
Hari ini kota London sedang sibuk-sibuknya. Kendaraan nampak lebih ramai dari hari biasanya. Para penggiat fashion dari seluruh dunia tampak berkumpul di satu lokasi yang bertempat di studio seni yang merupakan jantung komunitas kreatif London.
Mereka semua berkumpul untuk sebuah pekan mode yang merupakan hasil organisir oleh British Fashion Council untuk London Development Agency dengan bantuan dari Department for Business, Energy and Industrial Strategy.
Untuk itu pula Rachel yang walau masih merasa kurang nyaman di beberapa bagian tubuhnya harus memaksakan diri untuk bisa hadir dan bergabung ditempat itu. Dan saat ini dia tengah terduduk di kursi penumpang belakang sambil mengedarkan pandangannya melihat keramaian jalan dibalik kaca jendela mobil.
Tadinya Mahavir memaksanya untuk beristirahat lebih lama dan akan mengantarnya sesaat sebelum pekan mode itu dimulai, tapi Rachel beralasan dan bersikeras kalau ia harus datang lebih awal untuk memastikan beberapa hal. Apalagi para modelnya akan kembali melakukan Gladi akhir beberapa jam sebelum acara dimulai. Akhirnya Mahavir mengalah dan membiarkan Stuart yang mengantarkannya. Ia baru akan menyusul siang nanti ke acara itu untuk memberikan dukungan kepada istrinya.
"Maaf Ny. Alister, diantar ke kantor atau langsung ke lokasi runway?" Tanya Stuart, sembari menyetir kendaraan dengan kecepatan sedang. Suara baritonnya yang berat mengagetkan lamunan Rachel.
"Ah, Antar ke kantor dulu. Tak apa kan?"
"Itu sudah tugas saya Ny.Alister." Ucap Stuart penuh sopan dan sedikit menunduk, Dengan lincahnya tangan kekarnya memutar stir.
"Mr.Stuart..?"
"Yah Ny. Alister? Apa ada sesuatu yang anda butuhkan?"
"Ah tidak, Itu....Apa aku bisa bertanya sesuatu?"
"Silahkan Ny. Alister. Anda ingin bertanya apa?" Senyum tipis terulas di bibir Stuart, seraya memandangi Nyonya mudanya dari kaca depan.
"Sudah berapa lama anda mengenal Mahavir?"
Stuart mengerutkan kening sejenak, memandangi wajah Rachel penuh selidik kemudian akhirnya menjawab. "Sudah cukup lama. Sekitar 9 tahun yang lalu. Ada apa anda menanyakan hal itu?"
"Hanya ingin tahu saja." Rachel mengedikkan bahunya. "Apa selama anda mengenalnya, dia punya kekasih?"
Stuart tersenyum dan menjawab lantang. "Tidak ada sama sekali Nyonya."
"Yakin?"
"Seratus persen yakin. Tuan Muda hanya tergila-gila pada anda."
"Oh ya? Apa kamu tahu bagaimana dia mengenalku? Dan dimana pertama kali dia melihatku?"
Sekali lagi Stuart mengerutkan keningnya. Sedikit lama berfikir, takut salah bicara.
"Anda tidak tahu yah?"
"Bukan begitu." Menghela nafas sejenak. "Tuan Muda mengetahui anda lewat Ayah anda sendiri. Ayah anda yang merupakan sahabat Tuan James sering kali datang berkunjung ke tempat Tuan James. Saat itu Ayah anda sendiri yang memperlihatkan foto anda dan berniat menjodohkan anda dengan Tuan Muda. Sejak melihat foto anda, Tuan Muda selalu kepikiran dengan anda dan menyuruh saya mencari tahu segala sesuatunya mengenai anda." Stuart menghela nafas panjang setelah menjelaskan panjang lebar. Sekali lagi matanya melirik cermin depan, melihat ekspresi Nyonya Mudanya yang masih belum puas.
"Tuan Muda melihat anda secara kebetulan di sebuah toko Cake. Saat itu saya sedang bersama dengannya menikmati coffee late di kafe seberang toko cake itu. Hanya saja Tuan Muda tidak percaya diri untuk menyapa anda duluan." Lanjutnya lagi.
"Apa Tuan Muda tak pernah menceritakannya?"
"Ah, dia menceritakannya semuanya. Apa yang anda katakan sama persis dengan apa yang Mahavir katakan."
Stuart menyunggingkan senyumnya. "Ah, jadi anda bertanya hanya untuk memastikan apa Tuan Muda berbohong atau tidak yah?"
"Hah? Tidak... Bu.. Bukan seperti itu." Ujar Rachel gelagapan.
"Berarti sejak hari itu anda mulai membawakanku bermacam-macam cake dari toko itu ke kampus ku? Bahkan menguntit dan mengambil potret ku diam-diam?"
