Rindu Dalam Hati

Rindu Dalam Hati
Bab 69.Sarapan bersama.


Pukul 07.00 Pagi, Matahari baru saja terbit di kota London. Rachel yang terbangun lebih cepat kini terlihat menyibukkan dirinya di pantry. Mencoba membuat menu sarapan khusus buat seluruh penghuni Penthouse. Jari-jarinya yang halus terlihat cekatan mengolah menu sederhana yang menjadi menu andalan sarapan orang Indonesia.


Saking asyiknya memasak, Rachel tidak menyadari kalau Mahavir sudah berdiri dibelakangnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada dinding, memandanginya sejak 10 menit yang lalu.


Karena Rachel yang tak kunjung berbalik, Mahavir perlahan melangkah dan menghampirinya.


"Masak apa sayang?" Tanyanya seraya melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang istrinya itu dari belakang. Rambut Rachel yang terikat dan tergulung ke atas membuat Mahavir dengan mudah menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Rachel sambil mendaratkan kecupan-kecupan ringan nan lembut.


"Astaga Vir, kamu mengagetkanku." ucapnya sambil menepuk pelan tangan Mahavir yang memeluknya.


"Nasi goreng sayang....Sudah lama kita tidak sarapan ala Indonesia." Jawab Rachel diiringi senyuman. "Mau coba?"


"Aa....." Mahavir membuka mulutnya, dan langsung menerima satu suapan dari Rachel.


"Ahhh... Panas sayang, kamu mau membuat bibirku terbakar." Mahavir melepaskan pelukannya kemudian mengipasi kedua bibirnya.


Rachel tertawa kecil sembari mengambil air minum untuk Mahavir. "Maaf, aku tidak sadar kalau masih panas." Ucapnya sambil meminumkan air dari gelas yang dipegangnya.


Mahavir meneguk air itu hingga tandas, kemudian ditariknya gelas itu dan meletakkannya ke meja pantry. Ia kembali memeluk pinggang Rachel dan menariknya hingga semakin rapat padanya. "Kamu sengaja pasti!" Serunya, sambil menggesekkan hidung mancungnya ke hidung istrinya.


"Sumpah, aku tidak sengaja sayang...." Rachel tersenyum hingga matanya terlihat menyipit. "Bagaimana dengan rasanya?"


"Enak... Lebih enak dari semua masakan yang selama ini kumakan." Gombalnya.


"Seriously?" Mengangkat kedua alisnya dengan senyuman yang masih terkembang dengan lebarnya. Walaupun gombalan suaminya itu sudah basi, tapi entah mengapa membuat hatinya berbunga-bunga. "Berarti hari ini kamu harus makan yang banyak. Khusus hari ini aku yang akan menyiapkan makanan untukmu. Bik Inah sudah aku suruh pulang tadi."


"Oh, yah? Tapi....." Mahavir menggantung ucapannya, matanya mengerling dengan menyunggingkan senyum nakalnya.


Rachel mengernyit. "Tapi apa?"


Mahavir memiringkan wajahnya dan langsung mengecup bibir Rachel. "Tapi....aku hanya ingin memakanmu saja seharian ini..." Bisiknya lalu kembali menciumi Rachel.


Sejenak Rachel ikut terbuai hingga tersadar kalau kompor di belakangnya masih menyala. Dengan cepat ia mendorong dada Mahavir.


"Masakanku..." Ucapnya hendak berbalik. Namun Mahavir menahannya.


Tangan Mahavir terjulur mematikan kompor listrik di belakang Rachel. Wajahnya kembali mendekati wajah Rachel hendak menciuminya lagi, tapi sekali lagi Rachel menahannya.


"Nanti dilihat bocah-bocah itu." Bola mata Rachel bergerak ke atas, seolah-olah menunjuk keberadaan orang yang dimaksud.


Bukannya menjauh, Mahavir malah mengangkat Rachel dan mendudukkannya ke atas meja Pantry. "Sebentar saja, mereka belum bangun jam segini." Ucapnya lalu kembali menciumi bibir Rachel dengan rakus hingga turun menyusuri leher jenjangnya.


"Ayo kembali ke kamar...." Bisik Mahavir di sela ciumannya dan bersiap mengangkat Rachel.


Namun dari dari arah tangga terdengar derap langkah kaki diiringi dengan suara nyaring yang berdendang dengan riangnya menyanyikan lagu


I Like You So Much,You'll Know It. Milik Ysabelle Cuevas.


