
Bryan terduduk dengan pasrah dan meredam segala emosi yang dirasakannya. Wajahnya tertekuk dengan dahi yang berkerut-kerut, alis saling bertaut, mata terpejam dan bibir yang digigitnya dengan sedikit keras guna menahan agar segala makian tidak terlontar dari mulutnya.
Kepalanya tertarik ke kiri dan ke kanan mengikuti arah tangan yang menghentak-hentakkan rambutnya. Tangannya terjulur ke samping dan diam mematung tanpa pergerakan. Sementara wajahnya harus pasrah menerima sapuan jari-jemari lentik sang kakak yang sedang mengaplikasikan sesuatu ke wajahnya itu.
Malam ini mungkin malam yang tersial dalam hidupnya. Bagaimana tidak, tiga orang perempuan dalam ruangan itu kompak mengerjainya dan tak ada perlawanan yang bisa dilakukannya. Demi menghadirkan senyum di wajah kakaknya, Bryan pasrah menjadi mainan ke tiga perempuan itu.
"Bryan, jangan berkedip-kedip! Nanti belepotan." Tegur Rachel menahan tawanya sembari mengaplikasikan maskara pada bulumata lentik adik laki-lakinya. Di kelopak mata Bryan sudah menempel eyeshadow berwarna biru gradasi hijau, eyeliner yang menukik pada ujung kelopak matanya, serta di kedua tulang pipinya yang tegas sudah menempel blush-on berwarna pink cerah. Juga foundation yang tidak merata pada kulit wajahnya. Membuat keseluruhan wajah pemuda berusia 18 tahun itu tampak seperti badut kesasar.
"Kak, sudah dong. Mukaku udah tebal rasanya." Keluhnya hendak menarik tangannya untuk mengusap matanya yang terasa begitu berat.
"Bryan, belum selesai! Tangannya jangan ditarik dulu..." Ujar Lily, kembali menarik tangan Bryan ke hadapannya. Ia tengah mengaplikasikan kuteks warna warni pada kuku jari-jari sepupu laki-laki nya itu.
"AWWW... Pelan-pelan Ris...!!!" Teriak Bryan karena rambutnya tertarik cukup keras. Saat ini Risya tengah mengikat rambutnya menjadi beberapa bagian.
"Ini udah pelan kak Bry...! Jangan gerak-gerak makanya. Mau cantikkan?" Ucap Risya setengah terkekeh.
Sekali lagi, Bryan menghela nafasnya dengan kasar. Menggerutu dan meracau tidak jelas namun tetap tidak melakukan perlawanan apapun kepada tiga perempuan yang mengelilinginya. Yah, saat ini Bryan tengah terduduk diatas brankar berhadapan dengan Rachel yang terduduk di depannya, dibelakangnya ada Risya yang setengah berdiri bertumpu dengan lututnya sembari mengikat-ikat rambutnya menggunakan ikat rambut karet berwarna-warni, dan disamping kanannya terduduk Lily di pinggiran brankar sambil memangku tangannya yang entah sudah berapa warna yang ada pada kukunya itu.
"Sudah belum?" Tanya Bryan tuk kesekian kalinya. Punggungnya begitu lelah karena sudah berjam-jam duduk dalam posisi diam mematung.
"Sabar, sisa sedikit sentuhan di bibir. Buka mulutnya, tahan. jangan bergerak yah..." Perintah Rachel dengan tertawa geli melihat kepasrahan adiknya.
"Iya, ini tinggal satu jari lagi..." Sahut Lily yang sama tertawa gelinya dengan Rachel.
Berbeda dengan Risya yang justru amat terlihat begitu serius di belakang Bryan. Membuat dua puluh ikatan kecil-kecil pada rambut Bryan yang sesuai dengan tanggal lahirnya.
"MOMMY...HELP ME...anak laki-laki mu sedang dianiaya....." Teriak Bryan dengan berakting menangis. Namun malah mendapat pukulan di pahanya oleh Rachel.
"Hush, jangan ribut-ribut. Nanti di dengar perawat." Ujar Rachel mengingatkan adiknya itu.
"Nah selesai." Ujar Risya sembari melompat turun dari brankar guna melihat tampilan depan Bryan yang sukses membuatnya terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal memegangi perutnya.
"Kak Bry kayak badut ancol..." Ejek Risya disela-sela tawanya, membuat Bryan mendengus kesal.
