
Bryan melajukan motor sport miliknya, mengitari semua tempat-tempat keramaian ditengah kota, mencari keberadaan sang kakak. Semua tempat parkiran dimall-mall sudah dia periksa, tapi tak jua dia melihat tampilan mobil milik kakak iparnya terparkir disana.
Bryan sudah kehilangan akal dan tak tahu harus mencari kemana lagi, hingga dia teringat dengan Raya, teman kakaknya.
"Bodoh kenapa aku tidak kepikiran untuk menghubungi teman kakak!" Umpat Bryan pada dirinya sendiri. Kemudian dengan cepat dia menghubungi nomor ponsel Raya yang tadi sempat diambilnya dari ponsel Rachel saat kakaknya itu tertidur.
"Halo" Ucap Raya di ujung sana. "Siapa ya?"
"Kak Raya ini Bryan, adik kak Rachel." Ucap Bryan memperkenalkan dirinya.
"Oh, Bryan! Ada apa?"
"Apa kak Rachel tidak menghubungi kakak?"
"Seharian ini tidak, kenapa?" Tanya Raya sedikit heran.
"Kira-kira kak Raya tahu dia kemana?"
"Apa dia kabur lagi? Dasar anak itu, menyusahkan orang saja." Umpat Raya tanpa memperdulikan Bryan. "Kamu bisa jemput aku ke sini? Sepertinya aku tahu dia kemana." Ujar Raya.
"Kak Raya dimana?"
"Kamu jemput aku di klinik Medika, kita sama-sama mencari nya. Aku gak bawa mobil tadi."
"Tapi aku naik motor kak."
"Tak apa, kutunggu ya." Ujar Raya dengan ceria.
Bryan pun dengan cepatnya melajukan motornya ke tempat klinik itu berada. Karena jarak yang cukup dekat, Bryan sampai dengan cepat. Terlihat Raya telah menunggu di bahu jalan di depan klinik tempatnya praktek itu.
"Kak Raya gak apa-apa naik motor?" Tanya Bryan ketika telah berada di hadapan dokter Raya.
"Santai aja kali dek!" Ujar Raya memasang senyum manisnya.
Bryan memandangi Raya yang hanya menggunakan kemeja tipis, dia lalu membuka jaket yang dikenakannya dan memberikannya ke Raya. Raya menatap heran.
"Kak Raya pakai ini, baju kakak tipis. Kita naik motor, nanti kakak masuk angin." Ujar Bryan penuh perhatian.
Raya hanya terdiam mengambil jaket itu dan memakai nya. "Gila! Perhatian juga bocah ini." Guman Raya dalam hati.
Sementara Raya memakai jaket pemberian Bryan, Lagi-lagi dia dikejutkan dengan perlakuan Bryan yang tiba-tiba memasangkan helm ke kepalanya. Raya melongok saking terkejut nya, "Gila! Gila! Tipe cowok idaman banget nih bocah!"
Raya pun naik ke motor sport Bryan.
"Kak Raya sudah siap?" Tanya Bryan.
"Ok!" Jawab Raya setelah terduduk membonceng dibelakang Bryan.
"Kak Raya pegangan yah!" Ujar Bryan.
Raya pun memegang kaos Bryan di kiri dan kanan pinggang anak muda itu. Bryan melihat pegangan Raya yang terlihat ragu-ragu. Dengan cepat Bryan menarik kedua tangan Raya dan melingkarkannya ke pinggangnya. Sekali lagi Raya dibuatnya terkejut, tapi tak kuasa berkata apa-apa. Motor sport itu pun melaju dengan kecepatan penuh.
Hati Raya jadi dag..dig..dug..serr baru kali ini dia sedekat itu dengan seorang laki-laki, yah walaupun itu anak yang masih bau kencur tetapi tetap membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Duh... Bisa-bisanya jantung ku ini tak tahu diri begini!!" Guman Raya.
"Kenapa kak?" Tanya Bryan mengira Raya mengatakan sesuatu kepadanya.
"Ah, tidak apa-apa." Ucap Raya sedikit berteriak karena suaranya dihalau oleh angin.
