
Kesehatan Rachel kini telah pulih. Seiring waktu yang berjalan keadaannya sudah kembali seperti semula. Ia pun tersadar dengan prilakunya sebelumnya. Mungkin sebelumnya dia begitu sensitif karena memang faktor hormon kehamilannya, sebab saat ini ia sudah bisa mengendalikan dan meredam perasaan serta emosinya. Rasa sesak itu memang masih tersisa di bagian hati lainnya, hanya saja kini ia sudah bisa berdamai dengan hatinya itu.
Saat ini pun, ia sudah kembali beraktivitas di tempat kerjanya. Menyibukkan diri dengan pekerjaannya hingga larut malam.
TOKK... TOKK... TOKK...
Suara ketukan pintu membuat Rachel mengalihkan pandangannya dari layar tab. Rachel melengkungkan bibirnya membentuk senyuman simpul pada wanita berambut pirang yang baru masuk di ruangannya, lalu menarik beberapa kertas bergambar desain busana yang telah dibuatnya.
"Leave this to the production." (Serahkan ini ke bagian produksi) ucapnya sembari memberikan lembaran kertas yang langsung diterima Merry.
"Mrs. Rachel, your winter collection is selling well, do we need to produce more?" (Nyonya Rachel, koleksi musim dingin Anda laris manis, apakah kita perlu memproduksi lebih banyak?)
"No need. winter collections are only produced one per series. if too many are produced, people will think our brand is not exclusive." (Tidak perlu. koleksi musim dingin hanya diproduksi satu per seri. Jika terlalu banyak yang diproduksi, orang akan mengira brand kita tidak eksklusif.)
Merry mengangguk paham. Mengedarkan pandangannya ke sekitar lalu terhenti pada jam yang tergantung di dinding ruangan itu. Mengamati jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Saat ini hanya tersisa mereka berdua di bangunan berdesain klasik modern itu.
Menyadari arah mata Merry membuat Rachel akhirnya tersadar. Tidak seharusnya ia membuat Merry juga ikut berlama-lama dengannya di tempat itu. Bergegas Rachel membereskan meja kerjanya lalu beranjak dari sana.
Melangkah melewati jejeran kubikel yang sudah tak berpenghuni milik para bawahannya, melewati koridor penghubung ruang satu dengan ruang lainnya. Menuruni beberapa anak tangga lalu melewati showroom butiknya yang sangat berkelas dan mewah, dimana terdapat rak-rak berbahan kaca serta bingkai-bingkai besi yang di desain begitu elegan tempat menggantung busana sesuai dengan jenis dan bahannya. Tampak pula beberapa manekin yang mengenakan hasil rancangan terbaiknya. Rachel mengedarkan pandangannya ke sekitar dan memandangi keseluruhannya, mengulas senyumnya lalu melangkah menuju saklar lampu. Mematikan semua lampu di dalam butiknya itu dan hanya menyisakan lampu sorot yang ada di bagian etalase kaca depan.
Merry yang sejak tadi mengikuti dibelakang, sedikit mengernyit mengamati kelakuan atasannya yang tak biasa. Pun begitu saat keluar dari bangunan yang sudah mereka tempati selama kurang lebih lima tahun itu, Rachel yang bergerak sendiri menutup dan mengunci pintu berbahan kaca butiknya lalu menyerahkan kuncinya itu pada Merry.
"Mrs.Rachel?" Merry semakin menautkan kedua alisnya.
Rachel tersenyum dan menepuk pelan bahu Merry. "I leave it to you for a while. I will return to Indonesia." (Saya serahkan pada Anda untuk sementara waktu. Saya akan kembali ke Indonesia.)
Merry mengangguk pelan tapi masih menatap heran pada wanita yang biasanya dingin dan ketus dihadapannya, kini terlihat begitu ramah dengan senyum yang tak pernah luntur diwajahnya selama hampir dua bulan ini. Yah, pasca di mana wanita itu mengalami keguguran dan menjalani semuanya seorang diri tanpa suami ataupun keluarga yang memberinya semangat.
Merry sangat memahami perasaan atasannya itu, hanya saja ia berpura-pura tak tahu karena sangat mengenal kalau atasannya itu menjunjung tinggi harga dirinya.