"Ternyata anda sudah tahu hal itu juga..."
"Aku tak sengaja mengetahuinya..."
Stuart kembali melirik kaca depan. "Bukan dari Tuan Muda? Lalu dari siapa Nyonya?"
Menyadari Stuart yang sedari tadi mengamatinya, Rachel langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Adalah, anda tak perlu tahu."
"Anda mencoba mencari tahu dari orang lain?"
"Tidak, buat apa aku melakukan itu."
"Nyonya muda, berhentilah mencurigai apapun tentang Tuan Muda kami. Dia tulus menyayangi anda."
Asalkan Nyonya muda tahu, Tuan Muda itu menyayangi anda lebih dari apa yang anda pikirkan. Dia akan sangat kecewa kalau mengetahui anda masih menyimpan kecurigaan padanya. Andai Nyonya tahu apa saja yang Tuan Muda kami lakukan untuk anda selama ini, pasti anda tidak akan lagi bersikap seperti itu padanya."
"Memangnya apa? Apa ada hal yang tidak aku ketahui?"
"Itu bukan ranah saya untuk membahasnya Nyonya. Saya hanya bisa menyarankan pada anda untuk berhenti mencari tahu masa lalu Tuan Muda. Berbahagialah bersamanya seperti anda mengenalnya pertama kali hingga saat ini. Jangan pernah meragukan Tuan Muda kami."
"Iya aku tahu itu...! Tidak usah mengkhawatirkan hal itu." Menyandarkan punggungnya ke sandaran jok, menghela nafas pelan dan berucap lirih. "Aku juga sudah mulai menyayanginya dan belajar mencintainya. Aku sudah sampai sejauh ini dengannya itu berarti aku sudah menerimanya. Apalagi semalam kami...." Rachel menghentikan ucapannya yang hampir keceplosan.
Stuart menahan senyumnya. "Anda tak berkata apapun semua tercetak jelas di wajah Tuan Muda. Pagi tadi raut wajahnya sangat berbinar-binar, selama saya mengenalnya, baru kali ini saya melihat aura kegembiraan sebesar itu pada wajahnya. Apalagi dengan kemesraan kalian pagi tadi, orang buta pun akan tahu dengan apa yang telah terjadi diantara kalian." Terang Stuart membuat Rachel tersipu malu dengan kedua pipi yang merona.
"Sekarang saya hanya menunggu perintah dari kalian untuk mengurus persiapan bulan madu kalian, besokpun kalau kalian menginginkannya, saya bisa langsung menyiapkannya."
Rachel terdiam, seulas senyum malu-malu terpatri di wajahnya. Pandangannya kembali ke luar jendela, memandangi jalan-jalan yang semakin ramai. Hingga saat melewati hotel Alister, ia teringat sesuatu.
"Oh iya, aku masih ada satu pertanyaan."
Stuart kembali menyunggingkan senyumnya. "Ternyata anda sama persis dengan Tuan Muda."
"Apanya?"
"Ah, tidak. Silahkan anda ingin bertanya apa lagi?"
"Insiden waktu di hotel Alister itu, apa itu rekayasa Mahavir agar bisa menikahiku?"
Stuart terkekeh selama beberapa detik, membuat Rachel menatap tajam padanya lewat pantulan cermin. "Maaf Nyonya muda." Ucapnya sembari memperbaiki mimik wajahnya untuk kembali tenang. Setelah itu Stuart pun menceritakan tiap detail kejadian bulan lalu saat Rachel tersandung rumor bersama Mahavir. Stuart menceritakan segala sesuatu yang ia ketahui dari sudut pandangnya.
"Berarti pernikahanku memang hasil permainan dari orang tuaku sendiri? yang dari dulu memang mau menjodohkanku dengan Mahavir?"
"Aku tidak berkata seperti itu loh Nyonya, anda sendiri yang menyimpulkan seperti itu."
"Karena kesimpulan cerita mu memang seperti itu." Ujar Rachel dengan ketusnya.
"Apa anda Marah? Apa anda menyesal menikah dengan Tuan Mahavir?"
"Tidak, aku tidak marah dan menyesal. Hanya saja sedikit kesal karena dipermainkan oleh orang tua sendiri." Guman Rachel dengan wajah tertekuk menghadap ke jendela.
Stuart hanya mampu menahan senyum melihat ekspresi Rachel. Ia kembali fokus menyetir dan membawa mobil sedan hitam keluaran Aston Martin itu ke kawasan Oxford Street.
"Anda bisa kembali ke hotel, saya akan naik Van bersama para tim ke lokasi Runway." Ujar Rachel sesaat sebelum turun dari mobil.
Rachel menghela nafas dan menaikkan kedua bahunya. "Baiklah kalau begitu. Saya tidak akan lama."
