
Segera setelah Marry membuka pintu, Rachel yang tengah memandangi tabletnya refleks mendongak dan melihat ke arah ambang pintu ruang kerjanya.
"Oh kalian. Ayo Masuk.. Masuk!" Meletakkan tabletnya ke atas meja lalu bangkit berdiri dari duduknya dan menghampiri keduanya. "Darimana mau kemana nih?"
Bryan melangkah masuk lalu duduk pada sofa yang tersedia, "Dari penthouse langsung kesini kak."
Risya tak menanggapi obrolan mereka, ia justru langsung meneruskan langkahnya ke sisi ruangan dimana patung manekin berdiri berderet-deret sambil memandang takjub pada busana-busana yang terbalut indah di tubuh manekin tersebut. Kedua tangannya sibuk mengelus-elus busana yang terpampang di hadapannya. "Wah keren, kak Rachel yang desain semua ini?"
"Iya, dibantu dengan tim yang lain." Jawab Rachel diiringi senyum ramahnya.
"Masih banyak kerjaan ya kak?" Tanya Bryan.
"Lumayan, kenapa?"
"Ini Risya mau ajak kak Rachel makan Burger."
Risya berbalik dan berdecak kesal. "Ihh kok kak Bry jual nama Risya sih!" Menghampiri Bryan, ikut duduk di sofa yang sama lalu membulatkan matanya menatap Bryan. "Kak Bry modus kak Rachel, pengen dibayarin."
Rachel mengangkat kedua alisnya terkejut kemudian terkekeh pelan. "Astaga, kamu gak punya duit Bryan?"
"Ada sih kak cuma sisa dikit, kemarin waktu sama kak lily kalap beli buku." Ujar Bryan, Menyengir malu sambil mengusap tengkuknya.
"Terus kemana buku yang dibeli?"
"Ketinggalan di rumah Granny, nanti aku ambil kalau sudah mau masuk kuliah."
"Oh, terus kartu yang Vir kasih memangnya kemana?"
"Ada sih, cuma gak enak kalau aku pakai terus." Menjeda dengan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, lalu kembali menyengir malu. "Lagipula aku butuh uang cash, buat naik Bus."
"Loh kok ajak Risya naik bus? Kenapa gak bawa mobil?" Rachel menatap heran pada Bryan.
"Oh, itu Risya yang minta kak Rachel. Risya yang mau rasakan naik Bus bertingkat." Jawab Risya mendahului Bryan
Rachel geleng-geleng kepala lalu bangkit dan mengambil dompetnya dari dalam tas tangannya yang berada di atas rak hias di belakang kursi kerjanya. Mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dengan mata uang poundsterling lalu memberikannya pada Bryan. "Cukup?"
Bryan tersenyum lebar. "Lebih dari cukup. Thanks my beautifull Sister." Ucapnya lalu memasukkan uang tersebut ke saku jaketnya.
Risya melirik sekilas lalu menyunggingkan seyum sinis. "Cowok ganteng tapi kere....!" Sindirnya
TUKK'...
Bryan menendang kasar kaki Risya yang menggunakan sneakers putih dengan motif Mickey mouse di bagian luarnya dengan kesal "Ini juga buat ajak kamu jalan bocah!"
PAKK'....
Tak mau kalah, Risya memukul bagian belakang kepala Bryan. "Tapi gak usah pakai nendang kaki Risya segala kak..."
Bryan mendengus lalu hendak membalas sekali lagi, namun Rachel langsung melerai.
"Sudah, kalau begini kalian seperti bocah SD yang berebut permen."
"Ini bocah ngeselin habis kak! Tadi saja telingaku hampir putus digigitnya." Keluh Bryan.
"Ihh ngadu!" Menaikkan sudut bibirnya dan menatap Bryan dengan tatapan mengejek. "Kak Bry duluan kak yang nendang Risya sampai jatuh dari tempat tidur."
"Astaga!" Menepuk keningnya dan menghela nafas. "Sudah ribut diluar sana, kakak mau lanjut kerja."
"Sorry kak!" Seru Bryan dan Risya serentak, membuat keduanya saling lirik kemudian saling buang muka.
Hening sejenak. Hingga kemudian Bryan kembali berucap. "Kak Rachel masih lama?"
"Sedikit lagi sih, mau nunggu?"
"Iya, Risya nungguin kak Rachel aja. Malas jalan berdua sama kak Bry." Jawab Risya cepat membuat Bryan hendak menghentakkan kembali kakinya menendang kaki Risya, tapi dengan lincah Risya berlari dan bersembunyi di punggung Rachel sambil menjulurkan lidahnya pada Bryan.