"Kita ke mana kak?"
"Ke pantai, pasti dia kesana lagi."
"Jadi kemarin kak Raya bersama kak Rachel ke pantai?"
"Iya! Aku menemani nya sampai pikirannya tenang. Memangnya hari ini dia kenapa lagi?"
Bryan sejenak terdiam, "Panjang ceritanya."
"Tapi kak Rachel gak bakalan macam-macam dipantai kan?" Tanya Bryan sedikit khawatir.
"Paling dia cuma menenangkan pikiran nya lagi."
Ujar Raya mencoba menenangkan Bryan yang sudah mulai terlihat panik. Raya mengalihkan pembicaraan, mencoba membuat Bryan tidak berfikir yang macam-macam.
"Bryan tinggi mu berapa?" Tanya Raya asal.
"Hemmm, kurang tahu kak, mungkin sekitar 180an." Jawab Bryan.
"Wow... Tinggi juga yah." Ujar Raya masih setengah teriak.
"Kalau kak Raya?" Bryan bertanya balik.
"Aku? Ahh... Tanpa ditanya pun, kamu tahu kalau aku ini pendek." Ujar Raya dengan malu.
"Kak Raya gak pendek kok. Justru kak Raya terlihat imut-imut." Ujar Bryan dengan santainya, membuat Raya tersipu malu.
"Ihh... Ni bocah bisa juga yah ngegombalnya."
"Kamu sudah punya pacar?" Tanya Raya lagi tanpa malu.
"Belum." Jawab Bryan santai.
"Kenapa?" Raya masih penasaran.
"Kak Raya mau jadi pacarku?" Tanya Bryan membuat Raya tersentak dan melonggarkan pegangannya di pinggang Bryan.
Bryan menyadari hal itu, "Bercanda! hehehe...." Ujar Bryan sedikit terkekeh. "Kak Raya pegangan yang kuat, nanti jatuh." Lanjut Bryan, tapi Raya tak bergeming hingga ketika motor Bryan menyalip ke depan Raya hampir terjungkal kebelakang.
"Makanya kak Raya pegangan yang kuat!" Perintah Bryan, lalu menarik tangan Raya kembali melingkar ke pinggangnya hingga tubuh Raya tertarik kedepan dan memeluk punggung anak muda itu.
Raya mengikuti dengan terpaksa karena laju motor yang dikendarai Bryan semakin melaju kencang. Sesekali Raya hanya berbicara tentang arah yang harus mereka lewati, selebihnya mereka terdiam kembali.
* * *
Malam semakin larut, Purnama tampak bulat sempurna. Semburat cahaya sang purnama yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan kedamaian dan ketenangan.
Rachel berjalan pelan di hamparan pasir yang lembut, Desir angin laut yang berhembus terasa membelai tubuhnya, merasuk hingga ke relung hatinya yang rapuh.
Rachel sendiri tak sadar saat berkendara tanpa tujuan tadi, berkeliling menyusuri jalan-jalan yang panjang hingga berakhir di pantai itu.
Rachel meluapkan segala apa yang dirasakan nya. Berteriak sekeras mungkin agar rasa sesak di dada nya bisa menghilang,
"DIRMANNN!!!! KAMU BOD*HHHHH....."
"YOU'RE STUP*D! BRENGS*K!!
"KENAPA KAMU DATANG DALAM KEHIDUPAN KU...??"
"KAMU KIRA AKU AKAN BERTERIMA KASIH PADAMU?? JANGAN HARAP!!! AKU MASIH MEMBENCIMU!!!"
"AKU MEMBENCI MU DENGAN SEGENAP HATI KU!!"
"KENAPA? KENAPA KAMU MEMBUAT KU SEPERTI INI?"
"INIKAH CARAMU MEMBALASKU?"
"SUDAH PUAS KAMU? PUASSS HA?"
Rachel terus mengeluarkan isi hatinya hingga suara nya menjadi serak, setelah luapan emosi nya tersalurkan dia pun menghempaskan tubuhnya terduduk di hamparan pasir itu. Dagunya dia topang kan di atas kedua tangannya yang menyilang diatas lututnya yang tertekuk. Mencoba mendekap dinginnya malam yang merasuk hingga ke sendi-sendi nya.
