
"Kak Raya sadar dengan apa yang kakak lakukan?" Ekspresi Bryan masih setengah terkejut.
"Maaf... Aku tidak punya pilihan lain."
"Kak Raya, aku bukan anak-anak yang bisa kakak perlakukan seperti itu."
"Duhh... Kamu marah ya?? Aku kan sudah minta maaf...."
"Aku tidak marah, tapi kak Raya tidak boleh bertindak seperti itu kalau tidak bisa mempertanggung jawabkannya. Lain kali, sebelum bertindak kakak harus memikirkannya terlebih dahulu."
Raya mengernyitkan keningnya, terkejut dengan perkataan anak muda itu.
"Apa sih bocah ini?? Perkataannya sok dewasa sekali....." Gerutu batin Raya.
"Dan....Jangan pernah menganggap ku seperti seorang bocah!!" Lanjut Bryan seakan tahu dengan apa yang Raya pikirkan.
Bryan kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku sudah selesai sarapan. Aku akan kembali ke kamarku. Kak Raya juga cepat habiskan sarapan kakak dan kembali beristirahat." Seru Bryan, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Raya yang masih tertegun dengan herannya.
Bryan berjalan terus meninggalkan Raya tanpa berbalik, tangannya menyentuh jantungnya yang masih berdetak tak karuan.
"Ah, bodoh... Jangan anggap itu serius!! Dia itu menganggapmu seorang bocah!!"
"Wahai jantungku!! Tahu dirilah sedikit... Dia itu sahabat kakakmu!!!" Gerutu Bryan dalam hati.
"AAAHHHH!!!!"
Teriak Bryan sambil mengacak Rambutnya.
"Usiamu saja terpaut 10 tahun, tahu diri bodoh!!!" Lanjutnya menggerutu kembali.
Pemuda itu terus berjalan, memasuki lift yang membawanya naik ke lantai tempat kamarnya berada. Saat keluar dari lift dia berpapasan kembali dengan Reynold.
"Aku ingin bicara denganmu." Ucap Rey dengan kilatan emosi di wajahnya.
"Aku ngantuk!! mau tidur kembali!" Jawab Bryan santai, membuat Rey menatapnya. "Yah sudah, mau bicara apa?"
"Ikut aku." Rey memasuki lift, Bryan mengikuti dengan terpaksa.
Bryan menyandarkan punggung nya ke sudut dinding lift, kepalanya miring membentur dinding sebelahnya sementara kedua tangannya dimasukkan nya ke dalam saku celananya. Berdiri dengan santainya.
Rey melirik, mengamati pemuda itu dengan diam-diam."Raya dengan bocah ingusan ini?? Shitt!! Tidak mungkin...!!!!"
Pintu lift terbuka, Rey berjalan membawa Bryan masuk ke dalam ruangan nya.
"Bicaralah dengan cepat, aku capek dan ngantuk!!" Ucap Bryan sembari duduk di salah satu sofa yang ada.
"Kamu kira aku tidak capek?"
"Itu urusan anda!!"
"Bocah ini, betul-betul...!!"
"Cihhh....Jangan panggil aku bocah, anda sendiri masih cemburu dengan bocah!!!"
"Baiklah!! Aku akan bertanya serius, dan kamu jawab dengan serius."
"Tak usah berbelit-belit, Anda cuma mau tanyakan apa betul aku punya hubungan dengan kak Raya?" Ujar Bryan, kemudian menjatuhkan tubuhnya berbaring di sofa dengan kedua tangannya yang terlipat menjadi penyangga kepalanya.
Rey mengernyitkan alisnya, menatap Bryan dengan intens.
"Tenang saja!! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya." Seru Bryan sembari memejamkan kedua matanya.
"Tapi dia menciummu tadi."
"Kak Raya itu menganggap ku adiknya, dia masih menganggapku seorang bocah. Dia tidak serius dengan yang dilakukannya!!"
"Kamu serius??"
"Udah dibilangin juga!! Kalau tak percaya ya sudah...!!!"
"Apa dia dekat dengan orang lain?"
"Mana kutahu!! Mau dia dekat dengan orang lain atau tidak, tapi kalau anda betul-betul menyukai nya harusnya anda bisa lebih berjuang untuk mendapatkannya."
"Bocah ini!! Sok dewasa sekali."
"Daripada anda yang kekanak-kanakan sekali."
"Kalau saja kamu bukan adik ipar bosku, pastinya sudah ku hajar kamu habis-habisan. Asal kamu tahu, aku ingin sekali memukul pipimu yang bekas kecupan Raya itu."