Rachel tertawa kecil. "Kayaknya kalian ini berjodoh."
"Ihh, Amit-amit kak!" Ucap Risya dan Bryan serempak untuk kedua kalinya.
"Tuh, kan. Kompaknya juga sama." Kembali Rachel terkekeh menahan tawa.
Bryan dan Risya terdiam tapi saling menatap kesal satu sama lain. Hingga kemudian Risya berpaling melihat kembali busana yang terpasang pada manekin.
"Kak Rachel, satu dress kakak ini harganya berapa?"
"Kenapa? Mau beli?" Tanya Rachel menggoda.
"Mana mampu Risya membelinya kak." Ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Kembali Rachel tersenyum lalu melangkah mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya dan menarik Risya mendekat padanya.
"Kak Rachel ngapain?" Mengernyitkan kedua alisnya saat Rachel mengangkat kedua tangannya dan dengan telatennya wanita cantik itu melingkarkan meteran pada punggung hingga dadanya lalu berpindah ke seluruh tubuh bagian atasnya.
"Risya suka yang model bagaimana?" Tanya Rachel setelah mengukur keseluruhan tubuh Risya lalu mengambil buku skech nya dan mencoret-coret disana.
Risya tampak berfikir sejenak, "Risya suka yang simple tapi girly kak. Dulu sih Risya suka dress-dress yang mengembang kayak princess-princess gitu. Tapi sekarang kan Risya sudah gede, jadi gak cocok lagi pakai dress yang seperti itu."
"Siapa bilang, Risya masih cocok kok pakai model apapun. Risya kan manis dan imut, malah lebih cantik dari princess-princess Disney deh..." Ujar Rachel memuji gadis manis yang kini seakan merasakan kepalanya terbang ke awan-awan.
"Masa sih kak...? Ihh, Risya jadi pengen terbang nih dengar kak Rachel memuji Risya. Kak Rachel juga cantiknya gak kalah dari Princess. Oh iya, kak Rachel ternyata suka juga yah dengan Princess?"
"Kok tahu?"
"Iyalah tahu, Risya kan lihat Saputan....
mmmmppp" Ucapan Risya terhenti karena Bryan tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang dan menariknya hingga tubuh mungilnya tenggelam dalam pelukan Bryan.
"Ehh Bryan?" Mencoba menarik Risya
"Maaf kak Rachel, tadi Bryan lupa mau mampir ke suatu tempat. Bryan sama Risya duluan yah, soalnya takut tempatnya nanti tutup." Ujar Bryan masih dengan membekap mulut ember Risya sambil menyeret tubuh Risya yang memberontak -berontak dalam pelukannya keluar dari ruangan kerja Rachel.
"Tunggu dulu, ini selesaikan dulu...." Mencoba mengejar Bryan tapi suara dari dering ponselnya yang tergeletak di atas meja mengurungkan langkahnya.
Rachel menghela nafas pelan melihat dua bocah yang sudah menghilang dari pandangannya, lalu kembali masuk kedalam ruang kerjanya dan menempati kursi kerjanya. Tangan kanannya terulur merai ponselnya yang masih berdering. Senyumnya lagi-lagi terkembang sesaat sebelum mengangkat panggilan telepon itu.
"Aku kan sudah bilang kalau hari ini aku sibuk, nelfonnya kalau sudah pulang saja!" Ucap Rachel gemas dengan laki-laki diujung sana.
"Sayang... Tapi aku rindunya sekarang." Ucapnya dengan suara memelas.
Rachel menggelengkan kepalanya. "Astaga Vir, ini baru dua hari. Kemarin juga kamu nelfonnya berkali-kali."
"Kalau bisa, aku malah mau nelfon kamu tiap detik sayang...."
"Tau ah! Udah yah aku tutup dulu."
"Tunggu... Tunggu."
"Apalagi? Kerjaanku masih banyak Vir...!"
"Kalau begitu katakan kamu merindukanku."
Rachel terdiam, memutar bola matanya jengah. Kemudian memijat-mijat pangkal hidungnya.
"Rachel?.... Rachel?.... Kamu masih ada disanakan?"
"Iyahh..."
"Lalu kenapa diam?"
"Aku hanya pusing dengan tingkah lakumu. Tidak puas apa dengan memaksaku mengucapkan aku mencintaimu?"
Hening sejenak selama beberapa detik hingga kemudian terdengar suara helaan nafas panjang. "Jadi kamu mengucapkan itu karena terpaksa?"
