Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 113.Cantik dan Indah sepertimu.


Assalamu'alaikum....


Hai.. Hai... aga kareba ta' semua?


Akhirnya othor muncul lagi 🤗


Maaf yah lama nunggunya....


Happy Reading.... 🥰


***********


Sepasang kaki kecil yang putih dan mulus tampak tenggelam di dalam air di tepian pantai. Sesekali ia berlari kecil dan melompat kala deburan ombak menerpa bibir pantai. Embusan angin laut yang kencang sedari tadi telah menerpa tubuhnya. Mengacak-acak helaian rambutnya, dan menerbangkannya ke sana kemari. Diikuti oleh suara tawa cerianya yang tak pernah surut sedikitpun. Begitu tampak gembira bermain air walau seorang diri. Namun sesekali matanya melirik seseorang yang tak jauh dari tempatnya berada, seorang pemuda yang sedang patah hati tampak duduk tenang dihamparan pasir. Tatapannya terlihat kosong menatap birunya laut yang terpampang di hadapannya.


Gadis itu merengut melihat pemuda itu. Pasalnya sudah tiga jam lamanya pemuda itu hanya duduk terdiam dan melamun. Yah, setelah berkeliling tak tentu arah dengan motor sport-nya, akhirnya pemuda itu membawanya ke pantai.


"Ahhh, laperrr!" Keluhnya sembari mengusap mengusap-usap perutnya yang sudah meronta-ronta meminta diisi. Hari sudah sore dan ia belum sempat makan apapun di acara pesta pernikahan kakaknya tadi. Matanya lalu menoleh ke arah pemuda itu sesaat, kemudian pandangannya menyapu keadaan sekitar pantai. Iris matanya menangkap sebuah pondok kecil yang terlihat seperti sebuah warung yang berada beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri. Kembali matanya menoleh ke Bryan, ingin meminta makan pada pemuda itu. Tapi urung dilakukannya karena tak ingin menggangunya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari makan sendiri.


Sementara pemuda itu masih terlihat bergeming di posisinya. Menerawang jauh lautan luas yang tampak berkilau diterpa sinar matahari sore. Memandangi ombak yang saling bergulung dan berkejar-kejaran. Sementara pikirannya mencoba merefresh hatinya. Menenangkan hatinya yang masih terasa sesak.


Sebenarnya sudah jauh-jauh hari Bryan mempersiapkan diri untuk melepaskan kekasih dewasanya itu. Ia sadar kalau hubungannya itu tak bisa bertahan. Ia ikhlas melepaskannya. Tapi walaupun begitu hatinya masih saja terasa sakit, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas-remas hatinya. Apalagi tanpa jeda setelah putus langsung melihatnya menikah dengan laki-laki lain yang diakuinya memang lebih pantas mendampinginya dibandingkan dirinya yang masih labil dan tidak ada apa-apanya.


Bryan memejamkan kedua matanya, berusaha mengurai rasa sesaknya. Menarik nafas dalam-dalam dan panjang lalu menghembuskannya perlahan bersamaan dengan terangkatnya kedua kelopak matanya. Detak jantungnya sudah mulai normal dan sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Bersamaan itu juga Bryan baru tersadar kalau dia tidak sendirian ke tempat itu.


"Astaga, Risya!" Pekiknya sembari menepuk keningnya karena melupakan gadis belia itu. Tanpa dikomandokan otaknya, netranya refleks menelisik keadaan disekitarnya diiringi tubuhnya yang langsung ikut bangkit berdiri.


Pandangannya mengedar ke segala arah mencari sosok gadis kecil bergaun putih. Namun sejauh apapun ia memandang tak jua menangkap sosok itu. Bryan menghela nafas sembari mengacak-acak rambutnya frustasi. Dengan panik berlarian kesana kemari mencari gadis itu.


Sementara gadis yang tengah di carinya malah asyik menyeruput mie instannya dengan santai sambil memandangi pemuda itu berlarian kesana kemari di depan sana.


"Ck..ck...Astaga, segitunya yah kalau orang patah hati..." Gumamnya dengan menggeleng-geleng berkali-kali memandangi Bryan berlarian. Risya pikir Bryan sedang mencoba menenangkan hati dengan berlari seperti itu.


Bryan yang dipandanginya itu masih terus berlari ke arah sayap kanan pantai sejauh beberapa puluh meter, kemudian kembali berlari ke sayap kiri hingga mentok pada bebatuan karang yang besar. Terlihat seperti orang yang linglung.


Risya yang melihat itu semakin tertawa geli di tempatnya. "Astaga, kak Bry kayak orang gila kalau patah hati." Pekiknya terkekeh-kekeh.


