
Rachel mengernyitkan keningnya merasakan sinar mentari yang menembus kaca jendela dan mengusik ketenangan alam mimpinya.
Hari sudah sangat terang benderang tapi kedua matanya masih terasa berat untuk terbuka. Begitupun dengan kesadarannya yang belum pulih seutuhnya.
Tubuh Rachel yang masih menggunakan gaun pengantin menggeliat pelan mencari posisi nyaman untuk menjauhi cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Terus bergerak hingga wajahnya menempel ke sesuatu yang dirasakannya hangat dan lembut.
Tangannya lalu bergerak menyentuh bidang rata yang menempel diwajahnya itu dan semakin merapatkan dirinya. Tidak berhenti sampai disitu, rasa penasaran malah membuat tangannya semakin bergerak turun, dan berhenti kala menyentuh sesuatu yang dirasakannya geli dan aneh. Dia membelainya dengan lembut, tapi semakin membelainya dirasakannya semakin mengeras dan menegang.
Bersamaan dengan itu Mahavir merasakan hembusan nafas pada dadanya dan sesuatu yang aneh bergerak-gerak pada inti tubuhnya. Keterkejutan membuat rasa kantuknya tiba-tiba menghilang, matanya membulat sempurna saat mendapati jari-jari putih dan halus tengah bermain dengan Miliknya. Rasa geli dan nikmat yang tak bisa diungkapkan dirasakannya secara bersamaan, membawa nya terbang hingga langit ke tujuh.
Suara erangan kecil dari Mahavir membuat kesadaran Rachel kembali. Matanya terbuka perlahan dan terkejut saat wajahnya menempel pada dada bidang Mahavir yang tersingkap dari kimono handuknya, terlebih saat mendapati tangannya berada di tempat terlarang. Refleks ditariknya tangannya dan melompat turun dari tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan pada tanganku?" Teriak Rachel sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ya Tuhan, benda apa yang ku pegang barusan?"
"Justru harusnya aku yang bertanya, apa yang tanganmu itu lakukan pada tubuhku??"
"KAMU!!!!!" Teriak Rachel dengan penuh emosi.
Hingga sepersekian detik kemudian wajahnya langsung memerah saking malunya saat menyadari bahwa rasa penasarannya sendiri yang membimbing tangannya hingga sampai di tempat itu.
"Bagaimana? Sudah ingat?" Tanya Mahavir saat melihat perubahan raut wajah Rachel yang memerah.
"ARGHHHHHHHH!!!!" Teriak Rachel sambil berlari ke kamar mandi dengan menyeret-nyeret gaun pengantin nya.
"BAGAIMANA? MAU DILANJUT TIDAK?? TANGGUNG JAWAB DONG!!!!" Teriak Mahavir menggoda Rachel yang sudah masuk ke dalam toilet.
"ARRRGGGHHH!!!!!! BODO'......!!!!!!!" Teriak Rachel dari balik pintu toilet.
Mahavir tersenyum nakal. Dia sendiri berusaha meredakan hasratnya yang telah dibangunkan oleh Rachel.
* * *
Porshe putih melaju dengan kecepatan standar membelah jalan siang hari itu. Mahavir di kursi kemudi dan Rachel disampingnya.
Sedari tadi Rachel terus melihat ke arah jendela, berusaha menyembunyikan wajahnya. Sementara Mahavir terus-menerus memandang Rachel dengan tatapan nakalnya.
"Aku bilang berhenti menatapku." Pinta Rachel menyadari Mahavir yang tak henti-hentinya menatap dirinya. Sudah beberapa kali dia meminta Mahavir untuk melupakan kejadian pagi tadi, tapi Mahavir selalu saja menggodanya.
"Aku tidak menatapmu." Ucap Mahavir menahan tawa.
"Jangan menertawaiku!"
"Aku tidak menertawaimu...." Ucap Mahavir Sedikit terkekeh karena sudah tidak dapat menahan tawanya.
"BUKKK!!! BUKKK!!!
Kepalan tangan Rachel mendarat di bahu kiri Mahavir secara bertubi-tubi membuat pria itu sedikit meringis kesakitan.
"Oke, oke, aku diam!! Aku lupakan kejadian itu." Seru Mahavir lalu fokus mengemudikan mobil.
"Gila!!! Kenapa setiap marah begitu wajahnya semakin terlihat menggemaskan!!!" Guman Batin Mahavir.
"Oh, iya... Kenapa kamu mengganti mobil?"
"Ohh, itu....." Mahavir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Karena aku tidak mau liat kamu duduk dibelakang lagi!!!" Batin Mahavir.
"Kenapa???" Ulang Rachel.
"Aku ganti dengan yang lebih baik."
