
Karena keadaan Rachel yang tidak bergairah dan terlihat kelelahan, Mahavir memutuskan untuk pulang lebih dulu bersama Rachel. Bryan dan Risya terpaksa masih tinggal di Restoran untuk melanjutkan makan malam mereka, karena Mahavir sudah terlanjur memesan beberapa hidangan penutup dan merasa sayang bila ditinggal begitu saja.
Sepanjang perjalanan pulang pun Rachel hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya ke kaca jendela mobil, enggan bersitatap dengan Mahavir. Bahkan saat Mahavir menggenggam tangannya, Rachel tak merespon seperti biasanya. Telapak tangan wanita itu terasa dingin dan kaku. Jari-jemari yang putih dan jenjang itu pun hanya pasrah berada dalam tautan jari-jari Mahavir.
Mahavir hanya bisa menghela nafas panjang dengan tangan satunya yang meremas kuat stir mobil. Sesekali ekor matanya melirik Rachel yang bahkan tak bergeming dengan posisinya sejak meninggalkan Restoran tadi hingga kini tiba di private park basement penthouse mereka.
Begitu turun dari mobil dan memasuki lift, Mahavir pun kembali menggenggam tangan rapuh yang semakin dingin meresponnya.
Hening, tak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka berdua. Hanya Mahavir yang sesekali menoleh mengamati keadaan wanita yang berdiri tepat disampingnya, hingga lift sampai di lantai tujuan dan mereka masuk ke unit penthouse mereka.
"Aku sangat lelah, aku mau mandi dan langsung istirahat." Rachel berucap pelan lalu melepaskan genggaman tangannya dan mempercepat langkahnya menaiki anak tangga dan langsung masuk ke dalam kamar. Mahavir hanya mengangguk pelan sambil memandangi punggung Rachel menjauh.
Kembali Mahavir menghela nafas panjang, melangkahkan kakinya ke sofa panjang yang ada diruang keluarga kemudian merebahkan dirinya di sofa putih itu diikuti tangan kanannya yang terangkat menutupi matanya. Hingga akhirnya ia tertidur di sana dan tidak menyadari kedatangan Bryan dan Risya.
"Kak Bry, itu Kak Vir kenapa tidur disitu?" Bisik Risya sambil menarik jaket Bryan saat kedua matanya menangkap sosok Mahavir terbaring di atas sofa.
Bryan mengikuti arah pandang Risya dan terkejut mendapati kakak iparnya untuk kedua kalinya tertidur di sofa.
"Mereka lagi berantem yah Kak? Soalnya tadi di toilet, Risya liat kak Rachel nangis."
"Yang betul?"
"Iya, sepertinya begitu karena mata kak Rachel terlihat basah dan sembab. Tapi Kak Rachel bilangnya kalau itu karena ngantuk dan kelelahan."
"Kamu naik duluan, aku mau membangunkan kak Vir dulu." Pinta Bryan yang langsung diangguki oleh Risya yang langsung segera naik ke lantai atas.
Bryan menghampiri Mahavir kemudian membangunkannya dengan perlahan.
"Eh, Bryan... Sudah pulang yah." Bangun dari tidurnya, lalu duduk dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Gimana dessert nya tadi? Enak?"
Bryan tak menjawab pertanyaan Mahavir, kedua matanya malah menatap Mahavir dengan intens.
"Kak Vir kenapa tertidur di sofa lagi?" Bryan bertanya dengan penuh kecurigaan. "Kalian baik-baik saja kan?" Lanjutnya lagi.
"Tentu saja, aku baik-baik saja dengan kakakmu."
"Lalu kenapa tidurnya disini?"
"Kamu betulan mau tahu alasannya?"
"Aku bertanya memang karena ingin tahu kak...!" Seru Bryan sambil mendengus kesal. "Jangan menyembunyikan apa-apa padaku kak, supaya aku bisa membantu kak Vir menangani wanita itu." Lanjutnya sambil menaikkan bola matanya ke atas seakan menunjuk keberadaan Rachel di lantai atas.
Mahavir tersenyum lalu menepuk bahu Bryan pelan. "Aku betulan tak ada masalah apa-apa dengan Rachel. Kakakmu itu sangat kelelahan, aku hanya tidak mau membuatnya semakin kelelahan."
"Maksudnya?" Bryan mengangkat kedua alisnya.
"Kamu tahukan hasrat laki-laki? Kakakmu itu selalu membangunkan hasratku setiap kali melihatnya. Kalau aku langsung mengikutinya, aku bisa-bisa kembali menerkamnya. Jadi aku transit di sini dulu sampai dia tertidur. Aku akan masuk ke kamar saat dia sudah tertidur." Ucap Mahavir beralasan membuat Bryan melongo.