Bryan semakin frustasi. Tak menemukan Risya disana, kembali Bryan berlari menuju tempatnya semula. Saat matanya mendapati slingbag kecil serta pantovel putih model ballerina yang diyakininya milik Risya, Bryan auto panik hingga berlari cepat ke dalam air. Sekelebat bayangan kejadian Rachel dulu mendadak memenuhi pikirannya. Bryan menajamkan penglihatannya ke arah laut, takut-takut kalau gadis itu terseret ombak ke laut lepas.


"Uhukkk..." Risya tersedak kuah mie instan-nya saat melihat Bryan menveburkan dirinya ke laut. Dengan cepat meraih gelas di depannya dan meneguk isinya hingga tandas.


"Bu, Risya-nya bayar sebentar bu yah. Risya mau nolongin kakak Risya dulu yang mau bunuh diri karena patah hati." Ujarnya dengan panik seraya menunjuk ke arah Bryan yang sudah berada di tengah laut. Tanpa menunggu respon ibu pemilik warung kecil itu, Risya langsung berlari kencang ke arah Bryan.


"KAK BRYYYYYYY....!!!" panggilnya sekeras mungkin.


"KAAKKK.... KAK BRYYY.... JANGAN NEKAT. INGAT KELUARGA KAK BRYYY......" teriaknya lagi.


"KAKKKK... KAKKKK BRYYY...."


Bryan yang akhirnya mendengar samar-samar suara Risya menoleh. Kelegaan langsung terasa begitu melihat gadis itu berdiri memanggilnya disana. Dengan cepat Bryan berenang ke tepian, lalu buru-buru berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya.


"Syukurlah kamu tak apa-apa...." Lirih Bryan.


Risya yang dipeluk tiba-tiba langsung terbelalak dan refleks mendorong kasar tubuh Bryan. "Kak Bry apa-apan sih? Nyebut kak, nyebut! Patah hati sih patah hati kak, tapi jangan nekat juga. Masa gara-gara satu cewek saja kak Bry malah nekat bunuh diri. Gak inget sama keluarga yah? Kak Bry itu cakep, di luar sana pasti banyak cewek yang antri mau sama kak Bry. Katanya ikhlas memberikannya untuk kakak Rey, katanya kak Bry bisa cari cewek lain. Masa begini saja sudah menyerah. Move-on dong!! Masa karena gara-gara kak Diraya, kak Bry sampai seperti ini. Ahhh.... Kak Bry cemen!!" Cerocos Risya dengan melotot kesal pada Bryan.


Bryan mengangkat kedua alisnya bingung di ceramahi Risya. Sesaat terdiam mencoba menelaah maksud perkataan gadis itu.


"Dan apa ini? Main peluk-peluk Risya lagi..!! Risya kan jadi ikut basah!" Rutuknya dengan mencebik kesal pada Bryan. "Lihat, gaun Risya basah semua ini." Lanjutnya lagi dengan semakin memanyunkan bibirnya. Membuat tawa Bryan akhirnya lepas. Kembali Bryan menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan begitu erat. "Astaga, kak Bry lepasss! Kak Bry basah tahu!" Pekiknya meronta-ronta dalam pelukan Bryan.


Bryan melepaskan pelukannya dengan masih terkekeh. "Itu balasan karena sudah membuatku panik." Ucapnya sembari mengacak-acak puncak kepala Risya.


Risya mendelikkan matanya. "Hellow... Yang ada kak Bry yang sudah bikin Risya panik."


"Panik? Astaga! Jangan bilang kalau kamu kira aku disana mau cari mati yah? Gila aja!"


"Terus ngapain? Berenang sore-sore? Mendinginkan hati?"


"Ck..!" Bryan menatap kesal gadis itu. "Aku nyariin kamu. Aku kira kamu terseret dibawa pergi ombak! Memangnya kamu kemana sih?"


"Aku disana." Tunjuknya ke arah warung kecil. "Risya laper, kak. Jadi cari makan disana. Kak Bry sih, bawa Risya kesini tapi di anggurin. Gak dikasih makan pula." Ujarnya dengan mendengus kesal.


"Sorry, sorry..."


"Jadi kak Bry itu dari tadi nyariin Risya? Sampai lari-larian kayak orang gila gitu?"


"Kamu lihat?"


Risya mengangguk polos.


"Astaga Risya, Risya!" Bryan mengusap wajahnya kasar. "Kamu lihat aku berlarian panik dan kamu gak negur dan manggil aku?"


Kembali Risya mengangguk polos.


Bryan mengacak rambutnya kesal. Tangannya begitu gemas ingin mencekik gadis itu yang sama sekali tak merasa bersalah. Netranya kini mengamati keadaan tubuhnya yang basah kuyup, lalu sedetik kemudian tertawa geli hingga terbahak-bahak memegangi perutnya. Menertawai dirinya yang terlewat panik tadi hingga tak bisa berfikir jernih.