Derap langkah kaki kecil itu semakin dekat, hingga Rachel refleks melompat turun dari meja dan kembali menyalakan kompor, sementara Mahavir langsung berakting mengocok telur yang tadi sudah disiapkan oleh Rachel.


"Pagi kak...." Suara nyaring nan ceria itu menyapa. Ia lalu mengambil posisi dengan menduduki kursi minibar tinggi yang ada di depan meja pantry tanpa merasa canggung sedikitpun.


"Pagi sayang..." Balas Rachel.


"Pagi Risya cantik... Tumben bangunnya cepat." Mahavir ikut membalas menyapa.


"Aroma tumisan bawang putih membuat Risya terbangun kak. Pasti kak Rachel buat nasi goreng yah?" Ucapnya sambil mengendus-endus aroma di sekitarnya.


"Iya sayang."


"Risya suka makan nasi goreng?" Tanya Mahavir.


"Suka pake banget kak. Itu sarapan wajib Risya kalau di rumah. Wah, tidak nyangka setelah berhari-hari di London akhirnya bisa makan nasi lagi. Tau gak kak, saking takutnya Risya gak kenyang karena gak bisa makan nasi, Risya sampai bawa banyak mie instan loh kak."


"Astaga, Risya... Kenapa tidak bilang? Kak Rachel bisa minta Bik Inah menyiapkan nasi atau makanan Indonesia kalau kamu bilang sejak awal."


"Gak papa kak, Sekali-kali Risya mau mencoba berbagai makanan orang luar. Kan tidak lucu kalau jauh-jauh ke London malah makan pecel lele." Ucapnya dengan terkekeh. Membuat Mahavir dan Rachel ikut tertawa bersama.


"Manis banget deh kamu...." Mahavir mengacak pucuk kepala Risya saking gemesnya.


"Kak Vir punya kebiasaan yang sama dengan kak Bry, suka mengacak rambut Risya. Padahal kan Risya udah nyisir rapi-rapi, malah di buat kusut." Gerutunya sambil menyugar rambutnya dengan jari-jarinya.


Mahavir dan Rachel kembali tertawa kecil. Rachel memindahkan nasi goreng buatannya ke dalam piring lebar, sementara Mahavir menggantikan Rachel di depan kompor dengan membuat omelet telur.


"Bryan nya belum bangun Ris?" Tanya Rachel yang dijawab dengan mengangkat bahu oleh Risya. "Bisa minta tolong bangunin?"


"Harus dibangunin sekarang yah kak?" Tanya Risya, raut wajahnya seakan tidak ikhlas bertemu dengan Bryan.


"Ris, kamu berantem dengan Bryan? Aku lihat kalian saling menghindar, tidak seperti kemarin-kemarin."


"Ah tidak kok kak Rachel."


"Apa Bryan berbuat sesuatu padamu?" Tanya Mahavir menimpali perkataan Rachel.


"Tidak kok kak, kak Bry tidak berbuat apa-apa. Risya cuma kesal sama kak Bry. Ya, udah. Risya bangunin kak Bry-nya dulu." Ucapnya lalu turun dari kursi dan berlari kecil menuju kamar Bryan.


Risya menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar Bryan. Tiga kali ketukan tak ada sahutan dari dalam, membuat Risya akhirnya membuka pintu dan menghampiri Bryan yang masih bergelung di bawah selimut tebalnya.


"Kak....." Panggilnya.


"Kak Bry...." Panggilnya sekali lagi sambil menarik-narik selimut Bryan. Namun Bryan belum bergerak sedikitpun.


Kembali Risya menghela nafas, lalu mengguncang-guncang bahu Bryan sedikit keras. "Kak Bryan... Bangun....."


Bryan menggeliat pelan lalu membuka matanya perlahan. "Eh, Risya..." Langsung bangun dan mengusap wajahnya.


"Kak Rachel suruh Risya bangunin kak Bry buat sarapan." Ucapnya, lalu berbalik hendak keluar kamar, namun tangannya langsung ditarik oleh Bryan.


"Ris..."


"Kenapa kak?"


"Kamu masih PMS? Perutmu sudah baikan?"


Risya hanya mengangguk lalu menarik tangannya.


"Kamu kenapa menghindariku selama tiga hari ini? Kamu malu gara-gara malam itu?"


Risya menggeleng namun wajahnya merona malu.