"Coba saja kalau berani." Bryan terkekeh, masih dalam keadaan terpejam. "Apa anda tidak bisa belajar sedikit saja dari kegigihan kak Mahavir? Anda pasti sangat tahukan bagaimana perjuangannya mendapatkan kakakku yang dingin seperti es balok?"
Rey terdiam, dia mencerna perkataan Bryan. "Betul juga yang bocah ini katakan!!"
"Kalau begitu....." Ucapan Rey terhenti begitu mendengar suara dengkuran dari Bryan.
"Sial, berani-beraninya dia tertidur!!!"
Rey menendang-nendang kaki sofa, menggerak-gerakkannya agar tidur anak muda itu terganggu.
"Apa lagi??" Tanya Bryan saat kedua matanya telah terbuka.
"Keluar, kembalilah ke kamarmu!! Aku mau bekerja."
Bryan bangkit dengan malas kemudian berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar, dia berbalik melihat Rey yang sudah duduk di kursi kerjanya.
"Tapi kalau kak Raya betul-betul menyukaiku, maka kita akan bersaing untuk mendapatkannya!!" Seru Bryan membuat emosi Rey kembali tersulut. Bryan meninggalkan Rey dengan suara tawa yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Rey.
Sesampainya di kamar, Bryan kembali terdiam mematung, tangannya memegangi pipinya tempat bekas kecupan Raya tadi. Senyum manis dokter cantik itu tiba-tiba berseliweran memenuhi pikiran nya. Jiwa polosnya tiba-tiba merasa ternodai.
"Ah, bodoh... Jangan anggap itu serius!!!"
Gumannya, lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Tidak berapa lama Bryan pun tertidur dengan senyum yang terkembang di wajahnya.
* * *
Siang hari, di kamar President Suite. Mahavir terbangun lebih dulu, senyumnya terkembang dengan lebarnya kala mendapati Rachel yang ikut tertidur dan tengah memeluknya dengan erat.
Tangannya bergerak menyibak rambut yang menutupi wajah wanita itu. Jari-jarinya menari menyusuri setiap inchi dari wajah istrinya itu. Dia menyentuh pipi, hidung, alis, mata dan berakhir di bibir nya. Pelan-pelan dia mengecup bibir itu dengan singkat....
"Aku tidak menyangka akan tiba hari dimana aku bisa mengecup bibir ini.....aku tidak berani berharap lebih. Walaupun hanya bisa sebatas itu, aku sudah sangat merasa senang."
"Aku berjanji tidak akan menyentuhmu hingga kamu mengetahui diriku yang sebenarnya...."
Lirihnya, kemudian kembali mendekap tubuh istrinya itu.
Lama Mahavir memandangi wajah Rachel yang tertidur, sampai kemudian wanita itu mengerang dan menggeliat dalam dekapannya. Gerakan Rachel yang tiba-tiba membuat piyama handuknya tersingkap, memperlihatkan belahan dadanya.
Sukses membangunkan hasrat Mahavir.
Dengan cepat Mahavir melepaskan dekapannya, lalu bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin sebelum hasratnya bertambah besar.
Rachel membuka kedua matanya secara perlahan, tangannya bergerak mengucek kedua matanya secara bergantian. Samar-samar dia mendengar suara air dari kamar mandi, hingga Mahavir muncul dari balik pintu dengan lilitan handuk yang berada di pinggangnya. Melihat itu Rachel kembali menutup matanya. Enggan melihat pria itu yang bertelanjang dada itu.
"Aku tahu kamu sudah bangun!" Mahavir tersenyum melihat istrinya yang masih berpura-pura tertidur.
"Kalau kamu belum mau bangun, aku akan kembali tidur disampingmu." Ucap Mahavir sedikit terkekeh sembari menarik selimut yang menutupi setengah tubuh wanita itu.
Rachel bangun dengan terpaksa dan memberikan tatapan tajamnya kepada Mahavir.
"Tak bisakah kamu berpura-pura tidak melihatku?"
"Kenapa harus begitu?" Ujar Mahavir sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk membuat Rachel salah tingkah.
Rachel menurunkan pandangannya dan memalingkan wajahnya. Melihat itu Mahavir mendekati Rachel, dan berniat menggodanya.
"Katamu semua tubuh pria itu sama saja??" Tanya Mahavir dengan nada yang dibuat sensual ke telinga wanita itu.
Seketika wajah Rachel memerah, dengan kuat dia mendorong pria itu dan berlari masuk ke kamar mandi. Mahavir tertawa kecil lalu berjalan menuju walking closet dan memilih pakaiannya.
"Tok... Tok... Tok..."