"Maksudnya? Mobil yang sebelumnya kan sudah bagus? Muat untuk 5 orang, nah ini cuma buat berdua saja!"
"Biar lebih keren saja!"
"Hahh??? Buang-buang duit saja!" Cibir Rachel.
Mahavir terkekeh.
Rachel kembali berbalik ke jendela, mengamati bangunan-bangunan tinggi yang berjejer dengan mewahnya.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini? Apa kamu mau pergi berkencan?" Tanya Mahavir tanpa mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
"Aku mau pulang ke rumah saja, ada kerjaan yang mau ku handle dulu. Aku mau video Zoom dengan beberapa model yang akan memperagakan busana rancanganku."
"Ohhh.....!!!" Lirih Mahavir sedikit kecewa.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu di London?"
"Ada Stuart yang mengurusnya."
"Terus kapan kita kembali ke London??"
"Kamu mau kembali?" Mahavir bertanya balik.
"Tentu saja, pekerjaan ku kan disana! Kamu sendiri??"
"Aku tidak masalah, aku akan ikut kemanapun kamu mau. Kantorku bisa pindah kemanapun juga"
"Dasar sombong!! Ke antaraiksa saja kalau begitu!!"
"Heheh, yah tidak gitu juga dong sayang!!"
"Oh iya, Ayahmu sudah pulang? Aku tidak melihat nya selama pesta berlangsung."
"Begitu acara selesai dia langsung pulang. Semalam Dia ada di ruang VVIP, dia tidak begitu suka dengan keramaian. Kalau ayahku menampakkan diri, akan banyak pengusaha yang cari-cari muka padanya."
"Ohh, tapi sepertinya ayahmu tidak terlalu suka padaku..."
Mahavir berbalik dan memandangi Rachel, "Siapa bilang? Memangnya dia bicara apa saja padamu?"
"Hah?? Tidak..." Rachel menunduk "Dia tidak bilang apa-apa kok."
Mahavir menarik tangan kanan kanan Rachel kemudian menggenggamnya dengan erat. "Jangan bohong, kamu tidak pandai berbohong!! Katakan apa yang dia bilang padamu."
"Dia menyuruhku untuk tidak menyakiti perasaan mu. Aku harus bisa membalas perasaanmu, katanya kalau aku meninggalkanmu, walau aku menyesal aku tidak akan bisa bertemu lagi denganmu."
"Astaga....!!! Jadi karena kata-kata Ayahku itu kamu sampai uring-uringan selama pesta berlangsung?"
Rachel mengangguk pelan.
"Sudah jangan dipikirkan, ayahku cuma trauma karena dulu ditinggalkan oleh ibuku. Jadi dia tidak ingin kejadian itu terulang padaku."
"Tapi kan tidak perlu mengancamku seperti itu juga."
"Kamu merasa diancam?"
"Sepertinya......"
"Aku tanya, apa kamu mau meninggalkan ku?"
"Tergantung!!"
"Tergantung apanya?"
"Tergantung bagaimana sikapmu kedepannya. Asal kamu tidak selingkuh, tidak mempermainkan aku, dan selalu jujur padaku. Kurasa tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkan mu." Ujar Rachel sambil memandangi Mahavir.
Mahavir tertegun mendengar perkataan Rachel. Dia sadar telah melakukan kebohongan besar padanya. Kebohongan yang pastinya akan sulit diterimanya saat ini.
"Semoga saja saat hatimu sudah menerimaku, kamu juga bisa menerima kebohongan ku...."
Lirih Mahavir dalam hati. Mahavir lalu menarik nafas panjang kemudian mengecup punggung tangan Rachel.
"Oh, iyya.. Apa tangan ini yang tadi membelai *****ku?" Tanya Mahavir dengan kerlingan mata dan senyum nakalnya. Berusaha mengalihkan pembicaraan karena Rachel yang terus memandangi nya seakan minta penjelasan.
Raut wajah Rachel berubah seketika, dengan keras ditariknya tangannya yang berada dalam genggaman Mahavir dan memukul bahu Mahavir secara membabi buta.
"Auw, Auw, sakit sayang... Sakit!!" Keluh Mahavir sambil mengusap bahunya.
"Sekali lagi kamu membahasnya, kupastikan kamu tidur kembali di kamar tamu."
"Jangan dong!! yah... Please....!! Aku tidak akan membahas nya lagi, Ok??"
"Bodo amat!!" Ucap Rachel sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, dan bibir yang mengerucut.
Mahavir menggaruk-garuk tengkuknya.
Drrrtt... Drrrttt.... Drrrtt...
Ponsel Rachel bergetar, dilihatnya di layarnya bertuliskan nomor tak dikenal.
"Ya Halo??"