"Ris, gak usah malu padaku. Itu manusiawi kok." Bryan bangkit berdiri dan mengacak pucuk kepala Risya, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Ihh...rambut lagi, rambut lagi." Ketusnya, menyugar kembali rambutnya dengan jari-jarinya. "Risya gak malu kok, kak Bry kan udah seperti kakak Risya sendiri." Ujar Risya, membuat Bryan menoleh padanya.


"Kakak?" Ulang Bryan.


"Iya, kak Bry... Kakak kan?" Risya memperjelas kata kakak. Bryan yang hendak masuk ke kamar mandi berbalik dan kembali duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Justru kemarin-kemarin Risya yang merasa kak Bryan yang jauhi Risya. Setiap kali berpapasan dan melihat wajah Risya, kak Bry langsung berbalik arah. Kenapa?"


"Ah, itu cuma perasaanmu."


"Mana Bryan-nya Ris?"


"Baru bangun kak, bentar lagi juga turun."


"Ya sudah, kita makan duluan." Rachel mengisi piring Risya dengan nasi goreng buatannya.


"Cukup kak, kalau Risya masih mau nanti Risya nambah lagi."


"Makan yang banyak. Nanti kakakmu, si Rey itu mengataiku tidak memberimu makan lagi..." Canda Mahavir, membuat Risya terkekeh.


"Oh iya kak, semalam Risya di telfon sama guru pembimbing Risya untuk kembali berkumpul ke hotel. Kami mau latihan kembali untuk pertunjukan bakat nanti."


"Wah, tidak kerasa yah. Jadi kapan tampilnya?"


"Mungkin lusa kak. Risya akan tampil dua kali dalam dua hari. Kakak datang yah, lihat Risya tampil."


"Pasti Risya, kami akan datang dan menyemangatimu."


"Datang kemana?" Tanya Bryan yang tiba-tiba sudah ada di samping Risya. Ia kemudian menarik kursi di samping Risya dan mendudukinya.


"Ke pertunjukan Risya kak."


"Oh, kapan jadinya?" Bryan bertanya sambil menyendokkan nasi goreng ke piringnya.


"Lusa kak, jadi sebentar Risya sudah harus kembali ke hotel tempat teman Risya berkumpul. Kak Vir bisa anterin Risya?"


"Bisa kok Ris." Jawab Mahavir.


"Biar aku saja yang antar kak Vir." Ucap Bryan menyela Mahavir.


"Gak usah kak Bry, biar kak Vir saja. Kak Vir yang anterin Risya saja. Risya bakal nginap di sana sampai acara selesai. Risya sudah sangat merepotkan kakak-kakak semuanya selama ini."


"Astaga Risya sayang, kamu datang kesini kami malah senang. Kamu membuat suasana rumah jadi ramai. Kak Rachel jadi tidak rela kalau kamu mau pergi secepat ini."


"Kalau mau merepotkan, sekalian sampai selesai, jangan tanggung-tanggung." Ketus Bryan sambil melirik tajam ke arah Risya. "Kamu tinggal disini sampai acaramu selesai. Biar aku yang antar dan nungguin kamu saat latihan nanti." lanjutnya.


"Tak usah kak Bry, Risya disana saja. Nanti kalau mau pulang Risya kabari kok."


"Iya, Ris. Kamu disini tanggung jawabku. Kakakmu Rey mempercayakanmu padaku. Jadi kamu harus tinggal disini sampai saat kamu pulang nanti." Ujar Mahavir. Ia cukup peka dengan perasaan Bryan yang tak ikhlas membiarkan Risya pergi. "Biar Bryan yang antar jemput kamu selama latihan. Yah?" Tanyanya sambil memandangi Risya.


Bryan dan Rachel pun ikut memandangi Risya. Risya terdiam, kedua bola matanya mengedar memandangi Mahavir, Rachel dan Bryan bergantian. Hingga akhirnya mengangguk pelan dan tertunduk memakan sarapannya. Diam-diam ekor matanya melirik Bryan yang duduk disampingnya.


Sementara Mahavir tersenyum melihat dua remaja yang begitu terlihat jelas sedang bermain kucing-kucingan dengan perasaannya masing-masing. Mahavir pun mengalihkan perhatiannya, ia menarik kursi Rachel secara perlahan-lahan mendekat padanya, lalu berbisik pelan ke telinga Rachel. "Mau aku suapin lagi?" Tanyanya yang langsung mendapat sikutan di perutnya oleh Rachel.