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Mahavir berjalan ke arah pintu masih dengan bertelanjang dada.
"Ada apa?" Tanya Mahavir dengan hanya menampakkan kepalanya keluar pintu.
"Itu, Presdir..."
"Tunggu sebentar, aku pakai baju dulu."
Mahavir menutup pintu kembali tanpa memperdulikan Rey. Lima menit kemudian, Mahavir keluar menemui Rey yang masih menunggu didepan pintu.
Rey memandangi Mahavir dengan curiga.
"Heii!! Apa yang kau lihat??"
"Rachel mana??" Tanya Rey mencoba mengintip ke dalam kamar lewat celah pintu yang sedikit terbuka.
Rey tersenyum penuh curiga, "Apa kalian sudah.......???" Tanya Rey penasaran. Alisnya naik turun menunggu jawaban.
"Apa yang kau pikirkan?? Hentikan pikiran mesum mu itu!!"
"Ohh... Jadi belum yah...." Rey manggut-manggut mencerna perkataan temannya.
"Gajimu mau dipotong yah?"
"Ampun bos!! Heheh... Aku kan hanya penasaran, apa temanku ini masih perjaka atau belum."
"Sialan kau ini!!!!" Seru Mahavir hendak memukul Rey, tapi dengan sigap Rey menghindar.
"Ada apa?" Tanya Mahavir dengan ketus karena tidak berhasil memukul Rey.
"Itu Presdir telah mendarat di Bali sejam yang lalu."
"Ohh, dia langsung kesana yah... Baiklah."
"Tapi...."
"Tapi apa?"
"Dia meminta kehadiran anda kesana sekarang juga."
"Apa?? Apa dia lupa kalau pesta pernikahan ku malam ini?"
"Presdir tidak lupa. Sebelum pesta anda dimulai, kalian akan kembali kesini dengan cepat."
"Kamu beritahu padanya kalau aku tidak bisa!!"
"Gila!! Mana berani aku bicara seperti itu!! Anda mau saya mati mendadak yah?"
"Itu urusanmu!!"
"Ayolah...."
"Kalau begitu kamu yang gantikan aku kesana, aku yang akan menelepon Presdir."
"Tapi.... "
"Ini perintah, tak ada tapi-tapian!! Cepatlah, kamu nanti terlambat." Mahavir menggoyangkan tangannya mengusir Rey lalu berbalik masuk kembali ke dalam kamar, meninggalkan Rey yang masih mematung di depan pintu. Senyum kemenangan tersungging di bibir Mahavir, tidak berhasil memukul temannya tapi berhasil membuatnya kewalahan dalam pekerjaan.
Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nasib menjadi bawahan teman sendiri ya begini..... " Gerutu Rey meninggalkan kamar President Suite itu.
Di dalam kamar Mahavir menghubungi Presdir Alister Corp yang merupakan ayahnya. Rachel yang baru keluar dari kamar mandi mendapati Mahavir yang terlihat merengek-rengek memohon sesuatu kepada orang dalam sambungan telepon itu.
"Dia bicara dengan siapa sampai terlihat konyol seperti itu....??" Batin Rachel bertanya-tanya.
"Terima kasih atas pengertian Presdir." Ucap Mahavir sesaat sebelum mematikan sambungan telepon itu.
"Presdir?? Itu ayahmu kan?"
"Iyya...."
"Dimana dia sekarang?"
"Dia langsung ke Bali, sebentar malam baru kesini."
"Oh...!! Dia orang nya seperti apa?"
"Dia orang yang tegas dan sedikit dingin, sama seperti mu!!" Ujar Mahavir lalu memencet hidung mancung wanita itu.
"Ihh... Apaan sih!!!" Rachel menepis tangan Mahavir yang memegangi hidungnya.
"Oh iya apa kamu bisa menyuruh seseorang mengambilkan bajuku di rumah??" Pinta Rachel, kemudian tiba-tiba teringat sesuatu. "Astaga!! dari kemarin aku tidak mengabari mommy dan daddy!!!" Pekik Rachel sembari memukul kepalanya.
"Aku sudah mengabari mereka, Bryan juga ada di hotel ini kok! Apa kamu tidak ingat, betapa paniknya adik kamu itu semalam."
Rachel membisu, mencoba mengingat kejadian semalam.
"Sudah, jangan di ingat lagi!!... Oh, iya pakaian mu sudah ku sediakan di lemari. Cepatlah berpakaian. Orang-orang sudah menunggu mu."
"Menunggu ku? Siapa?"
"Bukankah malam ini Pesta pernikahan kita? Kamu pasti harus bersiap-siap kan?"
"Dimana?"
