Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 37. Menahan emosi.


Raya melangkahkan kakinya dengan malas, pandangannya tertunduk menatap jalan yang dilewatinya. Pikirannya berkelana kemana-mana, memikirkan banyak hal. Termasuk perubahan sikap Rey yang berjalan di depannya saat ini. Harusnya dia merasa senang dengan sikap Rey yang cuek kepadanya, tapi tak tahu mengapa hatinya malah merasa sesak. Dan entah karena apa sedari tadi kakinya juga melangkah dengan sendirinya mengikuti kemanapun kaki Rey melangkah.


Hari sudah beranjak gelap. Lampu-lampu penerangan di sepanjang jalan kawasan pulau itu mulai menyala memancarkan cahaya remang berwarna kekuningan. Rey yang berada di depan, sengaja berjalan berkeliling tanpa tujuan hanya untuk melihat sejauh mana Raya terus mengikutinya. Dan Raya memang terus mengikutinya.


Sudah cukup! Apa maumu perempuan bernama Diraya Sabila??? Guman batin Rey lalu menghentikan langkahnya. Dan...


BRUKK


Tanpa sadar Raya menabrak tubuh laki-laki yang ada di depannya. Dengan cepat Raya mendongak dan mengusap-usap kepalanya.


"Hei, punggung mu batu ya? Keras sekali." Ujar Raya tanpa sadar masih dengan mengusap kepalanya. "Kenapa mendadak berhenti?" Lanjutnya.


Rey yang ditabrak langsung berbalik, "Kenapa masih mengikutiku?"


"Ge-er amat pak? Memang nya ini jalan nenek moyang mu?" Maki Raya dengan kesalnya sambil bertolak pinggang. Raya sendiri tak tahu mengapa setiap berbicara dengan Rey bawaannya selalu emosi.


Rey memejamkan matanya sembari menghela napas perlahan untuk meredam emosinya, lalu menyingkir dari hadapan Raya. "Kalau begitu silahkan lewat ....." Ucapnya kemudian melangkah kembali ke arah yang berlawanan. Dia sudah lelah berdebat dengan perempuan yang tak pernah mau memahami isi hatinya.


Raya sejenak terpaku di tempat, hingga akhirnya kesadarannya kembali. Dengan cepat dia berbalik dan kembali mengejar Rey.


"Kenapa mengikuti ku lagi?" Rey mendengus kesal memandangi Raya yang memalingkan wajahnya. Tangan Rey pun terulur menarik tangan Raya, membawanya duduk di bangku yang ada di taman tidak jauh dari mereka.


Rey menatap Raya tanpa berkedip sedikit pun.


Apa sih maumu? Aku kejar-kejar kamu marah, aku cuek malah kamu yang menempel....Gerutu Rey dalam hatinya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sekarang katakan apa mau mu? Kenapa mengikuti dari tadi?"


"Aku... Aku hanya ingin meminta maaf..." Lirih Raya dengan pelannya, kedua tangannya saling meremas. "Aku sama sekali tidak berniat untuk menjelek-jelekkan Dirman, aku hanya terbawa emosi saat itu... Aku... Aku hanya..." Suara Raya tercekat tak tau mau berkata apa lagi.


"Hmmm, aku sudah maafkan. Aku sudah sangat tahu diri sekarang." Ucap Rey dengan bersikap acuh.


Mendapat perlakuan dingin dari Rey membuat Raya berkaca-kaca.


Rey menunduk dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Raya. "Mau menangis lagi? Mau lihat aku di pukuli lagi?"


Dengan cepat Raya menggeleng, berdiri dari duduknya dan berlari meninggalkan Rey. Rey menghela nafas kasar lalu menyusul Raya. Sebenarnya hatinya tidak tega memperlakukan gadis itu dengan dingin. Tapi dia sudah tidak tau harus bersikap bagaimana lagi.


* * *


Rachel berlari kecil memasuki villa dengan pakaian basah yang melekat di tubuhnya. Pandangannya memutar mencari keberadaan penghuni lainnya, tapi tak terlihat siapapun. Villa itu terlihat sepi dengan sedikit penerangan di beberapa titik. Dengan cueknya, Rachel terus berjalan menaiki anak tangga, melewati koridor lantai dua dan beberapa ruangan lainnya hingga masuk ke dalam kamarnya.


Tanpa disadari nya sepasang mata telah mengamati dan mengintainya sejak dia berjalan menaiki anak tangga. Laki-laki pemilik sepasang mata itu mengikutinya dengan sangat berhati-hati hingga di depan pintu kamar, dia berbalik kiri kanan mengecek keadaan sekitar. Senyumnya mengembang di saat mendapati pintu kamar yang tidak terkunci.


Begitu di rasanya aman, dengan lincahnya laki-laki itu mengendap masuk ke dalam kamar dengan perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Terdengar suara gemerisik air shower yang berjatuhan dari dalam kamar mandi.