"Oh... Aretha! Ini nomor mu?"
"Apa?? Yang betul?? Wah asyik dong!!"
"Tenang saja, Aku yang akan bujuk Raya!"
"Ok, Sampai ketemu disana! bye dears..."
"Titt..."
Rachel mengakhiri teleponnya, bersamaan dengan Mobil mereka yang telah memasuki halaman Mansion.
"Siapa?" Tanya Mahavir, sembari memarkirkan Porshe putih itu ke dalam garasi bersampingan dengan mobil BMW milik Pak Wijaya.
"Aretha, Sahabatku. Yang semalam datang bersama tunangannya."
"Ada apa?"
"Dia mengajak kita berlibur besok, sebagai hadiah pernikahan darinya. Dia sudah booking villa di pulau." Ujar Rachel sembari turun dari Mobil.
"Tidak usah pergi." Mahavir ikut turun dari mobil dan menyusul Rachel.
"Kenapa??"
"Kamu pikir aku akan kembali membawa mu ke laut? Yang ada nanti kamu melompat kelaut lagi."
Rachel menghentikan langkahnya, kemudian berbalik dan memicingkan matanya pada Mahavir.
"Jangan membawa-bawa kesalahan ku yang lalu!" Gerutu Rachel lalu kembali melangkahkan kakinya memasuki Mansion utama.
"Aku cuma mengingatkan." Ujar Mahavir mencoba mensejajarkan langkah nya dengan Rachel.
"Jangan membahas itu lagi, jangan sampai daddy dan mommy tahu kejadian waktu dilaut itu.
" Dia sudah tahu kok....." Lirih Mahavir pelan tapi sempat didengar oleh Rachel.
"APAA???" Kamu melaporkan itu?" Teriak Rachel lalu berbalik menatap Mahavir dengan kesalnya.
"Mereka harus tahu kelakuan nekat putrinya. Walaupun aku tidak bilang, Bryan juga pasti akan melaporkan?"
"Kalian itu memang kompak yah!! Sama-sama nyusahin!" Pekik Rachel, terus melangkah masuk kedalam mansion hingga ke ruang makan dimana Pak Wijaya, Ny Amitha dan Bryan berkumpul dan tengah makan siang.
"Siang dad, mom...." Sapa Rachel mengecup kedua pipi Ny Amitha dan Pak Wijaya secara bergantian.
"Eh, kalian sudah pulang?" Tanya Pak Wijaya.
"Iya dad...." Jawab Mahavir yang baru menyusul Rachel dari belakang. "Hai Bryan!!" Sapa Mahavir yang hanya dibalas gerakan tangan oleh Bryan karena mulut nya sudah dipenuhi oleh makanan
"Kirain masih betah di hotel...." Ucap Ny Amitha menyambung pertanyaan Pak Wijaya, sambil tersenyum penuh arti ke Mahavir.
Mahavir hanya tersenyum sambil menggeleng pelan membalas Ny.Amitha. Ekspresi Ny. Amitha terlihat kecewa dengan kode yang diberi kan Mahavir.
"Ayo sini ikut makan siang?" Tawar Ny Amitha kemudian.
"Makasih mom, tadi sudah waktu di hotel." Mahavir dan Rachel menjawab dengan bersamaan.
"Aku ke kamar dulu ya mom, dad..." Ujar Rachel lalu kembali melangkah menaiki anak-anak tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada.
"Tidak nyusul Rachel ke atas?" Tanya Ny Amitha.
Mahavir hanya mendongakkan kepalanya memandangi punggung Rachel yang sudah menjauh.
"Iya mom, dad, Bryan aku juga naik dulu."
Bryan dan Pak Wijaya membalas dengan anggukan karena sudah menyendokkan lagi makanan kedalam mulutnya.
"Iyya, sana pepet terus istrimu itu." Ujar Ny Amitha kembali tersenyum penuh arti. "Jangan kasih kendor sebelum memberikan cucu pada kami." Lanjutnya, membuat Mahavir salah tingkah.
Mahavir kini telah menyusul Rachel ke kamarnya. Dilihat nya Rachel yang sudah terduduk di atas kasur sambil memangku sebuah laptop. Mahavir pun menghempaskan tubuhnya dibelakang Rachel. Berbaring miring menghadap punggung Rachel dengan tangannya sebagai tumpuan kepalanya.
"Jangan disitu, aku mau Video Zoom."
"Aku tidak akan ganggu. aku gak kelihatan kok."
"Awas kalau ganggu!! ku pites kepalamu nanti." ancam Rachel, sembari mengaktifkan laptopnya dan memulai Video Zoom nya.
Mahavir diam-diam memperhatikan Rachel yang tengah serius memberikan arahan kepada wanita-wanita yang ada didalam sambungan video itu. Muncul niat nya untuk sedikit usil pada Rachel.