Bryan mendelik kesal. "Astaga, apa pula yang kudengar ini." Menutup kedua telinganya lalu bangkit berdiri. "Kalian berdua sama-sama gila." Imbuhnya lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju tangga.
Mahavir terkekeh lalu kembali berucap setengah berteriak. "Nanti kamu juga akan merasakannya kalau sudah bersama orang yang kamu sayangi."
"Aku tak dengar...!" Seru Bryan, juga dengan setengah berteriak sambil berlari menaiki anak tangga.
Mahavir menyunggingkan senyumnya, lalu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna merilekskan otot lehernya, kemudian bangkit berdiri dan kembali ke kamar.
Saat masuk ke dalam kamar, dilihatnya Rachel sudah tertidur di balik selimut tebalnya sambil memunggunginya. Mahavir pun berjalan pelan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah itu ia menghampiri Rachel dan ikut masuk ke dalam selimut. Merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur yang masih kosong, dengan posisi menyamping menghadap punggung Rachel.
Selama beberapa saat, kedua matanya hanya menatap punggung Rachel yang polos karena wanita itu menggunakan gaun tidur dengan potongan yang terbuka bagian punggungnya. Hingga kemudian dengan perlahan-lahan ia mendekat dan menarik pinggang istrinya itu. Merapatkan punggung Rachel ke dalam dada bidangnya sambil menghirup aroma tubuh Rachel dengan dalam.
Aku tak tahu apa yang membuat hatimu gelisah...
Tapi apapun yang membuatmu gelisah, semoga tidak membuat perasaanmu goyah terhadapku...
Bisiknya dengan pelan di telinga Rachel. Mengelus lembut rambut wanita itu dan mengecup kepalanya beberapa kali lalu ikut memejamkan matanya. Tak lama kemudian, dengkuran halusnya pun terdengar.
Tanpa Mahavir sadari, Rachel yang kini berada dalam dekapannya sebenarnya belum tertidur. Ia masih mendengar apa yang Mahavir ucapkan dengan lirih tadi, dan itu membuat air matanya kembali lolos dari celah matanya.
Aku tak tahu Vir....
Aku tak tahu harus bersikap bagaimana kepadamu....
Semoga saja kecurigaan ku tidak terbukti...
Agar perasaan ku tidak akan pernah goyah...
Ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya agar isak tangisnya tak pecah. Kedua matanya ia paksakan terpejam tapi air matanya semakin memaksa dan menerobos keluar hingga berjatuhan membasahi sebagian rambut dan bantalnya.
Namun dalam isak tangisnya, tangannya masih bergerak menyentuh lengan Mahavir yang melingkar di pinggangnya. Pelan-pelan ia menarik lengan itu, merapatkannya ke dalam dadanya dan memeluknya dengan erat.
Maafkan aku bila tanpa sengaja aku selalu menyakiti perasaanmu...
Dan maafkan aku, karena aku harus mencurigaimu saat ini...
Batin Rachel berucap lirih dan akhirnya ia pun tertidur dengan mata sembabnya.
* * *
Keesokan harinya, Mahavir terbangun tanpa Rachel di sisinya. Dengan panik ia segera turun dari tempat tidur dan menyusuri tiap sudut kamarnya yang luas mencari keberadaan sang istri.
"Sayang..." Panggilnya sembari berjalan ke walk in closet.
Tak menemukan Rachel disana, ia melangkah ke depan pintu kamar mandi dan mengetuk pelan dengan telinga yang menempel pada daun pintu. Tak ada suara dari dalam kamar mandi membuat Mahavir membuka pintu, dan Rachel memang tak ada di dalam sana. Kembali Mahavir melanjutkan langkahnya menuju balkon kamar, namun tak jua ia temukan istrinya disana.
Mahavir kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjangnya. Kedua tangannya terangkat dengan siku yang menumpu di kedua pahanya, mengusap wajahnya dengan kasar sambil memijat-mijat pelipisnya.
Saat akan meraih ponselnya untuk menghubungi Rachel, pandangannya langsung tertuju pada secarik kertas memo kecil dengan tulisan tangan Rachel yang terletak di atas nakas di samping ponselnya. Mahavir meraih kertas memo itu dan membacanya.
Vir aku ke kantor dulu, ada beberapa desain pesanan khusus yang harus aku berikan ke bagian produksi. Aku akan menyusul siang nanti ke acara Risya...
Sarapanmu sudah aku siapkan di meja, jangan lupa sarapan yah.... Love U.
Senyum tipis terbingkai di wajah Mahavir saat membaca kata penutup dari memo itu. Ia pun mencoba menelepon nomor Rachel, namun nomor yang di hubunginya tidak aktif.
Dengan cepat Mahavir menghubungi seseorang yang selama ini selalu mengawal Rachel dari jauh. Hatinya baru menjadi tenang setelah mendengar penuturan dari orang itu kalau Rachel saat ini memang sudah berada di kantornya sejak pagi-pagi buta tadi.