"Kan aku cuma tanya sayang....." Keluh Mahavir sambil mengusap perutnya. Wajahnya yang cemberut membuat Rachel mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa.


"Oh iya Vir, habis sarapan ini tolong carikan ponselku di mobil, Sepertinya ponselku terjatuh di mobil semalam."


"Iyya sayang...." Jawab Mahavir masih dengan tampang cemberutnya.


"Ya, sudah sini aku suapin." Rachel meraih sendok dari tangan Mahavir dan langsung menyuapinya. Mahavir langsung menyambut suapan Rachel dengan suka cita.


"Ihh, kak Vir manja..." Ejek Risya sambil tersenyum-senyum.


"Risya mau disuapin juga?" Goda Bryan sambil memajukan sendoknya ke depan bibir Risya.


"Ih, kak Bry gak lucu." Tolak Risya sambil mendorong sendok Bryan. "Kak Bry kali yang pengen di suapin juga." Ejeknya.


"Kalau begitu kamu suapin dong..." Pinta Bryan sambil membuka mulutnya.


"Ihh.. Najis!!" Umpat Risya, melirik kesal pada Bryan. Lalu melahap sarapannya dengan cepat.


Rachel dan Mahavir hanya tertawa kecil melihat Bryan dan Risya yang saling menggoda hingga selesai sarapan pagi itu.


Segera setelah sarapan Mahavir langsung turun bersama Bryan ke Private cara park yang ada di basement. Kedua laki-laki dengan tinggi diatas rata-rata itu berjalan berdampingan memasuki lift sambil bercakap-cakap.


"Kapan kamu masuk kuliah?"


"Minggu depan kak, tapi mungkin baru perkenalan, dan akan ada acara ceremony terlebih dahulu. Mungkin minggu depannya lagi baru aktif belajarnya."


"Jadi langsung masuk asrama?"


"Sepertinya begitu kak."


"Di sana sistem belajarnya cepat, jadi kamu harus fokus. Dosen dan Rektornya kebanyakan irit bicara, jadi kamu harus bertanya kalau ada yang kurang jelas. Tapi kalau kamu sungkan kamu bisa langsung menghubungi Stuart. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu juga langsung hubungi dia saja. Begitu-begitu dia pernah menjadi Rektor termuda di sana."


"Mr. Stuart?"


"Iyya."


Mahavir langsung keluar dari lift, Bryan mengikuti masih dengan wajah keheranan. Masih tak percaya orang sehebat Mr. Stuart malah bisa menjadi asisten yang sering diperintah-perintah oleh kakak iparnya.


Pintu mobil terbuka dan Mahavir langsung masuk mencari keberadaan ponsel Rachel.


"Sudah ketemu kak Vir?"


"Belum, tak tahu dia taruhnya dimana." Mahavir menunduk memeriksa di bawah jok.


Bryan ikut masuk dan memeriksa tiap celah. "Memang jatuhnya disini ya kak?"


"Rachel bilangnya seperti itu kan tadi."


"Ah, sepertinya itu sana kak." Bryan membungkuk, tangannya menyusup masuk ke belakang sandaran jok mobil berusaha menjangkau ponsel yang tergeletak jauh di belakang sana. "Kok bisa jatuhnya sampai jauh kebelakang situ kak? Memangnya kak Vir dan kak Rachel ngapain saja di atas mobil?" Tanyanya sembari memberikan ponsel Rachel pada Mahavir.


"Mau tahu saja urusan orang dewasa."


"Aku juga sudah dewasa kak."


"Kalau umurmu masih kepala satu jangan sok-sokan mau jadi orang dewasa." Ucap Mahavir membuat Bryan mendengus.


"Kak Vir gak mau memeriksa ponsel kak Rachel?"


"Periksa? Buat apa? Ini Privasinya. Lagian kan ada sandinya."


"Yah, kali saja kak Vir penasaran dengan isinya. Sandinya itu tanggal ulang tahun mommy. Kak Vir tahu kan ulang tahun mommy?"


"Iya tahu, Tapi sepertinya ponselnya kehabisan daya. Nih mati total." Mahavir menekan-nekan tombol power namun ponsel tersebut tak jua menyala.


"Berarti kak Vir belum beruntung." Ucap Bryan dengan terkekeh.


* * * *


Happy Reading.... 🥰


Bab ini udah aku Up sejak kemarin sore, tapi gak tau kenapa lama review nya oleh pihak NT.


jadi telatnya bukan karena Author yah.... 🙏🤭