"Astaga Vir, maksudku bukan seperti itu..." Mendesah pelan lalu kembali memijat pangkal hidung mancungnya.
"Kalau begitu katakan kalau kamu juga merindukanku."
"Vir.. Jangan lebay deh."
"Astaga.. Kenapa susah sekali sih...kamu cukup katakan aku merindukanmu sayang. Ayolah tidak sulit kan...!"
"Penting yah aku katakan itu?"
"Penting mana aku katakan itu atau honeymoon nanti?"
"Maksudnya?"
"Yah kalau kamu memaksa aku katakan itu, aku batalkan honeymoon kita."
"Astaga Rachel sayang..." Tersirat nada kekecewaan dalam suaranya, kemudian mendesah pelan. "Baiklah aku menyerah, kamu menang. Biar aku saja yang seperti orang gila merindukanmu disini." Lanjutnya dengan nada suara penuh kekesalan.
Rachel tertawa kecil. "Marah yah?"
Terdengar suara kekehan disana lalu kembali berucap dengan lembutnya. "Aku tak akan bisa marah padamu sayang. Baiklah lanjutkan pekerjaanmu, jangan terlalu memforsir diri, dan jangan lupa makan.
"Iya, iya."
"Miss you... Mmm...." Belum sempat Mahavir menyelesaikan kiss bye nya, Rachel sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Membuat laki-laki yang terduduk di kursi kebesarannya nan jauh disana berdecak kesal sambil mengacak-acak rambutnya, frustasi.
Dengan kasar ia meletakkan ponselnya ke atas meja lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan kedua tangan terangkat di atas kepalanya.
"Kamu kenapa lagi tuan muda Alister?" Tanya seorang wanita cantik yang sedari tadi duduk manis memperhatikan Mahavir berbicara di telepon.
"Kalau sudah tahu jangan bertanya!" Seru Mahavir dengan kesalnya.
Wanita itu terkekeh memandangi Mahavir "Ck..ck..ck Aku kira setelah menikahinya, perjuangan mu sudah berakhir."
Mahavir mendesah pelan. "Entahlah.... Susah sekali menaklukkan hatinya."
"Mau dengar saran dariku?"
Melirik tajam ke arah wanita itu kemudian tertawa sinis. "Saran darimu? Kamu saja sampai sekarang belum menikah..."
"Astaga, jangan lihat statusku. Sebagai seorang wanita aku bisa memberimu saran."
"Apa itu?"
"Gini yah... Rachel itu tipe wanita yang angkuh dan gengsian. Dia akan selalu jual mahal. Semakin kamu berusaha menangkapnya dia akan semakin lari. Wanita seperti itu baru akan kalang kabut kalau mempunyai lawan sebanding."
"Maksudnya?"
"Astaga... Alister muda ini kenapa mendadak bego begini?" Menepuk keningnya dan berkacak pinggang. "Dia itu harus dibuat cemburu dulu baru dia akan menyadari perasaannya."
"Begitu yah?" Mengerutkan keningnya dan berfikir sejenak. "Tapi bagaimana caranya buat dia cemburu? Dengan siapa? Dia saja cantik begitu, tak ada tandingannya."
"Kamu tidak sadar?"
"Sadar apa?"
"Astaga Mahavir Alister, kenapa otakmu bisa buntu kalau memikirkan Rachel? Kamu tidak sadar dengan temanmu ini?" Menunjuk dirinya sendiri lalu berputar. "Kamu bisa memanfaatkan diriku, aku akan membantumu. Hitung-hitung membalas kebaikanmu selama ini."
"Ck.. Jangan menambah masalahku. Aku tidak mau Rachel berfikir macam-macam tentangku."
"Yah sudah kalau tidak mau. Dasar Bucin!!" Ejeknya lalu tertawa.
"Jangan menertawaiku, kamu sendiri sampai sekarang masih sendiri." Ejek Mahavir memandang sinis pada wanita cantik blesteran Indonesia-Inggris bernama Hanna Barbara itu.
"Kata menikah tak ada dalam kamusku, Aku hanya ingin mengejar karirku hingga di puncak kesuksesan."
"Iyah... Kejar sana sampai setinggi-tingginya. Suatu saat kamu akan menyesal saat tak ada orang yang menjadi tumpuan hidupmu."
"Jangan menyumpahiku."
"Itu kenyataan. Oh iya, kamu sudah perpanjangan kontrak sebagai model iklan hotel ini?"