"Kak, kak Bry... Are you okey?" Tanya Risya takut-takut. "Kak Bry gak kesambet hantu laut kan?" Tanyanya lagi ragu-ragu.


Bryan sontak menyentil kening Risya. "Gak lah!"


"Isshhh..." Risya mencebik kesal sembari mengusap jidatnya.


"Udah sore, yuk pulang. Nanti kita dicariin."


"Tunggu kak, Risya belum bayar makanan Risya." Ujarnya sembari berjalan ke arah dimana slingbag serta sepatunya berada. Meraihnya lalu menentengnya dan kembali melangkah menuju warung tadi. Bryan pun menyusul dibelakangnya.


"Padahal mie Risya belum habis, mana masih laper lagi. Nasib, nasib, ikut sama cowok cakep tapi gak perhatian." Gumamnya melirik kesal ke arah Bryan.


Bryan menahan senyumnya mendengar gumaman gadis itu yang masih didengarnya dengan jelas. Merasa bersalah karena melupakan keberadaan gadis itu dan membuatnya kelaparan sampai sore hari.


"Ya udah kamu lanjut makan lagi. Aku juga laper." Ujar Bryan mendahului Risya masuk ke warung itu.


Ibu itu tertegun sesaat memandangi Bryan yang basah kuyup. "Dek yang sabar yah, kalau bukan jodoh ikhlaskan. Nanti akan ada gantinya yang lebih baik. Jangan lagi nekat seperti ini." Ucap ibu itu memberikan nasehat.


"Hah?" Bryan mengernyit dan melempar pandang ke arah Risya seakan meminta penjelasan gadis itu. Risya yang dipandang hanya menyengir polos, membuat Bryan berdecak kesal.


Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Kilau cahayanya yang kuning keemasan kini perlahan bersulam kemerahan. Menampilkan gradasi warna yang indah di cakrawala. Embusan angin pun semakin kuat. Menebarkan aroma laut yang khas.


"Kak Bry sesakit itu yah?" Tanya Risya ragu-ragu sambil menyeruput es teh nya.


Bryan yang baru saja menyelesaikan makannya sontak menoleh ke arah Risya. "Gak juga sih..." Jawabnya dengan tersenyum kecut.


"Ihh... Bohong. Buktinya sampai terpukul seperti itu. Melamun memandangi laut sampai tiga jam lamanya. Heran deh, laut dipandangi terus sampai tak berkedip. Sampai kak Bry beruban juga tuh air laut gak bakalan kering kak...!" Serunya mengejek pemuda disampingnya itu.


Bryan tertawa kecil. "Kalau udah tau kenapa gak menghiburku?" Tanyanya sembari menatap lekat wajah Risya yang terhalau oleh anak-anak rambutnya yang beterbangan. Membuat tangan Bryan gemas ingin merapikannya. "Katanya mau menjadi periku dan menghiburku." Lanjutnya.


"Karena Risya tahu kalau kak Bry butuh sendiri. Dihibur bagaimanapun pasti gak bakalan mempan buat orang yang patah hati." Ucap Risya dengan menyengir polos.


"Sok tau kamu!"


"Tapi emang benar kan?"


Bryan mengangguk dan terkekeh sembari mengacak rambut Risya tapi kemudian jari-jarinya bergerak menyibak anak-anak rambut Risya yang beterbangan. Merapikan helaian rambut gadis itu dengan lembut. Mengundang semburat merah di wajah sang empunya.


"Isshhh, jauh-jauh tuh tangan." Risya segera mendorong tangan Bryan menjauh dari rambutnya saat merasakan ada debaran aneh dalam dirinya. "Jangan bikin baper deh kak!" Sentaknya.


Bryan mengernyit lalu menggeleng heran. "Baper? Apa sih? Gak jelas!"


Mata Risya lagi-lagi mendelik. "Jangan usilin Risya lagi deh kak. Risya gak suka."


"Usilin gimana maksudnya?" Tanya Bryan yang gagal paham.


Risya hanya mencebik kesal tak menjawab pertanyaan Bryan dan memilih mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Menyilangkan kedua tangannya diatas meja lalu menopangkan dagunya diatas tangannya itu. Menatap mentari yang semakin turun ke peraduannya, menciptakan pantulan kemilau kemerahannya di permukaan laut.


"Wah sunset." Pekiknya yang langsung membuat Bryan ikut mengalihkan pandangannya ke depan. "Risya perdana nih kak liat sunset dengan live gini..." Lanjutnya dengan mata yang berbinar-binar.


"Aku juga baru pertama kali melihat sunset secara langsung."


"Samaan dong..." Ucap Risya lalu tertawa renyah.


"Indah yah..."