"How long do you want to see me like that?" (berapa lama kamu ingin melihatku seperti itu?)Tanya Rachel diiringi kekehan kecil sembari mensedekapkan kedua tangannya memeluk tubuhnya yang dibalut longcoat tebal.
"Come on, it's so cold." (Ayo, dingin sekali) lanjutnya.
Merry tergagap lalu dengan cepat berlari kecil menuju bahu jalan dan masuk ke dalam Van hitam yang terparkir di sana. Rachel pun menyusul Merry yang sudah menghidupkan mesin mobil dan menyalakan penghangat mobil itu. Kemudian mobil itupun bergerak maju perlahan-lahan dengan kecepatan sedang.
Rachel merapatkan coat tebalnya yang berbahan
Corduroy lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil. Sementara pandangannya lurus ke depan mengamati butiran salju-salju putih yang berjatuhan memenuhi ruas-ruas jalan kota London. Entah sedang memikirkan apa.
Merry diam-diam terus mengamati perubahan raut wajah Rachel. Wanita yang saat ini berusaha keras tampak tegar di luar namun entah bagaimana keadaan didalam hatinya. Merry berfikir sejenak, mencari bahan obrolan agar bisa memecah kesunyian diantara mereka.
"Mrs.Rachel?"
"Hmm?? Yeah..?" Menengok ke arah Merry dengan tersenyum lembut.
"So, what about the runways in Milan and Paris early next year?" (jadi bagaimana dengan runway di milan dan paris awal tahun nanti?)
Rachel kembali memandang ke depan, terlihat menghela nafas lalu mengedikkan kedua bahunya. "I don't have any ideas and planning...." (Saya belum punya ide dan perencanaan.)
"How long will you stay In Indonesia?" (Berapa lama anda tinggal di indonesia?)
"I don't know.." (Aku tak tahu..) jawabnya dengan begitu lirih.
"Then, when you go?" (Lalu, kapan anda berangkat?)
"At dawn later..." (Saat fajar nanti)
Merry refleks mengangkat kedua alisnya, pupil matanya melebar sempurna. "That fast?" (Secepat itu?)
Rachel mengangguk pelan. "I miss my family..." (Aku merindukan keluargaku.) ucapnya dengan senyum getir yang terpatrit di bibir tipisnya.
"So...., what about Mr. Alis......" Belum sempat Merry menyelesaikan ucapannya, Rachel menengok dan memberikannya tatapan sendu.
Merry mengangguk paham, karena selama hampir dua bulan ini atasannya itu tak ingin mendengar nama laki-laki itu disebut lagi di depannya. Merry pun memilih diam dan fokus mengemudikan kendaraan melewati jalan yang licin akibat tumpukan salju.
Begitu Rachel turun dari Van dan masuk ke dalam bangunan penthouse-nya, Merry langsung menghubungi Stuart dan memberikan informasi yang di dengarnya. Berharap Stuart sudah bisa memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Mahavir.
***
Rachel membuka perlahan tirai jendela kamarnya, mendudukkan tubuhnya di atas beton profil jendelanya yang menjorok lebar ke dalam, lalu menerawang jauh ke depan dengan tatapan kosongnya. Mengingat kembali satu persatu kata-kata Mahavir yang di dengarnya terakhir kali.
Aku sudah muak, aku sudah lelah, aku membencinya, aku ingin melepaskannya saja, aku ingin pergi sejauh-jauhnya menjauhinya, aku ingin mengubur cinta ini. Aku tak ingin mengenalnya lagi. Harusnya aku tidak menikahinya. Harusnya aku tidak terus menerus mengejarnya seperti orang kesetanan....
Sebutir tetesan bening terjatuh begitu saja dari sudut matanya. Dengan cepat Rachel mengerjapkan matanya lalu mengusapnya. Hampir dua bulan lamanya Mahavir tak menghubunginya, bahkan tak menanyakan kabarnya sedikitpun. Hanya bik Inah yang sesekali memberikan informasi serta kegiatan laki-laki itu semenjak berada jauh disana. Dan karena itu Rachel sudah dapat menyimpulkan kalau apa yang di dengarnya dari mulut Mahavir itu bukanlah kesalahpahamannya. Keadaan saat ini sudah menjadi bukti dan alasan agar ia tak berharap lebih jauh lagi.