Setelah sekian lama, aku pastikan hari ini akan mendapatkanmu...Guman Laki-laki yang telah berada dalam kamar itu, menyeringai dan menatap pintu kamar mandi dengan tatapan yang berkabut penuh nafsu.


* * *


Mahavir yang baru selesai menenangkan debaran jantung nya kembali melangkah menyusul Rachel. Berjalan santai sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Rachel mana....??" Tiba-tiba suara Aretha mengagetkannya dari arah samping.


"Oh, dia kembali duluan ke villa." Mahavir menjawab dengan datar tanpa berbalik sedikit pun kepada Aretha. Mahavir merasa muak dan jengkel setiap kali melihat perempuan itu. Masih teringat jelas dalam ingatan Mahavir betapa kasarnya Aretha saat menghina dan membully nya dulu. Bahkan Mahavir masih bisa merasakan hangatnya kuah bakso yang Aretha tumpahkan dengan sengaja padanya, begitupun dengan rasa dingin karena tiba-tiba mendapatkan siraman minuman cola dingin di kepalanya saat itu. Mengingat semua itu membuat Mahavir sangat enggan untuk melihat wajahnya.


"Oh, sampaikan pada Rachel kalau aku ke villa di belakang dulu, aku mau bertemu dengan langganan berlian ku yang kebetulan juga sedang berlibur di pulau ini. Soalnya dari tadi Raya dan Rey juga belum kembali ke Villa."


"Hmm." Mahavir hanya mengangguk dan kembali melangkah. Tapi kemudian sesuatu terlintas dalam pikiran nya dan berbalik memanggil Aretha kembali. "Kemana tunangan mu?"


"Oh, dia istirahat di Villa..." teriak Aretha lalu meneruskan langkahnya.


Mahavir menelaah keadaan. Bukannya katanya tadi Raya dan Rey belum kembali? Lalu di villa hanya ada......pikiran Rey terhenti, Bersamaan dengan itu Mahavir langsung berlari kencang menuju Villa.


Di villa, keadaan sepi dengan hanya penerangan di beberapa titik. Dengan cepat Mahavir berlari naik ke lantai dua menyisir tiap ruangan hingga ke tiap kamar. Di kamar Rachel, Mahavir memergoki Dirga yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan bertelanjang dada. Seperti berusaha membuka pintu kamar mandi itu.


Tanpa pikir panjang Mahavir langsung mencekal leher Dirga dengan lengan kanannya dari belakang, sementara tangan kirinya membekap mulut Dirga.


"Ikut aku tanpa melawan, atau akan kubuat malu di sini, di depan Rachel...!" Bisik Mahavir di telinga Dirga yang dibalas dengan anggukan. Mahavir pun menariknya dengan paksa keluar dari kamar itu dan menyeret nya hingga turun di lantai bawah dan berakhir di halaman samping Villa.


Mahavir melepaskan cekalannya lalu melempar tubuh Dirga hingga jatuh terjerembab ke atas tanah.


"What the F*ck!!!!" Dirga bangkit dengan emosi, tapi sebelum dia berdiri sempurna, tiba-tiba...


"BUKK"


Satu tinjuan keras berhasil melayang ke pipi Dirga, membuatnya kembali terjatuh mencium tanah berlapiskan rumput tipis.


Dirga kembali bangkit dengan memegangi pipinya yang terkena pukulan. "Hei, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak tahu siapa aku hah???"


Mahavir tertawa sinis dengan setengah mengejek, "Siapa dirimu itu tidak penting, yang pasti nya tak akan kubiarkan kau menyentuh wanita ku sedikit pun..."


Dirga menyeringai, "Wanita mu?? Ayolah...Rachel itu mantan kekasihku dulu, kami bahkan pernah menghabiskan satu malam di..."Belum sempat Dirga menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba...


"BUKKKK!!!"


"Damn!!" Dirga meludahkan saliva bercampur darah ke arah sampingnya.


Mahavir memutar-mutar pergelangan tangannya untuk merilekskan buku-buku tangannya yang memerah. Tapi tiba-tiba Dirga bangkit dan langsung melayangkan pukulan balasan tepat di rahang Mahavir. Membuat Mahavir terhuyung dan terhempas di atas rumput. Tapi dengan lincahnya Mahavir menarik Dirga hingga mereka saling berguling.


Dari kejauhan tiga laki-laki berjas hitam berlari mendekat bersamaan dengan Bryan yang datang dari arah lainnya.


"KAK VIRRR....!" Bryan berlari dan langsung menarik Mahavir yang berada di atas Dirga yang bersiap melayangkan kembali tinjuannya.


Mahavir menahan kepalan tangannya lalu mendorong tubuh Dirga yang terkulai. "Dulu aku tidak sempat membalas perbuatan mu, tapi kini aku akan pastikan kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal" Mahavir menjeda perkataannya, seraya menepuk pipi kanan Dirga. "Jangan pernah lagi berniat mendekatinya..." Lanjut Mahavir lalu bangkit dan berdiri. Memberi kode kepada tiga laki-laki berjas hitam yang dilihatnya untuk tidak mendekat.


"Apa yang kak Vir lakukan?" Bryan berucap lalu mendekati Dirga dan membantunya berdiri.


Raya dan Rey yang baru datang melihat dengan terheran-heran. "Ada apa?" Tanya Raya dan Rey bersamaan tapi tak ditanggapi oleh Mahavir.


"Kamu urus dia!" Seru Mahavir dengan sorot mata tajamnya lalu berbalik dan meninggalkan mereka.


"Apa yang terjadi?" Rey menatap bingung sembari membantu Bryan memapah Dirga masuk ke dalam Villa. Dirga hanya meringis kesakitan tapi bibir nya menyunggingkan senyum sinis yang penuh arti.


Raya bertanya dengan sorot matanya kepada Bryan tapi Bryan hanya mengangkat kedua bahunya dan menggeleng.


"Kak Raya obati luka kak Dirga dulu..." Bryan mendudukkan Dirga pada sofa di ruang santai dibantu oleh Rey.


"Tunggu sebentar, aku ambil obatnya dulu." Raya lalu bergegas naik ke lantai dua.


* * *


Rachel meraih kimono handuk yang tergantung di dinding kemudian memakainya. Dia cukup banyak menghabiskan waktu di kamar mandi guna membersihkan pasir-pasir yang menempel pada kulit kepalanya. Dengan perasaan segar, Rachel keluar dari kamar mandi dan langsung terkejut mendapati Mahavir yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Virrr??" Rachel menatap heran lalu menyilangkan kedua tangannya menutupi tubuhnya. "What are you doing here??"


Bukannya menjawab pertanyaan Rachel, Mahavir langsung menarik pinggang Rachel dan memeluknya dengan erat sambil mengecup keningnya berulang-ulang. "Maaf, hampir saja aku terlambat....." Lirih Mahavir.


Rachel tertegun dengan sikap Mahavir. Kedua kelopak matanya berkedip-kedip saking bingungnya. "A.. Ada apa??"


"Tidak apa-apa...." Mahavir melepas pelukannya lalu menarik tangan Rachel berjalan keluar kamar.


"Virr.. Virrr.. Aku belum berpakaian."


Mahavir berbalik lalu mengambil tas pakaian Rachel dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih terus memegang pergelangan tangan Rachel. "Kamu berpakaian di kamarku saja."


Rachel menatap bingung, tapi tetap mengikuti langkah Mahavir. Mahavir menarik Rachel masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dan menguncinya.


"Vi..Virr... Ka.. Kamu mau apa??" Rachel kembali menyilang kan kedua tangannya guna menutupi tubuh bagian atasnya. "Kamu tidak akan macam-macam kan?" Rachel mundur hingga membentur meja.


Mahavir melangkah semakin mendekati Rachel, Rachel yang ketakutan langsung terpejam, cukup lama sampai Mahavir menjentikkan jarinya di kening Rachel "Memangnya apa yang kamu pikirkan?"


Mahavir mengambil handuk dari kopernya yang tergeletak di atas meja di belakang Rachel. Rachel mendongak dan mendengus kesal lalu mengusap keningnya


"Pikiran mu sudah mulai kotor yah? Aku cuma mau ambil handuk..!"


Rachel memutar matanya, kesal. "Lalu? Apa maksudmu menarikku kesini?"


"Cepat berpakaian lalu kita pulang."


"Pulang? Kenapa?"


"Kamu masih mau disini?"


Rachel mengangguk, "Ada apa? Kenapa tiba-tiba mau pulang? Kita kan baru semalam disini?"


"Tapi kita harus pulang."


"Iya, tapi kenapa?"


"Tidak ada tapi-tapian. Kita pulang."


"Kamu saja yang pulang, aku masih mau disini!!" Rachel berjalan hendak membuka pintu. Namun dengan cepat tangan kanan Mahavir menarik tangan Rachel sementara tangan kirinya bergerak dengan cepat mengambil kunci pintu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


Rachel menghempas tangan Mahavir dan menatap tajam penuh emosi.


Mahavir memijit pelipisnya pelan. "Baiklah kalau kamu masih mau disini, tapi kamu tidak boleh jauh-jauh dariku. Kamu harus selalu berada dalam pandanganku." Ujarnya dengan tersenyum lembut lalu menarik pinggang Rachel dan mengecup keningnya.


Rachel mendengus kesal dan mendorong Mahavir. "Kamu penuh pasir...!!" Serunya sembari mengibaskan dan menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Baiklah, aku mandi dulu. Kamu berpakaian disini saja. Tunggu aku, jangan kemana-mana." Mahavir berjalan masuk ke kamar mandi. "Ingat, tunggu aku!" Serunya lagi sebelum betul-betul masuk ke kamar mandi.


Rachel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Memangnya aku bisa kemana kalau kunci pintu nya kamu ambil??? Gerutu batin Rachel yang semakin dibuat bingung dengan tingkah laku Mahavir.


* * *