"Di salah satu ruangan dibawah, mereka semua para ahli yang telah terpilih untuk mendandanimu. Cepatlah!! Aku menunggumu di ruang kerjaku disebelah." Ucap Mahavir kemudian berjalan keluar dan menutup pintu.
Rachel berjalan ke Walking Closet, dalam lemari telah tersedia beberapa pakaian wanita yang pas dengan ukuran tubuhnya.
"lumayan juga seleranya....." guman Rachel saat memilah-milah beberapa pakaian.
Beberapa menit kemudian, Rachel muncul dengan setelan santai berwarna baby pink.
"Masih banyak kerjaan?" tanya Rachel yang telah berdiri di depan pintu melihat Mahavir tengah sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Tidak, aku hanya merapikan sedikit! Sekretaris Presdir akan memeriksa ini semua begitu dia tiba di sini."
"Kenapa bukan Rey yang mengerjakan nya?"
"Dia berangkat ke Bali."
"Tiba-tiba?"
"iyya, tadinya aku yang harus kesana. Tapi aku mengutusnya menggantikanku."
"Oh, karena itu tadi kamu memelas dalam telepon." ujar Rachel mengejek Mahavir.
Mahavir berhenti mengetik, pandangannya beralih dari layar laptop ke arah Rachel yang masih mematung di depan pintu.
"Masuklah, jangan mematung disitu. kamu mau membantuku?"
"Bantu apa?" Rachel menghampiri Mahavir.
"Bantu aku bacakan ini, dan aku yang mengetiknya."
Rachel meraih map yang berada di hadapan Mahavir kemudian membacakannya. Bukannya fokus mengetik, Mahavir malah teralihkan oleh aroma wangi yang tercium dari tubuh wanita di sampingnya itu. Tanpa sadar Dia menarik tubuh wanita itu hingga membuatnya terduduk di pangkuannya.
"What are you doing?" Rachel mencoba berdiri, tapi dari belakangnya tangan Mahavir melingkar di pinggangnya, menahannya untuk berdiri.
"Sebentar saja." Mahavir menyandarkan wajahnya ke punggung Rachel.
"Aroma mu sangat wangi."
"lepaskan!" Rachel menggeliat, berusaha terlepas dari kungkungan Mahavir.
Merasakan hasratnya kembali muncul, Mahavir melepaskan pegangannya.
"Dasar Mesum!!" Rachel langsung menjauh, dan menjaga jarak dari pria itu.
Mahavir mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Ayo, ku antar kamu ke bawah dulu." ucapnya lalu bangkit meninggalkan meja kerjanya.
Rachel mengikuti dari belakang, masih dengan menjaga jarak.
Di lantai dua puluh, di salah satu Connection Room. Telah menunggu beberapa wanita yang terlihat ahli dalam bidang nya masing-masing. Disudut Ruangan itu juga Rachel melihat patung manekin dengan menggunakan Wedding Dress yang begitu indah.
"itu gaun buat ku?" tanya Rachel pada Mahavir.
Mahavir mengangguk dan tersenyum. "Kamu suka?"
Rachel mengangguk pelan.
"Aku membawanya dari London. Itu rancangan Fashion Desainer andalanmu."
"Are you serious?" tanya Rachel dengan berbinar-binar. Mahavir tersenyum lembut. Saking senangnya Rachel langsung mengecup pipi Mahavir. "Thankyou....."
Mahavir terkejut dengan kecupan itu, sementara orang-orang yang melihat mereka hanya dapat tersipu malu melihat pemandangan romantis dihadapannya.
Rachel tersadar, lalu kembali bersikap anggun.
"Baiklah sayang, aku tinggal kamu disini dulu ya. Aku akan kembali menyelesaikan pekerjaan ku." ujar Mahavir lalu mendaratkan kecupan di kepala Rachel.
"Layani istriku dengan baik, walaupun dia sudah cantik, tapi buat dia menjadi lebih cantik." perintah Mahavir membuat Rachel geli mendengarnya.
"Tenang saja Tuan, Nyonya akan kami layani dengan baik." ucap salah seorang wanita yang tampak lebih tua dari lainnya.
Mahavir hanya mengangguk dan tersenyum tipis, lalu meninggalkan Rachel bersama para wanita yang akan meriasnya.
* * *
Terima kasih buat para Readers yang masih setia berada disini. 🥰🤗 Mohon maaf sedikit terlambat Up nya, soalnya Author lagi sakit gigi😬hehe...
Sekali lagi Author sangat berterima kasih bila kalian berkenan meninggalkan jejak berupa like, komen dan Vote kalian....Salam sayang dari Author 😍🥰🤗