"Sudah nih?" Tanya Bryan yang diangguki oleh Rachel.
"Eh, tapi jangan dihapus sampai besok pagi." Ucap Rachel sembari meraih ponselnya hendak mengambil potret adiknya, lalu menarik lengan adiknya itu agar berbalik. Membuat Bryan terjungkal kebelakang bersandar padanya.
"Aku juga ikut kak!" Risya segera melompat naik ke brankar, setengah berbaring di depan dada kanan Rachel di samping Bryan yang setengah bersandar pada bahu sebelah kiri kakaknya itu.
"Aku juga." Lily segera merapatkan diri disisi brangkar Rachel. Berdiri tepat di samping kanan Rachel, dibelakang kepala Risya.
"Satu... Dua... Tiga..."
Ceklek... Ceklek.. Ceklek...
Rachel dan Lily bergantian mengambil beberapa pose mereka berempat. Lalu masing-masing mengunggahnya di media sosial.
"Puas kalian semua??" Bryan mendengus kesal lalu turun dari brankar. Ketiga perempuan itu terus saja tertawa melihatnya. "Untung saja kak Raya sudah pulang. Kalau tidak bisa malu aku kak..." Lanjutnya masih mengguman tidak jelas sembari berjalan masuk ke toilet.
"JANGAN DIHAPUS...!" Teriak Lily.
"BODO...!!" Balas Bryan sama berteriaknya dari dalam toilet. Kembali ketiga perempuan itu cekikikan bersama-sama.
"Ris, idemu gila juga. Baru kali ini loh Bryan bisa dikerjain habis-habisan seperti itu." Ucap Rachel mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu banyak tertawa.
"Emang yah kalau ada Risya pasti bakalan Ramai." Imbuh Lily. "Besok-besok nginap lagi yah, biar tidak sepi."
"Sekalian aja yah Risya pindahan...bawa kompor, panci, sama penggorengan." Celetuk Risya dengan menyengir manja.
"Iihh...gemess deh..." Lily mencubit gemas pipi Risya. "Risya boleh bawa kamu pulang ke London gak? Pengen bungkus kamu jadi oleh-oleh buat Granny."
"Ihh, kak Lily... Emang Risya kucing..." Ucapnya dengan mengkerutkan kedua bibirnya dan mengusap pipinya bekas cubitan Lily.
"Nah, kalau begitu semakin mirip kucing malah..." Ujar Rachel menggoda Risya. Risya semakin manyun dibuatnya. "Tapi kucing yang imut..." Imbuhnya yang membuat Risya akhirnya tertawa kecil hingga gigi gingsulnya terlihat.
"Sudah-sudah, kalian istirahat sana. Kak Rachel juga sudah ngantuk nih." Ujar Rachel dengan menguap pelan, menahan kantuknya sembari membaringkan tubuhnya yang masih terasa nyeri di beberapa bagian yang terluka memar.
"Iya kak Rachel." Ujar Lily, membantu memperbaiki bantal kakak sepupunya. Sementara Risya dengan lincahnya menarik selimut dan membalutkannya dari ujung kaki Rachel hingga ke dada.
"Makasih..." Ucap Rachel sesaat sebelum memejamkan matanya yang tiba-tiba terasa berat.
"Sama-sama Kak..." Ujar Lily dan Risya bersamaan.
Lily segera mematikan lampu dan menyisakan satu lampu kecil yang berada di depan pintu masuk, hingga ruangan itu kini terlihat remang-remang. Kemudian bersama Risya menarik kasur tambahan dari bawah brangkar Rachel untuk digunakannya.
"Bryan, bisa bersihinnya?" Tanya Lily setengah mengintip ke dalam toilet karena Bryan yang tak kunjung keluar dari dalam sana.
Dengan wajah kusut, Bryan keluar dari toilet itu. "Ini bahannya waterproof yah Kak? Kok gak bisa hilang?" Keluhnya sembari menggosok pipinya yang sudah memerah.
"Duduk sini." Menarik tangan Bryan untuk duduk pada kasur lantai. "Ris, tolong ambil tas kecil kak Lily di rak itu." Pintanya. Risya segera mengambil benda yang Lily maksud lalu menyerahkan pada lily dan ikut duduk di samping Bryan.
Lily segera membersihkan wajah Bryan sementara Risya membantu membuka ikatan rambut yang tadi di buatnya.