"Sudah, Terima kasih yah. Aku tidak menyangka kamu menjadi pemegang saham terbesar hotel ini. Kalau bisa Honor ku di tambah lagi boleh yah?"
"Ckk kamu mau membuat hotel ini bangkrut?"
Hanna terkekeh pelan. "Sudah, ah.. Aku malas menemanimu berdebat." Meraih tas tangannya dan hendak keluar dari ruang kerja Mahavir.
"Mau kemana?"
"Sebentar lagi penerbanganku. Aku mau ke London, jangan lupa kalau aku sekarang brand ambassador Ch*nel, serta model utama majalah Mode. Kemungkinan besar aku akan bertemu istrimu disana. Sampai bertemu lagi di London Tuan Muda Alister." Ucapnya dengan nada mengejek sambil mengedipkan satu matanya lalu berjalan keluar ruangan dengan anggunnya.
Sepeninggal Hanna, Mahavir meraih ponselnya dengan cepat lalu menghubungi seseorang. Pada dering ke tiga, panggilan itupun terhubung dan memperdengarkan suara Bariton yang berat.
"Bagaimana?" Tanyanya diujung sana dengan nada suara yang tegas.
"Aku sudah memeriksa semua grafik keuangan Luxury hotel. Semuanya sudah clear. Perusahaan yang margin dengan hotel ini juga bersih. Kita bisa menjalankannya dengan aman."
"Bagus."
"Bagaimana dengan namanya? apa anda mau mengganti nama hotel ini?"
"Kalau soal namanya Ayah serahkan padamu. Terserah kamu mau memberikan nama apa, toh hotel itu sudah jadi milikmu." Menjeda sejenak lalu kembali berucap. "Asal namanya bukan Rachel hotel." Ucapnya diujung sana dengan sedikit tertawa sinis.
"Kalau begitu apa aku sudah bisa kembali ke London Presdir?"
"Selesaikan dulu semuanya."
Mahavir mendesah pelan. "Tapi Presdir...."
"Selesaikan dulu."
"Ayolah Yah... Biar Stuart yang melanjutkannya."
"Memangnya Stuart itu penerus Alister? Jangan malas, selesaikan semuanya dulu baru kamu boleh kembali."
"Tapi Yah...."
"Wanita itu takkan kemana-mana. Jangan jadi laki-laki lembek begitu. Dia akan semakin menginjakmu nanti. Buktikan bahwa kamu pantas bersanding dengannya."
"Baiklah..." Ucapnya dengan malas.
"Kamu pasti belum mengatakan padanya bukan?"
"Sepertinya aku tak akan pernah mengatakan yang sebenarnya padanya Ayah, aku sudah berjanji dengan keluarganya."
"Kamu mau menipunya selamanya?"
Mahavir terdiam, menghela nafas sesaat.
"Ayah tidak mau tahu, yang Ayah inginkan kamu bisa sadar siapa dirimu yang sebenarnya dan segera bersiap. Sebentar lagi aku akan memperkenalkanmu ke dunia sebagai penerusku. Jangan sampai gara-gara wanita itu mengetahui segalanya, membuatmu jatuh lalu membuat semua jadi berantakan."
"Iya, aku tahu. Ayah tidak perlu khawatir."
"Bagus. Ayah masih ada kerjaan, kamu selesaikan dulu semuanya disana. Kalau malam ini semuanya beres, kamu bisa pulang besok."
Mendengar kata 'Pulang', raut wajah Mahavir langsung cerah ceria. "Terima kasih Ayah. Eh, Presdir." Tukasnya dengan penuh semangat, lalu kemudian sambungan telepon itu terputus.
Selang beberapa menit, terdengar ketukan pintu..
Tok.. Tok... Tok..
"Yes, Come ini....."
(Ya, masuk)
"Monsieur, vous êtes attendu dans la salle de réunion." Ucap seorang laki-laki bertubuh tegap menggunakan setelan jas rapi yang merupakan salah satu kaki tangan James Alister dengan berbahasa Perancis.
(*Pak, Anda diharapkan ke ruang pertemuan.)
"Bon..." Balas Mahathir dengan juga berbahasa Perancis. Bangkit dari duduknya, meraih jas yang tersampir pada sandaran kursinya lalu memakainya dan melangkah dengan senyum terkembang penuh semangat menuju ruang pertemuan dimana para pemegang saham Luxury hotel berkumpul.
(*Baiklah)
Ayo selesaikan semuanya malam ini.....
Rachel i'm coming... Tunggu aku sayang....
* * * *