"Iya kak. Indah seperti lukisan. Cantik...."


"Cantik dan indah sepertimu..." Guman Bryan tanpa sadar membayangkan senyum hangat Risya pada tampilan sunset di depan sana.


Refleks Risya menoleh memandangi Bryan. Tersadar akan apa yang baru saja diucapkannya, Bryan pun menoleh ke arah Risya hingga masing-masing manik mata mereka saling bertemu. Selama beberapa saat mereka saling beradu pandang tanpa ada kedipan sedikitpun pada mata keduanya, sampai akhirnya bunyi dentingan spatula yang terjatuh dari ibu pemilik warung membuat keduanya saling memutuskan pandangan itu.


Bryan mengusap kasar tengkuknya. Salah tingkah dengan ucapannya sendiri. Tak tahu mengapa kelakuannya sering tak sejalan dengan pikirannya saat bersama gadis disampingnya itu. Selalu ada perasaan nyaman saat dekat bersamanya, bahkan jujur Bryan kerap kali merindukan kehadirannya sejak di London. Tapi kalau ditanya apakah ia menyukai gadis itu dalam artian tanda kutip, Bryan tak tahu. Walau sudah dua kali mencuri ciuman gadis itu, Ia masih belum mampu menafsirkan sendiri perasannya. Toh, umurnya memang masih 18 tahun. Jadi wajar saja bukan kalau dirinya memang masih labil dalam percintaan?


Bryan... Bryan... Dia itu masih begitu muda, lagipula diakan bukan tipe-mu! Hati kecilnya bermonolog dalam pikirannya.


Ahh... Sok-sokan bukan tipe-nya tapi sudah sosor anak orang. Dasar Munafik! Sebagian hati kecil lainnya ikut menyaut.


Namanya juga khilaf....!


Khilaf tapi sampai dua kali? Itu khilaf apa doyan?


"Arrrggghhh...bisa diam gak sih!!" Racau Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari melambaikan tangannya diudara. Menepis semua pemikiran yang memenuhi benaknya. "Hush... Hush... Pergi sana!!"


Risya refleks menggeser duduknya menjauh dari Bryan sembari menatap aneh pemuda itu. "Kak... Are you okey?" Tanyanya takut-takut. "Kesambet lagi yah....?"


Bryan menoleh, memandangi Risya dengan intens dari atas ke bawah. Aku dengan bocah ini? Astaga...Bryan...Bryan! Bagian tubuhnya saja masih ada yang belum tumbuh sempurna! Bryan mendengus kesal pada dirinya sendiri lalu segera bangkit berdiri, mengabaikan tatapan aneh Risya padanya.


"Bu, berapa semua?" Tanyanya pada sang pemilik warung.


"Dua puluh ribu, dek."


"Sama yang adik saya makan sebelumnya juga, bu." Tunjuknya dengan dagunya ke arah Risya yang baru saja bangkit dari duduknya.


"Iya, itu sudah semuanya."


Bryan terpekik heran. "Murah amat, bu....?"


Sang ibu terkekeh pelan. "Kan cuma mie instan dan es teh doang dek."


Bryan tersenyum lalu menoleh memandangi Risya. "Ris, bawa duitkan? Bayar dulu yah. Soalnya dompet ku ada di sadel motor."


"Ishhh...alasan! Sok-sokan bilang murah banget tapi gak bisa bayar. Bilang aja kalau lagi kere, gak bawa duit...!" Ketusnya mengejek Bryan yang sudah melangkah keluar dari warung itu.


"Ini, Bu. Makasih." Ucapnya seraya menyerahkan selembar uang kertas berwarna hijau pada ibu itu lalu berlari kecil menyusul Bryan yang berjalan menuju parkiran motornya.


Dasar pemuda gak bermodal. Tampan cakep, tinggi tapi kere. Masa makan mie doang dibayarin cewek, anak SMP pula! Pantas saja kak Diraya lebih memilih kakak Rey-ku tersayang." Gerutunya memandangi punggung Bryan yang berjalan didepannya.


***


Untuk saat ini part Bryan dan Risya dulu yah, othor baru bisa nulis part yang ringan-ringan aja.


Masih blank dan belum mampu berfikir jauh untuk membuat konflik antara Rachel dan Mahavir. 🤭😅


sekalian mau selesaikan dulu semua masalah di tokoh pendamping lalu kembali ke permasalahan inti tokoh utamanya.


Oh, iya... othor mau ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang doakan kesehatan othor. Saat ini othor sudah mendingan, sudah gak sesak dan anosmia lagi, tapi belum tes PCR lagi dan masih isoman. Mohon doanya semoga hasil tes-nya nanti sudah negatif.


Salam rindu selalu dari othor...🤗


See you in next chapture..... 😉