Setelah mendapat kabar dari orang tuanya, kalau mereka tidak jadi berkunjung dan liburan ke London karena kesibukan Daddynya yang harus memimpin Sidang kelulusan beberapa Mahasiswa di Universitasnya, Rachel langsung memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk beberapa waktu. Entah mengapa ia begitu merindukan orang tuanya saat ini.
Rachel memejamkan matanya selama beberapa detik, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Menutup tirai jendela kamarnya lalu meraih gagang trolli kopernya dan menyeretnya ke luar. Langkahnya terhenti sesaat, memandangi keseluruhan kamarnya dan surat yang ditinggalkannya untuk Mahavir yang di letakkannya di tengah-tengah tempat tidur mereka. Mengulas senyumnya hingga akhirnya menutup pintu kamar itu perlahan dan kembali menyeret kopernya.
***
Sementara jauh di belahan dunia lainnya yang berbeda waktu lima jam lebih lambat dari kota London, di sebuah ruangan besar dengan segala kemewahan yang berada di lantai teratas bangunan salah satu hotel termewah di kota New York, tampak sekelompok laki-laki bersetelan jas rapi nampak baru saja bubar dari rapat panjang yang begitu melelahkan. Menyisakan dua orang laki-laki yang masih larut dalam pekerjaannya.
Seorang laki-laki muda masih nampak serius mengamati grafik pada layar laptop di kursi kebesaran, sementara laki-laki bule berperawakan tinggi besar lagi tegap berada di seberang mejanya dengan laptop berbeda sambil memeriksa file data lainnya, sebelum akhirnya sebuah dering telepon menjeda kegiatannya.
Stuart mengernyit sesaat melihat nama 'Merry' yang muncul di layar ponselnya. Wanita berambut pirang yang merupakan adik sepupunya yang ditugaskannya sejak awal karir Rachel untuk mendampingi dan memberikan informasi mengenai wanita itu. Buru-buru Stuart keluar ruangan dan menerima panggilan tersebut. Dan saat ia kembali masuk ke dalam ruangan kerja Presdir, gerak gerik dan wajahnya berekspresi aneh sehingga berhasil mencuri perhatian Mahavir.
"Ada apa?" Tanya Mahavir dengan menatap bingung Stuart.
Stuart menelan ludahnya susah payah lalu perlahan menjatuhkan tubuhnya berlutut di depan meja kerja dimana Mahavir terduduk di baliknya. Sepertinya sudah saatnya ia berkata jujur pada tuan Mudanya itu, karena saat ini keadaan Presdir sudah membaik dan telah dipindahkan ke ruang perawatan, serta keadaan hotel yang sudah bisa dikendalikan meski masih ada beberapa yang masih membutuhkan tenaga dan pemikiran cerdas dari tuan mudanya itu.
Mahavir bangkit berdiri dan menghampiri Stuart dengan kening yang mengkerut. Menatap heran dan kebingungan pada Stuart yang berlutut dengan kepala menunduk seakan telah melakukan kesalahan fatal.
"Kesalahan apa yang kamu perbuat sampai berlutut seperti ini?" Tebaknya dengan penuh curiga.
"Maafkan saya tuan Muda. Saya betul-betul sangat menyesal telah melakukan hal ini, tapi saya tak punya pilihan lain selain menyembunyikan masalah itu untuk sementara waktu pada anda."
Mahavir semakin menatap Stuart dengan intens. Perasaannya sudah mulai tidak karuan dengan menebak-nebak apa yang dimaksud oleh laki-laki Skotlandia dihadapannya itu.
"Anda bisa memaki-maki saya sebanyak apapun. Pukul saya sepuasnya, bahkan saya tak akan melawan sedikitpun seandainya anda mau membunuh saya saat ini juga." Ucapnya dengan semakin menunduk dalam.
"Apa maksudmu? Jangan berputar-putar seperti itu. Langsung ke intinya."
Stuart menelan kasar ludahnya beberapa kali sebelum akhirnya menceritakan semua kejadian sesaat sebelum mereka meninggalkan London. Keadaan Rachel yang terpuruk seorang diri, hingga kabar terbaru yang di dapatkannya dari Merry beberapa menit yang lalu.
Stuart masih melanjutkan perkataannya saat Mahavir sudah mencengkram dan menarik kerah jasnya dengan dua tangan. Menatap tajam Stuart seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"You can kill me right now...." (Anda bisa membunuh saya saat ini juga) ucap Stuart dengan kepala tertunduk penuh penyesalan.