"Selama apapun saya akan menunggu Ny. Alister."
Rachel hanya tersenyum tipis lalu segera masuk ke kantornya. Di dalam sana semua orang tampak sibuk. Untungnya semua kru sudah profesional hingga Rachel sudah tidak lagi bersusah payah mengarahkan mereka. Masing-masing sudah mengerti dengan tugas yang harus mereka kerjakan.
Yah, ini bukanlah pertama kalinya Rachel ikut dalam pekan mode bertaraf internasional ini.
Bulan Februari lalu, Rachel juga ikut berpartisipasi memamerkan koleksi busana musim gugur dan musim dinginnya dalam pekan mode yang sama. Begitupun dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja sebelum-sebelumnya Rachel berkolaborasi dengan dua designer muda lainnya yang ada di Inggris. Dan saat ini adalah kali pertamanya berdiri sendiri dengan membawa label namanya dan memamerkan hasil karya terbaiknya dengan ciri khas dari koleksi rancangannya.
Itulah mengapa kali ini Rachel begitu antusias dan berharap semua berjalan dengan lancar serta hasil karyanya dilirik oleh banyak orang.
Setelah beberapa jam berkutat di Kantor, Rachel kembali ke mobil. Stuart dengan sigap kembali mengantarnya ke tempat tujuan berikutnya. Mobil sedan mewah itu terlihat beriringan dengan mobil Van hitam milik Rachel yang dikendarai oleh Marry dan beberapa tim crew lainnya.
Beberapa menit berkendara, akhirnya dua mobil itu sampai di depan sebuah bangunan Brutalis ikonik yang telah diubah menjadi pusat budaya.
Para perwakilan dari majalah fashion terkenal seperti Vogue, Elle, InStyle, Harpers Bazaar, dan Glamour sudah tampak memenuhi tempat itu.
Rachel bergegas masuk bersama para tim-nya lewat jalur khusus menuju backstage. Di pintu masuk ada beberapa orang berjaga dan memeriksa tanda pengenal dan kartu akses khusus untuk bisa masuk ke dalam. Karena tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kecuali model, desainer, makeup artis, fotografer khusus, produser runway, editor, dan fitter
Bersama para tim, Rachel langsung menerobos melewati kerumunan model, para desainer serta para pekerja lainnya, lalu menempati sudut backstage yang menjadi tempat khusus untuknya. Para modelnya telah berkumpul disana setelah baru saja menyelesaikan gladi akhirnya.
Lampu-lampu sorot mulai bersinar, iringan musik sudah terdengar menggema ke segala penjuru. Beberapa jam lagi runway akan dimulai. Orang-orang dibelakang panggung sudah mulai menggila. Ada yang hilir mudik membawa banyak pakaian, ada yang masih menyetrika, ada yang sedang berias, ada pula beberapa model yang setengah bugil yang hanya memakai underwear berlalu lalang tak tahu sedang apa. Bahkan ada pula beberapa orang yang tertidur di pojokan.
Bermacam-macam aroma bercampur menjadi satu dan menggelitik indra penciuman. Mulai dari aroma parfume mahal, bau kosmetik, bau cat kuku, bahkan bau rambut yang terbakar dari alat catok dan alat curly.
Rachel yang sudah terbiasa dengan pemandangan dan keadaan seperti itu sudah tidak lagi merasa aneh dan terganggu. Dia hanya berfokus dengan timnya sendiri.
"Rachel...!" Teriak kimmy dari arah waiting stage. Mengagetkan Rachel yang sedang membantu modelnya berpakaian. Kimmy berlari kecil menghampiri Rachel. "Sorry, aku belum sempat kirim foto-foto yang kemarin padamu. Kemarin aku sibuk seharian."
"Tak apa, nanti saja kalau kamu sudah senggang. Santai saja." Ujar Rachel dengan terkekeh.
"Are you sick?" Kimmy mengamati raut wajah Rachel yang sedikit pucat.
(*kamu sakit?)
"Hanya kurang enak badan, mungkin kecapean."
"Jangan terlalu diforsir, serahkan saja pada tim kru-mu. Kamu duduk enteng saja melihat total look mereka." Kimmy meraih kursi dari bahan stainless dan mendorong Rachel untuk duduk dikursi itu.
"Kim, aku baik-baik saja." Rachel hendak bangkit namun kembali didorong oleh kimmy.
"Merry, please take care of Miss Rachel, it looks like she is not feeling well" Ujar Kimmy pada Merry ketua tim Rachel, membuat kru lainnya ikut panik.
(*tolong jaga Nona Rachel, sepertinya dia sedang tidak enak badan)
"I'm fine, don't worry...." Rachel menenangkan tim-nya yang ikut panik.