Mahavir menghela nafas lega lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Ia kemudian bergegas mandi dan berpakaian dengan rapi.
Di lantai bawah, tepatnya di meja makan sudah ada Bryan dan Risya yang juga sudah berpenampilan rapi.
"Kak Vir, tumben bangunnya telat." Risya menyapa sembari memakan roti gandum dan telur mata sapinya.
Mahavir hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum ramah sembari menarik kursi dan mendudukinya. "Risya cantik sekali, mau kemana?"
"Iya cantik, Kak Vir pasti datang bersama kak Rachel. Jam 1 siang ini kan?"
"Yup, yup... Risya tunggu yah kak..." Ucapnya masih dengan tersenyum-senyum memandangi Mahavir dengan terkagum-kagum.
"Hei, sarapanmu tidak akan habis kalau hanya di senyumin." Tukas Bryan sembari menyenggol pundak Risya. "Makan cepat! Nanti telat, suruh aku ngebut lagi."
Risya hanya mendelik dan mengerucutkan bibirnya. Melirik tajam pada Bryan yang duduk disampingnya.
Bryan hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada Mahavir. "Tumben bukan kak Vir yang antar kak Rachel tadi. Kenapa?"
"Oh, tadi dia buru-buru. Ada kerjaannya yang mendesak. Kebetulan Merry lewat sini, jadi Rachel ikut di Van-nya."
"Ohh..." Ucap Bryan dengan membulatkan mulutnya.
"Bryan kamu nungguin Risya disanakan?"
"Aku ngantar Risya ke hotel dulu kak, nanti kalau mau ke Hall baru aku jemput lagi."
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Mau ke rumah Granny, mau ngambil buku-buku yang sudah aku beli, sekalian pamitan mau masuk asrama."
"Memangnya masih sempat? Kamu nungguin Risya saja dulu sampai selesai. Nanti kita ketemu di Hall. Kamu ke rumah Granny nanti saja begitu acara Risya selesai. Siapa tahu Rachel juga ingin ke rumah Granny. Sekalian bawa Risya berkenalan dengan Granny, Anna dan Lily."
"Kak Bry punya Granny disini?" Tanya Risya menyela Mahavir.
"Iya Risya, kan daddy Bryan orang sini."
"Oh, jadi Ayah kak Bry orang Inggris? Berarti bule yah?" Mengangkat kedua alisnya sambil memandangi keseluruhan wajah Bryan. "Pantas wajah kakak ganteng begini...." Ucapnya dengan spontan, membuat Bryan salah tingkah dan malah melototkan matanya pada Risya.
"Gak deh kak, nanti Granny jantungan ketemu sama bocah bawel kayak gini. Apalagi kak Anna dan kak Lily yang super kepo."
'PAKK...'
Risya menepuk punggung Bryan dengan keras, membuat Bryan tersedak dengan makanan yang ada dalam mulutnya.
"Risya... Sakit tahu!!"
"Siapa suruh mengatai Risya bawel." Melirik kesal pada Bryan. "Risya kan pengen juga lihat sosok seorang nenek...." Menunduk lalu meletakkan garpunya ke atas piring.
"Tuh, Risya nya ngambek." Ucap Mahavir sambil menatap Bryan seakan menyuruhnya meminta maaf.
"Sudah, jangan ngambek. Kayak tidak punya nenek saja." Ujar Bryan masih tak mau mengalah.
Risya semakin menunduk. "Risya memang udah gak punya nenek. Jangankan nenek, ibu pun Risya sudah gak punya."
"Hah??" Bryan menaikkan kedua alisnya sambil membalikkan tubuhnya menghadap Risya.
"Ibu Risya meninggal saat melahirkan Risya, jadi Risya hanya mengenal mereka dari foto yang disimpan oleh kakak-kakak buat Risya." Urainya dengan mata berkaca-kaca, membuat Mahavir dan Bryan tertegun sejenak. Ada perasaan bersalah dan perasaan terenyuh yang Bryan rasakan setelah mendengar penuturan Risya.
"Sorry, sorry Ris... Aku gak bermaksud...." Menghentikan ucapannya lalu memandangi Mahavir sambil menggaruk kepalanya.
Mahavir hanya menggerak-gerakkan bola mata dan alisnya, seolah meminta Bryan untuk menenangkan Risya.
Risya mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut. "Tak apa kak Bry. Kak Bry kan gak tahu. Tapi Risya cukup bersyukur kok kak, karena selama ini Risya memiliki kakak-kakak yang sangat baik dan perhatian dengan Risya."