"Andai itu bisa membuat semuanya kembali seperti semula aku tidak akan segan-segan membunuhmu tanpa kamu minta sekalipun!!!" Hardiknya lalu mendorong dan melepaskan cengkraman tangannya dari Stuart.
Stuart sedikit terhuyung kesamping namun tidak sampai terhempas ke lantai karena keseimbangan yang kuat dari tubuhnya.
Mahavir mengepalkan kedua tangannya dengan seluruh kekuatannya. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras dengan gigi yang menggertak begitu keras menahan amarahnya.
ARRRGGGHHH!!!! Teriaknya dengan begitu kerasnya hingga suaranya memantul dan menggema dalam ruangan itu. Kemudian tanpa disangka-sangka, Mahavir langsung menghempas semua yang ada di atas meja kerja, mulai dari dua laptop yang masih menyala, beberapa berkas dan file-file penting bahkan plang name tag berbahan kaca milik Ayahnya. Membuat semuanya berhamburan ke lantai. Mahavir mengusap kasar wajahnya lalu meremas kuat kepalanya dengan kedua tangan.
Selama dua bulan belakangan ini Mahavir hanya mendengar kabar Rachel dari Stuart yang selalu memberitahukan kalau istrinya itu baik-baik saja disana. Hingga ia akhirnya lebih fokus pada Ayahnya dan sibuk mengurus semua perusahaan yang hampir kolaps.
Mahavir pun tidak bersikeras untuk menghubungi Rachel dan berusaha menahan kerinduannya selama ini karena beranggapan kalau selama ia berada jauh disana, ia juga memberikan kesempatan pada wanita yang dicintainya itu untuk bisa menenangkan diri seperti yang diinginkannya. Berharap begitu keadaan di sana sudah stabil, dan saat ia kembali ke London, istrinya juga sudah membuka hati untuknya. Namun pada kenyataannya, semua yang terjadi tidak seperti harapannya. Yang parahnya calon anaknya sudah tak ada dan ia baru mengetahuinya saat ini juga. Mahavir tak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya istrinya disana yang menjalaninya seorang diri. Bagaimana kebencian wanita itu semakin bertambah padanya saat ini. Apakah ia masih pantas mencintainya?
BRUGHH'
Meja kerja berbahan kaca di depan Mahavir seketika retak oleh kepalan tangannya yang menghantam dengan begitu kuatnya. Tetesan darah dari celah kulit yang terkoyak pada buku-buku tangannya mengucur ke lantai.
Stuart refleks mengangkat kepalanya begitu melihat darah yang berceceran di lantai. "Tuan muda, tangan anda......"
"Kapan pesawatnya berangkat?" Tanyanya dengan mengabaikan rasa sakit pada tangannya.
"Pukul lima pagi, waktu kota London." Stuart mengangkat tangannya dan melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "Itu berarti pukul dua belas malam nanti kalau mengikuti waktu disini."
"SHITT!!!!" Teriaknya sambil menendang vas bunga besar yang ada sudut meja. Saat ini sudah jam delapan malam disana dan butuh waktu sekitar tujuh jam untuk sampai ke London dengan pesawat.
"Masih ada waktu empat jam sebelum jadwal keberangkatannya. Kita bisa mencegatnya di bandara Heathrow kalau langsung berangkat saat ini juga dengan jet pribadi."
"Tidak. Aku akan langsung menyusulnya ke Indonesia. Perintahkan pada orang-orangmu di London untuk mengikutinya di pesawat hingga tiba di Jakarta. Aku sendiri yang akan menjemputnya bila ia sudah tiba disana." Peintahnya sembari meraih longcoatnya yang tersampir di sandaran kursi kebesaran milik Ayahnya lalu melangkah begitu saja melewati Stuart yang baru saja bangkit dari posisi berlutut.
Mahavir menghentikan langkahnya di depan pintu lalu berbalik menatap tajam Stuart yang sudah berada tepat di belakangnya. "Kalau aku tak berhasil membawanya kembali, Bersiaplah untuk menghadapiku." Ucapnya dengan penuh penekanan dan amarah tertahan serta sorot mata yang begitu tajam mengintimidasi.
***