(*aku tak apa, jangan khawatir)
Kimmy menggeleng, "Terserah kamu deh!" Seru kimmy lalu menepuk pelan bahu Rachel dan tersenyum. "Okey Rachel, Good luck yah....Aku kembali ke sana yah." Imbuhnya dengan menunjuk ke tempatnya semula.
"Okey, Good luck too dear...." Balas Rachel, kemudian melanjutkan aktivitasnya membantu para model. Satu orang model ditangani dengan tiga orang, ada yang membantu memakaikan pakaian, ada yang merias dan ada memakaikan aksesoris. Semuanya dilakukan dengan waktu yang singkat.
Dalam kesibukan itu, ponsel Rachel tak henti-hentinya berdering. Butuh waktu lama hingga akhirnya Rachel bisa mengangkat panggilan itu.
"Aku sudah datang, aku ke tempatmu yah?"
"Tak usah, kamu duduk di depan saja sesuai dengan undangan."
"Tapi aku ingin bertemu denganmu sayang..."
"Astaga Vir, kita baru berpisah selama beberapa jam. Udah yah, aku lagi ribet ini..."
"Ya sudah! aku datang bersama Stuart, Bryan dan Risya. Kami datang untuk menyemangati mu. Semoga sukses ya sayang....!" Serunya di ujung sana.
Rachel tersenyum mendengarnya, "Iyya, iyya... Makasih yah..." Ucapnya lalu menutup pembicaraan itu, kemudian kembali berkutat dengan para model.
Show sudah dimulai beberapa menit yang lalu, para model yang selesai berpakaian kini berjejeran dan bersiap di waiting stage sesuai dengan urutan masing-masing. Menunggu aba-aba dari para panitia. Satu persatu dari mereka berjalan memasuki jalur Catwalk, berlenggak-lenggok memamerkan busana yang mereka kenakan.
Dari depan catwalk, telah duduk berjejer orang-orang dengan pakaian terbaik mereka. Diantaranya bisa terlihat beberapa artis terkenal dari mancanegara, seperti di kursi depan yang sudah ditempati oleh keluarga dari pemilik Brand 'Victoria Secret' yang banyak mencuri perhatian.
Mahavir dan Stuart duduk di baris depan di sayap kanan jalur Catwalk, sementara Risya dan Bryan di baris kedua di belakang Mahavir.
Risya tampak sumringah dengan mata yang berbinar-binar melihat pertunjukan catwalk secara live di depan matanya.
"Oh My God kak Bry... Look, there is David Beckham." Risya memekik kegirangan dengan menunjuk-nunjuk orang-orang yang dikenalnya. Pandangannya terus memutar ke segala arah. "Woww..disana ada Kendall Jenner. Eh ada Bae Suzy juga. Eh.. Kak Bry lihat yang disana.... Mmmmppp.." Pekikan Risya terhenti saat mulutnya di bekap oleh Bryan.
"Berisik, jangan ribut. Bikin malu saja." Gertak Bryan lalu membuka bekapan tangannya pada mulut Risya. "Ribut lagi, kita pulang."
Risya hanya mencibir lalu mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Namun binar matanya masih terus berputar mengagumi setiap artis yang dikenalnya.
Berbanding terbalik dengan Bryan yang terlihat cuek sambil memainkan ponselnya, ia sama sekali tidak berminat dengan acara seperti ini. Pernah dulu Rachel memintanya untuk menjadi modelnya, tinggi badannya yang proporsional serta wajah yang mendukung membuat sang kakak mengejar-ngejarnya dengan iming-iming berbagai macam hadiah. Tapi Bryan sama sekali tidak tergoda. Saat ini pun ia terpaksa ikut hanya untuk memberi dukungan pada sang kakak.
Kembali ke belakang panggung. Suasana terlihat semakin riuh, para model bolak-balik mengganti pakaian dan melangkah kembali ke catwalk. Dalam sekali slot, para model sampai tiga kali berganti pakaian. Dan dalam sekali ganti dilakukan dengan sangat singkat, yaitu berkisar antara 1-3 menit. Membuat Rachel dan tim kru di belakang panggung berpacu dengan waktu.
Busana tiap busana koleksi musim semi dan musim panas hasil rancangan Rachel keluar dipamerkan satu persatu, berjalan lancar tanpa kendala hingga runway itu berakhir dan akan dimulai kembali esok hari hingga tiga hari kedepan.
* * *
Happy Reading... 🥰
Sorry yah part kali ini kebanyakan Narasinya.
dan mungkin kurang terlalu penting. Author jg gak bisa hilangin karena sudah bagian dari ceritanya.🙏
So, tunggu next part nya yah....
Terima kasih masih selalu setia disini....
Peluk cium dari kk Author... 🤗😚😘