Bagaimana dirinya bisa lupa dengan semua yang telah dia lakukan, atas segala sumpah serapahnya, atas segala sikap kasarnya dulu, atas segala sikap dinginnya kepada Darmin.
Tak pernah disangkanya orang yang dibencinya setengah mati, mengorbankan dirinya hanya untuk keselamatan nya.
Rachel menatap riak ombak yang menerpa bibir pantai. Tanpa disadarinya, tetes airmata kembali terjatuh dari sudut matanya. Semakin lama semakin mengucur tanpa bisa ditahannya. Tangisan yang tadinya hanya dari dalam hatinya kini meluap dengan suara isakan yang terdengar memilukan hati.
* * *
Di waktu yang bersamaan,
Jet Pribadi yang membawa Mahavir telah landing dengan selamat, Mahavir turun dari pesawat dan bergegas naik ke sebuah Porsche hitam. Mobil itu dikendarai oleh Reynold sang asisten sekaligus sahabatnya yang telah menunggunya sedari tadi.
Dengan cepat Mahavir mengaktifkan ponselnya dan menghubungi adik iparnya. Panggilan pertama tidak terangkat, kemudian Panggilan kedua akhirnya tersambung.
"Maaf kak aku lagi di jalan."
"Bagaimana keadaan Rachel sekarang?" Tanya Mahavir.
"Maaf kak, tadi aku ketiduran dan tidak menyadari kak Rachel pergi. Sekarang aku lagi mencari nya."
"Kamu pulang saja, biar aku yang mencari nya."
"Memangnya Kak Vir dimana?" Tanya Bryan heran.
"Aku baru sampai, nanti aku kabari lagi. Sudah tengah malam, kamu pulang saja." Perintah Mahavir.
"Tapi kak, sekarang aku bersama kak Raya, temannya kak Rachel. Katanya kemungkinan kakak lagi di pantai."
"Di pantai?? Tengah malam begini?" Mahavir terkaget, terdengar ada guratan kekhawatiran dari nada bicaranya.
"Iya kak, sekarang aku sedang menuju kesana."
"Baiklah kita ketemu disana." Ujar Mahavir kemudian mematikan sambungan telepon nya.
"Rey, di mobil ku itu ada GPS nya bukan?" Tanya Mahavir
"Iya, aku telah menyambung kan nya ke ponsel anda."
Mahavir segera mengecek ponsel nya, dan melihat titik keberadaan Porsche putih yang dikendarai oleh Rachel.
"Sepertinya memang benar dia sedang di pantai, cepat ikuti peta ini, sepertinya tidak jauh dari sini!" Perintah Mahavir yang langsung diikuti oleh Reynold.
Porsche hitam yang mereka kendarai melaju dengan batas maksimal hingga dengan cepatnya mereka telah sampai di daerah pesisir pantai. Cahaya lampu yang remang-remang dari lampu yang tersedia membuat nya sedikit kesulitan mencari keberadaan Rachel.
"Itu seperti mobil Anda pak." Ujar Reynold sambil menunjuk ke Porsche Boxster putih yang terparkir didepan mereka.
"Berhenti disini." Perintah Mahavir, Rasa panik yang luar biasa kini membelenggu nya.
Begitu mobil berhenti, Mahavir langsung turun disusul Rey dari belakang. Seperdetik kemudian Bryan yang berboncengan dengan Raya pun sampai ditempat itu.
"Kak Vir, apa kak Rachel sudah ketemu?" Tanya Bryan, ada rasa khawatir yang mulai menyelimuti dirinya.
"Sebaiknya kita berpencar mencari nya!" Ujar Raya sembari melepaskan helm dari kepalanya.
Mereka berempat lalu berpencar ke sekitar wilayah pantai. Mahavir berlari ke bibir pantai di sebelah kanan bersama Rey, sementara Bryan ke arah sebelah kiri bersama Raya.
