
...Keadaan akan tetap sama jika kau tidak merubahnya....
...~ Azqila Ziya Yildiz ~...
...••••...
Malam itu Azqila pulang bersama orang yang menawarkannya pulang bersama, awalnya Azqila menolak namun seseorang itu tetap memaksanya agar tetap pulang bersamanya.
Azqila tidak memiliki pilihan lain, hari sudah semakin gelap dan hujan juga tidak ada tanda untuk berhenti. Akhirnya, dengan terpaksa Azqila menerima tawaran tersebut.
"Sayang," panggil seseorang dari balik pintu.
"Iya Ma. Masuk aja pintunya ga Azqila kunci kok."
Puspa membuka pintu kamar anak gadisnya itu. Puspa pun mendekati anaknya yang masih bersembunyi dibalik selimut tebalnya.
"Gimana keadaan kamu nak?" Tanya Puspa dengan mengelus kepala Azqila.
"Azqila udah gapapa kok Ma. Cuma agak pusing."
"Benaran?" Tanya Puspa memastikan
"Iya mamaku sayang," ujar Azqila sambil memeluk mamanya.
"Yaudah, yuk kita sarapan," ujar Puspa melepaskan pelukannya.
"Azqila cuci muka dulu ya Ma."
"Yaudah, Mama tunggu diruang makan ya," ucap Puspa dan dibalas anggukkan oleh Azqila.
Azqila bangun dari tempat tidurnya saat Mamanya sudah keluar dari kamarnya. Kepalanya masih rada pusing mungkin karena kehujanan kemarin.
Azqila jadi ingat dengan orang itu, orang yang sudah mengantarkannya pulang, orang yang memiliki sikap hampir sama dengan seseorang dimasa lalunya.
"Morning Pa," sapa Azqila mencium Papanya.
"Morning sayang," Jawab Yildiz.
"Abang mana Ma?" Tanya Azqila saat melihat abangnya tidak ada dimeja makan.
"Masih tidur tuh, capek Mama banguninnya."
"Azqila bangunin ya Ma."
"Ga usah sayang, udah sekarang kamu makan aja dulu," ucap Yildiz.
"Iya Pa," balas Azqila melanjutkan makannya.
Setelah acara sarapan pagi selesai, Azqila membantu Puspa untuk mencuci piring. Sementara Papanya duduk didepan teras rumah dengan membaca koran.
"Tadi malam yang ngantar kamu pulang siapa?" Tanya Puspa.
"Teman Ma," jawab Azqila yang masih mencuci piring.
"Kok Mama baru lihat dia."
"Dia anak baru disekolah Ma," balas Azqila
"Pantesan Mama baru lihat."
"Yaudah deh Ma, Azqila udah selesai cuci piringnya. Azqila mau bangunin Abang."
Azqila pun mencuri tangannya yang masih ada bekas sabun, ia pun pergi menuju kamar Abangnya.
"Abang, bang bangun," teriak Azqila dari sebrang pintu, namun tidak ada jawaban.
"Abang ih, bangun udah siang," teriak Azqila lagi sambil mengetuk pintu kamar Abangnya.
"Apaan sih Qil," ucap Ryan membuka pintu.
"Bangun udah siang."
"Ini itu hari Minggu Qil," jawab Ryan kembali ke ranjangnya.
"Tapi Azqila mau main sama Abang," Azqila mengikuti Ryan dari belakang.
"Entar lagi deh, gue masih ngantuk banget," Ryan ingin menarik selimutnya. Namun ditahan oleh Azqila.
"Azqila maunya sekarang," ucap Azqila dengan muka cemberutnya.
"Jelek banget muka lu. Yaudah gue mandi dulu."
"Oke, gitu dong. Azqila juga mau siap-siap." Azqila pun beranjak dari tempat tidur Abangnya itu.
"Abang jangan tidur lagi!"
"Iya iya enggak, dah sana keluar."
Azqila sudah siap dengan menggunakan celana jeans dan kaos yang disertai dengan cardigan. Tidak lupa ia memakai sepatu kasual yang selaras dengan bajunya, rambutnya ia biarkan terurai begitu saja.
"Mau kemana sayang?" Tanya Puspa menghampiri Azqila diruang tamu.
"Mau pergi sama Abang Ma."
"Papa sama Mama ga diajak nih?" Tanya Yildiz yang duduk di samping Azqila.
"Papa pergi berdua aja sama Mama, ngulang masa muda," jawab Azqila membuat Mama Papanya saling tatap dan tertawa.
"Yuk Qil," ajak Ryan yang sudah selesai.
"Ma Pa Azqila pergi dulu ya, jangan rindu." Pamit Azqila menyalami kedua tangan orang tuanya diikuti dengan Ryan.
"Iya sayang hati-hati ya." Ryan jagain adik kamu.
"Iya Ma."
Azqila dan Ryan pergi menaiki mobil Ryan, mereka belum tau akan pergi kemana. Kata Azqila "udah jalan aja nanti ada tempat yang bagus berhenti," Ryan hanya mengikuti apa mau adiknya yang cerewet itu.
"Bang, itu keknya ada danau. Kita kesitu aja yuk Bang," ujar Azqila saat melihat danau disebrang sana.
"Jangan deh Qil. Abang lapar nih belum sarapan kita ke cafe aja ya."
"Ga mau Azqila maunya kesana. Disana juga ada yang jualan kok, Abang bisa makan disana."
"Yaudah deh terserah lu."
Saat mereka sudah sampai, Ryan memarkirkan mobilnya. Mereka turun dan mulai berjalan mencari tempat untuk mereka dudukki. Mereka seperti orang yang sedang berpacaran. Bagaimana tidak, umur mereka hanya selisih 3th saja. Jadi bisa saja orang yang tidak mengenal mereka berasumsi bahwa mereka pacaran walaupun aslinya mereka hanya kakak beradik.
"Kita disini aja ya Qil."
"Boleh," jawab Azqila dan duduk ditempat tersebut.
"Lu kok tumben banget ngajak gue keluar gini?" Tanya Ryan.
"Kangen aja main bareng sama Abang."
"Abang ga liat perubahan Azqila sekarang?" Tanya Azqila.
"Oia ya. Gue kok baru sadar ya. Selama ini kan lu lebih sering sendiri, paling malas kalo gue ajak keluar," jawab Ryan dan Azqila hanya tersenyum.
"Azqila mau keluar dari fase itu Bang. Azqila mau kembali ke Azqila yang dulu, tapi Azqila ga bisa langsung berubah gitu aja."
"Iya gue ngerti kok. Lu mau berubah aja gue udah senang banget Qil. Gue juga kangen sama cerewetnya lu ke gue."
"Azqila mulai mikir, kalo Azqila terus seperti ini Azqila akan semakin tertekan dan membuat Azqila terus ingat sama dia Bang. Jadi, Azqila akan coba untuk pelan pelan move on dari fase itu Bang."
"Abang pasti dukung kamu, udah jangan sedih lagi. Abang lapar nih, yuk cari makan."
Hari ini Azqila sangat senang, akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ryan mengajak menaikki perahu menyelusuri danau membuat Azqila merasa tenang menikmati semilir angin dan suasana danau tersebut.
Azqila masih bersyukur ia masih dikelilingi oleh orang orang baik seperti kedua orang tuanya yang selalu menyayanginya. Abangnya yang selalu memberi semangat dan sahabatnya yang selalu menghiburnya.
Azqila dan Ryan pun pulang dikarenakan hari sudah mulai sore, banyak moment yang sudah ia lalui bersama Abangnya.
"Makasih ya Bang," ucap Azqila.
"Sama-sama Qil. Asal lu senang gue bakal ikut senang juga kok." Ujar Ryan yang masih fokus menyetir.
"Uuuuhhhh, jadi sayang." Ucap Azqila mencubit pipi Abangnya itu.
"Sakit Qil." Ryan mengelus pipinya yang merah karena cubitan adiknya itu. Azqila hanya tertawa melihat ekspresi Abangnya.
"Abis ya Abang gemesin," ujar Azqila sambil tertawa.
"Karungi aja gue Qil."
Mereka sampai rumah melihat rumah sepi seperti tidak ada orang didalamnya.
"Mama kemana Bang?" Tanya Azqila.
"Ya mana gue tau, kita kan baru pulang. Coba lu telpon."
"Handphone Mam ga aktif, Papa juga ga diangkat Bang."
"Yaudah, paling mereka keluar sebentar. Udah sana mandi, bauk masam." Ucap Ryan dengan nada bang shaleh sambil menutup hidungnya.
"Abang ih, geli tau."
Hay Hay Hay...
Gimana dengan part duanya?
Tunggu part selanjutnya ya ☺️