"Kak Rachel udah tidur?" Tanya Bryan setengah berbisik sembari mengamati kakaknya yang berbaring memunggungi mereka bertiga.
"Iyah..." Jawab Lily. "Kenapa?"
"Ah tidak apa-apa." Ucap Bryan dengan mengerjapkan matanya.
"Kamu pasrah begini untuk menghiburnya kan?" Tanya Lily lagi.
"Hmmm..." Jawab Bryan singkat. "Ris, kamu masih bisa gak nginap menemani kak Rachel? Aku tidak tahan melihatnya terus menangis. Setidaknya kalau kamu ada dia bisa melupakan kesedihannya."
"Kak Bry izinin Risya aja sama kakak Rey. Risya sih mau-mau saja, senang malah." Ucapnya dengan tangan yang cekatan menarik karet-karet dari rambut Bryan.
"Bukannya kamu yang gak mau jauh-jauh sama Risya?" Goda Lily menarik-narik pipi sepupunya itu sambil menaik turunkan alisnya.
"Ih, apa sih.." Elaknya tapi sedikit tersipu malu.
Lily hanya menahan senyumnya sembari menyelesaikan membersihkan wajah tampan di hadapannya itu.
"Nah, sudah bersih." Lily bangkit dan menyimpan kembali peralatan make-up nya. "Risya udah ngantuk belum?"
"Belum sih kak..."
"Nonton yuk..." Ajak Lily sembari meraih macbook Bryan.
"Eh, aku mau kerja tugas."
"Besok saja kerja tugasnya, nanti aku bantu ngetiknya." Ujar Lily membawa macbook itu ke atas kasur, memasukkan flashdisk-nya dan memutar drama Korea.
"Kak Lily senang drakor juga?" Tanya Risya.
"Yah lumayan sih, apalagi kalau aktornya Lee Min Ho."
"Kyak... Oppa Min Ho, Risya juga suka."
"Dasar... Apa sih yang cewek suka dari laki-laki cantik begitu?"
Satu pukulan mendarat di punggung Bryan, diikuti tatapan tajam dari Risya dan Lily. Bryan kembali mendengus kesal dan akhirnya ikut nonton dengan terpaksa.
"Lah tadi dia kan sudah keluar, kenapa ada muncul di sana lagi?" Tanya Bryan dengan wajah serius memperhatikan adegan drama itu.
"Itu orang yang berbeda, Bryan!" Ucap Lily, mengetok kepala Bryan.
Bryan menggaruk pelipisnya bingung. Dimatanya semua pemerannya memiliki wajah yang sama. Sulit baginya membedakan wajah yang satu dengan yang lainnya.
"Loh, bukannya yang itu pacarnya gadis yang tadi yah? Kenapa sekarang malah dengan ini? Mereka selingkuh yah?" Tanya Bryan terheran-heran.
"Iihhh, kak Bry...! Dibilangin ini orang yang berbeda. Kalau gak ngerti, nonton dengan tenang aja bisa gak?" Ketus Risya sembari mendorong bahu Bryan.
"Tau nih, Bryan... Ganggu aja. Tidur sana!" Imbuh Lily sembari menepuk-nepuk pundak Bryan.
Saat ini Bryan duduk berdampingan bersama Risya di atas kasur lantai dan bersandar pada sofa dimana Lily setengah berbaring di atas sofa itu. Tiga pasang mata itu menatap lurus ke depan dimana macbook diletakkannya di tengah-tengah kasur dengan beberapa buku pelajaran Bryan yang menjadi alasnya agar laptop itu sedikit tinggi.
Bryan akhirnya memilih diam dan ikut menonton walau ia sama sekali tak mengerti akan apa yang di tontonnya. Hingga sampai pada adegan dimana pemerennya melakukan adegan dewasa, sontak Bryan menarik kepala Risya dan menutup matanya.
"Kak Bry, apa sih. Kenapa mata Risya ditutup?"
"Astaga, kamu belum cukup umur. Kak Lily matikan cepat. Bukan tontonan anak-anak itu. Skip, cepat skip adegannya."
"Iya, iya..." Lily bangkit dan menskip adegan tadi, lalu kembali rebahan menyamping di sofa.
"Udah, lepas kak Bry." Risya menepuk tangan Bryan yang masih menutup matanya.
"Iya.. Iya..." Melepaskan tangannya pada mata Risya.