Raya menemukan tas tangan dan high heels Rachel di atas pasir.
"Sepertinya Rachel berada disekitar sini." Ucap Raya kepada Bryan.
Mereka pun meluaskan pencarian dan pandangan nya ke arah laut.
Sekilas Raya melihat sekelebat bayangan seseorang sedang berdiri diterpa ombak ditengah laut. Dengan cepat Raya berlari dan berteriak.
"BRYAN SEPERTINYA ITU RACHEL!!!" teriak Raya.
Mendengar teriakan itu semua berlari mendekat ke arah Raya. Tanpa pikir panjang Mahavir langsung melempar jaket yang digunakannya dan berlari sekuat tenaga ke arah laut, kemudian melompat dan berenang ke tengah hingga tangannya meraih tubuh Rachel yang sudah ditenggelamkan oleh air laut.
Mahavir terus berenang melawan arus, memeluk dan menarik tubuh Rachel hingga sampai di tepian.
Bryan berlari menghampiri Mahavir, kemudian membantu pria itu mengangkat tubuh kakaknya.
Bryan membaringkan tubuh Rachel ke atas hamparan pasir, dengan lincah nya Raya memompa dada Rachel.
"Berikan dia bantuan pernapasan!" Perintah Raya kepada Mahavir.
Mahavir pun membungkuk di samping Rachel, tangannya bergerak menutup lubang hidung wanita itu, Mahavir menarik napas dalam, dan
meletakkan mulutnya hingga menutupi mulut Rachel kemudian meniupkan napasnya. Pria itu mengulangi nya beberapa kali hingga terlihat dada Rachel yang mulai naik, seketika air laut tersembur dari mulut nya.
Rachel menarik nafas panjang walaupun masih terasa susah baginya. Dengan perasaan lega Mahavir mendekap tubuh Rachel yang gemetaran. Berkali-kali dia mengecup kening Rachel yang masih dalam keadaan syok.
Bryan menghempaskan tubuhnya terduduk dengan lemas ke atas pasir. Begitupun dengan Raya.
"Syukurlah..." Ucap Bryan, Raya dan Reynold bersamaan.
Raya melepaskan jaket Bryan yang dipakainya kemudian menutupi tubuh Rachel yang kedinginan. Melihat itu Reynold lalu berjalan ke arah kanan, mengambil jaket yang tadi Mahavir lempar, kemudian berjalan kembali menghampiri dan mengembalikan jaket itu ke pemiliknya. Mahavir menerima jaket itu dan menutup bagian tubuh Rachel yang lainnya.
Mahavir pun kemudian mengangkat tubuh Rachel, berjalan menuju ke mobil yang tadi membawanya. Dan yang lain mengikut dari belakang.
Bryan membukakan pintu mobil itu, dan Mahavir masuk ke dalam mobil itu dengan tubuh Rachel dalam pangkuannya.
"Kita balik ke hotel, orang tuanya akan khawatir bila melihat keadaan Rachel yang seperti ini." Ujar Mahavir dari dalam mobil.
"Iya sebaiknya seperti itu." Bryan mengiyakan perkataan kakak iparnya.
"Mobil yang itu bagaimana?" Tanya Rey menunjuk ke arah mobil yang Rachel kendarai tadi.
"Aku bawa motor." Ujar Bryan.
"Biar aku saja yang bawa." Raya menimpali.
"Kalau begitu kamu bawa pulang saja mobil itu, ini sudah tengah malam. Nanti keluarga mu mencemaskan mu." Ujar Reynold sembari masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.
"Aku ikut kalian, aku ingin melihat keadaan Rachel. Aku akan menjelaskannya kepada keluargaku." Ujar Raya sambil membawa tas tangan dan high heels milik Rachel, kemudian berjalan ke arah Porsche putih yang ada di depan.
Mobil hitam yang dikendarai Reynold melaju lebih dulu meninggalkan kawasan pesisir pantai itu, disusul oleh mobil berwarna putih yang dikendarai oleh Raya. Bryan mengikut dan melambung mereka dari samping kiri bergerak menuju ke hotel Calister.
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *