rachel, dimana Rachel sendiri duduk di bangku yang berada di samping jendela. Membuat anak laki-laki itu bisa leluasa memandangi Rachel yang sedang belajar. Beruntungnya pula karena anak itu jadi bisa ikut menyimak pelajaran-pelajaran yang tertulis di papan tulis di kelas itu.
Hari berganti hari, Rachel sudah tak pernah melihat anak laki-laki itu lagi di sudut perempatan lampu merah tempatnya menunggu. Padahal tanpa di sadarinya kalau anak itu selalu mengikutinya ke sekolah setiap hari.
Hingga suatu hari keributan di luar sana mengundang perhatian Rachel dan teman-temannya yang sedang belajar.
"Ada apa tuh? Kenapa pak satpamnya teriak-teriak?" Kawan Rachel yang berwajah peranakan Arab langsung menghambur ke jendela.
"Sepertinya ada anak luar yang menyusup." Ucap pula kawan Rachel satunya.
Rachel hanya terdiam mengamati dari tempatnya.
BRAKKK...
Suara benda yang terjatuh, membuat seisi kelas berhamburan ke jendela, tak terkecuali Rachel. Rachel bahkan terlihat pucat saat bisa mengenali pakaian dari anak yang terjatuh di bawah sana. Rachel bergegas lari keluar kelas, menuruni anak tangga, terus berlari di sepanjang koridor sekolah, keluar dari gerbang sekolah dan menghampiri Pak Satpam yang sudah mengangkat anak laki-laki itu dengan kedua tangannya.
"Dia baik-baik saja kan?" Melangkah semakin mendekat dan mengamati keadaan anak itu. Di sekitar bekas tempat anak itu terjatuh terdapat buku-buku dan alat tulis. Rachel bisa melihat tulisan di buku yang terbuka sama dengan pelajaran yang baru saja ditulisnya.
"Nona mengenalnya?"
"Iya, dia teman saya pak." Ucapnya sembari membungkuk memunguti semua barang-barang anak itu yang tercecer.
"Teman?" Pak Satpam itu tampak mengamati anak laki-laki itu yang terlihat dekil dan membandingkan dengan penampilan Rachel yang begitu rapi, bersih dan wangi.
"Iya, teman saya. Ayo pak kita bawa ke rumah sakit dulu."
"Tapi non, anak ini...."
"Mau lihat di mati dulu baru mau menolongnya? Kalau daddy ku tahu kamu akan di pecat."
"Baik, baik non... Biar saya yang bawa ke rumah sakit. Nona kembali masuk dan belajar, nanti di cari sama guru-guru." Ucapnya tergugup.
"Tak apa. Nanti saya telfon daddy kalau sudah di sana." Pak satpam itu mengangguk lalu mengikuti langkah Rachel ke parkiran dimana supir-nya selalu menunggu.
Di rumah sakit, Rachel berlari dari parkiran bersama Pak Satpam yang membawa anak laki-laki itu dalam gendongannya, langsung membawanya masuk ke ruang UGD. Anak laki-laki itu dibaringkan dan langsung di tangani oleh dokter dan para perawat.
Dengan wajah pucat dan kedua tangan Rachel yang bergantung di sisi kiri kanan tubuhnya hanya mampu mencengkram kuat rok seragamnya melihat keadaan anak laki-laki itu.
Tak lama kemudian, Pak Wijaya pun datang setelah mendapat telepon dari Rachel. Dengan tubuh gemetaran Rachel langsung melompat memeluk daddy-nya.
"Daddy.. I'm scared..." Keluhnya dalam pelukan sang daddy.
"Dia siapa nak?"
"Dia teman Rachel dad, dari panti. Sepertinya dia mengikuti Rachel ke sekolah karena mau melihat Rachel belajar, dan akhirnya jadi ikut belajar di luar kelas tapi Pak satpam mengusirnya."
Pak satpam yang merasa disebut-sebut langsung berkeringat dingin dan menelan ludahnya susah payah.
"Dad... Bisa tidak dia masuk ke sekolah daddy?"
"Tapi nak..."
"Daddy tak kasihan padanya?"
"Tapi kita harus tanyakan pada anaknya dulu sayang."
"Dia pasti senang dad, dia begitu ingin belajar. Boleh ya daddy? Boleh yah? Lihat tulisannya ini." Membuka buku yang dipegangnya dan memperlihatkan isi tulisan anak itu.
Pak Wijaya mengkerutkan alis mengamati tulisan-tulisan pertanyaan serta jawaban yang di tulis anak itu. Cara kerja dari jawaban itu memang ada kesalahan tapi hasil akhirnya benar. Pak Wijaya sedikit takjub dengan apa yang dilihatnya. Matanya memicing melihat anak yang terbaring dan keseluruhan penampilannya lalu kembali mengamati isi dari buku yang di pegangnya. Sepertinya anak itu punya kecerdasan yang bisa di asah. Pikirnya.
"Baiklah, nanti daddy tanyakan pada anak itu kalau sudah bangun. Sekarang kamu kembali ke sekolah. Biar daddy yang menungguinya disini."
"Promise dad?"
"Yes, daddy promise." Mengusap lembut puncak kepala Rachel dan tersenyum.
Rachel pun akhirnya kembali ke sekolah bersama Pak Satpam yang tak berani berbicara sedikitpun sejak tadi.
* * *
Happy Reading.... 🤗😘
Tak terasa, ternyata otor mampu juga menulis hingga 100 bab dengan 210.663 kata.
Padahal di awal-awal otor sempat down dan berniat berhenti karena sepi pembaca. Apalagi lama menunggu kejelasan kontrak dari Editor NT.
Tapi berkat kalian yang selalu menunggu kelanjutannya, dan karya ini yang lulus kontrak. Otor jadi semangat dan selalu berusaha untuk menyelesaikannya.
Untuk bab ini flashback dulu, dan bab berikutnya masih lanjut flashbacknya yah...
nanti otor akan kasih yang manis-manis dari pemeran pendukung di novel ini.
Cerita ini mungkin masih sedikit panjang, jadi jangan bosan-bosan yah...
Salam sayang dari otor... 🤗🥰😘