Kembali ketiganya serius menonton drama dari macbook itu, sesekali Bryan menskip setiap adegan yang mengarah ke adegan dewasa, bahkan ketika akan ada adegan kecupan bibir saja, Bryan dengan cepat menskip nya. Membuat Lily mendengus kesal.
Tiga episode telah mereka tonton, hingga tanpa sadar Risya sudah tertidur. Bryan baru menyadarinya saat kepala Risya terjatuh di pundaknya.
"Yah, nih bocah tidur kak Lily. Nonton nya masih lanjut?"
"Iya tanggung."
Bryan pun memperbaiki posisi kepala Risya di pundaknya dan akhirnya kembali ikut menonton dengan serius. Karena Risya sudah tidur maka Bryan tak lagi menskip semua adegan dewasa yang ada, bahkan karena penasaran, Lily memutar ulang adegan yang tadi dilewatkannya. Dimana terdapat adegan ranjang yang membuat Bryan panas dingin melihatnya. Bryan mengalihkan pandangannya ke samping karena merasa tak siap melihat adegan dewasa itu. Hingga matanya kini menyapu keseluruhan wajah Risya yang tertidur lelap disampingnya.
Bryan mematung di posisinya, menatap lekat wajah yang begitu manis dan menggemaskan. Seakan mengabsen tiap inchi wajah gadis beliau itu. Matanya tak berkedip sedikitpun. Entah mendapat bisikan dari mana, perlahan-lahan wajahnya mendekat ke wajah gadis itu dengan mata yang berfokus pada bibir merekah berwarna merah muda yang seakan-akan memanggilnya sedari tadi. Tanpa menghiraukan sekitarnya, Bryan terus saja memajukan bibirnya untuk menempel pada bibir yang setengah terbuka itu. Hingga saat bibirnya dan bibir Risya hampir bersentuhan,
'PLAK'. . .
Lily melayangkan pukulannya tepat di kepala belakang Bryan. Membuat pemuda itu terkejut setengah mati sekaligus tersadar akan apa yang baru saja akan dilakukannya. Risya hanya menggeliat pelan namun tetap terlelap saat ada pergerakan dari Bryan.
Buru-buru Bryan mengusap kepalanya dan melirik kesal pada kakak sepupunya itu.
"Apa? Mau marah? Ku lapor sama aunty nanti. Bisa-bisanya mau ambil kesempatan seperti itu."
Bryan hanya mendengus, tak berani membela diri. Karena memang ia kedapatan di depan mata kakak sepupunya itu. Bryan lalu mengangkat kepala Risya dari pundaknya kemudian membaringkan gadis itu ke kasur dengan perlahan.
"Bryan, kamu itu sebenarnya suka sama siapa? Raya atau Risya? Jangan dua-duanya mau di miliki semua." Ujar Lily menepuk-nepuk pundak Bryan saat pemuda itu kembali bersandar di sofa.
"Entahlah kak. Aku sukanya sama kak Raya, tapi aku merasa kak Raya hanya menjadikanku tameng dari kak Rey, kakak Risya."
"Maksudnya?"
"Sepertinya kak Raya juga suka sama kak Rey, entahlah... Aku merasanya seperti itu. Kak Raya jadi pacarku hanya untuk memanas-manasi Rey."
"Mereka dulunya ada hubungan yah?"
"Aku juga kurang tahu sih, tapi katanya begitu."
"Terus sama Risya, kamu ada rasa?"
Bryan terdiam beberapa saat, menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Aku juga gak tahu kak... I just feel comfortable with her, she's funny...But she's still little girl..."
(Aku merasa nyaman dengannya. Dia lucu. Tapi dia masih gadis kecil)
"Bryan... Bryan... Kamu sudah terjebak.." Ujar Lily menahan tawanya, takut Risya dan Rachel terbangun. "Kamu terjebak diantara wanita dewasa dan gadis kecil."
Bryan terdiam, tak merespon ledekan Lily karena memang benar adanya.
"Tapi kalau menurutku sih.., kamu lebih cocok dengan Risya. Kalau bersama dia kamu jadi dirimu sendiri. Kalau sama Raya, kulihat kamu jaga image terus. Umur kalian juga terlalu jauh. Bahkan lebih tua dariku kan? Temanku saja dulu kamu tolak karena katamu terlalu tua. Nah sekarang malah dapat yang lebih tua. Kalau Risya sekarang memang masih kecil, tapi dua tiga tahun kedepan, pasti kamu bakal pangling melihatnya. Sebelum dia dewasa dan mengenal cinta diluar sana, mending kamu tangkap dia dari sekarang."