Bryan mendekatkan dirinya pada Risya, lalu mengelus lembut rambut belakang Risya. "Baiklah sebentar kita ketemu dengan Granny yah? Ada dua kakak perempuanku juga disana. Kalau kamu mau nanti aku kenalin dengan mommy ku. Mommy ku orangnya sangat baik, kamu juga bisa menjadikannya seperti ibumu sendiri."
"Mungkin ibu mertua maksudnya..." Ucap Mahavir sambil menahan senyumnya karena Bryan langsung menghentak kakinya di bawah meja.
"Sudah, lanjut makannya ya Ris..." Menarik garpu di atas piring Risya lalu meletakkannya di dalam genggaman jari-jari Risya.
"Makasih kak Bry." Tersenyum lalu kembali menyantap sarapannya yang menunya ala English breakfast.
Setelah sarapan yang sedikit terlambat itu, ketiganya langsung keluar penthouse. Mengendarai mobil yang berbeda dengan tujuan yang berbeda.
Bryan dan Risya langsung menuju hotel yang letaknya tak jauh dari Queen Elizabeth Hall. Sementara Mahavir melajukan kendaraan menuju Oxford Street dimana kantor sekaligus showroom butik Rachel berada.
Setelah berbasa-basi dengan Merry di lobby depan, Mahavir langsung masuk ke ruangan Rachel dan menemukan istrinya itu sedang tertidur di sofa tamunya.
Mahavir melangkahkan kakinya dengan perlahan menghampiri sofa, lalu duduk bersimpuh di samping sofa tersebut. Sejenak ia hanya terdiam sambil mengamati garis-garis wajah cantik istrinya itu yang terlihat sedikit pucat selama beberapa saat.
Hembusan nafas Mahavir yang terasa di permukaan kulit wajah Rachel membuatnya mengernyit dan perlahan membuka mata. Namun belum sempat kedua matanya terbuka dengan sempurna, Rachel langsung merasakan bibirnya yang dilumat dengan penuh kelembutan.
Rachel sempat terbuai, namun beberapa detik kemudian ia tersadar dan mendorong wajah Mahavir lalu mengangkat tubuhnya terbangun dan duduk di sofa itu. "Apa yang kamu lakukan disini Vir?" Tanyanya.
"Mencarimu sayang..." Bangkit dari posisi bersimpuhnya dipinggir sofa, lalu duduk di samping Rachel dan menjatuhkan dagunya di bahu istrinya itu.
Rachel menggerakkan bahunya agar Mahavir menjauh, namun Mahavir malah semakin menyusupkan wajahnya ke leher Rachel diikuti dengan kedua tangannya yang menelusup ke pinggangnya dan memeluk perut rampingnya.
"Kenapa tidak membangunkanku dan malah pergi sendiri dengan diam-diam, Hmmm??" Bisiknya lalu menciumi leher Rachel.
"Vir, ini kantor nanti dilihat orang." Ucapnya sambil berusaha melepaskan pelukan Mahavir.
"Mereka tidak akan masuk, aku sudah menyuruh mereka untuk tidak mengganggu selama aku disini."
"Tapi aku sedang banyak kerjaan." Menarik paksa tangan Mahavir agar terlepas dari pinggangnya dan langsung bangkit berdiri.
"Sayang..." Menarik tangan Rachel dan menatapnya seolah meminta penjelasan.
"Aku sibuk." Ucapnya dengan dingin.
Mahavir menghela nafas, "Baiklah, selesaikan pekerjaanmu. Aku akan menunggumu."
"Aku bilang sedang banyak pekerjaan."
"Iya, aku akan menunggumu hingga benar-benar selesai."
"Tapi ini bakalan lama. Kamu akan lelah menungguku."
"Kamu tidak lupa kan kalau kita akan ke pertunjukan Risya?"
Rachel mengatupkan kedua bibirnya lalu mengalihkan pandangannya ke meja kerjanya. Terdiam sesaat lalu berucap. "Aku tidak lupa. Aku akan menyusul sebentar."
"Maka biarkan aku menunggumu. Aku tak mengizinkanmu menyusul sendiri ke sana." Mengangkat tangan kirinya dan menengok arlojinya. "Kurasa menunggumu selama tiga jam kedepan tidak akan membuatku lelah. Aku juga akan menyelesaikan pekerjaanku disini sambil menunggumu."
"Terserah" Ucapnya singkat lalu melepaskan tangan Mahavir dan berjalan ke meja kerjanya dan duduk di kursi kerja yang ada di balik meja kerjanya tersebut. Menyibukkan dirinya dengan beberapa kertas gambar dan potongan-potongan bahan.
Mahavir mengusap wajahnya lalu mengeluarkan ponselnya dan memeriksa laporan dari beberapa General Manager hotel-hotel miliknya, sambil sesekali ekor matanya mengamati kegiatan Rachel di meja kerjanya.
* * *