Pertama, Mahavir mengelus-elus punggung Rachel dengan pelan, tapi Rachel hanya mengibaskan tangannya kebelakang dan menepis tangan Mahavir. Melihat cara itu tidak berhasil, Mahavir kembali menarik-narik ujung rambut Rachel, sekali lagi Rachel hanya mengibaskan tangannya. Tak habis akalnya, Mahavir menggelitik pinggang ramping Rachel hingga membuat wanita itu sedikit kegelian.
"PAKK!!"
Sebuah pukulan melayang ke lengan Mahavir disusul dengan tatapan membunuh dari Rachel.
Mahavir hanya cengegesan, tapi tetap melanjutkan keusilannya.
"who is that?" terdengar seorang wanita dari sambungan video itu menanyakan sosok yang ada dibelakang Rachel.
"Nobody..." jawab Rachel.
"Sayang, perkenalkan suamimu..." pinta Mahavir dengan manja lalu melingkar kan tangannya ke pinggang Rachel.
"Are you sure? what is your husband? Show us her face Miss Rachel." Terdengar kegaduhan dari para model itu setelah melihat lengan pria yang melingkar di pinggang Rachel.
"Awww... sakit sayang!!" pekik Mahavir kesakitan saat tangannya dicubit oleh Rachel.
"Nobody, let's continue again" ujar Rachel sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan ekspresi dingin, membuat para model terdiam seketika dan kembali melanjutkan pembahasan mereka.
Diam-diam Mahavir bangkit lalu memeluk Rachel dari belakang dan menjatuhkan kepalanya ke bahu Rachel. Sontak membuat riuh kembali para wanita yang menyaksikan adegan itu. Dengan cepat Rachel mematikan sambungan Video itu lalu menaruh laptopnya ke atas kasur.
"Dasar kamu yah, senang sekali mengganggu!!" pekik Rachel memukul-mukul bahu Mahavir dengan sekuat tenaga.
"Ampun sayang!!" pinta Mahavir dengan tidak tulus karena diiringi dengan tawa kecil.
"Ampun.. ampun, memang minta dipites kepalamu itu." kesal Rachel, berusaha mengetok kepala Mahavir.
"Sudah! sudah...sayang, nanti aku mati kamu jadi janda loh..."
"Biarin, biar aku bisa nikah dengan cowok yang tidak menyusahkan..." Rachel masih terus memukuli Mahavir dengan kesalnya.
"Berani kamu nikah dengan orang lain, ku hantui kamu setiap malam."
"Aku tidak takut, we...!!" ejek Rachel sambil menjulurkan lidahnya. Membuat Mahavir semakin gemas. Dengan cepat Mahavir menarik Rachel kedalam dekapannya dan merubah posisi hingga Rachel kini bisa berada di bawahnya.
"Coba ejek aku sekali lagi kalau berani??" tantang Mahavir.
Tanpa merasa curiga Rachel kembali menjulurkan lidahnya sambil tertawa lebar.
"Finally..." Lirih Mahavir sambil tersenyum penuh arti.
Dengan cepat Mahavir menciumi Rachel dan meloloskan lidahnya masuk kedalam. Menjelajah dan mengeksplor isi mulut Rachel degan puasnya. Menciptakan ciuman liar yang baru pertama kali Rachel rasakan.
Rachel hanya pasrah dengan apa yang Mahavir berikan. Otaknya menolak tapi getaran yang dirasakan nya membuatnya menikmatinya. Saat nafas Rachel mulai tersengal-sengal, Mahavir pun melepaskan tautan bibir nya. Lalu ditariknya Rachel untuk bangun dan duduk.
Rachel menarik nafas panjang, berusaha memasukkan oksigen ke paru-paru nya sebanyak mungkin.
"Kamu bisa mati kalau menahan nafas seperti itu." ujar Mahavir sambil mengusap bibir Rachel yang masih basah akibat perbuatannya.
Rachel menatap Mahavir dengan kesalnya. Dia masih berusaha mengatur nafas serta detak jantungnya.
"Keluar!! keluar dari kamarku sekarang juga!!" usir Rachel mendorong tubuh Mahavir keluar pintu lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Sayang... buka dong!!" pinta Mahavir dari luar pintu sambil mengetuk-ngetuk.
"Pokoknya kamu kembali di kamar tamu!! jangan lagi kembali ke dalam kamarku!!" teriak Rachel lalu menghempas tubuhnya ke atas kasur dan menyembunyikan kepalanya dibalik bantal. Mengusap-ngusap kedua bibir nya dengan jari-jarinya, mencoba mengingat rasa yang Mahavir berikan tadi.
* * *