Bryan terkekeh pelan. "Kucing kali ditangkap kak."
"Kucing imut..." Ucap Lily setengah terkekeh.
"Udah ah kak, aku mau kerja tugasku dulu." Meraih macbook-nya dan mematikan drama yang sedari tadi malah menonton mereka mengobrol.
"Iya, aku juga dah ngantuk." Ucap Lily lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke sandaran sofa.
Bryan lalu berkutat dengan macbook-nya, menyelesaikan beberapa tugas-tugasnya hingga beberapa jam pun berlalu. Mata Bryan mulai lelah dan berat. Ia akhirnya mematikan macbook-nya dan berniat untuk tidur. Namun Bryan malah berdiri tertegun di antara Lily dan Risya. Tadinya dia pikir dia yang akan tidur di sofa dan Lily bersama Risya di kasur tambahan. Tapi nyatanya Lily sudah tidur disofa dan tak mungkin kan Bryan malah tidur bersama Risya di kasur? Bisa-bisa Bryan kembali khilaf mencium gadis itu.
Bryan berdecak kesal, dan akhirnya berbaring di lantai dengan ujung kasur sebagai bantalnya. Baru akan tertidur,
BUK'
Tendangan dari kaki kecil mendarat sempurna di wajahnya. Dengan terkejut Bryan menghempas kaki itu dengan kasar. Bryan lalu berpindah ke bagian tengah pinggiran kasur. Baru beberapa menit memejamkan mata kembali sebuah tangan mendarat mulus di pipinya. Kembali Bryan menghempas tangan kecil nan mulus itu. Tak cukup sekali, tangan Risya bahkan berkali-kali menepuk wajahnya. Membuat Bryan akhirnya pindah ke bagian atas pinggiran kasur itu, tepat di samping kepala Risya. Bryan pikir sekarang sudah aman dan ia sudah bisa tertidur. Tapi beberapa menit kemudian saat dia akan betul-betul terlelap, Bryan merasakan sesuatu yang kenyal dan sedikit basah menempel di pipinya. Bryan membuka mata dan terkejut bukan main mendapati wajah cantik Risya menempel di wajahnya. Karena terkejut, Bryan buru-buru bangun tanpa melihat sekitarnya hingga kepalanya terpentok besi penyangga brankar Rachel dengan keras.
"AWWW....!!" Pekiknya, meringis menahan sakit dan mengusap-usap kepalanya. Tangan satunya terkepal di udara seakan-akan bersiap meninju gadis belia yang terlelap di depannya itu.
"Bryan?? Kenapa?" Tegur Rachel yang melihat aksi adiknya itu. Ia terbangun karena merasakan brankarnya sedikit bergoyang akibat dihantam sesuatu.
"Ini kak, Bryan tak punya tempat untuk tidur..." Keluhnya seperti seorang anak kecil, menunjuk Lily dan Risya bergantian.
Rachel tertawa kecil, "Sini tidur di sampingku."
"Sempit kak."
"Terus mau tidur dimana? Masa mau di depan toilet itu? Sudah, kemari. Temani kakak tidur." Bergeser sedikit kesamping dan membuka selimutnya.
Bryan sejenak berfikir lalu akhirnya bangkit dan masuk ke dalam selimut bersama kakaknya.
"Bryan, kakak peluk yah?" Ucap Rachel meminta izin, bagaimanapun adiknya itu sudah dewasa.
"Kakak rindu dipeluk kak Vir?"
Rachel hanya mengangguk menahan tangisnya.
Bryan mengusap lembut sudut mata kakaknya yang berair lalu memeluknya. "Ingat aku bukan kak Vir, jadi kak Rachel jangan macam-macam..." Ucap Bryan setengah meledek sang kakak.
"Iyah.. Iyahh... Aku mengerti..."
"Sudah sekarang kak Rachel kembali tidur. Mimpikan kak Vir sepuasnya." Ucapnya sembari membelai dengan lembut rambut panjang kakaknya itu. Bryan dapat merasakan kalau kakaknya itu diam-diam menangis dalam pelukannya. Namun ia memilih berpura-pura tak tahu dan semakin merapatkan pelukannya itu.
Bersambung...